Tampilkan postingan dengan label cabai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cabai. Tampilkan semua postingan

Jumat, 04 September 2020

Lebih Menguntungkan, Pekebun Cigalontang Pilih Kembangkan Cabai Hijau

Lebih Menguntungkan, Pekebun Cigalontang Pilih Kembangkan Cabai Hijau

Dua puluh perempuan tenggelam dalam kesibukan memanen cabai pagi itu. Satu per satu dipetik dan dimasukkan ke karung putih. Menurut Apong, pemilik lahan, umur tanaman baru 65 hari setelah tanam (hst). Maklum, yang dituai memang bukan cabai merah, tetapi cabai hijau. Itulah kegiatan Apong sejak sewindu lalu. Setidaknya 3 ton dipanen setiap hari dari 16 ha.

Cabai Hijau
Cabai Hijau

Pada panen perdana paling hanya 1-2 buah yang bisa dipetik dari setiap pohon. Dari populasi 18.000 tanaman per ha, Apong memanen perdana 3 kuintal. Panen berikutnya dengan interval 7-10 hari. 

Menurut Apong, produktivitas mencapai 20 ton per ha. Bahkan, “Jika lahan baru produksi bisa 30 ton per ha,” ujar ayah 3 anak itu. Mutu cabai hijau dibedakan 3 kelas, kualitas super dengan panjang lebih dari 15 cm mencapai 80%, sedang 10-14 cm (15%), dan kecil kurang dari 10 cm. Namun, dalam pemasaran semua kelas dicampur.

Apong mengembangkan cabai hijau sejak 8 tahun silam. Maksudnya supaya, “Modal lebih cepat kembali karena cabai hijau lebih cepat dipanen.” 

Sebagai perbandingan cabai merah baru dapat dipetik pada umur 120 hst. Ia menanam si hijau itu di lahan 16 ha yang tersebar di 4 desa di Kecamatan Cigalontang, Tasikmalaya. Ketinggian lahan 700-900 m dpi. Di ketinggian lahan 700 m dpi ia menanam hot chili; 900 m dpi, jetset.

Pola Kemitraan Antar Petani

Mantan pekebun kentang dan kubis di Dieng, Jawa Tengah, itu juga bermitra dengan puluhan pekebun. Total hasil panen mereka rata-rata 2-3 ton per hari  ditampung. Dengan begitu 6 ton cabai hijau ia pasarkan ke Bandung setiap hari. 

Awal Januari silam, harganya Rp2.000 per kg. Menurut Apong, biaya produksi per kg hanya Rp 1.500. Jika produktivitas 20 ton per ha, artinya Rp10-juta ia kantungi.

Kocek Apong kian tebal lantaran ia juga mengutip Rp200 per kg dari plasma atas jasa pemasaran. Padahal setiap hari 3 ton dipasarkan, sehingga Rp600.000 menggelembungkan tabungannya. Bermitra memang sebuah pilihan, jika produksi sendiri tak mencukupi permintaan pasar.

Itulah yang juga ditempuh Daday, pekebun di Tasikmalaya. Pekebun sejak 1996 itu mengembangkannya di lahan 4 ha. Hasil panen dari luasan itu tentu tak mencukupi permintaan konsumen. 

Oleh karena itu seiring peningkatan permintaan ia bermitra dengan 70 pekebun. Setiap plasma mendapat pinjaman Rp7-juta-Rp10-juta per ha sebagai biaya produksi yang dikembalikan setelah panen kedua hingga penanaman berakhir.

Seluruh produksi plasma ia serap. Setiap hari ia memasarkan 1,5 ton cabai hijau ke Pasar Caringin, Bandung. Sementara ke Pasar Induk Kramatjati, Jakarta, hanya 2 hari sekali dengan volume 3 ton. Harga di Jakarta lebih tinggi daripada Bandung. Itulah sebabnya

Daday mengutip Rp400-Rp500 per kg untuk pemasaran Jakarta; Rp200, Bandung. Pada hari-hari tertentu seperti menjelang Lebaran atau Natal pasokan melonjak hingga 20%.

Budidaya Cabai Hijau Lebih Menguntungkan

Yang juga memanen cabai hijau adalah Uheng. Ia tertarik mengembangkan cabai hijau, lantaran, “Untuk mengurangi risiko terkena serangan patek seperti ini,” tutur Uheng sembari menunjukkan 5 buah yang terserang patek alias antraknosa itu. 

Ia menanam di lahan 1 ha di Cipicung, Tasikmalaya. Di daerah itu curah hujan tinggi sehingga mengundang Colletotrichum capsici dan Gloesporium piperatum biang kerok antraknosa.

Ayah 2 anak itu baru 3 tahun menanam sayuran buah itu. Bertahun-tahun ia menjadi petani padi dan sayuran noncabai.

Kepada Budidaya Tani di sela-sela kesibukan mengemas Capsicum annum, ia menuturkan, “Menanam cabai hijau jauh lebih menguntungkan daripada padi. Dari sehektar paling dapat 3,5 ton gabah. Sekarang harga sekilo gabah kering hanya Rp 1.200.” 

Walau begitu ia tak meninggalkan padi sama sekali. Setelah 3 kali penanaman cabai, lahan ditanami padi atau kacang panjang. Kemudian beralih ke cabai lagi.

Pekebun berumur 50 tahun itu mengemas cabai di karung waring. Bobot setiap karung 80-90 kg. Yang dikemas merupakan hasil panen ketiga. 

Panen perdana memperoleh 516 kuintal dan 2,1 ton pada panen kedua. Diperkirakan volume meningkat pada panen ketiga. Begitu selesai kemas, karung diletakkan di tepi lahan. Pengepul menghampiri dan memasarkannya.

Permintaan Pasar Relatif Cukup Stabil

Menurut Daday harga dan permintaan cabai hijau relatif stabil. Ia menduga produksi cabai hijau di pasaran tak sebanyak cabai merah akibat sedikitnya pekebun cabai hijau. Hal senada diungkapkan Apong. “Sentra cabai hijau tak seluas cabai merah. Di Tasikmalaya yang terbesar hanya di Cigalontang,” katanya.

