Santigi Bonsai: Di Bali Dia Spesialis Santigi

Hamparan 400 bonsai santigi yang tampil dalam berbagai gaya sungguh memukau. Mereka berbaris rapi di sebuah lereng di kawasan Citra Kencana, Denpasar. Di lahan 1.800 m2 tanaman pantai itu tumbuh di atas pilar-pilar bercat putih kreasi perajin Malang. Di situlah Victor Sunanto acap meluangkan waktu untuk menikmati eksotisme ratusan koleksinya.

Melilitkan kawat di percabangan atau memotong ranting wakat besi sebutan bagi masyarakat Ambon jamak dilakukan pengusaha pemasok bahan makanan dan minuman itu. Tak jarang ia pergi ke Kuta atau Legian yang berjarak sekitar 12 km dari kediamannya. Di pantai berpasir putih itulah ia mengambil air laut dengan jerigen.

Setelah dicampur pestisida dan pupuk, air laut lalu disemprotkan ke daun tanaman. Media selalu dihindari terkena ramuan itu untuk mencegah lumut mati. Victor ingin menciptakan habitat asli santigi yang tumbuh di tepian pantai berkarang. Perdu setinggi 4 meter itu berkayu kuat, sehingga kerap dimanfaatkan sebagai hulu keris, popor bedil, atau perahu.

Bonsai Kontemporer

Jika merasa lelah mentraining bonsai, pria 39 tahun itu dengan gampang mencapai gazebo di tengah-tengah lautan santigi. Gazebo berukuran 3 m x 3 m berdiri persis di tengah-tengah kolam buatan. Di depannya, terdapat sebuah bonsai santigi setinggi 80 cm. Daun lebat, bertrap-trap menggambarkan air teijun yang terus mengalir. Cabang rapi dan akar kokoh mencengkeram bumi.

Bonsai bergaya paduan slanting dan informal itu 4 kali dinobatkan sebagai nominator terbaik nasional. Nilainya ditaksir Rpl40-juta. Itulah bonsai kebanggaan pemilik Bali Exotica Bonsai. Di tempat sama pun ditata 32 bonsai terbaik kategori madya. Selain itu, puluhan bonsai bergaya kontemporer itu senantiasa membuat decak kagum pengunjung.

Bayangkanlah, liukan batang yang seolah-olah mati. Lantas menyembul di antaranya batang atau cabang yang hidup. Menurut Victor, ekspresi seni bonsai kontemporer lebih menonjol. Talenta seni yang mengalir di tubuh pria Bali itu ingin diwujudkan dalam bonsai. Itulah sebabnya ia meninggalkan gaya konvensional yang sempat digeluti di awal ketertarikannya pada 1997.

Pebonsai lain

Victor Sunanto memang khas. Pebonsai lain lazimnya mengoleksi beragam jenis. Namun, ia berkonsentrasi pada bonsai santigi Pemphis acidula. “Lebih baik satu jenis tanaman, tetapi mendalam,” tutur pria yang mengaku hanya lulus SMA itu. Santigi yang berkayu keras dipilih lantaran ideal sebagai bakalan bonsai dan pemasaran mudah.

Tumbuh di alam yang keras di tepian pantai menyebabkan santigi berjuang ekstra agar dapat bertahan. Oleh karena itu ia acap kali ditemukan tumbuh miring lantaran terus tertiup angin. Santigi-santigi itulah yang ia olah menjadi beragam bonsai. Hasilnya, dipajang di kediamannya seperti, dikisahkan pada awal tulisan ini.

pebonsai mancanegara
Gaya kontemporer yang diminati pebonsai mancanegara

Wisatawan domestik dan mancanegara sering berkunjung ke ruang pajang yang dibangun pada 2002 itu. Selain bonsai hasil buah tangannya, Victor juga menampilkan karya pebonsai lain. Beberapa pebonsai yang karyanya dipajang adalah Patra Antara, Bambang Avianto, Wayan Kari, 1 Ngurah Jayendra, dan Ida Bagus Panji. Total jenderal biaya perawatan Rp8-juta per bulan ditanggung Victor.

Diminati mancanegara

Upaya membuka galeri itu sekaligus membangkitkan minat masyarakat menggeluti bonsai. Dengan adanya galeri, “Orang yang ingin melihat bonsai Bali, cukup berkunjung ke Bali Exotica Bonsai,” ujar Victor.

Lambat laun keberadaan galeri itu mulai dikenal. Selain rutin berpameran di Pantai Kuta juga dipromosikan lewat dunia maya. Lambat-laun keberadaan Bali Exotica Bonsai dikenal di mancanegara. Tanggapan datang dari Puerto Rico, Tahiti, dan Kolumbia.

Ternyata, santigi sedang tren di negara Amerika Selatan itu. Para pemburu bonsai itu berkunjung ke Bali untuk melihat langsung proses pembuatannya. Hasilnya, mereka memborong dengan harga jauh di atas pasaran lokal.

Contoh, sebuah bonsai berbobot 240 kg dibeli USS16.000 atau sekitar Rp144-juta. Peminat dari Puerto Rico itu menginginkan bonsai setinggi 98 cm itu diangkut utuh beserta pot dan tanah. Ia pun masih memilih belasan bonsai sederhana setinggi 50 cm.

Harganya tak kalah menggiurkan, US$3.000/pot. Hari itu, Victor menangguk omzet tak kurang dari USS50.000. Harga yang membuat pebonsai lain tergiur. Soalnya, menjual satu bonsai Rp3-juta saja sangat sulit. Pada tahun lalu, ia mengirim 3 kali ke konsumennya di Amerika Latin.

Pembeli lain datang dari Taiwan dan Belanda. Pembeli dari Taiwan itu nelayan penangkap ikan di perairan Indonesia. Sebelum pulang, mereka mampir berbelanja santigi untuk dijual ke nurseri bonsai. Di negara Kepulauan Formosa itu hanya golongan atas yang mampu membeli karena harga luar biasa tinggi.

Sayang, tanaman yang disebut keneas oleh masyarakat Timor itu kini langka di Bali. Ayah 3 anak itu akhirnya mendatangkan santigi dari Flores, Nusa Tenggara Timur. Ia sempat meminta 2 kapal bakalan bonsai. Namun, bonggol tanaman banyak yang rusak, sehingga belum siap dibonsai. Hanya belasan bakalan yang dapat dibonsai, sehingga ia rugi puluhan juta. Selebihnya ditanam ulang di galerinya.

Ledakan bom 12 Oktober silam pun mempengaruhi penjualan bonsai. Meski demikian ia tetap merawat santigi-santigi koleksinya sepenuh hati Setidaknya, kemolekan tanaman itu mampu menghibur hatinya.

Halaman terakhir diperbaharui pada 15 Oktober 2021

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.