--> Archive for Anggrek Budidaya tani: Anggrek - All Post
Tampilkan postingan dengan label Anggrek. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Anggrek. Tampilkan semua postingan

Rabu, 21 Oktober 2020

Cara Agar Dendrobium Gunung Mau Berbunga

Cara Agar Dendrobium Gunung Mau Berbunga

Dengan telaten akhirnya Olaf D Hernadi berhasil mewujudkan obsesinya. Dendrobium cuthbertsonii asli Papua berkembang marak di Lembang, Bandung. Padahal habitatnya di ketinggian 2.000 m-3.500 m dpi. Uniknya, anggrek yang biasa hidup di batang pepohonan atau bebatuan bisa mekar di bak-bak plastik.Caranya sederhana, menjaga kelembapan dan memilih media yang pas.

Dua tahun lalu, Olaf tertarik pada penampilan anggrek mungil koleksi Ayub S Pranata. Di kebun penganggrek senior asal Bandung itu, ia merasa tertantang. “Anggrek spesies ini sulit tumbuh,” katanya menirukan ucapan Ayub. Mendengar ini, putra kedua Pami Hernadi itu justru penasaran.

Sekitar 2 rumpun terdiri atas 4 pseudobulb langsung dibeli Rp40-ribu. Beda jauh dengan harga dendrobium hibrida yang hanya Rp 15.000 per tanaman. Begitu tiba di kebun, ia lalu menyiapkan media yang bakal digunakan.

Menurut Ayub, anggrek berwarna cerah itu butuh media ber-pH asam. Ia menyarankan memakai sabut kelapa. Namun, Olaf lebih memilih spaghnum moss untuk media. “Ia bersifat lebih asam,” katanya.

Bunga Dendrobium
Dendrobium cuthbertsonii super

Tunggu 3 bulan

Sebagai wadah dipilih bak plastik dengan tebal 10 cm. Salah satu sisi bak diberi lubang drainase. Sekitar 3/4 dari tebal bak diisi media yang terdiri atas 2 lapisan. Cacahan pakis setinggi 2/3 bak mengisi bagian dasar bak. Sisanya diisi spaghnum moss.

Selesai diisi, tanaman belum langsung dipindahkan karena media harus diberi perlakuan dahulu. Tunggu kira-kira 3 bulan hingga moss ditumbuhi lumut. Setelah tampak menghijau, barulah anggrek dipindahkan.

Untuk perawatan lebih lanjut,diperlukan penanganan cermat. “Anggrek ini tidak boleh kekeringan dan suka lembap,” kata kolektor anggrek alam itu. Penyiraman saat musim panas, 2-3 kali sehari. Sedangkan saat penghujan paling hanya 1 kali. Moss yang bersifat memegang air ternyata membantu mempertahankan kelembapan.

Jenis pupuk organik lebih disenangi Olaf. Ia meramu sendiri pupuk yang digunakan. Namun, “Pupuk lengkap untuk anggrek lain juga bisa,” katanya memberi alternatif. Pemakaiannya, 3 kali seminggu dengan dosisi 0,75 cc/liter air. Dengan cara itu anggrek rajin berbunga sepanjang tahun. Bulb-bulb baru muncul silih berganti menghasilkan bunga.

Sekitar 2-3 minggu kemudian, bunga yang kuncup tadi mulai bermekaran. Puas sekali Olaf melihat keindahan sang bunga. Merasa berhasil mengembangkan, kelahiran Bandung itu lantas membudidaya lebih banyak.

anggrek
keindahan sang bunga

Growing house

Selain media, kunci lain yang tak kalah penting ialah penciptaan lingkungan yang sesuai. Agar pas dengan habitatnya, Olaf membuat growing house sederhana. Dengan ruang terbatas, seluruh sisi ditutup penuh dengan plastik UV. Hasilnya suasana di dalamnya sangat lembap. Di salah satu sisi atas, ia menambahkan blower untuk menciptakan aliran udara.

Dengan lancarnya aliran udara, kelembapan pun bisa dipertahankan merata. “Kelembapan 80%. Temperatur saat siang 25°-28°G? malam 10°C,” paparnya. Kondisi lingkungan seperti itu hampir mirip dengan habitatnya. Tak heran bila kini 6 bak penuh anggrek asli Papua itu terus berkembang pesat. Ada sekitar 5 warna memenuhi koleksi dendrobium itu.

Sosok bunga mungil, hanya 3 cm. Namun, saat o/ berbunga serempak Dendrobium cuthbertsonii bagaikan membentangkan hamparan permadani oranye. Selama 6 bulan pemandangan atraktif itu bertahan. Kini penyilang dunia berlomba mempercantik

bunga asal Papua itu. Anggrek mini ini memang sudah melanglang buana. Sejumlah silangannya sudah dikenal. Ambil contoh D cuthbertsonii ‘mountain sunshine’, ‘bright eyes’, ‘golden Halo’, dan ‘sherbone orange AM/RHS.

Warna-warna elok itu diperoleh dari indukan D. cuthbertsonii. ’’Saya punya 5 warna. Merah, merah muda, putih, kuning, dan ungu,” kata Olaf D Hernadi, penganggrek di Bandung.

Tanaman Asli gunung

Di Papua terdapat beragam pola bunga. Yang dominan merah dan gradasi merah-kuning, lalu merah muda. Putih, kuning, merah muda cerah, dan gradasi kuning—merah marun jarang muncul. Bunga berdiameter sekitar 1—3 cm itu muncul dari pseudobulb berukuran panjang 1—8 cm.

Di alam ia hidup di tempat terbuka yang bermandikan cahaya matahari. Meski terbuka, tetapi suhu di sekeliling sangat rendah. Habitatnya berupa bebatuan tertutup spaghnum moss. Atau membentuk vegetasi luas dengan tanaman semak lain dan tumbuh menghampar. Di area yang sedikit ternanungi, anggrek ini masih ditemui, la menempel di batang pohon. Akarnya mencengkeram moss yang tumbuh melapisi batang dan cabang pohon.

Penghuni Papua ini membutuhkan kelembapan dan curah hujan tinggi. Suhu setempat berkisar 10°C— 30°C. Bila kekeringan, pertumbuhan mundur drastis. Lokasi sebaiknya berangin dan beraliran udara lancar.

Penanaman sulit

Dengan sederet syarat tumbuh itu, ia tak mudah dipelihara di luar habitatnya. Seringkah tanpa sebab, D. cuthbertsonii tiba-tiba, la bisa hidup asal perakaran tetap basah. Namun, daun dan bunga harus dipertahankan tetap kering. Perubahan iklim ekstrim membuatnya merana.

Seperti yang dialami Soeharto. Dari 1.000 anggrek yang dibawa dari Papua hanya tersisa 50. “Mungkin ia tak tahan perubahan cuaca selama perjalanan,” ucap pemilik kavling 11 Taman Anggrek Indonesia Permai, Jakarta. Kini dengan penanaman intensif di greenhouse berlapis UV dan penambahan naungan 65%, anggrek bisa tumbuh.

Raja Dendrobium dari Prigen

Raja Dendrobium dari Prigen

Sekitar 75% anggrek di kebun 3 ha adalah dendrobium. Selebihnya phalaenopsis, vanda, dan cattleya. Dari kebun di Prigen, Pasuruan, itu setiap bulan dipasok 10.000 pot dan 2.500 botol bibit ke berbagai daerah. Kerajaan bisnisnya diperluas dengan membuka outlet di 2 pasar terbesar: Jakarta dan Bali. Semua berkat ketekunan dan kerja keras mantan kontraktor listrik itu.

Setelah 27 tahun menggeluti bisnis anggrek, Royal Orchids, kerajaan anggrek yang dibangun Ir. Sutikno Linuhung itu kini menjadi produsen dendrobium koleksi terbesar. Itulah sebabnya ia pantas dijuluki raja dendrobium.

Meski begitu kelahiran Banyuwangi 58 tahun lalu itu belum puas. Hari-harinya banyak dihabiskan untuk berinovasi, meski ratusan jenis silangannya telah terserap pasar. Menyilangkan tanaman untuk menghasilkan varietas baru berkualitas demi memanjakan konsumen. “Agar konsumen tak bosan,” katanya.

Ia masih penasaran ingin menghasilkan silangan berbunga biru. Dendrobium kuning pun baru tahun lalu berhasil diciptakan setelah bertahun-tahun ia mengutak-atik. Anggrek kuning silangan Kasem Gold x Anching Lubac terjual US$200 dalam East Java Orchids Show 2001.

bisnis anggrek
Kompot pun laku dijual

Dendrobium Silangan baru

Untuk keperluan induk silangan Sutikno mengoleksi tak kurang dari 500 jenis. Mulai dari hibrida eks impor hingga spesies asli Indonesia. Hibrida eks impor di antaranya Imelda, Berta Chong, dan Kahlinwee asal Taiwan, serta Kasem Gold dan Mari Mechener asal Thailand. Spesies asli Indonesia yang dikoleksi antara lain laceantera, violaceoflaven, spectabile, goldii, nindii, helix, dan stratiotes.

Saat ini Sutikno sibuk menyilangkan spesies berpotensi pendek seperti Dendrobium cana caliculatum dan D. caronii asal Irian. Tujuannya, menghasilkan tanaman bersosok pendek.

“Lahan yang semakin sempit tidak memungkinkan lagi bagi kolektor mengoleksi dendro keriting setinggi 2 meter,” lanjut Sutikno.

Strategi ketua Perhimpunan Anggrek Indonesia (PAI) cabang Surabaya itu tampaknya jitu. Buktinya, di tengah ketatnya persaingan ia mampu menjaring konsumen. Kesibukan di kebun tak pernah surut. Puluhan pekerja tenggelam dalam kesibukan masing-masing. Mengepak saja hampir setiap hari berlangsung. Pada hari libur kebun tak pernah sepi pengunjung.

Pasang strategi Semula Sutikno hampir tak senang anggrek. “Saya tanam J anggrek bukan untuk gagah-gagahan, tapi untuk bisnis,” tegasnya. Untuk memenuhi ambisinya, ia pun menentukan segmen pasar. Setelah itu ia membuat target jangka pendek dan jangka panjang yang harus dicapai.

Tekadnya, harus mampu melakukan ekspansi bisnis dalam 10 tahun ke depan. Ia pun menyusun “taktik perang” untuk memasuki dunia baru.

Termasuk mencari inovasi-inovasi baru di dunia anggrek. Itupun disesuaikan kemampuan. Dengan strategi terencana, ia tak kehabisan nafas menghadapi persaingan. Buktinya, dari 3 hektar lahan kini ia sanggup bermain di hampir semua segmen mulai dari botolan hingga siap berbunga.

