Tampilkan postingan dengan label jeruk. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jeruk. Tampilkan semua postingan

Senin, 19 Oktober 2020

Panen Jeruk Siem di Ranah Minang

Panen Jeruk Siem di Ranah Minang

Siang itu matahari hampir di atas kepala. Seorang pekerja masih gesit memetik jeruk siem dari pohon setinggi 2,5 m. Hasil panen langsung masuk ke dalam tas terbuat dari anyaman pandan yang tersampir di pundak. Begitu tas penuh, buah dikumpulkan di gudang dekat pintu masuk kebun. Menjelang pukul 14.00 satu per satu pedagang keliling bersepeda motor datang mengambil bagian.

BudidayaTani mencicipi buah seukuran bola tenis berwarna hijau mengkilap dengan sedikit semburat kuning. Rasanya manis dan segar. Daging yang oranye terang berair banyak.

Itu dipanen dari kebun di lahan gambut di Ulakantapakis, Padangpariaman, Sumatera Barat. Ciri khas tanah gambut berwarna hitam dengan sisa-sisa tanaman yang lamban hancur jelas terlihat. Tanah seperti itu identik dengan kemasaman rendah sehingga tidak cocok ditanami. Struktur tanah tidak stabil membuat posisi tanaman berubah bila ada genangan atau dorongan air karena hujan. Lagipula ia miskin unsur hara terutama unsur mikro.

Teknik Cuci tanah

Toh, jeruk di kebun milik Endri Yadi seluas 5 ha itu tumbuh subur. Semua berjajar rapi dalam baris tanam 5 m x 5 m. Cabang-cabang tanaman berumur 9 tahun itu digelayuti buah siap panen.

Kunci keberhasilan penanaman Jeruk di lahan gambut sebenarnya pada penataan air,” tutur Eri sapaan Endri Yadi. Tanah gambut biasanya memang berlebihan air. Bila lahan ditanami, akar tanaman terendam sehingga pertumbuhan terhambat. Kondisi itu menyebabkan rambutan di lahan gambut di Tanjungselor, Bulungan, Kalimantan Timur, mati pucuk karena akar terendam.

Makanya sebelum ditanami lahan mesti “dicuci” dulu. Maksudnya lahan dibebaskan dari air berlebihan itu. Eri membuat parit-parit drainase di antara baris tanaman. Parit-parit berkedalaman 1 m itu bermuara pada kanal besar. Setelah parit digali, tanah dibiarkan selama setahun hingga kering. Parit-parit itu juga berfungsi sebagai saluran pembuangan bila ada kelebihan air.

Setelah lahan kering, kapur pertanian (dolomit) dibenamkan di lubang tanam untuk memperbaiki keasaman tanah. Dosis 5—10 kg per lubang tanam. Perlakuan itu diulang setiap tahun dengan penambahan dosis 5 kg per tahun diberikan di bawah tajuk. Untuk menambah ketersediaan unsur hara, 50 kg pupuk kandang dimasukkan ke dalam lubang tanam pada saat penanaman. Setiap tahun pupuk ditambah dengan kelipatan dosis awal. Supaya struktur tanah lebih mantap ditanam sejenis tanaman merambat sebagai covercrop.

Jeruk
Jeruk Manis

Untung Besar Dari Buah Jeruk

Hasilnya, kini setiap hari saat panen raya Maret—Mei dan Juli—Oktober, Eri memanen 5 ton dari 5 ha lahan. Sebagian besar dibeli para pedagang keliling bersepeda motor. Minimal ada 30 pedagang bermotor yang jadi pelanggan saijana ekonomi itu. Sekali angkut mereka membawa 70 kg buah. Jeruk dijajakan di seputaran Padangpariaman, Bukittinggi, hingga ke Padang. Sisanya dikirim ke pasar induk Kramatjati, Jakarta Timur, setiap 3 hari sebanyak 3 ton. “Pernah juga dipasarkan ke Malaysia. Sayang pembayarannya sulit,” ujar pria berkacamata itu.

Hasil panen disortir menjadi 4 kelas. Sebanyak 50% masuk kelas A—disebut tiger, biasanya 1 kg isi 6 buah. Kelas B 40%, berisi 8—10 buah per kg. Sisanya masuk C dan D. Perbedaan harga antar kelas Rp250 per kg, kecuali kelas D yang hanya setengah dari harga A. Waktu BudidayaTani berkunjung pada akhir Juni harga di tingkat pekebun Rp3.000 per kg untuk kelas A. Nilai jual itu merosot hingga Rp 1.500 bila buah musiman seperti rambutan dan duku masuk pasar.

Toh, dengan harga seperti itu pun pekebun masih menuai laba. Eri menghitung, biaya produksi per tanaman Rp 100.000 hingga panen pada umur 3 tahun. Dengan asumsi pada tahun ke-4 produksi buah stabil 150—200 kg per tanaman diperoleh pendapatan minimal Rp200.000. Artinya modal sudah tertutup. Tahun berikutnya petani tinggal menghitung untung karena biaya perawatan relatif murah, hanya Rp20.000—Rp30.000 per tanaman per tahun.

Tak heran bila langkah Eri diikuti petani di sekitar—pun di lahan gambut. “Padahal dulu lokasi itu penuh semak belukar yang menurut perkiraan tak mungkin ditanami,” ujar Batriwal Nazar, staf Dinas Pertanian Kabupaten Padangpariaman yang menemani BudidayaTani. Kini tercatat 300 ha lahan sudah ditanami—semua di Desa Tapakis Barat. Sebanyak 158,5 ha berisi tanaman berumur 7—8 tahun memasuki tahun ke-3 produksi. Keberhasilan itu dilirik penduduk di desa tetangga, Tapakis Timur. Hingga akhir 2003 ada 80 ha lahan siap ditanami bibit.

