--> Archive for Pertanian Budidaya tani: Pertanian - All Post
Tampilkan postingan dengan label Pertanian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pertanian. Tampilkan semua postingan

Selasa, 16 Juli 2019

no image

Budidaya Buah Srikaya San Pablo Dan Potensinya

Buah Srikaya San Pablo rata rata berbobot 200 g/ buah. Berbeda dengan srikaya, kulit buah san pablo hampir rata, tanpa “sisik”. Permukaan kulit diselimuti bedak tipis. Daging buah putih dan lembut. Sayangnya tingkat kemanisan san pablo belum terukur. “Manisnya masih kalah dibanding srikaya new varietas,” kata Chandra, kolektor tanaman di Sawangan, Depok.

Chandra tak menyangka bila manfaat buah srikaya san pablo dapat dinikmati di tanahair. Musababnya, “Maurice sendiri belum pernah mencicipinya,” kata pengusaha tanaman hias itu. Ketika itu ia baru saja memperolehnya dari Meksiko, tetapi belum sempat dibudidayakan. Karena itu saat panen perdana pada 6 Januari 2018, Chandra langsung mengirimkan foto kerabat sirsak itu melalui surat elektronik kepada Maurice.

Srikaya San Pablo

 

Berbuah lebat

Chandra tadinya tak berharap akan mencicipi segarnya Srikaya San Pablo. Harap mafhum, ia hanya diberi sebatang bibit sepanjang 60—70 cm. Berdasarkan pengalaman tanaman hasil introduksi tingkat kematiannya cukup tinggi akibat sulit beradaptasi.

Oleh Ricky Hadimulya, sahabat Chandra, san pablo dibudidayakan di Ciseeng, Bogor. Bibit tanpa media itu ditanam dalam polybag berisi media campuran sekam bakar dan cocopeat steril. Sebelumnya akar direndam dalam larutan vitamin BI dan fungisida untuk merangsang perakaran dan mencegah cendawan penyebab penyakit. Imigran asal Meksiko itu lalu disimpan di ruang moistroom alias pengkabutan. Di sanalah suhu dikendalikan pada kisaran 25°C dan kelembapan 70%. Dengan kondisi seperti itu, Ricky berharap san pablo kembali pulih setelah menempuh perjalanan ribuan km.

Sepekan lamanya sang nona menghuni ruang pengkabutan. Ricky sempat khawatir ketika satu per satu daun san pablo berguguran. Kekhawatirannya terobati ketika bakal tunas mulai bermunculan. Saat itulah kerabat kenanga-kenangaan itu dipindahkan ke rumah tanam yang diberi jaring peneduh 65%. Artinya, sinar matahari yang diterima hanya 35%.

Sebulan berselang daun yang semula rontok kembali tumbuh. Sejak itu Ricky memindahkannya ke dalam drum yang dipotong menjadi dua. Kali ini media yang digunakan campuran tanah, sekam bakar, cocopeat, dan kotoran kambing dengan perbandingan 1:1:1:1.

Dua tahun kemudian, pendatang asal negeri Sombrero itu berbunga. Bunga itu menjelma menjadi buah muda berwarna cokelat. Dari beberapa bunga hanya tersisa 2 pentil yang tumbuh berdampingan. Tiga bulan kemudian buah matang dan berwarna merah. “Saya tidak menduga warnanya merah,” kata Chandra. Ukurannya sekepalan tangan orang dewasa. “Sebetulnya bisa lebih besar kalau buah yang satunya dipetik,” kata Ricky.

Pada 6 Januari 2018 buah perdana annona merah itu dipanen. Rasa buah yang manis dan daging buah lembut kian melengkapi keistimewaan san pablo yang berbuah cantik. Apalagi enam bulan berikutnya sang nona kembali memamerkan buah. Kali ini lebih lebat. Begitu juga pada masa berbuah berikutnya. Pada akhir Maret 2008, budidayatani menyaksikan dalam satu pohon bergelayut lebih dari 20 buah muda yang 2 pekan lagi siap panen. Dalam setahun Ricky 2 kali menikmati segarnya san pablo, yaitu setiap Januari dan Mei.

Diperbanyak

Karena keistimewaan itu Srikaya San Pablo layak menjadi komoditas komersial. Tanaman yang diboyong dari negeri Paman Sam itu kini dijadikan induk. Dari sanalah lahir ribuan bibit hasil perbanyakan dengan cara sambung. Ricky menggunakan mulwo sebagai batang bawah.

Mulwo Annona reticulata diperoleh dari seputaran Bogor. Tanaman itu berdaun mirip san pablo. Mulwo dipilih karena menghasilkan bibit yang prima dengan tingkat kematian rendah, hanya 10%. Risiko itu jauh lebih rendah ketimbang menggunakan batang bawah srikaya yang mencapai 70—80% yang pernah dicoba Ricky sebelumnya.

Prakoso Heryono, kolektor 17 jenis annona di Demak, Jawa Tengah, menduga san pablo varian dari mulwo. “San pablo itu buah nona-nya Meksiko,” katanya. Bentuk buah keduanya sangat berbeda. Permukaan kulit buah mulwo benjol-benjol dan berwarna hijau muda. Sedangkan kulit san pablo nyaris mulus dan berwarna merah kejinggaan. Corak kulit buahnya malah lebih mirip cherimoya. “Tapi daunnya lebih mirip mulwo,” ujar Prakoso.

Habitat cherimoya juga pada ketinggian di atas 1.300 m dpi. “Sementara san pablo tumbuh di ketinggian rendah hingga sedang sekitar 700 m dpi,” kata Prakoso. Di Ciseeng yang berketinggian 100 m dpi, anggota famili Annonaceae itu tumbuh subur dan berbuah lebat. Menurutnya perbedaan habitat itu menunjukkan keduanya berlainan jenis. “San pablo sedang dicoba di daerah tinggi, Malang. Mungkin bisa dilihat hasilnya 2 tahun lagi,” kata Ricky.

Srikaya kuning

Annona istimewa juga budidayatani saksikan di Blitar, Jawa Timur. Buah srikaya Annona squamosa di kebun Tryman Sutandya berwarna hijau pucat, hampir kuning gading. Ia bukanlah pendatang dari mancanegara, melainkan varietas lokal. Tanaman itu hasil seleksi srikaya lokal yang biasa digunakan Tryman sebagai batang bawah untuk menyambung srikaya merah dan tanpa biji yang selama ini ia kembangkan. Tanaman itu berasal dari biji.

Dari beberapa tanaman batang bawah itu salah satunya berbuah kuning gading. Berbeda dengan kerabatnya yang berwarna hijau, daun srikaya itu lebih pucat. Sejak itulah Tryman memperbanyak srikaya kuning gading dengan cara sambung susu dan grafting. Sifat warna buah diwariskan pada tanaman hasil perbanyakan secara vegetatif.

Tryman menduga srikaya kuning gading mutasi dari varietas lokal. Menurut Gregorius Garnadi Hambali, ahli botani di Bogor, tanaman yang diperbanyak dari biji berpeluang besar mengalami mutasi. Salah satunya mutasi pada pigmen daun dan kulit buah.

Meski mengalami kelainan, bukan berarti mengurangi citarasa kerabat sirsak itu. “Rasanya tak kalah manis dengan srikaya unggul,” kata Tryman. Sosok buah lebih besar daripada kepalan tangan, tetapi lebih kecil dibanding srikaya new varietas. “Rata-rata sebesar srikaya lokal,” ujar hobiis tabulampot yang juga pengusaha ternak ayam itu.

Srikaya kuning gading juga tergolong rajin berbuah. Berkat pemupukan dan penyiraman rutin, Tryman memanen 3 kali dalam 2 bulan. Setiap kali berbuah menghasilkan 3—5 buah/tanaman. Karena itulah sang nona kuning gading layak menjadi incaran hobiis tabulampot.

no image

Prospek Budidaya Belimbing Dewa Secara Komersil

Wajah belimbing dewa memang sudah berubah. Ia taklagi berbaju keranjang bambu, beralas daun pisang, dan dipasarkan di tepi jalan yang becek. “Sekarang dewa menjadi maskot kota. Ia diselimuti plastik wrapping, dimasukkan kotak kemasan, dan diangkut dengan truk berpendingin,” kata Nanang Yusuf, pekebun di Depok. Dengan wajah baru itu belimbing dewa laris manis di toko buah, supermarket, dan hypermart.

Nanang masih ingat, pada akhir 1990-an hingga pertengahan 2000-an belimbing dewa dipikul pengepul ke stasiun untuk dikirim ke Jakarta. Sebagian lain menggunakan truk terbuka. Dari 50 kg yang dibawa paling 30—40 kg yang layak konsumsi. “Sisanya buah rusak menjadi sampah bersama pelepah pisang,” katanya. Tingkat kerusakan tinggi karena memang belimbing tergolong buah rentan. Sirip buah lemah sehingga mudah terluka bila tertindih atau tergencet. Artinya, sortir baru bisa dilakukan di tingkat pedagang di pasar induk.

belimbing dewa

Fenomena itu lambat laun berubah. “Sejak dipakai kemasan modern, sortir sudah bisa dilakukan di tingkat pekebun,” kata Ir Heru Prabowo, manajer pemasaran Pusat Koperasi Pemasaran Belimbing Dewa Depok. Buah dibagi 3 kelas: grade A, berbobot di atas 250 g; grade B, 150—250 g, dan C, kurang dari 150 g atau buah cacat. Pekebun berkualitas diuntungkan karena grade A dihargai 2,5 kali lipat ketimbang grade C. Pada sistem tradisional harga buah disamaratakan tanpa memperhitungkan kualitas.

Buah belimbing Naik kasta

Menurut Heru pengemasan buah modern menurunkan kerusakan buah secara signifikan. “Selama transportasi kerusakan bisa ditekan hingga kurang dari 5% dan pasar modern tak perlu dipusingkan dengan sortir lagi,” katanya. Sebanyak 10 kg belimbing yang telah dikemas per 3 buah atau 6 buah ditata di dalam kardus. Kardus itu bisa ditumpuk hingga 5 tingkat tanpa merusak isi dan kemasan.

Tuti Buntaran bagian hubungan dan jaringan internasional Federasi Pengemasan Indonesia mengatakan pengemasan buah secara modern yang dilakukan langsung di sentra buah memang patut dicontoh. “Gonta-ganti kemasan di setiap jenjang rantai tataniaga bisa dihindari. Selama ini kemasan berganti di setiap jenjang sehingga buah gampang rusak,” katanya. Negara maju seperti Australia telah mempraktekkan hal tersebut sejak puluhan tahun silam pada komoditas pisang, apel, dan pir.

Dengan kemasan yang menarik status buah pun naik kasta. “Dulu belimbing bukan dianggap buah andalan. Kini menjadi santapan kelas menengah ke atas,” kata Adrian Arditiar, Customer Service Team PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk. Harga Rp 17.500—Rp20.000 untuk sekilo belimbing bukan masalah bagi mereka. Apalagi saat ini belimbing disebut-sebut sebagai buah kesehatan bagi penderita darah tinggi. Pantas sejak 2008 Walikota Depok Ir Nurmahmudi Ismail mencanangkan buah dari kahyangan itu sebagai maskot kota Depok.

Menurut Adrian kotak kardus untuk kemasan buah belimbing dewa memang populer di Indonesia sejak 1 tahun terakhir. “Kini 4—5 pemain besar buah-buahan di Jakarta menggunakan kemasan kardus. Dulu dihindari pemain lokal karena dianggap tak tahan air,” katanya. Itu karena teknologi kertas kardus untuk buah-buahan sudah berkembang jauh.