Ekspansi usaha

Raja Dendrobium
Dendrobium

Kerajaan bisnis Sutikno tidak berdiri kokoh dalam sekejap. Ia yang masih aktif sebagai kontraktor ketika itu membangun secara bertahap. “Sedikit rezeki hasil proyek pada 1974 saya belikan tanah terlebih dahulu.” Berikutnya, pagar dibangun. Begitu seterusnya hingga semua sarana yang diperlukan tersedia. Karena itu baru setahun kemudian ia bisa memulai usaha. Itu pun hanya di lahan 1 ha.

Awalnya ia memilih anggrek potong. Waktu itu pasar cukup baik, perputaran uang cepat, dan tidak butuh modal besar. Karena alasan itu pula ia memilih anggrek murahan seperti kalajengking dan vanda. “Mahal atau murah indukannya harga bunganya hampir sama, Rp 150—Rp200/kuntum kala itu,” paparnya. Yang penting dipilih jenis yang produksinya minimal 10 tangkai/pot agar untung.

Pada akhirnya bisnis anggrek potong makin tidak menguntungkan. Persaingan semakin berat. Anggrek pot lantas jadi pilihan berikutnya. Ia tak salah pilih. Di pot plant kerajaan bisnisnya makin kokoh.

Dua hektar lahan di sekitar kebun dibebaskan untuk memperluas usaha. Itupun dirasa belum cukup untuk memenuhi permintaan. Januari dan Februari lalu misalnya ia hanya mampu memasok 3.000 pot plant per bulan dari total permintaan 1 Q.000 pot plant Akibatnya, permintaan Bali yang 500 pot/minggu tak mampu dipenuhi. “Sudah tiga minggu baru terkumpul 300 pot,” keluhnya ketika sedang mempersiapkan pengiriman ke Bali. Padahal ia harus pula melayani pelanggan lain di berbagai daerah.

Kini ia mempersiapkan 1 ha lagi di Prigen sebagai kebun produksi. Sayap bisnis Royal Orchids terus dikepakkan dengan merintis pembukaan kebun di dua cabang Royal Orchids di Jakarta dan Bali. Tujuannya hanya satu. Untuk memperkokoh kerajaan bisnis yang dibangun dengan susah payah.

Budidaya Dendrobium Untung Dalam 4 Bulan

Budidaya Dendrobium Untung Dalam 4 Bulan

Setiap bulan pendapatan kotor Rp16-juta hampir pasti diterima Tumin Teguh. Itu hasil penjualan 800-an pot dendrobium berbunga dari kebun 1.000 m2. Setelah dikurangi biaya perawatan Rp500.000 dan tetek- bengek lain penganggrek itu masih mengantungi laba Rp14-juta. Inilah segmen dengan risiko terkecil, cocok untuk pemula. Dalam waktu 4 bulan, modal kembali berlipat.

Untuk mengisi kebun berkapasitas 20.000-an pot itu setiap hari Tumin berkeliling ke-7 petani langganan di seputaran jakarta Yang dicari 150-200 pot dendrobium siap berbunga dan berbunga. Terkadang pria tinggi besar itu masih harus berburu ke tempat lain, “Mendapatkan 200 tanaman berbunga sulit. Itu pun berebut dengan orang lain,” tuturnya. Setelah barang terkumpul baru ia mendatangkan mobil angkutan.

Manisnya berbisnis dendrobium juga dirasakan Herman Setiawan, penganggrek di Cilangkap, Jakarta Timur. Setiap bulan 1.000 pot keluar dari kebun milik pemasar di bidang farmasi itu. Dengan harga jual dendrobium berbunga di tingkat pedagang Rpl2.500-Rpl5.000 ia memperoleh tambahan pendapatan Rpl2,5-juta- Rp 15-juta per bulan. Wajar kalau H. Haryo Suroso tak perlu lama-lama memutuskan terjun ke bisnis itu. Hanya 3 bulan selepas pensiun ia membuka kavling di Taman Anggrek Indonesia Permai TMII.

Dendrobium mini, harapan masa depan

Batu sandungan

Dendrobium super
Tanaman berbunga paling dicari pembeli

Para penganggrek tentu tak begitu saja mengecap untung. Saat merintis usaha pada 1991, Kamijono menjajakan sendiri pot-pot dendrobium berbunga pada pedagang di Rawabelong, Jakarta Barat. Esa Sirat, MBA, bingung memasarkan dendrobium di tahun pertama produksi. “Akhirnya saya sewakan di hotel-hotel,” kata pemilik Hanaya Orchid itu. Risiko tanaman rusak saat kembali diabaikan daripada tak ada pemasukan sama sekali.

Tentu saja ini dibarengi “promosi” untuk merintis pasar potplant. Begitu pasar terbentuk, rental langsung ditinggalkan.

Melejitnya harga pupuk dan obat-obatan hingga 2 kali lipat pascakrisis ekonomi sempat membuat hati pekebun ketar-ketir. Bagaimana tidak, dengan pengusahaan intensif biaya keduanya mencapai 50% total biaya produksi; 30%, semi intensif. Solusinya, memilih pupuk yang lebih murah. Endah Malahayati terpaksa mengganti Gaviota dengan Hyponex. Bahkan sekafang ia lebih banyak menggunakan Pokon.

Jam terbang ikut menentukan keberhasilan. Misal saat memupuk. Dosis kurang tanaman tidak bereaksi kecuali kurus, tapi bila kelebihan tanaman langsung drop. Daun kuning semua bahkan bisa mati. Akibat pekerja salah menghitung dosis fungisida, beberapa tahun lalu, “Hampir separuh tanaman dewasa rontok dan “lodoh” seperti genjer sekali siram,” kenang Esa, mantan arsitek perusahaan pengembang itu. Lantaran tidak dijaga sendiri tanaman di kebun di Ciputat habis dijual pegawai atau rusak karena kurang perawatan pada 1996/1997.

Mulai kebanjiran permintaan

Batu sandungan itu sebenarnya cuma kerikil yang bisa dienyahkan kalau para pemula “rajin berguru” dan membuat jaringan dengan pekebun senior. Dengan sedikit bersusah-payah turun langsung di lahan, pekebun pasti untung. Apalagi pasar masih terbentang. “Sekarang ini orang Ragunan (Taman Anggrek Ragunan, red) susah cari tanaman berbunga,” tutur Endah, penganggrek sejak 1978 itu. Saking sulitnya, tanaman yang baru mengeluarkan tangkai bunga pun ludes diburu orang.

Dua tahun belakangan pasar di luar Jawa tumbuh pesat. “Sekarang ini konsumen di Bali teriak-teriak minta tanaman berbunga,” ujar Ir Sutikno Linuhung. Padahal pemilik Royal Orchid di Pasuruan itu rutin mengirim 500 pot/ minggu. Belum lagi dari penganggrek Jawa Timur lain dan Jakarta yang rata-rata juga melayani kebutuhan pulau dewata itu.

Permintaan juga datang dari Aceh, Pekanbaru, Dumai, Pangkalpinang, Bengkulu, Pontianak, Banjarmasin, Samarinda, Balikpapan, Bontang, Manado, Makassar, sampai Papua. Seminggu sekali Endah mengirim 300 dendrobium berbunga pada 3 pelanggan di Aceh. Permintaan tak seluruhnya bisa dipenuhi karena Endah harus membaginya ke pelanggan lain.

Saat ditemui BudidayaTani Kamijono baru saja mengepak 150 pot untuk pedagang di Balikpapan. Seminggu sebelumnya ia mengirim dalam jumlah sama. Padahal harga tanaman berbunga di kota-kota itu 2-3 kali lipat harga di Jakarta. “Di Samarinda pelanggan bisa menjual Rp75.000-Rp85.000, ambil dari saya paling Rp25.000-30.000,” tutur Endah.

Semua segmen, 4 bulan

Dendrobium mini
Dendrobium mini, harapan masa depan

Permintaan tinggi tanaman berbunga jelas jadi “lokomotif’ yang menarik segmen-segmen di bawahnya. Permintaan 2.000 bibit botolan dari Jakarta yang dilayangkan pada Sutikno belum bisa dipenuhi. Total produksi 2.000 botol per bulan masih harus dibagi-bagi untuk pelanggan di Jawa Tengah dan Bali.

Kamijono perlu bermitra dengan petani di Rawabelong yang mengusahakan tanaman kompot sampai remaja di lahan 100-200 m2. Pemilik kebun 5.000 m2 itu menyediakan botolan dan kompot. Para mitra membesarkan hingga tanaman remaja bahkan berbunga. Hasilnya dibeli lagi oleh Kamijono. Endah Malahayati juga menerima setoran dari “mantan murid” berbagai pelatihan anggrek yang dibinanya.

Konsumen lebih banyak memburu dendrobium lantaran mudah dirawat. Lagi pula variasi warna dan bentuk bunga beragam sehingga konsumen yang bosanan selalu punya pilihan. Wajar kalau Herman Setiawan berani mengatakan, “Satu dari 2 anggrek yang dibeli konsumen itu dendrobium.”

Kondisi itu jelas peluang buat pekebun baru. Menurut Endah melonjaknya permintaan tidak diimbangi pertumbuhan kebun produksi. “Banyak orang ragu menginvestasikan uangnya di sini karena membutuhkan waktu lama,” katanya. Bila seseorang memilih pembesaran dari botolan sampai tanaman berbunga ia harus menunggu 1,5 tahun. Padahal ia bisa memilih segmen tertentu: kompot, seedling, remaja, atau berbunga. Waktu yang diperlukan per segmen rata-rata 4 bulan.

Misal untuk usaha pembesaran dari kompot ke seedling (single pot ukuran 6- 8 cm, red) cukup dengan lahan 100 m2. Setelah dikurangi 25% untuk fasilitas jalan, lahan bisa diisi 10.000-an pot. Harga beli kompot berisi 35 tanaman Rp 12.500-Rp25.000, tergantung jenis dan kualitas. Setelah dibesarkan 4 bulan seedling dijual Rp3.000 per pot. Padahal biaya perawatan tak sampai Rp800. Artinya ada penambahan nilai minimal 2 kali lipat per tanaman.

Herman menyarankan semua segmen dimasuki. Kalau salah satu, misal seedling malah khawatir gagal karena jika tak laku, bibit dijual murah. Untuk pemula ia menyarankan memulai dari tanaman berbunga yang terendah risikonya. “Dengan modal tanaman berbunga lalu dijual ke pedagang di pinggir-pinggir jalan orang bisa meraup untung minimal Rp5.000,” tutur Esa.

Keuntungan dari perputaranan uang di segmen terakhir itu sebagian untuk membeli tanaman remaja. Sambil menunggu ia berbunga 4-6 bulan mendatang, penjualan tanaman berbunga terus dilanjutkan. Keuntungan pembesaran dari tanaman remaja ke berbunga mencapai 50-60%. “Keuntungannya dipakai lagi untuk membeli tanaman remaja dan seedling. Begitu seterusnya sampai semua segmen dimainkan,” kata Herman.

