--> Archive for buah naga Budidaya tani: buah naga - All Post
Tampilkan postingan dengan label buah naga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label buah naga. Tampilkan semua postingan

Jumat, 11 September 2020

Kala sang Jenderal Terpikat Budidaya Buah Naga

Kala sang Jenderal Terpikat Budidaya Buah Naga

Gara-gara kepincut rasa undatus yang manis segar itu, Soeyono kesengsem untuk memiliki tanamannya. Sebatang bibit anggota famili Cactaceae itu jadi kala kembali ke tanah air. 

Sayang, belum tahu cara menanam, kesibukan sebagai perwira tanaman gurun itu tumbuh naga pun terlupakan dari jenderal.

Budidaya Buah Naga

Sebuah artikel di Budidaya Tani pada awal 2013 mengembalikan memori bungsu dari 3 bersaudara itu pada thang loy bahasa Vietnam, artinya buah naga. 

Kali ini perburuan lebih serius. Maklum ketua Musyawarah Kekeluargaan Gotong Royong (MKGR) organisasi massa Partai Golkar itu punya cukup waktu luang setelah memasuki pensiun. 

Pencarian Soeyono membawanya ke sebuah kebun pembibitan di Mojokerto, Jawa Timur. Dari sana didapat 12 bibit H. undatus yang kemudian ditanam di kediaman di Cikeas, Bogor.

Dragon Fruit Mogok Berbuah

Apa lacur, lagi-lagi sang naga belum bersahabat. “Dari 12 pohon, hanya 1 yang berbuah,” kenang kelahiran Batu itu sambil tersenyum. Maklum lantaran ingin tanaman cepat besar, Soeyono tak pernah memangkas. 

Alhasil, mulai dari bawah, batang dirimbuni cabang. Padahal mestinya sampai ketinggian 1,5 m cabang dibuang. Setelah itu baru sulur-sulur penghasil buah dibiarkan tumbuh.

Untung saja ayah 3 anak itu tidak patah arang. Ia justru makin terobsesi mengebunkan buah naga setelah berkunjung ke kebun di Thailand dan Israel. Deretan dragon fruit nan subur dan berbuah lebat di tanah gersang Israel melecut semangatnya. 

Keseriusan menantu Mien Sugandhi mantan Menteri Peranan Wanita itu mempertemukannya dengan Sapta Surya. Dengan bantuan pelopor penanaman dragon fruit di Indonesia itulah impian menjadi pekebun buah naga hitam mulai terwujud.

Senyum sumringah pun kini mengembang di wajah Soeyono. Sebanyak 1.191 pohon buah naga yang ditanam di kebun di Yogyakarta memamerkan buah sejak November silam. Artinya, itu saat tanaman baru berumur 7 bulan. 

Pada Januari ini buah-buah berwarna merah cerah dengan surai hijau siap dipanen. Itu berkat intensitas Soeyono memupuk dan memangkas cabang kunci membuahkan dragon fruit, ia sangat memperhatikan point penting pupuk buah naga agar berbuah lebat

Pantas bila penggemar motor besar itu pun betah berlama-lama di kebun. Sambil sesekali merompes cabang- cabang air tak berguna, setiap pagi Soeyono menghirup udara segar. 

Saking senangnya melihat tanaman tumbuh subur, perkembangan buah naga dari bibit setinggi 60 cm hingga berbuah dijepret dalam kamera digital. Saat bunga berwarna putih yang menebarkan harum mekar di malam hari pun tak ia lewatkan.

Buah Naga

Berawal Dari Hobi Membudidayakan Mangggis

Menjadi “pekebun” buah naga, hanya salah satu “reinkarnasi” mantan Kepala Staf Umum ABRI pada era Presiden Soeharto itu setelah pensiun. Jauh sebelumnya, Soeyono bergelut dalam dunia budidaya manggis di Wanayasa, Purwakarta. 

Di sana ada sekitar 350 batang Garcinia mangostana asal biji dan sambung pucuk yang tumbuh rapi dalam terasering-terasering.

Topografi kebun yang berbukit-bukit tak menghalangi pria berkacamata itu untuk mengontrol tanaman. Memasuki penghujung tahun semangat untuk mengitari kebun kian bertambah. 

Maklum saat itu buah-buah muda berwarna hijau terang menyembul dari ujung-ujung dahan. Biasanya Januari buah siap petik.

