Rezeki Lele untuk Desa Cihowe

Anda yang tinggal di Jakarta suka makan pecel lele? Bisa jadi salah satu ikannya dari Cihowe, Parung, Bogor. “Warga di sini 30% memelihara lele,” tutur Haji Acim S, ketua kelompok tani. Dari kampung sebelah utara Bogor itu, sekitar 2 ton lele urban ke Jakarta dan Tangerang setiap hari.

Kalau hanya melintas di jalan utama Kecamatan Parung, Anda tidak bisa langsung sampai di Desa Cihowe. Singgahlah di Desa Cogrek, kemudian tanyakan pusat budidaya lele. Pasti setiap tamu akan diarahkan ke H. Acim S. Dialah pelopor budidaya lele di Cihowe, Kecamatan Parung, yang memulai usaha pada 1982.

Budidaya sederhana, panen 1,3 ton/kolam
sistim Budidaya ikan lele sederhana

Menuju “desa lele” Cihowe, harus menyusuri jalan becek berkelok-kelok. Kurang lebih 1 km dari gapura desa yang berbatasan dengan jalan raya, tampak deretan kolam dengan air tenang kehijauan. Sesekali muncul lele yang mengambil nafas di permukaan air. Kolam itu bertebaran di berbagai lokasi, “Pokoknya ada tanah nganggur dibuat kolam lele,” tutur Acim yang juga ketua Badan Pengawas Desa (BPD), Cihowe.

Panen Setiap hari

Melanjutkan perjalanan masuk ke tengah desa, deru mesin penyedot air terdengar menemani peternak ikan lele yang sedang mengeringkan kolam. Tampak beberapa mobil pick up yang membawa tong plastik menunggu di lapak penimbangan. Di situlah para pengepul antri, menunggu pasokan lele dumbo (Clarias fuscus) yang dipanen sore hari. “Kalau lagi langka, jam 9 pagi su kumpul,” tutur bapak 7 anak itu.

Beberapa pengepul datang dari Muarabaru, Tangerang, dan Citeureup. Guna memenuhi permintaan mereka, setiap hari peternak di Cihowe harus menyediakan minimal 2 ton. “Tangerang minta 1,4 ton, Muarabaru dan Citeureup masing-masing 5 kuintal,” tutur haji lele yang berangkat ke Mekkah pada 1994.

Tidak kurang 400 kolam berukuran 50 sampai 300 m2 dipanen bergantian setiap hari. Untuk memenuhi kebutuhan budidaya lele di Cihowe, 33 ton pakan buatan pabrik didatangkan setiap minggu.

Di samping menampung hasil produksi masyarakat setempat, H. Acim membiffa 86 kelompok peternak dalam program kemitraan. Kelompok peternak yang mengambil sistem paket dimodali Rp6-juta. Dana itu berasal dari investor Jakarta yang menanamkan modal di Cihowe. “Sampai kini sudah ada 211 paket,” tutur Acim. Dari keuntungan bersih peternak mendapat 50%, investor 40%, dan pengelola 10%.

Harga Jual yang Fluktuatif

Dalam waktu setahun peternak Cihowe dapat melakukan budidaya 5 kali. Setiap siklus membutuhkan waktu 58 sampai 60 hari. Jika ikan telah mencapai bobot 100 sampai 110 gram/ekor (sekilo isi 9 sampai 10 ekor ) kolam siap dipanen.

Benih lele yang ditebar umur 1 bulan, berukuran 10 sampai 12 cm. Masa rawan budidaya saat pemeliharaan mencapai 10 hari. Agar jangan telanjur rugi, jika terjadi serangan penyakit budidaya segera diurungkan.

Setelah kolam disucihama kan dengan kapur dan kalium permanganat (PK) benih kembali ditebar. “Paling-paling investor rugi waktu,” kata H. Acim. Dengan adanya kendala penyakit, investor baru menikmati keuntungan 60 sampai 70 hari.