Seluruh penganggrek yang ditemui BudidayaTani sepakat, dendrobium keriting paling tren. Berawal dari Jawa Timur, kini menyebar ke berbagai tempat. Kavling-kavling di TAIP didominasi jenis itu selain dendrobium standar ungu dan putih. Malahan M Hasan Cahyanto dari H & W mulai menyilangkan sendiri jenis ini sejak 2 tahun lalu.

“Sebenarnya di Jawa Timur anggrek keriting sudah in sejak 5 tahun lalu,” tutur Wirakusumah, penganggrek di Prigen, Pasuruan. Namun, “wabahnya” baru sampai Jakarta 1-2 tahun terakhir.

Di Malaysia, Singapura, dan Filipina demam keriting berlangsung 5-8 tahun lalu. “Sekarang di Thailand orang malah kembali ke bentuk bulat,” kata Hasan. Meski begitu ia tak takut hasil silangannya yang bakal berbunga tahun depan ketinggalan zaman. “Tren biasanya bertahan 5 tahun, jadi tren dendrobium keriting masih bertahan sampai 3 tahun ke depan,” papar pemilik kavling 16 TAIP.

Dendrobium potong

Manisnya keuntungan tak hanya diecap pekebun potplant. Runtuhnya “kerajaan” dendrobium potong Pulau Bulan di Batam pada 1997/1998 berkah buat para petani kecil berskala 500-1.000 m2. Mereka kebanjiran order dari floris dan hotel. Sukedi, pekebun di Serpong, Tangerang sepanjang awal hingga pertengahan Maret panen setiap hari. Rata-rata ia menuai 200 tangkai dendrobium potong berbagai jenis.

Dulu dendrobium potong dipanen setelah 10-13 kuntum mekar penuh. Harga per kuntum Rp 100. “Sekarang bunga baru mekar 5 sudah dipotong karena pasokan tidak ada,” tutur pemain dendrobium potong sejak 1988 itu. Tengkulak yang langsung memanen. Dengan harga per tangkai Rp 1.500- Rp2.000 setiap bulan i’a mengantungi Rp9.000.000. Esa Sirat bahkan menikmati harga Rp650 per kuntum dendrobium potong yang masih dipertahankan.Wajar kalau Hasan tertarik membuat silangan dendrobium potong dan mengebunkannya.

Namun, ia tetap berhitung cermat. Untuk 1.000 m2 dibutuhkan modal Rp250-juta sampai tanaman siap panen umur setahun. Padahal menurut hitungan Herman yang menekuni dendrobium potong pada 1988-1995 lahan 1.000- 5.000 m2 masih kurang. Sebab, kebun mesti berisi tanaman dalam peremajaan, awal berbunga, dan masa panen. Lantaran butuh lahan luas dan sulitnya pembayaran oleh pelanggan-karena dihutangkan- membuat Herman, Esa, dan Sutikno beralih ke potplant.

Anggrek Eksklusif Kian Diburu

Anggrek Eksklusif Kian Diburu

Serumpun Phalaenopsis tetraspis berbunga hijau dibeli Henry Eksan senilai Rpl5-juta. Hanya selang beberapa menit, pemilik Foresta Orchids's di Mojokerto itu ter senyum-senyum. Itu mengusik rasa tahu Rizal Djaafarer, penganggrek di Bandung yang baru saja melepas anggrek langka kesayangannya. Ternyata rekan Henry, Mr Liu nun jauh di Taiwan berkenan membeli anggrek itu. Harganya? Alamak, Rp25-juta! Padahal, Liu belum melihat sosok anggrek yang ditawarkan.

Begitulah anggrek-anggrek eksklusif kini kian digandrungi. Dharma Wijaya, kolektor anggrek di Denpasar, Bali, berani merogoh kocek dalam-dalam demi mendapatkan anggrek eksklusif. Kampiun kontes di Kebun Raya Bogor 2002 kini menghiasi kediamannya di Denpasar. Mau tahu harga Dendrobium formosum itu? Anggrek berbunga merah muda setinggi 50 cm itu ditebus Rp5-juta. Eksportir garmen itu juga mengoleksi Angraecum eubernum. Hibrida langka asal hutan Amerika Selatan itu menjadi yang terbaik di Surabaya Orchid Show 2003. Pemilik Kafe Kecak itu membelinya Rp5.750.000.

Kian Diburu
anggrek-anggrek eksklusif

Kepuasan Tersendiri

“Ada kepuasan jika memiliki anggrek-anggrek eksklusif,” tutur pria berpenampilan necis itu. Pantas jika ia membangun rumah plastik berukuran 6,8 m x 11 m senilai Rp40-juta. Di sanalah anggrek-anggrek eksklusif itu tertata rapi di rak 2 tingkat berukuran lebar 140 cm dan tinggi 150 cm. Di situ setidaknya terdapat 210 pot vanda dan 100 pot dendrobium. Jenis lain cymbidium, paphio, dan cattleya. Beberapa paphio berbunga menghiasi ruang tamu sehingga tampak eksotis.

Penggila anggrek eksklusif lainnya adalah Gatot Sugiharto hobiis di Malang, Jawa Timur. Ia boleh jadi pemilik jenis vanda paling lengkap. 500 jenis vanda ada di kebun koleksinya. Beberapa vanda kesohor seperti ascosendra princess mikasa, berbunga ungu disimpan.

Pengusaha kayu itu kesengsem vanda eksklusif sejak 2 tahun terakhir. “Paling tidak sudah keluar uang Rp40-juta,” ucap suami Luciana itu. Rata-rata setiap vanda dibeli Rp300.000-Rp400.000 per pot. Biasanya ia berburu ke importir di Malang. Ke mancanegara

Di Bogor ada Athonius Johannes Sudharta. Komisaris sebuah perusahaan di Jakarta itu memilih dendrobium keriting. Alasannya, jenis itu paling berprospek. Maklum, pemilik perusahaan air minum dalam kemasan itu berencana menekuni anggrek saat pensiun kelak. Pantas jika bertugas ke mancanegara kelahiran Pati, Jawa Tengah 65 tahun silam itu menyempatkan berburu anggrek. Dendrobium lasiantera dari Amerika Serikat salah satu hasil buruannya. Penampilan anggrek itu tampak kurus. Yang menarik bunganya kuning emas. Itulah sebabnya ia menebusnya US$100.

Anggrek berbunga merah menyala eksklusif yang dicari ke berbagai pelosok, akhirnya ditemukan di Frans & Edward Nurseri di Prigen, Pasuruan. Wira Kusuma sang pemilik rela melepas setelah Sudharta menyerahkan Rp5-juta untuk sebuah pot Dendrobium undulatum. Dua tahun terakhir tensi perburuannya kian meningkat. Tak pelak lagi dalam waktu singkat 400 pot anggrek terkumpulkan.

Bila suatu saat melancong ke Pulau Dewata, singgahlah ke Bali Orchid Garden. Troy Davis menata 2.000 anggrek-sebagian besar eksklusif-di taman yang berlokasi di Tohpati, Kusamba. Pria asal Australia itu berburu anggrek eksklusif ke berbagai negara. Jenisnya antara lain dendrobium, vanda, dan cattleya. Masing-masing rata-rata bernilai ratusan ribu hingga jutaan rupiah.

anggrek juara
Dharma tak segan merogoh kocek dalam-dalam demi anggrek juara

Menarik dan sehat

Menurut Rizal Djaafarer, anggrek eksklusif mesti menarik, sehat, dan susunan bunga memenuhi parameter yang disepakati hobiis. Itu ditambah kreativitas penjual mengemas hingga mempunyai nilai tambah. Jadi anggrek eksklusif tak harus berpopulasi langka. Anggrek yang biasa-biasa saja bisa menjadi eksklusif jika mendapat sentuhan akhir menarik. “Lokasi penjualan pun ikut menentukan. Jika anggrek bagus dijual di emperan menjadi tak eksklusif.

“Citra anggrek eksklusif kita giring dulu. Harga soal kedua,” tutur penganggrek senior di Bandung itu. Artinya bicara anggrek eksklusif tak melulu hanya pada anggrek, tetapi mesti melihat proses, sentuhan, dan lokasi penjualan. “Materi utama mungkin cuma tempurung. Tapi kalau sudah diracik, orang rela membayar Rp200.000 untuk satu pot,” ucap Rizal.

Ia pernah menjual anggrek meja Rp300.000. Bunga kompak, tanaman sehat. Anggrek yang disukai konsumen berwarna kontras. “Anggrek dapat diperlakukan parfum,” ucap ayah 2 anak itu. Kalau harga murah malah tak dilirik. Tapi kalau mahal, ada kebanggaan. “Saya beli dari pak Rizal lho, harganya segini,” ujar Rizal.

kreasi anggrek
Dengan kreasi, anggrek murah bisa menjadi eksklusif

Banyak peminat

“Mencetak” anggrek eksklusif jelas sulit. Begitu bisa dicetak masai, harga bisa jatuh, kebanggaan pun berkurang. Meski demikian, tetap diakui, anggrek eksklusif berharga mahal. Dari pengamatan BudidayaTani, rata-rata harga anggrek eksklusif Rp300.000-Rp500.000. Untuk jenis baru dan langka nilainya melambung berlipat-lipat. “Yang berharga mahal hanya kolektor yang membeli,” ucap Florida S. Marbun pemilik Ridho Orchid di Lembang, Bandung.

Florida baru genap setahun menekuni bisnis anggrek eksklusif. Semula perempuan paruh baya itu juga kolektor anggrek yang gemar membeli dari satu nurseri ke nurseri lain. Melihat peluang menganga, berjualan anggrek eksklusif pun diterjuni. Terbukti pada setiap pameran ia mampu mendulang omzet Rp6-juta- Rp7-juta per hari.

Untuk jenis anggrek baru, Florida minimal mematok harga Rp450.000 per tanaman. Namun, jumlah anggrek eksklusif yang dijajakan hanya sekitar 20%. Kebanyakan diimpor dari Bangkok, Thailand. Setidaknya setiap 4 bulan Florida berangkat ke negeri penghasil durian monthong itu untuk berburu ke berbagai nurseri. “Sekali belanja bisa habis Rp50-juta,” ucapnya.

Banyaknya pengusaha anggrek yang mengarah pada anggrek ekslusif dirasakan meningkat sejak 3 tahun terakhir. Menurut Suharto, pemilik Maya Orchids, jika 3 tahun lalu di TAIP hanya 3 pelaku yang menjual, kini jumlahnya bertambah hingga 6 pelaku.

Beruntung pertambahan pemain itu diiringi pula oleh kenaikan volume permintaan. Rata-rata permintaan naik 20% setiap tahun dengan kisaran harga Rp300.000-Rp 1-juta. “Yang laku yang sedang berbunga,” ucap Suharto. Jenis-jenis yang dicari antara lain anggrek spesies dan anggrek hibrida seperti cattleya, oncidium. cymbidium, vanda, dan odontoglosum.

