--> Archive for kelapa Budidaya tani: kelapa - All Post
Tampilkan postingan dengan label kelapa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kelapa. Tampilkan semua postingan

Minggu, 06 September 2020

Nilai Ekonomis Limbah Kelapa

Nilai Ekonomis Limbah Kelapa

Apa yang Anda lihat sebelum mendarat di Bandara Sam Ratulangie, Mapanget, Manado? Pohon kelapa dan lagi-lagi pohon kelapa. Ada yang pendek, tinggi, muda, tua, yang melambai-lambai atau diam saja. 

Limbah Kelapa

Itulah Bumi Nyiur Melambai, Sulawesi Utara. Ibukotanya juga disebut kota Nyiur Melambai. Logonya pun nyiur. Dengar saja lagu kesukaan rakyatnya, “Rayuan Pulau Kelapa” karya Ismail Marzuki dan “Nyiur Hijau” karya Maladi.

Konon sebelum burung garuda terpilih, pohon kelapa alternatif pertama lambang negara ini. Ironisnya sekarang, kecuali yang masih aktif sebagai pramuka, kebanyakan sudah hampir lupa pada kelapa. 

Di pasar internasional, kelapa digolongkan dalam kategori sunset industry. Industri senja yang hampir tamat. Untungnya kecil atau cenderung merugi. Oleh karena itu seluruh upaya perlu dikerahkan.

Di Aceh Besar, saya mengenal seorang ibu kepala sekolah. Zulfiaty, namanya. Diam-diam beliau menulis buku resep memanfaatkan kelapa. Ada selusin alat dapur bisa dibuat dari tempurung. Mulai dari aweuk atau irus sampai gayung yang disebut cinu. 

Daunnya dapat dibuat ketupat maupun reungkan atau alas kuali. Di Nanggroe Aceh Darussalam, masyarakat perlu banyak reungkan dari lidi. Bukan cuma untuk tatakan periuk tapi juga tempat buah, hiasan dinding, dan tudung saji.

Di Jawa, Bali, Toraja, Kawanua, dan tempat lain yang ada pohon kelapa, di situ muncul kreativitas manusia. Ada tali, keset pembersih kaki, dan kanvas jok mobil sedan Mercy. Berbagai mesin dirancang dan diperjualbelikan untuk membuat coconut fiber. 

Di Medan ada dokter Sofyan Tan yang juga eksportir sabut. Kulit kelapa yang dulu dibuang dan jadi sampah sampai menggunung, kini diserut, dijadikan kanvas lantas dijual ke luar negeri. Tempurung untuk arang juga diekspor. Atau dipres, diolah jadi perkakas dapur termasuk nampan dan tatakan nasi.

Di Filipina bermunculan perusahaan limbah kelapa seperti Cocotech dan Juboken. Ekspor sabutnya bisa lebih dari US$l-juta setahun ditambah US$70.000 dari debunya. Debu kulit kelapa dipakai untuk media tanam dan campuran beton penahan erosi. Semua menjadi dolar, sekaligus produk yang ramah lingkungan. 

Pasaran coconut peat (serbuk sabut) diperkirakan mencapai US$90-juta per tahun di seluruh dunia. Sedangkan coconut coir (olahan serat sabut) mencapai US$400-juta. Sebagian besar dipenuhi oleh Srilanka.

Dari Limbah Kelapa Semua jadi uang

Mengapa semua itu dilakukan? Pertama karena perkembangan teknologi pengolah limbah. Sekarang semua sampah bisa dijadikan uang kalau tahu mengolahnya. Dari sabut kelapa muncul coconut husk (serat), coconut dusk (serbuk), dan coconut coir yang diolah dengan getah karet. Kedua, harga minyak kelapa anjlok jauh dibanding kelapa sawit. 

Di pasar dalam negeri minyak goreng kopra paling banter Rp2.300 per kilo. Sedangkan minyak kelapa sawit masih di atas Rp3.000. Maka produk andalan kelapa bukan lagi minyaknya, tapi limbahnya.

Sepuluh tahun terakhir harga kelapa memang turun drastis. Di Filipina harga sebutir kelapa turun dari 30 peso menjadi 2 peso, alias seperlimabelas kali. Zaman keemasan di akhir 1960-an telah hilang.