Berhaji Dari jeruk

Kalau Padangpariaman terbilang pendatang baru, Pasaman sudah lebih dulu dikenal sebagai sentra jeruk Sumatera Barat. Di sana sentra penanaman tersebar di Kecamatan Kinali, Pasaman, Lembahmelintang, dan Sungaiberemas. Semua terletak di daerah Pasaman Barat. Penanaman terluas di Kecamatan Pasaman mencapai 1.100 ha. Itu milik para petani dengan rata-rata kepemilikan lahan 1 ha per orang setara 400 tanaman.

BudidayaTani sempat menyusuri sentra penanaman di Lembahmelintang. Di kiri dan kanan jalan terlihat pohon-pohon setinggi 2—3 m dihiasi buah muda seukuran bola pingpong. Di depan kebun persis di tepi jalan terlihat lapak-lapak kosong beratap rumbia atau seng.

Bila musim panen tiba jeruk asal kebun-kebun di sekitar memenuhi kios-kios itu “Empat tahun belakangan pengembangan meluas ke arah timur,” tutur Emmi Sudarti, Kasie Perlindungan Hortikultura Dinas Tanaman Pangan dan Peternakan Kabupaten Pasaman. Sebut saja Kecamatan Tigonagari, Panti, dan Lubuksikaping. Momok Citrus Vein Phloem Degeneration (CVPD) yang sempat meluluhlantakkan penanaman jeruk di sentra produksi Kabupaten Agam tak diindahkan.

Rupanya kisah sukses pekebun jeruk di Pasaman Barat terlampau sayang bila dilewatkan. Banyak petani menunaikan ibadah haji gara-gara laba dari tanaman anggota famili Rutaceae itu. Rumah tembok bergaya modern bukan pula barang langka. Supaya CVPD enggan mendekati, bibit bersertifikat dan budidaya memadai jadi syarat wajib penanaman.

Pasokan Jeruk
Pasokan Jeruk Dari pasaraman ke jakarta hingga singapura

Ekspor ke Singapura

Dari kebun, jeruk diborong pengepul yang memasok pedagang di pasar lokal Sumatera Barat, Pekanbaru, dan Lampung. “Ada juga yang dikirim ke Batam tapi melalui eksportir di Solok. Dari Batam dikirim lagi sampai ke Singapura,” papar Emmi. Pengiriman paling banyak untuk Lampung, mencapai 60%.

Oleh para pedagang di Lampung buah disortir sesuai kelas dan dikemas dalam kotak-kotak berisi 25 kg—cara ini mulai ditiru pengepul di Pasaman. Dari provinsi paling selatan di Sumatera itu jeruk dilempar ke Jakarta. Nah, kalau Anda ingin mencicipi kelezatannya, datang saja ke pasar induk Kramatjati, Jakarta Timur. Di sana ia beken disebut jeruk ujunggading nama salah satu desa di Kecamatan Lembah melintang.

Si Mini Manis Sekali

Nun di ketinggian bukit di pelosok Kecamatan Danaukembar, Solok, ada jeruk mini nan istimewa. Sosoknya mirip jeruk berukuran kecil asal cina yang kerap dijajakan dalam jaring plastik di pasar swalayan. Kulit berwarna kuning terang dan mengkilap, daging oranye, manis, dan berair banyak.

Menurut Drs M Jawal Anwaruddin, MS, peneliti pada Balai Penelitian Tanaman Buah Solok, ia termasuk jeruk siem. Walaupun beberapa karakter, seperti warna kulit oranye mirip keprok. Jeruk itu warisan orang tua Nila Zahara pemilik 30-an pohon. Bibitnya diperoleh dari Bangkinang, Riau.

Di daerah asal sosok sebesar siem normal.Waktu ditanam di kebun di Dusun Gurundatar, Desa Sungaisirah, Kecamatan Danaukembar, ia berubah wujud. Buah jadi lebih mini, warna kulit oranye, dan daging manis. Diduga itu karena perbedaan kondisi tanah. Lantaran keistimewaan itu setiap kali mengadakan hajatan Ny Gamawan Fauzi—istri bupati Solok—pasti memesan si mini itu.

Senin, 20 April 2020

Analisis Usaha Perkebunan jeruk siam

Analisis Usaha Perkebunan jeruk siam

Waktu Budidaya Tani berkunjung pada akhir Maret, dahan pohon-pohon jeruk siam di kebun itu terlihat doyong ke bawah lantaran sarat buah. Satu tangkai digelayuti 5-8 bulatan berwarna hijau tua. Beberapa pohon malah disesaki buah hijau kekuningan, siap dipanen. Meski panen raya jatuh pada Juli dan Desember, tanaman hampir tak berhenti berbuah.

 

Perkebunan jeruk siam

Budidaya Tani mencicipi siem yang dipetik dari tanaman yang bibitnya didatangkan dari Malang. Rasanya manis sekali. Kadar air pun banyak. Puluhan buah menggelayuti masing-masing pohon berumur 2,5 tahun.

Kualitas Jeruk Siam yang Diminta Pasar

Jeruk siam sebenarnya sudah bisa dibuahkan pada umur 1,5 tahun tapi tanaman belum cukup dewasa. Makanya buah-buah sebelumnya dirompes untuk memacu pertumbuhan vegetatif. Ir Hendrik Virgilius, MS, pengelola kebun memprediksi saat panen dituai 25 kg per pohon. 

“Kelihatannya sedikit ya? Tapi jeruk itu aneh, kalau dilihat sepertinya buah sedikit, begitu dipanen baru terlihat banyak,” kata Hendrik sambil menunjuk pohon-pohon di sekelilingnya.

