Rp 4-triliun Untuk Penyakit Mulut dan Kuku

Gebrakan Menteri Pertanian, menolak masuk produk pertanian dari negara terkena wabah penyakit mulut dan kuku membuat beberapa importir gerah. Kebijakan itu mengancam perjanjian dagang yang sudah disepakati.

Kerugian pun bertambah karena harus mere-ekspor barang yang sudah telanjur dikirim.

Namun, kebijakan itu patut mendapat acungan jempol. “Kalau sampai penyakit mulut dan kuku (PMK) masuk lagi ke Indonesia, berat,” kata Dr. Darminto, Kepala Balai Penelitian Veteriner. Kerja keras yang dilakukan selama 11 tahun, antara 1974 sampai 1985, untuk membebaskan Indonesia dari PMK bisa sia-sia.

Kerugian materiil yang harus ditanggung negara pun tak sedikit. Sebagai contoh untuk membebaskan Blora dari PMK pada 1983 sampai 1985 pemerintah mengeluarkan dana Rp13-miliar sampai Rp20-miliar.’

Hambatan ekspor

Penyakit hewan yang muncul sejak zaman kolonial Belanda itu ditakuti karena berpengaruh besar terhadap politik, sosial, dan ekonomi. “Dalam daftar 01A ( World Organization for Animal Health, Organisasi Kesehatan Hewan Dunia, red) nomor 1. Artinya ia punya pengaruh besar terhadap perdagangan,” tegas Darminto.

Begitu suatu negara ditengarai positif terjangkit wabah PMK maka gerbang ekspor produk pertanian tertutup di semua negara.

Tak hanya itu, dunia pariwisata pun terkena imbas. “Misal kasus PMK terjadi di Bali, pemerintah Australia bakal melarang warganya datang ke sana,” ujar Darminto. Para wisatawan dikuatirkan membawa virus saat pulang ke negaranya. Padahal Australia, seperti Indonesia, termasuk negara bebas PMK.

Bila demi kepentingan pihak tertentu PMK kembali masuk Indonesia, triliunan rupiah mesti disiapkan pemerintah untuk memberantasnya. Prof. Emir Siregar menyebut angka Rp 4-triliun. “Itu baru untuk ganti rugi pada peternak sapi. Belum termasuk ternak lain, biaya vaksinasi, dan personel,” kata guru besar Fakultas Kedok-teran Hewan, IPB. Padahal jumlah ternak di Indonesia saat ini mencapai 5-juta sampai 6-juta ekor, sapi baru setengahnya.

Gerhana matahari

Di Indonesia wabah PMK pertama kali mewabah pada 1886 sampai 1887 di Jawa, Bali, Sulawesi, dan Sumatera. Wabah besar terjadi pada 1974 di Jawa dan Bali. Berawal dari peristiwa itu pemerintah serius memberantas dengan melakukan vaksinasi teratur. Hasilnya Bali terbebas dari Penyakit Mulut dan Kuku.

Semestinya Jawa segera menyusul Bali mendapat pernyataan bebas pada 1984. Namun, PMK kembali menyentak pada 1983 di Blora.

Kedatangan wisatawan mancanegara untuk menyaksikan gerhana matahari yang terjadi pada tahun itu diduga penyebab kemunculan kembali PMK. Virus masuk melalui barang-barang yang dibawa wisatawan.

Perawatan kuku sapi oleh peternak sapi
Perawatan kuku sapi

Baru pada 1985 tak ada lagi laporan wabah sehingga pemerintah menyatakan Indonesia bebas PMK. Namun OIA tak segera mengakui hal itu. Syaratnya, “Tidak ada laporan wabah 2 tahun setelah vaksinasi terakhir. Lalu dilanjutkan perifikasi selama 1 tahun,” papar Emir Siregar. Setelah perjuangan selama 5 tahun, Indonesia dinyatakan bebas PMK.

Hewan sentinel

Dengan pengakuan OIA itu tak lantas membuat Indonesia aman selamanya. “Setiap tahun kita wajib melakukan pemeriksaan untuk mendeteksi kemungkinan masuknya virus,” tutur Darminto. Pemeriksaan terutama dilakukan di daerah perbatasan.

Kini mewabahnya Penyakit Mulut dan Kuku di berbagai negara membuat pemerintah semakin waspada. Instansi terkait merencanakan program penempatan hewan sentinel di daerah-daerah perbatasan dan pintu-pintu masuk perdagangan. “Hewan sentinel dipakai sebagai indikator yang dapat dipantau terus menerus. Sehingga kalau ada gejala bisa segera diketahui,” ujar Emir Siregar. Untuk itu dipilih hewan yang paling sensitif terhadap infeksi, babi.

