Sarang Walet Berkualitas Dari Kabupaten Batang

Kondisi alam amat mendukung pengembangan walet

Siang itu langit di atas Desa Subah, Kecamatan Subah, Kabupaten Batang, Jawa Tengah tampak cerah. Langit yang semula kosong mendadak dipenuhi ratusan walet. Burung-burung itu berputar-putar mencari sumber suara yang “memanggil” mereka. Suara bak magnet itu berasal dari alat pemanggil berupa CD milik Arief Budiman.

Peralatan pemanggil walet itu terdiri dari amplifier, CD player, serta speaker kecil. Twitter berukuran 8 cm x 8 cm itu diletakkan di pagar halaman rumah Fauzi, peternak di Desa Subah. Setelah diaktifkan, suara walet berfrekuensi tinggi menggema ke angkasa.

Beberapa menit kemudian ratusan walet bermunculan dari berbagai penjuru. Diperkirakan populasi Collocalia fuciphaga saat itu kurang lebih 100 ekor.

Menurut Arief Budiman, pakar walet di Waleri, Kendal, alat itu dapat mendeteksi potensi walet di sebuah daerah. Bila dalam 30 menit walet yang datang kurang dari 10 ekor, berarti lokasi itu tidak potensial. Seandainya yang datang mencapai 100 ekor, maka potensi lokasi itu cukup bagus.

Lokasi terbaik bila burung yang datang mencapai 200 ekor. Dari CD cek lokasi itu bisa disimpulkan, Desa Subah cukup potensial untuk rumah walet.

Landscape Kecamatan Subah Sesuai Dengan Habitat Alami Walet

Kabupaten Batang, Jawa Tengah relatif kurang dikenal sebagai daerah penghasil walet. Bila dibandingkan dengan Haurgeulis di Indramayu, Jawa Barat, pamornya kalah jauh. Bahkan dengan Waleri, daerah yang berbatasan langsung dengan Batang, juga masih kalah kesohor.

Itu terbukti dari riset Kementrian Lingkungan Hidup (KLH) beberapa tahun silam. Kabupaten Batang tidak tercantum sebagai penghasil sarang walet. Padahal, Kendal dan Pekalongan, tetangganya terdaftar dengan perkiraan produksi 120 kg dan 2.130 kg/ tahun.

Cobalah berkunjung ke kabupaten yang dipimpin Bambang Bintoro itu. Di sana akan dijumpaii rumah-rumah walet berlantai 2 atau 3 tersembul di antara pemukiman. Rumah penghasil liur emas itu dikenali dari lubang-lubang kecil yang memenuhi dinding.

Pemandangan itu lazim ditemui di semua kecamatan, seperti Tulis, Subah, Tersono, Bandar, Warungasem, Wonotunggal, Blado, Reban, Bawang, Limpung, Gringsing, dan Batang.

Menurut H. Hafidhin, ayah Fauzi, rumah walet ada di hampir semua kecamatan. Subah, Tulis, Warungasem, Tersono, dan Limpung memiliki rumah walet lebih banyak dibanding kecamatan lain.

Lahan pertanian yang luas menjadi modal utama. Tempat itu menyediakan sumber pakan berlimpah. Selain lahan sawah membentang luas, berbagai perkebunan berlokasi di sana. Misal PTP XVIII memiliki 2.400,46 ha kebun karet.

Putri Pagilaran memiliki 908,79 ha kebun teh di Bledo, Reban, dan Badan. Demikian juga perkebunan kopi dan kakao yang menempati areal seluas 424,71 ha. Semua bisa menyediakan sumber pakan burung itu.

Kabupaten itu juga berbatasan langsung dengan Laut Jawa, penyedia sumber pakan yang melimpah. Jarak Desa Subah ke laut sekitar 6 sampai 7 km sehingga walet leluasa bermain di sana. Belum lagi Sungai Kupang yang melewati persawahan menuju laut, juga menjadi lokasi perburuan pakan.

