Budidaya Tani

Rp 225-juta Untuk Sawo Istimewa

Wuih…luar biasa! Dipastikan itu komentar pertama Anda bila melihat sawo istimewa asal Malaysia ini. Sosoknya super jumbo, sekilo berisi 2 buah; lazimnya lokal 7 sampai 10 buah per kilo. Makanya ia dijuluki ciku mega, ciku=sawo, mega=besar. Begitu digigit rasa manis dan lembut langsung menggoyang lidah. Kulit buah bisa dimakan lantaran tipis dan tanpa kesat. Keunggulan lain ia tahan disimpan hingga seminggu.

Sepintas penampilan CM 19 begitu ia lebih populer disebut mirip apel fuji. Bentuk bulat, simetris dengan bahu buah rata. Sosok itu menguntungkan ketika pengemasan. Buah berbahu rata mudah disusun dalam kardus. Berbeda dengan jenis jantung dan subang sampai 2 varietas unggul lain sampai yang berbentuk lonjong dan oval. Dengan bentuk seperti itu posisi buah di dalam dus lebih sulit di atur. Kerapkali kulit bonyok kerena membentur dinding kardus.

Tak cuma itu, ciku begitu orang Malaysia menyebut sawo hasil karya Dr Masri Muhammad, staf peneliti Malaysian Agricultural Research and Development Institute (MARDI) tahan disimpan selama seminggu. Saat matang kulit buah tetap keras.

Satu dekade

Padahal, sawo Manilkara achras dikenal gampang rusak, lembek, dan berair setelah dipetik. Paling banter ia hanya bisa bertahan 3 sampai 4 hari. Permukaan kulit sawo hasil persilangan dan seleksi lebih dari 50 varietas asal Florida, Filipina, Thailand, dan Indonesia itu halus dan lembut.

Begitu dibelah tampak daging tebal berwarna cokelat kekuningan tanpa gumpalan putih di sekitar biji yang berjumlah 2 sampai 5 buah. Rasanya manis, tekstur halus, dan tidak berpasir. Kulitnya tanpa rasa kesat sehingga bisa dimakan. Namun, “Ia lebih sedap jika disantap dengan es batu, rasanya lebih segar,” ujar Jamaludin bin Salim, peneliti di MARDI.

Permintaan 300-ribu bibit baru dipenuhi separuhnya. Rupanya kerja keras lebih dari 1 dekade dengan menghabiskan dana RM 100.000 setara Rp225-juta tidak sia-sia. Kini CM 19 jadi primadona di Malaysia. Sejak dilepas 2 tahun silam pekebun di Kedah berbondong-bondong menanam. Pekebun menanam bibit setinggi 50 cm yang diperoleh dari stasiun MARDI di Kedah seharga RM18 setara Rp42.000.

Pendek dan kompak

Bibit diperbanyak dengan sambung pucuk. Dengan cangkok butuh waktu lama dan hasilnya sedikit. Sebagai batang bawah digunakan ciku subang lantaran lebih bandel dan adaptif. Saat penanaman, varietas subang juga mengisi 15 sampai 20% dari total populasi. Benangsarinya mampu meningkatkan pembuahan pada CM 19 sehingga produksi meningkat.

Ia cocok ditanam di tanah subur di dataran rendah hingga tinggi. Sosok pohon pendek, berbatang besar, lurus, tegap, serta percabangan banyak dan pendek. Akar tidak menonjol ke permukaan tanah; klon lain hampir 70% berakar besar dan menonjol. Bentuk tajuk kompak, rimbun dengan kanopi kecil sehingga cocok di tanam rapat. Namun, idealnya ia ditanam dengan jarak 5 m x 5 m, atau 336 tanaman per ha.

Buah Sawo ciku
Setangkai hanya muncul satu buah

Cabang mulai keluar pada ketinggian 50 sampai 60 cm. Cabang kecil, tapi kuat sehingga mampu menyangga buah besar. Setiap tangkai hanya keluar 1 buah sehingga pekebun tidak repot melakukan penjarangan. Buah bisa matang serempak dan berukuran seragam. Risiko serangan ulat penggerek penyebab bercak hitam yang kerap menyusup di antara dompolan buah dapat diminimalisasi.

Petik mulus

Agar berproduksi optimal CM 19 harus dirawat intensif, misal pupuk. Pada saat penanaman cukup dibenamkan 40 kg pupuk kandang. Lalu pupuk dengan NPK 15:15:15,4 kali dalam setahun. Dosis 0,2 kg per tanaman. Tahun berikutnya pupuk masih sama dengan dosis 0,3 kg. Pada tahun ketiga dan seterusnya ganti dengan NPKTE 12:12:17:2. Dosis 0,5 kg per tanaman dan meningkat setiap tahun. Pupuk dibefikan 3 kali setahun. Pada umur 10 tahun ke atas dosis tetap, 3 kg per tanaman.

Pestisida jarang diberikan karena CM 19 relatif tahan hama dan penyakit. Penyemprotan hanya dilakukan jika ada serangan. Hama yang kerap menyerang lalat buah Bactrocera papayae dan ulat daun Banisia myrsusalis. Lalat buah dihalau dengan dimethoate atau fenthion. Sedang ulat daun dicegah dengan acephate. Pemberiannya setiap kali pucuk baru keluar.

Buah dipetik 32 sampai 35 hari setelah bunga mekar (hsbm) lebih lama seminggu ketimbang jantung dan subang. Agar mulus, ketika buah sebesar bola pingpong dilakukan pembrongsongan. Sebagai pembungkus digunakan kantong kresek putih supaya buah mudah dikontrol.

Begitu kulit berwarna cokelat merata tanda siap dipetik. Pemetikan menggunakan gunting agar penampilan buah tetap cantik. CM 19 berbuah sepanjang tahun. Namun, panen besar hanya pada Maret,April dan September,Desember. Dari populasi 336 pohon pada tahun kelima dihasilkan 7 ton. Lima tahun berikutnya hasil meningkat menjadi 25 ton dan tahun ke-15 mencapai 30 ton. (Pandu Dwilaksono)

Pandu Dwilaksono

Add comment