Ketika itu para petani kelapa bisa mendirikan bank sendiri, United Coconut Planters Bank, bank swasta komersial paling bergengsi. Kini dengan anjloknya harga kelapa, berbagai resep untuk memperpanjang umur harus ditemukan. Makanya pabrik sabut lebih menguntungkan ketimbang pabrik minyak kelapa.

Semoga saja di negeri Rayuan Pulau Kelapa ini tidak sampai begitu. Sebutir kelapa muda masih laku Rp3.000 menjelang Lebaran di jalan-jalan ibukota Jakarta. Anehnya di Manado lebih mudah memesan ikan baronang dan kerapu bakar daripada minta sebutir kelapa segar, meskipun restorannya di bawah kebun kelapa. 

Mungkin rakyat lebih suka menjual nyiur setelah tua. Lebih-lebih setelah teij adi krisis moneter. Di Amurang, Sulawesi Utara, misalnya, sebelum krisis satu kuintal kopra hanya Rp80.000. Pascakrisis naik lima kali menjadi Rp400.000.

Mekipun begitu harga kerajinan dari batang kelapa tua bisa lebih tinggi. Sebuah meja dari batang nyiur tidak kurang dari Rp2-juta. Jadi apa yang hendak dijual? Buahnya atau batangnya? Tentu dua-duanya. Di Malaysia pohon kelapa disebut pokok seribu guna.

Coba kita kenang etimologi kelapa dalam konteks masyarakat agraris seperti di Jawa. Sebutir kelapa punya tujuh nama berdasarkan umurnya. Mula-mula sebagai putik pada manggar atau bunga kelapa.

Setelah itu muncul kelapa kecil yang disebut bluluk. Ini masih bisa rontok sebelum jadi cengkir yang sepenuhnya berisi air. Kalau sudah enak diminum disebut degan, sebelum tua menjadi krambil. Setelah dipetik berminyak dipanggil klentik, dan sudah kelewat tua, gendos. Akhirnya, setelah bertunas karena siap tumbuh, butir kelapa yang sama disebut kitri.

Tanda kemelaratan

Sayangnya, kekayaan nama pada sebutir buah itu belum laku dijual di pasar internasional. Kelapa lebih menjadi inspirasi untuk hidup. Namanya dipinjam sebagai pembawa keberuntungan buat pusat pertokoan, perusahaan maupun organisasi. Juga sebagai simbol keunggulan produk kosmetik senandung nyiur kreasi ibu Martha Tilaar.

Itulah kearifan agribisnis dalam menghadapi senja. Bagaimana mungkin Anda menjual buah kelapa yang hanya dihargai 30 sen dolar (Rp3.000) per butir kalau tahu sebuah tempurung bisa laku US$15 atau Rpl50.000?

Moralnya sangat jelas. Kita tidak boleh mengabaikan kelapa. Pada masa silam, pengantin dibekali bibit kelapa saat pergi meninggalkan orangtuanya. Juga tidak disarankan sebuah rumah berdiri tanpa kelapa. Pohon itu berbunga setiap 45 hari. 

Buahnya selalu tersedia sepanjang tahun. Barangsiapa punya pohon kelapa, tidak mungkin kelaparan. Langkanya pohon kelapa menandakan suburnya kemelaratan, seperti di dusun Awis Krambil dalam novel sejarah Pramoedya Ananta Toer. Awis artinya mahal atau langka.

Sekarang, tengoklah di sekeliling Anda. Di mana pohon kelapa terdekat? Adakah buahnya? Siapkah diminum airnya? Bagaimana dengan janur atau daun mudanya? Dapatkah disumbangkan sebatang untuk pesta pengantin? 

Wahai para hobiis tanaman Indonesia, lengkapilah kebun dan taman Anda sekurang-kurangnya dengan sebatang pohon kelapa. Ia tidak lebih makan tempat ketimbang palem botol, apalagi palem raja.

Ada kelapa gading yang kecil langsing berbuah lebat, merah atau kuning. Ada kelapa hibrida yang pendek-pendek. Cepat dan lebat buahnya, bertandan-tandan. Ada kelapa puan, kelapa pandan, kelapa hijau, dan kelapa kopyor. 

Dalam kerindangan pohon kelapa itulah tersembunyi masa depan Indonesia. Jangan heran kalau ada bank besar mengidentifikasikan pelayanannya dengan sebatang kelapa tersubur di antara ratusan lainnya.

