--> Archive for agrobisnis Budidaya tani: agrobisnis - All Post
Tampilkan postingan dengan label agrobisnis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label agrobisnis. Tampilkan semua postingan

Senin, 29 Juli 2019

Raup Untung Berlipat Lewat Bisnis Dan Budidaya Jagung Manis

Raup Untung Berlipat Lewat Bisnis Dan Budidaya Jagung Manis

Setahun terakhir Sigit Djuwarso mempunyai kesibukan baru. Ia memanfaatkan waktu luang untuk berkebun jagung manis. Pada tingkat harga Rp400 per kilo, ia mencapai titik impas. Padahal, Sigit menerima Rp2.000 per kg sehingga jutaan rupiah menggelembungkan pundi-pundinya.

 

Budidaya Jagung Manis
Jagung hibrida Mulai diusahakan pekebun di luar Jawa Barat

Ia tertarik dalam Budidaya Jagung Manis itu lantaran risiko dan biaya produksi relatif kecil serta harga stabil. Kestabilan itu setidaknya berlaku di Sukoharjo, Jawa Tengah, tempat menanam jagung manis. 

Di tingkat pekebun harga berkisar Rp 1.500-Rp2.000 per kg boleh jadi lantaran di sana baru berkembang, sehingga sedikit pekebun yang mengusahakan kerabat padi itu. Wajar jika pasar di Sukoharjo, Surakarta, dan sekitarnya menyerap pasokan pekebun dengan harga memadai.

Luas penanaman 1,5 ha tersebar di 3 tempat, Karangpandan, Bekonang, dan Gawok. Sigit menanam Jagung Manis dengan interval sepekan agar panen berkelanjutan. Dengan jarak tanam 25 cm x 75 cm, total populasi mencapai 48.000 tanaman per ha. 

Prospek Dan Peluang Bisnis

Memperhitungkan tingkat mortalitas 20%, yang dapat dituai 38.000 tanaman. Setiap tanaman varietas Sugar dipertahankan 2 tongkol. Pekebun di Jawa Barat umumnya memilih varietas hawaii, hanya menyisakan sebuah tongkol per tanaman.

Pembungaan pertama dibuang; kedua, dijadikan jagung bakar. Baru pada pembungaan ke-3 dijadikan “jagung manis” untuk pasar swalayan. Rata-rata bobot tongkol mencapai 300 g, sehingga sekilo terdiri atas 3-4 buah. 

“Saya pernah memasok pasar swalayan ditolak karena tongkol terlampau besar,” ujar sarjana Pertanian alumnus Universitas Negeri Sebelas Maret itu. Pasar swalayan menginginkan sekilo isi 5 tongkol.

Lahan perkebunan jagung semakin Diperluas

Karena ditolak, Sigit akhirnya memanfaatkan pembungaan ke-3 sebagai jagung bakar yang juga dilempar ke pasar tradisional. Lagi pula harga yang diterima dari pasar swalayan hanya Rp2.250 per kilogram. 

Bandingkan dengan di pasar tradisional yang mencapai Rp2.000. Keistimewaannya, pasar tradisional menerima jagung manis utuh, tanpa pemotongan kedua ujung tongkol. Pemotongan itu menyita 10-15% dari bobot semula.

Dengan rata-rata bobot 300 g Sigit menuai 9 ton per ha. Artinya, Rp 12-juta ditangguk saat harga jual Rp2.000 per kg. Itu laba bersih setelah dikurangi biaya produksi Rp3,6-juta. Biaya terbesar antara lain untuk pengolahan tanah, Rp 1.250.000 per ha. 

Namun, biasanya pada penanaman kedua biaya itu tak dikeluarkan lantaran pekebun meniadakan pengolahan tanah. Kiat itu tak mempengaruhi produktivitas.

Menurut perhitungannya, keuntungan dari budidaya jagung manis tercapai saat harga jual Rp400. Kemudahan memasarkan dan harga memadai mendorong ayah 5 anak itu berhasrat memperluas penanaman. 

Pasar jagung manis diakui Ibrahim Rony Kusnady, pekebun sekaligus pengepul di Bogor, makin tumbuh. Pada 1984 ketika pertama kali ia memperkenalkan jagung manis di Indonesia, komoditas itu sangat eksklusif.

pasokan jagung manis
Kresek serang daun, produksi turun

 Minim pasokan jagung manis

Sembilan tahun kemudian Budidaya Jagung Manis kian populer. “Pasar akan terus tumbuh. Suatu ketika makan jagung identik jagung manis,” katanya. Jagung nonmanis tergeser hanya untuk industri tepung dan pakan ternak. 

Menurut perkiraan Rony, Jakarta membutuhkan minimal 70 ton per hari. Kini jagung manis tak melulu ditemukan di pasar swalayan. Pasar tradisional pun turut menyerapnya. Rony, misalnya, memasok 1 ton per hari untuk beberapa pasar di Bogor dan Jakarta.

Volume sama juga dikirim untuk pasar swalayan setiap hari. Sebuah restoran cepat saji di Bandung dan Jakarta membutuhkan masing-masing 400 dan 1.000 tongkol per pekan. 

Standar mutu yang diinginkan panjang minimal 14 cm, diameter 5-7 cm, kulit dipertahankan 2 helai. Sayang, tak semua permintaan terlayani. Minimal 2 ton permintaan gagal terpenuhi per hari lantaran keterbatasan pasok.

Terbukanya pasar pun dirasakan Jajang Saeful Hidayat. Ketua Kelompok Tani Sumber Rejeki di Garut itu mengirimkan 1-2 ton per hari ke berbagai pasar di Jakarta dan Tangerang. Pasar Induk Caringin di Bandung dipasok 1,8 ton per hari. 

Pria 34 tahun itu mengandalkan pasokan 8 pekebun plasma di Cisurupan, Garut, yang mengelola 3 ha. Luasan sama juga ditanami jagung manis oleh ayah 2 anak itu.

Semakin Meluas

Sedangkan Rony memperoleh pasokan dari pekebun plasma di Garut dan Sukabumi, di samping mengandalkan kebun sendiri di Ciawi, Bogor. Meski demikian ia kesulitan memperoleh pasokan akibat kemarau panjang pada tahun silam. 

Dampaknya teijadi penurunan luas tanam. Itu tercermin dari volume penjualan benih. Rony yang menyediakan benih jagung varietas hawaii, misalnya, hanya melepas 3 kuintal biasanya, 5 kuintal per bulan. Luasan 1 ha membutuhkan 6 kg benih.

Keadaan itu disusul curah hujan tinggi sejak November-Maret silam, menyebabkan produksi melorot. Karena itiftah pasokan berkurang sehingga harga melambung mencapai Rpl.800 per kg. Seperti komoditas lain.

harga tinggi itu juga mendorong spekulan untuk menanam jagung manis. Artinya, di sentra penanaman harga sewaktu-waktu terancam melorot. Kecuali di daerah penanaman baru seperti Sukoharjo, Surakarta, Boyolali harga diprediksi relatif stabil.

budidaya jagung manis belakangan ini memang menyebar ke luar Jawa Barat. Semula hanya di Bogor, lalu menyebar ke Sukabumi, Garut, Bandung. Menurut Ir Widodo setahun terakhir komoditas itu mulai dilirik pekebun di Jawa Tengah dan Jawa Timur. 

Catatan Region Sales Manager Syngenta Indonesia, itu penjualan benih di kedua provinsi masing-masing berkisar 30-100 kg per bulan setara 6-16 ha penanaman.

Jagung Manis Kemasan Beku

Pasar Jagung Manis Kemasan Beku

Selain dijual segar, pasar ekspor olahan mulai terbuka. Ibrahim Rony Kusnady yang bermitra dengan Kemfarm, Juni mendatang mulai mengekspor jagung beku ke Jepang. Semula negeri Matahari Terbit itu mengandalkan pasokan dari Selandia Baru. 

Sayangnya, negara di timur Australia itu memipil jagung manis dengan mesin, sehingga sebagian biji tertinggal di tongkol. Padahal, yang diinginkan Jepang biji pipilan utuh dengan jari tangan.

Itu tak dapat diwujudkan eksportir Selandai Baru. Soalnya, negara yang ditemukan pelaut Belanda, Abel Tasman, itu tersandung sumber daya manusia. Indonesia yang berlimpah penduduk jauh lebih siap. 

“Cina sebetulnya juga bisa. Tapi, jagung asal Cina mengandung pestisida tinggi,” tutur Rony. Jepang memesan 8 ton pipilan per pekan atau setara 32-35 ton dengan memperhitungkan bobot tongkol.

April sekarang Rony mulai menggandeng pekebun di sekitar Semarang. Maklum, lokasi pabrik pembekuan memang di ibukota provinsi Jawa Tengah. “Keuntungan petani, semua produk dapat terserap karena tak ada standar mutu. Pokoknya asal ada biji, pasti diterima,” ujar Rony.

Tentu saja tak melulu kisah manis yang dialami pelaku Budidaya Jagung Manis. Tiga hari hujan tak kunjung mereda pada penghujung tahun lalu menyebabkan kualitas jagung melorot. Dampaknya harga yang diterima pun menukik sehingga laba menipis. 

Ganyangan penyakit “keresek” meminjam istilah pekebun di Garut acapkali meluluhlantakkan harapan pekebun. Serangan ditandai dengan mengeringnya daun. “Kalau terserang, kita susah panen,” ujar Jajang. Sekitar 0,5 ha ladang jagung yang ia kelola, akhir tahun lalu tak luput dari serangan penyakit itu.

Bagi pekebun pemula menghasilkan tongkol bermutu relatif sulit. Setidaknya itu dialami pekebun Cisurupan, Garut. Mereka mengenal jagung manis baru pada 2000. Banyak tongkol yang dihasilkan berbiji menumpuk, biji tak penuh, atau tongkol yang pendek. Akibatnya, harga yang diterima relatif rendah, Rp600 per kg. Pada tingkat harga itu, laba pekebun tipis, hanya Rp200 per kg

Padi Transgenik Rojolele Tahan Hama Penggerek batang

Padi Transgenik Rojolele Tahan Hama Penggerek batang

Perut Tryporyza intertulas mendadak berlubang dan ia pun langsung terkapar. Sepuluh menit lalu penggerek batang itu mengisap pakan kegemarannya, padi. 

Sayang ia salah sasaran. Yang disantapnya padi rojolele yang mengandung Bacillus thuringiensis. Itulah tanaman transgenik keluaran Pusat Penelitian Bioteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia.

padi transgenik
padi transgenik tahan hama

Di tengah-tengah suara pro-kontra kehadiran teknologi transgenik, Inez Hortense Slamet-Loedin justru tekun meneliti padi rekayasa genetika. Ia bersama timnya mengembangkan tanaman padi tahan hama penggerek batang. April 2013 bekerjasama dengan Balai Penelitian Tanaman Padi, Sukamandi akan dilakukan uji lapangan. Perjuangan Kepala Divisi Biologi Molekuler Puslit Bioteknologi LIPI itu, agar gagasan padi transgenik diterima tidaklah mudah.

Banyak peneliti memperdebatkan keamanan pangan dan pengaruhnya terhadap lingkungan. Misal ketakutan berkembangnya gulma super dan bakteri baru yang kebal antibiotik. 

Padahal, “Kemungkinan itu hanya 10’16. Peluang kebal antibiotik lebih besar pada pengkonsumsi obat-obatan antibiotik,” ujar ibu sepasang putri kembar itu. Bahkan ada pendapat, rekayasa genetika itu menyalahi aturan Tuhan.

Semua perdebatan itu tidak membuat Inez gentar. Ia yakin produk transgenik akan diterima. Contohnya Amerika Serikat, hampir 70% produksi kedelainya hasil rekaya genetika. 

Benih transgenik di negara Paman Sam yang terkenal ketat terhadap keamanan pangan itu lolos uji Food and Drugs Association (FDA). Produksinya kini menyebar ke seluruh dunia. Berarti tidak tertutup kemungkinan padi transgenik diterima konsumen.

Gen Bt

Inez menekuni padi sejak ia belajar di University of Nottingham. Setelah menyelesaikan program doktor ia melakukan riset post-doctoral selama 2 tahun di Universitas Leiden, Belanda. Subjek penelitiannya padi rojolele transgenik.

