Tampilkan postingan dengan label hama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hama. Tampilkan semua postingan

Kamis, 17 September 2020

Hama Penggangu Dalam Usaha Budidaya Jamur

Hama Penggangu Dalam Usaha Budidaya Jamur

Hama baru itu tak ubahnya pencuri. Mereka dari fase larva hingga dewasa menyerang media dan tubuh buah jamur dalam berbagai bentuk. Metabolisme larva yang sangat cepat mampu memakan miselium hingga tandas. Parahnya lagi, budidaya jamur tiram siap panen bisa habis dilalap oleh kumbang.

Bradysia ocellaris
Hama Serangga Penghancur Jamur

Biang kerok kerusakan itu penulis temukan setelah meneliti selama 3 tahun di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), jurusan Biologi, Institut Teknologi Bandung. 

Kumbung-kumbung pekebun Jamur di sekitar Desa Cisarua, Kabupaten Bandung, Diserang hama baru yang belum teridentifikasi. Hama-hama itu berkembang sangat pesat dan sampai sekarang belum diketahui cara penanggulangannya.

Macam macam Hama Perusak Budidaya Jamur

1. Lalat Bradysia ocellaris

Fase yang sangat mematikan dari hama ini adalah larva. Meski bertubuh mungil,4,0-5,4 mm, ia mampu memakan miselium hingga habis dan merusak tubuh buah. Tubuhnya memanjang, bening, dan dilengkapi kapsul kepala berwarna hitam. Ia dapat menyebar ke bagian plastik baglog dan media tanam.

Biasanya ulat menyerang media dan jamur pada instar ke-3 dan 4 atau saat berumur 5-6 hari setelah menjadi larva. Gejala serangan terlihat saat massa miselium berkurang, bakal buah rusak, tangkai buah berlubang, dan tudung buah sobek. 

Gejala serangan lalat buah lain berupa butiran feses yang lunak memanjang seperti terowongan di permukaan media.

Fase larva sangat berbahaya. Makanan yang diperoleh pada fase ini digunakan sebagai cadangan untuk pertumbuhan pada fase pupa dan dewasa. Wajar bila media tanam dan jamur bisa rusak. Setelah berkembang 10-19 hari, larva bersalin rupa menjadi pupa kemudian tumbuh dewasa. 

Serangga dewasa bertubuh kecil, 1,7-3,2 mm, berwarna cokelat kehitam-hitaman. Induk betina mampu bertelur 56-116 butir.

Lalat Bradysia ocellaris hama baru jamur tiram di dunia. Di beberapa negara ia menyerang perakaran tanaman hortikultura di rumah kaca.

Lalat Bradysia ocellaris
Lalat Bradysia ocellaris

2. Lalat Ubnotes immaculipennis

Pola serangan dan gejala hama mirip lalat Bradysia ocellaris. Fase larva memakan miselium jamur dan media sehingga produksi tidak maksimal. Lubang pada tangkai buah dan robek pada daun tubuh buah mengakibatkan kualitas buah menurun. 

Larva berwarna krem dengan panjang 10-13 mm. Setelah 8-11 hari menjadi larva, ia bermetamorfosis menjadi pupa kemudian tumbuh dewasa setelah 3 hari.

Serangga dewasa berwarna kuning kecokelat-cokelatan dan berukuran besar, panjang 6,3-9,9 mm. Serangga mirip nyamuk itu bertungkai panjang dan mudah lepas. 

Dua hari setelah melakukan perkawinan, induk betina bertelur 68-163 butir. Setelah bertelur serangga mati sehingga siklus hidup anggota famili Limoniidae itu hanya 12-27 hari.

Lalat Ubnotes immaculipennis
Lalat Ubnotes immaculipennis

 

3. Lalat Megaselia tamilnaduensis

Anggota famili Phoridae itu menyerang pertanaman jamur tiram secara besar-besaran di India dan Korea. Megaselia tamilnaduensis menjadi momok menakutkan bagi pekebun jamur. 

Tubuh larva mirip belatung, berwarna putih dengan kepala kecil. Panjang tubuh mencapai 3—4 mm. Larva berkembang selama 6—7 hari sebelum berubah menjadi pupa berwarna krem.

Setelah melewati masa pupa, serangga dewasa tumbuh dengan warna kehitam-hitaman berukuran 2,58—3,54 mm. 

Pada masa bertelur, induk betina meletakkan telur secara berkelompok pada permukaan atas ring baglog jamur . Telur menetas sangat cepat dengan jumlah telur relatif sedikit, 20—30 butir. Siklus hidup pun relatif singkat, 13—18 hari.

Megaselia tamilnaduensis log jamur tiram
Megaselia tamilnaduensis

 

4. Lalat Chonocephalus rostamani

Hama baru yang ditemukan oleh penulis ini memiliki ciri khas tersendiri dibanding hama lain. Serangga betina relatif kecil dibanding jantan dan tidak bersayap. Sedangkan panjang jantan 1,50—1,85 mm dan bersayap. Tubuh Berwarna kuning kecokelatan dengan panjang antena 0,3—0,6 mm.

Anggota famili Phoridae itu bertahan hidup hingga 20 hari. Kemampuan bertelur sangat sedikit, 1—4 butir. Walau ukuran telur besar, tetapi larva relatif pendek, 2 mm. 

Tubuh larva berwarna putih dan meruncing ke arah kepala. Ia menyerang miselium dan tubuh buah. Gejala serangan larva mirip gejala yang ditimbulkan oleh lalat Megaselia tamilnaduensis.

5. Lalat Coboldia fuscipes

Walau serangga dewasa berukuran kecil, 2,40—3,80 mm, tetapi kemampuan bertelur lalat betina sangat tinggi dibanding lalat lain, mencapai 135—215 butir. Telur diletakkan secara berkelompok dan menetas 2—3 hari kemudian.

Larva berwarna kuning kecokelatan dengan panjang 2,5—4,0 mm. Ruas tubuh jelas dan sedikit berduri. Kapsul kepala cokelat kehitaman. Pada umumnya larva menyebar ke bagian dasar media tanam. 

Di Korea, larva memakan miselium pada media baglog dan bahan organik yang sudah membusuk. Bila serangan dilakukan massal, miselium akan “hilang” sehingga media tampak cokelat seperti sediakala. Siklus hidup anggota famili Scatopsidae itu 19—30 hari.

Lalat Coboldia fuscipes jamur
Lalat Coboldia fuscipes

6. Kumbang Cyllodes bifacies

Inilah satu-satunya hama yang merusak jamur pada fase dewasa. Anggota famili Nitidulidae itu berukuran 2,77—4,11 mm dan lebar 1,94—2,94 mm. Kumbang mampu merusak tangkai jamur hingga berlubang dan menyobek daun tubuh buah. 

Tak jarang bila dilihat dari atas, tudung jamur tampak transparan akibat daun tubuh buah habis disantap. Hama bertungkai 3 pasang dan bertubuh cokelat kehitaman itu mampu hidup hingga 200 hari.

Kumbang berspot merah pada sayap itu meletakkan telur pada media jamur dan tubuh buah. Kumbang berbentuk oval dan cembung itu mampu bertelur hingga 1.693 telur. Setelah menetas dalam waktu sehari, larva memakan miselium, bakal jamur, dan tubuh buah. 

