--> Archive for Ikan Maskoki Budidaya tani: Ikan Maskoki - All Post
Tampilkan postingan dengan label Ikan Maskoki. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ikan Maskoki. Tampilkan semua postingan

Rabu, 16 September 2020

Japanese Disease Parasit Berbahaya Yang Menyerang Ikan Koi

Japanese Disease Parasit Berbahaya Yang Menyerang Ikan Koi

Tepatnya empat bulan yang lalu bencana serangan Parasit Japanese Disease itu menerpa. Hobiis maskoki di Bandung itu meradang melihat jutaan burayak umur 1,5-2 bulan berguguran. “Mereka hanya mampu bertahan maksimal 6 hari,” ujar alumnus Universitas Kristen Maranatha itu. 

Si Putih (Japanese Disease) Menyerang Jutaan Melayang

 

Berbagai cara dilakukan untuk menyelamatkan ternakannya. Namun, apa lacur ia hanya dapat menatap sedih bangkai ikan koi kualitas kontes yang harus dibuangnya.

“Sebenarnya penyakit itu telah muncul lebih dari setahun silam,” kata Ever. Namun, kala itu tingkat kematian tidak setinggi sekarang. 

Pria berusia 25 tahun itu menduga penyakit berasal dari ikan koi impor asal Thailand yang ia masukan 6 bulan lalu sebagai indukan. ’’Kemungkinan ikan telah membawa penyakit,” ujarnya. Selain dugaan itu, banyak faktor pencetus penyakit: stres, kualitas air buruk, dan kedisiplinan dalam pemeliharaan.

Serangan Parasit Akibat Inbreeding

Pada ikan yang terpapar akibat japanese disease itu ditemukan bulatan putih di permukaan tubuh. Gejala mirip white spot dan velvet, tetapi selaput putih lebih besar berdiameter 1-2 mm dengan jumlah lebih sedikit. 

Biang keladi utamanya adalah stres dan kondisi lingkungan yang drastis berubah dari negara asal impor, Thailand. Menurut Ir Fatono Wiredja, penangkar di Bogor, perjalanan maskoki dari Thailand ditempuh selama 20-25 jam.

Kondisi ekstrim sesampai di Indonesia dijumpainya. Akibatnya ikan mudah stres dan gampang sakit. Untuk itu penjagaan kualitas air mutlak diperlukan. YB Hariantono, hobiis di Jakarta menduga penyakit itu modifikasi dari velvet. 

Penyakit akibat protozoa parasit Oodinium sp.itu memang mirip dengan japanese disease. “Mungkin penamaan japanese disease itu karena ikan asal Jepang yang terserang,” ujar Hari sapaan akrabnya.

Ikan jenis itu memiliki daya tahan tubuh rendah lantaran dikawinkan inbreeding untuk mempertahankan kesamaan sosok dengan sang induk.

Karena itu jenis tosakin dan ranchu top view perlu penanganan ekstra agar aman dari patogen penyebab sakit.

Aplikasi Formalin Untuk Mengatasi Japanese Disease

Untuk menghindari tersebarnya penyakit asal parasit mesti telaten. Keteledoran dan lemahnya pantauan berakibat maut segera menjemput Carassius auratus itu. 

Bila bintik putih telah menempel pada tubuh ikan, berikan segera pengobatan. “Pakai obat yang mengandung zat formalin dan tembaga sulfat CuSO4,” kata ayah Fredrica Cynthia Dewi itu.

Sedangkan Fatono, yang telah kehilangan 70 ekor ranchu menggunakan kalium permanganat (KMN04) sebagai obat. Cairan ungu itu digunakan untuk merendam maskoki yang terserang. 

Dosis kepekatan, 2-4 cc untuk 4 1 air selama 3 jam perendaman. Bila dosis yang dipakai lebih tinggi, ikan cukup dicelup selama 5 detik. Setelah perendaman, 24 jam kemudian bintik putih berkurang, nafsu makan kembali normal, dan ikan kembali sehat.

Lain halnya Kris S. Widjojo, peternak ikan koi di Jakarta. Ia merendam klangenannya dengan garam ikan. “Lebih praktis dan bahan mudah didapat,” ujar Kris. Sebanyak 30% garam dari total air dilarutkan dan digunakan sebagai perendam selama 3-5 detik. 

Lendir ikan akan mengelupas membawa parasit pergi. Namun, bila lendir hilang ikan menjadi makin rentan. Ibarat masuk ruang ICU di rumah sakit, ikan mesti dijaga ketat dengan kualitas sistem filter kolam koi yang baik. Tiga hingga 4 hari berselang ikan kembali lincah.

Senin, 15 Juli 2019

no image

Varian Terbaru Ranchu side view Asal China

Ranchu sideview asal Cina itu memiliki jambul ekstra tebal dan tersebar merata ke seluruh kepala. Di beberapa bagian muka jambul ekstra itu keluar bak gelembung air. Sebab itu menimbulkan kesan bergelambir. “Ukuran kepala terlihat lebih menonjol daripada bagian tubuh lain,” ujar Pieter dari Tropis Aquarium di Magelang.