“Merekayasa gen menjadi bagian hidup. Fenomena itu rumit tapi mengasyikkan,” ujarnya. Tidak heran begitu kembali di tanah air, akhir 1994 Inez langsung merintis penelitian bioteknologi. Ia harus berjuang untuk membangun laboratorium biotek hingga menemukan kultur jaringan yang responsif. Lebih dari 40 varietas padi diseleksi.

Ternyata hanya varietas padi rojolele yang paling pas tumbuh di media kultur jaringan. Penelitian pun memasuki tahap isolasi gen. Mula-mula gen cryl AB alias gen Bt diisolasi dari bakteri Bacillus thuringiensis. Agar terekspresi di padi, gen Bt harus diberi mesin atau promotor. Mesin itu menentukan bagian tanaman dan jumlah ekspresinya. Setelah diperoleh vektor DNA lalu diperbanyak dalam bakteri dan diisolasi.

Benih rojolele dibiakkan dalam media kultur jaringan. Dua minggu kemudian embrio padi membentuk jaringan sel yang belum terprogram. Kalus padi itulah yang kemudian disisipi gen Bt dari bakteri.

Tanaman transgenik Aman dikonsumsi

Ada 2 cara memasukkan gen Bt, ditembak atau memanfaatkan agrobacterium tumefaciens. Cara penembakan, partikel emas dilapisi DNA kemudian ditembakkan ke jaringan. Setiap vektor DNA membawa gen target dan gen penyeleksi. 

Jika berintergrasi maka sel akan membelah dan membawa DNA baru. Dikatakan berhasil jika gen penyeleksi bekerja menunjukkan perubahan warna. Alat tembak tidak dapat membaca kromosom target sehingga penembakannya random. Akibatnya copy gen menyebar di semua kromosom.

Menggunakan agrobacterium lebih mudah, murah, dan copy gen sedikit. Lantaran ia dapat membaca kromosom target. Bakteri itu secara alami menginfeksi tanaman dan memindahkan DNA-nya ke dalam tanaman. 

Namun, setelah 3 hari bakteri itu harus dimusnahkan dengan antibiotik khusus, dosis 100-400 mg/ml. Jika bakteri dibiarkan hidup, pertumbuhannya lebih cepat dibanding selnya. Agar bakteri bekerja optimal harus diciptakan suasana asam pH 5,5.

Penyisipan gen Bt tidak membuat tanaman berubah karena hanya 1 gen saja yang dirubah. “Rasa tetap pulen dan putih,” ujar Inez. Lagipula padi transgenik aman dikosnumsi manusia. 

Gen Bt di padi bersifat protoksin yang berubah menjadi toksin dalam suasana alkali. Pencernaan manusia bersifat asam sehingga ia tidak lebih hanya protein yang tidak berbahaya. Toh, ketika dimasak kurang dari 1 menit protein itu rusak.

Tahan Hama Penggerek batang

Tanaman transgenik Dari Los Banos ke Sukamandi

Padi rojolele transgenik bisa dibilang padi sakti yang tahan serangan hama penggerek. Jika ingin Oryza sativa berproduktivitas tinggi, padi transgenik bukan pilihan. Pekebun biasanya menyandarkan harapan pada maro dan rokan. Mereka padi hibrida pertama di Indonesia hasil penelitian Dr Suwarno. Pemulia di Balai Penelitian Tanaman Padi Sukamandi itu meriset padi hibrida sejak 1998.

Penghujung 2002 pekebun sudah dapat menjajal keistimewaan mereka.Rokan menjanjikan produksi 9,24 ton per ha. Sedangkan maro 8,85, ton. Artinya, pekebun memetik hampir 2 kali lipat jika menanam varietas lain. Varietas IR 64, misalnya, hanya mampu berproduksi 5—6 ton per ha.

Pekebun cukup menancapkan sebatang bibit di setiap lubang 5 tanam. Oleh karena itu kebutuhan benih padi rojolele separuh lebih kecil ketimbang benih padi lokal atau 10 j kg per ha

Untuk padi lokal pekebun f biasanya membenamkan 2 bibit per lubang tanam. Seperti jamaknya, harga benih hibrida tentu lebih mahal, yakni Rp20.000 per kilo. Soalnya, untuk mendapatkan benih hibrida peneliti mesti menempuh jalan panjang lagi berliku. Menentukan sepasang indukan dari 2 galur berbeda yang mampu menyerbuki bukan perkara gampang (baca: Meningkatkan Kualitas Dan Produksi Padi Dengan System of Rice Intensification).

Rentan wereng

Doktor alumnus IPB itu menggunakan padi introduksi dari IRRI (International Pice Research institute) yang berpusat di Los Banos, Filipina. Galur Mandul Jantan (GMJ) IR58025A akhirnya dipasangkan dengan Galur Pemulih Kesuburan (GPK) BR827-35. Kedua induk itulah yang akhirnya “melahirkan” rokan. Maro diturunkan dari pejantan sama, GMJ IR 58025A dan GPK IR53942. Nama sungai di Riau itu diabadikan untuk menyebut 2 varietas baru.

Sosok mereka tegak dengan tinggi 98-107 cm. Per tanaman mampu menghasilkan 20 anakan. Sebuah malai menghasilkan 150-200 bulir gabah. Biaya benih yang relatif mahal, tertutupi dengan produktivitas yang tinggi. Dengan harga gabah Rp1.000 per kg, pekebun padi hibrida menangguk Rp3,2-juta (per ha) lebih banyak ketimbang pekebun padi nonhibrida.

Di balik keistimewaan itu, padi rojolele hibrida menyimpan kelemahan. Mereka rentan wereng cokelat dan hawar daun. Oleh karena itu sebaiknya mereka ditanam di lahan sawah irigasi dan bukan daerah endemis wereng.

Kekurangan tanaman transgenik itu sedang diperbaiki oleh peneliti Balitpa sehingga kelak muncul padi hibrida tahan hama dan penyakit Karena benih hibrida, pekebun hanya dapat sekali tanam. Pada penanaman berikut, pekebun harus membeli benih lagi, jika tidak ingin produksi melorot.

Padi hibrida memang bukan barang baru. Beberapa negara seperti Vietnam, India, Filipina, dan Cina lama menanamnya. Namun jenis padi hibrida mancanegara kurang cocok ditanam di Indonesia. “Semakin dekat khatulistiwa padi hibrida itu tidak menunjukkan keistimewaannya,” papar Suwarno.

Varietas Cabai Hibrida Dan Lokal Yang Siap Bersaing Dipasaran

Varietas Cabai Hibrida Dan Lokal Yang Siap Bersaing Dipasaran

Pasar benih Cabai Hibrida Indonesia dibanjiri produsen benih dari mancanegara. “Ada 60 jenis cabai merah dari berbagai merek berkeliaran di lahan pekebun,” ujar Agus Setyono dari PT East West Seed Indonesia. Hiruk-pikuk persaingan itu kini kian ramai dengan hadirnya 3 pendatang baru. Mereka adalah 2 benih hibrida dan 1 lokal.

Ketatnya persaingan itu tampak dari kebiasaan pekebun memilih varietas. Ambil contoh di dataran tinggi. Lahan cabai di sana didominasi hot chili.

Cabai Megahot
Cabai Megahot, ekstra pedas dan irit pupuk

 Sedangkan di dataran rendah hot beauty. Namun, “Asal diiming-imingi produktivitas tinggi, resisten hama, dan biaya produksi rendah mereka akan cepat berpaling,” ujar Agus.

Pekebun di Brebes dan Bantul lebih menyenangi varietas lokal seperti tit super dan jatilaba. Alasannya lebih tahan penyakit sehingga biaya produksi dapat ditekan. 

Sedang jenis hibrida jadi primadona di Magelang dan Blitar. Pasalnya, tanaman responsif terhadap pemupukan, berumur genjah, dan keseragaman buah tinggi. Asal dirawat intensif hama dan penyakit cabai bakal menjauh.

“Penanaman cabai merah hibrida mencapai 70% dari total lahan cabai merah di Indonesia. Sisanya ditanami jenis lokal,” ungkap Agus. Setahun terakhir bermunculan 3 varietas cabai merah baru. Semakin panjang pula daftar benih cabai di Indonesia.

Sultan, si gemuk tahan angkut Sultan, cabai merah hibrida keluaran PT East West Seed Indonesia (EWSI). Tidak ada makna khusus dari nama itu. “Supaya mudah diingat saja,” ujar Agus Setyono. Ia cocok ditanam di ketinggian 600 m dpi. Namun, di bawah 400 m dpi pun tanaman tumbuh baik. Sejak Agustus 2002 beberapa pekebun di Malang mengganti jenis hibrida lama dengan sultan.

Cabai Sultan
Cabai Sultan, buah gemuk dan besar
Cabai sultan

Sosok sultan, buah gemuk, diameter mencapai 2 cm, dan panjang 16 cm. Sayang, rasa buah kurang pedas. “Ia hanya digunakan sebagai ‘pemanis’ makanan,” ujar Handoko, bagian penjualan EWSI. Keunggulannya buah cepat merah, padat, dan berisi. Warna merah terbentuk 10 hari atau 2 petikan lebih cepat dibanding varietas hibrida lain. Kulit buah keras dan tebal saat ditekan, menandakan kadar air rendah. Wajar jika ia tahan pengangkutan jarak jauh. Sultan juga tahan phytophthora, yang selalu jadi momok pekebun.

Potensi hasil 1,5 kg per tanaman. Jika perawatannya intensif pekebun akan menikmati buah kedua. Pekebun mulai panen pada umur 85-90 hari setelah tanam (HST) dan berlangsung hingga 60 hari.

Menanam jenis hibrida berarti harus berani merogoh kocek untuk biaya penyemprotan pestisida. Lantaran ia jadi sasaran empuk tungau dan trips. Minimal seminggu 2 kali tanaman cabai harus disemprot agar hama tidak bertandang. Begitu terlambat tanaman tidak akan tertolong.

Megahot, ektrapedas

Sesuai namanya, komoditas cabai hibrida baru ini sangat pedas. Ia dirilis tahun lalu oleh Known You Seed, produsen benih dari Taiwan. Idealnya ia ditanam di dataran sedang, 500 m dpi. Namun, di dataran tinggi pun masih bisa bertahan.

Sosok varietas cabai hibrida dengan tekstur buah ekstrabesar; panjang 18 cm, dan bobot rata-rata 22 g. Pada umur 60 hst buah dapat dipetik jika ditanam di dataran sedang; 70 hst di dataran tinggi, di atas 800 m dpi. Potensi produksi 1 kg per tanaman dengan 16.000 populasi per ha. “Perawatannya mudah. Cukup pemberian pupuk kandang dosis 1 kg per tanaman,” tutur Ir Dwi Kartiko Ghazalie dari PT Tani Unggul Sarana, distributor benih sayuran.

Cabai Trisula
Cabai Trisula, buah lokal yang tahan banting
 

Trisula: tahan banting

Tidak melulu jenis cabai hibrida yang laris di pasaran, lokal juga. PT Riawan Tani, produsen benih sayuran di Blitar, memproduksi cabai merah nonhibrida. Benih diperoleh melalui pemurnian dari tanaman lokal. Trisula cocok ditanam di dataran rendah, 300 m dpi sampai dataran tinggi 1.200 m dpi. Sebaran penanaman mencapai Bali, Sumbawa, Mataram, Kalimantan, Sumatera, dan Jawa.

Sosok trisula panjang 12-15 cm, diameter 1-2 cm, dan bobot per buah 10-15 g. Warna buah matang merah tua dan tekstur keras sehingga tahan simpan selama 12 hari. Buah dapat dipetik pada 75 hst dan berlangsung hingga 8 bulan. 

Potensi produksi 17-20 ton per ha. Tanaman ini menghendaki iklim hangat dan kering, suhu berkisar 18-30°C. “Serangan antraknosa dan fusarium rendah,” ujar Pujianto dari Riawan Tani. Mereka gemar hinggap di cabai merah. 