Dari pohon berumur 10-15 tahun dituai 10 kg buah. “Sekarang baru 20% populasi yang berumur produktif,” kata Soeyono. Sisanya yang berumur 7 tahun asal biji baru memunculkan puluhan buah. Sementara yang diperbanyak lewat sambung pucuk, meski baru ditanam 0,5 tahun mulai memunculkan pentil buah.

Masih di kebun sama, suami Sribudhi Soeyono itu menanam salak. Lantaran dirawat intensif, varietas pondoh dan nglumut telah rutin dipanen sejak setahun silam. 

Maka setiap kali kembali ke Jakarta atau berkunjung ke Bandung di sana ada rumah peristirahatan manggis dan salak menjadi buah tangan. “Cucu saya paling suka salak dari kebun kakeknya,” tutur Soeyono dengan wajah sumringah.

Pengalaman di Batu

Masa kecil di Batu, Jawa Timur, bisa jadi sumber kecintaan penggemar fotografi itu pada tanaman. Pada pertengahan 1950-an Soeyono masih di sekolah dasar, kota berjuluk Negeri Swiss Kecil itu kerap beralih wajah. 

Suatu ketika Batu begitu dikenal dengan bunga potong, seperti hebras. Lalu beralih menjadi sentra semangka dan jeruk sunkis.

Terakhir Batu dikenal sebagai kota apel karena produksi Malus silvestris-nya. Soeyono yang mulai beranjak remaja melihat pekebun apel hidup makmur dari hasil kebunnya. Rumah gedung dan jalan beraspal jadi buktinya. 

“Mungkin lantaran sedari kecil dikelilingi lingkungan seperti itu saya jadi senang tanaman,” kata pria ramah itu.

Sayang, kecintaan itu sempat pupus kala Soeyono memasuki sekolah taruna. Apalagi setelah lulus, karirnya mulus melesat hingga menduduki posisi bergengsi di dunia militer. 

Kenangan semasa kecil dikelilingi berbagai tanaman bangkit kembali setelah Soeyono undur dari jabatan pada 1998. Dari sana mulailah obsesi menjadi pekebun terwujud. 

Budidaya Buah Naga

Ide-ide segar

Ketua Klub Harley Davidson Indonesia itu tak sekadar iseng-iseng berkebun. Soeyono kerap mengikuti pelatihan berbagai teknologi pertanian. Kala model penanaman secara hidroponik ngetren, pria berkacamata itu pun asyik menyelami. 

Kesempatan bepergian ke sentra-sentra pertanian di dalam dan luar negeri pun tak pernah dilewatkan. Walhasil, Soeyono tak pernah kehabisan ide-ide baru.

Nun, di Lembang nan dingin sebuah rumah antik sedang ia desain. Bagian bawah bangunan berupa garasi untuk “rumah” motor Harley Davidson-nya. Di bagian atas pipa-pipa paralon bakal disusun rapi. 

Nantinya di atas pipa tumbuh stroberi yang mendapat nutrisi dengan sistem pengairan ebb and flow. Visca fragran itu cocok tumbuh di dataran tinggi yang dingin. Pilihan lain menanam sayuran daun dengan model vertikultur. “Masih mikir-mikir desain yang cocok supaya 2 hobi bisa disalurkan sekaligus,” tutur Soeyono.

Rumah berhalaman luas di Cikeas, Bogor, pun tak luput jadi ajang ujicoba. Di sana puluhan pisang tabulampot tumbuh subur. Sang jenderal dan istri kerap menuai mas, kepok, tanduk, nangka, dan raja yang gemuk-gemuk. Dari sanalah muncul ide mengembangkan dragon fruit dalam pot di Yogyakarta.

Bak prajurit yang tak kenal lelah, “petualangan” Soeyono di dunia tanaman belum berakhir. Area kosong di antara batang-batang manggis tak lagi dibiarkan menganggur. 

Pot-pot beton seperti untuk pisang dan buah naga dipersiapkan untuk menanam vanili. Lokasi di Wanayasa cocok untuk budidaya si emas hijau. Si pendatang baru yang fenomenal lengkeng dataran rendah pun memikat penasihat Paguyuban Mie Ayam itu. Kala “petualangan” itu membuahkan hasil, kepuasanlah yang membuncah di dada sang jenderal. (Evy Syariefa/Peliput: Laksita Wijayanti)

Rabu, 09 September 2020

Khasiat Buah Merah Dalam Melawan Virus AIDS

Khasiat Buah Merah Dalam Melawan Virus AIDS

Penelitian Aaron Ciechanover, Avram Hershko keduanya dari Israel, dan Irwin Rose asal Amerika Serikat, mengungkap tubuh manusia automekanisme pelindung dari penyakit maut.Ubiquitin sebuah protein kecil dengan 76 asam amino ada di mekanisme itu. 