Berdasarkan pengalaman membuahkan siem tebas, produksi naik rata-rata 50 kg per pohon per panen. Master bidang agronomi dari Institut Pertanian Bogor itu tak sekadar berhitung di atas kertas. Pada panen raya Desember ia menuai 35-40 keranjang per hari. Satu keranjang berisi 55—65 kg siem yang dipanen dari 2.121 pohon berumur 4 tahun.

Tak melulu kuantitas, kualitas buah yang dihasilkan pun prima. Sekitar 60-85% hasil panen masuk kelas A dan B. Itu berarti setiap kilogram berisi 4-5 buah berpenampilan mulus. Sisanya masuk kelas C dan D. Dari masing-masing kelas itu diperoleh peningkatan harga Rp 1.000 per kelas.

Perawatan Harus intensif

Wajar saja hasil panen jeruk siam dari kebun terletak di dekat lokasi wisata Bukit Bugenvil itu prima. Tanaman asal bibit tempel yang ditanam dengan jarak 5 m x 5 m dirawat secara intensif. 

Tanah disekitar pohon bebas rumput ilalang yang kerap menjadi kompetitor mendapatkan hara. Rumput sedikit “dibiarkan” ketika musim kemarau untuk menjaga kelembapan tanah.

Sambil membersihkan rumput, piringan tanah berdiameter 1 m dirapikan dengan cara menaikkan bumbunan. Itu mudah dilakukan lantaran Hendrik menerapkan sistem pembagian kerja per blok. Satu blok terdiri atas 400 pohon menjadi tanggung jawab satu pekerja. 

Untuk memasok kebutuhan air, dibangun instalasi penyiraman. Pipa-pia PVC ditanam di dalam tanah untuk mengalirkan air dari sungai di dekat kebun.

Setiap 4 bulan dibenamkan 400 g pupuk NPK per pohon. Sebanyak 4-5 kg bokashi terbuat dari jerami padi disebarkan di piringan tanah 2 kali setahun. Bokashi kaya asam amino yang membuat buah lebih manis. 

Lagipula warna daging lebih menarik dan kulit mudah dikupas. Kondisi tanah yang kurang “bersahabat”  podzolik merah kuning dengan topsoil hanya 10-12 cm membutuhkan banyak bahan organik.

Selang 2 minggu kemudian perangsang bunga Nutrifam AG dan perekat pupuk APS A disemprotkan. Dosis pemakaian 0,5 cc Nutrifam dan 1/8 cc APSA per liter air. 

Belakangan Hendrik juga menggunakan perangsang tumbuh Novelgro. Hasilnya, tanaman jeruk siam tumbuh sehat terlihat dari daun yang hijau mengkilap dan berbuah lebat.

Biasanya 2 minggu setelah penyemprotan pupuk perangsang, bunga berwarna putih muncul serempak. Persentase fruitset pun lebih tinggi. “Memang tidak ada data kuantitaf, tapi itu bisa digambarkan dengan hasil panen pertama yang bisa mencapai 30 kg perpohon,” ujar kelahiran Bandung 13 September 1950 itu.

Analisis Perkebunan jeruk siam
Perkebunan Jeruk

Banyak jenis Dan Varietas

Kini dari total populasi 6.000 tanaman, baru 2.121 pohon berproduksi. Sisanya masih berupa tanaman muda. Penanaman bertahap lantaran sulit mendapatkan bibit dalam jumlah besar. Di kebun itu ditanam siem tebas asal penangkar lokal Kalimantan Barat dan Malang. 

Selain itu terdapat 330 tanaman siem madu dari Malaysia dan siem landbow berkulit tebal dengan rasa sedikit getir ketika baru dipetik. Masing-masing jenis ditanam dalam blok terpisah untuk menghindari penyerbukan silang.

Kebun yang merupakan perkongsian beberapa orang itu juga mengoleksi beragam jenis keprok. Contoh densi yang memiliki 6 variasi. Keistimewaan densi,warna kulit kuning kejinggaan kala matang dan mengeluarkan aroma harum. Uniknya ia justru enak disantap kala kulit masih kehijauan. Daging lembut dan berair dengan citarasa sedikit asam. Bila terlalu matang, kandungan air tinggal sedikit dan daging ngapas.

Ancaman Citrus Vein Phloem Degeneration (CVPD) yang sempat menjadi momok tak membuat gentar. “Yang penting tindakan preventif dengan cara budidaya yang sehat,” kata ayah 4 anak itu. Apalagi bibit yang digunakan bersertifikat. Secara berkala seluruh tanaman dikontrol untuk mendeteksi kehadiran CVPD. Bila ada tanaman terserang, segera dimusnahkan dengan cara dibakar sebelum penyakir menyebar.

Nilai Ekonomis budidaya jeruk

Ternyata pilihannya tak salah. Setiap musim panen tiada hari tanpa kegiatan memetik buah. Jeruk-jeruk yang sudah dipisahkan di lahan berdasarkan kelas dikirim kepada para pedagang yang antre meminta jatah pasokan. Dari hasil panen itu, “Sejak setahun terakhir saya tidak pernah lagi minta uang pada pemegang saham,” tutur Hendrik.

Hasil penjualan 1,5 kali panen sanggup menutup biaya operasional perawatan tanaman dan gaji karyawan setiap bulan. Pria yang besar di Palembang itu meghitung setelah 2 tahun panen atau tanaman mencapai umur 4 tahun titik impas dicapai. Di Desa Pangilang, jeruk siem memang terasa manis.