Solusinya pohon cabai hibrida hanya disemprot minimal seminggu 3 kali. Namun, dengan trisula penyemprotan cukup seminggu sekali. Jika sekali semprot menghabiskan Rp60.000, berarti pekebun bisa lebih hemat Rp 120.000/ minggu.

Minggu, 28 Juli 2019

Serangan Virus kuning Pada Tanaman Cabai

Serangan Virus kuning Pada Tanaman Cabai

Senyum kecut menghiasi bibir Marsudi pada pertengahan 2002. Betapa tidak, 30 ha cabai luluh-lantak diterjang virus kuning keriting. Produktivitas menurun, modal pun tak kembali. “Kerugian saat ini sudah sekitar Rp200-juta,” tutur pekebun di Desa Banyudono, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang itu.

 

Virus Bulai

Marsudi tidak sendirian mengalami nestapa itu. Banyak pekebun di desa sekitarnya seperti di kecamatan Mungkid, Sawangan, dan Muntilan ikut terkena. Walau jumlah tanaman terinfeksi sedikit, tetapi rata-rata 25% dari total tanaman terpapar virus kuning kering itu. 

Sentra cabai di Jawa Tengah dan Yogyakarta, khususnya Muntilan, Sleman, serta Kulonprogo memang terkena serangan paling parah. Kerugian yang ditimbulkan bisa miliaran rupiah.

Virus kuning keriting mirip penyakit bulai pada jagung. Oleh karena itu pekebun di Sleman menyebutnya bulai amerika. Hamparan cabai bisa berubah warna dari hijau menjadi kuning menyala. Jika itu terjadi, dipastikan cabai gagal berbuah. 

Pada cabai rawit, tanaman terserang masih bisa berbuah, tetapi kualitas dan kuantitas jauh melorot.

Gejala Tanaman Terserang Virus

Kalau dilihat dengan mikroskop, virus itu memiliki 2 partikel. Jadilah ia dinamakan virus gemini. Vektornya kutu kebul atau lalat putih Bemisia tabaci (biotipe-1) atau B. argentifolia (biotipe-2). Kutu kebul dewasa yang terinfeksi selama hidupnya bisa menularkan virus. Efesiensi penularan meningkat seiring meningkat populasi serangga per tanaman.

Sifat kutu kebul yang polifagus makan beragam jenis tanaman menyebabkan virus itu gampang tersebar, bahkan pada jenis tanaman lain. Ia memiliki inang yang beragam dari banyak famili dan spesies, seperti: ageratum, kembang kancing, buncis, kedelai, tomat, dan tembakau. Meski begitu perkembangan virus di suatu areal dapat diperkirakan dengan menghitung populasi kutu kebul.

Ada tanda-tanda kehadiran virus gemini itu. Pertama, pucuk cekung mengerut berwarna mosaik hijau pucat. Pertumbuhan tanaman terhambat. Daun berkerut, menebal disertai tonjolan (blister) hijau tua. Gejala itu mirip serangan penyakit tigre di Meksiko. 

Gejala kedua, pada pucuk dan daun muda keluar mosaik kuning. Warna itu menjalar hingga seluruh daun menjadi bulai. Gejala itu menyerupai virus gemini Texas Pepper Gemini Virus di Texas, Amerika Serikat.

Pada stadium 3, urat daun pucuk atau daun muda pucat kekuningan sehingga tampak seperti jala. Warna daun lalu berubah belang kuning tetapi morfologi daun masih sama. Gejala itu serupa penyakit Serrano Golden Mosaic Virus. Stadium ke 4, daun muda atau pucuk menjadi cekung mengerut berwarna mosaik. 

Seluruh daun lalu berubah kuning cerah dengan bentuk daun berkerut cekung menjadi lebih kecil. Gejala seperti itu sama dengan penyakit Thailand Tomato Yellow Leaf Curl Virus (TYCV-Thai)

Pengobobatan Tanaman Yang Terkena virus kuning

Penyebaran virus kuning keriting dapat diminimalisasi dengan berbagai perlakuan Selain harus bebas gulma, setiap hektar tanaman cabai perlu diberi pupuk berimbang yakni: 20-30 ton pupuk kandang, 0,1-0,15 ton Urea, 0,3-0,45 ton ZA, 0,1-0,15 ton TSP, dan 0,15- 0,2 KC1. Cabai pun perlu diberi mulsa plastik terutama penanaman di dataran tinggi.

Lakukan pemantauan teratur setiap minggu, terutama pada tanaman muda kurang dari 30 hari. Bila terkena virus segera musnahkan dan sulam dengan tanaman sehat. Seandainya 10% dari total populasi tanaman muda terinfeksi lantaran ada kutu kebul beterbangan, lakukan eradikasi dan ganti dengan sayuran lain yang bukan inang kutu kebul seperti kubis dan jagung.

Populasi kutu kebul bisa dikurangi dengan melepas musuh alami parasitoid Encarcia formosa sebanyak 1 ekor per 4 tanaman setiap minggu selama 8-10 pekan. Setidaknya untuk 1 ha diperlukan 10.000 Encarcia. Predator lain, Menochilus sexmaculatus terbukti efektif memangsa 200-400 ekor larva kutu kebul per hari.

Insektisida alami alternatif untuk mengendalikan kutu kebul. Beberapa di antaranya tagetes, eceng gondok, rumput laut, dan daun nimba. Untuk kimiawi bisa dipakai insektisida berbahan aktif bifentrin, buprofezin, imidacloprid, fenpropathin, endolsulphan, cyflutrin, amitraz, deltametrin, permetrin, dan asefat.

Gemini

India merupakan negara pertama yang mempublikasikan serangan virus ini pada 1948. Maklum sekitar 80% lahan cabai di negeri Mahatma Gandhi itu rusak terinfeksi. Penyakit itu diidentifikasi sebagai anggota virus gemini lantaran partikelnya berpasangan. 

Virus di dalam astrologi menandakan kelahiran pada Juni itu pertama kali dilaporkan ada di Indonesia pada 1989.

Namun, bukan pada cabai justru tembakau penyakit kerupuk yang diserang. Capsicum annum baru diketahui terinfeksi pada 1992. Saat itu seranganya masih diabaikan karena nyaris tak berdampak. Memasuki 2001, serangan merajalela di banyak daerah dengan kisaran antara 10-100%. Awal 2003 merupakan puncak serangan. Bahkan menjadi epidemi di sentra-sentra cabai di provinsi Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Sumatera Selatan.

no image

Serangan Bulai Pada Tanaman Cabai

Sudah setahun penyakit bulai cabai dilaporkan kehadirannya. Namun, hingga kini serangannya belum teratasi. Malah, makin meluas ke berbagai sentra. Kalau tidak segera ditangani, pasar bakal mengalami kekosongan pasokan. Dalam 2 – 3 bulan ke depan, harga bakal melonjak. Kalau sudah begini, siapa yang bertanggungjawab?

beberapa daerah saya melihat, petani mulai “lempar handuk”. Banyak yang beralih ke tanaman lain. Contoh di Muntilan, Kabupaten Magelang, pelaku budidaya cabai mulai melirik tomat dan kol dataran rendah. Kalau pun masih ada penanaman, paling tak seluas biasanya. Di Lampung Barat kabarnya malah hampir tak ada lagi penanaman baru. Mereka kapok menanam cabai.

Pasalnya, serangan penyakit cabai yang sulit dibendung. Penyemprotan pestisida untuk menghambat serangan tak membawa hasil. Upaya penanaman di lahan baru pun tak banyak membantu. Buktinya, tanaman tetap mengalami serangan dalam 2 – 3 minggu kemudian. Akibatnya, petani kehilangan modal produksi.

Di Jawa Timur yang semula aman-aman saja, kini juga mulai tampak adanya serangan. Di antaranya di Kediri dan Blitar. Jika kondisi ini tidak segera diatasi, wilayah itu juga bakal mengalami nasib sama.

penyakit bulai cabai
penyakit bulai cabai

 

Penyakit berasal dari benih?

Untuk mengatasi hal itu, pemerintah dan para ahli terkait harus melakukan penelitian serius. Sebab, sampai saat ini belum jelas penyebab penyakitnya. Dari gejala serangan, jelas itu akibat serangan virus. Semula muncul bercak kuning pada permukaan daun, lalu meluas ke seluruh permukaan hingga daun menjadi kerdil dan mudah patah. Hanya saja jenis virus belum diketahui. Apakah itu jenis virus baru, atau virus lama yang sebelumnya menyerang tanaman lain.

Sementara ini banyak orang menuding virus gemini pada tomat yang hingga saat ini pun belum teratasi sebagai biang keladi. Namun di lapangan, tomat yang ditanam setelah cabai ternyata tidak terserang. ( Baca : Virus Dan Hama Penyakit pada Tanaman Cabai )

Logikanya, kalau virus sejenis yang menyerang, berarti penanaman tomat pun gagal. Bukti lain, tanaman cabai di daerah baru pun ikut juga terserang. Artinya, virus memang spesifik menyerang tanaman cabai.

Melihat hal itu saya menduga penyakit ini justru bawaan benih (seedborn disease). Jadi di mana pun benih ditanam, pasti akan terserang penyakit. Sebab, kalau itu virus lama, berarti harus ada vektor yang menyebarkannya. Padahal, tanaman sudah terserang sejak usia dini, saat serangga vektor belum menyerang.

Itu pula sebabnya sehingga penyemprotan pestisida untuk menghambat serangan tak menyelesaikan masalah. Namun, benih mana yang mengandung virus, itu yang harus dilacak lebih detil. Dugaan saya, biang keladinya salah satu varietas cabai keriting eks impor. Sebab, kasus serangan terbanyak muncul di sentra-sentra penanaman varietas itu. Kasus yang menyerang varietas lain kurang. Itu pun karena ditanam di daerah endemik. Hanya saja perlu penelitian serius sebelum menjatuhkan vonis.

serangan virus pada tanaman cabai

 

Tanaman Cabai Masih mempunyai prospek

Akibat serangan virus baru itu, stagnasi produksi jelas bakal terjadi. Sebab, sejak beberapa bulan terakhir produsen dan distributor benih mengalami penurunan penjualan hingga 50%. Artinya, luas penanaman pun berkurang separuh. Akibat itu pula sehingga omzet penjualan pestisida ikut merosot. Itu pasti, sebab dengan matinya tanaman di usia dini volume dan frekuensi penyemprotan pun menurun.

Menurunnya luas penanaman jelas membuka peluang. Namun, penanaman sebaiknya dilakukan di daerah baru. Hebatnya serangan di wilayah Muntilan dan Lampung Barat juga disebabkan penanaman berulang-ulang di satu areal. Di daerah baru pun sebaiknya dilakukan pergiliran varietas untuk meminimalkan kegagalan. Kalau perlu, coba pikirkan penggunaan varietas lokal. Lihat saja di Brebes (Jawa Tengah) dan Rejanglebong (Bengkulu), kasus serangan tergolong rendah karena petani banyak menggunakan varietas lokal.

Jika berhasil, petani bakal menikmati harga tinggi. Bukan tidak mungkin dalam 2—3 bulan mendatang harga cabai menembus angka Rp10.000/kg akibat kurangnya pasokan. Berarti, dengan produksi 50% saja dari kondisi normal, petani masih bisa menikmati keuntungan. Jika produksi per hektar hanya 10 ton saja, berarti petani bisa memperoleh omzet Rp100-juta.

Penanaman cabai pot dalam skala komersial barangkali bisa pula dipertimbangkan. Perlu ada produsen atau lembaga yang melakukan sosialisasi. Sebab, menanam di polibag berarti mengubah kebiasaan. Lagipula, analisis ekonominya perlu dikaji terlebih dahulu sebelum kegiatan itu dilakukan. Yang pasti, cabai masih layak untuk diusahakan

Sabtu, 27 Juli 2019

no image

Virus Dan Hama Penyakit pada Tanaman Cabai

Prawito terpaksa harus gigit jari. Modal Rp200-juta lenyap tak berbekas. Sekitar 10 ha lahan cabai yang digarap bersama petani binaan amblas terserang bulai. Gejala serangan sebenarnya sudah mulai tampak di beberapa titik penanaman sejak kuartal pertama 2002.