Tubuh larva berwarna putih, memanjang, dan silindris. Dengan bagian kepala berwarna hitam, dengan panjang tubuh mencapai 3,9—7,4 mm. (Ir Rostaman. MSi, dosen Politeknik Pertanian Negeri Kupang, NTT)




Senin, 29 Juli 2019

Padi Transgenik Rojolele Tahan Hama Penggerek batang

Padi Transgenik Rojolele Tahan Hama Penggerek batang

Perut Tryporyza intertulas mendadak berlubang dan ia pun langsung terkapar. Sepuluh menit lalu penggerek batang itu mengisap pakan kegemarannya, padi. 

Sayang ia salah sasaran. Yang disantapnya padi rojolele yang mengandung Bacillus thuringiensis. Itulah tanaman transgenik keluaran Pusat Penelitian Bioteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia.

padi transgenik
padi transgenik tahan hama

Di tengah-tengah suara pro-kontra kehadiran teknologi transgenik, Inez Hortense Slamet-Loedin justru tekun meneliti padi rekayasa genetika. Ia bersama timnya mengembangkan tanaman padi tahan hama penggerek batang. April 2013 bekerjasama dengan Balai Penelitian Tanaman Padi, Sukamandi akan dilakukan uji lapangan. Perjuangan Kepala Divisi Biologi Molekuler Puslit Bioteknologi LIPI itu, agar gagasan padi transgenik diterima tidaklah mudah.

Banyak peneliti memperdebatkan keamanan pangan dan pengaruhnya terhadap lingkungan. Misal ketakutan berkembangnya gulma super dan bakteri baru yang kebal antibiotik. 

Padahal, “Kemungkinan itu hanya 10’16. Peluang kebal antibiotik lebih besar pada pengkonsumsi obat-obatan antibiotik,” ujar ibu sepasang putri kembar itu. Bahkan ada pendapat, rekayasa genetika itu menyalahi aturan Tuhan.

Semua perdebatan itu tidak membuat Inez gentar. Ia yakin produk transgenik akan diterima. Contohnya Amerika Serikat, hampir 70% produksi kedelainya hasil rekaya genetika. 

Benih transgenik di negara Paman Sam yang terkenal ketat terhadap keamanan pangan itu lolos uji Food and Drugs Association (FDA). Produksinya kini menyebar ke seluruh dunia. Berarti tidak tertutup kemungkinan padi transgenik diterima konsumen.

Gen Bt

Inez menekuni padi sejak ia belajar di University of Nottingham. Setelah menyelesaikan program doktor ia melakukan riset post-doctoral selama 2 tahun di Universitas Leiden, Belanda. Subjek penelitiannya padi rojolele transgenik.

“Merekayasa gen menjadi bagian hidup. Fenomena itu rumit tapi mengasyikkan,” ujarnya. Tidak heran begitu kembali di tanah air, akhir 1994 Inez langsung merintis penelitian bioteknologi. Ia harus berjuang untuk membangun laboratorium biotek hingga menemukan kultur jaringan yang responsif. Lebih dari 40 varietas padi diseleksi.

Ternyata hanya varietas padi rojolele yang paling pas tumbuh di media kultur jaringan. Penelitian pun memasuki tahap isolasi gen. Mula-mula gen cryl AB alias gen Bt diisolasi dari bakteri Bacillus thuringiensis. Agar terekspresi di padi, gen Bt harus diberi mesin atau promotor. Mesin itu menentukan bagian tanaman dan jumlah ekspresinya. Setelah diperoleh vektor DNA lalu diperbanyak dalam bakteri dan diisolasi.

Benih rojolele dibiakkan dalam media kultur jaringan. Dua minggu kemudian embrio padi membentuk jaringan sel yang belum terprogram. Kalus padi itulah yang kemudian disisipi gen Bt dari bakteri.

Tanaman transgenik Aman dikonsumsi

Ada 2 cara memasukkan gen Bt, ditembak atau memanfaatkan agrobacterium tumefaciens. Cara penembakan, partikel emas dilapisi DNA kemudian ditembakkan ke jaringan. Setiap vektor DNA membawa gen target dan gen penyeleksi. 

Jika berintergrasi maka sel akan membelah dan membawa DNA baru. Dikatakan berhasil jika gen penyeleksi bekerja menunjukkan perubahan warna. Alat tembak tidak dapat membaca kromosom target sehingga penembakannya random. Akibatnya copy gen menyebar di semua kromosom.

Menggunakan agrobacterium lebih mudah, murah, dan copy gen sedikit. Lantaran ia dapat membaca kromosom target. Bakteri itu secara alami menginfeksi tanaman dan memindahkan DNA-nya ke dalam tanaman. 

Namun, setelah 3 hari bakteri itu harus dimusnahkan dengan antibiotik khusus, dosis 100-400 mg/ml. Jika bakteri dibiarkan hidup, pertumbuhannya lebih cepat dibanding selnya. Agar bakteri bekerja optimal harus diciptakan suasana asam pH 5,5.

Penyisipan gen Bt tidak membuat tanaman berubah karena hanya 1 gen saja yang dirubah. “Rasa tetap pulen dan putih,” ujar Inez. Lagipula padi transgenik aman dikosnumsi manusia. 

Gen Bt di padi bersifat protoksin yang berubah menjadi toksin dalam suasana alkali. Pencernaan manusia bersifat asam sehingga ia tidak lebih hanya protein yang tidak berbahaya. Toh, ketika dimasak kurang dari 1 menit protein itu rusak.

Tahan Hama Penggerek batang

Tanaman transgenik Dari Los Banos ke Sukamandi

Padi rojolele transgenik bisa dibilang padi sakti yang tahan serangan hama penggerek. Jika ingin Oryza sativa berproduktivitas tinggi, padi transgenik bukan pilihan. Pekebun biasanya menyandarkan harapan pada maro dan rokan. Mereka padi hibrida pertama di Indonesia hasil penelitian Dr Suwarno. Pemulia di Balai Penelitian Tanaman Padi Sukamandi itu meriset padi hibrida sejak 1998.

Penghujung 2002 pekebun sudah dapat menjajal keistimewaan mereka.Rokan menjanjikan produksi 9,24 ton per ha. Sedangkan maro 8,85, ton. Artinya, pekebun memetik hampir 2 kali lipat jika menanam varietas lain. Varietas IR 64, misalnya, hanya mampu berproduksi 5—6 ton per ha.

Pekebun cukup menancapkan sebatang bibit di setiap lubang 5 tanam. Oleh karena itu kebutuhan benih padi rojolele separuh lebih kecil ketimbang benih padi lokal atau 10 j kg per ha

Untuk padi lokal pekebun f biasanya membenamkan 2 bibit per lubang tanam. Seperti jamaknya, harga benih hibrida tentu lebih mahal, yakni Rp20.000 per kilo. Soalnya, untuk mendapatkan benih hibrida peneliti mesti menempuh jalan panjang lagi berliku. Menentukan sepasang indukan dari 2 galur berbeda yang mampu menyerbuki bukan perkara gampang (baca: Meningkatkan Kualitas Dan Produksi Padi Dengan System of Rice Intensification).