Khasiat Buah Merah
Khasiat Buah Merah

Menurut para peneliti, tubuh manusia setiap saat bekerj mengubah, mensintesis, menghancurkan protein. Dalam proses itu, sebagian protein menjadi jahat sehingga mesti dihilangkan. 

Kalau tidak, tubuh bakal terserang penyakit, misal kanker. Maka sebuah ciuman maut bernama ubiquitin “dikecupkan” pada protein jahat.

“Tanda bibir” itu menjadi sinyal bagi mesin transpor sel untuk memindahkan protein itu ke proteasom. Di sana si jahat dipotong-potong menjadi bagian kecil, lalu didaur ulang menjadi sel baru yang ramah. Dengan modal penemuan itu, sebuah perusahaan farmasi meluncurkan obat kanker tulang bermerek Velcade.

Penelitian Buah Merah

Penelitian tak kalah spektakuler mencuat dari ujung timur Indonesia. Dari Papua, buah merah Pandanus conoideus bak setetes embun harapan bagi para penderita HIV/AIDS. 

Di bawah pengawasan Drs I Made Budi, MS, 3 dewasa dan 1 balita penderita AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) serta 2 dewasa penderita HIV (Human Immunodeficiency Virus) mendapat pengobatan dengan meminum sari buah merah. 

Masing-masing 3 sendok makan per hari untuk dewasa penderita AIDS, 2 sendok untuk penderita HIV. Perlakuan dimulai pada April 2014.

Ternyata hasilnya luar biasa. Agustina Sawery, pasien AIDS dengan kondisi paling berat stadium III berangsur pulih. Dalam 5 bulan bobot tubuh yang semula hanya 28 kg naik menjadi 48 kg. 

Penyakit ikutan akibat menurunnya kekebalan tubuh karena infeksi virus, seperti kerusakan pada jaringan tubuh di dekat anus,gangguan fungsi hati dan paru-paru, serta infeksi jamur di mulut membaik.

Menurut Made Budi, kandungan karoten dan betakaroten  semuanya antioksidan berfungsi meningkatkan daya tahan tubuh. Itu karena adanya interaksi antara vitamin A bersumber dari karoten dan betakaroten dengan asam amino pada protein. 

Dengan asupan sari buah merah, protein dari makanan yang dikonsumsi diikat supaya diserap tubuh dan tidak terbuang lewat feses. Maklum, penyerapan pada penderita HIV/AIDS sangat lemah.

Pada 5 bulan perlakuan, virus yang diamati tidak lagi tampak. Musababnya, senyawa antioksidan pada buah merah mengubah struktur asam amino protein tertentu. Padahal protein itu dibutuhkan oleh virus AIDS sebagai “makanan utama” untuk berkembang biak. 

“Lantaran struktur asam aminonya berubah, virus tidak mengenali lagi,” tutur pengajar di Universitas Cendrawasih, Jayapura, itu. Akibatnya, virus “mati” kelaparan dan tak mampu beranak-pinak.

Penggunaan Tabir surya

Kandungan tokoferol buah merah pun cukup tinggi mencapai 11.000 ppm. Layaknya vitamin E, tokoferol merupakan sumber antioksidan penangkal radikal bebas seperti plumbum. 

Fungsinya memperlambat penuaan, meningkatkan kesuburan reproduksi, dan mencegah timbulnya penyakit degeneratif, seperti kanker, diabetes, dan jantung koroner.

Pantas saat Dr Chairil, Apt, peneliti pada Puslitbang Biologi LIPI, melakukan riset pada 1970-an menemukan penduduk Wamena berkulit halus dan mulus. Padahal daerah itu berada di ketinggian 2.000 m dpi. 

“Di daerah yang semakin tinggi sinar ultraviolet lebih tajam, akibatnya kulit dan jaringan mudah rusak,” kata alumnus University of Osaka City itu. Ternyata warga Wamena mengoleskan sari buah merah yang berfungsi sebagai tabir surya sebelum bepergian.

Masih di tahun sama, penelitian Dr Muhilal, periset pada Puslibang Gizi, Bogor, menunjukkan prevalensi kekurangan vitamin Adi Papua lebih rendah daripada di Jawa. Itu lantaran konsumsi rutin buah merah yang mengandung betakaroten dan karoten, sumber vitamin A.

