Tampilkan postingan dengan label arwana. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label arwana. Tampilkan semua postingan

Rabu, 03 Juli 2019

no image

Sukses Meraup Miliaran Rupiah Dari Pembiakan Ikan Arwana Super

Di penghujung Maret 2018 mentari menyengat di Kulin, 20 km ke selatan Pekanbaru Sebuah mobil jip beroda besar terguncang- guncang di jalan berbatu sepanjang 2 km. Kadang-kadang suara mesin meraung-raungkarena melewati tanjakan curam. Laju mobil berkurang kala melintasi jembatan kayu. Setengah jam perjalanan sungguh sangat melelahkan. Namun, rasa letih dan penat itu sirna begitu kaki menjejakkan di farm penangkaran arwana di Kulin, Bukit Raya, Pekanbaru.

Saat memasuki pintu gerbang, tidak ada plang papan nama. Hamparan kolam-kolam siluk pun tidak terlihat. Yang tampak hanya sebuah rumah dan 10 kandang ayam potong. Ternyata kolam penangkaran arwana ada di belakang kandang ayam. Di sana terlihat 4 kolam tanah, masing-masing berukuran 6 m x 30 m, 8,5 m x 70 m, dan sebuah kolam ukuran 12 m x 50 m. Kedalaman kolam sekitar 5 m.

Farm seluas 1,5 ha itu dikelilingi pagar kayu setinggi 2 m. Tidak ada pengamanan ekstra ketat. Untuk menjaga keamanan, Henry Liberty, sang pemilik menempatkan 8 anjing kampung dan 2 pitbul. Puluhan lampu neon 40 watt dipasang di setiap sudut kolam. Dua genset masing-masing berkekuatan 10 KVA dioperasikan untuk memperlancar aktivitas di kolam. Meski terbilang sederhana. Henry-sapaannya sudah merogoh kocek sekitar Rp3-miliar untuk membangun farm.

Hal itu berbeda dengan PT Wajok Inti Lestari, salah satu farm arwana yang dikunjungi budidayatani di Pontianak. Kalimantan Barat. Lokasi penangkaran milik The Hendrie tampak mewah. Pengamanan pun ekstra ketat. Tidak sembarangan orang boleh masuk ke sana. Bahkan, untuk masuk lokasi pengunjung harus melewati 3 lapis pagar tembok beton setinggi 4 m. Lampu halogen dipasang di setiap sudut untuk penerangan. Tak seorang pun yang lolos dari pengamatan penjaga yang siaga di setiap pos. Maklum, ribuan induk berharga puluhan juta rupiah tersimpan di sana.

Fungsi Tandon air

Di Pontianak, sebagian besar farm mengandalkan air Sungai Kapuas. Tak heran, bila lokasi farm kebanyakan berdekatan dengan sungai terpanjang di Indonesia itu. Alasannya, selain kontinuitas pasokan air terjamin, juga cocok dengan ikan kahyangan itu. tinggi air kolam dilakukan setiap hari. Begitu masuk, air lama terbuang secara otomatis melalui saluran pembuangan selebar 2 m yang berada mengelilingi areal kolam.
Induk terpilih

Kunci sukses penangkaran arwana terletak pada kualitas induk. Untuk memenuhi obsesinya, Henry meminta beberapa koleganya di Jakarta dan Kalimantan Barat untuk memasok calon induk. Kurang dari setahun, ia berhasil mengumpulkan 100 ekor induk tangkapan alam. Jenis yang dominan superred, lalu silver, dan golden red. Ukurannya 40-70 cm. Ribuan induk dan anakan jardini pun dicemplungkan ke kolam penangkaran.

Tidak sembarangan ikan dijadikan induk. Henry selalu mensyaratkan calon induk, seperti tubuh proporsional, warna cerah, dan tidak cacat. Induk-induk terseleksi dimasukkan ke kolam terpisah sesuai jenis. Begitu mendapat izin pada September 2003, Henry mengibarkan bendera PT Hanggar Lestari Alam sebagai penangkaran arwana.