Budidaya Sarang Walet Berkembang pesat

Rumah walet
berbintang juga hadir di Batang

Adalah Kosin, carik di Kumejing yang mempelopori pembangunan rumah walet pada 1975. Itu berawal dari seriti yang bersarang di rumahnya. Setelah diganti telur walet hasilnya memuaskan. Lambat laun populasi walet kian banyak menggantikan seriti.

Penduduk Kumejing kemudian mengikuti jejak Kosin. Di antaranya Fauzi yang berkongsi dengan ayahnya mendirikan rumah walet di lahan seluas 500 m2.

Kini, hampir semua penduduk membangun rumah walet. “Minimal 20 rumah walet dibangun di setiap desa,” ungkap ayah 2 anak itu. Bahkan di Komejing, hampir 50 persen rumah beralih fungsi jadi tempat tinggal walet. Akhir-akhir ini pembangunan rumah baru kian gencar, terlebih setelah pemodal dari Semarang, Magelang, dan Jakarta berdatangan.

Mereka membangun rumah walet mirip rumah tinggal. Di bagian dinding depan dan samping dilengkapi jendela imitasi agar terlihat asri. Bedanya, lubang kecil memenuhi seluruh dinding bangunan.

Harga rumah pun meningkat. Rumah seluas 500 m2 yang telah dilekati 100 sampai 150 sarang, dihargai Rp500-juta. Atau bangunan 2 lantai dihargai Rp200-juta sampai Rp400-juta. Di Kumejing ada rumah walet yang bernilai 1-miliar rupiah.

Rumah walet milik Fauzi seluas 200 m2, dilekati 15 sarang putih dan 300 sarang seriti ada yang menawar Rp800-juta. “Itu lantaran lokasi dekat pemukiman sehingga keamanan terjamin,” tuturnya.

Keamanan memang faktor utama bagi usaha budidaya walet. Agar keamanan terjamin mereka tidak ragu-ragu mengeluarkan dana begitu besar. Dinding bangunan dibuat tebal 60 cm dan dilapisi plat besi setebal 1 cm sebanyak 1 atau 2 lembar. Lantai pun dibeton setebal 10 sampai 15 cm.

Di luar faktor keamanan, kendala lain yang dihadapi pengusaha sarang walet di Batang ialah kelelawar. Pasalnya, sebagai sentra produk hortikultura durian, pisang, dan rambutan membuat populasi kelelawar tinggi.

Kelelawar membuat walet tidak betah karena sering diserang. “Kalau rumah sudah dimasuki kelelawar, maka walet tidak mau tinggal. Baunya sulit dihilangkan, “ ungkap Fauzi.

Untuk mencegah hama malam itu tinggal, peternak tak membiarkan ada kayu melintang di langit-langit. Selain itu, pemilik rumah walet tak segan-segan memberikan imbalan uang bagi penangkap kelelawar, baik hidup atau mati.

Tidak ada data pasti produksi sarang yang dihasilkan dari Batang. Namun, pada saat panen raya, banyak pengepul maupun bandar dari berbagai kota di Jawa Tengah berdatangan. Mereka kemudian menjualnya ke eksportir di Semarang, Solo, atau Pekalongan. Di sana sarang diproses untuk dibersihkan sebelum diekspor. Di Batang sendiri belum ada pengolah sarang.

Saat Trubus berkunjung pada akhir Januari 2004, harga sarang mencapai Rp 18-juta/kg untuk sarang kelas A ukuran 3 jari. Sarang agak kotor dan berbulu dijual Rp16-juta/kg. Sedangkan sarang seriti berbahan daun pinus dihargai Rp2,3-juta sampai Rp2,9-juta/kg; cemara Rp-l,5.juta sampai Rp 1,9-juta/kg; ijuk Rp600-ribu sampai Rp700.000/kg; lumut Rp400.000/ kg; dan tali rapia Rp200.000 sampai Rp300.000/ kg. (Syah Angkasa)