Penemuan Gen penting

Penemuan Made Budi tentang H I V / AIDS melengkapi berbagai riset yang dilakukan peneliti di berbagai belahan dunia. Meski riset intensif sudah berlangsung lebih dari 20 tahun, obat ampuh penanding HIV/AIDS masih jauh api dari panggang. 

Virus yang ditemukan pertama kali oleh Michael S Gottlieb itu seperti sulit dikalahkan. Beragam hasil temuan baru sebatas pada memperbaiki kualitas hidup penderita dan mengurangi penderitaan mereka.

Sebut saja obat antiretovirus. Obat itu mengeblok kemampuan virus memperbanyak diri. Ia menunda kehadiran AIDS dengan memperlambat kehilangan sel CD4 pasien, tapi tidak menyembuhkan. Jumlah sel CD4 merupakan salah satu indikator adanya HIV/AIDS. Penderita HIV/AIDS memiliki jumlah CD4 di bawah 200.

Riset terakhir gabungan para peneliti dari University of Oxford (Inggris), Massachusetts General Hospital (Amerika Serikat), dan University of KwaZulu-Natal (Afrika Selatan) yang dilansir United States Department of State pada Desember 2004 berhasil mengidentifikasi gen yang menjadi kunci dalam menghadapi HIV.

Fokus utama penelitian pada molekul tubuh bernama human leucoctye antigen (HLA). Kerja HLA mirip ciuman maut ubiquitin memberi sinyal pada sistem kekebalan untuk mengenali sel terinfeksi HIV yang mesti dilenyapkan. Dari 3 jenis HLA, tipe B yang paling agresif. 

Temuan itu penting sebagai modal membuat vaksin pencegah infeksi HIV. Dari Papua sebuah asa lagi berbilang. Suatu keniscayaan sang virus maut takluk pada ciuman sauk eken—sebutan buah merah di Lembah Baliem.

Mengenal Virus AIDS

Saat merasuk ke dalam tubuh, Human Immunodeficiency Virus (HIV) menggerogoti sel darah putih si pelindung tubuh terutama sel bernama CD4. Si penyusup membajak sel, memasukkan gennya ke dalam DNA sel, dan memanfaatkannya untuk berkembang biak. HIV beranak-pinak, CD4 sang inang pun mati.

Saat jumlah CD4 turun, kemampuan tubuh memerangi gangguan dari luar, misal bibit penyakit, berkurang. Sistem kekebalan tubuh pun sulit membedakan antara virus HIV yang sudah menyebar dalam tubuh dengan sel sehat. 

Hal Itu lantaran dengan lihai si penyusup meniru “isi” sel sehat. Pada kondisi itulah, AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) hadir menggantikan HIV.

Akibat kehilangan sistem kekebalan, tubuh menjadi rentan berbagai serangan infeksi dan penyebab kanker. Pantas bila penderita HIV/AIDS menderita berbagai penyakit ikutan. 

Sebut saja TBC, malaria, pneumonia alias infeksi paru-paru, dan ruam saraf. Mereka pun gampang mendapat luka.

Gangguan infeksi akibat bakteri, cendawan, dan parasit itu biasanya muncul ketika nilai CD4 penderita di bawah 200. Pada CD4 di bawah 100, pasien terancam infeksi otak. Gejalanya sering mengeluh sakit kepala, problem penglihatan, sulit berbicara, dan meningitis. Penyakit-penyakit bawaan itulah yang biasanya menyebabkan kematian.

Virus AIDS
Cara Kerja Virus AIDS

Kombinasi obat obatan penting

Untuk mengurangi penderitaan ODA (orang dengan AIDS), berbagai obat untuk mengatasi HIV maupun penyakit-penyakit ikutan terus dibuat. Sebut saja yang telah disetujui oleh Komisi Makanan dan Obat-obatan Amerika Serikat (Food and Drugs Administration, FDA), seperti AZT, ddC {zaicitabinby ddl {dideoxyinosinby d4T (stavudinby 3TC) (iamivudinby abacavir (ziageby dan tenofovir (viread). Obat-obatan itu bekerja memperlambat penyebaran HIV dalam tubuh dan menunda infeksi.

Obat lain, seperti Ritonavir (Norvir), Saquinivir (Invirase), Indinavir (Crixivan), Amprenivir (Agenerase), Nelfinavir (Viracept), dan Lopinavir (Kaletra) menghambat duplikasi virus. Pemberian obat-obatan itu mesti disertai pola hidup sehat, seperti mengkonsumsi makanan bergizi dan cukup istirahat.

