Pola Pertanian Terpadu Menggunakan Teknologi Gelombang Suara

Gambar Gravatar
  • Whatsapp

Dari tiang besi setinggi 8 meter di sebuah pematang sawah mengalun suara mirip cericit burung. Suara itu berasal dari sebuah kotak hitam di ujung tiang. Berkat suara itulah produksi padi melonjak hingga 10 ton per ha. Itulah teknologi sonic bloom yang kini tren di Desa Bekonang, Kecamatan Mojolaban, Kabupaten Sukoharjo.

Wajah Kushardiyanto tampak cerah melihat hasil panen padi musim tanam awal . Petani di Desa Bekonang, Kecamatan Mojolaban, itu memanen padi 10 ton/ha; biasanya hanya 8 ton/ha. Peningkatan hasil itu setelah ia menerapkan pola pertanian terpadu dengan dibantu teknologi gelombang suara.

Bacaan Lainnya

Sebelumnya petani sejak 1975 itu hanya mampu memetik padi rata-rata 7 ton/ha. Kalau dihitung, dengan harga gabah kering panen (GKP) Rp 1.200/kg, ia mendapatkan Rp8,4-juta. Setelah dipotong ongkos produksi Rp3.223.000, keuntungan bersih yang diraih Rp5.177.000. Satu periode tanam 4 bulan.

Keuntungan itu meningkat jadi Rp7.127.000 ketika hasil panen 10 ton/ha. Itu sudah dipotong biaya untuk membeli pupuk nutrisi khusus Rp 1.650.000/1. Untuk satu ha diperlukan 0,9 1 pupuk nutrisi. Alat pemancar gelombang suara gratis.

Hamo, petani di Parangjoro, Grogol, Sukoharjo, juga memanen sekitar 9 ton dari lahan seluas 1 ha. Semestinya ayah 1 anak itu bisa memanen lebih dari itu. Serangan tikus tak terhindarkan. Alhasil, sebagian pertanaman digerogoti satwa pengerat itu.

Tahap Uji coba

Hasil Panen lebih maksimal

Kusdiharyanto dan Harno hanya beberapa petani yang mengadopsi teknologi kreasi Dan Carlson itu. Puluhan petani lain di Sukoharjo pun mengikuti jejak serupa. Tercatat 75 ha pesawahan di Bekonang sebagai percontohan teknologi gelombang suara sejak setahun silam. Alat itu dipasang di 3 lokasi, masing-masing untuk luasan 25 ha. Meskipun baru taraf uji coba, hasilnya sudah dirasakan petani.

Menurut Sumaji, ketua kelompok tani di sana, secara umum kondisi pertanaman padi memang benar-benar prima. Tanaman tumbuh subur, kokoh, dan penampilan daun hijau mengkilap. Ketika Trubus berkunjung pada akhir Juni 2003 tampak hamparan padi berumur sebulan yang menghijau. “Ini pertanaman yang kedua,” ujarnya.

Alumnus Universitas Negeri Sebelas Maret itu membuktikan, berkat bantuan gelombang suara produksi padi lebih tinggi dibanding cara konvensional. Di luar negeri teknologi itu juga terbukti meningkatkan produksi beragam tanaman, mulai sayuran, tanaman pangan, buah-buahan, sampai perkebunan. Contoh, panen anggur meningkat 60 sampai 100% di Australia.

Koordinator penyuluh lapangan di Bekonang, Totok Supriyanto, menuturkan, alat itu mampu membuka stomata hingga 125% daripada kondisi normal. Suara berfrekuensi 3.000 sampai 5.000 KHz itu yang membantu tanaman membuka stomata daun lebih lebar. Stomata menjadi pintu bagi karbondioksida dan nutrisi masuk ke jaringan daun untuk diubah menjadi gula melalui proses fotosintesis.

Selain itu, rangsangan suara dapat menstimulir metabolisme sel-sel tanaman. Dampaknya, pertumbuhan akar, aktivitas perkecambahan, laju pertumbuhan, dan produksi meningkat tajam karena penyerapan nutrisi meningkat hingga 7 kali lipat.

Konsep kerja teknologi itu terletak pada penyemprotan nutrisi berupa pupuk daun yang dikombinasikan dengan pemasangan generator penghasil gelombang suara. “Suaranya mirip dengan cericit burung,” ungkap Sumaji yang kini aktif sebagai ketua KUD Rejeki itu.

Proses Cukup Merepotkan

Untuk mendapatkan hasil panen maksimal, petani memang harus meluangkan waktu ekstra. Bagaimana tidak, sebelum ditebar benih harus diperlakukan khusus.

Caranya, benih direndam dalam larutan nutrisi selama 10 menit. Setelah itu bibit ditiriskan hingga tak ada air menetes, lalu benih ditutup dengan plastik hitam atau kain kering. Perlakuan itu dilangsungkan di ruangan gelap yang sudah dipasangi gelombang suara mulai pukul 18.00 sampai 06.00.

Pada keesokan hari bibit ditebar di lahan persemaian. Sehari kemudian disemprot nutrisi pupuk berkonsentrasi 1 ml/1. Perlakuan itu diulang ketika tanaman berumur 15 hari dengan dosis sama. Setelah bibit setinggi 15 cm atau berumur 20 sampai 27 hari dapat dipindah tanamkan ke sawah.

Penyemprotan pupuk nutrisi dilakukan ketika padi berumur 10 hari setelah tanam (HST). Dosisnya 2 ml/1. Perlakuan itu diulang pada 30 HST dan 45 HST dengan dosis sama. Mesin gelombang suara dinyalakan 2 kali setiap hari pada pukul 05.00 sampai 09.00 dan 16.00 sampai 21.00. Di luar jam itu mesin dimatikan.

Memang sepintas cara kerjanya tampak repot. Namun, kalau mendapatkan hasil maksimal, kenapa tidak? Toh, keuntungan yang didapat juga lumayan besar. Wajar, beberapa petani lain di Bekonang antusias menggeluti pertanian dengan bantuan teknologi suara.

Pos terkait