Rentan wereng

Doktor alumnus IPB itu menggunakan padi introduksi dari IRRI (International Pice Research institute) yang berpusat di Los Banos, Filipina. Galur Mandul Jantan (GMJ) IR58025A akhirnya dipasangkan dengan Galur Pemulih Kesuburan (GPK) BR827-35. Kedua induk itulah yang akhirnya “melahirkan” rokan. Maro diturunkan dari pejantan sama, GMJ IR 58025A dan GPK IR53942. Nama sungai di Riau itu diabadikan untuk menyebut 2 varietas baru.

Sosok mereka tegak dengan tinggi 98-107 cm. Per tanaman mampu menghasilkan 20 anakan. Sebuah malai menghasilkan 150-200 bulir gabah. Biaya benih yang relatif mahal, tertutupi dengan produktivitas yang tinggi. Dengan harga gabah Rp1.000 per kg, pekebun padi hibrida menangguk Rp3,2-juta (per ha) lebih banyak ketimbang pekebun padi nonhibrida.

Di balik keistimewaan itu, padi rojolele hibrida menyimpan kelemahan. Mereka rentan wereng cokelat dan hawar daun. Oleh karena itu sebaiknya mereka ditanam di lahan sawah irigasi dan bukan daerah endemis wereng.

Kekurangan tanaman transgenik itu sedang diperbaiki oleh peneliti Balitpa sehingga kelak muncul padi hibrida tahan hama dan penyakit Karena benih hibrida, pekebun hanya dapat sekali tanam. Pada penanaman berikut, pekebun harus membeli benih lagi, jika tidak ingin produksi melorot.

Padi hibrida memang bukan barang baru. Beberapa negara seperti Vietnam, India, Filipina, dan Cina lama menanamnya. Namun jenis padi hibrida mancanegara kurang cocok ditanam di Indonesia. “Semakin dekat khatulistiwa padi hibrida itu tidak menunjukkan keistimewaannya,” papar Suwarno.

Minggu, 28 Juli 2019

Serangan Virus kuning Pada Tanaman Cabai

Serangan Virus kuning Pada Tanaman Cabai

Senyum kecut menghiasi bibir Marsudi pada pertengahan 2002. Betapa tidak, 30 ha cabai luluh-lantak diterjang virus kuning keriting. Produktivitas menurun, modal pun tak kembali. “Kerugian saat ini sudah sekitar Rp200-juta,” tutur pekebun di Desa Banyudono, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang itu.

 

Virus Bulai

Marsudi tidak sendirian mengalami nestapa itu. Banyak pekebun di desa sekitarnya seperti di kecamatan Mungkid, Sawangan, dan Muntilan ikut terkena. Walau jumlah tanaman terinfeksi sedikit, tetapi rata-rata 25% dari total tanaman terpapar virus kuning kering itu. 

Sentra cabai di Jawa Tengah dan Yogyakarta, khususnya Muntilan, Sleman, serta Kulonprogo memang terkena serangan paling parah. Kerugian yang ditimbulkan bisa miliaran rupiah.

Virus kuning keriting mirip penyakit bulai pada jagung. Oleh karena itu pekebun di Sleman menyebutnya bulai amerika. Hamparan cabai bisa berubah warna dari hijau menjadi kuning menyala. Jika itu terjadi, dipastikan cabai gagal berbuah. 

Pada cabai rawit, tanaman terserang masih bisa berbuah, tetapi kualitas dan kuantitas jauh melorot.

Gejala Tanaman Terserang Virus

Kalau dilihat dengan mikroskop, virus itu memiliki 2 partikel. Jadilah ia dinamakan virus gemini. Vektornya kutu kebul atau lalat putih Bemisia tabaci (biotipe-1) atau B. argentifolia (biotipe-2). Kutu kebul dewasa yang terinfeksi selama hidupnya bisa menularkan virus. Efesiensi penularan meningkat seiring meningkat populasi serangga per tanaman.

Sifat kutu kebul yang polifagus makan beragam jenis tanaman menyebabkan virus itu gampang tersebar, bahkan pada jenis tanaman lain. Ia memiliki inang yang beragam dari banyak famili dan spesies, seperti: ageratum, kembang kancing, buncis, kedelai, tomat, dan tembakau. Meski begitu perkembangan virus di suatu areal dapat diperkirakan dengan menghitung populasi kutu kebul.

Ada tanda-tanda kehadiran virus gemini itu. Pertama, pucuk cekung mengerut berwarna mosaik hijau pucat. Pertumbuhan tanaman terhambat. Daun berkerut, menebal disertai tonjolan (blister) hijau tua. Gejala itu mirip serangan penyakit tigre di Meksiko. 

Gejala kedua, pada pucuk dan daun muda keluar mosaik kuning. Warna itu menjalar hingga seluruh daun menjadi bulai. Gejala itu menyerupai virus gemini Texas Pepper Gemini Virus di Texas, Amerika Serikat.

Pada stadium 3, urat daun pucuk atau daun muda pucat kekuningan sehingga tampak seperti jala. Warna daun lalu berubah belang kuning tetapi morfologi daun masih sama. Gejala itu serupa penyakit Serrano Golden Mosaic Virus. Stadium ke 4, daun muda atau pucuk menjadi cekung mengerut berwarna mosaik. 

Seluruh daun lalu berubah kuning cerah dengan bentuk daun berkerut cekung menjadi lebih kecil. Gejala seperti itu sama dengan penyakit Thailand Tomato Yellow Leaf Curl Virus (TYCV-Thai)

Pengobobatan Tanaman Yang Terkena virus kuning

Penyebaran virus kuning keriting dapat diminimalisasi dengan berbagai perlakuan Selain harus bebas gulma, setiap hektar tanaman cabai perlu diberi pupuk berimbang yakni: 20-30 ton pupuk kandang, 0,1-0,15 ton Urea, 0,3-0,45 ton ZA, 0,1-0,15 ton TSP, dan 0,15- 0,2 KC1. Cabai pun perlu diberi mulsa plastik terutama penanaman di dataran tinggi.

Lakukan pemantauan teratur setiap minggu, terutama pada tanaman muda kurang dari 30 hari. Bila terkena virus segera musnahkan dan sulam dengan tanaman sehat. Seandainya 10% dari total populasi tanaman muda terinfeksi lantaran ada kutu kebul beterbangan, lakukan eradikasi dan ganti dengan sayuran lain yang bukan inang kutu kebul seperti kubis dan jagung.

Populasi kutu kebul bisa dikurangi dengan melepas musuh alami parasitoid Encarcia formosa sebanyak 1 ekor per 4 tanaman setiap minggu selama 8-10 pekan. Setidaknya untuk 1 ha diperlukan 10.000 Encarcia. Predator lain, Menochilus sexmaculatus terbukti efektif memangsa 200-400 ekor larva kutu kebul per hari.

Insektisida alami alternatif untuk mengendalikan kutu kebul. Beberapa di antaranya tagetes, eceng gondok, rumput laut, dan daun nimba. Untuk kimiawi bisa dipakai insektisida berbahan aktif bifentrin, buprofezin, imidacloprid, fenpropathin, endolsulphan, cyflutrin, amitraz, deltametrin, permetrin, dan asefat.