Dalam kenyataannya, setiap hektar cukup untuk menanam 250-300 batang. Paling cepat panen setelah 5 tahun. Kelapa pandan sangat produktif dan ekonomis sampai umur 15 tahun. Sesudah itu lebatnya berkurang dan susah dituai. 

Masih untung kalau bisa piara banyak beruk sebagai tukang panjat. Kalau tidak, tersungkurlah nasibnya. Ini yang bikin kelapa sawit beijaya. Padahal kelapa punya nilai lebih, yaitu dibikin nira atau gula.

Sekarang, pemanfaatan kelapa tidak hanya terbatas pada nira, daun, umbut dan buahnya. Airnya dijadikan kecap dan agar-agar nata de coco. Di Hawaii berkembang cocogram, atau seni menulis di atas kelapa yang dapat dipesan dan dikirim ke mana saja seharga US$ 10 sebutir. 

Jadi, buah kelapa yang tak dapat dimakan pun bisa dijual sebagai hiasan, bertulis, dan bernilai kenangan. Belum lagi 360 macam piring dan mangkuk dari tempurung yang dipasarkan ke seluruh dunia masing-masing US$ 15.

Inspirasi bisnis dari buah kelapa

Persoalan inilah yang harus ditanggapi Jaringan Pengembangan Genetik Kelapa atau COGENT (International Coconut Genetic Resources Network) yang bermarkas di Thailand. Sayang, Indonesia tidak bisa mengklaim sebagai negeri asal kelapa. Menurut legenda, pohon kelapa tumbuh dari makam Puteri Chammoro, di Guam.

Ibu Zulfiaty di Aceh besar telah memilih langkah tepat dengan memperkenalkan 12 produk dari lidi dan tempurung. Begitu juga riset Badan Pengembangan dan Penerapan Teknologi yang memasyarakatkan resep kecap dari air kelapa. Nira sebagai minuman bebas alkohol, substrat sebagai asam organik bahan farmasi juga pemah dikampanyekan. Begitu juga asam cuka sebagai pengawet makanan.

Di luar sana sudah berkembang coconut software, coconut kids, coconut graphics, dan ratusan produk lain yang terinspirasi oleh kelapa. Mulai dari coconet (jaring tali kelapa) sampai cocoglobe (bola dunia dari tempurung). 

Tidak semua manusia rela, gayung dan mangkuk plastik jelek serta merusak lingkungan mengalahkan batok kelapa, anugerah terindah dari alam. *** *) *

Sabtu, 11 Juli 2020

Standar Mutu Virgin Coconut Oil Terbaik

Standar Mutu Virgin Coconut Oil Terbaik

Harga minyak kelapa murni bervariasi tergantung kualitasnya. Minyak bermutu asal Filipina, misalnya, laku US$10-US$43 per liter di pasar Eropa. Menurut Dr AH Bambang Setiaji, kualitas VCO dipengaruhi proses pengolahan. “Idealnya VCO berkualitas tinggi diproses tanpa pemanasan,” papar peneliti minyak kelapa murni sejak 1979 itu.

Minyak jenuh seperti asam laurat mudah teroksidasi pada suhu tinggi. Dampaknya, radikal bebas cepat “menghinggapi”, terutama di udara terbuka sehingga minyak cepat tengik. 

Pengolahan melalui proses fermentasi menggunakan ragi starter sama saja. Kandungan asam lemak bebasnya cenderung melampaui nilai standar yang diinginkan konsumen.

Virgin Coconut Oil Terbaik
Virgin Coconut Oil Terbaik

Pentingnya Quality Control Yang Ketat

Menurut Bambang, Cara Membuat Virgin Coconut Oil dengan pemanasan masih dapat menghasilkan VCO, tetapi harga jual lebih rendah. “VCO hasil pemanasan dan fermentasi jarang diminati oleh industri farmasi,” paparnya. Ia hanya cocok untuk industri kosmetik.

Ir Barlina Rindengan MS, peneliti di Balai Penelitian Kelapa (Balitka), Manado, mengungkapkan, pemanasan juga dapat menghasilkan VCO kualitas tinggi, jika dilakukan dengan pengawasan ketat.  

