Budidaya Tani
Butter head

Permintaan Tinggi, Lettuce Sulit Dicari

Sejak November 2020 pusat perkulakan Makro mengikat kontrak dengan PT Maha Dwi Yoga untuk memasok 5 varietas lettuce. Tujuannya, antara lain supaya kesinambungan pengiriman terjaga. Jamak bagi pasar swalayan, lettuce memang sulit diperoleh. Soalnya, kualitas anjlok ketika musim hujan; kemarau, intensitas serangan hama meningkat.

Tentu tidak bagi Maha Dwi Yoga (MDY) yang mengembangkan lettuce di dalam greenhouse. Yang ditanam adalah lettuce batavia, butter head, red lollo rosa, romaine, dan curly lettuce. Setiap hari dari 16 ha lahan di Cianjur, MDY mengirimkan 300 pak curly lettuce dan masing-masing 100 pak untuk 4 jenis lain. Bobot setiap pak 1/4 kg.

Budidaya dalam greenhose setidaknya meminimalkan kerusakan fisiologis akibat air hujan. Sayangnya, itu tak ditempuh Omnitech Indonesia (OI) di Lembang, Bandung. Perusahaan yang berdiri pada 1996 itu membudidayakan lettuce di lahan terbuka seluas 200 m2 per periode tanam. Dampaknya, “Hujan terus-menerus menyebabkan daun rusak. Muncul bercak cokelat seperti daun pisang kering serta krop tidak padat,” tutur Wilarto, asisten manajer OI.

Empat bulan terakhir, spesialis tomat momotaro itu menghentikan produksi lettuce summer besh asal Jepang Sebelumnya ia rutin memasok 20 sampai 30 kg per hari ke pasar swalayan di Bandung. “Harganya cukup bagus, Rp8.000 per kg,” ujar Wilarto. Padahal, biaya produksi untuk menghasilkan sekilo lettuce, “Menurut hitungan saya tak lebih dari Rp3.000,” lanjut Wilarto.

Harga di tingkat petani cukup konstan

Serangan hama ulat dialami PT Momenta Agrikultura (MA) belum lama ini. “Setengah greenhouse gagal panen,” ujar Penyelia Produksi, Erijanto Wibowo, menggambarkan kerugian yang diderita. Artinya, Rp 1.880.000 musnah dari 3 sampai 4 kuintal yang mestinya dapat dipanen. Hambatan boleh menjegal, tetapi pekebun kian tertantang. Sebab, di balik kendala, terdapat peluang meraih laba.

PT Tierra Alta contohnya, menjadikan lettuce sebagai andalan kebun seluas 41 ha di ketinggian 950 sampai 1.100 m dpi. Dari kebun itu setiap hari TA memasok rata-rata 20 kg untuk masing-masing lettuce. Jenis yang dikembangkan antara lain curly lettuce, iceberg, romaine, red lollo rosa, rebosa, dan red fire. Sekilo terdiri atas 4 sampai 6 tanaman. Harganya variatif: lettuce romaine Rp15.000, red lollo rosa Rp27.000, atau curly lettuce Rp55.000 per kg. Menurut Manajer Pemasaran, Suyatno, harga itu relatif konstan.

Konsumen perusahaan yang didirikan H. Oyoh Adiwinata itu hotel berbintang dan restoran kelas atas di Jakarta. Menurut Suyatno, selain ke Jakarta, TA juga mengirimkan aneka lettuce ke Semarang, Surabaya, Yogyakarta, Medan, dan Lampung. Volume pengiriman untuk masing-masing kota di luar Jakarta hanya 15 sampai 20 kg. Pengiriman dilakukan 3 kali sepekan pada Senin, Rabu, Jumat melalui bandara Soekarno Hatta.

Kesibukan tentu tak pernah henti di lahan Tierra Alta. Di sana lettuce dibudidayakan di lahan terbuka berdasarkan kelompok tertentu. Setelah panen sayuran itu dicuci brogdex cairan pembersih residu pestisida. Usai disortir dan dikemas, sayuran dari lahan di Sukabumi, Jawa Barat, itu dibawa ke Jakarta untuk didistribusikan ke konsumen.

Permintaan Meningkat Hingga 30%

lettuce hidroponik
Banyak dibutuhkan untuk salad

Walau mengelola 2 ha lahan, MA belum mampu mencukupi permintaan pasar. Solusinya, bermitra dengan 2 pekebun di Cianjur dan Bogor. Saat ini setiap hari MA memasarkan 500 sampai 600 pak curly lettuce, dan masing-masing 100 sampai 150 pak untuk butter head lettuce, romaine, red lollo rosa, dan batavia. Bobot satu pak 1/4 kg. Di pasaran aneka lettuce itu bermerek Amazing Farm.

Permintaan meningkat 20 sampai 30% pada akhir tahun. Pada musim hujan juga terjadi lonjakan serupa. Soalnya, “Banyak produksi lettuce yang ditanam open air rusak. Kami yang menanam di greenhouse relatif dapat mengatasi,” ujar Erijanto Wibowo. MA membudidayakan salah satu pelengkap salad dengan teknologi aeroponik.

Lettuce juga dipilih PT Semangat Panca Bersaudara (SPB) untuk menyalurkan kelebihan karyawan. Akibat hantaman krisis ekonomi sektor properti lesu darah. SPB mencoba mempertahankan karyawan dengan membuka kebun hidroponik NFT {Nutrient Film Technique) di tengah-tengah perumahan yang ia bangun. Separuh lahan tersisa, seluas 6.000 m2 ditanami jenis red wase alias selada keriting merah. Di lahan itu ada ‘6 talang masing-masing sepanjang 8 m.

Setiap talang terdapat 20 lubang tanam. SPB memetik lettuce baby umur 3 pekan; lettuce dewasa umumnya dipanen umur 30 hari. Menurut Hestu Dyah Ratnasasi, penaggung jawab kebun, hasil panen dipasok ke pasar swalayan Diamond dan D Best. Permintaan mereka masing-masing 4 sampai 5 kilogram per 2 hari. Harga per kg Rp3.000. Menurut Hestu, penanaman lettuce hanya menutupi biaya operasional. “Kalau mau untung mestinya 3 kali lipat lebih luas,” ujar Hestu.

Pekebun kecil seperti Aming pun menikmati laba dari lettuce. Ia mengelola lahan 1.700 m2 di Cianjur, Jawa Barat. Jika ditanami sekaligus ia menuai 1 ton dalam waktu se bulan saat kemarau. Pada musim hujan hanya 700 kg yang ia tuai. Namun, Aming menanam bertahap. Harga jual per kg Rp3.000. Selain itu ia juga menampung minimal 50 kg setiap hari. “Menjual selada tak susah karena banyak bandar yang mencari,” kata Aming. Itulah sebabnya, ia tetap menanamnya walau musim hujan. Untuk menghindari kerusakan ia menutup guludan dengan plastik putih yang dilengkungkan menyerupai terowongan. (Sardhi Duryatmo)

Yudi Anto