Gemini

India merupakan negara pertama yang mempublikasikan serangan virus ini pada 1948. Maklum sekitar 80% lahan cabai di negeri Mahatma Gandhi itu rusak terinfeksi. Penyakit itu diidentifikasi sebagai anggota virus gemini lantaran partikelnya berpasangan. 

Virus di dalam astrologi menandakan kelahiran pada Juni itu pertama kali dilaporkan ada di Indonesia pada 1989.

Namun, bukan pada cabai justru tembakau penyakit kerupuk yang diserang. Capsicum annum baru diketahui terinfeksi pada 1992. Saat itu seranganya masih diabaikan karena nyaris tak berdampak. Memasuki 2001, serangan merajalela di banyak daerah dengan kisaran antara 10-100%. Awal 2003 merupakan puncak serangan. Bahkan menjadi epidemi di sentra-sentra cabai di provinsi Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Sumatera Selatan.

no image

Serangan Bulai Pada Tanaman Cabai

Sudah setahun penyakit bulai cabai dilaporkan kehadirannya. Namun, hingga kini serangannya belum teratasi. Malah, makin meluas ke berbagai sentra. Kalau tidak segera ditangani, pasar bakal mengalami kekosongan pasokan. Dalam 2 – 3 bulan ke depan, harga bakal melonjak. Kalau sudah begini, siapa yang bertanggungjawab?

beberapa daerah saya melihat, petani mulai “lempar handuk”. Banyak yang beralih ke tanaman lain. Contoh di Muntilan, Kabupaten Magelang, pelaku budidaya cabai mulai melirik tomat dan kol dataran rendah. Kalau pun masih ada penanaman, paling tak seluas biasanya. Di Lampung Barat kabarnya malah hampir tak ada lagi penanaman baru. Mereka kapok menanam cabai.

Pasalnya, serangan penyakit cabai yang sulit dibendung. Penyemprotan pestisida untuk menghambat serangan tak membawa hasil. Upaya penanaman di lahan baru pun tak banyak membantu. Buktinya, tanaman tetap mengalami serangan dalam 2 – 3 minggu kemudian. Akibatnya, petani kehilangan modal produksi.

Di Jawa Timur yang semula aman-aman saja, kini juga mulai tampak adanya serangan. Di antaranya di Kediri dan Blitar. Jika kondisi ini tidak segera diatasi, wilayah itu juga bakal mengalami nasib sama.

penyakit bulai cabai
penyakit bulai cabai

 

Penyakit berasal dari benih?

Untuk mengatasi hal itu, pemerintah dan para ahli terkait harus melakukan penelitian serius. Sebab, sampai saat ini belum jelas penyebab penyakitnya. Dari gejala serangan, jelas itu akibat serangan virus. Semula muncul bercak kuning pada permukaan daun, lalu meluas ke seluruh permukaan hingga daun menjadi kerdil dan mudah patah. Hanya saja jenis virus belum diketahui. Apakah itu jenis virus baru, atau virus lama yang sebelumnya menyerang tanaman lain.

Sementara ini banyak orang menuding virus gemini pada tomat yang hingga saat ini pun belum teratasi sebagai biang keladi. Namun di lapangan, tomat yang ditanam setelah cabai ternyata tidak terserang. ( Baca : Virus Dan Hama Penyakit pada Tanaman Cabai )

Logikanya, kalau virus sejenis yang menyerang, berarti penanaman tomat pun gagal. Bukti lain, tanaman cabai di daerah baru pun ikut juga terserang. Artinya, virus memang spesifik menyerang tanaman cabai.

Melihat hal itu saya menduga penyakit ini justru bawaan benih (seedborn disease). Jadi di mana pun benih ditanam, pasti akan terserang penyakit. Sebab, kalau itu virus lama, berarti harus ada vektor yang menyebarkannya. Padahal, tanaman sudah terserang sejak usia dini, saat serangga vektor belum menyerang.

Itu pula sebabnya sehingga penyemprotan pestisida untuk menghambat serangan tak menyelesaikan masalah. Namun, benih mana yang mengandung virus, itu yang harus dilacak lebih detil. Dugaan saya, biang keladinya salah satu varietas cabai keriting eks impor. Sebab, kasus serangan terbanyak muncul di sentra-sentra penanaman varietas itu. Kasus yang menyerang varietas lain kurang. Itu pun karena ditanam di daerah endemik. Hanya saja perlu penelitian serius sebelum menjatuhkan vonis.

serangan virus pada tanaman cabai

 

Tanaman Cabai Masih mempunyai prospek

Akibat serangan virus baru itu, stagnasi produksi jelas bakal terjadi. Sebab, sejak beberapa bulan terakhir produsen dan distributor benih mengalami penurunan penjualan hingga 50%. Artinya, luas penanaman pun berkurang separuh. Akibat itu pula sehingga omzet penjualan pestisida ikut merosot. Itu pasti, sebab dengan matinya tanaman di usia dini volume dan frekuensi penyemprotan pun menurun.

Menurunnya luas penanaman jelas membuka peluang. Namun, penanaman sebaiknya dilakukan di daerah baru. Hebatnya serangan di wilayah Muntilan dan Lampung Barat juga disebabkan penanaman berulang-ulang di satu areal. Di daerah baru pun sebaiknya dilakukan pergiliran varietas untuk meminimalkan kegagalan. Kalau perlu, coba pikirkan penggunaan varietas lokal. Lihat saja di Brebes (Jawa Tengah) dan Rejanglebong (Bengkulu), kasus serangan tergolong rendah karena petani banyak menggunakan varietas lokal.

Jika berhasil, petani bakal menikmati harga tinggi. Bukan tidak mungkin dalam 2—3 bulan mendatang harga cabai menembus angka Rp10.000/kg akibat kurangnya pasokan. Berarti, dengan produksi 50% saja dari kondisi normal, petani masih bisa menikmati keuntungan. Jika produksi per hektar hanya 10 ton saja, berarti petani bisa memperoleh omzet Rp100-juta.

Penanaman cabai pot dalam skala komersial barangkali bisa pula dipertimbangkan. Perlu ada produsen atau lembaga yang melakukan sosialisasi. Sebab, menanam di polibag berarti mengubah kebiasaan. Lagipula, analisis ekonominya perlu dikaji terlebih dahulu sebelum kegiatan itu dilakukan. Yang pasti, cabai masih layak untuk diusahakan

Sabtu, 27 Juli 2019

no image

Virus Dan Hama Penyakit pada Tanaman Cabai

Prawito terpaksa harus gigit jari. Modal Rp200-juta lenyap tak berbekas. Sekitar 10 ha lahan cabai yang digarap bersama petani binaan amblas terserang bulai. Gejala serangan sebenarnya sudah mulai tampak di beberapa titik penanaman sejak kuartal pertama 2002.

Namun, petani di Desa Way Mengaku, Kecamatan Balik Bukit, Lampung Barat, itu tak menduga bila serangan bakal semakin meluas. Karena itu hingga Juli ia tetap mengupayakan penanaman dengan memilih lahan baru. Nyatanya serangan virus tak terbendung. Daerah penanaman baru tak luput dari incarannya.