“Pemanasan berlebihan menyebabkan minyak cepat matang dan berwarna kekuningan,” paparnya. Padahal, kadar air pada minyak masih cukup tinggi.

Menurut Barlina, agar kualitas minyak tetap teijaga, pemasakan harus pada suhu rendah (cold process) sehingga minyak matang perlahan. Saat minyak terbentuk, pemasakan segera dihentikan meskipun blondo masih berwarna putih. 

Dengan cara seperti itu, “Minyak kelapa murni produksi Balitka diminati seorang eksportir asal Jakarta,” papar Dr Novarianto Hengky, kepala Balitka. Ketika Budidaya Tani berkunjung, Balitka sedang mempersiapkan 420 kg VCO pesanan sang eksportir. 

Contoh lain, VCO produksi masyarakat Kecamatan Ratatotok, Minahasa Selatan binaan Departemen Penutupan Tambang PT Newmont Minahasa Raya. Meski diproses dengan pemanasan, minyak dinilai berkualitas tinggi menurut standar Kanada. 

“Singapura saja langsung meminta pasokan 243.000 liter setelah menguji sampel yang dikirim,” papar Anna Mandagi, pendamping konsultan The Private Enterprice Participation (PEP) Project, mitra Newmont.

Virgin Coconut Oil Bebas kolesterol

Minyak kelapa murni diproses langsung dari daging buah segar atau santan segar tanpa pemurnian, pemutihan, atau penghilangan bau. Baik lewat pemanasan maupun penambahan bahan kimia dalam keseluruhan nrosesnya. 

Kondisi minyak hams bening tanpa warna, memilik rasa dan aroma khas kelapa alamiah, dan tahan simpan pada suhu kamar.

Menilai kualitas VCO tak cukup dari pengamatan fisik minyak. “Ia harus dianalisis di laboratorium untuk mengetahui sifat-sifat fisika-kimia yang dikandungnya,” papar Barlina, ketua Kelompok Peneliti Tekno-Ekonomi Balitka itu.

Parameter fisika-kimia yang menentukan kualitas VCO di antaranya kadar kolesterol, asam lemak bebas (free fatty acid), bilangan yodium, titik leleh, kadar air, dan nilai peroksida. Minyak kelapa murni berkualitas tinggi harus bebas kolesterol, atau maksimal 0,2 g/100 g minyak. Kadar asam lemak bebas juga tak lebih dari 0,1%.

Semua pengukuran menggunakan metode analisis baku. Bilangan yodium, misalnya, metode analisis yang dipakai sesuai ketentuan SNI01-2902-1992 point 5.3. Berikut tabel standar mutu VCO menurut standar Kanada.

Mutu Virgin Coconut Oil
Mutu Virgin Coconut Oil

Rabu, 10 Juli 2019

no image

Kelapa Pandan Wangi Mini Dan Kopyor, Dua Varietas Kelapa Unggulan

Meski bersemat nama kopyor, daging pandanwangi tidak seperti kopyor di Indonesia. Tekstur daging buahnya lebih mirip nata de coco. Kenyal dan menempel di tempurung sehingga mesti disendok kuat-kuat supaya terlepas. Daging kelapa kopyor lokal lunak, menggumpal, dan tidak sempurna menempel di tempurung. Sebagian malah terapung-apung berbaur dalam air.

Daging buah Cocos nucifera pandanus amaryllifolius tebal sekali, sekitar 2—2,5 cm. Bagian dasar daging berwarna putih; atas, bening. Rasanya manis. Aroma khas wangi pandan tetap tercium. Volume air sedikit bahkan nyaris tidak ada. Diameter buah rata-rata 15—18 cm dengan bobot 600—750 gram—pandanwangi biasa, sekitar 900 g/buah. Di restoran-restoran Thailand, pandanwangi kopyor kerap disuguhkan sebagai bahan campuran minuman dan makanan ringan.

Kelapa Pandan Wangi

Kelapa Pandanwangi Mini

Sebutan mini memang pantas disandang pandanwangi mini. Sosok tanaman dan Buah Memang serba mungil tinggi batangnya maksimum hanya 2 meter. saat sarat buah, dengan mudah anak berusia 8 tahun memetik tanpa mesti berjinjit. Jumlah buah ratusan, tak heran bila orang Thailand menyebutnya “kelapa seratus”. Penampilan batang yang dipenuhi buah, mirip dengan leher wanita dikalungi mutiara bersusun 3 yang dipilin.

