Potensi Sorghum Sebagai Pangan Alternatif Pengganti Beras

Gambar Gravatar
  • Whatsapp

Ladu Selain rasanya lezat, juga bergizi tinggi. Kini dodol Sorghum itu mulai banyak diburu konsumen luar negeri, terutama Jepang. “Ini kue favorit pengunjung FNCA 2005,” ujar Renaningsih Setjo, dari Puslitbang Teknologi Isotop dan Radiasi, BATAN, yang hadir di cara itu.

Tak berlebihan bila pengunjung kagum pada legit dan manisnya ladu. Sebab kue dodol itu memang istimewa. Berwarna cokelat di tengah dan berbedak tepung putih layaknya snow white sampai putri salju. Aroma rempah ciri masakan timur sampai Indonesia sampai benar-benar tampak.

Itu lantaran ladu diolah dari adonan Sorghum bicolor L. Moench kualitas tinggi, debutan anyar BATAN (Badan Tenaga Atom Nasional), galur CTY 01. “Kandungan tanin dan damin yang menyebabkan rasa sepat, lebih rendah daripada Sorghum biasa,” ujar Deddy A.R.Natadireja, petani yang ditunjuk sebagai mitra kerja binaan BATAN 1.

Sorghum CTY 01 istimewa lantaran kadar gizinya tak kalah dengan beras. Awalnya Sorghum spp lahir dari radiasi sinar gamma sehingga terjadi mutasi genetis dengan sifat-sifat unggul yang lekat. Tengok saja produktivitasnya. Di lahan marginal yang miskin air, seperti Garut dan Gunungkidul saja mencapai 7 ton/ha.

Batang yang besar dan kokoh, ditimpali daun tebal dengan gendutnya malai menjadi ciri khasnya. “Satu pohon bisa menghasilkan 6 ons,” tutur Deddy. Beberapa perusahaan besar mulai melirik potensi Sorghum ini.

“Sangat potensial untuk bahan baku saus dan rising salad,” ujar Rudy Nanggulangi, presiden direktur PT Lippo Enterprises.

Galur harapan

Sorghum spp bisa ditumpangsarikan dengan tanaman lain.

Meski masih galur harapan, kini ada lebih dari 17 Sorghum keluaran BATAN yang dibudidayakan di Jawa Barat dalam upaya multilokasi. Misalnya saja CTY 01, CTY 02, B78, B79, B100, dan kode-kode ain. “Tingkat keberhasilannya tinggi terutama di sekitar Citamatuh,” ujar Aang Hanafiah, Deputi Pendayagunaan Hasil Litbang dan Pemasyarakatan IPTEK Nuklir, BATAN.

Makin berkembangnya Sorghum bicolor di Jawa Barat menjadi indikasi tanaman itu disukai petani. Itu lantaran produktivitasnya tinggi dan perawatan mudah. Apalagi jagung cantel sebutan di Jawa Tengah itu bisa dipanen lebih dari sekali karena selalu keluar ratoon anakan.

“Sorghum tanaman alternatif, multiguna, dan kaya nutrisi,” ujar Deddy. Sebab biji Sorghum dapat digunakan sebagai bahan pangan, pakan ternak, dan bahan baku industri. Sebagai bahan pangan alternatif Sorghum memiliki kandungan gizi yang baik 2.

Selain produktivitas tinggi, Sorghum juga memiliki sifat keunggulan lain seperti adaptasi luas, tahan serangan hama dan penyakit, serta lebih toleran pada kondisi kekeringan. Oleh karena itu Sorghum memiliki potensi yang besar untuk dibudidayakan dan dikembangkan di daerah-daerah kering Indonesia.

Perbaikan varietas Sorghum melalui penelitian pemuliaan tanaman dengan teknik mutasi yang dilakukan BATAN adalah radiasi sinar gamma. Upaya untuk memperoleh galur-galur tanaman baru dengan sifat yang lebih unggul dari induknya itu bisa dibilang sukses.

Sebab galur-galur tanaman baru yang diuji daya hasilnya di daerah kering Gunungkidul DIY pada musim kemarau 2000 sampai 2001 terbukti sangat baik.

“Salah satu tujuan penelitian adalah peningkatan produksi Sorghum untuk menunjang program pemerintah dalam ketahanan pangan masyarakat seperti, pencukupan pangan dan pakan ternak selama musim kering,” ujar Aang Hanafiah, lebih lanjut.

Sorghum Sangat Mudah Dibudidayakan

shorgum kering

Anggota famili Poaceae itu adaptif pada suhu 23 sampai 30°C dengan kelembapan relatif 20 sampai 40%. Suhu tanah yang optimal berkisar ± 25°C. Sorghum tumbuh subur di ketinggian < 800 m dpi dengan tingkat curah hujan 375 sampai 425 mm/tahun. Tanaman itu cenderung menyukai pH pada kisaran 5 sampai 7,5.

“Secara umum membudidayakannya sangat mudah,” ujar Deddy, pekebun yang telah menekuni Sorghum sejak 2001 itu. Terlebih Sorghum bisa ditumpangsarikan dengan jagung. Persiapan lahan terbatas pada pembersihan rumput. Kondisi lahan bisa dengan atau tanpa olah tanah.

Kebutuhan bibit 1 kg/ha. Ditanam dengan tugal pada awal musim hujan atau usahakan saat berbunga tidak bertepatan dengan hujan terus-menerus dan terpaan angin kencang yang bisa menyebabkan gagal panen. Perawatan anggota tanaman serealia itu terbatas pada penyiangan rumput dan pengendalian hama penyakit yang relatif jarang.

Perbandingan nutrisi sorgum dengan beras:

UnsurBerasSorgum
Kalori (Kal)360332
Protein (g)6,811,0
Lemak (g)0,73,3
Karbohidrat (q)78,973,0
Kalsium (mg)6,028,0
Besi (mg)0,84,4
Forfor (mg)140287
  1. Pengaruh Iradiasi Sinar Gamma Terhadap Pertumbuhan Sorgum Manis (Sorghum Bicolor L.). http://lipi.go.id/publikasi/Pengaruh-Iradiasi-Sinar-Gamma-Terhadap-Pertumbuhan-Sorgum-Manis-Sorghum-Bicolor-L/17890. Accessed 4 Mar. 2021.
  2. FoodData Central. https://fdc.nal.usda.gov/fdc-app.html#/food-details/169716/nutrients. Accessed 4 Mar. 2021.