Selasa, 16 Juli 2019

no image

Percantik Dan Meningkatkan Nilai Ekonomis Buah Hasil Panen Dengan Proses Degreening

Kebun Hendi Munawar di Kampung Cimencek, Desa Cintaasih, Samarang, Garut, itu memang letaknya tak terlalu tinggi, hanya sekitar 500 m dpi. Pantas saja penampilan keprok garutnya yang bergelantungan di 1.000 pohon tak begitu menarik. Warnanya hijau. Sungguh jauh berbeda dengan tampilan keprok soe yang tumbuh di ketinggian sekitar 1.050 m dpi di Desa Tobu, Kecamatan Molo Selatan, Kabupaten Timor Tengah Selatan.

Di Malang ada keprok batu 55, atau keprok payatumpi yang tumbuh di ketinggian 1.200 m dpi di Takengon, Aceh Selatan.

Gas etilen

Asornya penampilan kulit buah jeruk itu diatasi oleh Hendi Munawar dengan karbit. Ya, karbit memang telah lama digunakan secara tradisional untuk memacu kematangan buah. Efektivitasnya hanya seperseratus jika dibandingkan etilen. Siapa sangka selain pemacu kematangan, gas asetilen yang dihasilkan dari karbit juga bermanfaat untuk menghilangkan warna hijau.

Gas asetilen pada proses penguningan buah jeruk akan merangsang pembentukan gas etilen dalam sel. Gas etilen merombak klorofil pada kulit jeruk dan mensintesis pigmen karotenoid. Aktivitas perombakan tersebut hanya terjadi pada lapisan sub-epidermal kulit buah. Hasilnya kulit buah yang semula hijau berubah jadi jingga tanpa mengubah rasa buah.

Hal itu dibuktikan oleh Dr Mohamad Soedibyo dan Ir Wisnu Broto, MS, peneliti di Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian di Bogor. Dalam penelitiannya pada 1992 Soedibyo menunjukkan degreening dengan menggunakan gas asetilen tidak mengubah nilai gizi jeruk. Sementara hasil penelitian Wisnu pada 1988, gas asetilen tidak mempengaruhi kadar gula total, kadar asam total, dan kadar vitamin C. Artinya, pemberian karbit hanya mengubah tampilan kulit jeruk dari hijau ke jingga tanpa mengubah rasa dan nilai gizi.

Tampilan Jadi Lebih Menarik

Degreening sebenarnya sudah sejak 20 tahun lalu diteliti di Indonesia. Namun, teknologi itu jarang diterapkan pekebun karena menambah biaya produksi. “Di luar negeri degreening telah lama dilakukan. Sebut saja Jepang, Cina, Pakistan, Australia, dan negara-negara di Eropa,” kata Prof Dr H. Roedhy Poerwanto, kepala Laboratorium Produksi Tanaman IPB.

Penerapan degreening akan menaikkan daya saing dengan jeruk impor yang berpenampilan menarik. Pekebun pun bisa memperoleh harga lebih tinggi karena, “Pastinya jeruk lokal lebih segar dibandingkan jeruk impor. Jeruk impor bisa saja hasil panen 3—4 bulan yang lalu. Ia tahan lama karena disimpan pada suhu rendah,” ujar Wisnu, kepala Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapenen Pertanian.

Hal itu juga diakui Deborah Herlina, peneliti di Balai Penelitian Tanaman Hias, Cipanas, Jawa Barat, yang juga hobi makan jeruk. “Ini baru jeruk. Rasanya segar, beda dengan jeruk impor yang banyak dijual di pasar swalayan,” kata Deborah ketika mencicipi jeruk medan yang baru dipetik dari pohon.

Buah harus Sudah Matang

Degreening bisa diterapkan pada semua jenis jeruk. Namun, lazimnya jenis jeruk keprok dan mandarin karena ketika didegreening warna cenderung jadi jingga. Beda dengan siem yang berubah jadi kuning. “Warna kuning umumnya tidak disukai konsumen karena buah dianggap sudah terlalu matang atau sudah lama dipanen,” kata Roedhy Poerwanto yang meraih gelar doktor dari Ehime University, Shikoku, Jepang.

Proses penguningan kulit buah itu tidak mempengaruhi kematangan buah. Oleh karena itu jeruk yang akan dikuningkan harus memiliki kematangan yang cukup sehingga kualitas rasanya baik: manis. Warna kuning sekurang-kurangnya 70%. Dengan begitu warna yang dihasilkan akan lebih menarik, jingga mengkilap. Bila kurang dari itu biasanya kuningnya pucat sehingga tak menarik, kata Wisnu.

Sementara menurut Ir Retno Pangestuti, peneliti di Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Tengah, jeruk yang masih berwarna hijau pun bisa didegreening dengan syarat sudah matang. Namun, biasanya semburat warna hijau yang digunakan 10—20%. Kalau kurang dari itu kekuningan buah dalam degreening tidak seragam, kecuali ada pemilihan buah sebelumnya. “Misal, jeruk yang kuningnya masih 5% disatukan dengan yang 5% juga. Jangan dicampur dengan yang kuningnya sudah 70%, “tambah alumnus Budidaya Pertanian, Universitas Gadjah Mada itu.

Proses Degreening
Proses Degreening

 

Proses Penguningan Buah Jeruk

Proses penguningan buah cukup sederhana. Cuci buah jeruk dengan air mengalir sehingga bersih dari debu yang menempel. Selanjutnya rendam dalam larutan Benlate 500 ppm selama 30—60 detik. Lalu susun jeruk dalam rak degreening tanpa dikeringkan terlebih dahulu. Tutup rak degreening dengan plastik film. Pastikan ujung-ujung plastik seluruhnya tercelup dalam bak air sehingga tak bocor.

