Tampilkan postingan dengan label duku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label duku. Tampilkan semua postingan

Selasa, 23 Juli 2019

no image

Cara Masyarakat Ciamis Mendapatkan Pendapatan Sampingan Dari Buah Duku

Kalau Anda tak sengaja menemukan duku di Pasirpanjang, Singapura, boleh jadi itu asal Kabupaten Ciamis. Duku asal Dusun Cililitan, Desa Karanganyar, Kecamatan Ciamis, itu besar, kulit bersih, serta daging manis dan tebal. Di pasar lokal ia dipasarkan dalam karung dengan label CL.

Memasuki musim panen Februari Maret kesibukan kentara di desa-desa di 4 kecamatan sentra duku di Kabupaten Ciamis. Puluhan pengepul desa mengendarai motor atau sepeda menyambangi para pemilik pohon di Kecamatan Cijeunjing, Ciamis, Sukadana, dan Rajadesa.. Mereka siap memanen Lansium domesticum yang sudah dipanjar sebelumnya. Begitu petik hari ini, besok sudah sampai di pasar.

Meski masa petik singkat sekitar 20 – 30 hari panen tidak serempak. Duku asal Desa Benteng, Kecamatan Ciamis, paling dulu dipetik. Baru diikuti desa-desa di kecamatan lain. Panen paling akhir diambil dari Dusun Cililitan, Desa Karanganyar, Kecamatan Ciamis. Panen asal dusun itu paling dinanti-nanti.

Buah Duku
Sekali panen Rp600.000 dari tanaman pekarangan

Maklum selain ukuran buah besar, daging berwarna putih susu dan tebal terasa manis. Lagi pula ia berkulit tebal sehingga tahan simpan sampai seminggu setelah panen. “Supaya daging tebal dan kulit mulus pekebun di Cililitan memberongsong buah saat masih pentil,” tutur Komarrudin, kepala seksi hortikultura Subdin Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Ciamis. Tak heran duku cililitan “terbang” hingga Singapura. Tanpa pesaing

Diduga duku di ke-4 sentra sebenarnya jenis yang sama. “Tapi karena kondisi tanah dan iklim berbeda maka kualitas buah berbeda,” tutur Kasum, Kepala Subdin Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Ciamis. Ia mengidentikkan dengan ubi cilembu yang berubah kualitas bila ditanam di luar Desa Cilembu, Kabupaten Sumedang itu.

Setelah disortir pengepul desa, duku cililitan disetor ke pedagang besar di Cirebon. Dari kota udang itu baru dikirim ke Singapura via eksportir di Jakarta. Sisa sortiran masuk ke pasar lokal Bandung, Jakarta, dan Bekasi.

Toh, pemilik pohon di luar Dusun Cililitan tetap merasakan manisnya duku. Harga diterima pekebun relatif tinggi. Pohon dengan perkiraan produksi 2 kuin’tal laku diborong Rp600.000. Bila dijual kiloan harga berfluktuatif. Pada awal panen pertengahan Februari 2002 duku asal petani dibeli Rp3.000 – Rp3.250 per kg oleh pengepul. Lalu turun hingga Rp2.800 pada saat panen serempak di 4 kecamatan. Di akhir musim giliran duku cililitan panen naik lagi sampai Rp5.000 per kg.

Dari pengepul desa buah anggota famili Meliaceae itu masuk ke pengepul besar. Mereka membawa ke pasar lokal Ciamis dan luar kota. Setiap musim Anda Suhanda pengepul besar di Karanganyarmampu memasarkan 350 – 450 ton. Padahal di seluruh kabupaten di pantai selatan Jawa itu ada 4 pengepul setara. Belum lagi pengepul kecil dengan volume penjualan 100 – 200 ton. Panen terbanyak terutama dari Cijeunjing dan Ciamis 2 sentra terbesar. Di Cijeunjing ada 212 ha setara 21.200 pohon; Ciamis lebih banyak, 43.416 pohon.

Meski panen raya, harga di petani tetap bagus. “Tidak mungkin turun sampai Rp500—Rp 1.000 per kg,” kata Kasum. Itu karena Kabupaten Ciamis sentra terbesar di Jawa Barat. Saat dibawa ke Bandung, Jakarta, dan Bekasi ia hampir tanpa pesaing. Ia berbeda musim panen dengan duku palembang dan purbalingga. Kalaupun ada pesaing asal Sumatera, bukan dari Palembang.