Permintaan lele memang tak surut sepanjang tahun. Sayang keberadaannya menurut Acim sangat tergantung musim. Kelangkaan lantaran wabah penyakit kadang meluluh-lantakan budidaya lele.

Stok yang berkurang otomatis berpengaruh terhadap harga. “Ketika harganya bagus barang terbatas. Kala “banjir” harganya murah,” tutur Acim. Saat ketersediaan lele minim, harga melambung sampai Rp6.800/kg. Sebaliknya Desember sampai Februari harganya jatuh sampai Rp5.200/kg.

“Saya trauma main lele,” tutur Cholik pengusaha lele asal Tegal, Jawa Tengah yang terjun pada 1994. Menurutnya pasar ikan itu main ukuran. Ketika harga jatuh, semua stok siap panen terpaksa harus dijual.

2 ton per hari lele urban dari Cihowe
2 ton per hari

Dengan target jual Rp6.000/kg, seharusnya pendapatan Cholik Rp120-juta dari 20 kolam lele. Sayangnya,begitu panen harga menukik Rp4.000/kg. Alih-alih untung, malah rugi Rp20-juta. Nasib sial juga dialami Sueb, peternak lele di Gunungsindur, Bogor. “Seratus juta amblas karena kolam kebanjiran,” keluhnya.

Komoditi Bisnis yang Menguntungkan

Sejak lama lele telah menjadi tumpuan hidup masyarakat Cihowe. Pada 1994 banyak sawah yang berubah fungsi jadi kolam. “Hitung-hitungannya pelihara lele lebih untung,” tutur Acim.

Dengan tebaran 15.000 ekor benih, panen mencapai 1.250 sampai 1.300 kg/kolam. Harga benih Rp130/ekor; pakan Rp2.700 sampai Rp3.100/kg. Dengan hargajual Rp6.500/kg, pendapatan mencapai Rp8.450.000 per kolam sekali panen. Dipotong biaya benih, Rp 1.950.000 dan pakan Rp3.900.000, keuntungan bersih kurang lebih Rp2.600.000 per kolam sekali panen.

Lele dipilih sebagai komoditas andalan karena memang cocok di Parting dan kendala dalam membudidayakan lele terbilang minim. Lagipula ia tidak memerlukan pergantian air yang banyak.

Sistem budidaya lele semi intensif yang diterapkan nyaris tanpa ganti air. Peternak tinggal memberi pakan 2 kali sehari. Sentuhan teknologi tidak seluruhnya diadopsi masyarakat. Obat-obatan masih menjadi barang aneh. “Kalau sakit paling-paling diobati dengan garam atau bebekan daun pepaya, Kihujan, dan pace,” tutur Acim.

Tidak semua masyarakat Cihowe membesarkan lele. Ada yang berperan sebagai produsen benih. Oleh karena itu ketersediaan benih bukan masalah. “Kalau yang cocok di bibit ya produksi bibit,” kata Acim. Untuk mendatangkan bibit dari daerah lain sangat berisiko. Pengalaman peternak, bibit lele daerah lain tidak cocok dibesarkan di Parung. Sebaliknya bibit lele dari Parting hanya bisa dibesarkan di sana.

Budidaya lele di Cihowe relatif aman dari penjarahan. Rahasianya, “Ternak lele pagarnya lele,” tutur pria 56 tahun. Dari hasil lele itu semua kepentingan masyarakat dipenuhi. “Jadi yang 10% itu bukan semata-mata masuk kantong,” kata Acim.

Melainkan dikembalikan lagi ke masyarakat, di antaranya untuk pembuatan jalan dan sarana umum lain. Acim masih memberikan lampu hijau kepada calon penanam modal dan menjamin keuntungan. “Syaratnya minimal tanam 2 paket,” tutur haji 2 cucu itu.

Halaman terakhir diperbaharui pada 19 Oktober 2021

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.