Sawo Manis Nan Legit dari Malalo

Gambar Gravatar
  • Whatsapp
sawo manis
pohon sawo

Budidayatani sempat mencicipi sebuah di kedai milik Liswardi. Buah matang penuh, manis dan berair banyak. Sosoknya hampir sebesar bola tenis, tapi berbentuk lonjong dan berwarna cokelat khas sawo matang.

Begitu dibelah terlihat daging nan cokelat muda. Di bagian dekat pangkal kerap ditemukan warna daging lebih tua. Teksturnya halus tak berserat. Aroma harum pun tercium. Tak heran kala dipamerkan dalam ajang Indonesia Tropical Fruit Festival di Kuta, Bali, pada akhir 2003, ia salah satu favorit pengunjung.

Panen besar

petik buah sawoSawo di kedai Liswardi diperoleh dari para pengepul dari Sumpu. Juga kios-kios lain di sepanjang jalur antara Solok Bukittinggi dan di Ombilin, di seputaran Danau Singkarak. Meski di daerah lain anggota famili Sapotaceae itu mudah tumbuh, hanya yang dari Sumpu terkenal paling istimewa.

Sosoknya terbilang bongsor dibanding jenis lain dan manis. Bobot sawo asal Kenagarian Sumpu sebagian orang masih mengenalnya dengan nama dulu, Malalo Kecamatan Batipuh, Kabupaten Tanahdatar, itu mencapai 120 sampai 150 g per buah. Bandingkan dengan sawo apel kapas asal Sumedang yang 110 sampai 125 g.

Setiap panen besar sekitar Januari Februari Liswardi sanggup menampung 1 sampai 2,5 ton per hari. Meski sawo nyaris berbuah sepanjang tahun, bulan-bulan itu sumpu paling mudah ditemukan. Selain dijajakan di tempat, ia juga dikirim ke pedagang-pedagang di Padang dan Payakumbuh. Malah bila pasokan kian berlimpah sumpu pun hijrah hingga ke Pekanbaru dan Jambi.

Kerabat sawo belanda itu dibeli borongan dari pengepul. Harga tahun silam Rp2.000 sampai Rp2.100 per kg. Pengepul memperolehnya dari pejjpbun Rp 100 per buah. Supaya kulit tetap mulus, ketika panen tangkai buah diikutkan. Maklum getah Azhraszapota itu relatif lebih banyak ketimbang jenis lain. Setelah diperam selama 2 sampai 3 hari baru enak dimakan.

Tiba di kios sawo dipilah ke dalam 3 kelas dengan harga jual berbeda. Kelas A terdiri atas 8 buah per kg dijual Rp2.500. Sedangkan kelas B, 10 buah/kg dan C, 12 sampai 13 buah/kg masing-masing Rp2.300 dan Rp2.100. Sampai di tangan konsumen harganya melonjak hingga Rp4.000 per kg. Toh, pelanggan tak kapok membeli lantaran sumpu memang istimewa.

Satu dataran

buah sawo matangUniknya sifat besar dan manis hanya muncul ketika ia ditanam di kenagarian di kawasan Danau Singkarak itu. “Citarasa sawo sangat ditentukan kondisi tanah,” tutur Dr Sudarmadi Pumomo, ahli peneliti utama Balitbu Solok. Sumpu terletak di sebuah lembah. Berdasarkan pengalaman bertahun-tahun, daerah itu yang paling cocok untuk penanaman sawo yang sudah dilepas sebagai varietas unggul nasional pada 1994 itu.

Di sana sumpu tumbuh sebagai tanaman pekarangan. Tak ada perawatan khusus diberikan. Meski demikian dari tanaman setinggi 8 sampai 10 m dituai 1.500 sampai 2.000 buah per tahun per pohon. Produktivitas tinggi dan mudah tumbuh salah satu pertimbangan ia lolos sebagai varietas unggul nasional.

Dr I Djatnika, kepala Balitbu, menduga tanah berkapur dan kering di Sumpu mempengaruhi rasa sawo sehingga menjadi manis. Pun curah hujan, suhu, dan kelembapan yang kondusif. Dengan kondisi seperti itu lokasi penanaman sawo hasil eksplorasi Drs M Jawal Anwarudin Syah, MS, dan kawan-kawan itu menjadi sangat terbatas. “Bila ingin dikembangkan harus mencari daerah yang mirip-mirip Sumpu,” kata Sudarmadi. Toh menurut Jawal, sumpu masih bisa beradaptasi di daerah lereng perbukitan Sumatera Barat.