--> Archive for hobi Budidaya tani: hobi - All Post
Tampilkan postingan dengan label hobi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hobi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 19 Juni 2020

budidaya ikan diskus

budidaya ikan diskus

Ia memang hobiis berat ikan diskus. Rumah bertingkat 2 di bilangan Kelapagading, Jakarta Utara, laksana akuarium raksasa berisi ribuan diskus. Lantai 2 seluas 100 m2 sesak dengan akuarium berukuran jumbo. 

Lima akuarium berukuran 1,2 m x 1 m x 0,8 m beijajar rapi dibuat khusus demi ikan diskus kesayangan. Itu belum termasuk ratusan akuarium berukuran sedang yang mengisi pojok-pojok ruangan. Di sanalah Santoso Liman merawat indukan-indukan diskus.

ikan diskus
ikan diskus

Selesai merawat indukan di lantai 2, pria berpostur tinggi itu menyibukkan diri dengan anakan diskus di lantai 1. Dibantu 3 karyawan, ratusan akuarium berukuran 50 cm x 50 cm x 50 cm di luasan 150 m2 dibersihkan. 

Sejam kemudian cacing bloodworm dilemparkan ke dalam akuarium dan langsung menjadi rebutan ikan bertubuh pipih itu. “Ada perasaan senang saat menikmati diskus,” katanya kepada Budidaya Tani di sela kesibukan memberi pakan. ,

Jutaan rupiah tak sungkan ia gelontorkan dari pundi-pundi untuk berburu dan merawat diskus koleksi dari Malaysia itu. Meski ada juga koleksi arwana dan lou han, pria kelahiran Tegal 62 tahun silam itu sudah cinta mati pada si ikan cakram.

Permintaan ikan diskus cukup tinggi

Santoso Liman tak sendirian fanatik pada diskus. Djuju Anthony menggeluti diskus sejak 1998. Walaupun louhan berjaya dengan mutiara dan nongnongnya, kelahiran Palembang 48 tahun silam itu tetap bertahan di dunia diskus. 

Bisnis rekaman kaset yang digeluti selama 25 tahun pun rela ditinggalkan demi si tubuh ramping itu. Beratap Marina Diskus, Djuju merambah dunia melalui kontes-kontes diskus internasional di Jerman dan Eropa.

Kesetiaannya berbuah manis. Saat kejayaan lou han perlahan memudar, para hobiis ikan diskus mulai melirik kembali ikan-ikan “lama”. Salah satunya, diskus. 

Sejak pertengahan 2003, dering telepon yang menanyakan stok ikan cakram di farm Djuju melonjak. Itu mendorongnya kembali memboyong indukan-indukan dari Malaysia dan Vietnam. Setidaknya setiap bulan 300 leopard dan leopard snake skin masuk ke farmnya.

Yang dilakukan Santoso Liman dan Djuju Anthony sungguh beralasan. Dunia diskus kini dirasakan kembali memanas. Hasil lacakan Budidaya Tani ke sentra-sentra ikan hias di Jakarta, Surabaya, dan Bandung menunjukkan adanya lonjakan permintaan. 

“Diskus mulai ngetren lagi. Permintaan melonjak sejak 5 bulan lalu,” ujar Tonny Berthiolios, pemilik Amazon Aquatic di Surabaya. Semula ia hanya mampu menjual 200 ekor per bulan, kini pesanan 10-12 boks berisi 300-500 ekor ukuran 2 inci setiap bulan membuat Tonny kelimpungan.

Lonjakan permintaan ikan discus murah juga dirasakan Robert Susanto, pemilik Robert Discus Farm, juga di Surabaya. Permintaan yang datang kepadanya mencapai 2.000 ekor per bulan. Padahal, saat lou han booming hanya 20-30 ekor per bulan. 

Keputusan mengisi akuarium kosong yang ditinggalkan lou han dengan redmelon, leopard snake, marlboro, dan white diamond tidak sia-sia. Di Plasa Maspion dan Kelapagading, Jakarta, para pedagang pun mulai memajang diskus sebagai pengganti.

Tren ikan diskus pun dirasakan di Bandung. Gerai-gerai diskus mulai menjamur di Kota Kembang. Di bilangan Karapitan, 4-5 gerai menjual diskus aneka jenis mulai ramai dikunjungi calon pembeli. “Setiap bulan 20 ekor jenis redmelon dan leopard rutin diminta,” kata Keke Suryapamata, salah seorang pemilik gerai. 

Pedagang dari Semarang, Purwakarta, dan Yogyakarta berebut pasokan dari Keke. Menurut kelahiran Bandung 48 tahun silam itu jenis leopard snake, leopard, redmelon, goldenmarlboro, pigeonblack, cobalt, dan bluediamond tetap diminati. Harga bervariasi mulai Rp50-ribu hingga jutaan rupiah.

Ke daerah

Menurut beberapa peternak, pasar ikan diskus pun meluas. Daerah-daerah yang sebelumnya “tidak mengenal” si cakram, kini mulai menggandrunginya. Para pedagang di Surabaya, kebanjiran permintaan dari pedagang di Manado, Makassar, Bali, serta kota-kota di Sumatera dan Kalimantan. Permintaan jenis eksklusif seperti leopard dan leopard snake dari luar pulau melonjak mencapai 500-1.000 ekor per bulan. Padahal sebelumnya hanya 200 ekor per bulan.

Selain Yogyakarta, Salatiga, Solo, Surabaya, dan Jakarta, Tonny mengirim leopard snake, leopard, redmelon, bluediamond, dan jenis lain ke Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Dari diskus, ia meraup omzet Rp2-juta-Rp3-juta setiap bulan.

Pasar ekspor pun terbuka lebar. Benny Herman yang menggeluti ikan pipih itu sejak 1998 kewalahan memenuhi permintaan pelanggan dari Perancis, Jerman, Finlandia, Rusia, dan beberapa negara lain. 

“Dari 4.000 ekor permintaan pasar ekspor, cuma separuhnya yang mampu dilayani setiap bulan,” kata Benny. Menurut pemilik Discus Specialist di Serpong, Tangerang, itu permintaan melambung 20—30% ketika Oktober tiba. Indukan langka

Terkendala Pasokan Yang Minim

Sayangnya, besarnya permintaan tidak diiringi pasokan memadai. Di ruang pribadi seluas 10 m2, Tonny mulai giat memperbanyak anakan diskus. Sekitar 10 akuarium berukuran 50 cm x 40 cm x 30 cm penuh burayak hasil temakan. 

“Ini stok untuk menutup kekurangan pasokan,” kata alumnus Perikanan Universitas Dr Soetomo, Surabaya, itu sambil mengecek kondisi 2 pasang inang asuh.

Para peternak ikan diskus tidak bisa langsung jor-joran memproduksi karena kesulitan mendapat indukan berkualitas. Maklum saat era kejayaan lou han, indukan diskus bak tak bertuan. Pemeliharaan dan perawatan diabaikan. 

Biang diskus kualitas tinggi hanya dihargai Rp200-Rp300 ribu per ekor. Nilai itu tak sebanding dengan besarnya biaya perawatan.

Wajar bila kini indukan berkualitas diburu. Beberapa peternak rela merogoh kocek Rp750-ribu—Rp 1-juta per ekor untuk jenis leopard snake. Keke membandrol biang kualitas tinggi hasil temakan sendiri dengan harga mahal. 

“Di bawah Rp500-ribu tidak akan saya lepas. Sekarang indukan berkualitas jarang ditemukan,” kata ayah 3 putra itu sembari menunjuk leopard snake andalannya.

Pantas bila harga jual anakan ikan discus ikut-ikutan mahal. Redmelon 1-2 inci dilabeli Rp50.000 per ekor; bluediamond, Rp25.000 per ekor. 

Makin besar ukuran ikan, harga kian mahal. Leopard dan leopard snake ukuran 2 inci dijual di atas Rpl00-ribu per ekor leopard snake 4 inci mencapai Rp2-juta. “Bluediamond ukuran 5 inci berani diborong Rpl,5-juta per ekor,” kata Albert R Suwono, pemilik Villa Diskus.

Sabtu, 13 Juni 2020

Desain Sistim Filter Kolam Koi Minimalis

Desain Sistim Filter Kolam Koi Minimalis

Kolam koi minimalis yang dibangun menggunakan Sistim Filter Kolam Koi sederhana itu terletak di kawasan Bumi Serpong Damai, Tangerang itu mirip kolam pamer di Negeri Sakura. Dibangun di dalam ruangan berukuran 12 m x 36 m. 

Di sana terdapat 17 kolam. Ada 12 kolam berukuran 2 m x 5 m dan 5 kolam berukuran 5,5 m x 10 m. Semua berbaris rapi di sisi kiri dan kanan ruangan secara paralel. Total jenderal air yang dibutuhkan untuk mengisi kolam itu mencapai 800 ton.

Sistim Filter Kolam Koi Minimalis

Tidak ada satu pun kolam yang saling berhubungan. Setiap kolam koi memiliki aliran air sendiri, lengkap dengan sistem filternya. desain kolam koi menggunakan Sistem filter dibentuk berupa parit mengelilingi separuh petak kolam. Ia menjadi pembatas antarkolam.

Selain kolam utama itu terdapat pula kolam penampungan dan pengolahan air berkapasitas 40 ton. Sebelum mengisi kolam, air diproses terlebih dahulu di kolam itu. Dengan begitu kualitas air benar-benar layak pakai. “Sistem pengolahannya mirip pengolahan air PAM,” tutur Erick.

Susunan filter kolam koi dibuat permanen dengan tinggi dinding mencapai 5 m. Sekitar 2/3 tinggi bangunan menggunakan beton. Sisanya berupa kawat ram. Rangka-rangka atap menggunakan metal. Atap berupa bahan solarguard dilapisi shading net sebagai plafon tempel.

Sistim Filter Serba otomatis

Erick Jonathan membangun Kolam Koi Minimalis di sudut halaman gudang bahan baku pabriknya. Chiller pendingin air, alat pengontrol volume air, dan filter yang bekerja sistem vortex, melengkapi kolam. 

Semuanya bekerja secara otomatis untuk menjamin kualitas air tetap baik sepanjang hari.
Pendingin air yang dipasang di setiap sudut kolam aktif sepanjang pagi hingga sore. Fungsinya menjamin air tetap dingin seperti di tempat asalnya di Jepang. Sedangkan pengontrol volume air dipasang di dinding setiap kolam. 

Alat yang bekerja dengan sistem komputerisasi itu dihubungkan dengan katup pengeluaran dan pemasukan air. Alat itu juga mengaktifkan unit pompa pada saat katup pengeluaran dan pemasukan
air dibuka.

Alat buatan Jerman itu otomatis akan membuka saluran pembuangan dari kolam setiap 4 jam. Air selanjutnya dialirkan masuk ke unit filter. Selesai difiltrasi air tidak langsung kembali ke kolam melainkan masuk ke kolam penampungan. Pada saat bersamaan air baru masuk
menggantikan air yang keluar. Dengan begitu volume air tetap stabil. “Paling tidak setiap 4 jam 5% air kolam berganti,” kata ayah 3 anak itu.

Filter Kolam

Sistem vortex Delapan bilik

Kolam koi milik Erick menggunakan sistem vortex. Hanya saja, ia mengkombinasikan dengan sistem filterisasi yang banyak dikembangkan di Amerika Serikat. Menurut Erick, sistem yang dipakai merupakan pengembangan mutakhir dari sistem vortex. “Model ini kini banyak dipakai di kolam-kolam Jepang,” paparnya.

Sistem filter kolam koi yang dibangun Erick menggunakan 8 chamber (bilik, red) yang tersusun seri. Artinya, chamber pertama dihubungkan dengan pipa PVC ke chamber kedua, chamber kedua berhubungan dengan chamber ketiga, begitu seterusnya. Dipasang pula pipa pembuangan di dasar masing-masing chamber untuk membuang kotoran yang mengendap di dasar chamber.