Namun, petani di Desa Way Mengaku, Kecamatan Balik Bukit, Lampung Barat, itu tak menduga bila serangan bakal semakin meluas. Karena itu hingga Juli ia tetap mengupayakan penanaman dengan memilih lahan baru. Nyatanya serangan virus tak terbendung. Daerah penanaman baru tak luput dari incarannya.

Tak kuat menghadapi serangan virus, Prawito terpaksa berhenti mengembangkan komoditas yang sudah 3 tahun digeluti. Tujuh bulan terakhir Prawito dan beberapa pekebun beralih mengembangkan komoditas lain.

“Sampai hari ini kami masih trauma dengan penyakit itu,” tutur Prawito. Pasalnya, serangan virus benar-benar menggila. Hampir semua macam pestisida dipakai, tetapi tak mampu menanggulangi serangan.

di Tingkat pekebun bisa tembus angka RplO.OOO/kg.

Cepat menular

Prawito tidak sendirian mengalami nasib buruk itu. Malahan saking jengkelnya menghadapi serangan, Mukalam, pekebun di Blitar, Jawa Timur, akhirnya membiarkan lahan merana begitu saja. Ayah 1 anak itu mengalami gagal panen setelah 6.000 tanaman mati terserang virus. “Penularannya sangat cepat. Dalam tempo 2 hari saja tanaman terserang bisa mati,” papar pekebun 31 tahun itu.

Di Malang, Jawa Timur, Kuswanto juga terpaksa menghentikan penanaman cabai merah dan menggantinya dengan melon setelah beberapa tanaman ditemukan menguning dan berkeriput. Hal sama dilakukan Suharyana, pekebun di Desa Banyudono, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang.

Pada September Oktober lalu, 30% tanaman berumur 20 hari terserang virus. Untuk mengatasi meluasnya ganyangan, tanaman terserang disulam dengan tomat. Meski begitu, “Tanaman yang bertahan hingga dapat dipanen tetap turun produksinya. Paling separuh dari total populasi awal tanam,” ungkapnya. Nasib serupa menimpa rekannya, Sumarlan. Sejak Oktober lalu gejala serangan mulai tampak. Semula muncul bercak kuning di atas permukaan daun. Perlahan bercak itu meluas hingga seluruh permukaan daun. Dampaknya daun menguning, kerdil, dan rapuh. Masyarakat setempat menyebutnya penyakit bulai atau kuning. “Dalam luasan 1 ha, tanaman terserang lebih dari 400 tanaman,” papar Sumarlan.

Menurut Yoga Susila, staf Hortikultura Dinas Pertanian Kabupaten Magelang, bulai mulai menyerang di beberapa sentra sejak awal tahun lalu. Namun, serangan terparah baru terlihat sejak Oktober 2002 di 3 sentra: Dukun, Sawangan, dan Mungkid. Sampai Januari 2003, luas serangan di ketiga wilayah kecamatan itu masing-masing 67 ha, 124 ha, dan 58 ha. Jumlah ini berarti mencapai 15%, 38%, dan 43% dari total luas tanam Januari 2002—Januari 2003 di masing-masing wilayah itu.

Di Pemalang, Jawa Tengah, salah satu sentra cabai terbesar, serangan virus juga cukup memprihatinkan. “Saat ini saja sudah sekitar 25% lahan cabai di daerah ini yang mati lantaran virus baru itu,” ujar Freddy Salim, pekebun dan eksportir cabai.

Contohnya di kebun Freddy, dari 10 ha lahan yang ditanami pada Januari dan Februari, kini tinggal 7,5 ha yang masih tegak berdiri. “Satu per satu pertanaman mati hanya dalam tempo 2—3 minggu,” kata pebisnis cabai sejak 1978 itu. Lahan milik petani binaan juga tak luput dari serangan. Sekitar 5 ha dari 20 ha yang ditanam mitra pada awal tahun kini mulai menunjukkan gejala serangan.

Virus kerupuk Pada tanaman cabai

Menurut DR Atie Sri Duriat, peneliti Balai Penelitian Tanaman Sayuran (Balitsa) Lembang, virus baru ditemukan di beberapa daerah sejak awal tahun lalu. Ketika itu serangan dilaporkan terjadi di sentra cabai di Sumatera bagian selatan. Gejalanya, mula-mula terdapat bercak kuning di permukaan daun.

“Lama-kelamaan bercak meluas hingga seluruh permukaan daun berubah kuning,” papar Duriat. Serangan membuat daun mengerdil dan bertekstur remah. Karena daun terserang mudah patah, Duriat menyebut penyakit itu sebagai virus kerupuk, Dari pengalaman petani, virus terutama menyerang tanaman berusia di bawah 1 bulan setelah tanam. “Pada usia di atas 45 hari, tanaman masih bisa lolos dari serangan,” ungkap Suharyana.

Ir Yohanes Soekoco, Marketing Manager PT East West Seed Indonesia (EWSI), menuding lambatnya respon pemerintah membuat penyebaran virus makin meluas. Semula penyakit ini hanya dianggap kasus kecil sehingga tidak segera ditangani. “Kutu putih yang diduga salah satu vektor tidak dikendalikan. Akibatnya, serangan makin mengganas dan sulit diatasi,” papar alumnus Universitas Brawijaya itu.

Hingga saat ini jenis virus belum teridentifikasi. Tak hanya itu, biang keladi munculnya virus dan media penyebarannya juga belum diketahui. | Karena itu upaya penanggulangan yang 7 dilakukan pekebun tak membawa hasil. ° “Ini menjadi PR yang harus segera dituntaskan oleh lembaga penelitian dan perguruan tinggi terkait,” papar Ir Final Prajnanta MM dari Aventis Corp Science yang juga pengamat agribisnis cabai. Jika penanganannya berlarut-larut, krisis cabai bisa menjadi semacam bencana nasional.

Final menuding benih sebagai biang keladi meluasnya penyakit. Karena itu di mana pun benih ditanam, pasti akan terserang penyakit serupa. Namun, pendapat itu ditampik Ir Dwi Kartiko Ghazalie dari PT Tani Unggul Sarana (TUS), distributor benih keluaran Known You Seed asal Taiwan. “Saya kira bukan seed born disease karena benih yang sama jika ditanam di daerah lain tidak terserang,” paparnya. Ia tidak melihat adanya varietas tertentu yang rentan atau resisten terhadap penyakit baru itu.

Dwi menduga pemicu meluasnya serangan justru pola tanam yang terus-menerus. Seorang pekebun mungkin merotasi penanaman. Namun, pekebun lain di sekitar lahan terus menanam cabai. Dampaknya, siklus hidup virus tak terputus.

 

Saprotan menurun

Serangan virus di berbagai sentra ternyata tak hanya dirasakan dampaknya oleh petani. Efek dominonya kini mulai menghantam bisnis penjualan sarana produksinya. Lihat saja penjualan EWSI, produsen benih sayuran bermerek Panah Merah di Purwakarta. Menurut Soekoco, sejak pertengahan tahun lalu penjualan benih cabai terus turun. “Sampai akhir tahun omzet penjualan baru turun sekitar 40%. Saat ini penurunan telah mencapai 60%,” keluh Soekoco.

Dalam kondisi normal, penjualan benih cabai berlabel Panah Merah di Sumatera bagian selatan mencapai 200— 250 kg/bulan. Satu hektar lahan hanya membutuhkan sekitar 125 gram benih. Saat ini penjualan tinggal sekitar 100 kg/ bulan. Upaya mengalihkan pemasaran ke provinsi lain baru mampu mendongkrak penjualan hingga 20%. Sebab, butuh waktu untuk merintis pasar di wilayah baru.

PT Tani Unggul Sarana di Semarang juga pernah mengalami penurunan penjualan. Namun, Dwi menampik anggapan penurunan terjadi akibat adanya serangan virus. “Penurunan penjualan benih lebih karena peralihan konsumen di Yogyakarta dan Magelang dari cabai besar ke cabai keriting,” tegas Dwi. Itu pun terjadi pada 1998.

Menurut Dwi, sampai saat ini penyakit baru secara langsung belum mempengaruhi volume penjualan benih cabai TUS. Sebab, sepanjang 2002 penanaman benih cabai TUS masih sekitar 1.000 ha, atau sekitar 250 kg benih. Setara dengan penanaman pada 2001.

Penurunan penjualan juga mulai dirasakan Aventis Corp Science Indonesia, produsen pestisida. Final Prajnanta memperkirakan penurunan omzet akibat kehadiran penyakit baru itu mencapai 30%. Sebab, pekebun cabai salah satu pasar terbesar Aventis. “Karena tanaman sudah mati sejak usia dini, aplikasi pestisida pun otomatis berkurang,” papar alumnus Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto itu. Padahal, untuk mengatasi serangan hama penyakit, cabai menghabiskan 30—50% dari total biaya produksi per ha.

Bakal kosong

Final menduga, akibat serangan penyakit itu, pasokan cabai di pasaran bakal menurun dalam 2—3 bulan ke depan. Apalagi, curah hujan di beberapa sentra masih tinggi. “Di daerah bebas serangan pun produksi bakal berkurang jika hujan terus-menerus,” paparnya. Dampaknya, harga bakal melonjak.

Freddy Salim juga memperkirakan harga cabai merah bakal menembus angka RplO.OOO/kg di bulan Juni—Agustus karena pasar mengalami kekosongan pasokan. ’’Tanaman bulan Januari dan Februari yang mestinya panen pada April— Agustus saat ini banyak yang rusak,” papar Freddy. Selain karena terserang penyakit bulai, kerusakan juga karena terendam banjir. Misal di wilayah Brebes, 60% dari sekitar 1.000 ha lahan yang ditanam Januari dan Februari rusak akibat banjir.

Menurut Freddy, kekosongan pasokan terutama teijadi di seantero Jawa. Pasalnya, lahan bermasalah justru terjadi di sentra-sentra seperti Brebes, Pemalang, Magelang, Kediri, Blitar, dan Lampung yang menjadi pemasok terbesar ke pasar Jawa. Solusi mendatangkan dari luar Jawa dan Sumatera pun tak cukup mengatasi masalah. Sebab, kebutuhan konsumsi cabai di Pulau Jawa saat ini diperkirakan mencapai 670 ton/hari.

Freddy memang termasuk salah satu pemasok yang bakal merasakan dampaknya. Sebab, dalam kondisi normal saja permintaan pasar ekspor minimal 300 ton/tahun sering tersendat pasokannya. Belum lagi permintaan pasar lokal Jakarta dan Bandung yang mencapai 1.000 ton/ tahun. Maklum, produktivitas kebun rata-rata 20 ton/ ha. Dengan luas lahan 30 ha, berarti hanya bisa diproduksi 300 ton. Apalagi dalam kondisi saat ini, “Produktivitas tanaman yang lolos serangan pasti turun hingga 30—40%,” urainya.

Karena alasan itu pula Sumarlan tak ingin meninggalkan cabai meski penyakit masih terus menghadang. Menurutnya, begitu mulai menunjukkan adanya gejala serangan, tanaman terserang langsung dicabut dan dibakar. “Paling tidak 50% tanaman masih bisa lolos dari serangan,” paparnya.

Taufik, pekebun di Desa Pojok, Kecamatan Srengat, Blitar juga tak kapok menanam cabai. Meski keadaan belum membaik hingga Februari 2003, ia tetap melakukan penanaman baru. Malah, lahan bekas cabutan tanaman sakit hanya didiamkan 1 minggu. Toh, ia yakin ketika panen bakal memperoleh harga tinggi.

no image

Pasang Surut Bisnis Impor Ekspor kayu Manis Dalam Negri

Sejak 6 kulan lalu PT Nusantara Bangla Abadi (NBA) menghentikan ekspor kayumanis ke mancanegara. Persaingan harga antar eksportir menjadi pemicu. Seperti efek domino, pekebun dan pengepul turut kena getahnya. Beruntung, nasib buntung itu tak menjalar ke eksportir di Padang, Sumatera Barat.

Gejala kelumpuhan ekspor kayu manis itu mulai terasa sejak 1990. Ketika itu terbit surat edaran Dirjen Perdagangan Luar Negeri No 14A/ Daglu-32/82/EX dan KUM804/Daglu/ 1490/87. Isinya mencabut kuota ekspor. Pemerintah tidak lagi membatasi volume ekspor keluarga Lauraceae yang sebelumnya berada pada kisaran 12.837 ton per tahun.