Alirkan gas asetilen melalui selang karet ke dalam rak sebanyak 1—2 liter per m3 ruangan kosong selama 8 jam. Setelah waktu pemeraman tercapai, sungkup dibuka dan dibiarkan terbuka selama 30—60 menit. Tujuannya agar kadar CO2 dalam ruangan tidak terlalu tinggi sehingga tak menghambat proses degreening,” kata Retno.

Tutup kembali sungkup plastik tersebut, lalu alirkan lagi gas karbit seperti di atas. Ulangi terus perlakuan tersebut sampai kulit jeruk berwarna jingga merata. Menurut Wisnu dan Retno degreening biasanya memakan waktu 2 hari sampai warna buah benar-benar bagus.

Sabtu, 08 Juni 2019

no image

Kisah Sukses Mengembangkan Varietas Jeruk Unggulan Dijambi

Nun di pedalaman jambi, terbentang hamparan jeruk seluas 100 ha. Pohon setinggi 2—4 m berbaris rapi dengan jarak 4mx 5 m. Citrus nobilis itu disarati buah hijau kuning. Dua puluh tahun silam hanya semak belukar yang ada di sana. Berkat tangan dingin Abu Hairah hamparan perdu liar berubah menjadi lautan jeruk yang hijau.

Siang itu panas matahari menyengat bumi. Abu—demikian Abu Hairah biasa disapa—duduk di jok depan sebuah Suzuki Vitara hijau metalik. Tangannya lincah mengendalikan setir ketika kendaraan melewati jalan bertanah merah. Sesekali mobil terguncang ke kanan dan kiri begitu roda mendarat di lubang besar. Kubangan air yang diteijang memuncratkan percikan kecokelatan ke kaca depan.

Perjalanan Mitra Usaha Tani menyertai Abu dari pusat kota Jambi menuju kebun di Kumpeh, Muarosebo, Muarojambi, selama 1 jam itu nyaris membosankan. Maklum, pemandangan yang dilihat sepanjang perjalanan hanyalah semak belukar. Namun, semangat bangkit kembali begitu tiba di lokasi. Di sana terbentang deretan pohon setinggi 4 m disesaki buah sebesar bola tenis hijau kekuningan.

sang pelopor Budidaya Jeruk Dijambi

Agenda rutin

Minimal 2 kali seminggu Abu datang ke kebun. Hari-hari lain, mantan Direktur Direktorat Jenderal Hortikultura Departemen Pertanian itu berada di kantor yang bertempat di J1 Soemantri Brojonegoro, Jambi. Di sanalah ia memantau perkembangan BHA dari beberapa staf lapangan yang diteijunkan ke lokasi setiap hari.

Maklum yang dikelola tak hanya jeruk. BHA juga sukses mengembangkan beragam jenis rambutan, duku, mangga, dan durian. “Mangga lalijiwo atau durian matahari asal Bogor ada. Masyarakat di Jambi tak perlu pergi ke Jakarta bila ingin mencicipi buahnya,” kata alumnus Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor itu.

Perusahaan patungan bersama beberapa rekan yang dirintis sejak 1993 itu pun tidak kesulitan memasarkan hasil. Pedagang keliling di sekitar Jambi menjemput langsung ke kebun. Mereka memetik buah, menyortir, lalu menimbang sebelum buah pindah ke keranjang sepeda motor masing-masing pedagang. Harga disesuaikan kualitas buah.

Ketika musim raya April—Juni, jumlah pedagang mencapai 40 orang. Bila setiap orang membawa 50 kg, berarti sekitar 2 ton dituai. Sisa panen yang tidak diambil pedagang tak sempat dikirim ke luar daerah. “Hasil panen habis untuk kebutuhan konsumen lokal,” kata pria kelahiran Bone, Sulawesi Selatan, 26 Januari 1935 itu.

Perintis

Sukses Abu mengibarkan bendera BHA tak diraih sekejap mata. Boleh dibilang ia pionir penanaman jeruk skala besar di Jambi. Waktu Abu merintis kebun pada 1980— 1981, Citrus nobilis hanya tanaman pekarangan di rumah-rumah penduduk. Pria yang waktu itu menjabat Kepala Dinas Pertanian Provinsi Jambi memulai dengan membuka kebun seluas 5 ha di Tangkit, Jambi.

Jeruk menjadi pilihan lantaran Abu yakin prospeknya cerah. Bila rencana mengebunkan jeruk berhasil, kesuksesan itu ia ‘tularkan pada masyarakat setempat. Pilihan pada Jambi bukan semata-mata karena ia punya tanah di sana. Jambi dinilai sangat strategis. Dari sana ayah 6 anak itu bisa menembus Jakarta, Malaysia, dan Singapura. Peluang pasar lokal Jambi pun besar.Buat mantan Direktur Direktorat Bina Program Departemen Pertanian itu faktor lingkungan mendukung pengembangan usaha. “Yang terpenting adalah akses dan prospek pasar. Dengan modal cukup, tanah yang kurang baik tinggal di-w/? grade saja,” kata Abu.

Manisnya berkebun jeruk pun ia rasakan. Pada tahun ke-5 Abu stfdah menuai untung dari lahan seluas 5 ha. Keuntungan diinvestasikan dalam bentuk kebun baru seluas 15 ha. Meski siem dan keprok mendominasi, hampir semua jenis jeruk ada di sana sebagai tanaman koleksi. Di lahan tambahan Abu juga menanam durian, mangga, salak, sawo, dan lengkeng. Bila penanaman berhasil, komoditas-komoditas itu dikembangkan di kebun BHA. Misal, keprok batu yang hidup di dataran tinggi ternyata berbuah.(Tiga Varietas Jeruk Unggulan Nasional Hickson,Soe Dan Siem)

Pria yang tinggal di Kotabaru, Jambi, itu memang gemar bereksperimen. Dari percobaan itu ia menemukan pengaruh jarak tanam terhadap produktivitas buah. Ia menerapkan jarak tanam 4mx4m, 4mx3 m, dan 4 m x 5 m. “Ternyata yang bagus 4 m x 5 m,” ujarnya. Itu pula yang diterapkan di kebun BHA.

