--> Archive for ikan koi Budidaya tani: ikan koi - All Post
Tampilkan postingan dengan label ikan koi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ikan koi. Tampilkan semua postingan

Senin, 15 Juli 2019

no image

Raup Jutaan Rupiah Perbulan Dari Budidaya Ikan Koi

Apalagi kalau bukan tentang sosok pujaan. Sejak dulu koi memang lekat di hatinya. Tak heran bila dering ringtone yang berasal dari seorang calon pembeli koi serius itu tak segan ia acuhkan. Kembali ke Jakarta hari itu bagi Soegianto dianggapnya pengorbanan yang tak seberapa dibanding cintanya pada koi dengan segala tetek bengek-nya..

Obrolan dengan calon pembeli hari itu ia layani dengan senyumnya yang jenaka. Diselingi dengan tawa, beragam pertanyaan seputar budidaya ikan koi ia jawab dengan senang hati. Meski sang klien pada akhirnya memutuskan tak jadi membeli, rasa kecewa sedikit pun tak ada di hati pria berbadan tegap itu.

“Urusan koi tetap nomor satu,” tuturnya. Bahkan rekan-rekan kantornya di PT Alfa Abadi Industri memakluminya. Memang koi adalah segala-galanya bagi Soegianto. Itu bukan sekadar omong. budidayatani membuktikannya ketika berkunjung ke rumahnya di Bilangan Taman Modern Cakung, Jakarta Timur. Kamis siang yang terik itu, hampir 3 jam ia habiskan untuk budidayatani. Puluhan kali ponselnya berdering, tapi sekalipun tak dijawab. Padahal itu panggilan dari kantor. Dengan senyumnya yang khas ia ngotot untuk menyelesaikan ngobrol dengan budidayatani.

Budidaya Ikan Koi
Koi lokal juga bisa berukuran jumbo

Koi lokal

Lima ratus koi menghuni sejumlah kolam berbagai ukuran di samping dan belakang rumahnya. Kohaku, shiro utsuri, showa, dan sanke yang tengah hilir-mudik tampak prima. Warnanya cerah dengan pattern yang sangat tegas. Mungkin sebagian orang tak akan menyangka bila koi-koi miliknya adalah koi lokal.

Koi koleksi Soegianto tak menunjukkan perbedaan fisik yang j nyata dengan koi-koi hasil introduksi Jepang. Kohaku ukuran 70 cm, misalnya, bertubuh proporsional dengan warna putih, seputih salju.

Menurut Soegianto koi lokal bisa sama seperti koi impor.Ukuran pun bukan lagi menjadi masalah. Koi lokal tumbuh hingga berukuran jumbo tanpa pudar warna kini kerap terjadi. Salah satu rekannya di S unter, Jakarta Utara, dalam waktu 18 bulan koi lokal koleksinya bisa mencapai panjang 68 cm dari semula 20 cm.

Kontes yang menjadi ajang pembuktian kesaktian koi lokal pun mulai terungkap. Kerap koi lokal menyabet predikat bergengsi di beberapa even internasional di ZNA (Zen Nippon Airinkai) dengan juri asal Jepang. Susui kebanggaan Soegianto, misalnya, dinobatkan sebagai juara I di kelasnya pada 2001 di TMII (Taman Mini Indonesia Indah), Cibubur. Ia mengalahkan beberapa saingannya yang notabene koi-koi impor.

Omset Hingga Ratusan juta

Permasalahan pelik dalam mengembangkan bisnis budidaya ikan koi lokal yang tidak berkembang adalah karena citra negatifnya. ‘Masyarakat sudah terlanjur menilai kualitas koi lokal rendah,” ujarnya getir. Persepsi koi impor lebih segala-galanya dibandingkan dengan lokal menurutnya demikian sulit diperbaiki. Citra tidak bisa tumbuh besar, pudar warna, dan sulit menang di kontes rupanya telah mendarah daging dalam masyarakat.

Karena itulah Soegianto bertekad membuktikan persepsi itu salah. “Sejak awal saya memelihara koi lokal,” ujar Soegianto mantap. Pemilik Fei Koi Farm ini mengaku ratusan juta rupiah sudah ia cemplungkan demi mengubah citra ikan koi lokal. Kolam di Majalaya, Jawa Barat, yang ia bangun medio 2002 merupakan salah satu contoh. Tanpa segan Soegianto mendanai pembangunan kolam seluas 2 ha itu. Bahkan di rumahnya kini telah ada showroom dan kolam koi ukuran panjang 8 m, lebar 2,6 m dengan kedalaman 2,3m yang juga menelan dana ratusan juta rupiah.