Air dari Kolam Koi Minimalis terlebih dahulu masuk ke chamber pertama yang dibuat berbentuk segi empat. Tidak terdapat materi filter apa pun di situ. Fungsinya hanya untuk menampung air sebelum masuk ke sistem filter. Dari sana air masuk ke chamber kedua yang dibuat membulat melalui bagian samping dinding. Otomatis air berputar di dalam chamber dan membuat kotoran mengendap di bagian dasar untuk dibuang keluar.

Air di bagian atas disaring di chamber ketiga yang sudah dipasangi brush pada bagian atasnya. Bentuknya masih membulat untuk memungkinkan air berputar. Sisa kotoran berat akan mengendap, sedangkan kotoran ringan yang mengapung menempel di bulu-bulu brush. Selanjutnya air masuk ke chamber keempat yang berbentuk persegi empat.

Filter Air

Ada 3 lapisan filter di chamber itu. Di bagian dasar terpasang zeolit, bioball di tengah, dan brush di lapisan atas. Setelah itu air masuk ke chamber berisi zeolit dan bioball lalu disaring lagi dengan bioball dan brush di chamber keenam. Dari sana air masuk lagi ke chamber berisi bioball dan zeolit.

Terakhir air melewati tumpukan batu apung yang ada di chamber delapan sebelum dipompakan masuk ke kolam penampungan. Pada keempat sisi dinding setiap chamber itu masih dipasangi brush untuk menjaring kotoran yang masih lolos. Praktis air hasil filterisasi benar-benar bersih dan air kolam koi terjamin kualitasnya.

Dengan kondisi air seperti itu Erick tak ragu melepas koi-koi berkualitas di sana. Buktinya, ratusan koi bernilai total lebih dari Rp 1-miliar dari sebuah farm di Maruyama, Jepang, kini menghuni kolam-kolam itu. 

Lebih dari 11 jenis koi berbagai ukuran ada di sana. Mulai dari kohaku, sanke, showa, ogon, hingga budo goromo. Mereka tampil maksimal di kolam showroom terbesar di Indonesia itu. Itu karena kualitas air yang tetap terjaga sepanjang hari

Rabu, 22 April 2020

Tanaman Hias Cantik Hasil Mutasi Genetika Dari Thailand

Tanaman Hias Cantik Hasil Mutasi Genetika Dari Thailand

Philodendron istimewa itu diperoleh Anshori . Pemilik Zikita Nursery di Pondoklabu, Jakarta Selatan, itu mendapatkan filonya sebutan philodendron dari Thanachai Charusom yang berkunjung ke Indonesia. 

Kolektor tanaman hias di Bangkok itu membawa filo kecil berdaun tiga lembar. Saat itu keistimewaannya belum menonjol, tetapi Anshori berani membayar Rp5-juta. Ia menilai prospek filo itu sangat baik karena berdaun variegata.

Perkiraan Anshori ternyata benar. Penampilan kerabat Araceae itu kian cantik. Bagian daun berwarna putih semakin lebar sehingga seimbang dengan yang hijau. Mr Daeng panggilan akrab Thanachai yang kembali berkunjung ke Zikita Nursery sempat mengaguminya. 

Tanaman Unik Mutasi Genetik

Ia tak menyangka bekas koleksinya menjelma jadi luar biasa cantik. Kini anakan filo itu dilirik kolektor. Wajar jika Anshori yakin telah menemukan tambang mas baru.

Hery Saefuddin di Sawangan, Depok, juga getol mengumpulkan tanaman variegata. Namun, tidak semua variegata menjadi pilihannya. Pemilik Nggun Kulo Nursery itu mempertimbangkan tingkat kelangkaan, kesesuaian lingkungan tumbuh, dan kekerabatan tanaman itu. 

Kepiawaiannya dibuktikan saat mendatangkan sambang darah variegata 4 tahun silam. Tanaman 3 warna itu disukai masyarakat sehingga laris manis. Saat ini Hery memperbanyak Exoecaria bicolor variegata itu hingga ribuan tanaman. Satu tanaman dijual Rp25.000-Rp 150.000.

Selain Anshori dan Hery, Ukay dan Yoseph di Bogor, Chandra Gunawan di Sawangan, Depok, serta Gunawan Widjaya di Sentul getol mengumpulkan Tanaman Hias mutasi. Mereka kerap berburu ke Thailand untuk mencari “tambang-tambang” baru.

 

Crossandra jingga variegata

1. Crossandra jingga variegata

Golden candle berbunga jingga masih jarang. Kini muncul lagi varietas lebih baru dengan daun 50—75% variegata. Jenis lama berbunga kuning dan merah. Lolipop sebutan lain ini paling pantas menghias halaman terbuka.

Spathyphyllum golden

 2. Spathyphyllum golden

Sosok tanaman dari Thailand itu berdaun hijau-kekuningan. Jenis lama berwarna hijau dan hijau variegata. Ia masuk ke Indonesia pada awal 2003, tetapi jumlahnya masih terbatas. Cocok untuk penyemarak taman teduh atau penghias ruangan.

Clerodendron variegata

3. Clerodendron variegata

Meski tanpa kehadiran bunga, sosok clerodenron ini menarik. Tepi daun yang bergelombang dihiasi pigura putih sehingga terlihat anggun. Ia pantas menyemarakkan taman yang agak teduh.

Philodendron golden

4. Philodendron golden

Philodendron ini tampak menonjol lantaran daunnya yang menjari berwarna hijau-kuning. Pertumbuhan merambat sehingga harus menggunakan tiang bila ditanam di pot. Ia senang lingkungan teduh agar daun tidak terbakar.

Variegata pucuk pink

 5. Variegata pucuk pink

Sosok tanaman yang mirip asam selong itu amat cantik. Selain daun yang didominasi warna variegata 80%, juga pucuknya berwarna pink. Jadi, ia sehingga memiliki 3 warna. Tanaman ini paling cocok menghuni tempat terbuka agar keindahan daunnya semakin prima.

Soka variegata

6. Soka variegata

Selain rajin mengeluarkan bunga berukuran 5—6 cm, soka itu juga berdaun variegata mencapai 60 %. Semakin terbuka tempat, warna daun kian cerah.

Palisota variegata

 

7. Palisota variegata

Palisota dari Thailand tergolong paling langka. Ia datang ke Indonesia pada akhir 2003. Keistimewaan terletak pada corak putih mirip motif kain sutra. Ada 2 macam variegata yaitu putih dan kuning. Pendatang dari Thailand itu pas untuk tafnan teduh dan penghias ruangan.

Surga Tanaman Hias Di Negri Siam

Surga Tanaman Hias Di Negri Siam

Dalam hitungan menit, beragam tanaman itu berpindah kepemilikan. Namun, itu belum cukup. Kaki-kaki para hobiis tanaman hias kawakan dari Indonesia itu kemudian melangkah memasuki anjungan lain di lokasi pameran seluas lapangan bola. 

Lagi-lagi beragam jenis teranyar jatuh dalam genggaman. Ekshibisi akbar setiap akhir November dalam rangka memperingati ulang tahun Raja Bhumibol Adulyadej itu memang kesohor sebagai surga untuk mendapat jenis-jenis paling gres.

Surga Tanaman Hias

Tak puas dengan hasil perburuan di Suang Luang, Chandra Gunawan melanjutkan perjalanan menyambangi nurseri milik Thanachai Charusom. 

Kali ini bukan adenium yang ia cari, tapi aglaonema. Dari Thanachai, Chandra mendapatkan aglaonema anggun berdaun berbentuk hati dengan corak putih berhias totol tua. Memburu langsung ke nurseri-nurseri ternama juga jadi agenda Ny Jali dan Greg Hambali.

Rajin jalan-jalan

Bukan tanpa alasan para hobiis itu rela berlelah-lelah berkunjung ke negara yang terkenal dengan suteranya itu. “Untuk urusan tanaman hias tropis, Thailand nomor satu di Asia,” tutur Heri Syaefudin. Bak Paris, dialah kiblat mode tanaman hias tropis. 

Kala memburu tanaman hias baru, negeri yang tak pernah dijajah itu yang pertama terlintas di benak para hobiis dari berbagai negara.

Wajar saja karena negeri Gajah Putih itu kaya beragam jenis dan varietas tanaman hias. Boleh dibilang, jenis apa saja yang dicari hampir pasti ada di sana.

Musababnya, “Orang Thailand gemar tanaman dan mereka rajin jalan-jalan ke luar negeri mencari koleksi terbaru,” kata pi (kakak, dalam bahasa Thailand, red) Daeng, sapaan akrab Thanachai. Setelah mendapatkan, mereka tak sekadar mengoleksi, tapi rajin menyilang atau memperbanyak. Muncullah jenis-jenis baru yang berbeda.

Lagipula persaingan antarnurseri sangat ketat sehingga masing-masing berlomba menghasilkan jenis berbeda. Pengembangan dan perbanyakan jenis-jenis baru kian progresif karena mendapat dukungan dana dan riset dari pemerintah.

Tak heran hampir setiap 2 bulan Leman, kolektor aglaonema di Jakarta Utara, bertandang ke negeri Siam untuk melengkapi koleksi. Chandra rutin menyambangi nurseri dan penangkar tanaman hias di seputaran Bangkok hingga ke pelosok-pelosok demi mendapat jenis-jenis terbaru. 

Itu juga yang dilakukan Joseph Ishak di Tajur, Bogor; Gunawan Wijaya di Sentul, Bogor, dan Suhandono, di Ragunan, Jakarta Selatan.

Euphorbia, ngetren di Thailand, baru hijrah ke Indonesia

Surga Tanaman Hias

Perjalanan ulang-alik Indonesia-Thailand itu sudah berlangsung sejak 15 tahun silam. Kalau semula sekadar koleksi, tanaman asal negeri Ratu Sirikit itu kini diincar sebagai bisnis. Sudah banyak terbukti ia menjadi tambang emas bagi para pemilik nurseri. Selain anggrek, yang spektakuler tentu saja adenium.

Sejak diperkenalkan pada 1999 oleh Chandra, kamboja jepang asal Thailand langsung memikat banyak penggemar tanaman hias tanah air. Maklum bentuk, warna, dan corak bunga berbeda dengan adenium yang ada di Indonesia. 

Kini si mawar gurun itu membanjiri pasar lokal hingga ke kios-kios pedagang kakilima. Itu setali 3 uang dengan euphorbia yang diperkenalkan belakangan.

Kisah serupa dialami Heri dengan sambang darah variegata. Dengan modal 1 pot seharga Rp 1-juta yang diboyong 5 tahun silam, ayah 3 anak itu kini menikmati keuntungan dari penjualan minimal 10.000 pot. Harga jual saat ini Rp 10.000-Rp 150.000 per pot. Jadi bisa dibayangkan gemerincing rupiah yang masuk ke kantong Heri.

Keputusan mendatangkan anthurium hookeri variegata 3 tahun silam pun membuahkan keuntungan buat Ansori Y. Dari 6 tanaman variegata, pemilik Zikita Nurseri itu memperbanyak hingga ribuan tanaman. Modal membeli masing-masing tanaman Rp 1,5-juta-Rp3,5-juta tertutup dalam hitungan bulan.

Jangan Salah pilih Kembang

“Dari awal saya yakin anthurium hookeri variegata itu bakal profitable karena variegatanya berbeda. Kuning keemasan, bukan putih, yang kuning ini jarang,” kata Ansori. Kini dari ratusan pot yang masih tersisa di nurseri di kawasan Pondoklabu, Jakarta Selatan, ia tinggal menuai untung.