Ukuran buah pun ikut mini. Diameternya hanya 8—10 cm dengan bobot 150—200 gram/buah. Lebih kecil daripada kelapa gading. Pantas daging buah pun tipis, hanya setebal 0,5 cm. Volume airnya sekitar 120 ml per buah. Kira-kira setara 1 gelas air kemasan. Namun, rasa manis dan aroma pandannya kuat sekali. Hotel dan restoran banyak menggunakan si mini sebagai welcome drink atau sajian istimewa. Dengan ukuran mungil ia tidak terkesan mengenyangkan.

Sebenarnya pandanwangi kopyor dan mini bukan benar-benar jenis baru di Thailand. Hanya saja semula keduanya kalah populer ketimbang pandanwangi “asli”. Maprao nam-hom (maprao=kelapa, nam-hom = wangi) disajikan mulai dari acara-acara bertaraf internasional di hotel berbintang sampai kedai-kedai tepi jalan. Hampir semua orang dari segala usia dan bangsa menyukai kelapa muda beraroma khas itu. ( Baca : Pemanfaatan Limbah Sabut Kelapa Secara Komersil Menjadi Cocofiber, Cocodust Dan Cocopea )

Selain disuguhkan utuh dan segar, pandanwangi juga dihidangkan dalam bentuk kelapa bakar. Tampilannya pun dibuat menarik, mulai bentuk piramid sampai batok mulus dalam kemasan plastik hampa udara. Provinsi Pathunthani, Samut Songkhram, dan Ratburi merupakan sentra pandanwangi mutu kelas satu andalan ekspor.

Kelapa Pandan Wangi Laris-manis Dipasaran

Belakangan si kopyor dan si mini mulai naik daun lantaran punya karakter berbeda dengan aromatic coconut biasa. Buktinya di arena Kasetsart Fair 2005 di Bangkok, pada 28 Januari 5 Februari 2005, hampir setiap stan menjual keduanya. Stan yang menyediakan contoh buah untuk dicicipi pasti dipenuhi pengunjung. Harga jual sama dengan pandanwangi biasa 10 -15 baht setara Rp2.500—Rp3.750 per buah. Bibitnya pun laris terjual dengan harga 20—40 baht per buah atau Rp5.000—Rp 10.000. Kelapa hibrida cuma dijual 5—10 baht atau Rp 1.250—Rp2500 per bibit.

Buat para pekebun, menanam si kopyor dan si mini pun menguntungkan. Sama seperti pandanwangi biasa, keduanya genjah. Pada umur 2,5 – 3 tahun buah mulai dipanen. Kelebihannya, produktivitas kopyor dan mini lebih tinggi. Dengan umur sama, produksi pandanwangi 80—100 buah per pohon. Si kopyor dan mini mencapai 100—150 buah.

Apalagi sosok tanaman pendek, hanya 2—2,5 m, sehingga buah mudah dipanen. Maprao nam-hom biasa mencapai 5—7 m. Pantas bila kopyor dan mini membuat pandanwangi kian diminati.

Senin, 08 Juli 2019

no image

Pemanfaatan Limbah Sabut Kelapa Secara Komersil Menjadi Cocofiber, Cocodust Dan Cocopeat

Negeri ini memang habitat pohon 1001 manfaat, kelapa. Hampir tidak ada bagian kelapa yang dibuang, semuanya bisa dimanfaatkan. Daunnya melambai, airnya melangsingkan, serbuk batoknya untuk pengebor minyak, dan sabutnya menjadi pengisi jok mobil mewah.

Membicarakan kelapa tak akan habis dalam semalam. Semua bagian tubuhnya laku dijual. Yang sekarang tengah ramai dibicarakan adalah sabut kelapa. Bagian terluar buah ini bisa diubah menjadi cocofiber (serat), cocodust (ampas sabut) dan cocopeat.

Di mancanegara cocofiber digemari sebagai bahan baku pembuatan springbed, mebel, jok mobil mewah, dan hiasan. Harganya lumayan mahal, sekitar US$130 per ton, setara Rp 1.235.000. Produk lainnya cocopeat dimanfaatkan sebagai media tanam.