Itu pun bukan berarti Indonesia aman 100%. “Secara legal mungkin kita sudah aman, tapi siapa yang menjamin barang
yang dilarang diselundupkan,” ujar Emir Siregar. Maka ia mengingatkan, perang terhadap PMK tidak dapat dilakukan sendirian oleh Departemen Pertanian.

Departemen Perindustrian dan Perdagangan, Departemen Keuangan, bahkan kepolisian perlu dilibatkan. Maka harap maklum bagi pengusaha yang untuk sementara transaksinya batal.

Picornaviruses Pembawa Petaka

Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) menyerang hewan ternak berkuku Genap, seperti sapi, domba, kambing, kerbau, dan babi, ia disebabkan oleh virus dari keluarga Picornaviruses, nama latin yang berarti jahanam kecil[1].

Virus itu mampu berbiak sangat cepat setelah terinfeksi dalam tubuh. Hanya dibutuhkan 8 jam setelah virus masuk untuk menularkan penyakit dari hewan terinfeksi. Padahal gejala baru terlihat setelah 2 hari.

Virus ditularkan secara langsung (misal, kontak dengan cairan ludah) dan bantuan angin, terutama dalam bentuk aerosol nafas hewan terinfeksi. Virus juga dapat menyebar melalui barang-barang yang tercemar, misal alat pertanian atau produksi tanaman di daerah wabah. Itu sebabnya Departemen Pertanian gencar melarang masuknya jagung asal Argentina.

Foot and mouth disease virus (FMDV) menyerang mulut dan kaki sehingga hewan tidak bisa makan dan berjalan. Akibatnya hewan pembajak sawah tidak bisa melakukan tugasnya. Pada sapi perah produksi susu berhenti dalam selang waktu 1 sampai 2 minggu.

Pemusnahan Penyakit Mulut dan Kuku

Virus dibedakan menjadi tipe O, A, C, SAT1-2-3, dan Asia 1-2-3. Yang sempat mewabah di Indonesia adalah tipe O. Di India hampir semua tipe ada. “Makanya kita sangat menolak waktu ada rencana impor daging dari India. Bisa kacau kalau ada macam-macam tipe, vaksin mana yang mau kita pakai untuk memberantas?” tanya Dr. Darminto, Kepala Balai Veteriner Indonesia.

Virus bertahan lama pada suhu dingin, la dorman tetapi begitu dihangatkan kembali di negara tujuan ekspor virus aktif kembali. “FMDV baru mati pada pH 2 sampai 2,5 atau suhu di atas 90°C,” kata Prof. Emir Siregar.

Pemberantasan Penyakit Mulut dan Kuku dilakukan dengan 2 cara, eradikasi dan vaksinasi. Eradikasi atau pemusnahan merupakan cara paling cepat. “Wabah bisa diatasi dalam waktu 3 bulan,” ujar Darminto. Cara ini dipilih pemerintah Perancis dalam mengontrol PMK.

Eradikasi efektif bila dilakukan dengan benar. Misal larangan perpindahan hewan bahkan manusia dari daerah beradius 3 km dari pusat wabah. Zona karantina diberlakukan mencapai radius 16 sampai 24 km. Hewan terinfeksi dan yang berhubungan dengannya segera disembelih begitu wabah muncul.

Cara vaksinasi lebih lama, butuh waktu sekitar 5 tahun untuk melihat hasilnya. Indonesia memilih vaksinasi karena eradikasi membutuhkan biaya besar untuk penggantian hewan ternak.

Zoonosis

Keluarga Picornaviruses itu bersifat zoonosis, dapat tertular pada manusia. “Tetapi tidak parah, seperti sariawan biasa,” kata Darminto yang pernah tertular. Begitu menular pada manusia, virus tidak bisa ditularkan kembali. Emir Siregar menyebutnya sebagai dead end.

FMDV baru menyebar pada manusia bila sudah mewabah. Beberapa media massa sempat menampilkan berita puluhan anak di Karesidenan Surakarta terserang hand, foot, and mouth disease (HFMD)[2]. “Itu virus yang menyerang manusia, berbeda dengan PMK,” papar Darminto.

Referensi

[1] Reuter, Gábor, et al. “Two Closely Related Novel Picornaviruses in Cattle and Sheep in Hungary from 2008 to 2009, Proposed as Members of a New Genus in the Family Picornaviridae.” Journal of Virology, vol. 86, no. 24, Dec. 2012, pp. 13295–302. PubMed Central, https://doi.org/10.1128/JVI.01142-12.

[2] CDC. “Learn More about Hand, Foot, and Mouth Disease.” Centers for Disease Control and Prevention, 2 Feb. 2021, https://www.cdc.gov/hand-foot-mouth/index.html.

Halaman terakhir diperbaharui pada 25 Oktober 2021

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.