‘Kini kardus didesain sesuai dengan karakter buah segar. Misal, tahan kelembapan tinggi. Teknologi itu diadopsi dari pengemasan hasil laut sehingga
kertas tak rusak meski berada dalam ruangan dengan kelembapan mencapai 80%. Di masa mendatang kemasan kardus itu bakal populer di agribisnis buah-buahan seperti pada agribisnis hasil laut.

Pembungkusan Buah

Menurut Tuti Buntaran di mancanegara— seperti Filipina—penampilan buah dijaga sejak dari prapanen. “Buah sudah dibe-rongsong agar terhindar dari serangan hama. Sosok dan warnanya menjadi lebih cantik,” katanya. Sejatinya belimbing dewa telah dibungkus sejak masih muda dengan pembungkus berupa karbon, plastik mulsa hitam, atau koran. Pembungkus karbon banyak dipakai karena warna belimbing lebih menarik. “Warna buah lebih seragam,” kata dr Purwoko SP vet med, pekebun belimbing di Serang. Untuk mencegah buah terbakar karbon dipakai 2 lapis, bagian perak di bagian dalam yang terkena buah dan bagian perak di bagian luar yang terkena sinar matahari. Namun, karbon sulit diperoleh. Koran kurang disukai karena mengotori dan kerap menempel pada buah saat musim hujan. Pemakaian karbon dan koran pun sulit dilakukan bagi yang kurang berpengalaman.

Pengamatan budidayatani, belakangan banyak pekebun yang membungkus buah dengan bahan polietilen. Bahan itu dibuat berbagai ukuran dengan pengikat talik ulur sehingga mudah dipasang. “Lebih hemat tenaga kerja, tinggal pengikat ditarik, buah sudah terbungkus,” kata Harto dari PT Gani Arta Dwi Tunggal, produsen AgroNet. Pembungkus berbahan polietilen pun dapat dipergunakan 2—3 kali sehingga lebih hemat.

Menurut Tuti, perbedaan bahan pembungkus itu tak menjadi masalah. Itu tergantung dari ketersediaan bahan di sentra buah dan kemudahan pemakaian. “Yang terpenting buah dipersiapkan dan diseleksi sejak dari pra panen. Kerusakan pada pascapanen menjadi lebih rendah,” katanya. Dengan cara itu, menurut Tuti, tak hanya belimbing dewa yang bakal naik kasta, tapi buah lain yang kini masih di pasar becek.

no image

Cara Agar Mangga Tabulampot Berbuah Lebat

Mangga tabulampot berbuah lebat jika ditanam di dataran rendah. Kecuali manalagi yang masih bisa berbuah di ketinggian > 400 mdpi. Makanya, lebatnya mangga nam dok mai dalam pot di kebun H Endhy A Aziz Hardjowijoto di lereng Gunung Salak itu membuat takjub.

Asal medianya cocok, mangga bisa tumbuh dan berbuah di berbagai ketinggian tempat,” ungkap Aziz. Selama ini sentra penanaman mangga terbatas di daerah-daerah panas dekat pantai seperti Cirebon, Indramayu, Surabaya, maupun Pasuruan.

 

Pemilihan Media Tanam Yang tepat

Berbuah di berbagai ketinggian tempat tak hanya mangga. Buah-buahan lain juga bisa berbuah asal media dan perlakuan tepat. Aziz membuktikannya di lahan seluas 400 m2. Tabulampot jambu air, jambu bol, jeruk, jambu biji, rambutan, srikaya dan nangka berbuah sama lebat.

Saat budidayatani berkunjung pada Februari 2018, putsa atau apel india berdiameter batang 8 cm tengah memamerkan buah. Demikian sawo, dan srikaya disyarati buah. Tak ketinggalan jambu bol, buah-buah ranum bergelayutan meskipun berukuran agak kecil.

Semua itu karena Aziz membedakan media untuk setiap jenis. Paling tidak komposisinya. “Sebelum menentukan komposisi media, perlu tahu dulu asal-usul tanaman yang akan ditanam,” papar ayah 3 anak itu. Ia mencontohkan, mangga, buah naga, jambu air, dan belimbing berasal dari daerah beriklim kering, maka media yang dipilih berpasir dan kering.

Aziz pun membuat media yang didominasi oleh pasir sebanyak 3 bagian, sedangkan pupuk kandang atau bokashi dan tanah masing-masing hanya 1 bagian. Untuk menjaga porositasnya, Aziz mengalasi bagian bawah drum yang telah dilubangi di lima titik dengan pecahan batu bata dan ijuk.

Rambutan, manggis, gandaria, bisbul yang berasal dari daerah lembap dibuatkan media dengan komposisi 2 bagian tanah, 1 bagian pasir, dan 2 bagian pupuk kandang. Media normal diaplikasikan untuk jeruk, nangka, srikaya, sawo, ceremai, dan tanaman yang adaptif di daerah yang tidak terlalu kering maupun tidak terlalu lembap. Komposisi tanah, pasir dan pupuknya dibuat sebanding.

tabulampot Jambu bol
Jambu bol berbuah, tinggi tanaman 2 meter

Pemberian Pupuk secara rutin

Supaya tabulampot berbuah lebat harus diimbangi pemupukan yang tepat dan rutin. Magister Pertambangan Kul Leuven, Belgia itu menggunakan pupuk bokashi buatan sendiri. bokashi diencerkan dan disiramkan pada tanaman sebulan sekali.

Water Stress Management

Jika media dan pupuk cocok waktu berbuah pun bisa diatur. “Dengan tabulampot, memanipulasi media dan penyiraman lebih mudah sehingga bisa mengatur tanaman agar rajin berbuah. Makanya tak heran mangga pun bisa dijumpai berbuah lebat di pegunungan,” kata Ir. Reza Tirtawinata, ahli buah-buahan di Bogor. Reza juga mencontohkan sukses para pekebun di Cipanas, Bogor, melebatkan mangga dalam pot meskipun harus beradaptasi dengan iklim sejuk di ketinggian 900 dpi.

Untuk tanaman iklim kering, penyiraman hanya dilakukan seminggu sekali. Saat musim hujan disungkup plastik. Pengeringan seperti itu bisa merangsang munculnya bunga. Caranya, tanaman disungkup tanpa disiram selama 5—7 hari atau sampai pucuk daun mulai layu. Setelah itu, lakukan penyiraman, lalu disungkup kembali tanpa disiram selama 7 hari. Perlakuan berulang terus sampai muncul tanda-tanda berbunga. “Biasanya setelah 7 kali perlakuan, bunga akan muncul,” papar Reza yang juga menjadi instruktur di kebun Azis.

Setelah muncul calon bunga, penyiraman mulai dilakukan secara intensif dua hari sekali. Perlakuan pengeringan itu efektif untuk tanaman iklim kering dan basah. Untuk perangsangan buah pada tanaman adaptif iklim normal, bisa diterapkan pengikatan batang dengan kawat sampai ke kambium. Ikatan baru dilepas setelah muncul tanda-tanda berbunga.

tabulampot Nam dok mai
Nam dok mai rajin berbuah di lereng Gunung Salak

Itulah rupanya yang membuat mantan direktur Administrasi dan Sumberdaya Manusia PLN itu jatuh cinta pada tabulampot

Sabtu, 13 Juli 2019

no image

Perawatan Adenium Agar Bebas Dari Serangan Hama

Kaohsiung baru menginjak musim panas, pas untuk melihat adenium bertaburan bunga. Hanya dalam sebulan kondisi tanaman kembali prima usai melewati musim dingin selama 5 bulan.

perawatan adenium terbilang singkat. Bandingkan dengan pekebun adenium di tanah air yang membutuhkan waktu lebih dari sebulan untuk memperbaiki tanaman pascamusim hujan. Padahal, Indonesia beruntung memiliki iklim tropis yang cenderung panas. Sementara Taiwan dalam setahun harus melewati musim dingin suhu di bawah 20°C selama 5 bulan. Kondisi itu membuat adenium merana dan malas berbunga.

Namun, pekebun di Formosa punya cara khusus supaya tanaman cepat berbunga. Mereka melakukan perawatan intensif dan menggunakan teknologi modern. Meski penataan tampak berantakan tetapi tanaman terurus dengan baik. Mawar gurun itu diletakkan di atas rak besi di dalam greenhouse berbentuk tunnel seluas 1—3 ha. Dengan begitu tanaman tidak merana baik musim panas atau musim dingin. Maklum, tanaman sukulen itu bernilai ekonomi tinggi. T.W Lee misalnya, hampir sebulan sekali mengirim 40.000 adenium ke Amerika Serikat, Jepang, dan Eropa.

Kebun beralas mulsa, mencegah tumbuhnya gulma

dari berbagai umur. Mawar gurun jenis baru dan hasil perbanyakan diletakkan di dalam greenhouse berbeda. Tanaman kecil diletakkan di atas rak dekat dinding, tanaman besar ditata di tengah-tengah % greenhouse. Dengan begitu semua bisa menyerap sinar matahari dengan optimal. Tak heran jika Sa-mo mei-guei sebutan adenium di Taiwan tidak berhenti memunculkan bunga. Kuncinya ada pada media dan penggunaan pupuk. Maklum media menjadi dapur sebelum hara disalurkan ke batang, daun, dan bunga. Adenium menghendaki media porous dan kering.

perawatan bunga adenium

Setiap nursery memiliki campuran media masing-masing disesuaikan dengan kondisi tanaman dan cuaca. T.W Lee menggunakan campuran gravel, pasir, peatmoss, perlite, vermiculite, dan jerami sebagai metode dalam perawatan adenium. Perbandingannya tergantung cuaca, misal pada masa musim dingin pekebun lebih banyak menggunakan gravel dan peatmoss ketimbang bahan lain. Alasannya media tersebut lebih porous dan bisa mengikat air lebih lama.

Di Indonesia campuran media itu lazimnya digunakan untuk penanaman tanaman hias secara hidroponik. Leca nama gravel di Indonesia memiliki keunggulan sangat porous, cepat menyerap air, dan mudah dicengkeram akar adenium. Media itu biasanya diletakkan paling atas karena penampilannya unik, bulat seperti kelereng. Sedangkan vermiculite dan peatmoss banyak dimanfaatkan untuk media anggrek lantaran porous dan mengikat air.

Yang istimewa saat proses pencampuran media. Mereka menggunakan mesin khusus yang mampu mencampur semua bahan dengan rata. Pekebun tinggal memasukkan semua media ke dalam mesin. Setelah itu mesin akan mencampur media selama 10 menit. Setelah media tercampur pekebun menyiapkan tray berisi pot. Dalam hitungan 1 menit 32 pot langsung terisi media. Bandingkan jika harus dilakukan satu per satu.

Irit

Supaya tanaman rajin berbunga Lee memberikan pupuk secara intensif. Lee membenamkan 5 kg pupuk kandang asal kotoran ayam setiap 6 bulan. Ayah 2 anak itu memang tidak menambahkan pupuk kimia karena mudah menguap. Suhu di dalam greenhouse yang relatif tinggi membuat pupuk dan air gampang menguap. Namun, ada beberapa pekebun yang memberikan pupuk slowrelease yang ditebarkan di atas media. Pemberian dilakukan setiap 2 bulan.