Heri tertarik mendatangkan Exocaria bicolor variegata karena penampilannya eksklusif. Sambang darah lokal berwarna “normal”: bagian atas daun, hijau; bawah,merah. Kelebihan lain, sambang darah variegata bersosok lebih kompak. Heri yakin si daun cantik dengan belang putih akan mudah memikat para hobiis lantaran sambang darah sebelumnya sudah banyak dikenal.

Kejelian dalam melihat perbedaan jenis, warna, bentuk tanaman, dan bunga dengan yang ada di Indonesia memang kunci sukses bisnis tanaman hias Thailand. Faktor lain yang perlu dipertimbangkan, kemudahan memperbanyak dan kesesuaian dengan iklim di Indonesia.

Entah berapa lama dan jumlah rupiah akhirnya terbuang percuma lantaran tanaman ternyata tumbuh merana di Indonesia. Heri pernah membeli sesosok tanaman berbentuk kompak dan mini. Setiba di Indonesia tanaman justru tumbuh bongsor karena kekerdilannya dihasilkan dengan memberikan paklobutrazol. Begitu efek bahan kimia itu habis, tanaman kembali normal.

Selera sama

Kunci sukses lain yang dianggap “aman”, mengekor tren di Thailand. Pengalaman dan pengamatan para pemilik nurseri menunjukkan, selera orang Indonesia dalam hal tanaman hias mirip-mirip dengan penduduk negeri Siam. Terbukti adenium dan euphorbia yang populer di Thailand pun ngetren kala didatangkan ke Indonesia.

Pasar lokal Thailand yang mulai lesu karena hampir semua penggemar tanaman hias mengoleksi adenium dan euphorbia bergairah kembali. Para pemilik nurseri berbondong-bondong mengekspor tanaman gurun itu. 

Tak hanya ke Indonesia, tapi juga Malaysia,India, Amerika Serikat, dan negara-negara di Eropa. Mengirim tanaman yang mulai “lesu darah” di pasar lokal memang salah satu strategi pasar yang kerap digunakan para pemain tanaman hias di Thailand.

Itu juga yang membuat para pemain tanaman hias tanah air rajin “mengintip” perkembangan di Thailand. “Tanaman hias yang diminati sekarang adalah tipe flowering plant,” kata pi Daeng “membocorkan rahasia dapurnya”. 

Ia mencontohkan bromelia yang mulai populer sejak 3 tahun terakhir. Banyak nurseri kewalahan karena permintaan tinggi dari para hobiis.

Chandra memprediksi nanas hias itu pun bakal populer di Indonesia. “Ia tanaman daun tapi indah seperti bunga. Lagipula cocok sebagai tanaman indoor dan outdoor. Bagus juga untuk taman, potplant, dan dekorasi ruangan,” tutur pemilik Godongijo Nursery itu panjang lebar. 

Dengan semakin banyak fungsi tanaman, pasar kian luas. Keuntungan lain, perawatan mudah, tahan lama di dalam ruangan, serta mudah dan murah untuk diangkut jarak jauh.

Baru tapi lama

Yang juga mulai digandrungi hobiis di Thailand ialah tanaman variegata, plumeria, dan ixora. Beberapa bulan terakhir, kolektor di negeri Siam sedang ramai memburu tanaman belang itu. Mengambil pengalaman adenium dan euphorbia, pemain lokal yang mau “mengekor” mesti menunggu tren itu turun dulu di Thailand. 

Kalau mengimpor saat puncak tren harga tanaman terlalu tinggi karena masih berupa collector item. Akibatnya harga di pasar Indonesia tidak kompetitif. Pi Daeng menghitung masa kejayaan satu jenis tanaman di Thailand biasanya berlangsung selama 5 tahunan.

Membaca kecenderungan di Thailand, Heri pun rajin mengumpulkan beraneka jenis plumeria dan soka beragam warna dan bentuk bunga. Pilihan atas kedua jenis tanaman hias itu tak semata-mata hanya mengekor tren di Thailand, tapi juga karena melihat selera pasar di dalam negeri. 

“Tren taman di Indonesia sekarang mengarah ke gaya bali atau taman tropis. Gaya seperti itu banyak menggunakan plumeria,” katanya.

Tak melulu asal negeri Siam, ia mengoleksi kamboja asal Hawaii dan jenis-jenis yang disilangkan sendiri. Soka variegata dipilih dengan alasan cantik untuk aksen taman. Kehadiran si belang itu membuat taman “berwarna” meski tanpa bunga.

Varietas teranyar dari tanaman “lama” seperti aglaonema, philodendron, dan anthurium pun tetap diburu. “Kehadiran jenis baru perlu sebagai “penyegar” untuk para hobiis,” kata Ansori. Makanya pria asal Bogor itu mendatangkan philodendron variegata asal Thailand 2 bulan silam. Ia bakal menjadi tambang emas berikutnya.

“Dengan warna eksklusif harga bisa mencapai jutaan,” ujar Ansori sambil menunjuk philodendron terdiri atas 7 helai daun dalam pot berdiameter 20 cm. Jenis serupa berwarna hijau saat ini cuma laku Rpl0.000-an.

Tanaman hias lokal

Meski menangguk untung dari tanaman hias negeri jiran, para penangkar tetap terobsesi untuk mempopulerkan tanaman lokal. “Jangan hanya menunggu sesuatu populer dulu di Bangkok, baru kita mengikuti. 

Seharusnya kita mengangkat tanaman sendiri yang kalau bisa sampai diekspor. Kalau tidak begitu kapan barang Indonesia jadi tuan rumah di negeri sendiri?” ujar Gunawan Wijaya. Pemilik Wijaya Orchids itu menyebutkan hibiscus alias bunga sepatu yang berpotensi dikembangkan. Heri melirik puring dengan beragam bentuk dan wama daun.

Dari segi kekayaan plasma nutfah, Indonesia memang tak kalah dengan Thailand. “Tanaman Indonesia juga bagus-bagus,” ujar pi Daeng waktu Budidaya Tani temui saat sedang berburu tanaman hias variegata di beberapa nurseri di kawasan Depok, Jawa Barat. 

Ia tak sekadar basa-basi. Pensiunan karyawan sebuah perusahaan minyak itu mengoleksi cempedak Arthocarpus chempedens variegata milik seorang penangkar di Sawangan, Depok. Pun anthurium berdaun lebar dan bergelombang hasil silangan penangkar lokal dari kebun Ansori.

Ia bahkan rela merogoh kocek senilai US$ 1.000 setara Rp9-juta rupiah demi mendapatkan sepot terung-terungan variegata dari Ukay, pedagang tanaman hias di Bogor. Dari tempat sama, Pramote Rojruangsang, mendapatkan pisang-pisangan berdaun merah seharga US$ 1.300.

Di mata hobiis mancanegara, Indonesia memang dianggap surga tanaman hias setelah Thailand. Terbukti Ricard Burton, kolektor asal Miami, Florida, asyik menyambangi nurseri di seputaran Bogor dan Depok untuk mencari tanaman-tanaman baru.

Tiru Hobiis Thailand

Sayang, “kekayaan” itu belum diusahakan secara komersial. Padahal Indonesia memiliki keuntungan berupa iklim yang cocok untuk pertumbuhan tanaman. Sentra-sentra tanaman hias rata-rata memiliki suhu malam lebih rendah ketimbang Thailand yang dibarengi dengan kelembapan tinggi. “Makanya kalau tanaman Thailand dibawa ke Indonesia pasti tumbuh lebih baik,” lanjut pi Daeng.

Thailand berhasil menguasai pasar ekspor tanaman hias karena berani memproduksi dalam jumlah massal. Dengan produksi massal biaya produksi menjadi lebih ringan. Akibatnya produk-produk asal negara kerajaan itu kompetitif dalam hal harga. 

Yang menjadi andalan tak melulu tanaman hias lokal. Kerap terjadi tanaman asal impor, diekspor kembali ke negara asal setelah kualitas diperbaiki dan diproduksi massal.

Pemain di Indonesia sangat mungkin meniru jejak Thailand. Wijaya Orchids yang sempat membuat hobiis di negeri Gajah Putih terpana kala mengirim anggrek tanah Spatoglotis sp berwarna kuning 5 tahun silam. 

Sekitar 1.000 anggrek tanah hasil perbanyakan secara meriklon ludes dibeli hobiis Thailand. Para penggemar tanaman hias negara itu pun kepincut oleh kecantikan aglaonema pride of sumatera hasil silangan Greg Hambali. Jadi, boleh saja memburu tanaman hias hingga ke negeri seberang. Namun, kekayaan sendiri jangan sampai dilupakan.

Rabu, 31 Juli 2019

Aglaonema Penghias Taman Dan Pekarangan Rumah

Aglaonema Penghias Taman Dan Pekarangan Rumah

Enam tanaman aglaonema berbagai jenis menghiasi jendela dapur rumah Ny. Alun di Kebonjeruk, Jakarta Barat. Paling menonjol varietas berdaun merah asal Bangkok setinggi 30 cm dan berdaun 10 lembar. 

Tanaman aglaonema
Dry garden di antara taman berbunga
Pasaran aglaonema teranyar itu minimal Rp7,5-juta. Puluhan aglaonema dikoleksi sejak 1993. Semua tampil prima: bongsor, cmakan banyak, dan daun mengkilap.

Puluhan jenis tanaman lain dikoleksi pula seperti 50 jenis kembang sepatu dan 80 varietas adenium. Hobiis itu juga mengumpulkan palem, anggrek, euphorbia, aneka sukulen, dan tanaman merambat. Mereka ditata membentuk taman yang indah dan semarak bunga.

Sebagian besar koleksinya diperoleh dari nurseri di Jakarta. Bagi pedagang, Ny Alun salah satu pembeli potensial. Istri Santoso, pengusaha cat mobil “Isamu” itu berani membeli jenis baru saat harga masih tinggi.

Bila bepergian ke luar negeri, ibu 3 anak itu lebih senang mengunjungi nurseri dibandingkan ke tempat hiburan atau mal. Namun, di sana dia jarang membeli tanaman, tetapi peralatan berkebun seperti gunting dan pupuk. 

Dari Amerika Serikat ia membawa rak, Singapura; mulsa kayu dan penghalang tanah melebar. Di Thailand, pilihannya jatuh pada adenium. Selebihnya ia membeli di tanah air karena lebih terjamin hidup. Saking cinta pada tanaman, Ny Alun tak berani meninggalkan rumah lebih dari 2 minggu. Selain sayang tanaman, 4 pudel, teman tidurnya membutuhkan perhatian.

Koleksi aglaonema dari Segala jenis

Ny Alun memang tidak memilih tanaman aglaonema jenis tertentu, tetapi halaman rumahnya didominasi tanaman berbunga. Ambil contoh kembang sepatu. Hibiskus itu dikoleksi sejak 3 tahun silam dan jumlahnya mencapai 50 jenis. 

Mereka bergantian memunculkan bunga beraneka ragam, bentuk, dan warna . Jenis baru yang sebagian besar dari Amerika Serikat itu dibeli dari nurseri di Bogor seharga Rp200.000-Rp500.000.

Di bagian tengah dihadirkan berbagai jenis tanaman berbunga. Ada mandevilla merah dan pink, soka, sertaa plumeria yang amat rajin berbunga. 

Di antara bunga tadi hadir beberapa palem. Yang cukup menonjol, Coccothrinax crinita, yang berambut panjang. Dengan sosok setinggi 1 m, diperkirakan harga tidak kurang dari Rp5-juta.

Di teras, puluhan anggrek eksklusif berbagai jenis juga bersaing pamer kemolekan. Paling menonjol dendrobium di pot berdiameter 50 cm. Puluhan batang setinggi 1 m silih berganti berbunga. Batang sampai doyong karena tangkai bunga sepanjang 30 cm dipenuhi bunga ungu putih.