Varietas Unggulan

Banjir Pesanan

Namun, tak melulu madu yang dirasakan Abu. Keprok rentan serangan cendawan dibanding siem. Penyakit itu muncul ketika tanaman berbunga pada Juni dan Desember. Tahun silam 500 keprok mati dari total populasi 4.000 pohon mati serempak. “Hingga kini belum ada pestisida yang ampuh,” kata mantan aktivis organisasi HMI dan KAMI itu.

Batu sandungan tak hanya itu. Banjir besar Sungai Batanghari setahun silam meluluhlantakkan kebun BHA. Sekitar 20 ha jeruk umur produksi mati lantaran terendam air. Kematian pun menimpa 1.500 pohon durian berumur 4 tahun yang tersebar di areal 10 ha.

Gara-gara banjir akses jalan menuju lokasi putus. Untuk mengontrol kebun, Abu terpaksa menumpang kelotok— perahu kayu bermesin luar. Tak dinyana perahu rusak kala mantan Sekretaris Direktorat Jenderal Tanaman Pangan itu hendak kembali ke Jambi. “Terpaksa menginap semalam. Untung hari berikutnya ada perahu lain yang mau menolong,” kenang Abu.

Meski begitu onak dan duri itu tak menyurutkan langkah Abu. Tahun depan ia berencana menambah lagi luasan kebun pribadi menjadi 24 ha. Senyum bahagia pun tersungging di wajah lantaran masyarakat setempat berbondong-bondong ikut mengembangkan jeruk.

no image

Tiga Varietas Jeruk Unggulan Nasional Hickson,Soe Dan Siem

Jangan berpikiran macam-macam. Tiga angka di atas nomor peserta pemenang Lomba Buah Unggul Nasional 2018 untuk kategori jeruk. Dengan warna kulit jingga mulus dan rasa manis menyegarkan, soe asal Nusa Tenggara Timur menyisihkan keprok hickson, juga asal NTT, dan siam pamekasan di tempat ke-2 dan 3.

Dibandingkan peserta lain penampilan soe memang paling menarik. Buah matang penuh, melulu jingga tanpa warna hijau. Wajar, ketika tiba di meja panitia Lomba Buah Unggul Nasional pada akhir Mei 2003, mayoritas warga budidayatani langsung menjagokan keprok itu sebagai juara. “Penampilannya mampu menyaingi jeruk impor,” tutur Evy Syariefa, juri mewakili budidayatani.

Kulit yang cukup tebal, lentur, dan gampang dikupas. Di dalamnya terlihat daging kuning jingga mengundang selera. Saat dicicip, air memenuhi rongga mulut. Rasanya manis menyegarkan. Seratnya halus sehingga dapat ditelan langsung. Sayang, septa buah kecil sehingga membentuk ruang kosong cukup besar di tengah.

Jeruk Keprok soe, penampilan tak kalah dengan impor

Jeruk Keprok mandarin

Keprok peserta lomba nomor 37 itu dipetik dari pohon berumur 10 tahun di Togu, Mollo Utara. Lokasi berjarak sekitar 130 km dari Soe, ibukota Kabupaten Timor Tengah Selatan. Di sana soe merupakan tanaman lazim di pekarangan rumah (baca: Pemilihan Lahan Yang Potensial Untuk Bertani Jeruk).

Di ketinggian 800—1.000 m dpi yang kering lemon cina demikian penduduk setempat menyebutnya, tetap tumbuh baik dan berbuah lebat. “Kualitas jeruk di daerah ini lebih bagus ketimbang tempat lain karena tersedia sumber air. Selain kulit kuning jingga, buah lebih berisi,” tutur Iwan Setiawan, pelopor pengembangan jeruk soe kepada Dian Adijaya dari budidayatani saat berkunjung ke sana.

Produktivitas cukup tinggi mencapai 30—35 kg/pohon. Buah rata-rata berbobot 125 gram atau 8 buah/kg. Harga jual mencapai Rp8.000—Rp 10.000 per kg dikebun. Wajar masyarakat pun ramai-ramai menanam di halaman maupun kebun.

Menurut Irving Leaks, periset di Department of Plant Biochemistry Citrus Experiment University of California yang pemah meneliti di sana, jeruk soe termasuk keprok klan mandarin. Ciri keprok, mudah dikupas dan dimakan langsung. Mandarin berbentuk khas gepeng dan berwarna jingga. Jenis-jenis jeruk dari Cina lazimnya seperti ini.

Jeruk Kualitas Unggul Dari Daerah Marginal

 

Buah Introduksi Dari Australia

Sayang, jeruk istimewa itu masih sulit dicicipi penggemar di luar NTT. Soe habis terjual di kebun untuk kemudian dijajakan pedagang di Kupang. Di ibukota Provinsi NTT itu, peminat harus merogoh kocek Rpl2.500/kg. “Sebenarnya permintaan dari Bali banyak sekali, tetapi tidak mampu dipenuhi,” sesal Iwan Setiawan. Meski mulai dikembangkan sejak 1940-an, budidaya intensif masih diabaikan sehingga produksi minim.

Walau sama-sama dari Timor Tengah Selatan, hickson, juara ke-2 kalah pamor dibanding soe. Penampilan jeruk introduksi dari Australia itu kurang menarik. Warna kulit kuning berpadu hijau. Namun, soal rasa tetap yahud. Saat kulit dibuka, aroma harum segera tercium. Begitu daging jingga masuk mulut, niscaya lidah tak henti berdecak. Sebab, kandungan air banyak dengan rasa manis sedikit asam.