Harga tinggi seperti pada 2001 mencapai Rp7.000 per kg justru “menyulitkan” pekebun. Ketika itu banyak pencurian hingga pekebun mesti ronda. Seperti kata pepatah, hidup bagai roda pedati. Demikian pula pekebun cabai hijau. 

Pada pertengahan 2018 harga cabai hijau menukik tajam, hanya Rp400-Rp500 per kilo. Kucuran dana Kredit Usaha Tani dituding sebagai penyebab sehingga banyak pekebun dadakan tergiur laba cabai.

Dampaknya produksi melimpah sehingga melorotnya harga sulit terbendung. Apong menelan kerugian Rp60-juta. Meskipun demikian ia tak jera membudidayakan tanaman asal Amerika itu. 

Pada penanaman berikut ia justru menuai laba ketika harga membumbung hingga Rp5.500 per kg. Kerugian sebelumnya pun tertutupi. “Mungkin karena banyak yang kapok menanam sehingga harga naik,” tutur kelahiran Tasikmalaya 12 April 1958 itu.

Serangan penyakit juga meluluhlantakkan mimpi Uheng meraih laba. Serangan layu bakteri menyebabkan 5.000 tanaman berumur 50 hari gagal diselamatkan. Menyulam jelas tak mungkin karena perbedaan tanam relatif lama. Jika produksi per pohon 1,5 kg, 7,5 ton musnah. “Rugi sih tidak, hanya balik modal,” katanya.

 

Senin, 29 Juli 2019

Varietas Cabai Hibrida Dan Lokal Yang Siap Bersaing Dipasaran

Varietas Cabai Hibrida Dan Lokal Yang Siap Bersaing Dipasaran

Pasar benih Cabai Hibrida Indonesia dibanjiri produsen benih dari mancanegara. “Ada 60 jenis cabai merah dari berbagai merek berkeliaran di lahan pekebun,” ujar Agus Setyono dari PT East West Seed Indonesia. Hiruk-pikuk persaingan itu kini kian ramai dengan hadirnya 3 pendatang baru. Mereka adalah 2 benih hibrida dan 1 lokal.

Ketatnya persaingan itu tampak dari kebiasaan pekebun memilih varietas. Ambil contoh di dataran tinggi. Lahan cabai di sana didominasi hot chili.

Cabai Megahot
Cabai Megahot, ekstra pedas dan irit pupuk

 Sedangkan di dataran rendah hot beauty. Namun, “Asal diiming-imingi produktivitas tinggi, resisten hama, dan biaya produksi rendah mereka akan cepat berpaling,” ujar Agus.

Pekebun di Brebes dan Bantul lebih menyenangi varietas lokal seperti tit super dan jatilaba. Alasannya lebih tahan penyakit sehingga biaya produksi dapat ditekan. 

Sedang jenis hibrida jadi primadona di Magelang dan Blitar. Pasalnya, tanaman responsif terhadap pemupukan, berumur genjah, dan keseragaman buah tinggi. Asal dirawat intensif hama dan penyakit cabai bakal menjauh.

“Penanaman cabai merah hibrida mencapai 70% dari total lahan cabai merah di Indonesia. Sisanya ditanami jenis lokal,” ungkap Agus. Setahun terakhir bermunculan 3 varietas cabai merah baru. Semakin panjang pula daftar benih cabai di Indonesia.

Sultan, si gemuk tahan angkut Sultan, cabai merah hibrida keluaran PT East West Seed Indonesia (EWSI). Tidak ada makna khusus dari nama itu. “Supaya mudah diingat saja,” ujar Agus Setyono. Ia cocok ditanam di ketinggian 600 m dpi. Namun, di bawah 400 m dpi pun tanaman tumbuh baik. Sejak Agustus 2002 beberapa pekebun di Malang mengganti jenis hibrida lama dengan sultan.

Cabai Sultan
Cabai Sultan, buah gemuk dan besar
Cabai sultan

Sosok sultan, buah gemuk, diameter mencapai 2 cm, dan panjang 16 cm. Sayang, rasa buah kurang pedas. “Ia hanya digunakan sebagai ‘pemanis’ makanan,” ujar Handoko, bagian penjualan EWSI. Keunggulannya buah cepat merah, padat, dan berisi. Warna merah terbentuk 10 hari atau 2 petikan lebih cepat dibanding varietas hibrida lain. Kulit buah keras dan tebal saat ditekan, menandakan kadar air rendah. Wajar jika ia tahan pengangkutan jarak jauh. Sultan juga tahan phytophthora, yang selalu jadi momok pekebun.

Potensi hasil 1,5 kg per tanaman. Jika perawatannya intensif pekebun akan menikmati buah kedua. Pekebun mulai panen pada umur 85-90 hari setelah tanam (HST) dan berlangsung hingga 60 hari.

Menanam jenis hibrida berarti harus berani merogoh kocek untuk biaya penyemprotan pestisida. Lantaran ia jadi sasaran empuk tungau dan trips. Minimal seminggu 2 kali tanaman cabai harus disemprot agar hama tidak bertandang. Begitu terlambat tanaman tidak akan tertolong.

Megahot, ektrapedas

Sesuai namanya, komoditas cabai hibrida baru ini sangat pedas. Ia dirilis tahun lalu oleh Known You Seed, produsen benih dari Taiwan. Idealnya ia ditanam di dataran sedang, 500 m dpi. Namun, di dataran tinggi pun masih bisa bertahan.

Sosok varietas cabai hibrida dengan tekstur buah ekstrabesar; panjang 18 cm, dan bobot rata-rata 22 g. Pada umur 60 hst buah dapat dipetik jika ditanam di dataran sedang; 70 hst di dataran tinggi, di atas 800 m dpi. Potensi produksi 1 kg per tanaman dengan 16.000 populasi per ha. “Perawatannya mudah. Cukup pemberian pupuk kandang dosis 1 kg per tanaman,” tutur Ir Dwi Kartiko Ghazalie dari PT Tani Unggul Sarana, distributor benih sayuran.