Anggrek mini seperti cymbidium dan cattleya juga membuat pengunjung berdecak kagum. Cymbidium yang notabene malas berbunga di daerah panas, di tangannya rajin memamerkan bunga kuning cerah. Sedangkan cattleya mini merunduk lantaran tangkai tak kuasa menahan belasan bunga.

Ny Alun pun memajang puluhan varietas adenium yang dikumpulkan sebelum tren seperti sekarang. Koleksinya lebih dari 80 varietas dengan bonggol rata-rata istimewa. Kolektor itu juga mengumpulkan euphorbia. Sukulen berduri tetapi berbunga cantik itu menghuni dinding pagar hingga ketinggian 4 meter.

Kekaguman semakin bertambah bila melihat halaman belakang. Halaman seluas 100 m2 itu ditata sebagai taman. Pinggir tembok diisi deretan aneka jenis, seperti euphorbia, adenium, dan anggrek. Tanaman-tanaman itu disangga rak buatan USA. Di sudut, Ny Alun menghadirkan gazebo sebagai pusat pandang. 

Di pelataran berbagai jenis digantung, dan puluhan Raphis excelsa variegata berbagai motif. Di bawah pelataran, lagi-lagi wanita yang gemar melukis itu memajang puluhan aglaonema yang dikumpulkan sejak 1993. Karena jarang dipotong daun donna carmen berukuran 18 cm x 30 cm. Yang umum hanya 8 cm x 20 cm.

 

Tanaman aglaonema Penghias Taman
Tanaman aglaonema Penghias Taman

Aneka Tanaman daun

Meski penggemar bunga, tetapi tanaman daun pun dikumpulkan. Sebuah dry garden seluas 25 m2 di bagian tengah dihadirkan untuk menampung tanaman asal daerah gurun. Di situ, kelahiran Pontianak itu menghadirkan agave, encephalartos, kaktus, dan aneka sukulen. Ny Alun seolah tak sayang menanam di tanah Encephalartos horridus berbonggol 20 cm berharga di atas Rp5-juta.

Di dalam rumah. Ibu dari Purwanto, Yanto, dan Yuni itu memajang belasan tanaman aglaonema dalam pot. Semua tampil eksklusif sebab daun utuh serta mengkilap. Meski ada 100 daun/pot, “Saya tetap mengelap lembar per lembar agar penampilan prima.” Bila harga pride of sumatera Rp25.000/lembar berarti satu pot senilai Rp2,5-juta.

Tanaman Hias Bebas Serangan daun kuning

Perempuan 58 tahun itu mulai aktivitas di kebun setiap pukul 06.00 setelah berjalan kaki. Ia mulai dengan memetik daun-daun kuning. Satu per satu tanaman di halaman seluas 500 m2 disibak. Kembang sepatu, anggrek, mandevilla, palem, adenium, bunga burung, dan aglaonema harus bebas dari daun tua. Pemupukan dilakukan setiap Minggu pukul 05.00 Dipilih waktu subuh untuk menghindari terik matahari.

Meski berbeda jenis dengan beragam keinginan, tanaman jarang mati. Misalnya untuk tanaman gurun dilakukan persiapan khusus. Tanah digali sedalam 1 m. Di dasar lubang besar itu disusun batu kali, lalu ijuk, dan campuran humus dengan pasir putih. Dengan media demikian koleksi tidak bakal terendam.

Anggrek oncidium Lidah Tiga Koleksi Hobiis Anggrek Dari Salatiga

Anggrek oncidium Lidah Tiga Koleksi Hobiis Anggrek Dari Salatiga

Ada keindahan di balik bentuk menyimpang. Itu berlaku bagi anggrek oncidium koleksi Lila Natasaputra, penganggrek di Kotamadya Salatiga, Jawa Tengah. Lazimnya anggrek asal Karibia itu memang berlidah tunggal, tetapi kedua sepal oncidium Lila membesar sehingga seolah berlidah tiga.

Hobiis dari Taiwan yang bertandang ke kota di lereng Merbabu itu langsung jatuh hati melihat sosok anggrek oncidium itu. Harga berapa pun bukan masalah. Sedangkan penggemar lokal berani menawar Rp500.000 per pot terdiri atas 3 bulb. 

Anggrek oncidium Lidah

 Harga pasaran untuk oncidium “normal” saat ini paling pol Rp4.000. Namun, mantan dosen Universitas Kristen Satya Wacana itu tetap mempertahankannya.

Sebetulnya performa anggrek oncidium itu mirip kerabatnya golden shower atau gower ramsey. Tangkai sepanjang 30 cm disesaki bunga berwarna kuning cerah sehingga tampak kompak. Yang membedakan, hadirnya 3 lidah akibat mutasi gen. 

“Terjadi mutasi karena dikulturjaringankan secara massal. Misalnya, satu eksplan diperbanyak menjadi puluhan ribu tanaman,” ujar pemilik Nurseri Greenleaf itu.

Itulah yang terjadi ketika Kaseem Bunchu Orchid penganggrek kenamaan di Bangkok mengkultur jaringankan oncidium gower ramsey. Oncidium yang bersemarak bunga itu hasil persilangan goldiana dan guinea gold

Hasilnya, selain mirip dengan induk, muncul pula beberapa tanaman menyimpang, yakni kedua sepal membesar membentuk lidah. Anggrek itulah yang diburu Lila.

Oncidium excavatum Banyak Dicari Pehobiis

Beruntung akhirnya Lila mendapatkan 10 pot di sebuah nurseri di Jakarta. Dari jumlah itu ia membeli 5 pot yang diperkirakan kelainannya permanen. Tentu saja tak ada rumusan kriteria soal stabilnya gen itu. 

“Saya hanya mengambil berdasar feeling,” katanya. Beberapa bulan berselang ia kembali mengambil 5 pot. Harga excavatum per pot terdiri atas 3 bulb Rp 150.000.

Kesepuluh anggrek oncidium berjuluk doll dancing itu dipelihara meliputi penyiraman rutin dan pemupukan secara periodik. Dari jumlah itu hanya 5 pot yang benar-benar permanen. Lima pot lainnya labil sehingga akhirnya dijual kembali. 

“Kadang muncul 3 lidah, bunga berikut hanya 1 lidah,” katanya. Seleksi lebih dari setahun lantaran menanti tanaman beberapa kali berbunga. Tanaman yang 3 kali mengalami perubahan divonis labil.

Lila lantas memperbanyak tanaman permanen secara hati-hati. Harap maklum, biasanya tanaman mutan mudah berubah ke bentuk semula. “Setelah muncul 6 bulb saya baru berani memisahkan. Ada 5 bulb saja saya tak berani (memisahkan, red),” ujar ayah 2 anak itu. 

Tiga individu “baru” hasil pemisahan itu ditanam di sebuah pot berdiameter 10 cm. Media tanam berupa cacahan pakis.

Anggrek potong

Saat ini Lila yang memburu anggrek oncidium sejak 1982 itu mengoleksi 100 pot oncidium berlidah 3. Oleh Lila dimanfaatkan sebagai bunga potong. Soalnya, bunga mampu bertahan lebih dari sepekan usai pemetikan. Tangkai cenderung tegak nilai lebih lain. Itu saja belum cukup untuk memenuhi syarat anggrek potong. Kriteria lain: produksi tinggi pun dimiliki si lidah tiga.

Menurut Lila 1-2 bulan setelah pemetikan, muncul bulb yang disusul kehadiran bunga baru. Perpaduan kelebihan itu plus diterima pasar menyebabkan ia ideal sebagai anggrek potong. 

Bandingkan dengan golden shower dan grower ramsey yang bertangkai lentur dan hanya tahan 4 hari. Itulah sebabnya mereka tak dijadikan sebagai bunga potong.

Senin, 29 Juli 2019

Pertanian Aeroponik Dengan Greenhouse

Pertanian Aeroponik Dengan Greenhouse

Pria perlente itu baru saja meneken kerja sama pengolahan limbah dengan sebuah pabrik aluminium di Ngoro Industrial Park, Pasuruan. Walau hari masih siang, Allen Hartono, nama pria itu, tak langsung ke kantor di Surabaya. Ia malahan mengarahkan mobil ke Trawas, Mojokerto. Di sana, setelah melepas sepatu ia asyik-masyuk di greenhouse. Beberapa selada mengering yang ditanam 2 hari lalu disulamnya.

Meski mengenakan pakaian kerja ia tak canggung berkebun. Paling baju lengan panjangnya digulung sebatas siku. Selain menyulam, aktivitas lain adalah meramu nutrisi, mengecambahkan benih, dan memanen beragam sayuran. 

Budidaya sayuran hidroponik kita
Budidaya sayuran hidroponik

Sore itu hingga mentari tergelincir di cakrawala pengusaha itu masih memanen kangkung aeroponik. Satu tray besar yang disesaki Ipomoea aquatica diusung ke bagasi mobil.

“Sekarang istri saya jarang belanja sayuran,” katanya. Itu terjadi sejak Allen menekuni hobi baru: berkebun sayuran. Tentu saja, tidak saban hari keluarganya menyantap sayuran sejenis. Panen kangkung sore itu, misalnya, juga dibagi-bagikan kepada kerabat dan tetangga. Dijual? Belum terpikirkan pekebun sayuran hidroponik sejak Juni 2015 itu.

Ia mengelola 2 greenhouse memang sekadar melampiaskan hobi bercocok tanam. Hobi itu bermula dari keisengan pria bersosok tinggi besar itu. 

Di halaman belakang kantornya di bilangan Kenjeran, ia mengadopsi teknologi aeroponik untuk menanam beragam komoditas seperti kacang tanah dan pulepandak. Lantaran kebablasan ia memutuskan membangun rumah tanam di sekitar vilanya di Trawas.

Modal Awal memulai Pertanian Aeroponik

Untuk mewujudkan keinginan bercocok tanam, jutaan rupiah terkuras dari kocek Allen. Ia membangun 2 greenhouse berkerangka besi dengan ukuran masing-masing 10 m x 4 m dan 12 m x 4 m. Biaya membuat greenhouse berkerangka kayu saja, mencapai Rp50.000 per m2. 

Artinya, lebih dari Rp4-juta dibelanjakan untuk membangun 2 greenhouse. Fulus yang mengalir kian deras jika memperhitungkan biaya pengadaan perangkat Pertanian Aeroponik.

Harap maklum, saat ini biaya pembelian tetek-bengek peranti aeroponik atau hidroponik berkisar Rp65.000-Rp75.000 per m2. Mau tak mau Rp5,8-juta harus dikeluarkan ayah 2 anak itu. 

Belum lagi ia mesti mengupah seorang karyawan untuk menjaga greenhouse itu. Hanya itu? Ternyata tidak. Soalnya, Allen juga harus membeli rockwool sebagai media persemaian, benih beragam sayuran, dan nutrisi.

Sayangnya, ia tak mempunyai data besarnya masing-masing kebutuhan itu. Menurut Agus Misbah, pengelola farm aeroponik dan hidroponik di Bogor, untuk luasan hampir 56 m2, kebutuhan rockwool berkisar 2 slaps per bulan setara Rp36.000. Angka 56 m2 itu merupakan 70% lahan efektif dari total luas 2 greenhouse yang dikelola Allen.

Kebutuhan benih dan nutrisi Rp 150.000. Jadi, setiap bulan minimal pundi-pundinya terkuras ratusan ribu. Namun, tak serupiah pun yang ia peroleh dari komoditas yang diusahakan. Lazimnya greenhouse memang hanya untuk kebun produksi.

Gado-gado

Demi kepuasan, ia tak hirau akan besarnya biaya yang dikeluarkan untuk membiayai hobinya. Di greenhouse itu ia menanam beragam sayuran. Komoditas yang dipilih, “Pokoknya saya suka makan apa, ya itu yang saya tanam,” tuturnya. 