Meski adenium termasuk tanaman gurun tetapi ia menyukai air. Itu sebabnya perawatan adenium membutuhkan penyiraman intensif. budidayatani menjumpai setiap greenhouse dilengkapi pipa dan sprinkler untuk penyiraman. Untuk greenhouse berukuran 50 m x 4 m dipasangi 6 pipa lateral setinggi 1,5 m.

Di ujung-ujung pipa terpasang sprinkler untuk memancarkan air. Saat penyiraman pekebun tinggal membuka keran. Dengan teknologi seperti itu pekebun tidak membutuhkan banyak tenaga kerja. Untuk kebun seluas 1 ha cukup dikelola 1 orang. Penyiramannya pun lebih merata, dari ujung tanaman hingga media. Frekuensi penyiraman tergantung cuaca. Ketika musim panas penyiraman dilakukan sehari sekali, musim dingin 2 hari sekali.

Tanaman serempak memunculkan bunga

Bentuk tajuk

Meski adenium jarang terserang hama dan penyakit, tetapi perlu dilakukan pencegahan. Greenhouse yang tertutup rapat salah satu pencegahan masuknya hama dan penyakit. Untuk tanaman di luar greenhouse pencegahan dilakukan dengan menjaga kebersihan lingkungan. Semua area penanaman dilapisi dengan mulsa. Dengan begitu pertumbuhan gulma tempat bersarangnya hama terhambat.

Tak cukup itu, di atas mulsa dibentangkan alas pot terbuat dari karet. Tujuannya supaya tanaman tidak menyerap panas berlebihan. Pencegahan lain pekebun rutin memberikan pestisida. Penyemprotan dilakukan sebulan sekali. Dengan cara itu terbukti tanaman tampil prima dan rajin berbunga.

Supaya penampilan adenium tampak rapi dan indah tanaman perlu dipangkas. Pemangkasan biasanya dilakukan saat musim semi, Mei  September. Setelah dipangkas tanaman akan memunculkan tunas-tunas baru. Saat musim dingin pekebun tidak melakukan pemangkasan karena risiko kegagalan tinggi. Pasalnya saat itu tanaman mogok mengeluarkan tunas baru.

Kini model pangkas bertingkat sedang digandrungi kolektor di sana. Dengan model itu pekebun bisa mempercantik tajuk atas dan bawah. Bentuk pangkasan tergantung selera, yang penting proporsional dan indah. Keindahan si ratu gurun itu tak hanya bisa dinikmati dari atas, pun bagian bawah

Jumat, 12 Juli 2019

no image

Budidaya Alpukat Tongar Varietas Unggulan Asal Suriname

Sangatlah Pantas Jawal, pakar buah dari Balai Penelitian Tanaman Buah (Balitbu), Solok, memuji alpukat tongar. Pasalnya, alpukat mega paninggahan varietas paling unggul hasil penelitiannya hanya mampu berbuah 300— 350 kg per tahun. Tongar rajin berbuah karena tak kenal musim. “Setiap hari bisa dijumpai bunga dan buah,” kata Afrizal Nazar, peneliti di Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih (BPSB), Sumatera Barat.

Rasa alpukat tongar pun sulit dilupakan. “Gurihnya khas dan unik, beda dengan yang pernah saya cicipi,” kata Jawal. Ia kian lezat karena bertekstur halus dan lembut. Warnanya pun menarik, kuning seperti mentega. Selain itu 75% bagian buah dapat disantap karena berdaging tebal, 2—3 cm. Yang juga istimewa, bobot rata-rata alpukat tongar 500—900 g per buah. Jenis biasa, 300—500 g per buah.

alpukat tongar

Laris manis Dipasaran

Dengan berbagai sifat, pantas permintaan terhadap anggota keluarga Lauraceae itu meningkat setiap tahun. Tengok saja data hasil penelusuran tim BPSB. Sepanjang 2002 total penjualan alpukat pasaman barat ke Jakarta, Pekanbaru, Batam, Jambi, dan Medan hanya 32 ton. Dua tahun kemudian melonjak hingga 115 ton. Artinya, penjualan meningkat hingga 3,6 kali. Dengan harga di tingkat pedagang Rp5.000 per kg, maka pada 2004 terjadi transaksi senilai Rp575-juta.

Begitulah gambaran penyaluran alpukat tongar ke luar Pasaman Barat. Penjualan lokal pun kurang lebih sama. Pasalnya, perantau asal sentra pinang itu kerap membawa alpukat tongar sebagai buah tangan. Ia pun terkenal sampai ke Padang, ibukota Sumatera Barat, sekitar 135 km ke arah selatan dari Simpangempat, pusat kota Pasaman Barat. Buktinya saat budidayatani bertanya tentang alpukat tongar di Bandara Tabing, jawaban mereka kompak. “Itulah alpukat paling enak dan laris,” kata Okta Sanjaya, pengusaha elektronik di Padang, sesaat sebelum budidayatani meninggalkan Padang.

Sayang, permintaan pasar tinggi tidak diiringi dengan kegiatan penanaman. Alpukat tongar belum dikebunkan secara khusus. Ia tumbuh dari biji di pekarangan sebagai tanaman peneduh, pembatas, dan pagar. Perawatan pun nyaris tidak dilakukan sehingga kualitas di pasaran lokal tidak seragam. Bahkan lambat laun, produktivitas kian menurun dari tahun ke tahun.

Buah “import”Dari Suriname

Tak ada yang tahu pasti siapa penanam pertama alpukat pasaman barat. Konon, itu varietas unggul yang sangat digemari masyarakat Suriname, Amerika Selatan. Ia dibawa oleh masyarakat Jawa yang menjadi pekerja kasar di Suriname. Pada era 1950-an, mereka ke luar dari Suriname untuk bekerja di perusahaan Belanda di Nagari Tongar.

Walau disukai warga Suriname dan Pasaman, bukan berarti alpukat pasaman barat tanpa kelemahan. Menurut Ir Arry Supriyanto MS, bobot alpukat tongar terlalu besar. “Tren buah masa depan berukuran kecil. Cukup untuk 1 orang,” kata spesialis buah dari Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Timur itu. Harap mafhum, dengan bobot 500—900 g per buah, alpukat tongar bisa disantap 2—3 orang. Bila tersisa tak nikmat lagi di lidah karena disimpan terbuka.

Dr Wicaksono, pakar alpukat dari Kebun Raya Bogor, pun sepakat dengan Arry. Menurutnya, alpukat idealnya hanya berbobot 150—250 g per buah. Toh, produktivitas tinggi dan rasa khas yang gurih tetap menjadi daya tarik alpukat tongar. Bukan tak mungkin di masa mendatang ia disilangkan dengan alpukat mini. Hasilnya, muncul alpukat mini, gurih, dan rajin berbuah.

Kamis, 11 Juli 2019

no image

Menikmati Kelezatan Jambu Madu Hijau Jawara Dari Kalimantan Timur

Keputusan juri menyematkan gelar terbaik bagi jambu air madu hijau tidak keliru. Nilai tertinggi dikantongi di setiap parameter penilaian yang dilakukan oleh para juri yang terdiri atas Prof Dr Sri Setyati Harjadi, guru besar Institut Pertanian Bogor; Drs Hendro Soenarjono, pakar hortikultura; Rudi Sendjaja, praktisi pemasaran buah-buahan dan budidayatani.

Penampilan jambu air asal Desa Antutan Kabupaten Bulungan, Kalimantan Timur, itu memukau. Bobot rata-rata 100—135 g per buah. Warna kulit hijau terang dengan semburat merah kecokelatan, licin, dan mulus. Soal rasa, Rudi Sendjaya, pemilik gerai Buah Segar berkomentar. “Manis khas jambu air. Tekstur buah pun padat,” katanya saat mencecap si daging putih kehijauan itu. Keistimewaan lain, daging tebal, juicy, dan tanpa biji. ( Baca : Prospek Dan Nilai Ekonomis Pembudidayaan Jambu Jamaika )

Jambu Air
Jambu Madu hijau

Jambu Air Hasil Cangkokan

Dengan segudang kelebihan itu, tak berlebihan jika budidayatani menyambangi langsung kebunnya di Antutan Maret 2018. Di desa berjarak tempuh 1,5 jam menggunakan speedboat dari Tarakan, Kalimantan Timur, itu Fidelis Tupen Liwun mengembangkan jambu madu hijau di lahan 4 ha. Ratusan buah bergelayut di setiap cabang pohon setinggi 2—3 m. Setiap tangkai digelayuti 3—4 buah. Total jenderal di atas tanah aluvial itu sekitar 1.000 pohon berjarak tanam 5 m x 5 m.

Tanaman dirawat intensif. Pria berusia 55 tahun itu menggunakan kotoran ayam minimal 2 kali sebulan. “Saya tidak menggunakan pupuk kimia karena tanah subur,” kata suami Benedita Barek Koten itu. Pemangkasan batang dan cabang yang mati rutin dilakukan. Gulma
di sekitar pohon dibersihkan. Tak heran bila pada umur 17 bulan sejak tanam, buah mulai dipetik dari pohon asal cangkokan.

Paulus sapaan akrab Fidelis mampu memanen 15—20 kg dari pohon berumur 8 tahun sekali musim. Pria kelahiran Larantuka, Flores, itu tertarik mengembangkan madu hijau lantaran harga menjanjikan. Di pasar Antutan, jambu madu hijau dibandrol Rp 15.000—Rp 18.000 per kg.

Di negeri jiran jambu air madu hijau dikenal sebagai jambu air berkualitas. Di Desa Papar, daerah Kinabalu, Sabah, Malaysia, misalnya, jambu madu dikembangkan secara besar-besaran. Dari sanalah ayah 5 putra itu memboyong bibit berumur 3 bulan ke Kabupaten Bulungan.

Dari kebun Antutan pula, madu merah pemenang harapan LBUN 2018 kategori j ambu air—berasal. Anggota famili Myrtaceae itu pun diintroduksi dari Malaysia. Kualitas buah sama-sama istimewa. “Bentuk lonjong dan warna menarik,” ujar Rudi Sendjaja. Kadar air lebih tinggi ketimbang madu hijau. Sayang, tekstur daging buah kurang padat dan sebagian buah sepat.

Lomba ketat

Kompetisi di kategori jambu air LBUN 2018 terbilang ketat. Perolehan nilai jambu madu hijau dan merah terpaut 0,7. Selain madu hijau dan merah, lomba itu juga diikuti oleh jambu air putih asal Kabupaten Bulungan, Kalimantan Timur; jambu air kapuk milik Ali Marzuki, Kudus; jambu air cilacap andalan Iwan Pirngadi Liem, Cilacap; jambu pihinwai jagoan Fuadi Yatim, Jakarta; dan jambu gelas kebanggaan Suyoto, Balikpapan.

Para kompetitor sebenarnya mampu menyaingi keistimewaan sang jawara. “Jambu pihinwai rasanya enak dan tidak berserat,” kata Hendro. Sayang, penampilan kurang menarik dan ukuran buah relatif kecil. Toh tidak tertutup kemungkinan di tahun mendatang, para pesaing justru yang keluar menjadi pemenang. Syaratnya, kualitas buah mesti lebih istimewa dari madu-madu pemenang LBUN 2018.

Rabu, 10 Juli 2019

Insektisida Pembasmi Dan Pengusir Lalat Buah paling ampuh

Insektisida Pembasmi Dan Pengusir Lalat Buah paling ampuh

Peristiwa dua tahun lalu itu sangat membekas di hati para petani pamelo Magetan. Harapan meraup keuntungan jutaan rupiah akhirnya kandas. Hama utama buah-buahan itu merusak hampir seluruh areal pamelo solusi membasmi lalat buah harus segera ditemukan.serangan lalat buah membuat Buah berjatuhan sebelum matang. Kalaupun ada yang dipanen, buah tak dapat dikonsumsi karena busuk. Kesimpulannya tak serupiah pun bisa dikantongi.