Tak kuat menghadapi serangan virus, Prawito terpaksa berhenti mengembangkan komoditas yang sudah 3 tahun digeluti. Tujuh bulan terakhir Prawito dan beberapa pekebun beralih mengembangkan komoditas lain.

“Sampai hari ini kami masih trauma dengan penyakit itu,” tutur Prawito. Pasalnya, serangan virus benar-benar menggila. Hampir semua macam pestisida dipakai, tetapi tak mampu menanggulangi serangan.

di Tingkat pekebun bisa tembus angka RplO.OOO/kg.

Cepat menular

Prawito tidak sendirian mengalami nasib buruk itu. Malahan saking jengkelnya menghadapi serangan, Mukalam, pekebun di Blitar, Jawa Timur, akhirnya membiarkan lahan merana begitu saja. Ayah 1 anak itu mengalami gagal panen setelah 6.000 tanaman mati terserang virus. “Penularannya sangat cepat. Dalam tempo 2 hari saja tanaman terserang bisa mati,” papar pekebun 31 tahun itu.

Di Malang, Jawa Timur, Kuswanto juga terpaksa menghentikan penanaman cabai merah dan menggantinya dengan melon setelah beberapa tanaman ditemukan menguning dan berkeriput. Hal sama dilakukan Suharyana, pekebun di Desa Banyudono, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang.

Pada September Oktober lalu, 30% tanaman berumur 20 hari terserang virus. Untuk mengatasi meluasnya ganyangan, tanaman terserang disulam dengan tomat. Meski begitu, “Tanaman yang bertahan hingga dapat dipanen tetap turun produksinya. Paling separuh dari total populasi awal tanam,” ungkapnya. Nasib serupa menimpa rekannya, Sumarlan. Sejak Oktober lalu gejala serangan mulai tampak. Semula muncul bercak kuning di atas permukaan daun. Perlahan bercak itu meluas hingga seluruh permukaan daun. Dampaknya daun menguning, kerdil, dan rapuh. Masyarakat setempat menyebutnya penyakit bulai atau kuning. “Dalam luasan 1 ha, tanaman terserang lebih dari 400 tanaman,” papar Sumarlan.

Menurut Yoga Susila, staf Hortikultura Dinas Pertanian Kabupaten Magelang, bulai mulai menyerang di beberapa sentra sejak awal tahun lalu. Namun, serangan terparah baru terlihat sejak Oktober 2002 di 3 sentra: Dukun, Sawangan, dan Mungkid. Sampai Januari 2003, luas serangan di ketiga wilayah kecamatan itu masing-masing 67 ha, 124 ha, dan 58 ha. Jumlah ini berarti mencapai 15%, 38%, dan 43% dari total luas tanam Januari 2002—Januari 2003 di masing-masing wilayah itu.

Di Pemalang, Jawa Tengah, salah satu sentra cabai terbesar, serangan virus juga cukup memprihatinkan. “Saat ini saja sudah sekitar 25% lahan cabai di daerah ini yang mati lantaran virus baru itu,” ujar Freddy Salim, pekebun dan eksportir cabai.

Contohnya di kebun Freddy, dari 10 ha lahan yang ditanami pada Januari dan Februari, kini tinggal 7,5 ha yang masih tegak berdiri. “Satu per satu pertanaman mati hanya dalam tempo 2—3 minggu,” kata pebisnis cabai sejak 1978 itu. Lahan milik petani binaan juga tak luput dari serangan. Sekitar 5 ha dari 20 ha yang ditanam mitra pada awal tahun kini mulai menunjukkan gejala serangan.

Virus kerupuk Pada tanaman cabai

Menurut DR Atie Sri Duriat, peneliti Balai Penelitian Tanaman Sayuran (Balitsa) Lembang, virus baru ditemukan di beberapa daerah sejak awal tahun lalu. Ketika itu serangan dilaporkan terjadi di sentra cabai di Sumatera bagian selatan. Gejalanya, mula-mula terdapat bercak kuning di permukaan daun.

“Lama-kelamaan bercak meluas hingga seluruh permukaan daun berubah kuning,” papar Duriat. Serangan membuat daun mengerdil dan bertekstur remah. Karena daun terserang mudah patah, Duriat menyebut penyakit itu sebagai virus kerupuk, Dari pengalaman petani, virus terutama menyerang tanaman berusia di bawah 1 bulan setelah tanam. “Pada usia di atas 45 hari, tanaman masih bisa lolos dari serangan,” ungkap Suharyana.

Ir Yohanes Soekoco, Marketing Manager PT East West Seed Indonesia (EWSI), menuding lambatnya respon pemerintah membuat penyebaran virus makin meluas. Semula penyakit ini hanya dianggap kasus kecil sehingga tidak segera ditangani. “Kutu putih yang diduga salah satu vektor tidak dikendalikan. Akibatnya, serangan makin mengganas dan sulit diatasi,” papar alumnus Universitas Brawijaya itu.

Hingga saat ini jenis virus belum teridentifikasi. Tak hanya itu, biang keladi munculnya virus dan media penyebarannya juga belum diketahui. | Karena itu upaya penanggulangan yang 7 dilakukan pekebun tak membawa hasil. ° “Ini menjadi PR yang harus segera dituntaskan oleh lembaga penelitian dan perguruan tinggi terkait,” papar Ir Final Prajnanta MM dari Aventis Corp Science yang juga pengamat agribisnis cabai. Jika penanganannya berlarut-larut, krisis cabai bisa menjadi semacam bencana nasional.

Final menuding benih sebagai biang keladi meluasnya penyakit. Karena itu di mana pun benih ditanam, pasti akan terserang penyakit serupa. Namun, pendapat itu ditampik Ir Dwi Kartiko Ghazalie dari PT Tani Unggul Sarana (TUS), distributor benih keluaran Known You Seed asal Taiwan. “Saya kira bukan seed born disease karena benih yang sama jika ditanam di daerah lain tidak terserang,” paparnya. Ia tidak melihat adanya varietas tertentu yang rentan atau resisten terhadap penyakit baru itu.

Dwi menduga pemicu meluasnya serangan justru pola tanam yang terus-menerus. Seorang pekebun mungkin merotasi penanaman. Namun, pekebun lain di sekitar lahan terus menanam cabai. Dampaknya, siklus hidup virus tak terputus.

 

Saprotan menurun

Serangan virus di berbagai sentra ternyata tak hanya dirasakan dampaknya oleh petani. Efek dominonya kini mulai menghantam bisnis penjualan sarana produksinya. Lihat saja penjualan EWSI, produsen benih sayuran bermerek Panah Merah di Purwakarta. Menurut Soekoco, sejak pertengahan tahun lalu penjualan benih cabai terus turun. “Sampai akhir tahun omzet penjualan baru turun sekitar 40%. Saat ini penurunan telah mencapai 60%,” keluh Soekoco.

Dalam kondisi normal, penjualan benih cabai berlabel Panah Merah di Sumatera bagian selatan mencapai 200— 250 kg/bulan. Satu hektar lahan hanya membutuhkan sekitar 125 gram benih. Saat ini penjualan tinggal sekitar 100 kg/ bulan. Upaya mengalihkan pemasaran ke provinsi lain baru mampu mendongkrak penjualan hingga 20%. Sebab, butuh waktu untuk merintis pasar di wilayah baru.