Tanpa ragu ia menyatakan keinginannya untuk memajukan koi lokal di Indonesia. “Koi lokal bisa sebagus koi impor kalau diberi pakan berkualitas. Sebaliknya koi impor warnanya akan pudar dan tidak bisa mencapai ukuran jumbo bila pakannya murahan,” tutur ayah 3 putra itu. Dulu koi lokal tidak ada yang bagus karena menggunakan induk tak berkualitas. Sekarang induk berasal dari impor atau paling tidak turunan pertama.

Menurut penilaian Soegianto, koi-koi lokal yang diternakkan petani Blitar sudah bagus. Mereka disiplin dalam menjaga kualitas, sehingga permintaan impor pun berdatangan dari luar negeri seperti Malaysia. Hanya saja untuk mengembangkan lebih lanjut terbentur kendala pemasaran karena minimnya fasilitas.

Publikasi koi lokal belum segencar koi impor. Karena itulah pria kelahiran Bandung 37 tahun silam itu berjuang terus mengibarkan koi lokal. Ia buktikan dengan hanya menyediakan koi lokal di showroom-nya meski dengan risiko kurang laris. “Dari tahun ke tahun jumlah pelanggan kian meningkat,” ungkapnya.

koi lokal

Awal mula

Ketertarikan Soegianto pada Budidaya Ikan Koi berawal di satu pagi pada akhir 1994. Perjumpaannya dengan sosok susui dan tancho laksana besi dan magnet, tak ingin terpisahkan. Dua buah kolam di depan rumah akhirnya diisi sang pujaan.

Satu dua ekor rupanya tak cukup untuk memuaskan kecintaan itu. Akhirnya hingga 20 ekor dengan berbagai jenis ia datangkan sekaligus. Makin hari kedekatan dengan koi kian terasa. Rupanya rasa cinta telah tumbuh menjadi kebutuhan. Terlebih menyaksikan beberapa koi kesayangan tumbuh besar. Apalagi pada 1997 beberapa permintaan mulai berdatangan. Dari sinilah bisnis koi berawal, hingga kini ia dikenal sebagai penyedia koi lokal berkualitas.

Dari ratusan koleksinya, yang menurutnya istimewa susui dan tancho. Tak salah jika Soegianto menyenangi kedua sosok itu. Kedua ikan favoritnya itu memang unik. Tak seperti kohaku yang kaya warna, tancho hanya putih dengan mahkota merah di kepala. Sementara susui lebih mencolok daya tariknya di ring sekujur punggungnya, biru menawan.

Saking cintanya, tumbuh kejelian tersendiri saat memilih kedua jenis ikan itu. Dengan kejeliannya Soegianto berani menjamin susui dan tancho pilihannya pasti tak akan mengecewakan. Karena itulah kerap langganannya tanpa ragu membeli susui dan tancho di showroom-nya.. Dan inilah yang sering terjadi, persediaan susui dan tancho kosong.

cara budidaya ikan koi bagi pemula

Di kolamnya koi-koi lokal Soegianto tumbuh mempesona, tak kalah dengan koi impor. Rahasia dibalik itu berkutat di seputar pemberian pakan, perlakuan air, dan kolam yang dalam. “Perawatan harus benar-benar sama dengan impor kalau ingin dapat koi sebanding kualitas impor,” ulangnya. Menurutnya kedalaman kolam minimal 2 m, karena koi impor pun tak akan tumbuh baik bila dipelihara di kolam dangkal.

Sayangnya, para pemilik koi lokal merawat dengan teknologi budidaya ikan koi yang sangat minim sehingga hasilnya tak sebagus koi impor. Padahal, menurut Soegianto dengan koi lokal banyak rupiah yang bisa dihemat. Bayangkan untuk koi berukuran 18—20 cm kualitas kontes hanya perlu mengeluarkan Rp2-juta, sedangkan impor Rpl5-juta atau paling murah Rp8-juta.