Rabu, 31 Juli 2019

Anggrek oncidium Lidah Tiga Koleksi Hobiis Anggrek Dari Salatiga

Anggrek oncidium Lidah Tiga Koleksi Hobiis Anggrek Dari Salatiga

Ada keindahan di balik bentuk menyimpang. Itu berlaku bagi anggrek oncidium koleksi Lila Natasaputra, penganggrek di Kotamadya Salatiga, Jawa Tengah. Lazimnya anggrek asal Karibia itu memang berlidah tunggal, tetapi kedua sepal oncidium Lila membesar sehingga seolah berlidah tiga.

Hobiis dari Taiwan yang bertandang ke kota di lereng Merbabu itu langsung jatuh hati melihat sosok anggrek oncidium itu. Harga berapa pun bukan masalah. Sedangkan penggemar lokal berani menawar Rp500.000 per pot terdiri atas 3 bulb. 

Anggrek oncidium Lidah

 Harga pasaran untuk oncidium “normal” saat ini paling pol Rp4.000. Namun, mantan dosen Universitas Kristen Satya Wacana itu tetap mempertahankannya.

Sebetulnya performa anggrek oncidium itu mirip kerabatnya golden shower atau gower ramsey. Tangkai sepanjang 30 cm disesaki bunga berwarna kuning cerah sehingga tampak kompak. Yang membedakan, hadirnya 3 lidah akibat mutasi gen. 

“Terjadi mutasi karena dikulturjaringankan secara massal. Misalnya, satu eksplan diperbanyak menjadi puluhan ribu tanaman,” ujar pemilik Nurseri Greenleaf itu.

Itulah yang terjadi ketika Kaseem Bunchu Orchid penganggrek kenamaan di Bangkok mengkultur jaringankan oncidium gower ramsey. Oncidium yang bersemarak bunga itu hasil persilangan goldiana dan guinea gold

Hasilnya, selain mirip dengan induk, muncul pula beberapa tanaman menyimpang, yakni kedua sepal membesar membentuk lidah. Anggrek itulah yang diburu Lila.

Oncidium excavatum Banyak Dicari Pehobiis

Beruntung akhirnya Lila mendapatkan 10 pot di sebuah nurseri di Jakarta. Dari jumlah itu ia membeli 5 pot yang diperkirakan kelainannya permanen. Tentu saja tak ada rumusan kriteria soal stabilnya gen itu. 

“Saya hanya mengambil berdasar feeling,” katanya. Beberapa bulan berselang ia kembali mengambil 5 pot. Harga excavatum per pot terdiri atas 3 bulb Rp 150.000.

Kesepuluh anggrek oncidium berjuluk doll dancing itu dipelihara meliputi penyiraman rutin dan pemupukan secara periodik. Dari jumlah itu hanya 5 pot yang benar-benar permanen. Lima pot lainnya labil sehingga akhirnya dijual kembali. 

“Kadang muncul 3 lidah, bunga berikut hanya 1 lidah,” katanya. Seleksi lebih dari setahun lantaran menanti tanaman beberapa kali berbunga. Tanaman yang 3 kali mengalami perubahan divonis labil.

Lila lantas memperbanyak tanaman permanen secara hati-hati. Harap maklum, biasanya tanaman mutan mudah berubah ke bentuk semula. “Setelah muncul 6 bulb saya baru berani memisahkan. Ada 5 bulb saja saya tak berani (memisahkan, red),” ujar ayah 2 anak itu. 

Tiga individu “baru” hasil pemisahan itu ditanam di sebuah pot berdiameter 10 cm. Media tanam berupa cacahan pakis.

Anggrek potong

Saat ini Lila yang memburu anggrek oncidium sejak 1982 itu mengoleksi 100 pot oncidium berlidah 3. Oleh Lila dimanfaatkan sebagai bunga potong. Soalnya, bunga mampu bertahan lebih dari sepekan usai pemetikan. Tangkai cenderung tegak nilai lebih lain. Itu saja belum cukup untuk memenuhi syarat anggrek potong. Kriteria lain: produksi tinggi pun dimiliki si lidah tiga.

Menurut Lila 1-2 bulan setelah pemetikan, muncul bulb yang disusul kehadiran bunga baru. Perpaduan kelebihan itu plus diterima pasar menyebabkan ia ideal sebagai anggrek potong. 

Bandingkan dengan golden shower dan grower ramsey yang bertangkai lentur dan hanya tahan 4 hari. Itulah sebabnya mereka tak dijadikan sebagai bunga potong.

Jumat, 05 Juli 2019

no image

Sulap Pekarangan Rumah Menjadi Indah Dan Hijau Dengan Taman teduh

Dua puluh pot phalenopsis berbunga putih digantungkan di sebatang kayu-kayuan berbahan beton di salah satu sudut rumah kaca di Kebun Raya Bogor. Untaian W-20 kuntum per tangkai yang keluar dari masing-masing pot membuat pohon jadi-jadian itu terlihat semarak. Di sudut lain dendrobium berbunga kuning menyala yang ditata serupa. Penampilan bunga nan prima mengundang decak kagum pengunjung yang datang.

Pemandangan di rumah kaca seluas 700 m2 kian marak dengan puluhan pot vanda yang dijajarkan di dinding beranda atas. Belum lagi hamparan spathoglotis alias si anggrek tanah yang dikelompokkan sewarna-sewarna. Keindahan taman anggrek pun budidayatani saksikan di Singapore Botanic Garden. Di sana beragam vanda berbunga cerah menjadi pusat perhatian.

Boleh jadi terinspirasi keindahan istana anggrek Kebun Raya Bogor dan di Singapore Botanic Garden itulah Agus Rudhy, hobiis di Jakarta Selatan, menyulap halaman belakang menjadi taman anggrek. Puluhan phalaenopsis yang dilekatkan pada lempengan-lempengan pakis ditata rapi di dinding secara bergradasi. Supaya lebih berwarna diselipkan pula beberapa anggrek bulan dalam pot terakota berdesain seperti setengah batok kelapa dan anglo.

Taman teduh

Pot-pot terakota berisi sang puspa pesona pun dideretkan di atas rak-rak kayu. Ada juga yang disusun dalam rak besi bertingkat atau ditempelkan di pohon buatan. Sebagai centre point sepot “pohon phalaenopsis” dibuat dari rangkaian Phalaenopsis. amabilis, P. cornu-cervi, P. scchilleriana, dan P. violacea pada batang akasia. Saat mekar masing-masing memamerkan bunga bernuansa ungu.

Anggrek Butuh Media Peneduh

Tak melulu phalaenopsis, taman berukuran 3 m x 4 m itu pun diisi Paphiopedilum glauco berbunga ungu dan Paphiopedilum tonsum berbunga hijau. Lokasinya menyebar di antara tanaman phalaenopsis. Di pot-pot kecil yang diletakkan di tepi taman terlihat Macodes petola anggrek daun bermotif kotak-kotak tipis dan Nephelaphyllum pulchrum yang daunnya seperti hati. Ada juga Phaius tankervilliae dan Calanthe sp dengan bentuk daun sepintas menyerupai tunas kelapa. ( Baca : Keunikan Dendrobium Ekapol Queen Dragon Mutasi Anggrek Berlidah Tiga )

Taman yang bisa dinikmati sambil beristirahat di ruang keluarga itu terkadang dipenuhi semerbak aroma Bulbophyllum lobii yang harum. Agus sengaja menyimpan koleksi-koleksi itu di taman belakang lantaran mereka memerlukan cahaya teduh. Taman belakang hanya terkena cahaya matahari 2 jam dalam sehari.

Di halaman depan yang panas, pria yang pertama kali mendapat koleksi anggrek dari sang mertua itu menata dendrobium, vanda, miltonia, dan grammatophyllum. Jenis-jenis itu memang membutuhkan cahaya matahari penuh. Pot-pot anggrek disusun rapi di atas rak-rak kayu, ditempel di dinding, atau disusun menjadi pohon. Saat mekar, warna-warni bunga menyemarakkan taman seluas 2 m x 4 m itu.

Taman teduh
Taman teduh koleksi Agus Rudhy

Tumbuh Tergantung Media Tanam

Yang juga terinspirasi untuk menyulap halaman belakang menjadi taman anggrek ialah seorang hobiis di Jakarta Timur. Perempuan energik itu memilih menyulap sebuah sudut menjadi taman dendrobium. Anggota famili Orchidaceae itu disusun berbaris di atas tanah, digantung, atau dilekatkan di kayu, dan ditata di rak bertingkat. Saat budidayatani berkunjung, puluhan pot terakota yang disusun cantik di bawah saung beratap jaring tengah memamerkan bunga. Yang berwarna ungu mendominasi pemandangan. Dendrobium dipilih lantaran lebih tahan panas dan mudah merawat.

Berbicara soal perawatan Agus menuturkan pentingnya mengatur kondisi taman seperti iklim di habitat asli. Pada prinsipnya anggrek tidak menyukai udara statis. Makanya sebagian pot anggrek- terutama jenis yang “haus” sirkulasi udara seperti cattleya-sebaiknya digantung. Kalau perlu, di salah satu sudut taman-bila letaknya di dalam rumah-diberi kipas angin untuk memperlancar aliran udara. Media tanam yang digunakan sangat variatif tergantung jenis dan lokasi tumbuh. ( Baca : 5 Varietas Anggrek Import Terpopuler )

Mempertahankan kelembapan antara 40-80% pun penting-apalagi untuk jenis phalaenopsis dan cattleya. Caranya dengan melakukan penyemprotan di pagi hari, menyiram lantai, atau menggunakan humidifier. Namun, kelembapan terlalu tinggi pun tidak diinginkan karena mengundang bakteri dan cendawan penyebar penyakit. Pergerakan udara membantu menurunkan kelembapan.

dendrobium
Di tempat panas dendrobium jadi pilihan

Pengelompokan Species Anggrek

Untuk mengusir pengganggu tanaman, Agus menyemprotkan minyak nimba setiap minggu dengan dosis 5 ml/1. Ia berfungsi sebagai fungisida sekaligus insektisida sistemik. Selain pupuk standar NPK, disemprotkan pula larutan garam inggris sekali seminggu. Dosis 2 sendok teh per 2 liter. ( Baca : Koleksi Bunga Anggrek Terlengkap Dari Pehobiis Maniak )

Yang tak kalah penting, jangan sungkan-sungkan membongkar isi taman anggrek bila tanaman layu, pertumbuhan mandek, atau sudah terlalu rimbun. Lakukan repotting seperti pada penanaman biasa. Setelah kembali prima, anggrek siap ditata lagi dalam bentuk taman. Satu kunci yang layak diingat, kelompokkan tanaman berbunga senada di satu tempat. Saat bunga bermekaran, “warna” taman akan terlihat lebih menonjol dan hidup.

no image

Para Jawara Bandung Orchids Show 2018

Persaingan ketat Indonesia vs Taiwan dipertontonkan pada babak akhir Bandung Orchids Show. Bermodalkan motif garis cokelat kehitaman di lidah, Dendrobium spectabile var regar kokoh menghempaskan Phalaenopsis amabilis var aphrodite dari Taiwan. Enam juri menobatkannya sebagai anggrek terbaik the best of show pada lomba di Metro Trade Center, Bandung.