Di satu pihak peraturan itu memang menguntungkan. Sebab, permintaan yang merangkak terpenuhi. Di sisi lain justru menjadi bumerang. Ibarat gula, eksportir (dadakan) ramai-ramai mengirim kayumanis. Yang penting barang terjual. Perang harga pun tak terelakkan. Dampaknya banyak eksportir yang berhenti.

Ekspor kayu Manis
Gara-gara terpuruk daun dan ranting dijual

“Tipis untungnya tak sebanding dengan operasional,” ucap Indri dari NBA. Semula eksportir di Jakarta Pusat itu mengirim lOton/bulanpada 1995. Volume itu berangsur-angsur turun hingga 3 ton/ bulan, lalu benar-benar berhenti.

Pada masa keemasan sekitar 1980— 1990-an, harga kayumanis kualitas AA berkadar minyak 2,25% mencapai US$90 sen per pond (1 pond = 0,4536 kg). Begitu kuota dicabut perlahan harga merosot. Saat ini per pond menyentuh US$30 sen. Agustus—November silam harga itu terdongkrak mencapai US$42 sen per pond.

Soal jenis pun ditengarai menjadi biang keladi. Pasalnya, rata-rata ekportir yang gulung tikar khususnya di Jawa menjual Cinnamomum cassia. Jenis kayumanis asal Cina itu memiliki kadar sinnamaldehid yang tinggi sekitar 85% sehingga terasa pahit. Ia cocok sebagai bahan baku minyak asiri bukan bumbu. Itulah sebabnya pasar dunia lebih menyukai C. burmanii.

Terpuruk

Kenyataan itu terasa menyesakkan pekebun di Jawa. Bila menyusuri sentra kayumanis tertua di Jawa sejak zaman VOC di Desa Kebumen, Kecamatan Baturaden, Purwokerto, rempah manis itu mulai tersaingi albazia. C. cassia tak lagi memberi harapan. “Sejak 1985 sampai sekarang harganya sama saja cuma Rpl.500 per kg basah dan Rp2.500 per kg kering,” ucap Kaslam pekebun setempat. Dari 1.000 pohon yang dipelihara turun-temurun kini tersisa 200 pohon. Penyusutan itu terjadi karena ayah putra 2 memperbanyak sengon.

Sangadi memilih membiarkan 100 pohon yang rata-rata berumur 10 tahun. Pekebun di Desa Ngalarak, Kecamatan Jambu, Semarang itu patah arang lantaran pengepul enggan menampung kayumanis. Padahal, pada 1985—1990, justru pengepul berbondong-bondong berebut membeli. Bahkan tak sungkan turut ikut memanen.

Saat ini pengepul memang mengurangi volume pembelian. Malahan Nasruddin dan Yatin, dua pengepul besar di Purwokerto dan Ambarawa, melakukannya sejak 5 tahun lalu. Nasrudin semula rutin memasok 4—5 ton per 3 bulan ke pedagang di Cianjur, Jawa Barat. Kini cuma menerima order 3 ton/ tahun. Situasi lebih parah dialami oleh Yatin. Hampir setengah tahun 5 ton kayumanis di gudang tak bisa terjual.

Keadaan seperti itu mendorong Lukmadi mantan pengepul kulit di Desa kebonmanis, Kecamatan Baturaden, Purwokerto, memilih jadi pengumpul daun dan ranting kayumanis. Per 3 bulan sebanyak 4 ton bahan itu diambil oleh pedagang di Semarang untuk bahan baku jamu. Ayah 2 putra itu membeli Rp250 per kg ranting beserta daun kering sebelum dijual kembali Rp600 per kg.

Perdagangan

Dalam dunia perdagangan, terdapat 3 jenis kayumanis yang diperjualbelikan. Cinnamomum burmanii, C. cassia, dan C. zeylanicum. Ketiganya dikebunkan diberbagai daerah di Indonsia seperti Sumatera, Jawa, dan Kalimantan. Segmen pasar C. burmani adalah industri makanan, minuman, farmasi, kosmetik, rokok, dan oleoresin. C. cassia dan C. zeylanicum lantaran berkadar minyak di atas rata-rata 3% digunakan sebagai sumber minyak asiri.

Kebutuhan dunia untuk ke—3 jenis Cinnamomum berupa kulit kini berkisar 22.000—30.000 ton per tahun. Itu tidak termasuk bahan baku untuk minyak asiri 150 ton per tahun. Sedangkan kebutuhan oleoresin—diperoleh dari ekstrak kayu dengan pelarut organik—mencapai 7—10 ton per tahun. “Setiap tahun ada kenaikan 1,5—2,5%,” ucap Sufli Yusuf, direktur pemasaran Sufindo Grup, eksportir di Jakarta.

Indonesia memang pemasok utama kayumanis. Hampir 80% pangsa pasar dikuasai Cinnamomum dari Nusantara. Sayang, karena keterbatasan teknologi, eksportir menjual dalam bentuk setengah jadi. “Itu berbeda dengan Vietnam dan Cina. Keduanya mampu menghasilkan olahan berkualitas tinggi,” ucap Ir Sofyan Rusli, ketua Kelompok Peneliti Pascapanen Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat di Bogor.

Vietnam dan Cina memang mulai tampil sebagai pesaing serius cassiavera Indonesia. Dalam situs agroviet, produksi nasional Vietnam mencapai 15.450 ton per tahun. Calon-calon kompetitor lain seperti Malaysia dan Kamboja malah mulai mengebunkan secara komersial.

Dipakai sebagai campuran makanan di mancanegara
Dipakai sebagai campuran makanan di mancanegara

Jaminan mutu

Meski begitu tetap diakui mutu kayumanis terbaik dari Indonesia. Terutama Cinnamomum burmanii dari Padang dan Kerinci. Oleh karena itu kesulitan pasar tidak menimpa eksportir kayumanis Cinnamomum dari kedua daerah itu.

PT Natrasco Spices Indonesia (7NSI), misalnya setiap bulan mengirim 600 ton kayumanis ke 35 negara tujuan. “Yang terbesar Amerika Serikat sekitar 40%. Sisanya, Eropa dan beberapa negara Asia seperti Korea, Jepang, dan Hongkong,” ucap Indra Wijaya Effendi BSc, direktur NSI di Padang, Sumatera Barat.

Total setiap tahun NSI mengekspor 7.000 ton. Volume itu bertahan sejak 1995. Sebelumnya, hanya 4.000—5.000 ton per tahun. Kenaikan volume itu disebabkan kebutuhan pembeli meningkat. Apalagi masyarakat Eropa mulai keranjingan menyeruput cinnamon capucino dan teh cinnamon.

Untuk menjaga pasokan, NSI merangkul pekebun di Batusangkar dan Kerinci. Setiap kg kering diborong Rp3000—Rp7000 tergantung kualitas dan kadar air. Menurut Indra, perusahaannya cukup mengirim ke sister company di Amerika Serikat. “Mereka yang mengerjakan bottling, labeling, packaging hingga pemasaran,” tutur putra dari Arifin Effendi itu.

Pantas jika eksportir di Jakarta seperti Sufindo Group berburu langsung ke Padang dan Medan untuk memperoleh kayumanis C. burmanii. Harga mahal pun tak masalah. “Kami membeli Rp5.000 per kg kering,” ucap Sufli Yusuf. Barang itu kemudian dipasarkan bentuk cutting (10%), tepung alias cinnamon dust (20%), dan asalan (70%). Paling tidak, perusahaan yang berkantor di Durensawit, Jakarta Timur, itu kini menyetor 30—50 ton/bulan ke Amerika, India, Korea, dan Jepang. Volume itu bertahan sejak 1999.

no image

3 Jenis Kayumanis Unggulan Sebagai Komoditi Ekspor

Sepuluh tahun menanti Mahmud, pekebun kayumanis di Kabupaten Kerinci, Jambi, dapat mengupas 3—5 kg kulit kering Cinnamomum sp. Sayang harganya cuma Rp3.000/kg kering. Setelah itu ia harus sabar menunggu 6 tahun lagi. Pekebun kayumanis merasa getir, meski tiga jenis selalu diminta pasar.

Kulit kayumanis yang diambil Mahmud itu kelak disuling menjadi minyak kayumanis. Selain kulit, ranting, dan daun juga bisa dijadikan bahan baku penyulingan. Di kulit batang C. Zcylanicum kandungan sinnamaldehida komponen utama minyak asiri cukup tinggi 2,21%. Di daun kandungan eugenol yang juga komponen utama minyak daun cengkih, paling tinggi mencapai 83%. “Eugenol membuat minyak kayumanis menjadipahit,” ujar Ir. Sofyan Rush, ketua Kelti pasca panen Balai Peneltian Tanaman Rempah dan Obat.

Pesaing Indonesia untuk pasar dunia, seperti Vietnam, Kamboja, dan Malaysia kian gencar mengembangkan kayumanis. Mereka tidak tanggung-tanggung mengebunkan Cinnamomum sp dalam skala luas. Sayang, Indonesia sebagai surga kayumanis malah tidak mengembangkan. “Penanamannya skala kecil dan tidak dirawat. Begitu tanam langsung ditinggal, pas butuh uang baru ditengok,” ujar Dr Azmi Dalimi, MS, peneliti Balai Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian di Bogor.

Cinnamomum cassia: paling unggul

Di perdagangan dunia Cinnamomum cassia disebut juga cassia ligena atau kayu manis Tiongkok, sesuai asalnya Republik Rakyat Cina. Ia banyak dibudidayakan di Desa Kebumen, Kecamatan Baturaden, Purwokerto dan Lembang, Bandung.

Keistimewaan minyak cassia, kadar sinamaldehida paling tinggi, 85—95%. Sedang kadar minyak kulit Cinnamomum cassia berkisar 3,78%. Selain itu aroma dan rasanya menyengat. Kebanyakan digunakan sebagai rempah-rempah dan bahan baku obat-obatan.

Sosoknya berbeda dibanding Cinnamomum zeylanicum dan Cinnamomum burmanii. Batang tinggi dan lurus mirip manggis. Tajuk berbentuk piramid dan banyak cabang. Warna pucuk tanaman bervariasi dari hijau muda sampai hijau muda kemerahan. Kulit batang agak tebal, tapi mudah dikelupas. Panen pertama saat tanaman berumur 10—15 tahun.

Cinnamomum cassia
C. cassia, diperoleh mutu minyak terbaik

 

Cinnamomum zeylanicum: serba guna

Tanaman asal Srilangka itu dikenal sebagai kayumanis ceylon. Jika jenis lain diambil kulit batangnya, Cinnamomum zeylanicum dipanen kulit kayu cabang, dahan, dan ranting. Ia memberikan produksi daun dan kandungan minyak tertinggi, 3,95%. Kadar sinamadaldehida paling rendah, hanya 50%. Oleh karena itu rasa dan aromanya lebih lembut.

Ia cocok ditanam di dataran rendah, 15—500 m dpi. Sosok tanaman agak bengkok, cabang tidak beraturan sehingga nampak rimbun. Pada umur 3—4 tahun tanaman sudah dapat dipanen, walaupun yang diambil cuma 1 kg. Kulit batang paling tipis di antara ketiga jenis lain sehingga gampang dikupas.

Cinnamomum zeylanicum
C. zeylanicum, semua komponen tanaman berguna

 

Cinnamomum burmanii: kulit tebal

Inilah kayumanis kebanggaan Indonesia. Ia banyak ditanam di Sumatera Barat, Sumatera Utara, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jambi. Di pasar dunia kayumanis Indonesia itu dikenal dengan 2 nama dagang. Kerinci untuk kayumanis terbaik asal wilayah Gunung Kerinci di Sumatera Barat dan Jambi. Sedangkan kayumanis asal daerah lain dikenal sebagai verra. Cinnamomum. burmanii banyak dipakai sebagai bumbu atau bahan baku pembuatan oleoresin. Ia memiliki kadar minyak terendah 3,45%. Kandungan sinamadaldehida lebih tinggi dibanding C. zeylanicum, 65%.