Menurut importir maskoki itu ranchu bulldog dianugerahi tulang punggung yang lebar dan melengkung sempurna 180°. Karena lebar, ranchu sideview bertubuh bulat telur itu terlihat kokoh dan berotot bak aktor laga Hollywood Arnold Schwazinegger. Lantaran masih langka, ranchu yang ukuran dewasanya mencapai panjang tubuh 20—25 cm itu kini diperebutkan banyak kolektor. Harganya bisa mencapai Rp l0-juta per ekor.

Ranchu side view
Ranchu bulldog

Redmoor butterfly

Moor lazim bercorak hitam. Sebab itu ia kondang disebut blackmoor. Belakangan muncul redmoor. Ternakan penangkar Cina itu sebetulnya sudah sejak lama ada di tanah air. Sayang kesolidan corak merah moor merah itu tertinggal jauh ketimbang ryukin. Corak merah tidak pekat, tetapi lebih condong lembayung. Wajar ia kurang diminati hobiis. “Bentuk ekornya masih tidak keruan sehingga ia lebih mirip jenis komet,” kata Iwan Kusuma, kolektor di Jakarta Barat.

Maskoki kelompok dragon eye itu kini tampil dengan pakaian baru. Hasil kerja keras penangkar Cina sejak 2002 itu menelurkan redmoor bercorak solid dan memiliki ekor seperti kupu-kupu. “Jika dulu ia sideview, sekarang berubah topview.

Penampilannya pun terkesan impresif,” ujar Pieter. Keistimewaan lain ikan yang dapat mencapai ukuran 30 cm itu mempunyai pangkal ekor kuat. Saat ia berenang kibasan ekor bak kupu-kupu itu bisa mengembang lebih lama. ( baca : Ladang Rezeki Pehobiis Ikan Maskoki Kualitas kontes )

Seperti redmoor butterfly, kelompok ryukin pun kini mengeluarkan jenis ekor butterfly. Bahkan ia memiliki bentangan ekor lebih lebar sehingga dijuluki ryukin broad tail. Ryukin bercorak merah solid ini mempunyai otot punggung lebih besar dan menonjol. Bila dilihat sideview otot punggung tampak seperti punuk onta. “Broad tail pada ryukin tidak terbatas pada yang bercorak merah, tapi untuk yang bercorak cokelat pun sudah ada,” ujar Pieter.

Kelompok oranda tidak mau ketinggalan. Kini hadir oranda dengan bentuk kepala bak macan. Jambul yang disebut jenis tigerhead itu menyeruak hingga ke bibir. Keistimewaan lain jenis bercorak merah dan putih itu terletak pada lekuk punggung dan perut yang dalam sehingga ia terkesan buntet. Ikan yang bisa mencapai ukuran 25 cm itu pun memiliki ekor lebih tebal dan pangkal ekor kuat. Selain itu bentangan sirip punggung ikan asal Cina itu lebih tinggi dari oranda umumnya.

Sabtu, 01 Juni 2019

no image

Ladang Rezeki Pehobiis Ikan Maskoki Kualitas kontes

Sejumput tembakau berwarna kecokelatan dicium-cium. Sesekali lidahnya mencecap untuk memastikan. Biar sahih, proses itu diulang hingga 2 kali. Pertama di tengah-tengah lalu berpindah ke atas. “Ini masuk kualitas H, paling bagus,” ujar Jopie Samiaji ketika menakar mutu sekeranjang tembakau. Itu diterapkan pula saat memilih koleksi maskoki. Meski melalui sapuan mata, maskoki bibir bergincu dijadikan pilihan.

Seekor oranda dan 2 ranchu berukuran rata-rata 10—15 cm tampak hilir mudik di akuarium 80 cm x 30 cm x 60 cm. Akuarium itu menghiasi teras belakang kediaman Jopie Samiaji di bilangan Tentara Pelajar, Temanggung, Jawa Tengah. Sepintas lalu tak ada keanehan pada ketiga ikan itu. Namun, saat diamati lebih teliti, para anggota keluarga Cyprinus bercorak merah-putih itu ternyata memiliki bibir bergincu.

Seluruh mulut terlihat merah bak diberi lipstik. “Mereka dikoleksi karena lucu kalau dilihat,” papar Jopie Samiaji. Pilihan mengutamakan maskoki bergincu itu dilakoni sejak 3 bulan silam. Koleksi Carassius auratus bergincu masih terbatas, baru 5 ekor. Maklum, menurut kelahiran Surabaya 7 Juli 1966 itu, ia tak sembarangan memilih maskoki bergincu. Setidaknya perlu yang berkualitas kontes. Ikan seperti itu memang sulit diperoleh.