Pertarungan melawan phalaenopsis asal Pulau Formosa itu menjadi klimaks pertandingan. Pada tahap-tahap sebelumnya anggrek spesies dari Papua itu melenggang. Namun, begitu sampai final, muncullah 2 saingan berat: cattleya Le (shellie compton x mildred rivers), the best hybrid dan Phalaenopsis amabilis sebagai juara kelas anggrek bulan.

Cattleya hibrida asal Taiwan itu memang memukau. Tiga kuntum bunga masing-masing sebesar 20 cm menebarkan aroma harum. Sayang, bunga ketiga belum mekar sempurna. Jadi, 6 juri: Lukas Parnata, Wij aya Trisulo, Dr Irawati, Bernard Angkadiredja, Yosi Ramdani, dan Kiki Hendarsyah langsung menggugurkannya.

Dendrobium spesies juara III
Dendrobium spesies juara III

Dendrobium vs phalaenopsis

Diskusi berkepanjangan muncul saat dendrobium kribo itu disandingkan dengan phalaenopsis. Keduanya memang tampil menawan. Spesies asal Papua tampil prima. Bunga keriting bermunculan dari enam tangkai, utuh dari pangkal hingga pucuk. Pesaingnya, anggrek bulan taiwan milik Rose Farm, mengandalkan 50 kuntum bunga sebesar 3 cm yang mekar serempak di 4 tangkai. Hebatnya keiki, anak anggrek yang muncul di tangkai bunga, juga memunculkan bunga.

Juri memutuskan dendrobium spesies menjadi juara lantaran motif garis cokelat kehitaman di lidahnya. Itu memang salah satu keunggulannya. Menurut Frankie Handoyo, kolektor anggrek spesies di Jakarta, warna lidah dendrobium kribo biasanya cenderung merah dengan dasar kekuningan. Kemenangan itu memang tidak mutlak. Sebab, dari 6 juri, 2 di antaranya memilih phalaenopsis taiwan sebagai pemenang.

Pada berbagai lomba, anggrek alam Indonesia jarang menang. Kesehatan anggrek kendalanya. Kalaupun ada anggrek spesies yang unggul, biasanya jebolan luar negeri. Namun, koleksi Syahrizal Siregar lain. Daun mulus dan mengkilap tanda perawatan optimal. Hasilnya, ia rajin berbunga.

Sukses Dendrobium spectabile var regar kokoh bukti anggrek spesies Indonesia bisa bersaing dengan Taiwan, gudang anggek bulan berkualitas tinggi. Kepiawaian merawat bakal memunculkan potensi keindahan itu.

Selasa, 25 Juni 2019

no image

Keunikan Dendrobium Ekapol Queen Dragon Mutasi Anggrek Berlidah Tiga

Namanya ekapol ‘queen dragon’. Yang membuat luar biasa penampilannya adalah ia mempunyai 3 lidah. Betul, berlidah tiga! Padahal hampir semua kerabatnya berlidah satu. Sebuah lidahnya menjulur sepanjang 4 cm, lebar 2 cm, dan berwarna merah keunguan. Sedangkan 2 lidah lainnya mengapit lidah pertama, tetapi lebih besar. Gara-gara lidah ia tampil atraktif.

Dendrobium ekapol ‘queen dragon’ salah satu kebanggaan Wirakusuma. Di kalangan penganggrek, nama Wira—panggilan akrabnya amat kesohor. Maklum, ia puluhan tahun menggeluti tanaman hias anggota famili Orchidaceae itu. Lalu, soal queen dragon, pemilik Edward & Frans Orchids itu, mendapatkan di Thailand pada 2002.

Dendrobium queen dragon
Dendrobium queen dragon

Selain berlidah 3, ratu naga itu juga berwarna menarik, merah terang. Ukuran bunga relatif besar, 8—10 cm sehingga tampil mencolok di tangkai sepanjang 30 cm. Dibanding induknya, anggrek sejenis, sosoknya sangat istimewa.

Sang ratu naga itu merupakan dendrobium ekapol yang mengalami mutasi. Anggrek potong itu memang sering mengalami mutasi. Namun, hanya queen dragon yang berlidah tiga. Pemilik di Thailand menyebutnya queen dragon untuk menyaingi king dragon. Bentuk penyimpangan raja naga itu lidah amat lebar sehingga mirip cattleya.

Hati-hati bila mencari anggrek queen dragon. Bisa-bisa anggrek berlidah biasa yang didapat. Sebab, pemilik nama resmi dan terdaftar di Royal Horticultural Society (RHS) adalah anggrek yang berlidah tunggal itu. Saporita R.D, pakar anggrek dunia menyilang dan mendaftarkannya ke Lembaga Biologi di Inggris pada 1995.

Lain lagi anggrek lidah tiga milik Moling Simardjo, penganggrek di Prigen, Jawa Timur. Sepintas, penampilannya malah tanpa lidah. Itu lantaran sosok lidah mirip kedua petal. Anggrek unik itu dinamai dina agus soeyitno. Pada 2001 Moling “menjodohkan” dendrobium waianae stripe dan dendrobium brighton pansy. Ukuran bunga brighton pansy, misalnya, cuma 6 cm. Sedangkan dendrobium waianae stripe mewariskan sifat batang kokoh dan tegak

Anggrek Vanda douglas

Jantan bundar

Untuk memperoleh anggrek berlidah aneh itu, Moling memilih jantan bentuk bunga bundar. Jantan tipe itu berpeluang besar untuk menurunkan sifat bunga besar dan berlidah tiga. Bentuk bunga bintang menurunkan sifat bunga lebih kecil sehingga jangan dipilih. Oleh karena itu dendrobium brighton pansy dipilih sebagai indukan jantan.

Dendrobium brighton pansy lahir dari pasangan d’bush pansy dan kuranda classic pada 1994. Moling pertama kali melihat brighton pansy di Singapura pada 1995 Ia jatuh cinta pada pandangan pertama. Meski warna belum begitu bagus dan ukuran kecil, Moling tetap memboyongnya ke Prigen.

dendrobium waianae memiliki kelebihan warna cerah. Kedua induk itu lantas disilangkan. Dari puluhan anak, hanya satu yang berlidah 3. Turunan lain berlidah sama dengan dendrobium pada umumnya, lidah satu, warna merah, dan tebal.
Langka

Doritis peloric
Doritis peloric

Menurut ketua Umum Perhimpunan Anggrek Indonesia (PAI) itu, persentase terbentuknya anggrek berlidah 3 hanya 10%. Artinya, dari 10 anakan paling banter satu yang berlidah tiga. Oleh Moling, dina si lidah tiga itu terus diperbanyak dengan pemisahan anakan. Hasilnya keturunan dina pun tetap berlidah 3. Lantaran langka, kelahiran Medan itu menjual dina agus soeyitno Rp 50.000 per pot. Harga dendrobium lain sekitar Rp 20.000.

Menurut Wirakusuma ada 2 bentuk mutasi lidah. Pertama petal berubah menjadi lip atau sebaliknya lip menjadi petal. Bentuk pertama jauh lebih unik karena terbentuk tiga lidah pada satu bunga akibat kedua petal berubah wujud. Yang unik, lidah yang menjadi petal, dapat pula disilangkan dengan anggrek lain. Sebab di lidah itu juga terdapat tepung sari dan putik. Sayang di dendrobium, ’’Kebanyakan pollen cup (kantong tempat tepung sari, red) hanya satu dan kebanyakan jantan bersifat steril,” tutur Wirakusuma.

Pada kasus kedua bentuk bunga amat sederhana karena bunga seolah hanya terdiri dari 3 sepal dan 3 petal. Contohnya seperti dendrobium milik Moling di atas. Anggrek sejenis bisa pula dihasilkan dengan induk dendrobium classic gem atau turunannya.

Selain pada dendrobium, kasus mutasi lidah 3 itu dapat pula terjadi di phalaenopsis, doritis, oncidium, dan paphiopedilum. Penyimpangan itu muncul saat diperbanyak secara massal. Misal oncidium gower ramsey yang sering diperbanyak lewat kultur jaringan. Akhirnya satu saat muncul kelainan yakni berlidah tiga. Kasus itu juga terjadi pada vanda douglas.

Little princess

Walau rumusan menghasilkan anggrek berlidah tiga telah diketahui, tetapi keberadaannya belum diakui American Orchid Society. Kehadirannya dalam kontes selalu melalui debat panjang. Sebagian menginginkan ia didiskualifikasi sesuai peraturan. Sebagian lagi menginginkan anggrek peloric dibuatkan kelas tersendiri karena jumlahnya kian banyak.

Di Indonesia, kehadiran anggrek lidah 3 belum menimbulkan kontroversi. budidayatani belum pernah menyaksikan kehadirannya dalam lomba. Menurut Wirakusuma, bila mutasi anggrek itu ke arah bagus, harga anggrek itu bisa disejajarkan dengan anggrek eksklusif lain. Kebanyakan masih memiliki tepi mengerut.

no image

Koleksi Bunga Anggrek Terlengkap Dari Pehobiis Maniak

Sepatu dan dasi belum ditanggalkan usai pulang kerja. Begitu tiba di rumah, Muslim Mahfudz segera ke halaman belakang. Di gazebo ia mencermati cattleya chunyeah ‘goodlight’ #17. Sebelum layu, direktur CV Dirga itu ingin menikmati sepuasnya keindahan anggrek jawara lomba Asia Pacific Orchids Converence VIII di Taiwan.

Muslim sangat tergila-gila pada anggrek itu. Saat pertama kali melihat sosok cattleya chunyeah, hobiis di Pondok Belimbing Indah, Malang, itu langsung jatuh cinta. Bunganya memang menarik, kuning berlidah merah selebar 20 cm dan terdiri atas 6 kuntum selebar 14 cm. Makanya, ia enteng saja menebusnya meski berharga 7 digit. ( Baca : 5 Varietas Anggrek Import Terpopuler )

Bersama sang juara, Muslim Mahfudz membawa haser black jack, spring jewel miki, dan Cattleya Hwa Yuan. Total pembelian saat itu mencapai belasan juta rupiah. Kini anggrek dari Taiwan itu ditempatkan di teras belakang dan sebagian di gazebo bersama cattleya berbunga ungu terdiri atas 8 kuntum dan vanda sarat bunga.

Koleksi anggrek

 

Anggrek terbaik

Dari sekian banyak koleksi, cattleya dan vanda menjadi favorit Muslim Mahfudz. Alasannya, keduanya berbunga indah, bentuk menarik, dan gampang dirawat. Tak heran untuk melengkapi koleksi cattleya dan vanda, komisaris Yayasan Al Azhar Semarang itu rajin menghubungi teman-teman di Jakarta, Surabaya, Malang, dan Bandung.