C. burmanii, rempah-rempah kebanggaan Indonesia

Sosoknya mudah dikenali. Warna merah pada pucuk daun ciri khas tanaman tersebut. Semakin tinggi lokasi penanaman warna merah kian kentara. Bentuk daun bulat, panjang, dan tebal. Tinggi tanaman mencapai 15 m dengan percabangan lurus dan teratur. Ia cocok ditanam di ketinggian 500—1.500 m dpi. Umur 6—8 tahun dapat dipanen 4 kg. Pekebun harus ekstra tenaga untuk mengupas lantaran kulit batang sangat tebal.

Rabu, 24 Juli 2019

no image

Icip-icip Manisnya buah naga di Kaki Gunung Arjuna

Masih ingat buah naga berdaging merah yang budidayatani temui di kota Zhongshan, Provinsi Guangdong, Cina Selatan? Bila Anda ingin mencicipi tak perlu datang ke negeri Tirai Bambu. Kini Hylocereus polyrhizus itu bisa dinikmati di kebun berpemandangan ke arah Gunung Arjuna, Wonosalam, Jombang.

Pagi baru saja beranjak siang kala budidayatani menyusuri jalan berliku menuju kebun milik Vincent Edi Yasin. Begitu tiba, deretan pohon cengkih dan salak pondoh menyambut. Tak terlihat tiang-tiang beton penyangga sulur-sulur pohon buah naga. Kerabat kaktus itu memang ditanam tersembunyi—5 km dari pintu gerbang kebun.

Di sana Hylocereus polyrhizus ditanam apik dalam baris tanam 2 m x 2 m di lahan berelevasi 30°. Tiang beton setinggi 160 cm menyangga 4 tanaman. Total jenderal ada 125 tiang yang ditancapkan di lahan seluas 2 ha berketinggian 350 m dpi. Di dekat kebun produksi terlihat hamparan 16.000 bibit berumur 3 bulan ditanam dengan sistem double rowling. Di Tamai, Chonburi, atau Holiday Park—sentra di Thailand—dragon fruit ditanam di lahan datar berjarak tanam 1,5 m x 1,5 m.

Buah Naga Petik sendiri
Selang 9 bulan Vincent memetik naga merah

Petik sendiri langsung dari kebun

Saat kunjungan pada akhir Februari, buah di kebun di Desa Pucangrejo, Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Jombang, itu sebagian sudah dipanen. Tumpukan naga merah segar tertata rapi di sudut kebun. Bobot sekitar 400 – 500 gram per buah. Itu hasil produksi tanaman berumur 9 bulan.

Hampir setiap hari Vincent memetik buah berkulit merah dengan sisik kehijauan. Terhitung sejak panen perdana pada Januari yang dipetik mencapai 600 kg. Beberapa yang masih muda berkulit hijau bergelantungan di ruas batang. Rata-rata tersisa 1 buah per rumpun.

Kebun buah naga di kaki Gunung Arjuna itu tak melulu ditanami si daging merah. Durian, manggis, jeruk nipis, pepaya sunrise, alkesa, lada, dan cabai merah tumbuh baik di kebun beijarak 70 km dari Surabaya itu. Padahal, semula kebun yang dibeli pada 1999 itu tidak terawat dan kurang subur. Namun, ayah 2 anak itu kadung jatuh cinta pada pemandangan indah di sekeliling kebun.

Kini yang menikmati kebun tak melulu Vincent seorang. Pengunjung dari berbagai daerah kerap menyambangi. Mereka boleh memetik sendiri beragam buah yang ada. Buah disantap di rumah peristirahatan di tengah kebun. Atau juga dibawa pulang setelah pengunjung membayar sesuai jumlah yang dipetik.

Rp200 juta Untuk 500 bibit

Kegemaran mengoleksi buah langka alasan pengusaha suku cadang motor itu menanam dragon fruit. Bibit didatangkan langsung dari Taiwan. Untuk 500 bibit setekan setinggi 70 cm Vincent merogoh Rp200-juta dari kantung. Belum lagi biaya pembuatan tiang penyangga sebesar Rp25.000 per batang.

Ia pun rela merogoh kocek untuk mendatangkan bertruk-truk pasir agar kondisi lahan sesuai kebutuhan tanaman. Pohon pitaya tumbuh subur di lahan berpasir dengan porositas dan drainase baik. Sementara kebun di Wonosalam semula berupa tanah kering.

Meski bermodal besar Vincent pantang mundur lantaran nilai jual buah naga tinggi. Apalagi yang berdaging merah masih jarang muncul di pasar. Terbukti begitu panen perdana, telepon genggam pria kelahiran Banyuwangi itu tak berhenti berdering.

Lantaran keterbatasan produksi baru 2 pasar swalayan di Surabaya yang sanggup dipasbk. Dengan label Rp24.000 per kg si daging merah laris manis bak kacang goreng. “Begitu dipajang di gerai tak pernah tahan lama. Pernah dalam waktu 2 jam 40 kg buah ludes,” kenang Vincent. Serba organik

Melihat sambutan pasar, penanaman dragon fruit di kebun Wonosalam Nature Farm nama kebun itu diperluas. Toh, perawatan tak repot. Setiap pagi dan sore tanaman disiram dengan cara mengalirkan air di sisi barisan tanam. Budidaya dilakukan serba organik, mulai dari pupuk sampai pestisida. “Bahan kimia tidak gunakan supaya buah lebih manis,” papar Daniel Kartiko, pengelola kebun. budidayatani yang sempat mencicipi, merasakan buah naga itu sangat menyegarkan. Daging buah merah menyala terasa lembut di lidah.

Kebun dibuka Untuk Umum

Pemupukan Secara teratur

Pemupukan Buah Naga memanfaatkan guano dan kotoran ayam. Bersama mikroorganisme, pupuk dilarutkan dalam 200 1 air. Lalu larutan dikucurkan ke daerah perakaran. Pemberian sebulan sekali dengan dosis 10 liter untuk 8 pohon. Frekuensi menjadi 3 kali per bulan bila tanaman sudah berbuah. Supaya sulur cepat besar dan muncul banyak calon buah, tanaman mesti rajin dipangkas.

Pohon naga relatif bandel. Musuh tanaman gurun itu cuma hama pisang. Sekitar 3.000 pohon Musa paradisiaca dibabat demi buah naga. Kalaupun ada serangan cukup disemprot larutan biji sirsak.

Keluarga buah naga punya anggota baru. Setelah si merah berdaging putih, merah berdaging merah, dan si kuning, kini muncul si merah berdaging hitam. Rasa manis dua kali lipat buah naga berdaging merah dan kuning. Sekali mencicipi pasti ketagihan.

Kadar air rendah membuat tekstur kenyal mirip sari kelapa. Sosok buah lonjong dan batang kurus mirip si kulit kuning. Dengan bobot 350 – 400 g per buah ia lebih mini ketimbang naga daging putih.

Yang tidak kalah menarik tepi kelopak bunga menyesuaikan warna daging buah. Itu memang sifat dragon fruit. Sayang, naga berdaging hitam lamban berbuah. Umur 1,5 tahun baru mulai dipanen; jenis lain umur 8 bulan.

Tanaman asal Gurun Kalahari, Afrika Selatan dekat Zimbabwe dan Namibia itu diboyong Hariyanto, pemilik PT Multi Inovasi Mandiri akhir tahun silam. Dua pot tanaman besar dan sudah berbuah dibeli seharga Rp8.400.000. Itu menjadi induk untuk 300 bibit berukuran 10 cm. Di pasar buah naga hitam dijual Rp40.000/kg; merah Rp32.500/kg. Sedang harga bibitnya Rp50.000 yang berukuran 10 cm.

Selasa, 23 Juli 2019

no image

Cara Masyarakat Ciamis Mendapatkan Pendapatan Sampingan Dari Buah Duku

Kalau Anda tak sengaja menemukan duku di Pasirpanjang, Singapura, boleh jadi itu asal Kabupaten Ciamis. Duku asal Dusun Cililitan, Desa Karanganyar, Kecamatan Ciamis, itu besar, kulit bersih, serta daging manis dan tebal. Di pasar lokal ia dipasarkan dalam karung dengan label CL.

Memasuki musim panen Februari Maret kesibukan kentara di desa-desa di 4 kecamatan sentra duku di Kabupaten Ciamis. Puluhan pengepul desa mengendarai motor atau sepeda menyambangi para pemilik pohon di Kecamatan Cijeunjing, Ciamis, Sukadana, dan Rajadesa.. Mereka siap memanen Lansium domesticum yang sudah dipanjar sebelumnya. Begitu petik hari ini, besok sudah sampai di pasar.

Meski masa petik singkat sekitar 20 – 30 hari panen tidak serempak. Duku asal Desa Benteng, Kecamatan Ciamis, paling dulu dipetik. Baru diikuti desa-desa di kecamatan lain. Panen paling akhir diambil dari Dusun Cililitan, Desa Karanganyar, Kecamatan Ciamis. Panen asal dusun itu paling dinanti-nanti.

Buah Duku
Sekali panen Rp600.000 dari tanaman pekarangan

Maklum selain ukuran buah besar, daging berwarna putih susu dan tebal terasa manis. Lagi pula ia berkulit tebal sehingga tahan simpan sampai seminggu setelah panen. “Supaya daging tebal dan kulit mulus pekebun di Cililitan memberongsong buah saat masih pentil,” tutur Komarrudin, kepala seksi hortikultura Subdin Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Ciamis. Tak heran duku cililitan “terbang” hingga Singapura. Tanpa pesaing

Diduga duku di ke-4 sentra sebenarnya jenis yang sama. “Tapi karena kondisi tanah dan iklim berbeda maka kualitas buah berbeda,” tutur Kasum, Kepala Subdin Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Ciamis. Ia mengidentikkan dengan ubi cilembu yang berubah kualitas bila ditanam di luar Desa Cilembu, Kabupaten Sumedang itu.

Setelah disortir pengepul desa, duku cililitan disetor ke pedagang besar di Cirebon. Dari kota udang itu baru dikirim ke Singapura via eksportir di Jakarta. Sisa sortiran masuk ke pasar lokal Bandung, Jakarta, dan Bekasi.

Toh, pemilik pohon di luar Dusun Cililitan tetap merasakan manisnya duku. Harga diterima pekebun relatif tinggi. Pohon dengan perkiraan produksi 2 kuin’tal laku diborong Rp600.000. Bila dijual kiloan harga berfluktuatif. Pada awal panen pertengahan Februari 2002 duku asal petani dibeli Rp3.000 – Rp3.250 per kg oleh pengepul. Lalu turun hingga Rp2.800 pada saat panen serempak di 4 kecamatan. Di akhir musim giliran duku cililitan panen naik lagi sampai Rp5.000 per kg.

Dari pengepul desa buah anggota famili Meliaceae itu masuk ke pengepul besar. Mereka membawa ke pasar lokal Ciamis dan luar kota. Setiap musim Anda Suhanda pengepul besar di Karanganyarmampu memasarkan 350 – 450 ton. Padahal di seluruh kabupaten di pantai selatan Jawa itu ada 4 pengepul setara. Belum lagi pengepul kecil dengan volume penjualan 100 – 200 ton. Panen terbanyak terutama dari Cijeunjing dan Ciamis 2 sentra terbesar. Di Cijeunjing ada 212 ha setara 21.200 pohon; Ciamis lebih banyak, 43.416 pohon.

Meski panen raya, harga di petani tetap bagus. “Tidak mungkin turun sampai Rp500—Rp 1.000 per kg,” kata Kasum. Itu karena Kabupaten Ciamis sentra terbesar di Jawa Barat. Saat dibawa ke Bandung, Jakarta, dan Bekasi ia hampir tanpa pesaing. Ia berbeda musim panen dengan duku palembang dan purbalingga. Kalaupun ada pesaing asal Sumatera, bukan dari Palembang.

Rp30-juta Perbulan Dari Buah Duku

Duku memang jadi tambahan penghasilan andalan masyarakat Ciamis. Bandingkan dengan palawija dan padi I gogo yang sama-sama ditanam di lahan kering. Pendapatan dari 1 ha palawija dan | padi gogo paling Rp5-juta. “Sementara ada pemilik 6 pohon duku umur 20 tahun s sudah ditawar Rp3-juta. Padahal 6 pohonpaling hanya butuh luas lahan 1.000 m2. Bila 1 ha, Rp30-juta,” hitung Kasum.