Soegianto kini tengah belajar menatap harapan baru. Pengorbanan cintanya pada koi melahirkan asa citra koi lokal akan terangkat. “Kalau bukan kita yang mengangkat nasib koi lokal, lalu siapa lagi?” ujarnya. Penanaman akan rasa cinta pada produk sendiri ini menurutnya akan berdampak positif bagi kehidupan petani koi selain juga hemat devisa negara.

no image

Ikan koi kualitas super Dari Maruyama Koi Farm

Sangatlah Pantas hobiis di nusantara mengagumi showa maruyama. Ia termasuk ikan koi kualitas super dari golongan jawara langka. Pasalnya, pengalaman kontes menunjukkan 50% grand champion selalu direngkuh kohaku. Diikuti 30% sanke, dan 20% showa. Ketiganya termasuk gosanke, kelompok koi elit yang paling disukai hobiis. Prestasi showa menyabet gelar terbaik seolah menempatkan showa maruyama sebagai legendaris. “Saya sepakat dengan keputusan akhir juri. Akan sulit sekali menemukan showa dengan kualitas seperti sang grand champion dibanding untuk menemukan kohaku dengan kualitas sama,” kata alumnus Arsitektur Trisakti itu.

Menurut Datta, kualitas warna koi ternakkan Gengi Maruyama pemilik Maruyama Koi Farm itu sempurna. Putih solid dan merah cerah. Kiwa alias batas antarwarna juga  tegas. Pun pola warnanya ideal. Bila dibagi 3 bagian: depan, tengah, dan belakang masing-masing warna putih, merah, dan hitam terwakili. Ketika dibayangkan tanpa warna hitam, maka pola kohaku (merah pada putih, red) sangat harmonis dan selaras.

showa maruyama

 

ikan koi kualitas kontes

Tak hanya sang jawara yang naik pamor. Nama Maruyama Koi Farm pun menjulang. Banyak hobiis di Indonesia memburu koi yang diternak di Yamanashi, sebuah kota kecil di dekat pegunungan Fuji. Eric Jonathan misalnya, pemilik Nirwana Koi Centre itu kelimpungan menerima pesanan koi tangkaran Maruyama. “Baru datang saja sudah rebutan,” katanya. budidayatani melihat, showroom-nya. di Serpong, Tangerang ramai dikunjungi hobiis. Selain Maruyama, banyak farm lain yang lebih dahulu terdongkrak popularitasnya karena kontes pada tahun-tahun sebelumnya. Sebut saja, Isa, Matsuno Suke, Hosokai, dan Dainichi.

Menurut Eric, sejak kontes itu digelar pada 21—23 Januari 2005, ia mendatangkan sekitar 270 koi berumur 6—7 bulan. Sepuluh di antaranya jenis showa, 200 kohaku, dan 60 sanke. Harap mafhum, Eric satu-satunya hobiis di Indonesia yang datang langsung pada kontes yang digelar pascagempa Niigata itu. Sehabis menyaksikan lomba, ia banyak mendapat order ikan jawara.

Itu bukan omong kosong. Banyak hobiis mencari ikan koi untuk persiapan kontes 2nd All Indonesia Combined Koi Show 2018 yang digelar APKI pada 29 April 1 Mei 2018 di Hall C Jakarta Fair Kemayoran. Bila keduluan hobiis mancanegara, kelahiran Surabaya 48 tahun silam itu akan memboyong koi lain yang selubuk dan berkualitas setara. “Ada sekitar 15 yang siap kontes. Berumur 4 tahun dan berukuran 70—80 cm,” katanya.

Salah satu kolam di Maruyama Koi Farm

kualitas ikan koi yang baik Dari Farm terkenal

Sebetulnya nama Maruyama Koi Farm bukan kata yang asing bagi hobiis koi di Jepang dan mancanegara. Sejak 1967, Gengi Maruyama malang melintang menyilangkan koi berkualitas. Ia bersahabat baik seperti layaknya saudara kandung dengan Minoru Mano, presiden direktur Dainichi Koi Farm ketika itu.

Dainichi adalah farm budidaya ikan koi yang sangat terkenal di negeri Sakura. Tukar menukar ilmu dan pengalaman kerap mereka lakukan untuk meningkatkan kualitas koi. Kini keduanya dikenal sebagai dedengkot koi di Jepang.

Menurut Eric, selain pencetak showa berkualitas, Maruyama juga dikenal sebagai penghasil kohaku yang prima. Sebut saja kagura, ia dikenal sebagai kohaku legendaris jebolan Maruyama. Warna putih solid, merah cerah, dan kiwa yang tegas menjadi ciri khas kagura. Lantaran berkualitas, darah kagura kerap menurunkan jawara-jawara koi di kelasnya.