Setiap ke Jakarta, waktu luang diisi dengan mengunjungi Taman Anggrek Indonesia Permai. Toh. di pusat anggrek itu tidak selalu ada anggrek terpilih. Pemilik CV Dirga di Bali itu baru membeli bila anggrek berbatang utuh, tanpa pemah di-split, serta berbunga lebat dan indah. Harga tidak menjadi masalah, sejauh seimbang dengan kualitas. Lomba-lomba anggrek di berbagai tempat juga rajin disambangi untuk mencari anggrek idaman.

Beberapa koleksi diperoleh langsung dari pakar anggrek dari Thailand sewaktu bertandang ke Indonesia. Adisak Hongsilp dan Noppom Buranaraktham, keduanya penganggrek top di Nakhonpathom, Thailand, pernah berkunjung ke rumahnya. Dari mereka Muslim mendapat 20 vanda juara di negeri Gajah Putih, di antaranya rattana x mahakkapon. Anggrek itu memiliki 3 tangkai sekaligus sepanjang 50 cm, ukuran bunga besar mencapai 10 cm. Setiap tangkai digelayuti 8—10 kuntum berwarna merah kekuningan.

Selain itu ada vanda nancy brown x kasem delight berwarna cokelat. Ia istimewa lantaran berbunga 4 tangkai umumnya hanya 1 – 2 tangkai. Di Indonesia, anggrek sekualitas itu dijual Rp l.500.000. (Baca : Raup Untung Jutaan Rupiah Lewat Budidaya Anggrek Dilahan Sempit )

Koleksi lain yang mengagumkan ialah Dendrobium spectabile. Penampilan anggrek itu amat prima. Pantas kalau ia tampil sebagai the best of show di lomba Malang Orchids Show pada pertengahan April 2004. Anggrek kribo itu memiliki 5 tangkai yang dipadati bunga bercorak cokelat kemerahan tua. Daun lengkap dan sehat sekali.

Koleksi anggrek
Muslim Mahfudz, tiap saat rindukan anggreknya

Rawat sendiri

Anggrek-anggrek berkualitas itu tidak sekadar dikoleksi. Tanaman dirawat sendiri sepenuhnya sehingga tampil prima. Sedangkan perawatan anggrek nonkoleksi diserahkan ke karyawan. Anggrek nonkoleksi berasal dari anggrek koleksi yang biasanya: malas berbunga, bunga tidak prima, warna kurang cerah, cepat layu, jumlah kuntum sedikit, dan rumpun tidak utuh.

“Saya tidak suka beli kalau rumpun sudah dipecah,” ungkap sarjana Hukum alumnus Universitas Gajah Mada itu. Alasannya, ukuran bunga kecil. Setelah rimbun baru bisa besar, tetapi perlu waktu lama, minimal 7 bulan.

Perhatian Muslim terhadap anggrek memang luar biasa. Meski tengah tidur lelap, tetapi saat hujan disertai angin kencang, ia akan bangun dan segera naik ke dak rumah berlantai 2. Setelah yakin anggrek aman, baru ia balik ke peraduan. Keesokan pagi, ayah Dian Kumiawan itu kembali menjenguk sang peliharaan.

Koleksi anggrek
Koleksi anggrek berbunga selalu memenuhi tamannya.

Kalau urusan anggrek ia memang tak kenal capai. Suatu ketika pejabat di salah satu lembaga keuangan itu menghadiri beberapa pertemuan penting. Aktivitasnya yang menyita tenaga dan pikiran itu ternyata tak menurunkan semangat untuk mengontrol anggrek.

Adalah pemandangan sehari-hari bila sehabis pulang kantor, malam hari, suami Nurul Sa’diah itu langsung menikmati kemolekan bunga anggrek. “Dengan menyambangi anggrek, rasa jenuh dan capai hilang begitu saja,” ucapnya. Apalagi ketika melihat cattleya dan vanda berbunga. “Itulah saat paling indah,” tutur pria kelahiran Blitar 56 tahun silam itu.

Rabu, 12 Juni 2019

no image

Varietas Bunga Anggrek Sepatu Yang Paling Digemari Pehobiis

Daun anggrek dalam genggaman Ayub S Parnata itu compang-camping.Akarnya beberapa helai saja yang tersisa. Setelah dirawat selama 6 bulan, tanaman yang tadinya hampir meregang nyawa itu memamerkan bunga nan cantik rupa. Tak disangka itu jenis anggrek paphiopedilum terbaru di dunia.

Bunga anggrek sepatu itu memiliki bibir alias labellum berbentuk kantong merah muda dengan guratan urat merah pekat. Petalnya panjang berwarna kuning dengan bercak-bercak cokelat. Ujung petal melintir seperti spiral. Daun kelopak punggung berwarna cokelat pekat dan berbulu. Bulu-bulu halus juga menyelimuti sekujur tangkai. Ukuran bunga paphiopedilum itu tergolong jumbo. Panjang kantong mencapai 3—4 cm, lazimnya 2 cm.

Penampilan bunga seperti itu meneguhkan keyakinan Ayub bahwa itu paphiopedilum baru. Ia pun mencatat ciri-ciri tanaman secara rinci dan juga asal-muasalnya. Deskripsi temuannya itu lalu dikirim ke The Australian Orchid Society di negeri Kanguru. Ia juga menyertakan foto bunga dan beberapa bagian tanaman lainnya.

Paphiopedilum gigantifolium ‘Regar Perkasa’ asal Sulawesi

Varietas Terbaru

Setelah setahun menunggu, keyakinan Ayub akhirnya terbukti. Pada 1997, paphiopedilum temuannya itu dipublikasikan di buletin tahunan lembaga itu sebagai spesies baru anggrek sepatu. Nama Ayub pun disematkan di belakang nama genus. Kini anggota famili Orchidaceae itu bernama ilmiah Paphiopedilum ayubii.

Lady slipper baru itu ternyata mengundang decak kagum seorang kolektor asal Jerman. Ia rela menempuh perjalanan panjang demi setangkai Paphiopedilum ayubii. Lalu memborong anakan anggrek sepatu jumbo itu dengan harga US$20 atau setara Rp 200.000/tanaman.

Beberapa tahun berselang, Ayub terhenyak ketika mengetahui Paphiopedilum ayubii berganti nama menjadi Paphiopedilum gigantifolia. Saat ditelusuri, rupanya kolektor asal Jerman itu mengklaim bila ayubii adalah hasil temuannya. Ia mendaftarkannya ke The Royal Horticultural Society di London, Inggris, dengan nama spesies baru gigantifolia.

Nama itu dipilih karena daunnya berukuran jumbo, berdiameter 3—5 cm dan panjang 30—40 cm. “Saya merasa dikhianati,” keluh Ayub. Kini, di dunia anggrek internasional, anggrek temuan Ayub itu disepakati bernama Paphiopedilum gigantifolia sinonim P. ayubii.

Paphiopedilum violascens 'Regar Subur' asal Papua

Paphiopedilum ayubii bukan satu-satunya anggrek sepatu yang nama spesiesnya diambil dari nama penemu di tanahair. Anggrek lainnya, Paphiopedilum supardii ditemukan Supardi, kolektor asal Kalimantan Selatan, pada 1915. Spesimen anggrek itu disimpan di Herbarium Bogoriense. Sayang, karena tidak dibudidayakan spesies itu “menghilang”. Baru pada 1972, Dr Eduard de Vogel, kolektor asal Jerman, “menemukan kembali” supardii di Kalimantan Selatan dan memberinya nama Paphiopedilum devogelii.

Digandrungi dunia

Ayub menuturkan, paphiopedilum salah satu jenis anggrek yang paling digandrungi kolektor anggrek di dunia. “Sebanyak 55% kolektor anggrek di dunia kolektor paphiopedilum,” ujarnya. Anggrek sepatu disukai karena adaptif di tempat yang kurang cahaya. Ketika musim dingin tiba, anggrek bisa disimpan di dalam ruangan sehingga tetap tumbuh dengan baik.

Istimewanya, 40% dari seluruh jenis paphiopedilum di dunia berasal dari Indonesia. Kekayaan jenis-jenis paphiopedilum tanahair Mitra Usaha Tani saksikan saat mengunjungi Sjahrizal Siregar. Pengganggrek di Ciwidey, Bandung, itu mengoleksi minimal 22 jenis anggrek kantong dari berbagai daerah di tanahair. ‘Paphiopedilum tersebar dari bagian barat hingga timur tanahair,” ujarnya.

Di Aceh misalnya, terdapat Paphiopedilum primulinum yang berbunga hampir seluruhnya kuning. Hanya daun kelopak punggung yang bersemburat hijau muda. Di Sumatera Barat tersebar Paphiopedilum lowii. Anggrek itu memiliki petal sangat panjang, hingga 7 cm, biasanya 4—5 cm. Petal berwarna kuning dengan bintik-bintik ungu kecokelatan. Ujung petal lebih lebar dan berwarna ungu. Di ranah Minang juga terdapat P. superbiens, P. tonsum, P. victoria-mariae, dan P victoria-regina.

Di Pulau Jawa banyak ditemukan Paphiopedilum javanicum yang tersebar di Bandung dan beberapa daerah diJawa Barat bagian selatan. Jenis lainnya, Paphiopedilum glaucophyillum.

Jaringan otak

Dari Sulawesi ada Paphiopedilum sangii. Anggrek itu berkantong hijau muda kekuningan dengan guratan-guratan tegas membentuk motif seperti jaringan otak berwarna hijau tua. Daun kelopak punggung ungu kehitaman pada bagian pangkal dan gradasi hijau muda di ujung.

Flores, Nusa Tenggara Timur, punya Paphiopedilum mastersianum yang kantongnya berwarna merah, berpadu dengan daun kelopak punggung hijau gradasi putih. Sementara belantara Papua surga Paphiopedilum wilhelminae. Warnanya didominasi cokelat dengan guratan-guratan tegas berwarna putih dan kuning. Jenis lainnya P. zackianum, dan P. violascens.

Sayang, di tanahair paphiopedilum kalah pamor dibanding dendrobium dan phalaenopsis. Ayub menduga, itu lantaran harga paphiopedilum relatif mahal dan butuh waktu 5 tahun supaya berbunga. “Padahal itu tantangannya supaya kekayaan hayati tanah air tidak terpendam di belantara,” ujar Ayub.

Senin, 10 Juni 2019

no image

5 Varietas Anggrek Import Terpopuler

Senyum mengembang di wajah Henry Eksan. Maklum, Dendrobium thyrsiflorum koleksinya dinyatakan sebagai the best of species pada Surabaya Orchids Show 2004. Untaian 20 tangkai bunga berwarna putih berpadu lidah kuning emas menjadi poin penting perolehan nilai. Semaraknya dendrobium itu tak tertandingi oleh puluhan anggrek pesaing. Piala Budiardjo Award, penghargaan kepada anggrek spesies terbaik, jatuh dalam genggamannya.