PT Tani Unggul Sarana di Semarang juga pernah mengalami penurunan penjualan. Namun, Dwi menampik anggapan penurunan terjadi akibat adanya serangan virus. “Penurunan penjualan benih lebih karena peralihan konsumen di Yogyakarta dan Magelang dari cabai besar ke cabai keriting,” tegas Dwi. Itu pun terjadi pada 1998.

Menurut Dwi, sampai saat ini penyakit baru secara langsung belum mempengaruhi volume penjualan benih cabai TUS. Sebab, sepanjang 2002 penanaman benih cabai TUS masih sekitar 1.000 ha, atau sekitar 250 kg benih. Setara dengan penanaman pada 2001.

Penurunan penjualan juga mulai dirasakan Aventis Corp Science Indonesia, produsen pestisida. Final Prajnanta memperkirakan penurunan omzet akibat kehadiran penyakit baru itu mencapai 30%. Sebab, pekebun cabai salah satu pasar terbesar Aventis. “Karena tanaman sudah mati sejak usia dini, aplikasi pestisida pun otomatis berkurang,” papar alumnus Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto itu. Padahal, untuk mengatasi serangan hama penyakit, cabai menghabiskan 30—50% dari total biaya produksi per ha.

Bakal kosong

Final menduga, akibat serangan penyakit itu, pasokan cabai di pasaran bakal menurun dalam 2—3 bulan ke depan. Apalagi, curah hujan di beberapa sentra masih tinggi. “Di daerah bebas serangan pun produksi bakal berkurang jika hujan terus-menerus,” paparnya. Dampaknya, harga bakal melonjak.

Freddy Salim juga memperkirakan harga cabai merah bakal menembus angka RplO.OOO/kg di bulan Juni—Agustus karena pasar mengalami kekosongan pasokan. ’’Tanaman bulan Januari dan Februari yang mestinya panen pada April— Agustus saat ini banyak yang rusak,” papar Freddy. Selain karena terserang penyakit bulai, kerusakan juga karena terendam banjir. Misal di wilayah Brebes, 60% dari sekitar 1.000 ha lahan yang ditanam Januari dan Februari rusak akibat banjir.

Menurut Freddy, kekosongan pasokan terutama teijadi di seantero Jawa. Pasalnya, lahan bermasalah justru terjadi di sentra-sentra seperti Brebes, Pemalang, Magelang, Kediri, Blitar, dan Lampung yang menjadi pemasok terbesar ke pasar Jawa. Solusi mendatangkan dari luar Jawa dan Sumatera pun tak cukup mengatasi masalah. Sebab, kebutuhan konsumsi cabai di Pulau Jawa saat ini diperkirakan mencapai 670 ton/hari.

Freddy memang termasuk salah satu pemasok yang bakal merasakan dampaknya. Sebab, dalam kondisi normal saja permintaan pasar ekspor minimal 300 ton/tahun sering tersendat pasokannya. Belum lagi permintaan pasar lokal Jakarta dan Bandung yang mencapai 1.000 ton/ tahun. Maklum, produktivitas kebun rata-rata 20 ton/ ha. Dengan luas lahan 30 ha, berarti hanya bisa diproduksi 300 ton. Apalagi dalam kondisi saat ini, “Produktivitas tanaman yang lolos serangan pasti turun hingga 30—40%,” urainya.

Karena alasan itu pula Sumarlan tak ingin meninggalkan cabai meski penyakit masih terus menghadang. Menurutnya, begitu mulai menunjukkan adanya gejala serangan, tanaman terserang langsung dicabut dan dibakar. “Paling tidak 50% tanaman masih bisa lolos dari serangan,” paparnya.

Taufik, pekebun di Desa Pojok, Kecamatan Srengat, Blitar juga tak kapok menanam cabai. Meski keadaan belum membaik hingga Februari 2003, ia tetap melakukan penanaman baru. Malah, lahan bekas cabutan tanaman sakit hanya didiamkan 1 minggu. Toh, ia yakin ketika panen bakal memperoleh harga tinggi.

Rabu, 10 Juli 2019

Insektisida Pembasmi Dan Pengusir Lalat Buah paling ampuh

Insektisida Pembasmi Dan Pengusir Lalat Buah paling ampuh

Peristiwa dua tahun lalu itu sangat membekas di hati para petani pamelo Magetan. Harapan meraup keuntungan jutaan rupiah akhirnya kandas. Hama utama buah-buahan itu merusak hampir seluruh areal pamelo solusi membasmi lalat buah harus segera ditemukan.serangan lalat buah membuat Buah berjatuhan sebelum matang. Kalaupun ada yang dipanen, buah tak dapat dikonsumsi karena busuk. Kesimpulannya tak serupiah pun bisa dikantongi.

DIPTERA: TEPHRITIDAE juga jadi kambing hitam tersendatnya ekspor buah-buahan Nusantara. Gara-gara setitik tusukan Drosophila melanogaster betina, produk hortikultura khususnya buah-buahan negara kita banyak ditolak. Itu sangat merugikan. Fenomena famili Tripidae itu belum terselesaikan secara tuntas meskipun segala cara telah ditempuh.

Drosophila melanogaster

Angin segar datang, tatkala pemerintah merekomendasikan pemikat lalat buah jantan berupa bahan aktif methyl eugenol. Menurut Sugito, ketua kelompok tani Marko Rukun 5 Magetan, atraktan ini mampu membasmi lalat buah. Buah yang terserang hanya g 8 % saja. Ternyata metode ini menyimpan kelemahan. Yang terjebak oleh perangkap ini hanya jantan. Sehingga sang betina masih aktif menusukkan ovipositor-nya. ( Baca : Cara Efektif Membasmi Lalat Buah Dan Serangga Penggangu)

Harapan menuai untung kembali terkuak, ketika para pekebun mengenal Tracer 0,2 CB. Insektisida alami yang dikeluarkan PT Dow Agrosciences Indonesia itu dipakai pekebun jeruk besar setahun lalu. Alhasil, kerusakan karena fruit fly hanya berkisar 2 % saja. Bahkan ada salah seorang pekebun yang tidak terserang sama sekali. Tracer benar-benar telah mengusir mimpi buruk mereka.

insektisida lalat buah paling ampuh

Tracer 0,2 CB berbahan aktif alami, spinosad. Bahan aktif itu turunan dari hasil metabolisme bakteri Saccharopolyspora spinosa yang efektif membasmi lalat buah, terutama lalat buah. Insektisida alami yang terdiri atas gula, protein nabati, air, dan spinosad itu tidak meninggalkan efek residu pasca aplikasi. Wajar, jika EPA (Environmental Protection Agency), Amerika Serikat memasukkan spinosad dalam program resiko rendah, dan sponosad juga memperoleh penghargaan Presidential Green Chemistry Challange Award 1999.