Izin penjualan arwana dan jardini pun sudah dikantonginya. Terbukti gerai khusus arwana dibangun di bilangan Manggabesar, Jakarta Barat. Bangunan 4 lantai itu dihuni puluhan akuarium besar berisi berbagai jenis, mulai jardini, superred, golden red, pino, banjar red, dan silver. Di lantai 4 pun dibuat 3 bak pembesaran untuk silver dan jardini berukuran 10 cm – 20 cm.

Tak semua arwana dilempar ke pasaran. Beberapa ekor dipertahankan sebagai calon induk. Hingga kini, Henry masih memburu calon induk tangkapan alam untuk menambah koleksi. Usaha penangkaran yang dirintis pria asal Riau sejak 2003 itu telah membuahkan hasil. Puluhan anakan telah didapatkannya pada Maret 2018. Rencana untuk memperluas farm akan direalisasikan dalam waktu dekat. Terbukti lahan seluas 3,5 ha tengah disiapkan. “Farm ini kan hanya sekadar eksperimen dulu,” ujar pemilik Meng Arwana Center itu.

Meng Arwana Center

 

Prospek Masa Depan Yang Cerah Dari Arwana Farm

Keinginan Henry untuk membuka farm besar di Pekanbaru bukan sekadar bualan. “Saya melihat prospek arwana begitu cerah di masa mendatang,” katanya. Apalagi saat ini belum banyak kalangan yang tertarik mengelola anggota keluarga Osteoglossidae itu. Tak heran, bila kesibukannya meningkat 3 bulan belakangan ini. Hampir setiap akhir pekan ia bolak-balik Jakarta-Pekanbaru. Baginya, melihat liukan arwana di kolam menjadi kenikmatan tersendiri.

Bagi Henry, arwana sebenarnya bukan “mainan” baru. Ia telah mengenal ikan naga itu sejak 2000. Dulu ia hanya sebatas berdagang arwana. Keinginan untuk menangkarkan sempat terlintas di benaknya. Sayang, rencana itu belum terlaksana gara-gara “demam” lou han di tanah air. Ia sempat “menjamah” ikan berajah itu. Malahan, ia termasuk pionir untuk bisnis ikan hibrida asal Malaysia itu. Modal miliaran rupiah pun digelontorkan untuk mengimpor lou han berkualitas.

Namun, begitu pamor ikan nongnong itu surut, Henry pun berbalik lagi ke arwana. Akuarium yang dulu berisi lou han berkualitas, kini dihuni arwana berkelas. Berbekal pengalaman itu tentu saja tidak sulit baginya untuk memasarkan ikan hias asal Kalimantan itu. Malah, “Banyak hobiis yang langsung menjemput arwana di sini,” ungkapnya.

Rabu, 05 Juni 2019

no image

Langkah Memasang Chip Pada Ikan Arwana Asia

Siang itu Arif Gautama, hobiis di Daan Mogot, Jakarta Barat, sibuk mengecek 29 Mikrochip dengan reader—alat pembaca Mikrochip. Satu per satu nomor pang tertera di layar reader dicocokkan dengan sertifikat. Empat botol obat bius berjejer di meja. Di sampingnya terdapat alat penyuntik, Mikrochip, dan reader.

Mikrochip Untuk Ikan Arwana terbuat dari plastik berbentuk silender dengan panjang 1 cm. Di dalamnya terdapat kumparan kawat, magnet, dan angka-angka yang hanya terbaca dengan bantuan reader. Keberadaannya menjadi syarat penting dalam perdagangan arwana.

Tak hanya induk, ikan berukuran 15—20 cm pun wajib dipasangi Mikrochip sebelum diperdagangkan. Itu ciri khas arwana hasil tangkapan. Balai Konservasi Sumberdaya Alam (BKSDA) setempat selalu mengecek nomor seri sesuai dengan sertifikat. Setiap ikan hanya dipasangi sebuah Mikrochip dengan nomor berbeda.

