Tampilkan postingan dengan label lobster. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label lobster. Tampilkan semua postingan

Jumat, 19 Juli 2019

no image

Budidaya lobster air tawar Dalam Akuarium

Krisis membawa berkah. Itulah ungkapan paling pas ditujukan kepada Rudiono Soeharyo. “Tanpa itu mungkin saya tak akan ketemu Lobster Air Tawar’ kata mantan orang penting di sebuah perusahan otomotif di Jakarta. Cita-cita mempunyai usaha sampingan di rumah kesampaian. Setiap Jumat ia menyetor 200 lobster hasil ternakan ke penampung. Artinya, Rp2,8-juta per bulan pundi-pundi Rudiono bertambah.

Omzet sebesar itu memang belum seberapa bila dibandingkan gajinya ketika ia bekerja di Astra kelompok Daihatsu. Namun, itu baru sebuah awal untuk meraih pendapatan lebih besar. “Saya yakin tahun depan bisa didapat keuntungan bersih Rpl 5-juta per bulan dari lobster,” ungkapnya.

Harapan Rudiono tidak berlebihan karena ratusan calon induk Lobster Air Tawar tengah dipersiapkan untuk menggenjot produksi. Maklum, dulu ia hanya induk lobster. Artinya, 15 induk betina dan 9 jantan. Modal yang dikucurkan sekitar juta. Usahanya kini baru memasuki tahun ketiga sehingga belum bany hasil produksi yang bisa dijual. Lobster yang bongsor-bongsor selalu dijadikan induk oleh Rudiono.

Akuarium Lobster
Akuarium Lobster

Ada beberapa jenis lobster yang dipelihara Rudiono: Cherak quadricarinatus yang merah, C. destruktor warna kebiruan, serta Cherak dari Irianjaya warna kuning dan mutiara. “Lobster biru paling cocok di sini, yang lain sulit berkembang sehingga hanya sebagai pelengkap,” tambahnya. Lobster merah ketika moulting sulit mengeras butuh 3—4 minggu. Padahal yang biru hanya 1 minggu sampai 10 hari. Ia menduga lobster merah atau dikenal dengan sebutan redclaw cocok di suhu rendah. Buktinya teman-temannya di Bogor justru sukses mengembangkan yang merah.

Faktor Kebetulan

Menjadi peternak lobster tak terbersit sedikit pun di benak pehobi sepak bola itu. Awal 2000 lapangan tenis meja di samping rumah dilipatnya digantikan dengan rak-rak akuarium. Sejak itulah suami dari Andayani itu saban hari dari pagi hingga sore mengurusi lobster.

Tinggal berlama-lama di akuarium bukan berarti selama itu terus bekerja, melainkan karena, “Mainan baru, sehingga asyik untuk dilihat, diamati, dan dipelajari,” ungkapnya. Pekerjaan utama merawat lobster sebetulnya hanya membersihkan akuarium seminggu sekali, mengganti air, dan memberi pakan. Itu hanya butuh waktu kurang dari 1 jam ( Baca : Budidaya Lobster Di Lahan Sempit Dengan Botol Air Mineral Bekas )

Rudiono baru pertama kali terjun di dunia ikan sehingga agak canggung. Sebagai ganjaran, dalam beberapa hari lobster seakuarium mati gara-gara aerator tak berfungsi. Listrik pada waktu itu mati lebih dari 4 jam. Belajar dari pengalaman, hari-hari lain ia lebih berhati-hati mengontrol kualitas air.

Lobster sangat peka dengan perubahan air. Terkena busa sabun sedikit saja dapat menyebabkan kematian. Keasaman, suhu, dan ketinggian air harus dijaga. Terlalu tinggi permukaan air berbahaya ketika listrik mati. Si Bongkok tidak bisa muncul ke permukaan untuk menghirup oksigen.