Ia tumbuh di Balai Benih Induk Oelbubuk, Kecamatan Kapan, Kabupaten Timor Tengah Selatan, sekitar 125 km dari Kupang atau 10 km dari Kota Soe. Bibitnya didatangkan dari Australia pada 1980-an. Ternyata di daerah baru yang berketinggian 800 m dpi dan kering itu, ia dapat beradaptasi dan berbuah.

Jeruk bernomor peserta 36 itu dipetik dari pohon berumur 7 tahun. Bibit berasal dari sambungan. Saat panen dipetik 5—10 kg buah yang rata-rata berbobot 135 gram atau 8 buah/kg. Produktivitas masih kalah dari keprok soe.

Jeruk Keprok Kualitas Unggulan

Buah PON

Sang pemenang ke-3, siam pamekasan, memang luar biasa. Ia mampu bersaing dengan jenis keprok yang sudah kesohor istimewa. Penampilan kulit kuning kehijauan, mulus, dan mengkilap. Tak kalah dengan hickson.

Keistimewaan siam pamekasan membawa kepopulerannya hingga luar Pulau Garam. Pada Pekan Olah Raga Nasional (PON) 2000 di Surabaya, kesegarannya dinikmati oleh ribuan atlet se-Indonesia. Waktu itu 3 truk mengangkut buah untuk memasok kebutuhan pesta olahraga 4 tahunan itu.

Pada tahun sama, ratusan anggota legislatif mencicipinya selama Sidang Umum Majelis Permusyawaratan Rakyat di Jakarta.

Citrus nobilis itu kerap menjadi buah tangan meski harga lebih mahal. Pedagang di Surabaya dan Lamongan menjajakan    Rp 10.000—Rpl2.000/kg berisi 8—12 buah.Jeruk lain, Rp6.000-Rp7.000/kg. Konsumen telanjur suka dengan warna kulit yang kuning cerah dengan semburat hijau tipis, mulus, dan mengkilap. Jarang ditemukan warna hitam akibat embun jelaga.

Wahid Hasyim, pekebun di Pamekasan, merasakan manisnya berkebun siam pamekasan. Kepala Desa Montok, Kecamatan Larangan, Pamekasan, itu mulai memanen sejak tanaman berumur 2 tahun. Dari 1 pohon ia memetik 10—20 kg. Ia menanam 500 pohon.

siam pamekasan, saingi keprok

Bangkit lagi

siam pamekasan tergolong produktif. Ir Winarto, kepala Dinas Pertanian Kabupaten Pamekasan, menuturkan dari pohon berumur 10 tahun setinggi 2,5 m dapat dipetik 996 butir, setara 80 kg. Di tanah porus, curah hujan rendah, siam pamekasan masih tumbuh bagus. Rumput dibiarkan tumbuh tinggi di sela-sela tanaman untuk mengurangi evaporsi air tanah yang tinggi.

Seperti jeruk lain, sentra di Pamekasan tak luput dari serangan Citrus Vein Phloem Degeneration (CVPD). Pada 1990, populasi di kabupaten itu sekitar 300.000 pohon. Karena ganasnya serangan kini hanya ada 50.000 batang tersebar di 13 desa. Dari populasi tersisa itulah Wahid memperoleh bibit. Dengan kemenangan di LBUN, pemerintah daerah setempat tergelitik untuk mengembalikan kejayaan masa silam.

no image

Pemilihan Lahan Yang Potensial Untuk Bertani Jeruk

Gersang, kering, kuda liar, dan stepa membentang sejauh mata memandang. Itulah bayangan tentang Nusa Tenggara Timur selama ini. Semua anggapan itu langsung sirna kala kaki menjejak di Soe, ibukota Kabupaten Timor Tengah Selatan, NTT.

Perjalanan selama 3 jam dari Kupang menuju Soe di pertengahan April itu tak terasa melelahkan. Dari atas kendaraan yang melintasi jalan aspal mulus tapi sempit, mata dimanjakan pemandangan-pemandangan menawan.

Langit berwarna biru cerah tak berawan. Hijaunya dedaunan menyembul di sana-sini lantaran musim hujan baru saja usai. Sesekali di kiri-kanan jalan terlihat mawar liar memamerkan bunga berwarna terang. Kehadirannya diselingi poinsetia atau kastuba, dan lantana yang juga tumbuh tak bertuan.

Lukisan alam itu kian mempesona setiba di Soe, 130 km dari Kupang. Barisan bukit muncul bergantian dengan lembah nan curam. Hari benderang karena pancaran sinar matahari kerap berganti gelap lantaran kedatangan kabut yang tiba-tiba. Air sungai mengalir jernih memantulkan birunya langit. Kuda liar yang sejak keberangkatan ke Pulau Timor ada di benak, terlihat berkeliaran di padang rumput. Sapi-sapi nan gemuk pun merumput bebas.

Banjir buah meski belum dikelola intensif

Mayoritas Buah Jeruk Matang pohon

Meski matahari bersinar terik, udara dingin membungkus kulit. Maklum ibukota Kabupaten Timor Tengah Selatan itu terletak di ketinggian 750 m dpi. Udara kian menggigit kala perjalanan dilanjutkan ke arah bukit-bukit di rangkaian Pegunungan Mutis. Puncak tertinggi mencapai 2.427 m dpi. Di jajaran bukit-bukit itulah soe, keprok yang identik dengan kota pegunungan itu, menghampar.