DIPTERA: TEPHRITIDAE juga jadi kambing hitam tersendatnya ekspor buah-buahan Nusantara. Gara-gara setitik tusukan Drosophila melanogaster betina, produk hortikultura khususnya buah-buahan negara kita banyak ditolak. Itu sangat merugikan. Fenomena famili Tripidae itu belum terselesaikan secara tuntas meskipun segala cara telah ditempuh.

Drosophila melanogaster

Angin segar datang, tatkala pemerintah merekomendasikan pemikat lalat buah jantan berupa bahan aktif methyl eugenol. Menurut Sugito, ketua kelompok tani Marko Rukun 5 Magetan, atraktan ini mampu membasmi lalat buah. Buah yang terserang hanya g 8 % saja. Ternyata metode ini menyimpan kelemahan. Yang terjebak oleh perangkap ini hanya jantan. Sehingga sang betina masih aktif menusukkan ovipositor-nya. ( Baca : Cara Efektif Membasmi Lalat Buah Dan Serangga Penggangu)

Harapan menuai untung kembali terkuak, ketika para pekebun mengenal Tracer 0,2 CB. Insektisida alami yang dikeluarkan PT Dow Agrosciences Indonesia itu dipakai pekebun jeruk besar setahun lalu. Alhasil, kerusakan karena fruit fly hanya berkisar 2 % saja. Bahkan ada salah seorang pekebun yang tidak terserang sama sekali. Tracer benar-benar telah mengusir mimpi buruk mereka.

insektisida lalat buah paling ampuh

Tracer 0,2 CB berbahan aktif alami, spinosad. Bahan aktif itu turunan dari hasil metabolisme bakteri Saccharopolyspora spinosa yang efektif membasmi lalat buah, terutama lalat buah. Insektisida alami yang terdiri atas gula, protein nabati, air, dan spinosad itu tidak meninggalkan efek residu pasca aplikasi. Wajar, jika EPA (Environmental Protection Agency), Amerika Serikat memasukkan spinosad dalam program resiko rendah, dan sponosad juga memperoleh penghargaan Presidential Green Chemistry Challange Award 1999.

Awalnya ada juga petani yang kapok setelah memakai Tracer. Insektisida ini seakan-akan tidak berpengaruh apa-apa. Setelah ditelusuri .ternyata hanya satu kali aplikasi saja “Umpan lalat buah ini kurang efektif untuk mengatasi lalat buah jika tidak dibarengi dengan pengendalian lain, dan aplikasinya minimal 6 – 8 kali setiap musim” ujar Endro Gutomo, marketing Service PT Dow Agrosciences. Pengendalian lain seperti sanitasi membersihkan atau membuang buah yang terserang dari areal perkebunan, dan pemasangan perangkap sangat dibutuhkan agar Tracer 0,2 CB bekerja efektif.

Apabila sanitasi telah dilakukan, pasanglah perangkap. Agar tingkat serangan lalat buah termonitor. Jika banyak lalat terperangkap berarti intensitas penyerangan tinggi. Langkah selanjutnya, segera gunakan Tracer 0,2 CB. Dengan dosis dan aplikasi tepat, Selain sanitasi dan monitoring, kebersihan alat-alat juga harus diperhatikan. Peralatan yang kurang bersih bisa menjadi tempat tumbuh mikroba yang akan mencemari campuran di penyemprotan selanjutnya. Untuk menghindari hal tersebut, bilaslah peralatan sebanyak 3 kali.

Obat Lalat Buah

Pengaplikasian Relatif cukup mudah

Tracer 0,2 CB sangat irit. Untuk 1 ha, hanya diperlukan 1 liter Tracer 0,2 CB dalam 10 liter air. Pencampuran harus homogen. Caranya, tuangkan Tracer 0,2 CB ke dalam ember yang berisi 10 liter air sambil diaduk selama 5 menit. Jika larutan sudah tercampur sempurna, tuangkan ke dalam alat semprot. Campuran harus digunakan dalam tempo 24 jam sejak dilarutkan.

Pembasmian Serangga Melalui Penyemprotan Buah Secara langsung

Untuk mempermudah pengaplikasian, sebaiknya menggunakan alat semprot punggung semi otomatis. Nosel yang digunakan berukuran besar, sehingga menghasilkan butiran air 1 mm—4 mm. Berbeda dengan insektisida biasa, penyemprotan Tracer 0,2 CB diarahkan pada bagian bawah daun tanaman, pada luasan kira-kira 1 m2 dari tajuk tanman yang menghadap timur. Penyemprotan dilakukan secara berselang-seling, baik di baris tanaman maupun di lajur tanaman. Penyemprotan selanjutnya diaplikasikan pada tanaman yang tidak disemprot pada tahap pertama, dan begitu selanjutnya.

Hasil Yang memuaskan

Tracer 0,2 CB sebagai sumber makanan dapat mengundang lalat buah, baik jantan maupun betina. Fruit fly yang hinggap menjilat campuran Tracer tersebut. Spinosad yang terkandung di dalamnya dapat melumpuhkan serangga, sehingga lalat buah akan mati. Penggunaan Tracer 0,2 CB dinilai sangat efektif mengatasi lalat buah. Selain bisa meningkatkan produksi, harapan menjadi negara pengekspor buah-buahan dapat terwujud.

Kini, Sugito dan kelompok taninya bebas dari mimpi buruk. Ia memanen 19,6 ton dari lahan 1 ha di Desa Gelotan, Kecamatan Bendo, Kabupaten Magetan. Pil pahit itu kini berubah menjadi madu

no image

Serangan lalat pada tanaman buah

Serangan lalat Buah Pernah terjadi di Alahan Panjang, Kabupaten Solok, Sumatera Barat. Pekebun markisa di sana nyaris gagal panen gara-gara serangan lalat buah Bactrocera tau. Buah yang dipanen dari lahan seluas lebih dari 50 ha rusak 15—25%.

Lalat buah memang hantu menakutkan bagi pekebun hortikultura di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Daya rusaknya bisa mencapai 100% bila tak diatasi. Itu yang dialami pekebun di Malaysia jika pentil buah belimbing dan jambu air tidak dibungkus. Jenis lalat buah spesifik menyerang buah tertentu. Contohnya, Bactrocera carambolae, biasa menyerang belimbing, jambu air, mangga, dan sawo. Semangka, melon, mentimun, dan tanaman dari famili Cucurbitae dirusak oleh B. cucurbitae. Lain halnya dengan B. umbrosa yang menyerang nangka dan beberapa tanaman dari famili Moraceae. Sedangkan B. tau dan B. albistrigatra masing-masing merusak markisa dan jambu biji.

Serangan lalat Buah
Bactrocera tau merusak buah markisa

Metode efektif

Sifat khas hama itu adalah meletakkan telurnya di dalam buah. Itu ditandai dengan adanya titik kecil hitam yang tidak terlalu jelas. Noda-noda kecil bekas tusukan ovipositor itu merupakan gejala awal serangan lalat buah. Telur yang menetas menghasilkan larva. Selanjutnya larva akan merusak daging buah sehingga buah busuk dan gugur sebelum masak. Meski jenis lalat yang menyerang masing-masing buah berbeda tapi ada cara penanganan paling efektif. Yaitu, membungkus buah dengan kertas atau plastik.

Pembungkusan sebaiknya dilakukan sedini mungkin—sejak buah pentil atau muda—untuk mendapatkan hasil optimal. Meskipun paling efektif tapi cara ini memiliki kelemahan. Butuh biaya besar dalam pelaksanannya. Pekebun belimbing di Depok, Jawa Barat, mengeluarkan biaya Rpl.400.000/musim untuk membungkus buah. ( Baca : Teknik Pembungkusan Buah Untuk Menghindari Ulat Buah Dan Hama Penggangu )

Alternatif lain menggunakan seks feromon. Bahan pemikat itu biasanya diletakkan dalam perangkap botol plastik atau tabung silinder. Lalat buah dipancing masuk dengan menggunakan metyl eugenol. Di dasar botol perangkap diisi air sehingga lalat buah akan mati tenggelam. Kekurangannya, umpan metyl eugenol hanya menarik lalat jantan. Lalat betina masih bebas berkeliaran.

Ditekan perlahan

Serangan lalat Buah juga dapat dikendalikan dengan menggunakan serangga jantan madui. Secara teori cara ini cukup ampuh karena populasi lalat di alam secara perlahan ditekan. Itu lantaran telur yang dihasilkan dari perkawinan lalat jantan mandul dengan lalat betina menjadi steril. Saat berumur 1— 2 bulan, lalat betina dan jantan mandul yang dilepas mati dengan sendirinya.

Cara lain mengusir lalat buah adalah dengan memanfaatkan musuh alami, baik predator, parasitoid, maupun patogen. Predator yang cocok adalah bangsa laba-laba, kumbang carabid dan staphilinid, serta beberapa jenis semut. Jenis parasitoid Braconidae, Calcidae dan Eulophidae menyerang lalat buah stadia pradewasa. Sedangkan dari kelompok patogen ada Beuveria bassiana.

Pestisida atau senyawa kimia dengan efek residu rendah masih banyak digunakan. Sayang, penyemprotan dengan insektisida sering tidak tepat sasaran, mengingat sifat lalat buah yang selalu bergerak.

Protein bait

pencampuran protein hidrolisat yang merupakan makanan lalat buah dengan insektisida—juga dapat digunakan. Namun, cara ini belum populer dilakukan di Indonesia. Daya jangkau tidak terlampau luas, tapi daya bunuhnya tinggi. Jika lalat buah mengkonsumsinya, bisa dipastikan langsung Mati

no image

Pesta Buah "Kadu" Di Sentra Durian Serang

Pagi menjelang siang pada penghujung Januari 2018 itu suasana di Kampung Bojong, Desa Sayar, Kecamatan Kepandean, Serang, begitu riuh. Hari itu budidayatani beserta beberapa mania durian memburu raja buah di “sarangnya”. Tanda-tanda Kampung Bojong sekitar 1 jam perjalanan dari pintu tol Cilegon Timur sebagai sentra durian terlihat sejak rombongan memasuki mulut desa.

Di kiri-kanan jalan desa yang berbatu terlihat deretan jongko-jongko penyedia kadu sebutan buah Durio zibethinus di sana. Beberapa kali kendaraan yang membawa rombongan disalip motor yang membonceng keranjang berisi buah berduri. Sebuah mobil bak terbuka sarat durian terparkir di salah satu jongko besar.

Sentra Durian
Kios-kios kakilima mudah ditemukan di Serang

Buah Kadu Rasa Nano-nano

Aroma khas anggota famili Bombaceae itu langsung menguar begitu jendela mobil dibuka. “Wah, harumnya…,” kata Yacoba Weroe. Sambil menikmati aroma si raja buah, perempuan enerjik yang kerap disapa Ibu Yon itu terkenang pada si meong dan si apel. Kelezatan 2 durian itu membuatnya “jatuh cinta” pada durian-durian asal Kepandean.