Rp30-juta Perbulan Dari Buah Duku

Duku memang jadi tambahan penghasilan andalan masyarakat Ciamis. Bandingkan dengan palawija dan padi I gogo yang sama-sama ditanam di lahan kering. Pendapatan dari 1 ha palawija dan | padi gogo paling Rp5-juta. “Sementara ada pemilik 6 pohon duku umur 20 tahun s sudah ditawar Rp3-juta. Padahal 6 pohonpaling hanya butuh luas lahan 1.000 m2. Bila 1 ha, Rp30-juta,” hitung Kasum.

Hanya saja “tawaran” pendapatan sebesar itu memang tidak diperoleh dalam sekejap mata. Penanaman asal biji baru berbuah pada umur 15 – 20 tahun. Makanya jarang ada petani yang mau mengebunkan duku. Mereka masih mengandalkan pohon warisan. Di Ciamis kerabat langsat itu tumbuh di pekarangan bercampur dengan tanaman lain. Ia nyaris tanpa perawatan. Paling hanya pemupukan dengan kotoran hewan sekali setahun. Di Kecamatan Ciamis kebanyakan “ditumpangsarikan” dengan salak benteng. Salak asli Ciamis itu ditanami di bawah tajuk duku.

Toh, lamanya waktu panen tak menyurutkan langkah sebagian pekebun. Mulai 1996 di sentra-sentra dikembangkan penanaman baru. Itulah warisan untuk anak cucu mereka 15 -20 tahun kemudian.

Jumat, 07 Juni 2019

no image

Cara Agar Pohon Duku Berbuah Lebat

Di penghujung Desember itu, ibu-ibu di Desa Prunggahan Wetan, Prunggahan Kulon, dan Semanding sibuk di dapur masing-masing. Aneka penganan lantas diantar ke tetangga di kiri-kanan rumah. Bukan, mereka bukan sedang meragakan perkawinan anggota keluarga atau selamatan karena anak tersayang baru lulus sarjana. Para ibu sibuk lantaran pohon duku di halaman rumah masing-masing berbuah lebat.

Upacara selamatan untuk duku di sentra itu berlangsung turun-temurun. Acara yang mirip tingkepan alias tujuh bulanan buat ibu hamil itu wujud syukur karena pohon berbuah lebat. Biasanya itu dilakukan pada tanaman yang baru pertama kali berbuah dengan harapan hidup lama dan berbuah lebih banyak. Mereka percaya, bila pohon tak diselamati mogok berbuah.

Wajar saja bila penduduk di 3 desa sentra di Kecamatan Semanding, Tuban, itu begitu menghargai duku. Lansium domesticum dari pesisir utara Jawa Timur itu memang istimewa. Rasa buah khas manis segar mencapai 20—23° briks. Bandingkan dengan jenis lain yang manis saja.

Kulit tebal dan lemas berwarna menarik, kuning muda. Warna itu tetap bertahan di suhu kamar selama 5 hari. Lazimnya kulit duku cepat menjadi cokelat kehitaman. Duku prunggahan pun awet simpan, 7—10 hari setelah panen penampilannya tetap menarik dan layak konsumsi. Jumlah biji sempurna hanya 1 buah, malah kadang tidak muncul sehingga bagian yang dapat dikonsumsi mencapai 80%.

Paling enak duku berbobot 25—30 g per buah itu dinikmati 1 hari setelah petik. Ketika itu rasa kian manis, getah hilang, dan kulit semakin lemas sehingga mudah dikupas.

Duku Warisan Ronggolawe

Tak ada data pasti kapan duku prunggahan—mulai ditanam di kota pelabuhan itu. Mengacu cerita para sesepuh, sejarah itu bermula dari masa pemerintahan bupati pertama Ronggolawe pada zaman Majapahit. Waktu itu ibukota Tuban kuno masih di Semanding.

Para keturunan Ronggolawe-lah yang pertama menanam duku. Itu terbukti dari umur pohon yang mencapai 100—200 tahun lebih. Lingkar batang tanaman rata-rata 1,5 m dengan akar besar muncul ke permukaan tanah. Tinggi tanaman mencapai lebih dari 20 m dan tajuk melebar hingga 6—8 m. Kehadiran ribuan pohon duku menjadikan 3 desa sentra berjarak 3 km dari alun-alun kota Tuban menjadi sejuk. Padahal, daerah pesisir lazimnya berhawa panas.