Saat muncul keinginan menikmati pakcoy, ia pun segera membenihkan Brassica chinensis. Itulah sebabnya di greenhouse mini itu aneka sayuran dibudidayakan. Beberapa di antaranya selada keriting, batavian letucce, romance letucce, horenzo, dan bayam merah yang dikembangkan dengan teknologi hidroponik NFT (nutrientfilm technique).

Selain itu di Pertanian Aeroponik miliknya, ada pula tomat dan paprika. Tanaman sekerabat anggota famili Solanaceae itu ditanam dengan hidroponik substrat. 

Sedangkan sisi kiri dan kanan di tepi greenhouse dimanfaatkan sebagai parit selebar 60 cm. Oleh Allen parit itu difungsikan sebagai lokasi budidaya kangkung dengan mengadopsi sistem deep floating rafi alias rakit mengapung.

Di atas parit itu diapungkan styrofoam 60 cm x 60 cm yang terdiri atas 36 lubang tanam. Satu lubang tanam diisi 3—4 bibit. Sepanjang parit itu terdapat 7 styrofoam. Agar panen berkelanjutan, ia menanam secara periodik. Sekali tanam lazimnya 2—3 styrofoam. Kangkung memang pilihan pas lantaran mudah tumbuh meskipun oksigen terlarut rendah.

Itu akibat Allen tak melengkapi aerator. “Saya pernah coba pakcoy, pertumbuhannya lambat. Tanaman kelihatan kurus,” katanya. Dua greenhouse itulah yang disambangi pria baruh baya 2-3 hari sekali. 

Biasanya pukul 15.00 ia meluncur ke Trawas yang berketinggian 600 m dpi. Setiap kali kembali ke Surabaya selalu ada sayuran yang dibawa pulang. Di rembang petang ia baru pulang.

Kacang Tanah Bebas Tanah

Lumpur yang terbawa saat penjualan polong kacang tanah mencapai 22%. Allen Hartono berkesimpulan seperti itu ketika berkunjung ke sentra di Tuban, Jawa Timur. Pengusaha itu tergelitik untuk mengaeroponikkan semak asal Amerika Selatan itu. 

“Selama ini Pertanian Aeroponik umumnya hanya untuk sayuran daun. Saya meyakinkan diri saya, masak sih kacang tanah bisa,” ujar ayah 2 anak itu.

Langkah pun diayunkan pada 17 Januari 2002. Anak ke-6 dari 10 bersaudara itu membeli 0,5 kg kacang tanah sebagai benih di Kedungcowek, Surabaya. Sebelumnya ia membuat sendiri bak nutrisi fiberglas berbahan resin 157. Ukuran bak 3 m x 1 m x 0,2 m. 

Benih dipilih yang bernas dengan menyeleksi dalam rendaman air. Lima hari di persemaian rockwool, bibit dipindahkan ke papan styrofoam berjarak tanam 15 cm x 12 cm. Bak diletakkan di halaman belakang kantor di bilangan Kenjeran, Surabaya Timur.

Allen meracik sendiri nutrisi dengan mengelompokkan menjadi 3 fase. Masing-masing 2 pekan pertama, minggu ke-5—ke-8, dan pekan ke-9 panen. EC (electro conductivity) terus ditingkatkan. Pada fase I tercatat EC 2; fase II, 3; dan III; EC 3. 

Tingkat keasaman dipertahankan 6,5. Pemberian nutrisi diatur timer dengan interval 15 menit. Sekali penyemprotan nutrisi 1 menit. Pada umur 1,5 bulan anggota famili Papilionaceae itu berbunga.

Empat pekan kemudian polong terbentuk. Warnanya putih bersih. Kekurangan aeroponik kacang tanah adalah lemahnya rockwool menahan beban polong yang kian membesar. Allen memperkuat dengan menelusupkan lidi di bawah rockwool Sayang, 

Allen tak sabar menanti polong siap konsumsi sehingga tak diketahui total produktivitas. “Ini kan hanya iseng-iseng dan saya merasa sudah berhasil ‘membuahkan’ kacang tanah,” ujarnya

Minggu, 28 Juli 2019

no image

Serangan Bulai Pada Tanaman Cabai

Sudah setahun penyakit bulai cabai dilaporkan kehadirannya. Namun, hingga kini serangannya belum teratasi. Malah, makin meluas ke berbagai sentra. Kalau tidak segera ditangani, pasar bakal mengalami kekosongan pasokan. Dalam 2 – 3 bulan ke depan, harga bakal melonjak. Kalau sudah begini, siapa yang bertanggungjawab?

beberapa daerah saya melihat, petani mulai “lempar handuk”. Banyak yang beralih ke tanaman lain. Contoh di Muntilan, Kabupaten Magelang, pelaku budidaya cabai mulai melirik tomat dan kol dataran rendah. Kalau pun masih ada penanaman, paling tak seluas biasanya. Di Lampung Barat kabarnya malah hampir tak ada lagi penanaman baru. Mereka kapok menanam cabai.

Pasalnya, serangan penyakit cabai yang sulit dibendung. Penyemprotan pestisida untuk menghambat serangan tak membawa hasil. Upaya penanaman di lahan baru pun tak banyak membantu. Buktinya, tanaman tetap mengalami serangan dalam 2 – 3 minggu kemudian. Akibatnya, petani kehilangan modal produksi.

Di Jawa Timur yang semula aman-aman saja, kini juga mulai tampak adanya serangan. Di antaranya di Kediri dan Blitar. Jika kondisi ini tidak segera diatasi, wilayah itu juga bakal mengalami nasib sama.

penyakit bulai cabai
penyakit bulai cabai

 

Penyakit berasal dari benih?

Untuk mengatasi hal itu, pemerintah dan para ahli terkait harus melakukan penelitian serius. Sebab, sampai saat ini belum jelas penyebab penyakitnya. Dari gejala serangan, jelas itu akibat serangan virus. Semula muncul bercak kuning pada permukaan daun, lalu meluas ke seluruh permukaan hingga daun menjadi kerdil dan mudah patah. Hanya saja jenis virus belum diketahui. Apakah itu jenis virus baru, atau virus lama yang sebelumnya menyerang tanaman lain.

Sementara ini banyak orang menuding virus gemini pada tomat yang hingga saat ini pun belum teratasi sebagai biang keladi. Namun di lapangan, tomat yang ditanam setelah cabai ternyata tidak terserang. ( Baca : Virus Dan Hama Penyakit pada Tanaman Cabai )

Logikanya, kalau virus sejenis yang menyerang, berarti penanaman tomat pun gagal. Bukti lain, tanaman cabai di daerah baru pun ikut juga terserang. Artinya, virus memang spesifik menyerang tanaman cabai.

Melihat hal itu saya menduga penyakit ini justru bawaan benih (seedborn disease). Jadi di mana pun benih ditanam, pasti akan terserang penyakit. Sebab, kalau itu virus lama, berarti harus ada vektor yang menyebarkannya. Padahal, tanaman sudah terserang sejak usia dini, saat serangga vektor belum menyerang.

Itu pula sebabnya sehingga penyemprotan pestisida untuk menghambat serangan tak menyelesaikan masalah. Namun, benih mana yang mengandung virus, itu yang harus dilacak lebih detil. Dugaan saya, biang keladinya salah satu varietas cabai keriting eks impor. Sebab, kasus serangan terbanyak muncul di sentra-sentra penanaman varietas itu. Kasus yang menyerang varietas lain kurang. Itu pun karena ditanam di daerah endemik. Hanya saja perlu penelitian serius sebelum menjatuhkan vonis.

serangan virus pada tanaman cabai

 

Tanaman Cabai Masih mempunyai prospek

Akibat serangan virus baru itu, stagnasi produksi jelas bakal terjadi. Sebab, sejak beberapa bulan terakhir produsen dan distributor benih mengalami penurunan penjualan hingga 50%. Artinya, luas penanaman pun berkurang separuh. Akibat itu pula sehingga omzet penjualan pestisida ikut merosot. Itu pasti, sebab dengan matinya tanaman di usia dini volume dan frekuensi penyemprotan pun menurun.

Menurunnya luas penanaman jelas membuka peluang. Namun, penanaman sebaiknya dilakukan di daerah baru. Hebatnya serangan di wilayah Muntilan dan Lampung Barat juga disebabkan penanaman berulang-ulang di satu areal. Di daerah baru pun sebaiknya dilakukan pergiliran varietas untuk meminimalkan kegagalan. Kalau perlu, coba pikirkan penggunaan varietas lokal. Lihat saja di Brebes (Jawa Tengah) dan Rejanglebong (Bengkulu), kasus serangan tergolong rendah karena petani banyak menggunakan varietas lokal.

Jika berhasil, petani bakal menikmati harga tinggi. Bukan tidak mungkin dalam 2—3 bulan mendatang harga cabai menembus angka Rp10.000/kg akibat kurangnya pasokan. Berarti, dengan produksi 50% saja dari kondisi normal, petani masih bisa menikmati keuntungan. Jika produksi per hektar hanya 10 ton saja, berarti petani bisa memperoleh omzet Rp100-juta.

Penanaman cabai pot dalam skala komersial barangkali bisa pula dipertimbangkan. Perlu ada produsen atau lembaga yang melakukan sosialisasi. Sebab, menanam di polibag berarti mengubah kebiasaan. Lagipula, analisis ekonominya perlu dikaji terlebih dahulu sebelum kegiatan itu dilakukan. Yang pasti, cabai masih layak untuk diusahakan

Jumat, 26 Juli 2019

no image

Tabulampot pohon apel india

Dua orang yang bertamu itu berdiri tegak di beranda sebuah rumah di Wologito, Semarang Barat. Pandangan mata mereka diarahkan ke apel india tabulampot setinggi 1 m yang digelayuti 40-an buah. Sosok tanaman berjuluk indian plum itu selalu mengundang rasa ingin tahu. “Saya bilang saja apel india karena cabangnya meliuk seperti tarian india,” kata Maya, sang tuan rumah.

Buah seukuran telur ayam kampung itu berwarna kuning pucat. Buah menyebar di seluruh cabang pohon. Rasanya manis kesat dan renyah. “Persis pir australia yang hijau,” ujar istri Prakosa Haryono, kolektor tabulampot di Demak, Jawa Tengah. Mantan pekebun pepaya dan jambu biji itu mempunyai 6 putsa. Dua di antaranya diletakkan di rumahnya di Semarang; selebihnya di Demak yang berjuluk kota wali.

apel india

Hanya 4 pohon yang berbuah serempak. Dua pohon yang ditanam di tanah berkali-kali gagal membentuk fruitset. Dari sosok tanaman, Prakosa memastikan mereka berbeda spesies. Putsa memang banyak ragamnya, mencapai 400 kultivar.

Yang ditanam di tanah berbunga putih bersih menyerupai cempaka. Ukuran daun lebih besar ketimbang putsa pot. Panjang daun sekitar 5—7 cm berbentuk lanset. Sementara bentuk bunga putsa pot mirip makuto dewo, ukuran kecil, dan berwarna putih kusam.

apel india milik Prakosa yang sudah berbuah diperkirakan memerlukan para-para kelak ketika pohon kian besar. Tujuannya untuk menyangga buah yang menggelayut lantaran percabangan sangat lentur. Pemandangan serupa pernah budidayatani saksikan di perkebunan putsa di Taiwan. Selain itu di Rayong, Thailand, putsa milik Wansuchai berupa pohon berkayu yang mampu tumbuh hingga ketinggian puluhan meter. Oleh karena itu putsa itu tak membutuhkan para-para seperti kami saksikan diTaiwan.

Disungkup

Sudah lama Prakosa memendam hasrat untuk mengoleksi tanaman apel india yang populer disebut Chinese date itu. Rasa manis, perawatan mudah, dan masih langka merupakan alasan Nonot demikian sapaan Prakosa memburu putsa. Namun, keinginan itu baru terpenuhi Februari 2002. Itu berkat informasi rekannya, Chandra Gunawan, kolektor tanaman hias sekaligus pemilik Nurseri Godong Ijo di Depok, Jawa Barat.