Tak salah memang. Begitu tiba di lokasi, budidayatani dan rombongan langsung disuguhi beragam jenis kadu. Lantaran berasal dari pohon berbeda, bisa dipastikan sosok dan rasanya “nano-nano”. Misal saja si kasur. Penampilannya menarik dengan bentuk bulat memanjang dan berkulit hijau muda. Durinya lancip dan langsing bersusun padat. Waktu dibelah, terlihat daging berwarna kuning menarik. “Waw, luar biasa,” cetus Onny Untung, pemimpin redaksi budidayatani. Daging si kasur tebal, manis sedikit pahit, dan berbiji kecil. Sayang, aroma kurang Tajam

Lidah kian dimanjakan waktu giliran si kelipatan yang dibelah. Citarasa daging buah yang kuning, manis pahit sedikit gurih seperti mengandung susu. Si kelipatan pun tebal dan berbiji kecil. “Makan 1 juga cukup,” kata Rudi Sendjaja. Toh, itu tak mengurungkan pemilik toko buah Segar di Muarakarang, Jakarta Utara, itu untuk mencicipi si pendil. Durian berbelimbing itu berdaging kering, manis, dan bertekstrur lembut.

Jenis lain yang tak kalah enak si bayedepa yang manis sedikit pahit, si salak bercitarasa manis legit dan kering, atau si galeng yang harum dan manis. Pilihan lain si buyung yang berbiji hepe, berdaging tebal, dan harum. Setiap durian di Kepandean memang punya sebutan masing-masing. Konon supaya si buah berduri tidak jatuh menimpa kepala orang yang lewat di bawah pohon. Penyematannya tergantung selera si pemilik pohon. Apapun namanya, “Pokoknya semua enak-enak,” kata JK Soetanto, pemilik perusahaan agribisnis PT Bogatani.

Duren kasur
Duren kasur, berdaging tebal dan biji hepe

Buah Durian Favorit

Dari 20-an jenis yang dicicipi si kelipatan dan si cengkol jadi favorit. Lezatnya si cengkol masih terasa meski buah ludes dilahap. Daging buah Durian yang bercitarasa perpaduan pahit dan legit, lengket di lidah dan tenggorokan. “Ini paling cocok buat mania durian. Kalau sudah makan yang ini, durian lain lewat,” cetus Soetanto.

Pantas jika beberapa anggota rombongan langsung memesan buah duri berbelimbing itu untuk oleh-oleh pulang ke rumah. Sosok kecil, tidak jadi masalah. Saat memilah-milah durian untuk oleh-oleh itulah suara gedebuk mengagetkan semua orang. Si pendil jatuh dan langsung diserbu Henky Setiawan Umar pengusaha cat yang mania durian. Lembaran Rp 10.000 kontan dibayar meski rekanan Soetanto di PT Bogatani sudah memborong jenis-jenis lain.

“Pesta kadu” di penghujung Januari itu berlokasi di kebun milik Halili dan Syamsul Maarif. Kakak beradik itu sudah belasan tahun menerjuni “dunia” raja buah-buahan. Saat ini mereka mengelola 4 kebun semua di Kepandean berisi ratusan pohon tua berumur puluhan tahun. budidayatani melihat pohon si kunir setinggi 20 m. Untuk memeluk batangnya dibutuhkan 5 orang. Seluruh durian, dipanen jatuhan. Begitu jatuh langsung ludes di kebun.

Maklum, sudah banyak penggemar durian yang jadi pelanggan. “Malah Pak Bupati Serang juga sering memesan,” kata Halili. Biasanya sambil menikmati durian di saung-saung sederhana, mereka berpesta ayam dan ikan bakar. Segelas kopi pahit pun selalu menyertai.

Hampir setiap hari selama musim panen, Januari hingga Maret, saung-saung di sana dipenuhi pengunjung. Di penghujung Januari itu, kala hari merembang petang, budidayatani dan rombongan bergegas meninggalkan lokasi. Tangan kiri dan kanan dipenuhi tentengan durian. Sambil berpacu menuju Jakarta, aroma sang raja buah pun menyeruak di dalam kendaraan

no image

Nanas Obelum Buah endemik Dari Wamena

Enaknya nanas berukuran 2 kepalan tangan, berbobot 0,5 kg itu Sudah diduga sebelumnya. Penampilannya menarik, berkulit kuning cerah. Beberapa pembeli di Pasar Jibama pun memilih nanas itu ketimbang 2 jenis lain yang berukuran 2 kali lebih besar. Padahal, biasanya masyarakat Papua cenderung menyukai ukuran jumbo. Toh, nanas obelum tetap disuka. “Sekali makan, kita bisa menghabiskan 3 buah,” ungkap Jomin yang diamini rekan-rekannya di pasar.

Sebutan obelum rupanya kurang memasyarakat. Beberapa penduduk Wamena yang budidayatani temui tak mengenal nama Ananas comosus berbentuk bulat itu. Tak terkecuali Orva Wenda yang membawanya dari Bogondini,  kota kecamatan di Tolikara. “Saya menyebutnya nanas kuning saja. Toh orang-orang tidak akan keliru,” tuturnya. Perempuan yang kini berprofesi sebagai pengumpul buah merah itu menyelipkan belasan nanas di dalam mobil carterannya.

Nanas Kuning
Nenas Wamena

Nanas Bertekstur Kering

Menurut Orva, selama ada nanas kuning jenis lainnya kurang laku. Itu lantaran nanas kuning memiliki banyak kelebihan. Rasanya sangat manis hampir menyamai mangga arumanis. Berdasarkan pengalaman budidayatani mengunjungi sentra-sentra nanas di Lombok, Riau, Palembang, Blitar, Boyolali, dan Purwokerto, belum pernah ditemukan nanas selegit obelum. Bahkan nanas madu dari Subang, Jawa Barat, yang terkenal manis pun masih kalah. Sayang, tingkat kemanisannya belum pernah diukur.

Dagingnya yang kuning hanya sedikit mengandung air sehingga tampak kering. Terbukti hanya menggunakan serpihan mika bekas wadah kartu nama buah dengan gampang dibelah menjadi 2 bagian. Lalu dengan tangan kosong tanpa alat apa pun buah yang sudah terbelah dipatahkan sedikit demi sedikit. Karena memang kering, tekturnya regas dan tidak ada air yang    menetes sama sekali ketika dimakan.

Yang istimewa, empulur atau hati buah sama enaknya dengan daging buah: renyah dan manis. Pantas kalau Jomin berujar, “Tak ada yang terbuang jika Bung memakan obelum.” Toh jika tak mau dikatakan rakus, tidak rugi membuang empulurnya yang sangat kecil. Panjang empulur cuma 2/3 panjang buah dan sempit, bergaris tengah 1 cm, meruncing di bagian ujung.

Lantaran itu pula dagingnya yang halus tampak lebih tebal. Apalagi jarak antarmata berjauhan, sehingga rendemen dipastikan lebih tinggi dibanding nanas-nanas lain. “Mata buah dangkal. Makanya sewaktu mengupas cukup dicongkel, jangan dibuat alur spriral agar tidak banyak daging terbuang,” anjur Jomin.

Tumpang sari

“Obelum mungkin nanas endemik Wamena. Di tempat lain saya belum menemukan nanas spesifik seperti itu,” ujar Dr Mohammad Reza Tirtawinata, pakar buah-buahan di Bogor. Kalaupun ukurannya nyeleneh kecil bisa jadi karena nanas belum dianggap komoditas penting. Berbeda dengan hipere sebutan ubijalar di Wamena yang menjadi makanan utama masyarakat di pegunungan sana. Bobotnya mencapai 2—3 kg per umbi, nyaris sebesar kepala.

Herbagiandono ahli nanas dari Bandung, juga masih asing dengan nama obelum. “Ada memang nanas berukuran kecil-kecil yang disebut nanas rakyat. Nanas ini bobotnya berkisar 6—8 ons per buah,” katanya. Kulit nanas rakyat kuning kemerah-merahan, daging padat, dan rasanya manis. Ia tersebar antara lain di Boyolali, Jember, dan Salatiga. Di Bondowoso penduduk mengenalnya nanas oling karena daunnya kecil-kecil sebesar belut (belut di Jawa disebut oling, red). Sedangkan di Purwokerto populer sebagai nanas batu.

Di Wamena, obelum bisa dengan mudah ditemukan sepanjang waktu. Meski dalam jumlah terbatas, setiap hari para pekebun buah dan sayuran dari berbagai penjuru Wamena menjualnya di Pasar Jibama. Maklum sampai sekarang belum ada yang mengebunkan nanas secara intensif. Ia masih ditanam sebagai tanaman pekarangan atau pagar pembatas. Paling banter ditumpangsarikan dengan tanaman pisang.

“Saya tengah mengembangkan di Desa Bolakme hingga ribuan tanaman, karena sebetulnya nilai jual obelum cukup lumayan,” kata Jomin. budidayatani membeli dari pedagang pengecer Rp 10.000 untuk 3 buah pada Februari lalu.

no image

Kelapa Pandan Wangi Mini Dan Kopyor, Dua Varietas Kelapa Unggulan

Meski bersemat nama kopyor, daging pandanwangi tidak seperti kopyor di Indonesia. Tekstur daging buahnya lebih mirip nata de coco. Kenyal dan menempel di tempurung sehingga mesti disendok kuat-kuat supaya terlepas. Daging kelapa kopyor lokal lunak, menggumpal, dan tidak sempurna menempel di tempurung. Sebagian malah terapung-apung berbaur dalam air.

Daging buah Cocos nucifera pandanus amaryllifolius tebal sekali, sekitar 2—2,5 cm. Bagian dasar daging berwarna putih; atas, bening. Rasanya manis. Aroma khas wangi pandan tetap tercium. Volume air sedikit bahkan nyaris tidak ada. Diameter buah rata-rata 15—18 cm dengan bobot 600—750 gram—pandanwangi biasa, sekitar 900 g/buah. Di restoran-restoran Thailand, pandanwangi kopyor kerap disuguhkan sebagai bahan campuran minuman dan makanan ringan.

Kelapa Pandan Wangi

Kelapa Pandanwangi Mini

Sebutan mini memang pantas disandang pandanwangi mini. Sosok tanaman dan Buah Memang serba mungil tinggi batangnya maksimum hanya 2 meter. saat sarat buah, dengan mudah anak berusia 8 tahun memetik tanpa mesti berjinjit. Jumlah buah ratusan, tak heran bila orang Thailand menyebutnya “kelapa seratus”. Penampilan batang yang dipenuhi buah, mirip dengan leher wanita dikalungi mutiara bersusun 3 yang dipilin.

Ukuran buah pun ikut mini. Diameternya hanya 8—10 cm dengan bobot 150—200 gram/buah. Lebih kecil daripada kelapa gading. Pantas daging buah pun tipis, hanya setebal 0,5 cm. Volume airnya sekitar 120 ml per buah. Kira-kira setara 1 gelas air kemasan. Namun, rasa manis dan aroma pandannya kuat sekali. Hotel dan restoran banyak menggunakan si mini sebagai welcome drink atau sajian istimewa. Dengan ukuran mungil ia tidak terkesan mengenyangkan.

Sebenarnya pandanwangi kopyor dan mini bukan benar-benar jenis baru di Thailand. Hanya saja semula keduanya kalah populer ketimbang pandanwangi “asli”. Maprao nam-hom (maprao=kelapa, nam-hom = wangi) disajikan mulai dari acara-acara bertaraf internasional di hotel berbintang sampai kedai-kedai tepi jalan. Hampir semua orang dari segala usia dan bangsa menyukai kelapa muda beraroma khas itu. ( Baca : Pemanfaatan Limbah Sabut Kelapa Secara Komersil Menjadi Cocofiber, Cocodust Dan Cocopea )

Selain disuguhkan utuh dan segar, pandanwangi juga dihidangkan dalam bentuk kelapa bakar. Tampilannya pun dibuat menarik, mulai bentuk piramid sampai batok mulus dalam kemasan plastik hampa udara. Provinsi Pathunthani, Samut Songkhram, dan Ratburi merupakan sentra pandanwangi mutu kelas satu andalan ekspor.