Keprimaan anggrek asal Taiwan itu mengundang decak kagum para kolektor. Muslim Makhfudz kolektor dari Malang, misalnya. Dendrobium thyrsiflorum andalannya terpaksa kalah oleh sang juara. Anggreknya yang didatangkan dari Singapura itu sebenarnya berpenampilan lebih kompak dan berbunga lebat. Sayang, saat penilaian kontes, puncak penampilan telah lewat. Kuntum di bagian atas layu. Tim juri untuk kelas dendrobium yang dipimpin Syed Yusof Alsagoff asal Singapura, jelas lebih berpihak pada D. thyrsiflorum koleksi Henry Eksan.

Dengan sistem penjurian show judging, tak sulit buat anggrek yang dulu dikenal sebagai Dendrobium densiflorum itu menyisihkan para lawan. Babak penyisihan di kelas, section, hingga penentuan juara spesies dilalui dengan mulus. “Susunan bunga amat rapi,” Yusof, mantan ketua OSSEA {Orchid Society of South East Asia) mengomentari kelebihan sang juara.

Di penyisihan section dengan sistim nominasi, anggrek bernomor 108 itu dipilih secara aklamasi oleh 8 anggota juri untuk masuk 3 besar. Setelah itu, ia dinyatakan sebagai juara lewat sistem tertutup untuk merebut juara section H, dendrobium spesies. Di perebutan juara spesies, anggrek yang berhabitat asli di wilayah Golden Triangle Thailand, Myanmar, dan Laos itu unggul mutlak atas lawannya Paphiopedilum cortisii milik Galaxy Orchid dan Vanda tricolor koleksi Asosiasi Petani Anggrek Denpasar.

Dominasi impor

Di kelas hybrid, persaingan lebih seru. Dtps. Queen beer koleksi Sien Orchids dan paphiopedilum saint swithin milik Vonny Asmarani tampil mempesona. Keduanya terbaik di section masing-masing. Akhirnya saint swithin yang berbunga 6 kuntum dianggap lebih unggul lantaran berbunga lebat. Di Indonesia sulit menemukan paphio selebat itu. Lagi pula corak bunga amat jelas. Untuk itulah ia dianugerahi the best hybrid.

Tak seperti kompetisi sebelumnya, lomba tahun ini didominasi anggrek impor. Selain dua anggrek terbaik di jenis spesies dan hybrid, hampir semua pemenang berasal dari mancanegara. Blc. hwa yuan gold juara kelas cattleya, D. dawn maree di section dendrobium, Dgmra. winter wonderland kelas oncidium, dan Dtps, queen beer kelas phalaenopsis hybrid.

Hanya di section dendrobium hybrid tipe intermediate dan section vanda pengangrek Indonesia berjaya. Di section itu, dendrobium flexiana hasil silangan Royal Orchid tampil sebagai yang terbaik, Anggrek berwarna cokelat gelap itu dihasilkan Sutikno Linuhung dengan menyilang dendrobium siane sie dengan midnight velvet.

Lomba berlangsung di World Trade Center, diikuti 165 peserta yang bertanding pada 33 kelas. Jumlah itu memang lebih sedikit ketimbang Surabaya Orchids Show 2017 yang diikuti 216 peserta. Menurut Wirakusuma, ketua juri, merosotnya jumlah peserta karena, “Puncak musim bunga telah berlalu.” Selain itu, partisipasi peserta terbagi pada ajang serupa di Malang 2 minggu sebelumnya. Berikut para juara Surabaya Orchids Show 2018


Paphiopedilum saint swithin

Tujuh kuntum bunga dari 2 tangkai menghiasi koleksi Vonny Orchids itu. Totol dan garis di sepal jadi poin penting. Kondisi tanaman pun sehat. Anggrek dari Taiwan itu meraih juara di kelas paphiopedilum hybrid, best of section, dan the best hybrid.

Dtps, queen beer
Boleh jadi koleksi Sien Orchids itu peserta dengan bunga tersemarak. Sebanyak 150 kuntum bergelayut di 3 tangkai sepanjang 50 cm yang bercabang 5. Bunga berukuran 5—6 cm berwarna ungu cerah.

Blc. hwa yuan gold

Dialah yang paling prima di antara jenisnya. Meski hanya memiliki 2 kuntum bunga, ia mampu mengalahkan 2 pesaing yang berbunga 4 dan 3 kuntum.

Dgmra. winter wonderland

Penampilan kerabat oncidium itu mirip colmanara, tetapi bersosok lebih besar. Dua tangkai digelayuti 5 kuntum berwarna putih bersih. Sosok menarik membuat koleksi Muslim Makhfudz itu meraih juara di kelas oncidium.

Dendrobium johnsoniae

Sekali pun gagal menyabet juara, dendrobium koleksi Muslim Makhfudz itu banyak dihujani pujian. Ia berbunga amat lebat. Padahal, menurut Yusof Alsagoff, anggrek berwarna putih itu jarang berbunga semarak. Atas keistimewaan itu ia dinyatakan juara di kelas dendrobium spesies. Tak heran jika ia menjadi rival terberat sang juara, Dendrobium thyrsiflorum koleksi Foresta Orchids asal Pacet, Mojokerto

no image

Omzet Puluhan Juta Perbulan Hanya Dari Budidaya Anggrek

Naluri bisnis Vonny Asmarani terbilang tajam. Saat konsumen jenuh dengan phalaenopsis lokal, ia mendatangkan bibit anggrek bulan asal Taiwan. Gayung pun bersambut. Setelah dibesarkan selama 6 bulan dan berbunga, anggrek produksinya diserbu konsumen. Puluhan juta rupiah ditangguk Vonny setiap bulan.

Kejelian melirik peluang bisnis itulah yang mengantarkan Vonny amat kesohor di antara penganggrek. Padahal ia terhitung pendatang baru. Kelahiran Kediri 37 tahun lalu itu baru menggeluti anggrek pada November 2002. Kalau bukan karena kejelian, tidak mungkin ia meninggalkan jabatan asisten manajer umum sebuah pabrik kertas di Surabaya. Puluhan juta gaji dan fasilitas sebagai karyawan kini tergantikan dari perniagaan anggrek.

Lihatlah saat akhir pekan. Puluhan pedagang dari berbagai kota di Jawa Timur, Jawa Tengah, Bali, dan Sumatera mengular antre di Vonny Orchids—farm milik Vonny Asmarani. Mereka memborong anggrek-anggrek berbunga. Sebagian membeli anggrek remaja untuk dibungakan. Segmen anggrek berbunga memang diincar Vonny lantaran memberi laba terbesar. Saat ini segmen anggrek berbunga mendominasi—sekitar 70%— dari omzet Vonny Orchids.

Pameran

Saat akhir bulan tiba, setidaknya 21.500 pot anggrek berbunga teijual. Itu dibeli oleh lebih 100 pedagang langganan. Masing-masing pedagang mengambil 100 pot/2 minggu. Belum lagi pembeli luar kota yang mengangkut minimal 1 truk berisi 1.500 pot/bulan. Harga dendrobium    Rp20.000— Rp75.000 dan phalaenopsis, Rp75.000— Rp250.000 per pot.

Strategi yang dipasang Vonny memang jitu. Menyadari dirinya pendatang baru, ia rajin berpameran di berbagai kota. Selalu menghadirkan anggrek bermutu, menjadikan Vonny Orchids lekas dikenal. Tentu saja itu diiringi tingginya omzet yang diraih. Contoh saat mengikuti pameran di Malang Orchids Show April 2018. Penganggrek yang mengikuti pameran rata-rata hanya memperoleh Rp20-juta. Sedangkan Vonny lebih dari itu.

Usai mengikuti pameran itulah ia kian dikenal. Permintaan pun mengalir deras. Sampai-sampai komisaris sebuah kelompok bermain di Surabaya itu kewalahan memenuhi tingginya permintaan. “Tak jarang para pedagang— terutama pelanggan baru—harus inden 2—4 bulan sebelumnya untuk memperoleh anggrek bermutu,” kata anak ke-2 dari 4 bersaudara itu.

Bila permintaan tidak dapat dipenuhi dari hasil kebun, Vonny terpaksa mencari ke nurseri lain. Itu dilakukan sendiri meski 5 karyawan siap membantu. “Anggrek yang diminta selalu mengikuti tren. Bila diserahkan ke karyawan, khawatir tidak dapat memilih jenis yang sesuai permintaan pasar,” katanya. Demi memuaskan konsumen pula, ia pernah menyeleksi tanaman di sebuah nurseri di Cianjur, Jawa Barat, hingga dinihari. Ia selektif memilih tanaman di tengah dinginnya malam yang menusuk tulang.

Vonny Orchids.
Vonny Orchids.

Sukses itulah yang menyebabkan Vonny tak pernah menyesal meninggalkan jabatan manajer umum. “Mengurusi anggrek saya merasa enjoy, tak pernah stres,” katanya.
Serius

Lahan seluas 5.000 m2 di Pacet, Mojokerto, lokasi nurseri Vonny. Di sanalah ia mendirikan greenhouse model tunnel berukuran 380 m2.Dari greenhouse itulah anggrek Vonny menyebar ke berbagai kota. Menurutnya, pangsa pasar anggrek masih terbuka. “Pasokan tidak berimbang, jauh di bawah permintaan,” ungkapnya.

Meski belum pernah dihitung pasti, tetapi diperkirakan hanya 25—30% permintaan yang bisa dipenuhi. “Tinggal, kita harus jeli melihat peluang itu,” cetus pengusaha konveksi bermerk V-Best itu. Untuk mengisi peluang terutama di Pulau Sumatera, ia membangun kebun seluas 1 ha di Provinsi Banten.

Perjalanan  yang Tidak mulus

Vonny bukan Bandung Bondowoso yang meraih sukses hanya dalam semalam. Pada awal terjun ia menemui batu sandungan. Ribuan anggrek bulan 4—6 bulan yang dibesarkan di lahan berketinggian 400 m dpi bermasalah. Daun tanaman menguning sehingga pertumbuhan terhambat. Untuk memulihkan perlu waktu panjang. Dari seniornya ia disarankan menaikkan kelembapan dengan sering menyiram. Di atas greenhouse ditutup jaring net untuk menurunkan terik matahari dan suhu di dalamnya.

Untung ia tak patah arang. Belajar kepada para senior salah satu kiat untuk mengatasi kendala yang dihadapi. Seiring waktu, kemampuan beranggrek kian memadai. Anggrek yang ditumbuhkan dari bibit mulai dijual berupa seedling, remaja, dan berbunga. Komunitas pot (kompot) tidak dijual karena terus dibesarkan. “Menumbuhkan bibit dari botol merupakan fase paling riskan. Bibit yang telah melewati fase itu tidak segera dijual,” ungkap pehobi golf itu. Setelah berdaun 4—6 alias seedling baru dijual. Yang tidak terjual dibesarkan terus hingga remaja atau berbunga.