Cabai Trisula
Cabai Trisula, buah lokal yang tahan banting
 

Trisula: tahan banting

Tidak melulu jenis cabai hibrida yang laris di pasaran, lokal juga. PT Riawan Tani, produsen benih sayuran di Blitar, memproduksi cabai merah nonhibrida. Benih diperoleh melalui pemurnian dari tanaman lokal. Trisula cocok ditanam di dataran rendah, 300 m dpi sampai dataran tinggi 1.200 m dpi. Sebaran penanaman mencapai Bali, Sumbawa, Mataram, Kalimantan, Sumatera, dan Jawa.

Sosok trisula panjang 12-15 cm, diameter 1-2 cm, dan bobot per buah 10-15 g. Warna buah matang merah tua dan tekstur keras sehingga tahan simpan selama 12 hari. Buah dapat dipetik pada 75 hst dan berlangsung hingga 8 bulan. 

Potensi produksi 17-20 ton per ha. Tanaman ini menghendaki iklim hangat dan kering, suhu berkisar 18-30°C. “Serangan antraknosa dan fusarium rendah,” ujar Pujianto dari Riawan Tani. Mereka gemar hinggap di cabai merah. 

Solusinya pohon cabai hibrida hanya disemprot minimal seminggu 3 kali. Namun, dengan trisula penyemprotan cukup seminggu sekali. Jika sekali semprot menghabiskan Rp60.000, berarti pekebun bisa lebih hemat Rp 120.000/ minggu.

Minggu, 28 Juli 2019

Serangan Virus kuning Pada Tanaman Cabai

Serangan Virus kuning Pada Tanaman Cabai

Senyum kecut menghiasi bibir Marsudi pada pertengahan 2002. Betapa tidak, 30 ha cabai luluh-lantak diterjang virus kuning keriting. Produktivitas menurun, modal pun tak kembali. “Kerugian saat ini sudah sekitar Rp200-juta,” tutur pekebun di Desa Banyudono, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang itu.

 

Virus Bulai

Marsudi tidak sendirian mengalami nestapa itu. Banyak pekebun di desa sekitarnya seperti di kecamatan Mungkid, Sawangan, dan Muntilan ikut terkena. Walau jumlah tanaman terinfeksi sedikit, tetapi rata-rata 25% dari total tanaman terpapar virus kuning kering itu. 

Sentra cabai di Jawa Tengah dan Yogyakarta, khususnya Muntilan, Sleman, serta Kulonprogo memang terkena serangan paling parah. Kerugian yang ditimbulkan bisa miliaran rupiah.

Virus kuning keriting mirip penyakit bulai pada jagung. Oleh karena itu pekebun di Sleman menyebutnya bulai amerika. Hamparan cabai bisa berubah warna dari hijau menjadi kuning menyala. Jika itu terjadi, dipastikan cabai gagal berbuah. 

Pada cabai rawit, tanaman terserang masih bisa berbuah, tetapi kualitas dan kuantitas jauh melorot.

Gejala Tanaman Terserang Virus

Kalau dilihat dengan mikroskop, virus itu memiliki 2 partikel. Jadilah ia dinamakan virus gemini. Vektornya kutu kebul atau lalat putih Bemisia tabaci (biotipe-1) atau B. argentifolia (biotipe-2). Kutu kebul dewasa yang terinfeksi selama hidupnya bisa menularkan virus. Efesiensi penularan meningkat seiring meningkat populasi serangga per tanaman.

Sifat kutu kebul yang polifagus makan beragam jenis tanaman menyebabkan virus itu gampang tersebar, bahkan pada jenis tanaman lain. Ia memiliki inang yang beragam dari banyak famili dan spesies, seperti: ageratum, kembang kancing, buncis, kedelai, tomat, dan tembakau. Meski begitu perkembangan virus di suatu areal dapat diperkirakan dengan menghitung populasi kutu kebul.

Ada tanda-tanda kehadiran virus gemini itu. Pertama, pucuk cekung mengerut berwarna mosaik hijau pucat. Pertumbuhan tanaman terhambat. Daun berkerut, menebal disertai tonjolan (blister) hijau tua. Gejala itu mirip serangan penyakit tigre di Meksiko. 

Gejala kedua, pada pucuk dan daun muda keluar mosaik kuning. Warna itu menjalar hingga seluruh daun menjadi bulai. Gejala itu menyerupai virus gemini Texas Pepper Gemini Virus di Texas, Amerika Serikat.

Pada stadium 3, urat daun pucuk atau daun muda pucat kekuningan sehingga tampak seperti jala. Warna daun lalu berubah belang kuning tetapi morfologi daun masih sama. Gejala itu serupa penyakit Serrano Golden Mosaic Virus. Stadium ke 4, daun muda atau pucuk menjadi cekung mengerut berwarna mosaik. 

Seluruh daun lalu berubah kuning cerah dengan bentuk daun berkerut cekung menjadi lebih kecil. Gejala seperti itu sama dengan penyakit Thailand Tomato Yellow Leaf Curl Virus (TYCV-Thai)

Pengobobatan Tanaman Yang Terkena virus kuning

Penyebaran virus kuning keriting dapat diminimalisasi dengan berbagai perlakuan Selain harus bebas gulma, setiap hektar tanaman cabai perlu diberi pupuk berimbang yakni: 20-30 ton pupuk kandang, 0,1-0,15 ton Urea, 0,3-0,45 ton ZA, 0,1-0,15 ton TSP, dan 0,15- 0,2 KC1. Cabai pun perlu diberi mulsa plastik terutama penanaman di dataran tinggi.