Awalnya ada juga petani yang kapok setelah memakai Tracer. Insektisida ini seakan-akan tidak berpengaruh apa-apa. Setelah ditelusuri .ternyata hanya satu kali aplikasi saja “Umpan lalat buah ini kurang efektif untuk mengatasi lalat buah jika tidak dibarengi dengan pengendalian lain, dan aplikasinya minimal 6 – 8 kali setiap musim” ujar Endro Gutomo, marketing Service PT Dow Agrosciences. Pengendalian lain seperti sanitasi membersihkan atau membuang buah yang terserang dari areal perkebunan, dan pemasangan perangkap sangat dibutuhkan agar Tracer 0,2 CB bekerja efektif.

Apabila sanitasi telah dilakukan, pasanglah perangkap. Agar tingkat serangan lalat buah termonitor. Jika banyak lalat terperangkap berarti intensitas penyerangan tinggi. Langkah selanjutnya, segera gunakan Tracer 0,2 CB. Dengan dosis dan aplikasi tepat, Selain sanitasi dan monitoring, kebersihan alat-alat juga harus diperhatikan. Peralatan yang kurang bersih bisa menjadi tempat tumbuh mikroba yang akan mencemari campuran di penyemprotan selanjutnya. Untuk menghindari hal tersebut, bilaslah peralatan sebanyak 3 kali.

Obat Lalat Buah

Pengaplikasian Relatif cukup mudah

Tracer 0,2 CB sangat irit. Untuk 1 ha, hanya diperlukan 1 liter Tracer 0,2 CB dalam 10 liter air. Pencampuran harus homogen. Caranya, tuangkan Tracer 0,2 CB ke dalam ember yang berisi 10 liter air sambil diaduk selama 5 menit. Jika larutan sudah tercampur sempurna, tuangkan ke dalam alat semprot. Campuran harus digunakan dalam tempo 24 jam sejak dilarutkan.

Pembasmian Serangga Melalui Penyemprotan Buah Secara langsung

Untuk mempermudah pengaplikasian, sebaiknya menggunakan alat semprot punggung semi otomatis. Nosel yang digunakan berukuran besar, sehingga menghasilkan butiran air 1 mm—4 mm. Berbeda dengan insektisida biasa, penyemprotan Tracer 0,2 CB diarahkan pada bagian bawah daun tanaman, pada luasan kira-kira 1 m2 dari tajuk tanman yang menghadap timur. Penyemprotan dilakukan secara berselang-seling, baik di baris tanaman maupun di lajur tanaman. Penyemprotan selanjutnya diaplikasikan pada tanaman yang tidak disemprot pada tahap pertama, dan begitu selanjutnya.

Hasil Yang memuaskan

Tracer 0,2 CB sebagai sumber makanan dapat mengundang lalat buah, baik jantan maupun betina. Fruit fly yang hinggap menjilat campuran Tracer tersebut. Spinosad yang terkandung di dalamnya dapat melumpuhkan serangga, sehingga lalat buah akan mati. Penggunaan Tracer 0,2 CB dinilai sangat efektif mengatasi lalat buah. Selain bisa meningkatkan produksi, harapan menjadi negara pengekspor buah-buahan dapat terwujud.

Kini, Sugito dan kelompok taninya bebas dari mimpi buruk. Ia memanen 19,6 ton dari lahan 1 ha di Desa Gelotan, Kecamatan Bendo, Kabupaten Magetan. Pil pahit itu kini berubah menjadi madu

no image

Serangan lalat pada tanaman buah

Serangan lalat Buah Pernah terjadi di Alahan Panjang, Kabupaten Solok, Sumatera Barat. Pekebun markisa di sana nyaris gagal panen gara-gara serangan lalat buah Bactrocera tau. Buah yang dipanen dari lahan seluas lebih dari 50 ha rusak 15—25%.

Lalat buah memang hantu menakutkan bagi pekebun hortikultura di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Daya rusaknya bisa mencapai 100% bila tak diatasi. Itu yang dialami pekebun di Malaysia jika pentil buah belimbing dan jambu air tidak dibungkus. Jenis lalat buah spesifik menyerang buah tertentu. Contohnya, Bactrocera carambolae, biasa menyerang belimbing, jambu air, mangga, dan sawo. Semangka, melon, mentimun, dan tanaman dari famili Cucurbitae dirusak oleh B. cucurbitae. Lain halnya dengan B. umbrosa yang menyerang nangka dan beberapa tanaman dari famili Moraceae. Sedangkan B. tau dan B. albistrigatra masing-masing merusak markisa dan jambu biji.

Serangan lalat Buah
Bactrocera tau merusak buah markisa

Metode efektif

Sifat khas hama itu adalah meletakkan telurnya di dalam buah. Itu ditandai dengan adanya titik kecil hitam yang tidak terlalu jelas. Noda-noda kecil bekas tusukan ovipositor itu merupakan gejala awal serangan lalat buah. Telur yang menetas menghasilkan larva. Selanjutnya larva akan merusak daging buah sehingga buah busuk dan gugur sebelum masak. Meski jenis lalat yang menyerang masing-masing buah berbeda tapi ada cara penanganan paling efektif. Yaitu, membungkus buah dengan kertas atau plastik.

Pembungkusan sebaiknya dilakukan sedini mungkin—sejak buah pentil atau muda—untuk mendapatkan hasil optimal. Meskipun paling efektif tapi cara ini memiliki kelemahan. Butuh biaya besar dalam pelaksanannya. Pekebun belimbing di Depok, Jawa Barat, mengeluarkan biaya Rpl.400.000/musim untuk membungkus buah. ( Baca : Teknik Pembungkusan Buah Untuk Menghindari Ulat Buah Dan Hama Penggangu )

Alternatif lain menggunakan seks feromon. Bahan pemikat itu biasanya diletakkan dalam perangkap botol plastik atau tabung silinder. Lalat buah dipancing masuk dengan menggunakan metyl eugenol. Di dasar botol perangkap diisi air sehingga lalat buah akan mati tenggelam. Kekurangannya, umpan metyl eugenol hanya menarik lalat jantan. Lalat betina masih bebas berkeliaran.

Ditekan perlahan

Serangan lalat Buah juga dapat dikendalikan dengan menggunakan serangga jantan madui. Secara teori cara ini cukup ampuh karena populasi lalat di alam secara perlahan ditekan. Itu lantaran telur yang dihasilkan dari perkawinan lalat jantan mandul dengan lalat betina menjadi steril. Saat berumur 1— 2 bulan, lalat betina dan jantan mandul yang dilepas mati dengan sendirinya.

Cara lain mengusir lalat buah adalah dengan memanfaatkan musuh alami, baik predator, parasitoid, maupun patogen. Predator yang cocok adalah bangsa laba-laba, kumbang carabid dan staphilinid, serta beberapa jenis semut. Jenis parasitoid Braconidae, Calcidae dan Eulophidae menyerang lalat buah stadia pradewasa. Sedangkan dari kelompok patogen ada Beuveria bassiana.

Pestisida atau senyawa kimia dengan efek residu rendah masih banyak digunakan. Sayang, penyemprotan dengan insektisida sering tidak tepat sasaran, mengingat sifat lalat buah yang selalu bergerak.

