Potensi Solok Menanti Polesan

Gambar Gravatar
  • Whatsapp

Solok tak hanya terkenal dengan beras solok-nya. Kabupaten terluas ke-3 di Sumatera Barat itu juga kaya ragam buah-buahan. Sebut saja markisa manis yang menembus pasar swalayan di kota-kota besar. Atau alpukat unggul yang kini mulai dikembangkan besar-besaran. Potensi sayuran, perikanan, peternakan, dan perkebunan pun tak kalah besar. Di sana terbuka peluang buat para investor untuk menanamkan modal.

Topografi berupa dataran, bukit, dan pegunungan dengan ketinggian 280 sampai 2.100 m dpi memungkinkan pengembangan beragam komoditas pertanian. Bentuk topografi berbukit membuat Solok memiliki banyak sungai sebagai sumber air pendukung kegiatan usahatani. Perekonomian kabupaten berpenduduk 474.757 jiwa itu memang berbasis pada sektor pertanian.

Bacaan Lainnya

Beras solok terkenal di Sumatera Barat. Varietas lokal seperti cisokan, kuriak kesuik, hitam kuriak, dan anak daro ditanam bersanding dengan varietas unggul IR42 atau IR kusuma. Hampir setiap kecamatan yang berjumlah 19 buah memiliki lahan sawah beririgasi maupun tadah hujan.

Kabupaten yang berbatasan langsung dengan Provinsi Jambi di sebelah selatan itu juga pemasok utama sayuran. Dataran tinggi seperti Kecamatan Lembangjaya, Lembahgumanti, Gunungtalang, dan Bukitsundi merupakan sentra kentang, kol, tomat, bawang merah, dan cabai. Waktu kami berkunjung ke Kecamatan Lembahgumanti terlihat para petani memanen kubis dan bawang merah untuk dipasarkan ke seluruh Sumatera Barat.

Andalan lain ialah jagung. Keunggulan salah satu varietas yang dikembangkan Andalas 4 tak hanya dinikmati petani setempat. Hibrida lokal hasil tangkaran H Syukri, petani maju di Kecamatan Sijunjungsirih dimanfaatkan di hampir seluruh wilayah Indonesia.

Produktivitas setara varietas unggul lain 5 sampai 6 ton per ha, tahan bulai dan karat serta daya adaptasi luas.

Belum optimal

Gamawan Fauzi, SH (bertopi hitam): Investor disambut dengan tangan terbuka

Potensi buah-buahan pun tak bisa diabaikan. Di sepanjang jalan antara Solok Padang melalui jalur alternatif Alahanpanjang yang mirip Puncak, Cianjur, terlihat deretan pedagang menjajakan markisa manis. Itu salah satu buah andalan Solok. Pemasaran tak melulu di lokal, tapi sampai ke Pulau Jawa. Minimal 27 truk per minggu keluar dari 3 kecamatan sentra: Lembangjaya, Lembahgumanti, dan Danaukembar menuju Jakarta.

Alpukat asal Kecamatan Junjungsirih menambah deretan panjang potensi buah Solok. Bukan tanpa alasan bila Presiden Megawati tertarik mengoleksi di kebun pribadi. Daging lembut, kuning mentega dan tebal serta rasa legit, (baca: Raksasa Gagauan di Kebun Megawati hal 105) Belum lagi potensi komoditas perkebunan seperti teh dan kopi arabika.

“Semua potensi itu belum optimal tergali,” tutur Gamawan Fauzi, SH, Bupati Solok. Ketersediaan lahan memang melimpah. Menurut catatan pemda setempat 1.200 ha lahan tersedia untuk pengembangan sayuran di Kecamatan Lembahgumanti, Lembangjaya, dan Talang. Sekitar 2.000 ha di Kecamatan Sekaki, Pantaicermin, Lembahgumanti, dan X Kotosingkarak cocok ditanami kopi arabika.

Makanya, kehadiran para investor disambut dengan tangan terbuka. “Yang penting mereka serius,” tegas Gamawan. Tak melulu sektor on farm, kehadiran para pengusaha penjamin pasar juga dinantikan. Maklum pemasaran memang kerap jadi kendala pengembangan komoditas pertanian secara besar-besaran.

Peta komoditas

Banyak potensi belum tergali optimal

Demi pengembangan potensi daerah, sejak 1998 Kabupaten Solok membuat pemetaan perwilayahan komoditas. Itu juga mempermudah investor. Mereka tak perlu lagi melakukan survei untuk menentukan daerah yang cocok untuk pengembangan komoditas tertentu.

“Pemetaan itu dibuat berdasarkan potensi dan kebiasaan masyarakat setempat serta topografi wilayah,” papar Gamawan. Misal Kecamatan Lembahgumanti, Lembangjaya, dan Danaukembar untuk markisa dan sayuran. Sementara Nagari Kacang , Kecamatan X Kotosingkarak untuk jeruk kacang yang sudah ada sejak zaman Belanda.

“Setelah komoditas terpetakan tinggal memperbaiki kualitasnya. Seperti pada markisa, sekarang ada 2 varietas unggul nasional yang sedang dikembangkan yaitu super solinda dan gumanti,” lanjut alumnus Fakultas Hukum Universitas Andalas itu. Sejak diperkenalkan setahun silam, masyarakat di sentra penanaman di Lembahgumanti getol memperluas penanaman karena permintaan pasar besar. Sayang, modal jadi kendala.

Perwilayahan itu termasuk sektor perikanan dan peternakan. Misal daerah Padangbelimbing di Kecamatan X Kotosingkarak yang merupakan pusat pembibitan ikan konsumsi Sumatera Barat.

Pun potensi ikan bilih yang endemik Danau Singkarak. Di bidang peternakan, kesulitan peternak penggemukan sapi di kawasan Aripan Kecamatan X Kotosingkarak dalam mendapatkan bakalan menanti uluran tangan pemodal.

Investasi di sektor hilir pun bukan hal tabu. Kabupaten Solok memulainya dengan mengembangkan industri rendang. Dari sebuah pameran di Jakarta diperoleh kontrak 100 kg per minggu yang sudah berjalan sejak setahun silam. Kini lonjakan permintaan mencapai 500 kg per minggu tak terlayani. “Makanya kalau ada investor yang tertarik, mari kita keijasama,” kata Gamawan Fauzi menutup percakapan.

Pos terkait