Lakukan pemantauan teratur setiap minggu, terutama pada tanaman muda kurang dari 30 hari. Bila terkena virus segera musnahkan dan sulam dengan tanaman sehat. Seandainya 10% dari total populasi tanaman muda terinfeksi lantaran ada kutu kebul beterbangan, lakukan eradikasi dan ganti dengan sayuran lain yang bukan inang kutu kebul seperti kubis dan jagung.

Populasi kutu kebul bisa dikurangi dengan melepas musuh alami parasitoid Encarcia formosa sebanyak 1 ekor per 4 tanaman setiap minggu selama 8-10 pekan. Setidaknya untuk 1 ha diperlukan 10.000 Encarcia. Predator lain, Menochilus sexmaculatus terbukti efektif memangsa 200-400 ekor larva kutu kebul per hari.

Insektisida alami alternatif untuk mengendalikan kutu kebul. Beberapa di antaranya tagetes, eceng gondok, rumput laut, dan daun nimba. Untuk kimiawi bisa dipakai insektisida berbahan aktif bifentrin, buprofezin, imidacloprid, fenpropathin, endolsulphan, cyflutrin, amitraz, deltametrin, permetrin, dan asefat.

Gemini

India merupakan negara pertama yang mempublikasikan serangan virus ini pada 1948. Maklum sekitar 80% lahan cabai di negeri Mahatma Gandhi itu rusak terinfeksi. Penyakit itu diidentifikasi sebagai anggota virus gemini lantaran partikelnya berpasangan. 

Virus di dalam astrologi menandakan kelahiran pada Juni itu pertama kali dilaporkan ada di Indonesia pada 1989.

Namun, bukan pada cabai justru tembakau penyakit kerupuk yang diserang. Capsicum annum baru diketahui terinfeksi pada 1992. Saat itu seranganya masih diabaikan karena nyaris tak berdampak. Memasuki 2001, serangan merajalela di banyak daerah dengan kisaran antara 10-100%. Awal 2003 merupakan puncak serangan. Bahkan menjadi epidemi di sentra-sentra cabai di provinsi Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Sumatera Selatan.

no image

Serangan Bulai Pada Tanaman Cabai

Sudah setahun penyakit bulai cabai dilaporkan kehadirannya. Namun, hingga kini serangannya belum teratasi. Malah, makin meluas ke berbagai sentra. Kalau tidak segera ditangani, pasar bakal mengalami kekosongan pasokan. Dalam 2 – 3 bulan ke depan, harga bakal melonjak. Kalau sudah begini, siapa yang bertanggungjawab?

beberapa daerah saya melihat, petani mulai “lempar handuk”. Banyak yang beralih ke tanaman lain. Contoh di Muntilan, Kabupaten Magelang, pelaku budidaya cabai mulai melirik tomat dan kol dataran rendah. Kalau pun masih ada penanaman, paling tak seluas biasanya. Di Lampung Barat kabarnya malah hampir tak ada lagi penanaman baru. Mereka kapok menanam cabai.

Pasalnya, serangan penyakit cabai yang sulit dibendung. Penyemprotan pestisida untuk menghambat serangan tak membawa hasil. Upaya penanaman di lahan baru pun tak banyak membantu. Buktinya, tanaman tetap mengalami serangan dalam 2 – 3 minggu kemudian. Akibatnya, petani kehilangan modal produksi.

Di Jawa Timur yang semula aman-aman saja, kini juga mulai tampak adanya serangan. Di antaranya di Kediri dan Blitar. Jika kondisi ini tidak segera diatasi, wilayah itu juga bakal mengalami nasib sama.

penyakit bulai cabai
penyakit bulai cabai

 

Penyakit berasal dari benih?

Untuk mengatasi hal itu, pemerintah dan para ahli terkait harus melakukan penelitian serius. Sebab, sampai saat ini belum jelas penyebab penyakitnya. Dari gejala serangan, jelas itu akibat serangan virus. Semula muncul bercak kuning pada permukaan daun, lalu meluas ke seluruh permukaan hingga daun menjadi kerdil dan mudah patah. Hanya saja jenis virus belum diketahui. Apakah itu jenis virus baru, atau virus lama yang sebelumnya menyerang tanaman lain.

Sementara ini banyak orang menuding virus gemini pada tomat yang hingga saat ini pun belum teratasi sebagai biang keladi. Namun di lapangan, tomat yang ditanam setelah cabai ternyata tidak terserang. ( Baca : Virus Dan Hama Penyakit pada Tanaman Cabai )

Logikanya, kalau virus sejenis yang menyerang, berarti penanaman tomat pun gagal. Bukti lain, tanaman cabai di daerah baru pun ikut juga terserang. Artinya, virus memang spesifik menyerang tanaman cabai.

Melihat hal itu saya menduga penyakit ini justru bawaan benih (seedborn disease). Jadi di mana pun benih ditanam, pasti akan terserang penyakit. Sebab, kalau itu virus lama, berarti harus ada vektor yang menyebarkannya. Padahal, tanaman sudah terserang sejak usia dini, saat serangga vektor belum menyerang.

Itu pula sebabnya sehingga penyemprotan pestisida untuk menghambat serangan tak menyelesaikan masalah. Namun, benih mana yang mengandung virus, itu yang harus dilacak lebih detil. Dugaan saya, biang keladinya salah satu varietas cabai keriting eks impor. Sebab, kasus serangan terbanyak muncul di sentra-sentra penanaman varietas itu. Kasus yang menyerang varietas lain kurang. Itu pun karena ditanam di daerah endemik. Hanya saja perlu penelitian serius sebelum menjatuhkan vonis.

serangan virus pada tanaman cabai

 

Tanaman Cabai Masih mempunyai prospek

Akibat serangan virus baru itu, stagnasi produksi jelas bakal terjadi. Sebab, sejak beberapa bulan terakhir produsen dan distributor benih mengalami penurunan penjualan hingga 50%. Artinya, luas penanaman pun berkurang separuh. Akibat itu pula sehingga omzet penjualan pestisida ikut merosot. Itu pasti, sebab dengan matinya tanaman di usia dini volume dan frekuensi penyemprotan pun menurun.