Ikan Maskoki Grader

 

Ikan Maskoki Grader

Kelima maskoki bergincu itu termasuk diantara dari maskoki kesayangan pengusir rasa penat tatkala usai bekerja. Penampung sekaligus grader tembakau dari hampir seluruh pekebun di Temanggung dan sekitarnya itu mengharuskan Jopie bekerja dengan konsentrasi tinggi. Setiap hari ia perlu memeriksa setiap keranjang berkapasitas 40kg—50 kg berisi rajangan tembakau yang dibeli untuk dipasok kembali ke pabrik rokok Minak Jinggo.

Setiap keranjang yang tiba, disodet lalu diambil sejumput sebagai contoh. “Dicium dulu lalu kalau perlu dirasakan oleh lidah untuk dapat menentukan kualitas,” ujar suami Ami Mulyati itu. Hasilnya dibagi dalam 8 kualitas, mulai dari A—H. Untuk masing-masing keranjang diperlukan minimal 5 menit sebelum keranjang-keranjang beranyaman bambu itu disusun di sebuah gudang penyimpanan mirip hanggar pesawat.

“Setiap hari bisa 200—300 keranjang datang dan di periksa kualitasnya. Dan itu harus dilakukan sendiri,“ tutur ayah Evan Samiaji. Padahal untuk kurun Juli— Oktober setiap tahun, jumlah yang harus dicek mencapai lebih dari 10.000 keranjang.

Aktivitas kerja yang dimulai pukul 07.00 itu berakhir selepas ashar. Pagi hari sebelum berangkat, ia meluangkan waktu sejam untuk memberi pakan sang klangenan. Usai bekerja, bila tidak ada kesibukan lain, Jopie pun buru-buru menuju deretan akuarium dan sebuah bak maskoki. “Kasih pakan, mengecek air, lalu duduk-duduk menikmati mereka berenang. Penat jadi hilang,” ujar pria yang meneruskan usaha orangtuanya itu. Kegiatan itu dapat berlangsung 2—3 jam sebelum bercengkerama dengan keluarga.

Ranchu
Ranchu bercorak biru kehitaman salah satu favorit

Menyukai ranchu

Jopie jatuh hati pada maskoki setelah melihat beberapa kontes di Jakarta dan Surabaya. Ia memang sengaja datang selain untuk bersua kawan lama, aroma kompetisi dikontes suka memacu hormon adrenalinnya bergerak lebih deras. Maklum sebelum bermain maskoki, Jopie sudah malang melintang sebagai biang kampiun di berbagai kontes cupang hias di tanah air.

Seekor ranchu corak merah-putih berukuran 16 cm menjadi koleksi perdananya. Ikan yang dibeli seharga Rp3-juta dari hobiis di Bandung itu langsung diterjunkan ke kontes Jogja Ornamental Fish Fiesta Desember 2018. Meski hanya mampu menembus babak 10 besar di kontes, lulusan SMA Karang Turi di Temanggung itu mengaku merasa puas, sekaligus tertantang menjadi kampiun.

Menginjak Februari 2018, koleksinya terus bertambah. Semula 1 ekor kini melonjak hingga 25 ekor. Ikan-ikan pilihan itu dibeli dari beberapa importir maskoki di Jakarta. Jenisnya bervariasi seperti tossa, tosakin, ranchu, butterfly, dan oranda. Mereka dibeli rata-rata dengan harga Rp2,5-juta—Rpl5-juta tergantung ukuran dan corak. Ranchu bercorak biru kehitaman misalnya menjadi klangenan paling mahal yang dimiliki seharga Rp 10-juta. “Ikan ini benar-benar istimewa karena jarang yang coraknya seperti ini,” ujar Jopie.

Yang istimewa lainnya, ranchu bercorak silver seharga Rp l5-juta. Ikan asal negeri Siam itu termasuk langka di negeri Bhumibol Adulyadej sekalipun. Jenis ranchu memang paling banyak dikoleksinya. Itu bukan tanpa sebab, “Mereka itu rajanya maskoki. Selain itu termasuk agak manja saat dipelihara. Jadi ada tantangan,” papar pengemar burung kicauan itu.

Impian menjadi kampiun pun akhirnya terwujud. Melalui ranchu jumbo seharga Rpl0-juta yang diboyong dari kolektor asal Bandung, Jopie sukses mendulang 2 kampiun. Gelar itu direngkuh saat kontes Starwars 2018 di Surabaya dan Kontes Piala Pangkostrad 2018 di Plaza Maspion, Jakarta beberapa pekan silam.

Kini, Jopie Samiaji meletakkan seluruh koleksinya di 3 tempat. Khusus ranchu, 8 ekor, dipelihara di bak fiber berukuran 2,5 m x 1,5 m. Beberapa tosakin merah putih dan butterfly bercorak hitam dan merah ditaruh di pot keramik meniru hobiis Cina baheula. “Mereka paling indah jika dilihat dari atas,” papar alumnus Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi di Bandung itu yang kadang-kandang mengajak serta sang istri ikut menikmati keindahan sang ikan hoki berbibir gincu itu. Bibir maskoki bergincu memang telah melepaskan penat usai indra penciumannya bekerja