Kelapa Pandan Wangi Laris-manis Dipasaran

Belakangan si kopyor dan si mini mulai naik daun lantaran punya karakter berbeda dengan aromatic coconut biasa. Buktinya di arena Kasetsart Fair 2005 di Bangkok, pada 28 Januari 5 Februari 2005, hampir setiap stan menjual keduanya. Stan yang menyediakan contoh buah untuk dicicipi pasti dipenuhi pengunjung. Harga jual sama dengan pandanwangi biasa 10 -15 baht setara Rp2.500—Rp3.750 per buah. Bibitnya pun laris terjual dengan harga 20—40 baht per buah atau Rp5.000—Rp 10.000. Kelapa hibrida cuma dijual 5—10 baht atau Rp 1.250—Rp2500 per bibit.

Buat para pekebun, menanam si kopyor dan si mini pun menguntungkan. Sama seperti pandanwangi biasa, keduanya genjah. Pada umur 2,5 – 3 tahun buah mulai dipanen. Kelebihannya, produktivitas kopyor dan mini lebih tinggi. Dengan umur sama, produksi pandanwangi 80—100 buah per pohon. Si kopyor dan mini mencapai 100—150 buah.

Apalagi sosok tanaman pendek, hanya 2—2,5 m, sehingga buah mudah dipanen. Maprao nam-hom biasa mencapai 5—7 m. Pantas bila kopyor dan mini membuat pandanwangi kian diminati.

no image

Keunggulan Menanam Mangga Chokanan Dibandingkan Jenis Mangga Lainnya

Pemandangan langka di lahan seluas 300 ha di Kecamatan Panceng, Gresik, Jawa Timur. Itu hasil kerja PT Galasari yang menggandeng pekebun sukses dari Thailand sejak 2003. Letak kebun sekitar 37 km dari kota Gresik ke arah Barat Laut, atau melewati Jalan Raya Daendels menuju Tuban.

Adisucipto menyaksikan, barisan chokanan dengan jarak tanam 6 m x 3 m. Dari setiap pohon muncul 32—60 mangga sebesar kepalan tangan orang dewasa. Tangkai buah rata-rata digelayuti 5 – 6 buah. “Saking banyaknya, cabang hampir patah,” kata Ermanu SE, presiden direktur PT Polowijo Gosari induk perusahaan Galasari. Kebun itu kian menarik lantaran pohon pendek, hanya 2,5-3 m. Setengah batang bagian bawah berasal dari mangga arumanis berumur 14 tahun. Buah muncul dari batang atas mangga chokanan yang disambung 2—3 tahun silam. Total jenderal saat ini ada 50-ribu pohon. Itulah kebun chokanan satu-satunya di Indonesia yang dirawat intensif.

Mangga Chokanan
Mangga chokanan

Chokanan Berbuah Diluar musim

Kebun itu juga istimewa karena berbuah di luar musim. Ia dimanipulasi agar berbuah pada Januari dan April. Empat bulan lebih lambat dibanding panen raya mangga terutama arumanis pada September November. Itu bertujuan agar harga chokanan stabil. Harap mafhum, saat arumanis, banjir di pasaran, harganya melorot hingga Rp 1.500 per kg.

Arumanis sulit dimanipulasi agar panen di luar musim. Dengan perlakuan “Dengan chokanan, memproduksi mangga di luar musim bukan mimpi di siang bolong,” katanya. Pasalnya, keberhasilan bunga menjadi buah tinggi. Dari 1 cluster bunga bisa muncul 5—6 buah. Bandingkan dengan arumanis yang hanya 1—3 buah untuk setiap cluster. Produksi meningkat menjadi 120—160 atau 40 kg per pohon saat berumur 5 tahun.

Panen Secara Terus-menerus

Tak hanya Galasari yang mengebunkan chokanan. Nun di Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, ada Tjendra Jaya Kuswari. Bedanya chokanan milik pengusaha otomotif itu berasal dari bibit yang diokulasi sejak kecil. Saat ini terdapat 2.000 batang chokanan berumur 2—5 tahun di atas lahan seluas 5 ha. Dari 300 pohon berumur 5 tahun dipetik 50 kg per pohon. Akhir Februari chokanan kembali berbunga lebat. Tjendra memprediksi mulai Mei buah bakal dipanen terus-menerus.

Mangga asal Thailand itu dipilih karena rasanya lezat. “Saya sudah berkeliling Asia Tenggara, chokanan paling lezat dan mudah dirawat,” kata Tjendra. Chokanan manis, lembut, harum, dan agak berserat. Bahkan, saat dipetik langsung dari pohon sudah terasa manis, walau kematangan kurang dari 80%.

Hasil panen dari kebun Galasari mulai dipasarkan ke pasar-pasar swalayan. Misal di gerai-gerai Carefour di Jakarta dengan label mangga Thailand. Lantaran sosoknya yang mungil, agak berbentuk oval, dan berwarna kuning, chokanan kerap disangka mangga podang. Mangga asal Kediri itu memang berkulit kuning— sebagian bersemburat merah—tapi lebih bulat. Karena itu Galasari perlu menempatkan Sales Promotion Girl (SPG) untuk mengenalkan chokanan. Begitu pelanggan tahu itu mangga asal Thailand, chokanan seharga Rp9.000 per kg langsung ludes. “Dijual murah dulu untuk perkenalan,” kata Budi. Di Medan, chokanan dijual di toko buah khusus. Harganya di atas Rp20-ribu per kg.

Buah bergelayutan di pohon pendek

Munculnya 2 kebun chokanan yang berbuah di luar musim menjadi kabar baik buat mania mangga. Mereka dapat tetap menikmati mangga di saat arumanis—jenis paling menguasai pasar—langka. Pemilik kebun pun beruntung lantaran chokanan dihargai mahal.

no image

Implementasi Flat And Drain System Pada Perkebunan Strawberry

Gebrakan yang dibuat oleh pekebun stroberi di Parongpong, Bandung, itu sudah dipertimbangkan masak-masak. Dua tahun sebelumnya, Supriatin telah mempelajari aplikasi flat and drain system dari berbagai buku rujukan. “Teknologi ini sebetulnya sudah diterapkan oleh pekebun stroberi di Amerika Serikat. Ia disukai karena bisa diterapkan di luar maupun di dalam greenhouse,” ujar pemilik Vin Strawberry Orchad itu.

Dibandingkan sistem budidaya secara vertikal dan horizontal dengan teknik dripping, cara kalifornia memang lebih unggul. Keunggulan itu terukur secara signifikan. Kelebihan nutrisi, misalnya, pada cara vertikal dan horizontal, akan terbuang. Jika setiap polibag mendapat asupan 100 ml nutrisi per pemberian, setidaknya sekitar 50% nutrisi yang tidak terserap akar terbuang percuma.

Dengan cara kalifornia, kelebihan nutrisi itu akan berputar dan ditampung kembali ke tangki. Prinsip kerjanya mirip closed system pada tambak udang. Pada closed system sirkulasi air di tambak akan berputar sebelum masuk dan keluar kembali dari reservoar. Cara kalifornia pun efektif mendeteksi kekurangan nutrisi pada tanaman. “Selama ini kekurangan unsur nutrisi pada cara vertikal dan horizontal terdeteksi melalui pengamatan morfologi. Dengan cara ini jika salah satu unsur nutrisi kurang, komputer langsung memberitahu tanpa perlu menunggu keluarnya gejala pada tanaman,” papar Supriatin.

Perkebunan Strawberry
Penanaman cara kalifornia efisien dalam pemakaian nutrisi

Komputerisasi Sesuai sebutan aslinya, flat, cara kalifornia memang dibuat bertingkat. Supriatin merancang 3 tingkat. Jumlah tingkat sebetulnya dapat diatur sesuai keinginan. Namun, semakin banyak tingkat mempersulit penentuan kecepatan aliran nutrisi dari tangki ke masing-masing pipa. Maklum meski tangki nutrisi sama, tapi perhitungan besar tekanan berdasarkan ketinggian berbeda-beda. Posisi pipa paling atas akan butuh daya dorong lebih besar untuk memperoleh nutrisi daripada pipa di bawahnya.

Pipa yang dipakai adalah PVC dengan panjang 20 m dan berdiameter 10 cm. Diameter pipa disesuaikan dengan diameter lubang tanam yang akan dibuat. Dengan perbandingan 1:1 itu akar nantinya leluasa tumbuh tanpa takut kekurangan asupan nutrisi karena kompetisi antartanaman. Posisi pipa perlu diatur sedemikian rupa. Idealnya ia mirip piramida dengan kemiringan sekitar 30°. Satu set piramida memuat 6 pipa. Untuk menjaga posisi pipa tetap lurus, pada jarak tertentu dibuat penyangga dari kayu. Setidaknya untuk panjang 20 m diperlukan 5 penyangga. Namun, jika pekebun sudah memiliki alas seperti pada budidaya vertikal atau horizontal, maka penyangga tidak lagi diperlukan.

Ujung setiap pipa ditutup dan diberi katup input dan output. Setiap katup input terhubung pararel dengan pipa dari tangki nutrisi. Begitu pula katup output dari tiap-tiap pipa akan bermuara pada pipa besar yang tersambung langsung ke tangki nutrisi. “Karena aliran masing-masing katup output ke bawah ia disebut drain. Sebab itu keseluruhan sistem diberi nama flat and drain system,” kata Supriatin.

Setiap 15 menit

Lubang tanam pada pipa berukuran lebar 10 cm. Jarak antarlubang tanam sekitar 35 cm. Setidaknya untuk pipa 20 m dapat menampung 30 buah lubang tanam. Sebagai rumah tanaman dipakai pot berdiameter 15 cm. Alas pot dibuang sehingga setelah dilekatkan di atas lubang tanam ia tampak tembus ke dalam pipa.

Sebagai media dipakai rockwooll. Selain mampu menjepit tanaman, media berbentuk serabut cokelat itu mampu menahan nutrisi. “Rockwooll pun dapat dipakai dalam jangka waktu lama hingga 6 kali siklus produksi. Setelah itu ia disterilisasi untuk digunakan lagi,” papar Supriatin.

Tidak seperti cara vertikal dan horizontal yang meletakkan tangki nutrisi di atas, flat and drain system justru mensyaratkan posisi tangki ditanam dalam tanah. Perbedaan ini mempertimbangkan aspek keamanan dan kemudahan memanfaatkan efek gravitasi saat nutrisi keluar dari katup output.

Untuk mengetahui segala kebutuhan tanaman melalui komputer, tangki nutrisi dilengkapi sensor pH dan sensor electric conductivity (EC). Pada tangki juga dipasang pengatur waktu yang berfungsi menjadwal kapan pompa harus bekerja mengantarkan nutrisi ke seluruh jaringan pipa.

Menurut perhitungan Supriatin setiap pipa harus teraliri selama 15 menit dengan interval surut setiap 3 menit. Begitu seterusnya. Cara ini mirip prinsip kerja ebb and flow pada hidroponik. “Yang agak sulit menentukan kecepatan aliran di tiap pipa supaya ketinggian aliran dari input dan output sama,” papar Supriatin. Maklum posisi pot di ujung katup input akan lebih mudah terendam dibandingkan posisi di ujung katup output. “Ketinggian aliran harus bisa sama dalam kurun 1—2 menit,” papar Yanto Pancaika, alumnus Teknik Elektro Universitas Maranatha, Bandung, yang mendesain cara kerja flat and drain system itu.

