Budidaya Tani

Rumah Susun Untuk Lobster Air Tawar

Sistem tanam bertingkat (vertikultur) di sayuran boleh jadi mengilhami upaya Philipus Rudy Kurniawan menggenjot produksi lobsternya. Lihat saja, peternak di Cilacap, Jawa Tengah, itu menaruh rak 6 tingkat di dalam kolamnya yang berukuran 5,4mx4 m x 1,1 m. Minus rak, kolam itu hanya bisa dipakai membesarkan sekitar 200 reddaw. Namun, setelah rak dipasang, populasi lobster itu meningkat hingga 5 kali lipat.

Berlipatnya jumlah populasi itu terjadi karena Rudy panggilan akrab memaksimalkan pemakaian kolam sehingga efisiensi lahan tinggi. Model efisiensi lahan itu mirip sistem EDU, Extreme Density Unit. Pada EDU, lobster dipelihara dalam botol-botol yang disusun vertikal dari dasar hingga berjarak 10 cm di bawah permukaan air. “Prinsip kedua cara itu sebetulnya sama, produksi banyak di lahan sempit,” ujar Rudy.

Konstruksi kolam itu dirancang bertingkat 2. Setiap tingkat terdiri dari 2 kolam berukuran 5,4 m x 4 m. “Kolam dibuat terpisah, tapi sirkulasi air menyatu,” ujar alumnus International Hotel Management School (IHMS) di Inggris itu. Semua kolam diplester semen. Ketebalannya mencapai 4 sampai 5 cm. Maklum kolam itu nantinya harus mampu menahan beban yang berasal dari rakb ertingkat berikut kelengkapan isinya.

Damar laut

Rak bertingkat, tingkatkan populasi lobster hingga berlipat

Rak bertingkat itu dibuat khusus. Rangkanya dirakit memakai kayu damar laut. Shorea sp itu dipilih karena karakternya tak mudah lapuk meski lama terendam di air. Rak itu dibuat permanen. Seluruh siku-sikunya dipaku kuat. Jarak antarrak 12 cm. Ukuran itu dianggap nyaman untuk lobster yang dibesarkan dari ukuran 2 inci hingga 4 sampai 5 inci. “Dibandingkan rooster, ruang yang tersedia lebih besar,” tuturnya.

Talang terpal dipakai sebagai dasar setiap rak. Bahan itu dipilih karena kuat dan tidak mudah merosot saat menahan beban genting yang dipakai lobster untuk bersembunyi. Sebab itu setiap jarak 16 m, talang terpal dipaku ke rangka rak. Menurut Rudy, talang terpal dapat diganti bahan seng yang lebih kuat. Namun, seng riskan karena mudah berkarat sehingga mengganggu kualitas air.

Rudy memasang 2 rak di setiap kolam. Panjangnya mengikuti panjang kolam. Lebarnya dikurangi 70 cm dari lebar kolam. Ruang seluas 70 cm yang membelah kolam sama besar itu nantinya berfungsi sebagai jalan saat panen. “Lebarnya jalan tergantung dari keleluasaan bergerak. saja. Bisa dilebarkan sampai 1 m kalau dianggap sempit,” ujar kelahiran Cilacap 25 tahun silam itu.

Pakai PVC

Sesudah rak ditanam, bibit lobster dimasukkan bertahap. Rak teratas diisi terlebih dahulu, kemudian berturut-turut turun ke rak di bawahnya. Rudy memilih kepadatan aman sekitar 10 ekor/ m2. Jumlah itu sebetulnya bisa dinaikkan hingga 15 ekor/m2, tapi cukup berisiko. Berdasarkan pengalaman Rudy tingkat mortalitasnya sangat tinggi sekitar 40%. “Mungkin karena tidak leluasa bergerak dan terlalu padat,” katanya.

Penggunaan rak menuntut cara khusus untuk pemberian pakan. Pelet tidak bisa ditebar seperti pada kolam tanpa rak. Pakan diberikan melalui pipa PVC berdiameter 3 inci, kecuali di tingkat paling atas. Pipa itu dimasukkan melalui lubang seukuran pipa yang dibuat dtiap tingkatan rak.

Panjangnya disesuaikan tinggi setiap tingkat dari atas permukaan air. Pada tingkat ke-2, misalnya, dipasang pipa berukuran panjang 50 cm. Sekitar 5 cm di antaranya masuk ke ruang tingkat 2. Sisanya, selain melewati tingkat pertama juga menyembul di atas permukaan air setinggi sekitar 30 cm.

Posisi pipa setiap tingkat didesain bergandengan mirip satu set angklung alat musik sunda dan diberi penahan kayu. Setiap set pipa dipasang horizontal berjarak 1 m. Untuk kolam berukuran 3 m x 4 m berisi 2 rak dibutuhkan 6 set pipa. Jumlah itu cukup mengatasi kompetisi pakan antarlobster. “Dengan tiga titik pemberian pakan dijamin lobter tidak saling berebut,” tambah Rudy. Pakan diberikan dengan cara menuangkan melalui lubang pipa.

Rudy pun melengkapi kolam dengan filter pararel 3 ruang masing-masing berukuran 1 m x 1 m. Letak filter sejajar kolam paling bawah. Ruang pertama diisi bioball. Berikutnya berturut-turut zeolit dan arang karbon. Sirkulasi air berjalan dari kolam bawah, lalu disaring saat melewati filter, selanjutnya didorong dengan pompa ke kolam atas melalui pipa lain. Dari sana air akan masuk dalam bentuk kucuran sehingga oksigen terlarut di kolam tetap tinggi. “Karena kepadatan tinggi, filter mutlak ada Penggantian air juga tetap dilakukan minimal 25% dari volume kolam,” papar Rudy.

Sulit dideteksi

Menurut Cuncun Setiawan, cara yang dipakai Rady tergolong baru. “Produksinya bisa lebih tinggi dari cara EDU jika penanganannya sangat bagus,” ujar praktikus lobster di Bintaro, Tangerang, itu. Namun, menurut Cuncun pemakaian rak bertingkat memiliki beberapa kendala seperti sulit mengontrol keadaan lobster di rak tingkat bawah. “Karena rak itu permanen, yang dijadikan barometer kondisi isinya hanya dari lobster di tingkat teratas,” kata pemilik Bintaro Fish Farm itu.

Sebab itu Rudy benar-benar teliti untuk menekan segala risiko. Contoh pakan. Pemberian pelet dilakukan terlebih dahulu pada lobster di tingkat teratas dengan takaran tertentu. “Bila kebanyakan, segera ketahuan,” ujarnya. Jika takaran pas, pelet baru digelontor melalui pipa ke rak-rak di bawah. Meski demikian cara itu tidak menjamin kebutuhan lobster di rak bawah terpenuhi. Buktinya saat panen perdana 3 bulan lalu, hanya 60% lobster yang berukuran seragam.

Dampak lain kualitas air. Selama filter mampu bekerja baik, kadar amonia yang tinggi karena sisa-sisa kotoran dan pakan masih bisa dinetralisir. Namun, cerita akan berbeda jika ada lobster mati di rak bawah. Selain sulit dideteksi, dipastikan kualitas air akan cepat turun. Akibatnya lobster rentan diserang berbagai penyakit. “Kalau sakit satu bisa sakit semua,” ujar Rudy yang terus menyempurnakan teknologi rak bertingkat itu

Pandu Dwilaksono