Strategi pemasaran, keahliannya sewaktu berkarier di berbagai perusahaan, amat membantu menangani anggrek. Ia berusaha mengikat pembeli agar kembali berbelanja dengan pelayanan
memuaskan. Setiap konsumen besar atau kecil selalu disapa. Pekerja harus selalu tersenyum meski ada pembeli tidak puas.

Meski saat ini penjualan belum seluruhnya hasil kebun sendiri, Vonny tetap yakin, menanam sendiri jauh lebih untung dibandingkan dengan berdagang. Satu setengah tahun ke depan, Vonny mengharapkan kebunnya di Pacet, Mojokerto dan Banten sudah berproduksi maksimal sehingga ia hanya menjual produk sendiri.

Minggu, 09 Juni 2019

no image

Raup Untung Jutaan Rupiah Lewat Budidaya Anggrek Dilahan Sempit

Pagi itu Sugeng Praptono sibuk memasukkan botol-botol bening berlapis koran ke dalam dus-dus karton. Botol disusun ke atas berselang-seling saling berhadapan. Satu dus berisi 20 botol agar bobot tidak terlalu berat. Hari itu Sugeng mengemas 400 botol untuk 4 pelanggan di Bali.

Masih di hari yang sama, ayah 2 anak itu menyiapkan 30 kompot untuk masing-masing pelanggan tadi. Kompot berisi 20—25 bibit berumur 2 bulan dibongkar. Cacahan pakis di akar dibersihkan. Lalu isi masing-masing kompot dibungkus lapisan koran, baru disusun ke dalam dus.

Jenis yang dijual didominasi phalaenopsis dan dendrobium. Botolan dendrobium dijual Rpl2.500—Rpl5.000. Anggrek bulan lebih mahal, antara Rp 15.000—Rp 17.500 per botol. Harga kompot relatif sama, Rp25.000 per pot. Itu berarti omzet minimal Rp6,25-juta Sugeng kantongi hari itu.

Budidaya Anggrek

 

Lempengan pakis Sebagai Media Tanam

Kantong kelahiran 28 Juni 1966 itu dipastikan terus menggelembung. Pelanggan di Bali hanya sebagian dari pembeli yang biasa ia layani. Setiap 2 minggu ia menyiapkan 20—30 kompot untuk memasok pedagang kakilima di pinggir-pinggir jalan di kawasan wisata Selekta, Batu.

Belum lagi penjualan seedling dan tanaman berbunga. Bibit berdaun 4 lembar dalam pot-pot gelas plastik bekas air kemasan dijual Rp2.500—Rp3.000 per pot. Ada juga yang disusun tiga-tiga dalam lempengan pakis. Selain cantik dari segi estetika, harga jual lebih tinggi. Seedlingseedling itu dilabeli Rpl5.000 per lempeng. Setiap bulan rata-rata Sugeng menjual 500—1.000 seedling.

Tambahan rupiah juga ia dapat dari penjualan 150—200 pot anggrek berbunga setiap 2 minggu. Anggrek-anggrek dari pekebun di seputaran Batu, Malang, dan Jombang dijual Rp30.000—Rp 125.000. Dengan harga minimal, lagi-lagi jutaan rupiah mengalir ke kantong guru olahraga di sebuah sekolah dasar. Semua itu Sugeng nikmati dari 2 greenhouse sederhana di halaman depan dan belakang rumah masing-masing seluas 250 m2.

Pemasaran Anggrek Sering kali Tersandung masalah Pameran

 

Budidaya Anggrek Skala kecil

Kesibukan juga terlihat di kediaman Linda Dasawati di Kudus. Sejak setahun silam halaman rumah seluas 500 m2 ia sulap menjadi kebun pembesaran bibit anggrek. Beberapa para-para ia jejerkan di bawah naungan shading net. Itu tempat meletakkan kompot-kompot berisi bibit asal botol. Setelah dirawat 3—4 bulan tanaman dijual sebagai bibit remaja.

Nun di Madiun, Nur Ridayanti, memanfaatkan lahan seluas 300 m2 dihalaman rumah. Di sela-sela rutinitas sebagai ibu rumah tangga ia masih sempat membesarkan bibit-bibit dari kompot menjadi seedling.

Sugeng, Linda, dan Nur Ridayanti, hanyalah beberapa contoh sukses pengusahaan anggrek di lahan sempit. Hasil lacakan budidayatani, setidaknya 3 penganggrek di Malang meraih sukses serupa. D i Rawabelong, Jakarta Selatan, banyak p e k e b u n mengusahakan ompot menjadi tanaman remaja di luasan 100—200 m2.

Keuntungan Yang Relatif Besar

Hasilnya cukup lumayan. Dari lahan seluas 300 m2 Nur Ridayanti memperoleh tambahan penghasilan sebesar Rp606.250 per bulan. Hitung-hitungannya, ia mengambil 100 kompot masing-masing Rp25.000 atau senilai total Rp2.500.000. Setelah dikeluarkan dari pot massal, ia memperoleh 2.500 seedling.

Seedling itu dipelihara sekitar 4 bulan. Saat itu tanaman laku Rp3.000 per pot. Katakanlah tingkat kematian mencapai 1% setara 25 pot. Nur Ridayanti mendapatkan pemasukan Rp7.425.000 per 4 bulan. Biaya perawatan relatif kecil, Rp2.000 per pot selama perawatan. Dengan begitu ia masih mengantongi keuntungan Rp2.425.000 selama 4 bulan atau Rp606.250 per bulan.

Itu juga yang dialami Linda Dasawati. Untuk mengisi para-para di kebun seluas 500 m2 ia membeli 100 botol bibit dendrobium dari penganggrek di Jakarta. Nilai total pembelian mencapai Rp2-juta. Bibit dipisahkan ke dalam 200 kompot. Setelah dipelihara selama 4 bulan harga jual Rp25.000 per kompot berisi sekitar 20—25 tanaman. Dari penjualan kompot, ibu rumahtangga itu memperoleh Rp5-juta per 4 bulan.

Setelah dikurangi total biaya perawatan Rp400.000 untuk periode sama, laba dituai masih memadai: Rp4.550.000 per 4 bulan atau Rp 1.137.500 per bulan. “Padahal belum semua lahan saya manfaatkan,” tutur Linda.

Biaya Produksi Yang rendah

Hitung-hitungan itulah yang membuat Sugeng yakin untuk hijrah dari bisnis bunga potong. Sebelum 1984 laki-laki ramah itu memang menekuni penanaman mawar, krisan, dan gladiol. Ia berbalik arah karena anggrek lebih menjanjikan. “Kalau dulu (saat mengusahakan bunga potong, red) 1 minggu dapat Rp90.000— Rp 100.000 saja susah. Itu masih belum menghitung biaya pekerja dan pupuk. Sekarang Rp90.000—Rp 100.000 cuma dari 2 seedling,” tutur Sugeng.

Pilihan itu tak salah. Kalau semula ia sekadar membesarkan bibit dari penganggrek lain, sejak 2 tahun silam wong Batu itu memproduksi botolan. Dengan mengelola hampir semua segmen, keuntungan diraih jelas berlipat-lipat. Padahal belum semua permintaan ia layani. Pasokan 100 botol bibit phalaenopsis ke Jakarta tidak setiap bulan terkirim lancar. Produksi anggrek bulan terbatas sehingga Sugeng mesti membagi-bagi jumlah yang sama kepada beberapa pelanggan.

Peluang kian membentang lantaran anggrek, terutama dendrobium tanaman bandel yang mudah dirawat. Uang yang digelontorkan untuk modal awal dan biaya operasional pun tidak terlalu besar. Untuk membuat greenhouse sederhana berangka bambu, beratap plastik, dan berdinding shading net seluas 200 m2 Sugeng mengeluarkan Rpl5-juta. Greenhouse dapat dipergunakan selama 5 tahun. Biaya perawatan per pot sekitar Rp500—Rp800 per bulan.

bisnis anggrek
Mendulang untung dari lahan sempit

Gara-gara EJOS

Keuntungan yang diraih para pekebun itu tak lepas dari kian maraknya bisnis anggrek secara keseluruhan. Tengok saja kesibukan Erry Hanindita, pemilik Philly Orchids di Taman Anggrek Ragunan (TAR). Saat budidayatani berkunjung akhir Maret, ia tengah membungkus bunga-bunga anggrek dengan tisu. Ia mendapat pesanan 350 dendrobium, 75 mokara, dan 50 vanda dari pelanggan di Medan.

Minggu itu juga ia mesti melayani permintaan 600 pot beragam anggrek dari Manado, 2.000 pot dari Bali, dan Makassar, 300 pot. Yang tak kalah repot, Saliwon, di kavling 39 TAR dan Sutaryani Sudjoko di kavling 40.

Para penganggrek sepakat, bisnis anggota keluarga Orchidaceae itu semakin ramai usai digelarnya acara East Java Orchids Shows (EJOS) di Kebun Raya Purwodadi, Malang, pada 2001. “Permintaan terus melonjak,” kata Sugeng. Imbas itu pula yang antara lain dialami Yani—sapaan akrab Sutaryani.

Sampai 2001 hanya puluhan pot yang ia jual setiap bulan. Jumlah itu kini melonjak hingga 1.500 pot per bulan. Meski harga jual Rp50.000—Rp75.000,anggrek laris-manis dibeli pelanggan dari berbagai daerah. Saking derasnya permintaan ia sampai harus hunting ke pekebun lain.

Pasokan Yang Tinggi

Demi memenuhi permintaan pula akhirnya Yani membuka kebun pendukung seluas 250 m2 di Cinere dan 3.000 m2 di Jagakarsa, keduanya di Jakarta Selatan. Endah Malahayati memilih untuk membentuk kemitraan dengan pekebun skala kecil yang mengelola segmen tertentu.Linda Dasawati memelihara dari botolan hingga kompot. Atau merawat tanaman remaja hingga berbunga, seperti yang dilakukan Desi Danus, di Bogor. Dari merekalah Endah mendapat pasokan untuk dikirim ke Solo, Yogyakarta, Semarang, Malang, Bengkulu, Lampung, Palembang, Riau, Bangka, dan Medan. Setiap bulan setidaknya 4.000 pot hijrah dari Ragunan ke berbagai daerah.

Kian tingginya frekuensi pameran di berbagai daerah diprediksi akan membawa umur bisnis anggrek kian panjang. Dari perhelatan itulah para pekebun kerap meraup untung dalam waktu singkat. “Untuk kios sekelas saya paling tidak Rp4-juta—Rp5-juta di tangan selama 5—6 hari pameran,” kata Sugeng. Bagi Sugeng di lahan kecil anggrek memang menjanjikan.