Menurunnya luas penanaman jelas membuka peluang. Namun, penanaman sebaiknya dilakukan di daerah baru. Hebatnya serangan di wilayah Muntilan dan Lampung Barat juga disebabkan penanaman berulang-ulang di satu areal. Di daerah baru pun sebaiknya dilakukan pergiliran varietas untuk meminimalkan kegagalan. Kalau perlu, coba pikirkan penggunaan varietas lokal. Lihat saja di Brebes (Jawa Tengah) dan Rejanglebong (Bengkulu), kasus serangan tergolong rendah karena petani banyak menggunakan varietas lokal.

Jika berhasil, petani bakal menikmati harga tinggi. Bukan tidak mungkin dalam 2—3 bulan mendatang harga cabai menembus angka Rp10.000/kg akibat kurangnya pasokan. Berarti, dengan produksi 50% saja dari kondisi normal, petani masih bisa menikmati keuntungan. Jika produksi per hektar hanya 10 ton saja, berarti petani bisa memperoleh omzet Rp100-juta.

Penanaman cabai pot dalam skala komersial barangkali bisa pula dipertimbangkan. Perlu ada produsen atau lembaga yang melakukan sosialisasi. Sebab, menanam di polibag berarti mengubah kebiasaan. Lagipula, analisis ekonominya perlu dikaji terlebih dahulu sebelum kegiatan itu dilakukan. Yang pasti, cabai masih layak untuk diusahakan

Sabtu, 27 Juli 2019

no image

Virus Dan Hama Penyakit pada Tanaman Cabai

Prawito terpaksa harus gigit jari. Modal Rp200-juta lenyap tak berbekas. Sekitar 10 ha lahan cabai yang digarap bersama petani binaan amblas terserang bulai. Gejala serangan sebenarnya sudah mulai tampak di beberapa titik penanaman sejak kuartal pertama 2002.

Namun, petani di Desa Way Mengaku, Kecamatan Balik Bukit, Lampung Barat, itu tak menduga bila serangan bakal semakin meluas. Karena itu hingga Juli ia tetap mengupayakan penanaman dengan memilih lahan baru. Nyatanya serangan virus tak terbendung. Daerah penanaman baru tak luput dari incarannya.

Tak kuat menghadapi serangan virus, Prawito terpaksa berhenti mengembangkan komoditas yang sudah 3 tahun digeluti. Tujuh bulan terakhir Prawito dan beberapa pekebun beralih mengembangkan komoditas lain.

“Sampai hari ini kami masih trauma dengan penyakit itu,” tutur Prawito. Pasalnya, serangan virus benar-benar menggila. Hampir semua macam pestisida dipakai, tetapi tak mampu menanggulangi serangan.

di Tingkat pekebun bisa tembus angka RplO.OOO/kg.

Cepat menular

Prawito tidak sendirian mengalami nasib buruk itu. Malahan saking jengkelnya menghadapi serangan, Mukalam, pekebun di Blitar, Jawa Timur, akhirnya membiarkan lahan merana begitu saja. Ayah 1 anak itu mengalami gagal panen setelah 6.000 tanaman mati terserang virus. “Penularannya sangat cepat. Dalam tempo 2 hari saja tanaman terserang bisa mati,” papar pekebun 31 tahun itu.

Di Malang, Jawa Timur, Kuswanto juga terpaksa menghentikan penanaman cabai merah dan menggantinya dengan melon setelah beberapa tanaman ditemukan menguning dan berkeriput. Hal sama dilakukan Suharyana, pekebun di Desa Banyudono, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang.

Pada September Oktober lalu, 30% tanaman berumur 20 hari terserang virus. Untuk mengatasi meluasnya ganyangan, tanaman terserang disulam dengan tomat. Meski begitu, “Tanaman yang bertahan hingga dapat dipanen tetap turun produksinya. Paling separuh dari total populasi awal tanam,” ungkapnya. Nasib serupa menimpa rekannya, Sumarlan. Sejak Oktober lalu gejala serangan mulai tampak. Semula muncul bercak kuning di atas permukaan daun. Perlahan bercak itu meluas hingga seluruh permukaan daun. Dampaknya daun menguning, kerdil, dan rapuh. Masyarakat setempat menyebutnya penyakit bulai atau kuning. “Dalam luasan 1 ha, tanaman terserang lebih dari 400 tanaman,” papar Sumarlan.

Menurut Yoga Susila, staf Hortikultura Dinas Pertanian Kabupaten Magelang, bulai mulai menyerang di beberapa sentra sejak awal tahun lalu. Namun, serangan terparah baru terlihat sejak Oktober 2002 di 3 sentra: Dukun, Sawangan, dan Mungkid. Sampai Januari 2003, luas serangan di ketiga wilayah kecamatan itu masing-masing 67 ha, 124 ha, dan 58 ha. Jumlah ini berarti mencapai 15%, 38%, dan 43% dari total luas tanam Januari 2002—Januari 2003 di masing-masing wilayah itu.

Di Pemalang, Jawa Tengah, salah satu sentra cabai terbesar, serangan virus juga cukup memprihatinkan. “Saat ini saja sudah sekitar 25% lahan cabai di daerah ini yang mati lantaran virus baru itu,” ujar Freddy Salim, pekebun dan eksportir cabai.

Contohnya di kebun Freddy, dari 10 ha lahan yang ditanami pada Januari dan Februari, kini tinggal 7,5 ha yang masih tegak berdiri. “Satu per satu pertanaman mati hanya dalam tempo 2—3 minggu,” kata pebisnis cabai sejak 1978 itu. Lahan milik petani binaan juga tak luput dari serangan. Sekitar 5 ha dari 20 ha yang ditanam mitra pada awal tahun kini mulai menunjukkan gejala serangan.