Prestasi Maruyama hampir mencapai puncak pada 1985, ketika itu Gengi berhasil menyilangkan turunan kagura dengan koi bongsor. Hasilnya, kohaku berkualitas dengan pertumbuhan pesat. Ia dikenal sebagai darah kagura beni.

Pantas saja Maruyama berhasil mencetak koi juara yang melegenda. Tangan dingin Gengi Maruyama dan Futoshi Maruyama putranya  memang didukung kolam luas dan fasilitas terbaik. Dua tahun lalu misalnya, farm itu memiliki 20 natural pond alias kolam alami. Bentuknya mirip danau yang maha luas.

Anakan koi ditempatkan pada 27 kolam khusus. Selain itu terdapat juga 5 rumah kolam dan 2 kolam pamer. Khusus untuk rumah kolam, sistem sirkulasi air dan filter dilengkapi peralatan otomatis yang modern.

Kamis, 06 Juni 2019

no image

Best Goldfish Contest

Siang itu pukul 12.00 penonton memadati pintu masuk gedung Balai Utari, Mandala Bhakti Wanitatama, Yogyakarta. 

Suasana tegang tampak menyelimuti wajah pemilik maskoki kampiun di kelas or anda senior, ryukin senior, ranchu senior, dan open. Ketegangan mulai mencair sejam kemudian saat kedua juri, Fartono dan Hariantono menunjuk kampiun kelas open milik Ferdinandes sebagai the best of the best Jogja Goldfish Contest 2018.

Blackmoor penghuni akuarium 313 itu pantas menyandang gelar grand champion. “Penampilan fisik nyaris sempurna. Punggung tinggi dan melengkung, bentuk tubuh proporsional, berwarna hitam solid, dan lincah.

Jarang ada ikan hias berukuran jumbo sebagus itu, “tutur Fartono, juri asal Jakarta. Sayang pada ekor ada sedikit strip merah dan mata agak kurang sehat. Namun itu bukan cacat sehingga tidak berpengaruh terhadap penilaian.

Perjalanan blackmoor menuju takhta tertinggi kontes nyaris teijegal kampiun ranchu senior. “Penampilannya tak kalah cantik, tapi bentuk tubuhnya kurang sempurna. Punggung kurang melengkung, mata kecil tertutup jambul pipi, dan bemper bawah kurang besar,” kata Fartono. Ikan milik Jopie Samiaji itu harus puas hanya sebagai jawara di kelasnya.

Pemenang grand champion louhan

 

Junior ketat

Meski tak berpeluang menggondol gelar grand champion pertarungan ketat justru berlangsung di kelas ryukin junior. Maklum maskoki yang turun di kelas itu bagus-bagus. Kedua juri terlihat    mondar-mandir mengamati penghuni akuarium 343 dan 341. Kedua ikan sama-sama berpenampilan prima. Namun pundak ikan milik Tropis itu agak “tertarik” ke belakang sehingga ia harus puas sebagai runner up.

Diskusi alot juga terjadi di kelas ranchu junior. Kelas itu menyedot peserta terbanyak hingga 22 ikan. “Kualitas ikan bagus,” ujar Hariantono, juri asal Jakarta. Bahkan maskoki tangkaran lokal ikut bertanding di kelas ranchu small. Itu revolusi besar, agar kelak tidak tergantung pada maskoki impor.

Jogja Goldfish Contest 2018 pada 22 Mei 2018 merupakan salah satu bagian acara Pet and Plant Exhibition 2018. Meski berbarengan dengan kontes serupa di Surabaya tidak membuat ajang itu sepi peserta. Itu dilihat dari jumlah peserta yang membludak hingga 140 ikan, target hanya 100 ikan.

Peserta datang dari Bandung, Jakarta, Temanggung, Semarang, Magelang, dan Yogyakarta. “Acara ini diadakan untuk memperkenalkan maskoki di Yogyakarta. Selain itu juga untuk menggairahkan lou han,” ujar Raymonda Panggabean, ketua panitia kontes. Di tempat yang sama juga digelar Jogja Louhan Contest 2004.

Cinhua berjaya

Meski lou han sepi peserta hanya 131, tapi persaingan antarkelas amat ketat, itu yang membuat penjurian molor 3 jam. Pasalnya juri kembali menilai ikan sebelum pengumuman. Tepat pukul 13.30 ketiga juri yang terdiri dari Rudi, Hadi, dan Fendi sepakat menobatkan kampiun cinhua A di takhta tertinggi kontes.