Chandra menyodorkan sebuah nurseri di India yang menyediakan putsa. Di negeri anak benua itu putsa banyak tumbuh di Bangalore. Alumnus Universitas Islam Sultan Agung itu pun segera menghubungi nurseri yang dimaksud. Sebulan berselang, betapa suka-citanya Nonot ketika 6 sambung pucuk putsa tanpa daun tiba di Demak. Di kemasan tertera label indian jujube. Panjang batang 20—30 cm yang dibeli Rp50.000 per bibit.

Ayah 3 anak itu lantas menanamnya di 6 pot berbeda dengan diameter 20 cm. Media tanam berupa pasir kasar yang tidak lolos saringan kasa nyamuk. Setelah disiram hingga jenuh ke-6 pot dimasukkan di bawah sungkup selama 60 hari. Sungkup plastik berbentuk setengah lingkaran dengan tinggi puncak 90 cm. Selama penyungkupan, penyiraman ditiadakan.

Berbuah Genjah

Untuk mempertahankan kelembapan ia menyiram permukaan tanah di sekitar sungkup. Saat musim hujan frekuensi penyiraman 2 hari sekali; kemarau, 2—3 kali sehari. Dua puluh hari setelah penyungkupan muncul banyak tunas daun berwarna hijau kekuningan. Lama-kelamaan daun berubah hijau segar. Ketika sungkup dibuka 2 bulan kemudian tanaman tetap di lokasi semula

Anak ke-2 dari 5 bersaudara itu hanya memberi hara berupa pupuk berkadar nitrogen tinggisebaiknya yang lambat penguraiannya seperti Dekastar atau Magam. Dosis 1 sendok teh per tanaman. Reaksi yang tampak muncul percabangan kecil dan daun merimbun terdiri atas 40— 50 helai. Sebulan setelah sungkup dibuka, apel india itu dipindahtanamkan ke pot berdiameter 40 cm.

Media tanam berupa campuran tanah, sekam, dan pupuk kandang dengan perbandingan 1:1:1. Pupuk daun seperti Growmore atau Gandasil D disemprotkan di sekitar daun dan batang. Interval penyemprotan 7 hari. Hanya 5 kali penyemprotan langsung muncul bunga di berbagai cabang. “Perawatan mudah. Yang saya coba di Demak dengan ketinggian 10 m (dpi, red) dan Semarang 210 m (dpi, red) sama hasilnya,” katanya.

Rajin berbuah Setelah ditanam dalam pot

Prakosa mempertahankan seluruh buah, tanpa seleksi. Buah siap konsumsi setelah 3 bulan sejak munculnya bunga. Di dalamnya terdapat biji menyerupai biji kedondong tanpa rumbai-rumbai tetapi membentuk sudut. Tiga bulan sesudah pemetikan terakhir, bunga kembali muncul. Prakosa hanya memberikan 1 sendok teh pupuk berkadar kalium tinggi.

“Tanpa dimanja putsa mampu berbuah. Tanaman itu tak menuntut banyak perawatan. Setahun bisa 2—3 kali berbuah,” kata pemilik UD Satya Pelita itu. Kondisi itu, menurut sarjana hukum yang lebih senang berkebun itu pas buat hobiis sibuk. Triman, hobiis tabulampot yang mengetahui putsa ketika berkunjung ke Cina, misalnya, kesengsem putsa pot milik Prakosa. Sayang, Prakosa masih mempertahankan.

Lantaran banyak tamu yang tertarik untuk memiliki, Prakosa berencana mendatangkan batang bawah dari Thailand. “Selama ini saya menyemai lebih dari 200 biji, tak ada satu pun yang tumbuh,” ujar kelahiran Demak 45 tahun silam itu.

Selasa, 23 Juli 2019

no image

Ayam aduan super dari Filipina

ayam aduan super asal negeri gajah putih, Thailand bakal punya pesaing. Di arena kini muncul american emas dan texas dari Filipina. Kedigdayaannya sudah terbukti di berbagai gelanggang

Di samping gagah, kedua ayam jagoan itu bernyali besar. Jarang ayam adu lain yang bisa melawannya. Di Sangir, Sulawesi Utara, pemilik jagoan baru itu harus lihai memegang ayam saat mau diadu. Pasalnya, kedua ayam itu mudah dikenali dari sayapnya. Bila ketahuan american emas atau texas, maka bebotoh ayam akan mengurangkan niat mengadu.

Pendatang baru yang menggegerkan itu masih langka. Samuel E. Tamedia, hobiis di Bekasi, Jawa Barat, baru mendatangkan puluhan ekor dari Filipina sejak Januari 2017. Ketika budidayatani berkunjung ke rumahnya di kawasan Kotabaru, terlihat 6 ayam berumur 1,5 tahun terkurung di kandang.

Sosok mereka elegan. Penampilannya gagah. Ciri khasnya kepala lonjong dengan paruh panjang mirip burung. Dada lebar dan kokoh. Mata bening dengan sorot tajam tanda petarung yang bagus. Tubuh panjang, sayap lebar menutup hingga bagian belakang tubuh dan paha. Ekor lebar dan kaku menyerupai kipas ketika mengembang sempurna. “Peralatan” itulah yang membuat gerakannya lincah dan cepat.

Filipina

 

Kemampuan Meloncat Hingga Dua meter

Kelebihan lain strategi bertanding kedua ayam aduan super itu cukup bagus. Layaknya petinju mirip Mike Tyson, begitu ada lawan langsung dihajar. Pukulannya selalu masuk dan telak. Nyaris tak ada perilaku “nempel” ke lawan bila stamina sudah mulai loyo. Kalau dihitung poin, pasti ayam itu menang. “Umumnya hobiis hanya menjajal 5 menit untuk melihat kemampuannya. Berbeda dengan ayam bangkok yang bisa 15 menit,” kata pria asal Sangir, Sulawesi Utara itu. Kendati demikian, ia pun pintar mengelak bila menghadapi lawan tangguh.

Menurut Samuel bebotoh harus hati-hati bila ingin melawan ayam itu. Ia sudah membuktikan kelihaian terbangnya. Kendati lawan sudah diangkat setinggi 2 m, ayam itu masih bisa menjangkaunya. Para pengadu biasanya memberi ancang-ancang sekitar 6 m untuk melepas ayam. Pertandingan di udara lebih seru, mereka bisa melakukan 3 – 4 kali pukulan.

Kalau dilihat secara postur, american emas lebih cocok untuk lawan bangkok. “Bobotnya setara bangkok, rata-rata 3 – 3,5 kg. Daya tahan bertandingnya juga bisa mencapai 1 jam,” kata alumnus Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sam Ratulangi, Manado itu. Sementara texas paling hanya 2 -2,5 kg. Oleh karena itu ia lebih pas bila dipakai sebagai ayam adu pisau, seperti di Bali. Waktu yang dibutuhkan paling banter 5 detik untuk meng-KO lawan, mati bersimbah darah.

Ayam Kampung

ayam aduan super American emas dan texas mudah didapat di Filipina selatan. Awalnya mereka hanya sebagai ayam kampung biasa. Warna bulu beragam, mulai putih, merah, hitam, dan blorok. Namun, lantaran sosok dan kemampuan bertanding. Penduduk di sana menggunakannya untuk ayam adu. “Mereka memang gemar memelihara ayam. Mengadu ayam merupakan kegiatan rutin,” ujar pria berusia 32 tahun itu.

Ayam hasil tangkaran terjamin kualitasnya. Peternak memakai jawara di berbagai gelanggang sebagai pejantan. Pantas bila harga bakalan umur 1 tahun mencapai Rp2-juta – Rp2,5-juta. Lain halnya kalau sudah pernah menang di lomba, harga meningkat menjadi Rp3-juta – Rp5-juta. Ayam jawara yang sudah menang minimal 3 kali di arena pertandingan langsung diberi ring. Sebagai ungkapan kebanggaan, pemilik biasanya membuatkan kandang dari kaca.

Uniknya, sebutan american emas dan texas tidak berkaitan dengan negara adi daya itu. “Saya juga tidak tahu kenapa dinamakan itu. Paling untuk lebih tren saja,” kata pria yang mengunjungi Filipina minimal sebulan sekali itu. Yang jelas permintaan ayam itu cukup tingi. Bukan saja untuk diadu, kebanyakan malah disilangkan dengan ayam bangkok.

Melatih Fisik Dan Mental Ayam Aduan

Apakah Anda ingin ayam aduan super tampil kekar dengan tulang besar dan berstamina prima? Coba saja kiat peternak diFilipina. Yang pertama dilakukan ialah memilih ayam dengan tulang keras dan otot kuat. Pertulangan sempurna bila tebal, besar, dan kuat. Ayam bertulang tipis tidak disukai hobiis. Demikian juga tulang besar karena membuat gerakan ayam lamban ketika berlaga di gelanggang.

Di Filipina ayam dilatih sejak umur 5 bulan. Atau saat ayam kecil mulai belajar berantem. Setiap ayam segera dipisah di kandang tersendiri. Latihan awal berupa renang. Caranya, lempar ayam ke kolam besar sejauh 1 – 2 meter. Jarak dapat ditambah seiring dengan pertumbuhan dan umur ayam. Latihan itu dilakukan setiap hari dengan frekuensi 2 -3 kali. Tujuannya untuk membentuk dada besar dan otot kuat.

cara merawat ayam aduan

Setiap hari ayam aduan super diletakkan di tenggeran sepanjang 0,5 m terbuat dari kayu atau besi. Tinggi tangkringan 1 m dari tanah. Cara lain dengan membuat ayunan terbuat dari kayu dan tali plastik. Biarkan ayam berada di tempat itu seharian. Kalau mau diberi makan saja ayam diambil.

Latihan itu untuk melatih keseimbangan dan lutut. Begitu ayam berusia 8 bulan atau muncul taji dan kulit kaki kering, latih dengan cara memegang ekornya setiap pagi. Jadi, ayam dipaksa untuk terbang. Hentikan bila ia sudah lemas. Setelah itu letakkan ayam di lantai, lalu l b tekan punggung ke bawah. Latihan itu terus dilakukan sampai gerakannya melemah.

Untuk melatih kekuatan nafas, ayam juga bisa dilatih memutar di dalam kandang saat penjemuran. Masukkan ayam lain di kandang kecil untuk memancing emosi. Seminggu sebelum bertarung, berikan 1 kuning telur,  lalu dicampur 2—3 kapsul super tetra. Berikan campuran itu 3 kali, pagi, siang, dan malam secara berturut-turut selama 3 hari. Pada hari ke-4 dan ke-5 ayam diistirahatkan di kandang. Dengan ramuan itu stamina ayam saat bertanding tetap prima. Dan kalau ayam luka, maka darah yang keluar tidak terlalu banyak.

Sabtu, 20 Juli 2019

no image

Keunggulan Anjing Beagle Sebagai Alarm Dog Terbaik

Susanti dongkol saat rottweilernya bungkam ketika ada orang mau masuk rumah. Beruntung hobiis yang tinggal di kawasan Kelapagading, Jakarta Timur membeli Bigel nama anjing jenis beagle dari salah satu breeder 3 tahun silam. Anjing asal Inggris itu cukup sensitif. Suara lirih pun tak luput dari telinganya. Pantas bila anjing bermuka lucu itu cocok dijadikan sebagai alarm dog.

Semula Susanti menganggap Bigel hanya sekadar anjing keluarga. Tampang anjing betina itu terkesan bersahabat. Sikapnya pun manja dan lembut. Apalagi anjing bernama Triches A Belle itu cenderung pendiam.