Protein bait

pencampuran protein hidrolisat yang merupakan makanan lalat buah dengan insektisida—juga dapat digunakan. Namun, cara ini belum populer dilakukan di Indonesia. Daya jangkau tidak terlampau luas, tapi daya bunuhnya tinggi. Jika lalat buah mengkonsumsinya, bisa dipastikan langsung Mati

Senin, 17 Juni 2019

no image

Teknik Pembungkusan Buah Untuk Menghindari Ulat Buah Dan Hama Penggangu

Maksud hati muluskan buah, malah buruk rupa yang didapat. itulah yang dialami putu suranta, pekebun srikaya new varietas di leuwiliang, bogor, jawa barat. buah yang dibungkus plastik bening dipenuhi bercak hitam akibat cendawan. namun, di kebun dedi harianto, pekebun di ciapus, bogor, new varietas benar-benar mulus meski sama-sama dibungkus.

Dedi dan Putu membungkus new varietas sejak buah seukuran bola pingpong. Tujuannya untuk mengatasi lalat buah seperti penggerek batang, lalat buah, dan kutu putih Ketiga hama itu musuh buah bila musim berbuah tiba. Putu dan Dedi membungkus buah sebagai pelindung dari para perusak itu.

Hanya saja keduanya menggunakan bahan pembungkus yang berbeda. Putu menggunakan plastik bening yang disarungkan pada buah, lalu ujungnya diikat. Sedangkan Dedi membungkusnya dengan jaring peneduh. Lalu, mengapa hasil keduanya bak bumi dan langit?

Pembungkusan Buah
Pembungkusan dengan plastik rentan terkena cendawan karena sirkulasi udara

 

Kondisi Yang Lembap

Menurut Drs Hendro Sunarjono, ahli buah di Bogor, Jawa Barat, penampilan srikaya yang rusak akibat cendawan di kebun Putu disebabkan pemakaian bungkus plastik. Plastik yang kedap membuat sirkulasi udara terhambat. Padahal proses respirasi dan evapotranspirasi tetap berjalan. Itu terlihat dari munculnya embun di dinding plastik bagian dalam tanda lembap. Pada suasana itu cendawan leluasa tumbuh.

Dedi menggunakan jaring peneduh agar sirkulasi udara di sekitar buah lancar. “Tapi gunakan jaring peneduh yang lubangnya rapat agar hama penggerek buah dan lalat buah tidak bisa tembus,” katanya. Dengan begitu, buah tetap terlindung tetapi kondisi iklim mikro di sekitar buah tidak lembap.

Buah mulus menjadi syarat mutlak new varietas untuk menembus pasar. “Konsumen tanahair lebih suka penampilan buah yang menarik,” kata Pien Sanjaya, asisten direktur PT Zanzibar, yang mengelola kebun new varietas Plantera di Ngebruk, Kendal, Jawa Tengah. Karena itu beragam cara dilakukan agar kerabat si nona itu tampil menawan.

Semula Pien membungkus setiap buah yang muncul dengan kertas pembungkus nasi yang salah satu sisinya berlapis plastik sehingga tahan air. Pien juga menyemprotkan insektisida untuk mengatasi ulat dan fungisida untuk mencegah cendawan. Kedua bahan kimia itu disemprotkan ke seluruh buah setiap 2 pekan secara bergantian.

Ternyata nasibnya mirip Putu. Pembungkusan buah justru menyuburkan cendawan. Akibatnya hampir seluruh buah yang dihasilkan terdapat bercak hitam di bagian pangkal buah.

Kini Pien tak lagi membungkus buah, la hanya menyemprotkan insektisida dan fungisida. Meski begitu, ternyata buah yang dihasilkan mulus. “Yang penting penyemprotan jangan sampai terlewat,” tuturnya.

Pembungkusan Buah
Kulit buah mulus berkat bahan pembungkus yang tepat

Pestisida dan berpori

Menurut Eddy Soesanto, penangkar buah di Kelapadua, Depok, Jawa Barat, sebetulnya cara terbaik memuluskan buah adalah penyemprotan fungisida dan insektisida intensif. Pekebun tak perlu membungkus buah. “Buah yang dibiarkan terbuka juga berwarna lebih bagus,” katanya. Paparan sinar matahari membuat klorofil pada kulit buah aktif berfotosintesis sehingga warna lebih cerah dan menarik.

Namun, penyemprotan intensif dikhawatirkan membuat residu pestisida pada buah tinggi karena kulit new varietas tipis. Karena itu beberapa pekebun-apalagi yang membidik pasar organik-memilih membungkus buah untuk menghasilkan buah yang mulus. Yos Sutiyoso, ahli hama dan penyakit di Jakarta menuturkan bila hendak membungkus buah sebaiknya mempertimbangkan kondisi iklim. Pada daerah berkelembapan tinggi, pembungkusan buah bisa menjadi bumerang bila keliru memilih bahan pembungkus. “Yang penting bahan pembungkus itu berpori sehingga sirkulasi udaranya baik,” katanya.

Contohnya kertas semen. Kertas itu berpori dan mudah menyerap uap air sehingga buah tidak terlalu lembap. Kertas semen juga tidak menimbulkan panas ketika terkena sinar matahari. Sayangnya kertas semen kurang tahan lama karena tidak tahan air. Warna yang tidak transparan juga menyulitkan pekebun untuk mengontrol pertumbuhan dan kondisi buah.

Sejatinya di pasaran sudah beredar pembungkus buah berbahan polietilen yang berpori dan transparan sehingga aman dan mudah mengontrol pertumbuhan buah. Kantung plastik juga boleh digunakan asal dilapisi dulu dengan kertas koran. “Kertas koran mudah menyerap air sehingga tidak membasahi permukaan buah yang bisa mengundang cendawan,” kata Eddy.

Bentuk Buah Yang Abnormal

Eddy menuturkan kendala lain bagi pekebun adalah bentuk buah abnormal. Buah new varietas idealnya berbentuk menyerupai hati. “Sekarang ini seringkah ditemukan buah yang kisut di salah satu bagian sehingga tidak simetris,” ujar alumnus Institut Seni Indonesia, Yogyakarta, itu.

Menurut Gregori Garnadi Hambali, ahli botani di Bogor, Jawa Barat, bentuk buah abnormal disebabkan penyerbukan tidak sempurna. Srikaya tergolong buah agregat yakni buah yang terbentuk dari banyak bakal buah dari satu bunga. Bakal buah yang terserbuki menghasilkan biji sehingga tumbuh membesar. Sedangkan bakal buah yang tidak terserbuki tidak tumbuh biji sehingga pertumbuhan mandek. Akibatnya buah tumbuh asimetris.

Bentuk buah yang tidak sempurna rentan terjadi pada buah agregat seperti nangka, durian, dan sirsak. Musababnya, penyerbukan masih mengandalkan jasa hewan penyerbuk seperti serangga. “Kalau jumlah benangsari yang terbawa hewan penyerbuk tidak cukup untuk membuahi bakal buah, dipastikan banyak buah abnormal,” ujar Greg. Karena itu alangkah baiknya bila dilakukan penyerbukan buatan seperti yang dikerjakan pekebun srikaya di Australia. Namun, cara itu tidak efisien untuk kebun skala luas. Buah yang abnormal sebaiknya dibuang sejak pentil. Toh, bila dipertahankan pun malah menguras makanan untuk buah lain yang lebih mulus.