Teknologi mahal terintegrasi komputer

Mahal

Dengan mengadopsi teknologi komputerisasi, investasi untuk mengembangkan Flat and drain system tidak murah. Menurut perhitungan Supriatin untuk 1 set bidang berukuran 1 m x 20 m terdiri dari 6 rak lengkap beserta seluruh sistem yang mengiringinya menelan biaya Rpl00-juta. Bandingkan dengan cara vertikal dan horizontal yang hanya Rp 160 juta per 1.000 m2.

Meski unggul secara aplikasi, sistem ini bukan tanpa kelemahan. “Sekali tangki tercemar atau tanaman terserang hama, seluruh unit akan habis terkena,” ujar Supriatin. Sebab itu aplikasi flat and drain system membutuhkan sumberdaya manusia yang benar-benar andal. Semua untuk meminimalisir kerugian yang akan ditimbulkan.

Minggu, 07 Juli 2019

no image

Analisis Dan Prospek Budidaya Cokelat Ditanah Air

Memasuki musim tanam 2018, dua konsultan cantik datang dari Maryland, Amerika Serikat, ke sarang saya, di Ratu Plaza, Jakarta. “Indonesia harus segera meningkatkan produksi cokelatnya!” kata mereka.

Lebih tegas lagi, dua gadis yang masih tergolong remaja itu yakin, agribisnis, agroindustri, bahkan agroforestri bisa mengangkat daya kompetisi bangsa ini. Bagaimana bisa? Bukankah ekspor cokelat kita sulit menembus pasar karena kadar air yang tinggi dan masalah jamur?

Betul. Namun lihat, konsumsi cokelat dunia terus melonjak. Pengepul dan importir biji kakao (cacao beans‘) yang besar di San Diego menyatakan besar-besar: Out of Stock—persediaan habis. Bukan hanya di Kalifornia, tapi di seluruh dunia. Kakao yang genap 500 tahun lalu dibawa Columbus sebagai oleh-oleh untuk raja Ferdinand di Spanyol, kini menjadi kegemaran di mana-mana.

Mungkin karena remaja tumbuh berlimpah hampir di banyak negara. Atau mungkin juga karena industri pengolahan cokelat berkembang luar biasa. Bukan hanya permen cokelat yang mereka lahap, tapi juga eskrim cokelat, roti cokelat, susu cokelat, dingin maupun panas. Manis, pahit, maupun tawar. Hasil riset mutakhir menyatakan perempuan lebih suka diberi cokelat daripada diajak bermain cinta.

cacao beans
cacao beans

Salah satu, dari dua konsultan cantik itu benar-benar mempesona. Wajahnya oval, matanya cokelat berkilap-kilap. Ia mengingatkan saya pada sobat karib saya di masa remaja. Ah, apa kabar si Cokelat Panas?

Begitu saya memanggilnya. Saya tahu, tidak semua orang suka cokelat. Satu di antara 500 penduduk, bahkan punya kemungkinan alergi terhadap cokelat. Namun, teman saya yang satu ini, betul-betul suka cokelat panas. Pertama kali kami minum berdua, di Jalan Sabang, Jakarta Pusat, pada 1977. Harganya waktu itu hanya Rp250 secangkir, tapi kurs US$1 sekitar Rp425.

Sekarang, berapa secangkir cokelat dingin di warung donat terdekat? Minimal Rp7.500 kan? Berarti telah meningkat 30 kali lipat. Namun, itu pun belum seberapa jika dibandingkan dengan cokelat panas yang kita nikmati di New York, Paris, atau Tokyo. Pada suatu sore si Cokelat Panas mentraktir saya dengan 2.000 yen, setara Rp 150.000, secangkir, dalam sebuah kafe yang hangat di kawasan Shinjuku.

Terus terang, si Cokelat Panas itulah yang banyak memberikan inspirasi. Ia berpendapat dari sisi bisnis keanekaragaman hayati di Indonesia baru berarti bila masyarakat telah mampu mengolahnya. Jadi, setiap kali sampai di satu daerah, saya diminta mengumpulkan berbagai macam snack, makanan setempat. Naluri kita pada kekayaan alam perlu lebih diperkuat. Jangan bicara Indonesia subur, makmur, dan tergolong mega-diversity, kalau tak punya macam-macam kudapan.

Seperti lazimnya TKI di luar negeri, si Cokelat Panas juga membuktikan diri bahwa orang Indonesia bisa juga gila kerja, workaholic, seperti koleganya di Jepang. Kalau saja kerja-keras itu bisa dilakukan di dalam negeri, seluruh Indonesia sudah kaya raya. Apalagi saat terjadi krisis moneter (1997—2002), ketika para petani kakao di Sulawesi dan Sumatera berlimpah berkah.

Melejitnya nilai dolar—atau lebih tepat: anjloknya rupiah—membuat semua komoditas ekspor betul-betul tampil sebagai kursi roda bagi ekonomi negeri yang lumpuh. Sekadar contoh, harga pasaran kakao mentah di Amerika Serikat mencapai US$350 untuk setiap kantong berisi 22 lbs atau sekitar 10 kilogram. Penghasilan besar itu ternyata telah menina-bobokan pekebun dengan komoditas ekspor.

Sayangnya, harga yang bagus tidak menuntun perencanaan jauh ke depan. Alam subur, keragaman flora dan fauna justru membuat kita terlena. Tidak merasa perlu banting-tulang, apalagi bersaing.

“Indonesia bisa menjadi kompetitif sebagai produsen cokelat,” kata konsultan cantik itu lagi. Tunggu sebentar, nona!

Saya lahir dan besar di pedesaan Jawa. Sejak kecil sudah kenal pohon kakao. Di kebun kakek saya yang rimbun, ada beberapa batang sejak 1960-an. Kalau sedang panen, buahnya berlimpah sampai membusuk. Kami tidak tahu mengolahnya! Hanya nenek yang suka menjemur biji-bijinya, untuk disangrai bersama biji kopi, ditumbuk dan diseduh. Rasanya pahit-pahit sedikit, tidak selezat yang dikirim ke Swiss dan balik lagi dengan harga seratus kali lipat itu!

Itulah tragedi cokelat alias kakao. Masyarakat perdesaan kita hanya pintar menanam, tanpa tahu bagaimana mengolahnya. Setelah panen, hasilnya menunggu dibeli tengkulak. Padahal, duit akan mengucur setelah bahan baku diolah. Aspek finansial cokelat sangat besar setelah menjadi komoditas perdagangan.

Camilan dan kecantikan

Nama latin buah cokelat adalah Theobroma cacao. Bila diterjemahkan kata perkata, cacao berarti camilan para dewa. Itulah nama yang diberikan oleh ilmuwan Swedia, Carl von Linnaeus, sejak 1753. Semula cokelat termasuk biji-bijian rimba, yang berasal dari hulu kawasan Amazon. Sekarang cokelat merupakan afrodisiak (makanan pembangkit gairah) yang paling laku di seluruh penjuru dunia. Kakao adalah sumber magnesium nomor satu di antara seluruh makanan.

Jauh-jauh hari sebelum itu, sekitar abad ke-4 dan 5 Masehi, biji kakao telah memasyarakat di kalangan bangsa Indian kuno. Menurut sejarawan terkenal Francisco Salazar di istana Kaisar Montezuma, penguasa Aztec, gudang cokelatnya berfungsi sebagai sebuah bank. Di sana tersimpan hampir satu milyar biji kakao setiap hari. Setiap butir dimasukkan kotak berisi 400 butir, dan dihitung cermat. Mengapa?

Pada masa itu biji kakao mentah dipakai sebagai mata uang. Sebutir biji kakao nilainya sama dengan sebuah jambu. Seekor ayam kalkun betina senilai dengan seratus biji kakao. Sedangkan seekor anak kelinci cukup dengan 30 butir kakao. Jadi, biji kakao pernah berfungsi sebagai uang, yang sekaligus juga dapat dimakan.

Berbagai penelitian farmasi menunjukkan kakao mengandung arginin (semacam viagra alamiah), serotonin (pengantar antistres), tryptophan (asam amino penahan depresi) dan polyphenol yang berfungsi sebagai antioksidan. Kandungan antioksidan dalam kakao, menurut riset di Universitas Cornell hampir dua kali lebih tinggi ketimbang dalam anggur merah maupun teh hijau.

Biji kakao tidak mengandung gula. Kandungan lemaknya relatif rendah bila dibandingkan kacang-kacangan, sehingga tidak usah khawatir menjadi gemuk. Begitulah kampanye konsumsi biji cokelat, dengan produk yang didominasi oleh petani cokelat dari Equador, Amerika Tengah.

Yang menarik, konsumsi “kacang” cokelat mentah ini banyak dikaitkan dengan makanan untuk memelihara kecantikan. Salah satu pakar dan penganjurnya, David Wolfe, penulis buku laris Eating for Beauty. Pria kelahiran 1970 itu terkenal sebagai pakar makanan mentah dan memproduksi berbagai makanan sehat alami.

Budidaya Cokelat

 

Kualitas, kuantitas, dan kontinuitas

Ibu Lestari pelopor dan pemilik dari Lestari Food Industry yang terkenal itu, punya semboyan jitu: rasa, warna, harga. Di atas semua itu yang penting: tersedia! Sayang semboyan itu bukan untuk cokelat, tapi untuk kacang goreng, kripik pisang, sukun, dan berbagai ragam camilan, temasuk rempeyek dan kacang bawang. Kekuatan bisnis camilan kita bertumpu pada industri rumah tangga, bukan pada teknologi tinggi.

Satu contoh yang jelas, hingga saat ini hanya 13 pabrik pengolahan biji kakao di Indonesia. Dari jumlah itu hanya 4 yang beroperasi. Selebihnya menganggur karena pasokan bahan baku tidak mencukupi. Di kalangan yang beroperasi, hanya mampu memenuhi separuh kapasitas saja dari 200-ribu ton per tahun. Alhasil, produksi biji kakao Indonesia hanya sekitar 400-ribu ton setahun. Jauh, sangat jauh dari kebutuhan cokelat di seluruh dunia.

Padahal, Indonesia negara ketiga penghasil cokelat terbesar, setelah Pantai Gading di Afrika yang memimpin dengan produksi di atas satujuta ton per tahun, dan Ghana. Demikian luasnya perkebunan kakao di tanah air kita, tapi 80% dari yang diekspor adalah hasil panenan Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara.

Dalam deretan pemasok cokelat Indonesia hanya mampu menduduki peringkat ke delapan, tertinggal di belakang Amerika Serikat, Arab Saudi, Malaysia, Australia, Swiss, Belanda, Singapura, Selandia Baru, dan Inggris.

Hal itu telah tercermin dari keadaan di dalam negeri. Ketua Umum Asosasi Kakao Indonesia (Askindo), Zulhefi Sikumbang, mengatakan perusahaan dari luar kini menguasai sekitar 90% dari total volume ekspor biji kakao Indonesia dan hanya 10% saja yang dikuasai oleh para pedagang lokal.

Artinya apa? Kemampuan rakyat kita dalam mengolah kekayaannya masih jauh dari harapan.