Jangan bayangkan Citrus nobilis ditanam di perkebunan-perkebunan besar.Keprok mandarin itu tersebar di halaman-halaman rumah penduduk di desa-desa di Kecamatan Mollo Utara. Kecamatan beribukota Kapan itu salah satu sentra penanaman. Kepemilikan pohon sangat bervariasi. Di salah satu halaman rumah penduduk yang disambangi hanya ada 20 batang, tapi di pekarangan rumah lain menghampar 200 pohon. Yang menanam hingga luasan 1 ha masih terhitung jari.

Menilik sosok tanaman, perawatan tidak intensif. Ranting-ranting tak berguna nglancir ke sana-ke mari karena tak pernah dipangkas. Tajuk terlihat gundul di beberapa sisi karena kekurangan daun. Tanpa pemupukan memadai pucuk baru enggan muncul.

Toh, pohon digelayuti buah berwarna hijau, hijau bersemburat jingga, dan jingga cerah jadi pemandangan lazim di sana. Dahan-dahannya doyong ke bawah lantaran keberatan buah. Kala buah matang serempak, daun seperti tenggelam oleh warna cerah jingga terang.

Penampilan menarik itu tak mengecewakan. Saat lidah mencecap daging buah, manis dan segar yang terasa. Yang paling enak bila yang dicicipi buah matang pohon. Cirinya kulit jingga terang dan mengeriput. Di pangkal buah ada benjolan seperti konde. Bila dipegang daging terasa empuk karena sudah terlepas dari kulit. Cita rasa manis kian dominan, apalagi bila buah didiamkan dulu 1—2 hari.

Grapefruit, masih belum dimanfaatkan

Dimanjakan alam

Kondisi alam di jajaran pegunungan Mutis itu memang mendukung produksi buah prima. Padahal kualitas tanah tak bisa dikatakan subur. Berbatu dan berkapur dengan lapisan solum tipis. Hanya saja karena tak pernah dimanfaatkan untuk budidaya intensif, ketersediaan unsur hara belum terkuras. Apalagi hampir tak ada serangan hama dan penyakit.

Ketersediaan air melimpah dan intensitas cahaya matahari tinggi—sekitar 12 jam—membuat proses fotosintesis optimal. Buah menjadi manis karena gula yang dihasilkan tinggi. Hawa dingin— kisaran suhu siang 23—24°C saat kemarau—membuat warna kulit “keluar”.

Tak heran buat penduduk setempat soe merupakan sebuah berkah. Bila musim raya tiba,—Juni—Juli,—gemerincing rupiah dipastikan masuk kantong para pemilik pohon. Dari tanaman berumur 10 tahun dituai 30 kg buah yang dilepas Rp8.000—Rp 10.000 per kg. Bila ditebas dihargai Rp250.000—Rp300.000 per pohon. Dengan 20 pohon di pekarangan berarti diperoleh pendapatan tambahan minimal Rp5-juta. Biaya perawatan nyaris nol.

Habis di tempat

Pantas saja bila pada 1997—2002 penanaman diperluas dengan bantuan dana dari pemerintah. Sentra baru dipusatkan di 4 desa di Kecamatan Mollo Utara, Mollo Selatan, dan Patumnasi. Total penanaman mencapai 500 ha. Sayang lantaran kurang terawat, yang bertahan hanya 30% dari total populasi.

Dari pekarangan-pekarangan rumah penduduk, jeruk dibawa pedagang ke Kupang. Di puncak musim, dengan mudah ia ditemukan di tepi-tepi jalan. Harganya Rp 15.000 per kg, berisi 8—10 buah. Pada kunjungan April itu harga masih mahal. Setumpuk berisi 5 buah dijual Rp5.000. Yang berukuran lebih besar Rp 10.000 per 5 buah. Harga lebih tinggi, Rp 12.000, untuk kualitas super yang sudah matang penuh berwarna j ingga terang.

Meski harga relatif tinggi, jeruk yang namanya baru mulai beken 10 tahun silam itu laris-manis. Lantaran habis di tempat, nyaris tak ada yang dikirim keluar daerah. Jeruk yang konon dibawa dari Tiongkok itu hanya sampai Jakarta bila ada perayaan Hari Kemerdekaan di Istana Negara. Atau dibawa mengisi acara-acara pameran. Beberapa dicicipi para juri Lomba Buah Unggul Nasional 2003 yang mengantarkannya menjadi juara pertama kategori jeruk.

Kekayaan Alam Yang Belum tergarap

Kekayaan kota yang namanya berarti memindahkan air itu tak hanya soe. Beragam jenis jeruk tumbuh subur di sana. Sebut saja kiser manis, jeruk manis terbaik yang pernah dicicipi. Sosok buah bulat sempurna dengan warna kuning menarik. Aroma harum tercium tajam dengan daging juicy yang manis segar. Dibandingkan baby pacitan, ia lebih enak.

Gregorius Hambali, pakar botani yang menyertai perjalanan, dengan antusias memanen rough lemon (RL). Jenis untuk batang bawah itu di Soe berbuah lebat dan besar-besar. Buah dibiarkan matang menguning di pohon. Satu-dua pohon pamelo, grapefruit, serta cleopatra, densy, dan miniola—ketiganya jenis mandarin— pun ditemukan di pekarangan rumah penduduk. Setali tiga uang dengan soe, semua masih belum dibudidayakan optimal.

Itu belum termasuk beragam jenis mangga introduksi seperti R2E2, irwin, dan kensington asal Australia yang dikoleksi Balai Benih Induk (BBI) Oelbubuk. Atau hutan asam jawa Tamarindus indica yang siapa pun boleh memanen. Yang tidak dilupakan tentu saja cendana dan gaharu. Kayu-kayu harum itu melimpah di sana. Nun di kesunyian pegunungan Mutis, untaian mutiara itu menanti polesan