Lou han milik Beni itu memang tampil prima. Bentuk tubuh sempurna, nongnong bulat besar, ekor tegak dan mengembang. Gerakannya pun lincah. Walau demikian penghuni akuarium 87 memiliki kelemahan. Warnanya pucat dan marking kurang jelas.Cupang seru

Dua hari sebelumnya di tempat yang sama berlangsungnya adu kecantikan cupang. Lebih dari 100 betta dari Bandung, Garut, Temanggung, Pekalongan, Semarang, dan Yogyakarta bersaing memperebutkan gelar juara. Setelah melalui penilaian selama 6,5 jam, keempat juri yang terdiri dari Hermanus, Edi Sudrajat, Ever Tagoli, dan Hariadi menobatkan maskot senior sebagai grand champion.

Para grand champion

Bentuk tubuhnya paling rapi di antara 5 rivalnya. “Ekor sempurna, rapi, tegak, dan mengembang,” ujar Edi Sudrajat, juri asal Jakarta. Menurut Ever Tagoli, juri asal Bandung, jarang ikan berukuran sebesar itu rapi. Sayang warna tubuhnya pucat.

Pertarungan alot terjadi di kelas halfmoon yang menyedot peserta terbanyak hingga 24 ikan. Hermanus, juri asal Jakarta menunjuk betta di akuarium 137 milik Ricky Senjaya sebagai pemenang. “Bentuk tubuh ikan itu sempurna dan mentalnya bagus,” ujar Hermanus. Rivalnya di akuarium 157 sirip analnya kurang rapi sehingga ia harus puas di urutan kedua.

Rabu, 05 Juni 2019

no image

Kisah Sukses Para Pebisnis Ikan Koi Lokal

Dentangan jam dinding sebanyak 6 kali membangunkan Danny Adrianto dari lelap tidur. Bergegas ia menuju kolam mungil di samping rumah. Kedua bola mata bos karoseri Kijang itu tak puas-puasnya menatap ke arah kolam. 

Di sana puluhan kohaku, showa, dan tancho—semua produksi lokal—berukuran 40 — 60 cm meliuk menebar pesona. Sembari mengamati satu per satu koi kesayangan, sesekali tangannya menebar pelet.

Liukan koi lokal nan mempesona sudah dinikmati Danny sejak 2,5 tahun lalu. Ikan-ikan kesayangannya itu dipelihara sejak ukuran 15—20 cm. “Ada kenikmatan tersendiri melihat perkembangan ikan. Apalagi jika ikan jadi bagus,” ujar Danny. Kini koleksinya di kolam mungil berukuran 2,5 m x 2,5 m x 1,2 m itu mencapai lebih dari 30 ekor. Ia membeli kerabat ikan mas itu seharga Rp 1-juta—Rp2,5-juta per ekor. Jenis koi Gosanke mendominasi.

koi Gosanke

Berbeda dengan hobiis lain yang memilih koi impor, Danny justru menggandrungi koi lokal. “Dulu saya pelihara koi impor. Sekarang kualitas koi lokal sudah sama dengan impor,” ungkapnya. Meskipun begitu saat mulai mengoleksi koi lokal, Danny sempat dicemooh rekan-rekannya. Sebab selama ini koi lokal identik dengan kualitas rendah dan murah.

Bagaikan Istri kedua

Meski dicibir, pria 53 tahun itu bergeming. “Tidak. Koi lokal juga bagus-bagus. Apalagi jika perawatannya benar. Warna cerah dan bisa mencapai ukuran jumbo,” ujar Danny. Memang untuk mendapatkan koi lokal berkualitas perlu kejelian saat memilih. Buktinya kohaku koleksinya berukuran 60 cm dan berpola seimbang. Warna merah serta putih tampak cemerlang.

Untuk memperoleh koi lokal bermutu relatif sulit.Hasil survei Danny ke pusat-pusat ikan hias di pelosok Jakarta hanya beberapa kios yang menyediakan koi lokal berkualitas. “Kebanyakan yang dijajakan koi lokal kelas C,” ujar ayah 4 anak itu. Makanya meski kurang srek kadang-kadang Danny tetap membeli beberapa ikan yang kisaran harganya Rpl50-ribu—Rp200-ribu per ekor berukuran 20 cm.

