Budidaya Tani

Pusat Aglaonema di Bumi Lancang Kuning

Nurseri milik Yank sapaan akrab Syahrial memang pantas disebut pusat aglaonema di Indonesia. Kebun seluas 16 m
x 16 m penuh oleh 4.000 pot aglaonema beragam jenis. Sebut saja sri rejeki best seiler seperti legacy, venus, dan prosperity karya Dr Meta dari Thailand.

Kami juga melihat dudunyamanee silangan Pramote Rojruangsang, penyilang di Thailand, yang tampil menawan. Mereka berbaur bersama silangan-silangan baru: sunflower, stradust, treasure of siam dari generasi 1 sampai 3 , dan red jaya. Silangan lawas seperti lady valentine, butterfly, dan heng-heng pun tampak di sana.

Anthoni Imran, hobiis aglaonema di Medan, bercerita, sekitar 70% sri rejeki thailand ada di ibukota Sumatera Utara. Hampir semuanya kini dikoleksi Yank di Riau. Itu diamini Anshori, pemilik nurseri Zikita di Jakarta. “Kalau ingin mendapatkan aglaonema thailand, kita tak perlu ke Bangkok lagi. Semua jenis baru ada di sini,” ujarnya.

Mata Kami kian terbelalak ketika menyaksikan puluhan aglaonema baru yang belum bernama. Hampir semua berasal dari biji terseleksi, turunan induk berkualitas. Makanya chinese evergreen tak bernama milik Yank tergolong langka, karena satu-satunya. Untuk aglaonema nan langka itu ayah 2 putri itu berani menyematkan nama baru. Sebut saja aglaonema lavira dan artemis leoni yang diambil dari 2 putri tercinta.

Pengagum silangan Gregory Hambali

Yank dan Andriani, sama-sama terpikat aglaonema

Yank tak hanya memburu aglaonema asal Thailand. Ia juga mengoleksi silangan Gregory Hambali. Nama-nama seperti Ijot lady, widuri, roro mendut, reanita, ruth, dan petit hanyalah segelintir dari yang dimiliki pekebun kelapa sawit itu. Yang lebih mengagumkan jumlah setiap jenis tak hanya 1, tetapi 3, 10, bahkan 50 pohon. “Saya pengagum Greg, karena itu karyanya pasti saya koleksi lebih dari 1 pohon,” ujar suami Hj Andriani Lubis itu.

Saking banyaknya koleksi, beberapa kalangan menyebut Yank sebagai hobiis paling ‘haus’ aglaonema. “Bila ada jenis langka, diburu sampai ke pelosok,” ujar Gustian Danil, eksportir sekaligus importir aglaonema di Medan.

Ucapan itu bukan isapan jempol belaka. Meski menderita rematik akut, Yank terbang ke Medan sebulan sekali untuk berburu sri rejeki. Di sela-sela jadwal rutin itu Yank ke Jakarta dan Bogor untuk menimba ilmu dari para pakar sang ratu. Kami kerap memergoki pria tinggi besar itu berburu aglaonema hingga tengah malam, bahkan dinihari.

Antiaglaonema

Sejatinya “kegilaan” Yank pada anggota keluarga Araceae itu baru saja. Setahun silam, ia hanyalah seorang pengusaha perkebunan kelapa sawit yang tidak mengenal aglaonema. Boleh dibilang Yank benci pada sang ratu. Pada pertengahan 2020 ia menggerutu di atas kendaraan sepanjang perjalanan dari Bogor, Jakarta, hingga Pekanbaru. Itu gara-gara Syahril Usman, kakaknya, membeli sepot sri rejeki seharga Rp10-juta. “Masa sepot kecil harganya Rp10-juta. Sangat tak masuk akal,’ kenang Yank.

Padahal sang istri, Hj Andriani Lubis, justru tengah mabuk kepayang pada sri rejeki. Andriani pun mesti memendam keinginan untuk mengoleksi sang ratu berharga puluhan juta rupiah. Sebab, untuk membeli tanaman seharga Rp 1-juta saja, Andriani mesti kucing-kucingan dengan Yank.

Alam Sutera

Antipati pada aglaonema itu berbalik menjadi cinta pada Januari 2006. Ketika itu Yank bersama kakak dan istri berkunjung ke salah satu sentra tanaman hias di Alam Sutera, Tangerang. Ia terbelalak melihat jejeran sang ratu berdaun merah tertata rapi di atas rak sebuah gerai.

Kelahiran Medan 50 tahun silam itu jatuh hati pada salah satu pot yang paling menawan. “Ternyata cantik juga,” ujarnya. Ia kian kepincut setelah tubuhnya yang lemah karena rematik berangsur segar setelah melihat kecantikan kerabat keladi itu.

Yank lalu teringat ucapan dokter pribadinya. “Kesehatan Anda bisa terjaga bila menjalani terapi yang menyenangkan. Misal, menggeluti hobi dengan tekun.” Yank pun memutuskan untuk menekuni aglaonema sebagai hobi. Sebanyak 50 pot aglaonema terdiri dari 38 jenis diboyong ke Pekanbaru untuk memenuhi hasratnya.

Tak puas dengan jumlah itu, bulan berikutnya Syahrial dan Andriani kembali ke Jakarta. Semua nurseri dan importir penyedia jenis baru disambangi untuk membeli semua yang belum dikoleksi.

Kurang dari 3 bulan, halaman belakang dan ruang tengah tak sanggup lagi menampung sang ratu. Yank lalu membangun greenhouse mewah berukuran 16 m x 16mdi samping rumah. Naungan bangunan dibuat model piggy back, sementara lantai menggunakan conblok.

Suhu Pekanbaru yang panas mencapai 36°C—dikendalikan dengan 2 blower berdiameter 70 cm. Lima kipas angin aktif mengatur sirkulasi udara hingga ruangan menjadi sejuk.

Kini 10 bulan berselang, minimal 4.000 pot aglaonema jenis terlengkap menemani keseharian pasangan Yank dan Andriani. Kediaman keduanya di salah satu sudut Pekanbaru baru saja bermetamorfosis menjadi pusat mode aglaonema di nusantara.

Pandu Dwilaksono