Dugaan ibu 3 anak itu ternyata keliru. Begitu Bigel berumur 5 bulan, mucullah karakter aslinya. Ketukan pintu pagar saja mengundang reaksi anjing itu “bersuara”. Salakannya pun cukup keras. “Biasanya Bigel menggonggong terlebih dulu, kemudian disusul rottweiler. Naluri seperti itu ternyata muncul secara alami,” ucap pemilik Von Kelly Dog Trainning Centre itu.

Selain rajin menyalak, anjing kelahiran 25 Juni 1997 itu kalem. Ia lebih senang duduk atau tiarap di salah satu pojok ruangan daripada mengacak perabotan rumah. Lokasinya pun dipilih yang bersih. “Ia tipe pemilih. Kalau diberi daging dan dogfood pasti dipilih dagingnya saja,” ujar istri Fransetra itu.

Alarm Dog

Suka mengendus

Kendati tubuh gempal dan pendek, gerakannya ternyata cukup lincah. Kaki depan selalu dinaikkan ke atas seolah mau menubruk lawan. “Perilaku itu juga diperagakan untuk mengungkapkan rasa senang. Biasanya ia minta dipeluk dan disayang,” kata ibu berusia 51 tahun itu.

Kebiasaan lain, anjing itu selalu mengendus-endus ke tanah. Apalagi saat diajak ke suatu lokasi baru, moncongnya tak henti mencium. Pantas bila anjing itu dijuluki sniffing ground. Ini ibarat manusia tidak percaya sebelum melihat. Maka, beagle tidak percaya sebelum mencium.

Ekor adalah salah satu ciri khasnya. Biasanya ekor mengarah ke bawah atau keluar. Ekor beagle cenderung ke atas bila sedang mengendus. Uniknya, ekor itu tegak menyerupai antena dan dikibas-kibaskan ke kanan-kiri seakan-akan mencari sinyal arah suatu benda.

Dengan kelebihan seperti itu, beagle cocok dijadikan pelacak. Kemampuan mencari jejak di suatu lokasi terbukti cukup bagus. Rasa keingintahuan itu terlihat dari kebiasaan selalu mencium segala sesuatu di sekelilingnya. Kendati sosok tubuh kecil, daya tahannya cukup kuat. Ia tidak mudah menyerah begitu saja ketika bekerja.

Di Amerika Serikat beagle sudah dimanfaatkan sebagai pelacak narkotika dan bahan peledak. Anjing berwajah manis itu hanya duduk-duduk di salah satu pintu masuk stasiun, terminal, pelabuhan, atau bandara. Orang yang berlalu-lalang tidak menyadari kalau dirinya sedang dideteksi sang anjing.

Kejadian serupa juga dijumpai di bandar udara Australia. Di sana beagle ditugaskan untuk menciumi tas yang berada di conveyer belt. Dengan cekatan anjing itu melompat dari tas satu ke tas lain. Kasus penyelundupan barang dan buah kerap digagalkannya. Selain itu, hobiis di negeri kanguru itu memanfaatkannya untuk teman berburu di hutan. Yang lebih fantastis kejadian di Inggris. Anjing kelangenan ratu Elizabeth I itu dilatih mendeteksi suatu jenis penyakit.

Dengan kondisi seperti wajar, bila breeder di Indonesia kurang berminat membiakkan. Mereka cenderung memilih anjing yang sudah populer, seperti basset hound, golden retriever, herder, rottweiler, atau doberman. “Dulu, Bigel saya dapatkan dari salah satu peternak di Jakarta. Harganya Rp3,5-juta untuk anjing berumur 3 bulan. Apalagi ia satu-satunya yang tersisa. Setelah itu peternak itu alih usaha ke anjing lain,”ujar Susanti.

Hitungan jari

Beagle sebenarnya cocok untuk daerah panas, seperti Indonesia. Sayang, hobiis lebih menyenangi anjing berpenampilan glamor. Karena terkesan “anjing kampung,” penggemarnya paling hanya hitungan jari. Buktinya, di kontes anjing multi trah tak ada beagle di daftar peserta. Itulah sebabnya kalau Susanti juga merasa kesulitan mendapatkan pejantan untuk pemacak. Padahal, “Saya diminta subdit satwa Polri untuk mengembangbiakkan anjing ini. Kalau kondisinya seperti ini pasti akan terhambat,” katanya.

Hal sama juga dialami Budi, salah satu hobiis di Jakarta yang menelepon budidayatani sebulan silam. Ia tertarik untuk memiliki beagle ketika berkunjung ke Australia. Tubuh mungil dan kemampuan mendeteksi cukup bagus menjadi daya tarik. Namun, begitu tiba di Jakarta ia kecewa lantaran seluruh petshop yang didatangi tak ada satu pun yang menjual beagle. “Kalau mendatangkan anjing itu dari Australia biayanya mahal,” katanya.

Variasi warna Beagle

Penampilan beagle tak kalah elegan dibanding anjing lain. Raut mukanya yang imut mengingatkan pada Goofy, tokoh kartun terkenal kreasi Walt Disney. Tubuh anjing pemburu itu termasuk tipe sedang. Tinggi tubuh sekitar 33—41 cm dengan bobot 14—15 kg. Sosoknya anggun sehingga cocok menjadi anjing keluarga.

Apalagi ada pilihan 2 variasi wama, yakni: putih dan cokelat atau kombinasi hitam, cokelat, dan putih. Wama bulu di punggung relatif seragam : hitam atau cokelat semburat putih. Warna kepala cokelat atau putih berbaur cokelat muda. Tipe bulunya pendek, halus, dan tebal. Dengan begitu anjing itu mudah dirawat.

Susanti memandikan Bigel seminggu sekali. Mandi setiap hari juga tidak masalah asal tidak disampo. “Bila anjing tersiram air biarkan saja. Paling 5 menit bulunya sudah kering,” ujarnya. Masalah pakan sebenarnya tidak rewel. Setiap hari hanya menghabiskan 1,5 gelas air minum atau setara 200 g. Yang perlu diperhatikan, pakan sisa segera ditarik.

Beagle tidak saja bertampang imut. Kepandaiannya melakukan berbagai keterampilan menarik minat hobiis untuk memiliki anjing itu. Apalagi ketika menyaksikan rasa kedekatan anjing asal Inggris itu “bercanda” dengan pemiliknya, la selalu ingin berbuat sesuatu yang yang menyenangkan kepada majikan. Bahkan, anjing itu bersahabat dengan anak-anak.

Kepandaian Anjing Beagle Setara Dengan German shepherd

Beagle bukanlah tipe anjing penyerang. Namun, intelejensinya setara herder, la bisa dilatih menjadi pelacak dan penjaga rumah yang andal. Kemampuannya menyerap setiap materi latihan yang diberikan pelatih
cukup cepat. Bahkan tugas-tugas yang diberikan selalu diselesaikan lebih awal dibanding anjing lain.

Berburu binatang juga keahliannya.

Daya penciuman sangat mendukung anjing ketika mencari persembunyian kelinci. Tak satu pun satwa kecil itu ‘ ‘ yang lolos dari sergapannya.
Di balik kepintarannya, beagle ternyata menyimpan tabiat buruk, la gampang cemburu bila pemilik lebih menyayangi anjing atau binatang lain. Jangan heran, bila anjing itu menggigit saingannya di depan pemilik sebagai ungkapan protes

no image

Mengintip Keseharian Hobiis kucing

Begitu pintu kandang dibuka, Dreamer menghambur menuju Chamreza. Pria berkumis itu menyodorkan tangan, kucing persia itu mendekat. Chamreza langsung menggendong satwa kesayangan itu, lalu diciumi berkali-kali. Yang dipegang menggeliat kegelian, “Meong…, meong…, meong….” Ayah 2 anak itu makin gemas melihat perilaku Dreamer. Kucing berbulu tebal itu diayun-ayunkan ke kanan-ke kiri layaknya menggendong bayi.

Setelah puas “bercanda” dengan Dreamer, Reza, panggilan akrab Chamreza mendatangi kucing lain. Dreamer hanya salah satu kucing kelangenannya. Masih ada 40 ekor kucing lain yang dipelihara. “Saya bisa seharian berada di tempat itu. Senang kalau bermain-main dengan kucing. Istri saya pun demikian. Anak-anak punya kucing kesayangan sendiri. Turn Turn selalu tidur bareng dengan Kiky—anak kedua,” katanya.

Maine Coon
Maine Coon

Kucing-kucing bermuka imut itu menghuni paviliun seluas 70 m2. Bangunan yang berada di belakang rumah itu dibagi dalam 4 ruangan, masing-masing dilengkapi pendingin. Ruangan untuk betina dan pejantan terpisah. Arena bermain menempati ruangan paling depan. Satu ruangan lagi digunakan untuk induk yang sedang beranak. Bahkan, “toilet” untuk tempat membuang kotoran didesain khusus.

Ketika budidayatani diajak masuk, ruangan tertata rapi dan bersih. Tak ada satu pun bulu kucing tercecer di lantai. Bulu-bulu kucing pun mengkilap dan mengembang. Kalau ada cairan kental di sekitar mata atau hidung buru-buru dibersihkan dengan kapas. Itu bukti keseriusan pemilik mengopeni satwa kesayangannya. Wajar, bila Reza harus mengeluarkan dana sekitar Rpl50-juta untuk mewujudkan keinginannya itu.

Kucing Ras Berkualitas

Kecintaan Reza pada kucing lantaran tertular hobi sang istri, Endang Widyastuti. Sewaktu kecil ia sama sekali tak menyukai binatang itu. Bahkan, kalau ada kucing masuk rumah langsung ditendangnya. Namun, kejadian itu kini malahan sebaliknya. “Saya-lah yang paling demen sama kucing dibanding istri,” ucapnya.

Keinginan memelihara kucing sebenarnya sudah lama, tapi baru terwujud pada 1999. Itu semua karena faktor ekonomi. Ras persia dipilih lantaran keindahan bulu yang tebal dan bermuka pesek. Kucing pertamanya Abu dibeli dari petshop. Namun, kucing itu ternyata tidak sekualitas show.

Reza pun mencari kucing berkualitas ke penangkar di Bandung, Jawa Barat. Dari sana ia membawa Ica yang langsung meraih runner up kelas XLH ketika diikutkan kontes Mediterania Cup, Juni 2000. “Selama setahun ia kerap menjuarai kontes,” kata kelahiran Prabumulih, Sumatera Selatan, 1 Desember 1960 itu

Sejak menang di kontes itulah Reza semakin getol mencari kucing-kucing terbaik ke berbagai peternak di Jakarta dan Bandung. Satu per satu kucing dikoleksi. Bahkan, beberapa kucing diimpor. “Setiap minggu saya pasti jalan-jalan untuk mencari kucing. Harga nomor dua, yang penting kualitas. Sekali beli bisa 4 ekor, bahkan lebih,” katanya. Kegilaan membeli kucing hingga sekarang masih berlangsung.

Harga seekor kucing umur 2 bulan berkisar Rp5-juta—Rp 10-juta. Di antaranya Anastasia, Turn Turn, Pussy, Rendy, Kairo, Ruslan, Igoss, dan Arro. Mereka juga berprestasi di kontes. Predikat best in show kerap diraih. Itu terlihat dari puluhan piala yang berjejer rapi di buffet kecil yang terpajang di ruang depan.

Hobiis kucing

Demi kucing

Begitu kucing terkumpul cukup banyak, Reza pun mulai tertarik ke penangkaran. Namun, keinginan itu belum terlaksana lantaran tertimpa musibah. Hampir separuh koleksinya mati tanpa sebab. Memang saat itu ia belum mengetahui seluk-beluk perawatan kucing. Betapa tidak, satu kandang bisa diisi 2—3 ekor.