Permintaan yang datang ke produsen terus meningkat. Sebut saja CV Rajawali Cocofibre yang harus mengirim 15 ton cocopeat ke Australia dan Malaysia setiap bulan. “Cocopeat memang banyak diminati pasar ekspor,” ujar Alex, dari CV Rajawali Cocofibre. Produk lainnya cocofibre, dijual sebagai pengisi springbed.

Limbah Sabut Kelapa
Cocofiber

Tiga tahap Produksi

Permintaan untuk pasar lokal tak kalah banyak. Padahal mengolah sabut kelapa menjadi cocofiber dan cocopeat sangat sederhana karena sudah tersedia alat dan mesin untuk memudahkan pengerjaan. kelapa menjadi cocofibre dan cocopeat melalui 3 tahap. Sabut diurai menggunakan mesin pengurai berukuran 2mx 1,8 mx 1,3 m seharga Rp l6,5-juta.

Hasilnya 20 – 30% long fibre, 10% short fibre, dan sisanya cocopeat. Namun, untuk kelapa asal Indonesia bagian timur sabut tidak langsung diurai. “Harus dimasukkan dalam mesin cruster dulu, karena karakteristik kulit kelapa di sana lebih keras,” ujar Ir Khairul Djamal, dari PT Cakra Agrinusa, produsen mesin pertanian di Jakarta Selatan. Baru setelah itu sabut di masukkan dalam mesin pengurai.

Mesin pengurai dilengkapi pisau otomatis yang bekerja memisahkan sabut jika mesin penggerak diesel 24 PK-nya dinyalakan. Hasil sortiran berupa 60% fiber dan 40% dust akan keluar dari 2 corong di atas dan samping alat. Dalam sehari mesin dari bahan baku besi ini bisa memisahkan 4.000 – 5.000 butir, setara 600 – 700 kg kelapa. Dust lalu dipres menjadi cocopeat, sedangkan fiber harus melanjutkan perjalanannya menuju mesin pengayak sebelum menjadi cocofiber.

Ada beberapa modifikasi bentuk mesin pengayak. Namun, umumnya bentuknya mirip tabung kipas angin yang memanjang. Short fibre akan keluar dari bagian ujung ayakan. Sedangkan long fibre akan tertinggal di dalam ayakan. Mesin berukuran 6 m x 2 m x 3 m itu dilapisi saringan besi yang dipasang mengelilingi kerangka. Alat Dokumen Agro Tunas Teknik seharga Rp7-juta itu bekerja dengan bantuan diesel 8 PK atau elektro motor 2 HP. Setelah melalui proses pengayakan, tahap ketiga long fibre dan short fibre akan masuk ke dalam mesin pres. Bahan dipadatkan menjadi bentuk balok agar lebih mudah dalam pengangkutan.

Mesin Cocofiber

Mesin pres Sabut Kelapa

Ada tiga macam mesin pres: pres hidrolik, elektrik, dan manual. “Pres elektrik komponennya lebih murah dan lebih mudah diganti, sedangkan hidrolik pengoperasiannya lebih gampang,” ujar Ir Sauki, dari Agro Tunas Teknik, produsen alat dan mesin pertanian di Jakarta Timur.

Pengoperasian mesin hidrolik memang lebih mudah, tekanannya bisa diukur dan ditentukan. Cocopeat dipres menjadi balok ukuran 45 cm x 75 cm x 90 cm dengan bobot 60 kg. Harga mesin itu cukup mahal, mencapai Rp75-juta per unit. Dalam waktu 1 jam ia bisa memadatkan 300 kg cocofibre atau sama dengan 60 balok cocofibre.

Mesin pres elektrik berukuran lebih kecil daripada mesin pres hidrolik. Harganya pun lebih murah, hanya Rp22-juta per unit. Mesin akan membentuk cocopeat dan cocofibre menjadi balok ukuran 30 cm x 30 cm x 15 cm. Kapasitas kerjanya 25 blok/jam. Satu blok sama dengan 5 kg cocofibre atau cocopeat. Mesin pres manual jarang digunakan karena tak mampu untuk memadatkan cocofibre.

Dengan bantuan mesin-mesin itu sabut kelapa menjadi lebih berdaya guna. Antara lain menjadi pelengkap utama sring bed. Tidur pun lebih nyenyak dibuai mimpi indah.