Hanya saja “tawaran” pendapatan sebesar itu memang tidak diperoleh dalam sekejap mata. Penanaman asal biji baru berbuah pada umur 15 – 20 tahun. Makanya jarang ada petani yang mau mengebunkan duku. Mereka masih mengandalkan pohon warisan. Di Ciamis kerabat langsat itu tumbuh di pekarangan bercampur dengan tanaman lain. Ia nyaris tanpa perawatan. Paling hanya pemupukan dengan kotoran hewan sekali setahun. Di Kecamatan Ciamis kebanyakan “ditumpangsarikan” dengan salak benteng. Salak asli Ciamis itu ditanami di bawah tajuk duku.

Toh, lamanya waktu panen tak menyurutkan langkah sebagian pekebun. Mulai 1996 di sentra-sentra dikembangkan penanaman baru. Itulah warisan untuk anak cucu mereka 15 -20 tahun kemudian.

no image

Kapulasan Mini Bibit Asal Cangkokan

buah kapulasan atau yg dikenal dengan nama ilmiah Nephelium mutabile biasanya tumbuh menjulang hingga 12 m. Selain sulit dipanen, bentuk tajuk tidak menarik. Namun, si babat sebutan masyarakat Bogor di halaman rumah Irsan Salim cuma setinggi 1,5 m. Bentuk tajuk membulat dihiasi buah berwarna merah tua. Indah sebagai ornamen taman.

Kapulasan berumur 4 tahun itu memang kebanggaan Irsan Salim. Maklum anggota keluarga Sapindaceae itu terbilang langka. “Coba cari di penangkar-penangkar, pasti sulit didapat,” kata pengusaha Tas Tajur, Bogor, itu. Di pedagang kakilima buah kapulasan nyaris tak pernah muncul. Maklum saja tak banyak yang menanam buah beijuluk bulala di Filipina itu.

Kebanggaan Irsan kian menjadi lantaran tanaman berbuah lebat meski baru kali pertama. Buah bulat lonjong berwarna merah tua menyembul di antara rimbun daun. Bunga kuning kecokelatan muncul di sana-sini. Buah mudah dibedakan dengan rambutan Nephelium lappaceum. Kulit dihiasi tonjolan-tonjolan kecil, pendek, dan sangat rapat. Karena penampilannya itu ia disebut rambutan si babat.

Tajuk yang kompak membentuk payung mempercantik penampilan pohon setinggi 1,5 m itu. Daun kecil memanjang nan rimbun mengkilap di permukaan atas. Bagian bawah, pucat dengan rambut-rambut halus dan pendek. Padahal bila tumbuh liar tajuk jelek. Cabang lemas dan daun lebat sehingga cenderung merunduk. Pohon menjulang hingga 10—12 m.

Kapulasan

Masa Berbuah Dua tahun

Sebenarnya cukup mudah membentuk pohon pulasan seperti milik Irsan. “Yang penting bibit tepat dan pengaturan pemangkasan,” tutur Markus Amin, penangkar di Depok. Supaya tajuk kompak, kurangi cabang yang nglancir ke atas. Pilih cabang-cabang yang mengarah ke samping sehingga tajuk membentuk setengah lingkaran.

Sosok pendek diperoleh dari bibit asal cangkokan. Agar cepat berbuah, pilih cabang tua. “Dengan cara itu 2 tahun setelah tanam langsung berbuah,” kata Markus. Itu lantaran tanaman asal cangkok memiliki masa muda pendek. Ia tumbuh dewasa meneruskan masa muda cabang asal. Bibit asal cangkok cenderung tumbuh rendah, melebar ke seluruh arah sehingga tetap kerdil.

Pemilik Virosa Tani itu pernah mencoba pada pohon milik tetangga. Bibit cangkokan diambil dari pohon tua. Dua tahun berselang tanaman berbuah berbarengan dengan induk. Menurut penelitian di Malaysia dengan budidaya intensif pulasan asal biji bisa berbuah pada umur 5 tahun saat pohon setinggi 5—6 m.

Keistimewaan kapulasan nama di Jawa, kualitas buah kapulasan serupa dengan induk meski diperbanyak dengan biji. Buah besar, tapi bagian yang dapat dimakan sangat sedikit ketimbang kulit yang tebal. Meski berkulit tebal ia rentan pecah terutama bila dipanen dengan cara dijatuhkan. Daging yang putih sampai putih kekuningan terasa lembut, berair, dan manis sedikit asam. Daging mudah dikelupas dari biji. Biji berwarna kecokelatan berukuran kecil, nyaris tak ada. Dahulu lemak biji dimanfaatkan sebagai minyak untuk lampu.

Kapulasan

Kebun ala Honduras

Kerabat lengkeng Nephelium longan itu berasal dari Malaysia bagian barat. buah kapulasan banyak ditemukan di hutan-hutan dataran rendah di Perak dan Malaysia. Di Filipina tersebar mulai dari Luzon sampai Mindanao. Tanaman berjuluk rambutan negro di Malaysia itu sudah dibudidayakan di Malaysia, Thailand, dan Filipina. Di Jawa hanya ditemukan di seputaran Bogor. Pertumbuhan pulasan di kota hujan itu paling baik.

Namun, budidayatani sempat mencicipi saat berkunjung ke Bulungan, Kalimantan Timur. Di sana ia disebut meritam alias maritam. Buah dipetik dari pohon setinggi 15 m. Di Borneo terdapat 4 jenis maritam: berambut hijau, kuning, merah tua, dan hitam keunguan saat masak. budidayatani mencicipi yang berwarna hitam keunguan. Yang berwarna merah adalah si babat.

Sebuah pohon muda dari Jawa dibawa ke Lancetilla Experimental Garden, Tela, Honduras, Amerika Tengah, pada 1927. Mulai dikembangkan besar-besaran pada 1945. Hasilnya dijual di pasar lokal. Salah satu varietas yang terkenal ialah kapulasan merah complok

no image

Anggur Salak Rasa Tapai Ketan Dari Bali

Bila sekali waktu Anda datang ke sentra penanaman salak di Desa Telagae, Karangasem, Bali, cobalah tengok ke toko-toko penjaja oleh-oleh khas setempat. Di situ tersedia botol-botol transparan berisi larutan bening. Anda Yang tak meminum alkohol, hati-hati. Itu anggur hasil fermentasi salak bali. Tetap penasaran ingin mencicipi? “Rasanya seperti tapai ketan,” tutur I Wayan Putu Ardika, ketua Kelompok Tani Mekarsari.

Kelompok tani anggota Kelompok Usaha Bersama Lestari itu salah satu penghasil wine asal buah Salacca zalacca. Bahan baku berupa buah apkir yang tidak laku dijual segar karena ukuran terlalu kecil atau kulit cacat. Yang banyak dimanfaatkan varietas lokal: nangka, nanas, dan getih (artinya darah) semua disebut salak bali.

Daging dipisahkan dari kulit dan biji. Kemudian diparut dan diperas. Air perasan lantas difermentasi sehingga keluar kandungan alkohol. Sebelum dikemas dalam botol-botol transparan ia diproses agar kelihatan bening. Itulah yang dijajakan di toko-toko di seputaran Karangasem.

salak berdaging putih

Pohon Salak Warisan Belanda

Buah salak itu memang kerap dibuat olahan. Yang paling sering jadi asinan atau manisan seperti yang dilakukan para perajin di Sukabumi atau Cianjur. Permen salak hasil olahan dari Sibetan, Karangasem, juga tak kalah enak. Bahkan kini salak mulai dikalengkan. Penampilannya jadi lebih eksklusif.

Meski demikian, pemanfaatan sebagai buah segar tetap yang utama. Siapa tak suka salak pondoh andalan Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Ukuran buah memang relatif kecil ketimbang jenis lain, misal salak super asal Desa Blitar, Banjarnegara, Jawa Tengah. Namun, jangan tanya rasanya. Manis tanpa sepat meski buah masih muda.

Itu memang keunggulan salak berdaging putih seperti pucuk kelapa yang masih terbungkus pelepah itu (disebut pondoh, dalam bahasa Jawa). Sebagai konsekuensi harga relatif tinggi. Buah berkualitas baik di tingkat pekebun dibeli Rp5.000 – Rp6.000 per kg. Sampai di tangan konsumen lokal Rp8.000; luar kota seperti Jakarta apalagi masuk ke pasar swalayan mencapai Rpl2.000.

Wajar bila ia marak dikembangkan di luar sentra penanaman. Menurut Sumitra, SP, staf Dinas Pertanian dan Kehutanan Provinsi Bangka Belitung, di bekas wilayah Sumatera Selatan itu sejak 5 tahun silam ditanam salak pondoh seluas 20 ha. Padahal di sana juga ada salak hijau lokal unggulan.

Ya, untung saja seorang meneer Belanda berbaik    hati meninggalkan kenang-kenangan 4 pot salak untuk Partomejo, Kabayan (kepala kampung, bahasa Jawa) Desa Merdikareja, Kecamatan Turi, Kabupaten Sleman. Kejadiannya sebelum kepulangan pegawai perkebunan tembakau itu ke negeri Kincir Angin pada 1917.

Bibit salak lantas diperbanyak oleh Muhadiwinata putra Partomejo hingga 1.000 pohon pada 1954. Dari Dusun Soka lokasi kebun salak pondoh menyebar ke Semarang, Wonosobo, Boyolali hingga Lampung.

Salak dari Karang Asem selalu Ditunggui

Di Karangasem pun buah segar tetap dinomorsatukan ketimbang wine, permen, atau asinan. Andalan dari Pulau Dewata ialah kultivar gula pasir. Seperti namanya ia semanis gula pasir, pun ketika buah masih muda. I Wayan Putu Ardika menanam seluas 0,5 ha di Desa Telagae.

Sudah sejak setengah abad silam ia dikembangkan, terutama di Desa Sibetan. Semula disebut salak kuud (artinya kelapa muda Bahasa Bali) lantaran rasa seperti degan. Nama gula pasir disematkan oleh Syarifudin Baharsjah mantan menteri pertanian pada masa Presiden Soeharto—pada 1989 atas usulan masyarakat setempat.

Nah, kalau Anda sempat mencicipi salak gula pasir di sentra jangan kaget kalau ada orang menunggui. Tak perlu erprasangka buruk, mereka cuma berharap Anda segera membuang biji ke tempat sampah. Begitu Anda pergi, mereka segera memburu biji-biji itu.

Biji salak itu memang sama berharga seperti buahnya. Pada saat produksi membludak harga buah segar berkualitas baik di tingkat petani Rp 15.000 per kg isi 8—12 buah. Paceklik, Rp40.000 per kg. Tak heran banyak orang tertarik menanam. Lantaran perbanyakan bibit di sana mayoritas masih dari biji, bakal buah itu jadi incaran. Sebutir dihargai Rp 1.000.

Ibukota negara juga sempat terkenal dengan salak condet-nya. Bahkan salak asal Condet, Jakarta Timur, itu dijadikan lambang Provinsi DKI Jakarta. Sayang ia kini terancam punah. Di daerah asal produktivitas hanya 10 – 20 buah per pohon per tahun. Padahal jenis lain umumnya 20 – 50 buah. Itu karena ia masih ditanam secara tradisional. Belum lagi jumlah lahan penanaman yang terus berkurang.

salak hijau

Potensi Salak hijau

Hampir seluruh wilayah Indonesia memiliki salak lokal unggulan. Dari sekitar 20-an jenis yang ditemukan di dunia, sebagian besar memang tumbuh liar di Indonesia. Provinsi Bangka Belitung punya salak hijau asal Desa Airjukung, Kecamatan Belinyu.

Disebut salak hijau lantaran kulit bertahan hijau, meski sudah masak. Namun, yang disaksikan budidayatani di Pameran Produk Indonesia, Balai Sidang Jakarta, kulit berubah cokelat. Diduga akibat pendingin ruangan. Ketika tiba di Jakarta masih hijau. Dua hari kemudian berubah cokelat. Padahal di daerah asal, hijau di kulit bertahan hingga sepekan.