Virus kerupuk Pada tanaman cabai

Menurut DR Atie Sri Duriat, peneliti Balai Penelitian Tanaman Sayuran (Balitsa) Lembang, virus baru ditemukan di beberapa daerah sejak awal tahun lalu. Ketika itu serangan dilaporkan terjadi di sentra cabai di Sumatera bagian selatan. Gejalanya, mula-mula terdapat bercak kuning di permukaan daun.

“Lama-kelamaan bercak meluas hingga seluruh permukaan daun berubah kuning,” papar Duriat. Serangan membuat daun mengerdil dan bertekstur remah. Karena daun terserang mudah patah, Duriat menyebut penyakit itu sebagai virus kerupuk, Dari pengalaman petani, virus terutama menyerang tanaman berusia di bawah 1 bulan setelah tanam. “Pada usia di atas 45 hari, tanaman masih bisa lolos dari serangan,” ungkap Suharyana.

Ir Yohanes Soekoco, Marketing Manager PT East West Seed Indonesia (EWSI), menuding lambatnya respon pemerintah membuat penyebaran virus makin meluas. Semula penyakit ini hanya dianggap kasus kecil sehingga tidak segera ditangani. “Kutu putih yang diduga salah satu vektor tidak dikendalikan. Akibatnya, serangan makin mengganas dan sulit diatasi,” papar alumnus Universitas Brawijaya itu.

Hingga saat ini jenis virus belum teridentifikasi. Tak hanya itu, biang keladi munculnya virus dan media penyebarannya juga belum diketahui. | Karena itu upaya penanggulangan yang 7 dilakukan pekebun tak membawa hasil. ° “Ini menjadi PR yang harus segera dituntaskan oleh lembaga penelitian dan perguruan tinggi terkait,” papar Ir Final Prajnanta MM dari Aventis Corp Science yang juga pengamat agribisnis cabai. Jika penanganannya berlarut-larut, krisis cabai bisa menjadi semacam bencana nasional.

Final menuding benih sebagai biang keladi meluasnya penyakit. Karena itu di mana pun benih ditanam, pasti akan terserang penyakit serupa. Namun, pendapat itu ditampik Ir Dwi Kartiko Ghazalie dari PT Tani Unggul Sarana (TUS), distributor benih keluaran Known You Seed asal Taiwan. “Saya kira bukan seed born disease karena benih yang sama jika ditanam di daerah lain tidak terserang,” paparnya. Ia tidak melihat adanya varietas tertentu yang rentan atau resisten terhadap penyakit baru itu.

Dwi menduga pemicu meluasnya serangan justru pola tanam yang terus-menerus. Seorang pekebun mungkin merotasi penanaman. Namun, pekebun lain di sekitar lahan terus menanam cabai. Dampaknya, siklus hidup virus tak terputus.

 

Saprotan menurun

Serangan virus di berbagai sentra ternyata tak hanya dirasakan dampaknya oleh petani. Efek dominonya kini mulai menghantam bisnis penjualan sarana produksinya. Lihat saja penjualan EWSI, produsen benih sayuran bermerek Panah Merah di Purwakarta. Menurut Soekoco, sejak pertengahan tahun lalu penjualan benih cabai terus turun. “Sampai akhir tahun omzet penjualan baru turun sekitar 40%. Saat ini penurunan telah mencapai 60%,” keluh Soekoco.

Dalam kondisi normal, penjualan benih cabai berlabel Panah Merah di Sumatera bagian selatan mencapai 200— 250 kg/bulan. Satu hektar lahan hanya membutuhkan sekitar 125 gram benih. Saat ini penjualan tinggal sekitar 100 kg/ bulan. Upaya mengalihkan pemasaran ke provinsi lain baru mampu mendongkrak penjualan hingga 20%. Sebab, butuh waktu untuk merintis pasar di wilayah baru.

PT Tani Unggul Sarana di Semarang juga pernah mengalami penurunan penjualan. Namun, Dwi menampik anggapan penurunan terjadi akibat adanya serangan virus. “Penurunan penjualan benih lebih karena peralihan konsumen di Yogyakarta dan Magelang dari cabai besar ke cabai keriting,” tegas Dwi. Itu pun terjadi pada 1998.

Menurut Dwi, sampai saat ini penyakit baru secara langsung belum mempengaruhi volume penjualan benih cabai TUS. Sebab, sepanjang 2002 penanaman benih cabai TUS masih sekitar 1.000 ha, atau sekitar 250 kg benih. Setara dengan penanaman pada 2001.

Penurunan penjualan juga mulai dirasakan Aventis Corp Science Indonesia, produsen pestisida. Final Prajnanta memperkirakan penurunan omzet akibat kehadiran penyakit baru itu mencapai 30%. Sebab, pekebun cabai salah satu pasar terbesar Aventis. “Karena tanaman sudah mati sejak usia dini, aplikasi pestisida pun otomatis berkurang,” papar alumnus Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto itu. Padahal, untuk mengatasi serangan hama penyakit, cabai menghabiskan 30—50% dari total biaya produksi per ha.

Bakal kosong

Final menduga, akibat serangan penyakit itu, pasokan cabai di pasaran bakal menurun dalam 2—3 bulan ke depan. Apalagi, curah hujan di beberapa sentra masih tinggi. “Di daerah bebas serangan pun produksi bakal berkurang jika hujan terus-menerus,” paparnya. Dampaknya, harga bakal melonjak.

Freddy Salim juga memperkirakan harga cabai merah bakal menembus angka RplO.OOO/kg di bulan Juni—Agustus karena pasar mengalami kekosongan pasokan. ’’Tanaman bulan Januari dan Februari yang mestinya panen pada April— Agustus saat ini banyak yang rusak,” papar Freddy. Selain karena terserang penyakit bulai, kerusakan juga karena terendam banjir. Misal di wilayah Brebes, 60% dari sekitar 1.000 ha lahan yang ditanam Januari dan Februari rusak akibat banjir.