Buah Merah Naik Daun, Pekebun Kebanjiran Pesanan

Buah Merah Naik Daun, Pekebun Kebanjiran Pesanan

Mata Victor penuh selidik kepada setiap penumpang pang turun dari bus atau taksi di pertigaan Arsokota. Maklum, dari sanalah kantongnya akan menggembung dipenuhi lembaran rupiah. Orang-orang asing yang singgah di Arsokota dipastikan tengah mencari buah merah. Kepada mereka buah dijual dengan harga tinggi Rp50.000-Rp100.000 per buah.

Buah Merah
Pasar tradisional di papua

Ekspos media cetak dan elektronik tentang khasiat buah merah beberapa bulan silam menggiring para pencari kesembuhan bertandang ke Papua. Mereka tidak saja datang dari luar pulau, tapi juga dari Jayapura dan sekitarnya. 

“Setiap hari ada saja orang yang mencari buah merah ke sini,” ucap Adang Azis, pengojek yang selalu nongkrong di pertigaan Arsokota. Namun, lantaran jumlah buah merah terbatas, kebanyakan dari mereka pulang dengan tangan hampa.

“Kalau lagi musim setiap hari saya bisa bawa 3-5 buah merah ke Arsokota. Tapi saat tidak musim, dalam 3 hari paling terkumpul 2-3 buah,” kata Victor, yang selalu menjajakan buah merah di Arsokota. 

Buah-buah merah itu berasal dari 34 tanaman miliknya di 2 lokasi terpisah, Obiyao dan Sawayamas. Pohon ditanam pada 1996 dan 1998. “Setahun hanya 1 kali berbuah. Panen besar pada Juni-Agustus,” tambah pria 67 tahun yang juga menjabat ondoafi tetua adat di Desa Obiyao.

Buah Naga Laris Manis Dipasaran

Victor mengaku, buah Pandanus conoideus laku keras sejak Oktober 2014. Saat ini berapapun jumlah buah yang ia bawa pasti habis tanpa sisa. Berbeda ketika belum dikenal masyarakat luas, untuk menjual 1-2 buah saja ayah 8 putra dan 4 puteri itu harus sabar menanti hingga larut malam. 

Dulu harga jual juga rendah, yang besar berbobot 2,5-3 kg cuma dibandrol Rp20.000; kecil, berbobot 1,5-2 kg Rp 15.000 per buah. Sekarang yang berbobot 2-2,5 kg dijajakan Rp50.000-Rp 100.000, bahkan ada yang mematok hingga Rp350.000 per buah.

Oleh karena itu pula, buah merah lebih sering dikonsumsi keluarga ketimbang dijual. Atau dimakan bersama warga saat upacara menyambut kelahiran anak, pernikahan, dan pembuatan rumah atau sarana umum. Apalagi buah merah dipercaya berkhasiat mengobati berbagai penyakit

“Badan terasa segar dan sehat sehabis makan buah merah,” tutur Martinus anak Victor. Warga Obiyao biasa mengkonsumsi buah merah dalam bentuk pasta 

Untuk mengolahnya menjadi minyak dinilai terlalu lama karena dibutuhkan waktu 3-5 jam, di samping mereka tak mengetahui teknologinya. “Yang penting manfaatnya sama toh,” ujar Victor. 

Buah merah selama ini dipercaya sangat baik untuk menjaga mata agar tetap bening, menghaluskan kulit, mengatasi sakit perut, dan mengobati luka gores atau potong.

“Di Wamena, pemanfaatan buah merah lebih luas, ada yang dibuat saus, sambal, dan selai,” kata Mellyanus Worwawe, kelahiran Wamena yang tinggal di Arsokota. Malah suku-suku di pedalaman menjadikannya sebagai makanan cadangan pada saat berburu. 

Dengan ngemil biji-biji buah merah, tenaga mereka seakan tak pernah surut. Biji yang diselimuti daging merah itu memang kaya gizi, kadar proteinnya sangat tinggi.

buah merah naik daun
Stok Cepat  habis
 

Stok Cepat  habis

Tak hanya Victor yang kebanjiran rezeki pasca buah merah naik daun. Para pengolah di Abepura dan Kotaraja kelimpungan memenuhi pesanan minyak buah merah. 

“Transferan uang yang masuk ke rekening banyak sekali membuat saya pusing. Stok habis, sementara pesanan terus berdatangan,” ujar Maria Maniagasi, ketika ditemui Trubus di rumahnya di Perumnas II, Kelurahan Yabansay, Kecamatan Abepura.

