Budidaya Tani

Pesan Damai Sembilan Maskoki

Setelah mencium permukaan kaca akuarium, Jiang Zhu mengusap-usap dindingnya. Bocah 4 tahun itu memandangi 7 tossa merah-putih yang lalu-lalang. Ketika senja tiba di Guangdong, Cina, kedua orang tua Zhu tengah mewariskan kepercayaan: maskoki membawa kemakmuran dan kedamaian.

Kepercayaan itu memang tumbuh subur di Cina, negara asal maskoki. Orang tua Zhu, misalnya, senantiasa menanamkan ajaran itu kepada anak semata wayangnya. Memelihara setidaknya mengelus atau mencium kaca akuarium berisi maskoki mendatangkan kemakmuran dan kedamaian.

Sebaiknya yang dipelihara berjumlah 9 ekor. Angka sembilan merupakan simbol keabadian. Maksudnya, agar kemakmuran yang dirasakan pemilik ikan juga bersifat abadi. Jika berhasrat untuk menambah koleksi, harus penggandaan angka 9 seperti 99 atau 999. Repotnya, ikan sebanyak itu mesti hidup di sebuah akuarium, tak boleh terpisah. Tentu saja hobiis mesti menyediakan akuarium superbesar.

Gentong

Keramik porselen, akuarium nan elok

Menurut Iskandar, importir aksesori dan ikan hias, kepercayaan itu tumbuh sejak lama. Harap mafhum, maskoki menjadi satwa klangenan sejak Dinasti Sung berkuasa pada 960 sampai 1279. Saat dinasti yang mengembangkan neokonfusianisme itu memerintah, untuk pertama kali maskoki didomestikasi. Para penangkar memanfaatkan keramik laiknya akuarium. Seni porselen memang lahir pada zaman wangsa yang pop”uler dengan julukan Sung dari Selatan itu.

Gentong keramik tak melulu berfungsi sebagai wadah, tetapi juga menambah estetika. Ia pantas menghiasi pojok ruangan. Soalnya, di penampang keramik dihiasi bunga, burung, tanaman air, atau maskoki. Ada pula yang menampilkan kisah drama tradisional yang diambil dari buku populer Dream of the Red Chamber karya Cao Xue Qin.

Perkembangan kerabat ikan mas itu begitu pesat ketika wangsa Ming memegang tampuk pemerintahan (1368 sampai 1644) menggantikan Kubilai Khan. Cina mencapai puncak kemakmuran. Saat itulah maskoki menyebar ke berbagai negara seperti Jepang, Belanda, Jerman, dan Inggris.

Perangkat dapur

Penyebaran maskoki ke seantero dunia antara lain berkat kapten Philiph Worth yang menghadiahi maskoki dalam jumlah besar kepada Sir Mathew Decker pada 1730. Itulah titik awal maskoki menapaki popularitas di dunia. Pusat penangkaran pun akhirnya merebak di mana-mana. Koriyama, salah satu kota di Jepang dijadikan pusat bisnis maskoki oleh Sato Sanzaemon yang masyhur pada 1704.

Demikian juga Eugene Shireman mendirikan farm di Martinsville, Indiana, AS. Dada 1899. Di Indonesia sentra penangkaran maskoki di Tulungagung, Jawa Timur. Menurut Sayuti, peternak di sana, usaha budidaya marak pada 1970-an. Yang masuk ke Indonesia bukan melulu ikan hias itu. Namun, kepercayaan soal maskoki pembawa kemakmuran pun turut serta.

Dalam bahasa Mandarin, Carrasius auratus itu disebut chin- yii (chin=emas, yii=ikan, red). Jadi, “Maskoki dipercaya mendatangkan hoki, seperti emas,” kata Iskandar yang kerap bolak-balik ke Cina. Pantas jika anggota famili Cyprinidae itu begitu kesohor di negeri Tirai Bambu itu. Sampai-sampai berbagai perangkat rumah tangga pun berhias maskoki.

Kerabat ikan mas itu diabadikan di piring, mangkuk, gelas, sendok, garpu, dan sumpit. Piring berlukiskan maskoki antara lain disimpan Museum British. Malahan maskoki artifisial berbahan baku kayu atau marmer banyak dipajang di Thung Hoi, sentra maskoki terbesar di Cina.

Antistres

Jiang Zhu mengharap berkah maskoki

Permintaan akan maskoki melonjak-lonjak menjelang perayaan Imlek. “Saya pernah mengimpor menjelang Tmlek, sampai ngga kebagian,” tutur YB Hariantono, importir di Jakarta. Harga biasanya juga ikut-ikutan naik. Saat tahun berganti, boleh jadi mereka berharap kemakmuran akan dicapai pada saat mendatang.

Toh, melihat kemolekan anggota kelas Osteichthes itu mampu menghalau stres. Itulah isi plakat fiberglas berukuran 6 m x 6 m yang di Taman Jin Lin di Guangzhou, Cina selatan . Wajar saja karena maskoki dikenal sebagai ikan hias paling indah dibanding kerabat lain. Jika kemakmuran belum datang, minimal stres hilang setelah memandangi ratu ikan hias itu.

Yudi Anto