Menurut Freddy, kekosongan pasokan terutama teijadi di seantero Jawa. Pasalnya, lahan bermasalah justru terjadi di sentra-sentra seperti Brebes, Pemalang, Magelang, Kediri, Blitar, dan Lampung yang menjadi pemasok terbesar ke pasar Jawa. Solusi mendatangkan dari luar Jawa dan Sumatera pun tak cukup mengatasi masalah. Sebab, kebutuhan konsumsi cabai di Pulau Jawa saat ini diperkirakan mencapai 670 ton/hari.

Freddy memang termasuk salah satu pemasok yang bakal merasakan dampaknya. Sebab, dalam kondisi normal saja permintaan pasar ekspor minimal 300 ton/tahun sering tersendat pasokannya. Belum lagi permintaan pasar lokal Jakarta dan Bandung yang mencapai 1.000 ton/ tahun. Maklum, produktivitas kebun rata-rata 20 ton/ ha. Dengan luas lahan 30 ha, berarti hanya bisa diproduksi 300 ton. Apalagi dalam kondisi saat ini, “Produktivitas tanaman yang lolos serangan pasti turun hingga 30—40%,” urainya.

Karena alasan itu pula Sumarlan tak ingin meninggalkan cabai meski penyakit masih terus menghadang. Menurutnya, begitu mulai menunjukkan adanya gejala serangan, tanaman terserang langsung dicabut dan dibakar. “Paling tidak 50% tanaman masih bisa lolos dari serangan,” paparnya.

Taufik, pekebun di Desa Pojok, Kecamatan Srengat, Blitar juga tak kapok menanam cabai. Meski keadaan belum membaik hingga Februari 2003, ia tetap melakukan penanaman baru. Malah, lahan bekas cabutan tanaman sakit hanya didiamkan 1 minggu. Toh, ia yakin ketika panen bakal memperoleh harga tinggi.

Kamis, 18 Juli 2019

no image

Mesin Saus Cabai Buatan LIPI Subang

Mesin saus itu hasil kreasi Ir Sudirman dan Ir Arie Sudaryanto, periset Balai Besar Pengembangan Teknologi Tepat Guna LIPI Subang, Jawa    Barat. Mereka hanya memerlukan 6 bulan untuk merancang mesin 2.000 liter saus per jam itu.

Sebelumnya, untuk membuat saus perlu 7 mesin yang berdiri sendiri. Dampaknya, campur tangan manusia relatif tinggi ketika memindahkan hasil olahan dari satu mesin ke mesin lain. Sudirman dan Arie Sudaryanto mengintegrasikan 7 mesin itu.

Budidaya Cabai

Untuk membuat saus bermutu, semua diserahkan kepada mesin, kecuali proses sortasi bahan baku. Bahan baku berupa cabai segar dan berwarna merah seragam. Menurut Prof Dr Ir Sutardi, M.AppSc, ahli teknologi pangan Universitas Gadjah Mada, terdapat 4 kriteria bahan baku, yakni aspek kimiawi, fisik, mikrobiologis, dan organoleptik. “Cabai merah yang bagus setidaknya bisa dilihat secara inderawi.

Bentuknya bagus, tidak rusak, tidak beraroma langu, warna seragam, dan tidak mengandung zat-zat membahayakan kesehatan,” tutur doktor Teknologi Pangan alumnus University of New South Wales, Sydney, Australia.

Memanfaatkan Cabai Yang Layu

Tahap pertama pekerja membuang tangkai cabai lolos seleksi dan memasukkannya ke mesin pencuci. Tujuannya untuk membersihkan kotoran yang mungkin menempel di sekujur sayuran buah itu. Mesin berukuran 3 m x 0,8 m x 2,3 m itu memancarkan air untuk membersihkan cabai. Kekuatannya 1,5 hp alias tenaga kuda dengan kecepatan yang bisa diatur sesuai kehendak pengguna. “Kami menyetelnya pada kecepatan 10— 12 rpm,” tutur Ir Sudirman.

Dalam kondisi bersih, sayuran anggota famili Solanaceae itu berjalan ke mesin pelayuan berdiameter 1,2 m. Mesin yang mengadopsi sistem rotari itu melayukan cabai dengan memberikan uap panas bersuhu 115°C selama 4—5 menit. Cabai yang terkulai itu kemudian masuk ke mesin penghancuran berkekuatan 7,5 hp. Kapasitas mesin 250—300 kg per jam. Bubuk cabai itu lantas berpindah ke mesin penghalusan cross heater mill.

Mesin berukuran 0,6 m x 0,6 m x 0,86 m itu mempunyai rotator berdiameter 0,3 m sebagai sarana penghalus cabai. Kapasitasnya 600 kg per jam dengan penyaring berukuran 80 mesh. Selain itu mesin juga dilengkapi sistem pendingin sehingga tidak terjadi perubahan warna pada bahan baku saus.

Mesin saus Serba Otomatis

Bahan baku saus itu berjalan ke tangki pencampur berbentuk bulat dengan diameter 1,4 m dan tinggi 2 m. Dalam tangki berkapasitas 2.000 liter itulah, ramuan saus berupa bubuk cabai merah, cabai rawit, bawang putih, garam, gula, asam cuka, dan preservative bercampur sempurna. Setelah itu adonan saus masuk ke mesin THE (Turbural Heat Exchanger Treatment). Lewat pipa-pipa berdiameter 3 inci dan sepanjang 6 meter itu, adonan saus disterilisasi dan dipanaskan pada suhu 110—120°C. Tujuannya agar campuran bahan-bahan saus menyatu dan tak terpecah.
Multifungsi

Adonan saus cabai yang semula menggelegak panas itu perlahan-lahan mengalami pendinginan. Bila sudah dingin, saus cabai siap santap itu masuk ke tangki penyimpanan sementara berkapasitas 2.000 liter. Tinggi tangki 2,25 m dan berdiameter 1,15 m. Dari tangki itu, Suratman mengemas saus dalam botol-botol plastik bervolume 225 ml. Waktu pengolahan sejak pencucian hingga menjadi saus tak lebih dari sejam.