Proses pemasangan Mikrochip memakan waktu sekitar 15 menit/ekor. Yang lama ialah proses pemanenan ikan, pembiusan, dan pelepasan kembali ke kolam. Scleropages formosus itu perlu ditangani secara hati-hati agar kondisinya tetap prima. Sirip dan sisiknya pun tidak boleh rusak. Berikut ini langkah-langkah proses pemasangan Mikrochip :

  1. Air kolam dikuras hingga tersisa 1/3 tinggi kolam. Panen menggunakan jaring polyethilene (PE) bermata jaring 1 inci yang sudah dilengkapi pelampung dan pemberat. Sebanyak 4 orang menarik jaring agar terbentang ke masing-masing sudut kolam. Mereka maju perlahan-lahan agar lumpur di dasar kolam tidak teraduk Tujuannya supaya air tetap jernih dan arwana tidak stres. Ruang gerak dipersempit menjadi 2—3 m agar arwana mudah ditangkap. Jaring dibentangkan ke atas untuk menghindari ikan loncat.
  2. Arwana ditangkap secara hati-hati dengan serokan besar. Satu per satu ikan dimasukkan ke kantong plastik, lalu diangkat dengan kedua tangan ke tanggul kolam.
  3. Kotak styrofoam berukuran 60 cm x 150 cm x 40 cm di siapkan untuk menampung ikan mahal itu. Sebelumnya isi dengan air bersih setinggi 1/3 volume kotak.
  4. Teteskan 2—3 tutup botol atau sekitar 300 ml obat pembius. Tangan Arif mengaduk cairan itu agar obat bekerja dengan merata.
  5. Ikan yang sudah tertangkap dimasukkan ke kotak, lalu ditutup dengan styrofoam lain agar tidak melompat ke luar. Setiap kotak berisi satu ikan. Biarkan beberapa saat hingga ikan pingsan ditandai gerakan renang lamban, kemudian tubuh pipihnya mengapung di air.
  6. Siapkan pula peralatan yang dibutuhkan selama pemasangan Mikrochip, seperti injeksi, Mikrochip, dan reader—alat pendeteksi nomor Mikrochip. Sebelum dipasang, sebaiknya nomor Mikrochip dicek terlebih dulu sesuai dengan sertifikat. Seekor ikan hanya ditanami 1 Mikrochip.
  7. Tangan kiri Arif begitu cekatan “memeluk” arwana. Tangan kanannya menggenggam erat suntikan berisi Mikrochip. Telunjuknya meraba dan menekan punggung siluk. Sisik kekuningan ke-2 dan ke-3 dan sirip punggung disibakkan, lalu jarum didorong ibu jari dengan kuat hingga menusuk daging. “Di tempat itu biasanya daging agak tebal sehingga lebih mudah memasukkan Mikrochip. Hati-hati jangan sampai terkena syaraf, ikan bisa cacat,” katanya. Untuk mencegah penyakit, bekas suntikkan diolesi antibiotik usai pemasangan.
  8. Ikan yang sudah “ditanami” Mikrochip dicek dengan reader. Maksudnya untuk memastikan Mikrochip sudah terpasang di tubuh siluk Setelah itu ikan dimasukkan kembali ke plastik. Kemudian diangkat dengan kedua tangan agar ikan tidak merosot. Masukkan kembali ikan ke kolam di luar jaring.

Eksportir ikan hias diwajibkan memanggil petugas BKSDA setempat ketika hendak mengemas arwana siap ekspor. Setelah dicek, nomor Mikrochip masing-masing ikan dicatat. Di bandara, Mikrochip yang diekspor tidak lagi diperiksa. Petugas karantina hanya mengecek jumlah ikan secara acak. Ikan mahal itu pun kini siap melanglangbuana.