Rombongan dari Mabes Polri baru saja datang menemui Bu Rambah demikian Maria Maniagasi dikenal di Papua sebelum Budidaya Tani datang. Mereka memesan 10 paket atau 40 botol, tapi hanya 16 botol yang terlayani. 

Jumlah pengolah memang masih terbatas, hanya hitungan jari. Itu pun kualitas beberapa produk diragukan karena ada yang berasa manis dan seperti ada campuran minyak goreng.

“Mereka hanya memanfaatkan tren budidaya buah naga, tapi tidak mempertimbangkan dampak negatifnya. Padahal, jika pengolahan salah bisa berbahaya,” ujar Rambah. 

Ia mencontohkan, penggunaan api terlalu besar pada saat memanaskan pasta menyebabkan gosong. Akhirnya minyak yang dihasilkan rendah yodium dan kandungan asam tinggi. Itu berbahaya bagi penderita maag.

Pantas, para pembeli minyak buah merah sangat selektif memilih produsen. “Saya pernah menawarkan kepada calon pembeli untuk mencari produsen lain, tapi dia menolak,” ungkap Comellis, pengojek yang mangkal di sekitar jembatan STM Kotaraja. Mereka ketakutan kalau-kalau khasiatnya tidak sama dan cepat bau tengik. 

“Daya tahan minyak buah merah andai pengolahan apik dan bersih sampai 1 tahun. Kuncinya, jangan sampai ada pasta masuk botol,” papar Rambah. Makanya sewaktu memisahkan pasta dengan minyak, jangan dituang langsung ke botol, tapi diambil dengan sendok.

Pengembangan Buah Merah

Lantaran lonjakan permintaan yang luar biasa, beberapa kabupaten di Papua tergerak untuk mengembangkan buah merah. Di Kabupaten Keerom, misalnya, kini ada yang mengebunkan secara khusus. 

Sebelumnya kendati tanaman tersebar di banyak Distrik dan Desa, populasi sangat terbatas. “Setiap musim paling 150 buah yang kami hasilkan dari Obiyao. Begitu juga dari desa-desa lain tidak lebih dari 100 buah,” papar Victor.

Desa-desa lain yang dimaksud adalah Sawayamas, Waris, Ubruk, dan Senggi. Sebagaimana di Obiyao, di keempat desa itu tanaman-tanaman buah merah hanya dimiliki sang ondoafi. Tanamannya tidak terawat karena memang tumbuh liar di rawa-rawa dan lereng perbukitan. 

Wajar kalau sepohon berumur 9 tahun yang tingginya mencapai 15 m digelayuti paling banyak 8 buah. Ia mulai berbuah umur 3 tahun. Buah dari pentil hingga petik butuh 6 bulan.

Padahal, “Untuk menghasilkan 1 liter minyak buah merah dibutuhkan 4-5 buah merah berbobot 2,5-3 kg. Bayangkan, berapa pohon yang harus ditanam untuk mencukupi kebutuhan 30 liter per bulan?” tutur Rambah yang kini merasa kesulitan mendapatkan buah merah dari Wamena. 

Rambah masih fanatik pada buah merah asal Wamena lantaran dari sana lah buah berbentuk gada itu berasal. Ia yakin komposisi kadar zat yang terkandung dalam buah merah dataran tinggi berbeda dengan dataran rendah. Wamena adalah dataran tinggi; Arso, dataran rendah.

Perbedaan komposisi kandungan zat pasti ada, tapi mudah-mudahan tidak mempengaruhi khasiatnya. Drs I Made Budi, MS, yang meneliti kandungan buah merah menemukan perbedaan mencolok angka tokoferol. 

Buah merah yang tumbuh di dataran tinggi mencapai 600 mikrogram per gram; yang di dataran rendah, terutama di pinggir pantai, minim sekali hingga nol. Tokoferol adalah senyawa antioksidan yang memiliki efek antikanker.

Kendati begitu, bagi masyarakat Papua, buah merah adalah buah merah. Ia menjadi buah khas Papua, keberadaannya harus dilestarikan. 

“Dengan nilai ekonomis tinggi, saya yakin gairah masyarakat untuk menanam semakin terpacu,” ujar Ir Ruben Kombonglangi MM, kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Keerom. Toh soal bibit tak menjadi masalah, karena buah merah mudah sekali diperbanyak dengan tunas maupun biji. (Karjono)