Dengan sistem lama—ketika mesin belum terintegrasi, produsen memerlukan waktu 7 jam. Selain lama, produsen juga harus memindahkan bahan baku dari satu mesin ke mesin lain sehingga mempengaruhi higienitas saus. Pantas jika banyak produsen saus memesan mesin terpadu itu. Hingga Maret 2008, setidaknya ada 4 produsen yang memesan mesin bikinan Ir Sudirman dan Ir Arie Sudaryanto itu. Mesin berbahan besi nirkarat itu mudah perawatannya. Usai penggunaan, produsen tinggal mengguyur THE dengan air panas.

Alur Pengolahan Cabai Menjadi Saus

  1. Cabai pilihan
  2. Sortasi
  3. Bersihkan tangkai cabai
  4. Mesin pelayuan (blanching)
  5. Mesin penghalus
  6. Mesin pencampur
  7. Turbural Heat Exchanger Treatment (THE)
  8. Tangki penyimpan sementara

Padahal, produsen saus yang memanfaatkan mesin PHE (Plat Heat Exchanger) harus melepas plat ketika akan membersihkan. Mesin integral itu juga multifungsi. “Secara teknis alat ini bisa difungsikan sebagai mesin pengolah kecap, saus tomat, bahkan jus. Tentu saja dengan beberapa modifikasi di bagian THE. Untuk susu, misalnya, perlu ditambahkan alat pendingin agar mampu mencapai kualitas produk yang diinginkan,” kata Sudirman. Rangkaian mesin itu ternyata jauh lebih murah ketimbang alat sejenis bikinan mancanegara.

Selasa, 09 Juli 2019

no image

Mesin Giling Dan Pengering Cabai Untuk Produksi Skala Kecil Dan Menengah

Wajah Kuslan, pengepul cabai merah asal Tasikmalaya itu bersemu merah. Marah, kecewa, dan sedih berpadu. Musababnya 4,5 ton cabai gagal bongkar di Pasar Induk Kramatjati karena pasokan melimpah sehingga banyak membusuk. Andai Kuslan mengeringkan si pedas, niscaya kerugian dapat dihindari.

Di Cipayung, Jakarta Timur, Mustari Anies rutin mengeringkan cabai. “Harga jual lebih tinggi dan lebih awet,” ujar Mustari. Langkahnya musti ditiru sehingga pekebun tak khawatir saat pasokan melimpah dan harga merosot. Namun, jangan sembarang mengeringkan cabai. Kualitas yang diminta pasar berkadar air 10 – 12% dengan bobot 50% cabai segar.

Pengeringan konvensional sangat tergantung pada cahaya matahari. M. Sauki di Jatiwaringin, Pondokgede, Bekasi, merakit alat pengering cabai sederhana. Cukup sekali tekan alat langsung beroperasi. Selain untuk cabai alat ini kerap digunakan untuk mengeringkan bahan jamu-jamuan seperti jahe, kunyit, temulawak, sampai buah mahkota dewa. Bila kondisi cuaca tidak mendukung, alat tetap dapat difungsikan

Prinsip Kerja Yang Sederhana

Prinsip kerja alat ini sederhana dengan 4 bagian utama. Kontrol panel sebagai tombol untuk mengaktifkan alat, pengatur suhu, dan waktu. Bagian utama berupa susunan rak yang terdiri dari 40 nampan masing-masing berukuran 95 cm x 48 cm x 5 cm. Setiap nampan memuat 5 kg bahan segar. Mesin dilengkapi 2 pemanas berbahan bakar gas. Di bagian atas terdapat 2 buah exhaust tempat mengeluarkan uap panas dari bahan yang dikeringkan. Alat sedang berukuran 2,5 m x 1,2 m x 2 m sehingga tidak menyita tempat untuk menyimpannya. Bobotnya 700 kg.

Mesin Giling

“Sebelum dioperasikan, alat mesti dipanaskan terlebih dahulu selama 1 jam dengan suhu 70°C,” kata Sauki. Tujuannya agar panas baki berbahan stainless steel itu merata sehingga lebih optimal mengeringkan cabai. Setelah itu bahan segar dapat dimasukkan ke tiap baki dengan tumpukan yang merata dan masukkan ke dalam rak. Pintu ditutup untuk menjaga udara di dalam alat mendekati hampa.

Uap yang tercipta akan keluar melalui cerobong di bagian atas hingga cabai kering merata. Pengatur waktu akan mematikan mesin dan cabai kering dapat dikeluarkan dari baki. Produk itu dapat dijual sebagai cabai kering atau diolah lagi menjadi cabai bubuk alias gochugaru. Serapan pasar produk itu terbentang dari rumah-rumah makan maupun restoran.

Model rak

Alat ini sesuai untuk industri kecil maupun besar karena tersedia dalam berbagai ukuran. Untuk skala besar disebut box dryer berkapasitas 8 m3 atau 3 ton cabai segar. Sedangkan skala industri kecil disebut oven dryer dengan rak bersusun, berkapasitas 5 kg cabai segar di tiap rak. Untuk ukuran sedang terdiri dari 40 rak. Alat ini mampu menurunkan kadar air hingga 10 – 12%.

Untuk meningkatkan daya jual, setelah dikeringkan cabai diolah lagi menjadi tepung dengan mesin penggiling sampai kadar air turun hingga 6%. Daya tahan produk kering ini 3 bulan hingga setahun. Harga bubuk cabai mencapai Rp75.000 – Rpl00.000 per kg. Suhu pengering 70 – 120°C selama 5 – 8 jam; penggilingan, suhu 110°C selama 1 jam.

Menurut Sauki, mesin berukuran sedang membutuhkan 1 tabung gas 50 kg per 2 hari jika terus-menerus beroperasi. Kebutuhan listriknya 750 watt. Secara ekonomi mesin itu layak usaha dan menguntungkan. Dengan harga Rp60-juta dengan umur ekonomisnya sampai puluhan tahun. Pengering cabai itu membuat para pekebun tak perlu resah lagi bila panen melimpah maupun harga cabai merosot.