Danny baru bisa menemukan koi lokal berkualitas setelah berkenalan dengan Soegianto, pemilik Fei Koi Centre. “Di sana koi lokal bagus-bagus,” ucap Danny, tanpa bermaksud mempromosikan langganannya itu. Sejak itu satu per satu koleksinya bertambah. Setiap Sabtu dan Ahad Danny rutin menyambangi kolam milik Soegi sapaan Soegianto di Cakung, Jakarta Timur,walau sekadar untuk melihat.

Andai menemukan koi bagus, tanpa pikir panjang ikan itu langsung diboyong. Kegiatan berburu koi lokal dilakukan Danny di sela-sela kesibukannya di kantor. “Kadang ada yang menawarkan koi lewat pesan singkat di telepon genggam.

Jika bagus saya langsung meluncur ke sasaran agar tidak didahului hobiis lain. Maklum penggemar koi lokal di Jakarta juga banyak,” papar penggemar bulutangkis itu. Berburu koi ke Blitar, Jawa Timur, pun dilakoni Danny, minimal 2 bulan sekali.

Untuk perawatan koleksinya Danny tak sembarang menyerahkan ke pegawainya. Ukuran kolam yang sangat kecil dan filterisasi sederhana memaksa pergantian air sering dilakukan. Sehari 2 kali air diganti sebanyak 10%. Untuk menjaga kebersihan dasar kolam, Danny tak sungkan masuk ke kolam. Koi-koi itu tak ubahnya istri kedua bagi jma penggemar bonsai itu.

Kecintaan Danny pada koi sebenarnya sudah berlangsung 10 tahun silam. Koi-koi impor yang dulu dipilih mencapai 100 ekor yang dibeli Rp 1 -juta—Rp7-juta/ekor. Sayang wabah herpes yang merebak memusnahkan seluruh koleksinya. “Sejak itu saya trauma memelihara koi. Kolam pun dibiarkan kosong selama 3 bulan,” keluhnya. Ketertarikan pada koi lokal dimulai saat melihat kohaku tangkaran Blitar di sebuah ruang pamer.

Prospek Bisnis Ikan Koi Lokal

Yang juga gandrung koi lokal adalah Effendi Gomaidy. Ia tak segan-segan membangun kolam di dalam rumahnya nan megah di bilangan Jatinegara, Jakarta Timur. Kolam berukuran 23 m x 5 m x 1,5 m itu diisi 40 koi lokal berukuran jumbo. Satu di antaranya shiro utsuri berukuran 65 cm yang pernah menjadi juara ke-4 di ZNA Koi Show 2003, Jakarta.

Delapan tahun silam pengusaha pakaian anak itu hanya mengoleksi koi-koi impor. Jumlah koleksinya saat itu lebih dari 100 ekor, masing-masing berharga Rp 1-juta—Rp5-juta. Sayang ikan kebanggaannya itu ludes akibat serangan virus herpes pada 2000. Alumnus Universitas Trisakti itupun memutuskan berhenti memelihara koi. Kolam pun dibongkar.

Lewat rekannya sesama kolektor koi, Effendi dikenalkan dengan koi lokal. Melihat pattern keluar dan bentuk tubuh bagus ia pun tertarik memelihara seekor. Koi lokal pertama yang dikoleksi jenis kohaku. Ikan berukuran 20 cm itu dibeli dari salah satu toko ikan hias di Jakarta Pusat. Celakanya mutu kurang bagus.15 cm. “Jika membeli koi impor paling banter cuma dapat kelas C,” ujar Efendi. Setelah dirawat sebulan ikan itu membesar dan corak makin ngejreng. Effendi pun ketagihan mengumpulkan koi-koi lokal.

Koleksi koi-koi lokal Effendi kerap ditawar sesama hobiis. Asal bukan ikan kesayangan, Effendi rela melepas. Itu yang menginspirasi pria kelahiran Jakarta 30 tahun silam itu untuk mengembangkan koi lokal. Kini ia giat mengumpulkan koi lokal untuk dijadikan indukan. Effendi optimis pamor koi lokal bisa terangkat seperti impor.

Karena penasaran ingin memelihara koi lokal berkualitas, bungsu 2 bersaudara itu kemudian menelusuri toko-toko ikan di seluruh Jakarta. Akhirnya dari rekannya ia memperoleh koi lokal bermutu. Ikan itu ditebus dengan harga Rp 1-juta ukuran