Selain produktivitas yang rendah, hingga 2002, produk kakao Indonesia juga termasuk buruk. Di terminal kakao New York, ekspor dari Indonesia bisa kena diskon sampar US$300 per ton. Melalui standarisasi SNI, kualitas biji cokelat kita diharapkan bisa naik, sehingga diskon itu bisa ditekan sampai US$100 per ton. Kelemahan umum produksi cokelat Indonesia adalah tingginya cendawan, kadar air, dan campuran residu. Singkatnya: mungkin kurang bersih.

Sekarang dapatkah para petani kita menjawab tantangan itu, dengan kualitas, kuantitas, dan kontinuitas produksinya? Saya katakan pada kedua nona dari Amerika Serikat, semoga cokelat bisa merangsang rakyat Indonesia lebih cinta perdamaian. Terima kasih kalau bisa membuat petani lebih paham mata-rantai produksi, dan perdagangan kakao di bumi. Bukan hanya menikmati harga bagus dengan menjual bahan bakunya, tapi juga mengerti lebih dalam, lebih pandai mengolah, menjual maupun menikmatinya.

Jumat, 05 Juli 2019

no image

Sentra Budidaya Kangkung Jenis Aini dan Gomong Di Ampenan

Cobalah pesan menu makan siang di sebuah restoran ayam bakar taliwang. Niscaya sepiring pelecing kangkung yang masih hangat jadi salah satu menu yang disajikan. Kangkung rebus yang dihidangkan dengan sambal cabai tomat dan urap kelapa parut memang masakan khas Lombok asal muasal restoran ayam bakar taliwang. Disantap dengan nasi panas dan ayam goreng taliwang,ehm..nikmatnya.

Itu pula yang budidayatani nikmati kala bersantap siang di sebuah restoran di pinggiran kota Mataram penghujung tahun silam.

Sepiring pelecing kangkung jadi makanan pembuka penggugah selera. Berlanjar-lanjar kangkung rebus berwarna hijau segar dan sejumput kecambah rebus diguyur dengan sambal cabai tomat nan merah. Diatasnya ditambahkan urap kelapa parut dan kacang tanah goreng.

Sebelum dilahap, aduk seluruh isi piring agar kangkung terasa gurih. Dimakan bersama nasi panas enak, disantap begitu saja pun lezat. “Kalau ke sini, tapi tidak makan pelecing kangkung, ya seperti belum pernah ke Lombok,” tutur Ir Ahmad Sarjana, kepala Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih Nusa Tenggara Barat yang mendampingi budidayatani.

Kebun kangkung
Kebun kangkung, menggantikan padi sawah

Si nyonya

Selorohan ayah 3 anak itu sah-sah saja. Masyarakat NTB pantas bangga dengan menu pelecing kangkung yang mereka miliki. Bukan karena melulu disajikan dengan bumbu dan sambal yang enak, tapi kangkung rebusnya pun memang istimewa. Ipomoea aquatica yang digunakan bukan jenis sembarang. “Kangkungnya harus kangkung ampenan,” ujar Ahmad Sarjana.

Itulah anggota famili Convolvulaceae khas Lombok yang punya banyak keunggulan. Sosoknya besar-besar diameter batang bisa sebesar ibu jari tapi empuk, minim serat, dan tetap renyah sehingga gampang dikunyah. Bila direbus, tidak blenyek dan warna tetap hijau kangkung lain biasanya berubah jadi hitam. Pantas bila Rumah Makan Ayam Taliwang Bersaudara di kawasan Panglima Polim, Jakarta Selatan, rela “mengimpor” kangkung ampenan setiap 2 – 3 kali seminggu dari Lombok. Sekali kirim terdiri atas 50 ikat besar-besar.

Seikat kangkung “bermetamorfosis” jadi sekitar 5 porsi pelecing.

Sejatinya yang disebut kangkung ampenan adalah 2 varietas unggul asal Desa Tunjung dan Bayan di Lombok Barat bagian utara, yaitu aini dan gomong. Semula mereka dikenal sebagai kangkung si nyonya. Maklum awalnya yang sering membeli sayuran daun itu perempuan-perempuan keturunan etnis Tiongkok biasa disapa nyonya.

Nama ampenan kemudian melekat karena lara sebutan kangkung di Bima banyak dijual di Ampenan. Kota tua terletak di sebelah barat Mataram ibukota NTB, juga di Lombok Barat itu dahulu terkenal sebagai kota pelabuhan yang ramai. Di sanalah perniagaan kangkung ampenan berkembang.

Sejak 2002 nama Kangkung aini dan gomong yang dipopulerkan. Keduanya jenis si nyonya yang telah diidentifikasi. Meski sama-sama unggul, aini dan gomong punya perbedaan khas. Yang disebut pertama bertepi daun bergerigi; gomong, mulus. Aini diambil dari nama istri mantan gubernur NTB Harun Al-Rasyid; gomong, nama sentra kangkung terbesar di Ampenan.

Sentra Penghasil Kangkung

Lantaran perniagaannya kian marak, pekebun di Ampenan pun tertarik membudidayakan kerabat tanaman hias morning glory Ipomoea indica itu. Dimulai 35 tahun silam kebun-kebun kangkung pun bermunculan di kota pelabuhan sejak zaman Belanda itu. Gomong, Dusun Pesongoran, Kelurahan Pagesangan, merupakan sentra terbesar. Di sana terdapat sekitar 30 ha areal tanam. Belakangan penanaman meluas hingga ke kota Mataram. Menurut data Pucuknya dipanen 30 – 35 hari setelah setek ditancapkan ke tanah sawah dan berlanjut setiap 2 minggu tanpa henti.

Pantas di berbagai tempat rumpun-rumpun padi yang mesti menunggu panen sekitar 4 bulan beralih rupa jadi rambatan-rambatan kangkung. budidayatani melihat hamparan kebun kangkung di sepanjang jalan menuju Lingsar, Narmada, Batukumbung, dan Suranadi sentra buah-buahan di sebelah timur Mataram.

Jaring pasar dan Pemasaran kangkung

Sayang, mula-mula penanaman tidak intensif. Pucuk-pucuk kangkung dipetik dari pohon itu-itu saja yang ditanam sejak awal. Akibatnya produksi terus menurun. Makanya sejak 3 tahun lalu disosialisasikan peremajaan tanaman dengan menggunakan setek baru setiap 5 bulan. Yang digunakan setek bagian tengah bukan pucuk sehingga tingkat keberhasilan mencapai 100%. Setek yang digunakan sekitar 2 jengkal atau 40 – 50 cm.

Dari daerah-daerah sentra, kangkung dipasarkan di pasar lokal NTB hingga dikirim ke luar daerah. Jakarta, Semarang, Surabaya, dan Bali penyerap terbesar. Lantaran dibutuhkan segar, pengiriman keluar daerah pun menggunakan armada pesawat. Pemasaran keluar daerah dikoordinir oleh Asosias; Kangkung Kota Mataram yang diketuai H Sadrul Iman. Akses lain melalui PD Krida Mataram.

Nah, lain kali bila Anda sempat bersantap siang di rumah makan ayam taliwang perhatikanlah pelecing kangkungnya. Itulah aini dan gomong yang melanglangbuana dari Lombok ke berbagai daerah

no image

Pentingnya Perencanaan Sistim Irigasi Dan Penampungan Air Pada Perkebunan Kentang

Inilah teknologi sederhana bagi pekebun kentang. Sistem penampung air. Sistem ini mampu meminimalisir run off alias erosi yang sering terjadi saat penanaman di musim hujan. Imbasnya biaya produksi pemeliharaan seperti penyulaman yang mencapai 5—10% dari total biaya dapat ditekan hingga nyaris 0%.

Pada penanaman normal di musim hujan, penyulaman faktor yang tidak bisa dihindari. Penyebabnya erosi seringkah muncul saat hujan datang terutama pada penanaman di lereng. Padahal penanaman di lereng disukai pekebun lantaran lebih mudah membuat bumbun ketimbang searah kontur. “Karena penanaman di lereng sangat berisiko terjadi erosi maka penyulaman menjadi lagu wajib pekebun,” ujar Wildan Mustofa pekebun di Pangalengan, Jawa Barat. ( Baca : Raup Untung Lewat Keripik Kentang )

Penerapan sistem penampung air efektif memangkas biaya penyulaman. Prinsip kerja penampung air adalah menahan air selama mungkin saat hujan hingga ia ikut terserap oleh tanah. Sistem ini sebetulnya mengadopsi cara penanaman teh yang mengikuti kontur, tapi dimodifikasi agar dapat diterapkan pada kentang.

Sistim Irigasi
Tanpa penampung run off akan menyebabkan erosi lahan

 

Tergantung kemiringan

Penampung air dibuat di antara guludan. Jumlah dan besar penampung air tergantung pada kemiringan lahan dan besarnya curah hujan. Sebagai ilustrasi seandainya curah hujan rata-rata 10 ml per hari, artinya per m2 tanah sebenarnya mampu menampung 1 cm x 100 cm x 100 cm= 10.000 cm’ setara 10 liter air. Jika curah hujan paling lebat mencapai 500 ml per bulan atau 16 ml per hari, artinya akan terjadi run off sebesar 4 ml setara 4 liter per m2. ( Baca :Penyortiran Kualitas Bibit Kentang Untuk Menghindari Penyakit Dan Kerugian )

Dengan mengabaikan infiltrasi karena curah hujan lebat biasanya berlangsung sebentar sekitar 1—2 jam, di antara guludan cukup dibuat sebuah penampung air berukuran 100 cm x 20 cm berkedalaman 10 cm. Ia dapat menampung 20 liter air per m2. Besar ukuran penampung memang tidak standar. Namun setidaknya untuk lebar penampung memakai patokan jarak antarguludan selebar 20 cm. Kedalaman 10 cm dipakai berdasarkan tinggi guludan.

Jumlah penampung air tergantung kemiringan. “Di sinilah seninya memakai sistem penampung air. Kita dapat bereksperimen soal jumlah,” papar Wildan. Menurut ujicoba yang dilakukan alumnus Magister Manajemen Universitas Padjadjaran Bandung itu, seandainya kemiringan lereng 10% atau setara 10 cm, penampung berukuran 100 cm x 20 cm berkedalaman 10 cm dapat dibuat setiap jarak 1 m. Namun, jumlah itu akan semakin kecil tatkala kemiringan semakin rendah. Untuk kemiringan 5% misalnya antarpenampung cukup berjarak 2 m.

Perkebunan Kentang
Sistem Penampungan Air efektif menekan biaya produksi

 

Field save

Meski demikian perhitungan kapasitas penampung air tidak selalu eksak. Sebagai contoh pada kemiringan 5% kapasitas penampung air 100 cm x 20 cm berkedalaman 10 cm tidak 20 liter, tetapi dapat menjadi setengahnya lantaran dasar penampung juga memiliki kemiringan 5%. “Sebab itu di antara lajur guludan perlu dibuat field save yang letaknya tegak lurus dengan penampung air,” ujar Wildan. ( Baca : 4 Varietas Kentang Unggulan Untuk Industri Dan Bisnis )

Fungsi field save adalah untuk menahan sisa run off yang lolos dari penampung air. Karena letaknya tegak lurus, praktis membuat air akan mengalir ke salah satu sisi dengan kecepatan lebih rendah. Dalam jangka waktu tertentu air itu akan ikut meresap ke dalam tanah. “Uji coba yang dilakukan membuktikan pemakaian penampung air sangat efektif. Yang sudah menerapkan sistem ini praktis bebas erosi,” kata Wildan