Kejadian itu tak menyurutkan minatnya. Ia belajar dari beberapa penangkar dan majalah luar negeri. Tak lama kemudian kucing yang tersisa mulai berproduksi. Keturunannya tak mengecewakan, terbukti menjuarai setiap kontes, seperti Micky dan Kairo.

Saking banyaknya kucing membuat Reza kewalahan. Tugas kantor kerap ditinggalkan. Sejak 2001 ia mengundurkan diri dari PT Bersaudara, perusahaan perdagangan alat-alat kesehatan. Reza ingin intensif merawat kucing.

Kamis, 18 Juli 2019

no image

Perawatan Sarracenia Agar Selalu Tampil Prima

Sarracenia sehat menyantap serangga lebih banyak dibandingkan yang sakit. Itu karena dalam kondisi prima daun sarracenia berwarna mencolok dan menghasilkan nektar. Sementara yang sakit, daun dominan hijau dan tak memproduksi nektar.

Warna yang mencolok dan aroma kelenjar nektar yang harum menjadi daya tarik sarracenia. Serangga seperti rayap, kumbang, nyamuk, dan lebah datang mendekat karena warna dan aroma mencolok. Setiap jenis sarracenia memiliki warna daun beragam. Ada yang hijau, putih, ungu, merah muda, hingga merah tua. Agar sarracenia berpenampilan prima, hal pertama yang harus diperhatikan adalah kondisi lingkungan habitatnya.

Sarracenia tumbuh menyebar dari Kanada di Amerika bagian utara hingga Florida di ujung selatan Amerika Serikat. Tanaman yang namanya diambil dari nama seorang ahli fisika dan botani, Dr Michel Sarrazin, itu juga ditemukan di hampir seluruh daratan Inggris, sebagian besar negara-negara di Eropa, serta wilayah nontropis di Australia dan Selandia Baru.

Sama seperti tanaman karnivora lain, sarracenia tumbuh di lahan basah atau tanah berlumpur yang asam dan miskin unsur hara. Kerabat dekat heliamphora itu banyak ditemukan di tempat terbuka, la mudah beradaptasi karena habitat aslinya di negara yang memiliki 4 musim. Sarracenia tahan pada suhu 20—30°C di siang hari pada musim panas dan di bawah 0°C di musim dingin hingga beberapa bulan.

Sarracenia alata x fiava
Sarracenia alata x flava

Lima faktor

Agar penampilan sarracenia menarik seperti di habitatnya, ada 5 faktor penting yang harus diperhatikan dan dimanipulasi: pot, air, media, suhu, dan cahaya. Di habitat asli, sarracenia hidup di wilayah yang jumlah airnya melimpah secara permanen. Oleh karena itu, gunakan pot berdiri yang beralaskan tatakan berisi air. Tinggi air sekitar 2—3 cm dari dasar pot. Pastikan tatakan berisi air sehingga pot selalu dalam kondisi basah. Jika media di pot kering, bisa mengakibatkan tanaman mati.

Dialam,sarracenia tumbuh diair bersih yang asam dan miskin hara. Dalam banyak kasus, sarracenia tidak bisa disiram dengan air berklorin karena akan merusak sistem perakarannya yang lembut. Untuk hasil terbaik, anggota famili Sarraceniaceae itu sebaiknya hanya disiram dengan air hujan yang bebas bahan kimia. Air hujan ditampung terlebih dahulu agar bersih dari logam berat.

Hal lain yang harus diperhatikan: media. Sarracenia, seperti tanaman karnivora lainnya, membutuhkan media tanam yang sangat spesifik.

Itu karena sarracenia terbiasa hidup di habitat yang kekurangan nutrisi dan mineral. Konsekuensinya, sistem perakaran tak bisa menyerap air dan mineral jika konsentrasi hara terlalu tinggi. Oleh karena itu, sarracenia butuh media asam yang miskin nutrisi. Media terbaik untuk menumbuhkan sarracenia adalah campuran sphagnum peat, perlite, dan pasir dengan perbandingan 2:1:1.

Jika kerabat darlingtonia itu ditanam dalam media biasa untuk tanaman hias lain, ia akan mati karena kelebihan nutrisi. Untuk alasan yang sama, pemupukan juga bisa mengakibatkan kematian tanaman. Makanya pemberian pupuk tidak disarankan. Sarracenia dapat memenuhi kebutuhan nutrisinya cukup lewat serangga yang terperangkap.

Semua jenis sarracenia mengalami masa dorman selama 3—5 bulan pada musim dingin sebelum muncul daun baru dan berbunga. Masa dorman akan terjadi bila sekurang-kurangnya 3 bulan kondisi suhu sangat dingin. Oleh karena itu para kolektor di Inggris memodifikasinya dengan cara meletakkan sarracenia di peti es selama 3—4 bulan. Media sarracenia dibiarkan kering terlebih dahulu sebelum dimasukkan ke dalam peti es. Maksudnya agar substrat tidak basah yang bisa mengakibatkan

Sarracenia fiava var cuprea
Sarracenia flava var cuprea

Tanaman busuk.

Faktor lain agar sarracenia tampil prima adalah cahaya. Jika cahaya kurang, tanaman akan memproduksi daun yang panjang,dominan berwarna hijau, dan lemah. Untuk hasil terbaik, sarracenia harus terkena sinar matahari langsung. Semakin kuat cahaya warna daun semakin lengkap dan bervariasi: merah, kuning, atau ungu.

Banyak pilihan

Jika kelima kebutuhan dasar terpenuhi, sarracenia tumbuh tegak, kuat, dan cepat berkembang biak. Tanaman muda tumbuh besar dalam beberapa tahun dan membentuk rumpun besar yang dihiasi lusinan daun berbentuk terompet yang spektakuler. Saat itulah tanaman bisa dipecah menjadi beberapa rumpun atau individu. Namun, jika tetap dibiarkan pun tidak masalah, justru penampilannya lebih menarik.

Untuk membudidayakan sarracenia secara komersial sebaiknya pekebun mencoba menanam satu atau 2 jenis terlebih dahulu sebagai ujicoba supaya risiko kegagalan bisa diminimalisir. Pilih sarracenia hibrida karena lebih mudah dirawat dibandingkan spesies. Selain itu, hibrida lebih banyak ditemui di pasaran dan harganya murah.

Setelah ujicoba itu berhasil, ada banyak jenis spesies dan hibrida lain yang bisa dipilih. Dari 8 jenis sarracenia masing-masing mempunyai varietas yang beragam baik bentuk maupun warna daun. Demikian juga hibrida dan kultivarnya, dalam 2 abad terakhir terus bertambah sejak sarracenia pertama kali ditanam di Eropa dan Amerika Utara. Banyak dari mereka yang memiliki daun spektakuler, berwarna-warni, mencolok, dan sangat mengesankan.

Di Inggris, tinggi air 2—3 cm dari dasar pot sarracenia

Keistimewaan Bunga Sarracenia

Di samping warna daun yang spektakuler, sarracenia juga punya 2 daya tarik lain. Daunnya memproduksi nektar yang mengeluarkan aroma manis seperti madu. Selain itu, kemampuan sarracenia menjebak serangga bisa bermanfaat untuk mengendalikan populasi lalat, tawon, dan lebah.

Budidaya dan konservasi sarracenia sangat penting dilakukan karena tingkat kerusakan habitat aslinya sangat mengkhawatirkan. Diperkirakan hanya 2,5% habitat asli sarracenia di Amerika Serikat yang masih terawat baik dan sisanya terancam rusak. Kerusakan umumnya dikarenakan kekeringan buatan pada areal basah, pemadaman api buatan dan juga aktivitas kehutanan secara komersial.

Sementara ini memang belum ada jenis sarracenia yang punah di alam liar. Dua jenis terdaftar dalam CITES appendix 1 sebagai tanaman yang dalam keadaan bahaya. Sisanya, 6 spesies, keberadaannya semakin langka di alam. Namun, dengan membudidayakan sarracenia, diharapkan tanaman berdaun terompet itu bisa terus bertahan dan berkembang hingga masa yang akan datang.

Selasa, 16 Juli 2019

no image

Pehobiis Berhasil Memijahkan Fresh Water Butterfly Fish

Pantodon buchholzi memang istimewa. Ia dapat membentangkan sirip dada yang seperti sayap saat hendak meloncat. Kemampuan meloncatnya hingga setinggi 2 m. Kebiasaan meloncat itu lebih untuk menghindar dari musuh dan menyambar mangsa.

Ikan terbang dewasa dapat mencapai ukuran 10 cm. Sifat ikan bercorak abu-abu atau biru itu senang berenang di permukaan. Pectoral yang tampak seperti sayap kupu-kupu itu membantu ikan terbang dalam posisi mengambang. Keadaan siap melompat untuk menyambar mangsa. Ekor bawahnya tampak lebih panjang, untuk mengatur kecepatan berenang saat ia akan meloncat. Hingga kini telur ikan terbang banyak diburu karena harga jualnya lebih tinggi daripada harga ikan itu sendiri.

Fresh Water Butterfly Fish

Syarat hidup

“Ikan terbang tidak perlu perlakuan khusus,” ujar Ong Eng  Mampu terbang 100 m/10 detik Hiong, hobiis di Serpong, Jakarta Barat. Ikan kupu-kupu Afrika itu dapat dipelihara di akuarium dengan sedikit air. Ia pun tidak rewel soal pakan. Cacing dan serangga merupakan menu utama.

Meski demikian ikan terbang termasuk predator bagi ikan-ikan berukuran kecil. Sebab itu ia disarankan tidak dicampur dengan ikan lain yang mempunyai sifat hidup di permukaan air. Gerakan-gerakan ikan lain cenderung akan mengganggu instingnya “Kupu-kupu air itu cocok disatukan dengan ikan yang berenang di bagian tengah dan bawah air,” ungkap Ayung—panggilan akrab Ong Eng Hiong.

Agar bertahan hidup ikan terbang perlu suasana tenang. Ia menyukai air ber-pH agak masam kurang dari 6,5. Filtrasi melalui peat sangat disarankan agar kebersihan air terus terjaga. Karena kebiasaan “terbang”, pemberian tanaman air dalam akuarium akan membantu mengurangi kebiasaan itu. Meski demikian perlu tetap menyediakan area yang terbebas dari tanaman agar ikan leluasa berenang.

Tanaman air akan melindunginya dari stres berlebihan. Ia akan mudah bertelur di tempat rimbun. Akuarium pun harus dilengkapi penutup. Tingkat pencahayaan tidak terlalu terang, lantaran ia menyukai suasana cenderung gelap. Itu lantaran sifat hidupnya yang nocturnal sehingga gesit pada suasana redup. Temperatur yang normal 25—28°C sangat kondusif untuknya.

Tidak kanibal

Ikan terbang dapat dipijahkan secara massal dalam bak plastik memakai aerasi. Induk jantan dan betina yang siap pijah berukuran 7—8 cm berumur minimal 1 tahun. Sirip anal ikan jantan melengkung dengan tubuh ramping, betina lurus dengan perut melebar. Akuarium tempat pemijahan sebaiknya dilengkapi filter dan penutup.

Air dalam akuarium maksimal 2/3 dari seluruh ketinggian untuk menghindari ikan meloncat. Butterfly fish itu akan bertelur secara bertahap. Proses bertelurnya memakan waktu hingga berhari-hari. Membidani kelahiran ikan terbang tak perlu repot. Ikan itu tidak kanibal sehingga tak harus khawatir bila terlambat melakukan seleksi. Seleksi dilakukan untuk mengontrol pertumbuhan ikan agar seragam.

Bila telur sudah tampak keluar masukkan mereka ke dalam wadah khusus yang telah diberi obat anticendawan. Telur ditempatkan dalam wadah hingga menetas dalam waktu 3 hari. Setelah cadangan makanan atau yolk habis, burayak dapat diberi pakan bubuk waktu sore atau ketika suasana redup sebanyak setengah sendok teh