Meski “uzur” produktivitas tanaman tinggi. Rata-rata dituai 150—300 kg buah per pohon per panen yang umumnya jatuh pada Desember—Januari. Malah ada juga yang produktivitasnya mencapai 500 kg. Itu lantaran pemilik pohon rajin merawat. Pupuk kandang dan NPK secara rutin dibenamkan di sekeliling tajuk, terutama setelah panen. Pengairan dilakukan dengan cara mengeleb pohon dengan aliran sungai Bektiharjo yang tak pernah surut mengalir meski kemarau.

Ranting-ranting tua dan kering dipangkas agar tunas baru dan bunga muncul pada Juli—Agustus. Agar mulus, buah dibrongsong sabut kelapa 2—4 minggu sebelum dipanen. Hasilnya anggota famili Meliaceae itu bebas serangan tikus—salah satu musuh utama—dan berwarna menarik.

Sejak Buah Duku Masih pentil sudah diincar pedagang

 

Para Pengepul Berebut jatah

Duku prunggahan panen lebih awal ketimbang duku dari sentra lain. Karena lebih dulu muncul di pasar, wajar bila harga diterima pekebun cukup tinggi. Saat ini harga di tingkat pekebun mencapai Rp 10.000—Rp 12.000 per kg tergantung kualitas buah. Tiba di pasar swalayan nilai jual melonjak jadi Rp 15.000 per kg.

Bila dijual dengan sistem tebasan harga per pohon mencapai Rp 1-juta— Rpl ,5-juta. Oleh karena itu, bagi penduduk desa sentra, duku menjadi tambahan penghasilan menguntungkan. Sebut saja Sunggit. Lelaki paruh baya itu menikmati masa pensiun dengan tenang. Setiap musim panen tiba Rpl2-juta masuk ke kantongnya, hasil menebas 8 pohon duku yang dimiliki.

Meski harga tinggi, pekebun tak pernah kesulitan menjual buah. Malah setiap musim panen para pedagang dari dalam dan luar kota berebut datang langsung ke pohon. Maklum kualitas buah dijamin manis dan segar karena dipanen matang optimal.

Dari sentra, duku dikirim ke seluruh Tuban bahkan hingga Solo. Lokasi Kecamatan Semanding yang berada di dekat tempat wisata pemandian Bektiharjo, Gua Akbar, dan wisata rohani Sunan Bonang menguntungkan. Para pedagang leluasa menjajakan duku prunggahan kepada para wisatawan. Buat para pembeli hati-hati, beberapa oknum pedagang kerap memalsukan duku dari sentra lain sebagai duku prunggahan.

Duku Varietas unggul

Melihat potensi kerabat langsat itu, pemerintah setempat lantas mencanangkan program pengembangan duku prunggahan. Pada Maret 2004 bibit-bibit hasil perbanyakan sambung pucuk dengan batang bawah kokosan dibagi-bagikan kepada penduduk di Kecamatan Semanding. Nantinya penangkar setempat diharapkan dapat memproduksi bibit sendiri. Teknologi berasal dari Kantor Informasi Penyuluhan Dan Pertanian Kehutanan Tuban bekerjasama dengan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Timur.

Entres antara lain diambil dari pohon milik Slamet Wahyudi, Kepala Dusun Prunggahan Wetan, yang ditunjuk sebagai pohon induk tunggal. Sayang, bibit masih sulit keluar dari Tuban. Ada anggapan yang hingga kini dipercaya, bila seseorang menanam duku di luar sentra dan duku berbuah, orang yang menanam akan mati. Sejatinya masyarakat setempat khawatir duku prunggahan mendapat pesaing bila dikembangkan di daerah lain.

Namun, itu tak menghalangi langkah pemerintah daerah mengusulkan duku prunggahan sebagai varietas unggul nasional. Agar masyarakat luas lebih mengenal, ia kerap diperkenalkan di berbagai ajang promosi. Misal pada Tropical Fruit Festival di Bali pada penghujung tahun silam. Dengan begitu diharapkan warisan berharga di kota Sunan Bonang itu berumur panjang.