Menurut Gregori Hambali jarang sekali buah tetap berwarna hijau hingga masak. Kecuali pada beberapa jenis mangga seperti kueni yang hampir tidak mengalami perubahan warna. Lazimnya begitu masak warna buah berubah kuning atau merah karena klorofil terdegradasi. “Kalau benar ada salak tetap berwarna hijau saat masak, itu bagus,” tutur kolektor salak di Bogor itu.

Di daratan Sumatera terdapat jenis liar lain: Salacca sumatrana—termasuk salak padang sidempuan yang sudah dibudidayakan, S. dubia, S. acehensis, dan S. palembanica. Di Kalimantan ada S. magnified, S. dranfieldiana, dan S. vermiculata. Di Ambon, Temate, Manado, Sumba, dan Lombok tumbuh jenis 5. amboinensis.

Untuk mendeteksi keberadaan salak liar di hutan, “Paling mudah dari kehadiran serangga penyerbuk jenis bermoncong seperti kutu beras,” kata Greg Hambali. Buah liar biasanya sepat—sifat itu masih terbawa oleh beberapa jenis yang sudah dibudidayakan.

Salak dari Negeri jiran

Dengan keragaman jenis itu wajar Indonesia dianggap gudangnya salak. Meski demikian, buah berkulit bak sisik ular itu juga ditemukan di negara-negara jiran. Greg Hambali mengoleksi salak asal Malaysia berdaging tebal, kaya air dengan rasa segar. Jenis itu mulai dikebunkan di negara bagian Trengganu. Kelebihannya ia mudah dipanen karena tandan buah keluar dari ketiak daun.    T

Lagipula produksi tinggi, pohon dewasa mencapai. 140 kg per tahun. Itu karena terdapat 6 – 8 dompol buah per pembungaan. Salak lokal Indonesia hanya 3 – 4 dompol. Banyaknya dompolan mempermudah penjarangan agar ukuran buah besar tanpa mengurangi total produksi. Salak malaysia kualitas super dijual 20 – 30 ringgit setara Rp50.000 – Rp75.000 per kg di Kualalumpur.

Negeri Gajah Putih Thailand juga penghasil salak. budidayatani pernah mencicipi saat berkunjung ke Suphattra Land, kawasan agrowisata di Provinsi Rayong. Bentuk kurus dan lonjong. Daging buah merah menarik. Sayang rasa asam dan sepat. Kumbar—sebutan di Siam— dimanfaatkan sebagai penyedap masakan. Di Filipina selatan ditemukan jenis salak yang juga tumbuh liar di Kalimantan Timur.

Negara-negara Asia Tenggara memang habitat asal salak. Namun, penanaman secara komersial baru dikenal di Indonesia, kemudian diikuti Thailand dan Malaysia. “Di Queensland, Australia, ada tapi untuk keperluan riset saja,” ujar Greg Hambali. Di Florida, Amerika Serikat, ia hanya sebatas tanaman koleksi. Di negara-negara itu pun masih sulit menemukan salak meski di pasar swalayan. Ia memang belum sepopuler mangga atau manggis. Kalau ada, besar kemungkinan itu asal Indonesia.

Syarat tumbuh

Produksi salak Indonesia memang tak melulu diserap konsumen lokal. Sampai 1998 sebuah perusahaan eksportir di kawasan Melawai, Jakarta Selatan, masih mengekspor 500 kg per bulan. Negara tujuan utama ialah Belanda dan Arab Saudi. Toh, jumlah yang diekspor tetap lebih kecil lantaran habis terserap pasar lokal. Maklum rasa buah cocok hampir di lidah setiap orang. Makanya ia marak dibudidayakan di berbagai daerah. Lokasi penanaman tersebar di Jawa Barat, Jawa Tengah, Bali, Yogyakarta, Sulawesi Selatan, dan Sumatra Utara.

Apalagi teknis penanaman tidak terlalu sulit. Kerabat kelapa sawit itu tumbuh di daerah dengan ketinggian 200—700 m dpi. Pada ketinggian hingga 1.000 m dpi ia sulit berbuah. Lokasi penanaman di bekas tumpukan debu vulkanik menghasilkan kualitas lebih baik. Misal salak pondoh di lereng Gunung Merapi; manonjaya di kaki Gunung Galunggung; dan gulo pasir di Gunung Agung.

Kebutuhan sinar matahari 50—70% sehingga perlu naungan, seperti lamtoro Leucaena glauca dan dadap Erythrina sp. Bunga jantan menjadi steril bila terkena sinar matahari langsung; buah belah-belah. Tanpa naungan penanaman diperapat. Suhu ideal 18—25°C dan pH tanah 5—7. Suhu terlalu tinggi mempengaruhi pembentukan biji dan daging.

Terlalu rendah menghambat pembungaan. Panjang bulan kering antara 3—4 bulan. Lebih dari 6 bulan masih cocok asalkan kebutuhan air tetap tercukupi. Misal dengan menggunakan sistem pengairan leb. Pengaturan pengairan memungkinkan salak berbuah sepanjang tahun.

Wisata agro

Kehadiran salak membawa berkah lain untuk penduduk di sentra penanaman. Sibetan menjadi populer ke seluruh negeri sejak menjadi sentra penanaman terbesar di Bali. Tak heran banyak pelancong berkunjung ke sana. Apalagi ia terletak di jalur wisata menuju Desa Putung yang berpemandangan terassering padi dan Tulamben—terkenal dengan taman lautnya. Pulang dari desa berjarak tempuh 2 jam dari Denpasar itu sekeranjang salak gula pasir jadi oleh-oleh favorit.

Perayaan Tumpek Pengatang atau Tumpuk Uduh—manifestasi rasa syukur atas tanaman yang subur dan banyak menghasilkan buah—jadi atraksi menarik untuk para turis. Dalam upacara itu biasa ditampilkan tari topeng, rejang, dan pendet diiringi gamelan. Industri serupa tumbuh di Desa Bangunkerto, Kecamatan Turi, Sleman, di jalur wisata Yogyakarta— Borobudur. Pengunjung boleh memetik sendiri buah di kebun salak pondoh yang berproduksi tanpa musim

Senin, 22 Juli 2019

no image

Cara Walet cepat bersarang Menggunakan Menara Air

Pemilik rumah walet di pantai utara Jawa waswas. Tambang emas itu terancam akibat produksi melorot tajam hingga 60%. “Iklim rusak akibat hutan terus dijarah,” ujar Ir Rosich Amsyari, peternak di Surabaya yang juga mengalami nasib serupa. Dengan mendirikan “menara” air yang sederhana, kecemasan itu tak berkepanjangan.

Penurunan produksi mencapai 60% jelas sangat mengkhawatirkan. Jika sebuah sarang walet biasa menghasilkan 5 kg sarang, pemilik hanya dapat memetik 2 kg setelah terjadinya penurunan itu. Artinya, Rp45-juta yang mestinya dituai, sirna. Rosich menganalisis biang keladi anjloknya produksi karena banyak hutan rusak.

“Otomatis siklus iklim berubah, sehingga tingkat pengembunan berkurang. Jadi panas terus,” ujar alumnus Institut Teknologi Sepuluh Nopember itu. Kondisi itu dirasakan sejak Maret tahun silam. Pengamatan Rosich menunjukkan, beberapa area hijau di Gresik, salah satu sentra di Jawa Timur, mengalami kerusakan. Apalagi hingga akhir 2018 hujan tak tercurah sama sekali.

sarang walet

Tiga tiang

Untuk mengatasi masalah itu Rosich mendirikan 3 menara air di rumah walet di Sidayu, Kabupaten Gresik. Rumah itu berlantai satu berukuran 15 m x 20 m. Sedangkan halaman belakang berukuran 15 m x 10 m. Di belakang rumah walet itulah ia mendirikan 3 tiang besi berdiameter 1,5 cm dengan ketinggian beragam, 3 m, 4 m, dan 7 m. Tinggi tiang beragam lantaran, “Burung terbang kan berbeda-beda, ada yang tinggi dan juga yang rendah,” kata 2 anak itu.( Baca : Cara Memancing Burung Walet Agar Mau Bersarang Menggunakan Lampu 5 Watt )

Di setiap ujung tiang dilekati sprinkel statis yang terdiri atas 4 saluran air untuk memancing walet cepat bersarang. Sebuah pompa menarik air tanah, lalu disemburkan sprinkel. Setiap menara air dilengkapi sebuah pompa. Air dialirkan 3 kali sehari pada tiang 7 m. Masing-masing pada pukul 05.00—06.00, 00.10—12.00, 16.00—18.00. Tiang lain setinggi 4 m, dialirkan selama 12 jam sehari sejak pukul 06.00—18.00.

Menara lain, dialirkan hanya pada pukul 16.00—18.00. Dengan pengaturan otomatis—mirip pompa pada teknologi aeroponik sayuran—air mengalir dengan interval tertentu. Ide pembuatan menara air itu sederhana saja. “Burung kan perlu minum setelah terbang jauh. Ternyata betul, setiap sore burung berputar-putar di sekitar tiang itu sebelum masuk ke rumah,” ujar sarjana Teknik Elektro itu.

Lantai disiram Agar Tetap lembab

Dampak menara air rumput yang semula kering kecokelatan, sejak hadirnya sprinkel itu berubah hijau royo-royo. Itu berkat tetesan air yang membasahi rerumputan. Akhirnya seluruh halaman disiram setiap hari pada pukul 15.00. Setelah rumput hijau, populasi serangga pakan walet pun meningkat. ( Baca : Teknik Memancing Walet Menggunakan CD Rekaman Suara Walet Birahi )

Menurut Rosich populasi walet yang relatif tinggi meningkatkan temperatur ruang, sekaligus menurunkan kelembapan. Pada kondisi itu walet merasa tidak nyaman yang berdampak menurunnya produksi. Untuk mengatasi, anak ke-2 dari 6 bersaudara itu menggelontor lantai rumah yang dilapisi kotoran walet setebal 50 cm.

Lantai rumah disemprot air bersih hingga, “Kalau diinjak terdengar ces..ces… Becek merata. Telur yang jatuh saja tidak pecah,” kata mantan dosen Universitas Darul Ulum Jombang itu dengan logat Suroboyoan yang kental. Penyiraman itu menekan melonjaknya suhu ruang dan ini adalah salah satu cara agar walet cepat bersarang. Meskipun di dalam ruang Rosich juga menyediakan 10 tempayan berkapasitas masing-masing 30 liter.

Tak hanya itu, penyemprotan lantai tanah juga mengurangi kadar amonia sehingga kualitas sarang meningkat. Ruang berkadar amonia tinggi biasanya menghasilkan sarang berwarna kuning. Membuang kotoran untuk mengurangi amonia sangat riskan. Dengan adanya kotoran, walet sebetulnya lebih kerasan.

Rosich, misalnya, selama 7 tahun terakhir tak pernah mengurangi kotoran walet hingga menumpuk setebal 50 cm. Penyiraman pada bulan tertentu ketika kemarau panjang seperti dilakukannya, efektif menekan amonia. Kalau ada yang minta kotoran, paling ia hanya mengambil 10 karung masing-masing berbobot 25 kg. Setahun hanya sekali pengurangan.

sarang walet

Logis

Frekuensi penyemprotan 10 hari sekali hal ini dilakukan agar walet cepat bersarang. Waktu ideal penyiraman pukul 09.00—10.00 saat walet keluar ruangan. Dengan 2 perlakuan itu 3 bulan berselang produksi sarang kembali meningkat 20%. Produksi kembali stabil beberapa bulan kemudian. Keruan saja kiat yang diterapkan dosen Akedemi Perawatan RSI Surabaya itu ditiru banyak peternak lain. Mereka juga ingin melorotnya produksi tak berkepanjangan. ( Baca : Skema Pemasangan Tweeter Walet Secara Optimal )

Menurut Dr Boedi Mranata, pengamat walet, langkah yang ditempuh Rosich Amsyari masuk akal. Kelembapan tinggi mendorong kelenjar saliva yang memproduksi liur mampu bekerja maksimal. Sebaliknya, pada kondisi kelembapan rendah dan temperatur tinggi.