Pemillihan indukan lobster air tawar yang berkualitas

Untungnya, sepuluh indukan yang tersisa berkembang dengan baik. Tak sampai 1 bulan telah menghasilkan burayak masing masing sekitar 200 ekor per induk. Rudiono tak mengalami kesulitan berarti saat membesarkan burayak-burayak itu. “Cuma pada waktu ganti kulit mata harus tajam. Karena kalau tidak ketahuan mati dikeroyok teman-temannya. Ia harus dipindahkan ke akuarium lain,” tuturnya.

Pada umur 3 bulan burayak mencapai ukuran 5 cm dan siap dijual. Betapa senangnya Rudiono ketika menerima uang perdana hasil penjualan 1.000 lobster senilai Rp3,5- juta. Inilah yang mendorong lelaki berperawakan sedang itu terus dan terus menambah akuarium. Sampai-sampai ia harus ekspansi ke ruangan belakang dan loteng. Akuarium lobster dibuat sendiri pada malam hari agar lebih murah.

Di loteng, lelaki mania kerja itu membuat bak-bak semen berukuran 100 cm x 115 cm khusus pembesaran. Ada sekitar 10 bak berjejer tanpa naungan atau atap. Untuk menahan sengatan sinar matahari bak dilengkapi selada air. Dipilih tanaman itu karena berkembang biak cepat dan akar-akarnya merupakan makanan kesukaan lobster air tawar.

Perluasan itu untuk mengejar pendapatan bersih Rpl5-juta per bulan. Sebab, paling tidak butuh 60 buah akuarium untuk 20 set induk atau 100 induk betina. Meskipun sebetulnya akurium bisa disusun meninggi hingga 5 tingkat. Sementara sekarang Rudiono hanya menggunakan rak yang 2 tingkat.

“Untuk mencapai target itu memang diperlukan modal besar. Tapi lobster pilihan paling cocok untuk mendapat penghasilan tambahan di rumah. Perawatannya tidak menyita waktu, tapi harga tinggi,” ucapnya mengakhiri pembicaraan dengan budidayatani.

Analisis Dan Perhitungan Budidaya Lobster Air tawar

Spesifikasi

  • Lama pengusahaan 1 tahun
  • Lobster Cherax destruktor
  • Tenaga kerja keluarga

A.    investasi

  • Induk 3 set    Rp    6.300.000
  • Rak akuarium 2 buah    Rp    330.000
  • Aerator    Rp    144.000
  • Akuarium 9 buah    Rp    540.000
  • Pipa T untuk aerator 3 buah    Rp    9.000
  • Batu aerator 9 buah    Rp    9.000
  • Pipa T ukuran 2 inci 60 buah    Rp    105.000
  • Selang kecil 12 m    Rp    12.000
  • Perlengkapan lain seperti ember & serokan    Rp    30.000

Total    Rp    7.479.000

B.    Biaya operasional  

  • Pakan selama 1 tahun    Rp    120.000
  • Listrik    Rp    240.000
  • Penyusutan alat    Rp    500.000
  • Penyusutan induk    Rp    1.260.000
  • Bunga bank 20%    Rp    150.000

    Total    Rp    2.270.000

C.    Pendapatan

  • Lobster ukuran konsumsi  6.000 ekor @ Rp3.500  –
  • Lobster kualtas induk    Rp    21.000.000 60 ekor @Rp300.000    Rp    18.000.000

    Total    Rp    39.000.000

D.    Keuntungan  Pendapatan—Biaya    Rp    36.730.000

E.    Pertimbangan usaha

  • Pendapatan bersih per bulan Rp3.060.8000
  • B/C ratio 1.618% per tahun
  • Investasi kembali pada panen pertama. Jika calon induk tidak dijual, investasi tertutup pada panen kedua

Keterangan           
–    Harga-harga diperhitungkan Maret 2018
–    Data diperoleh dari peternak di Taman Modern Cakung, Jakarta Timur.

no image

Jenis lobster air tawar konsumsi Dengan Harga Jual Mahal

Di Indonesia budidaya lobster air tawar dirintis sejak 1991. Iskandar, penangkar ikan hias di Jakarta Timur, serius mengembangkannya. Sayang, perkembangannya lambat lantaran terbentur adaptasi dan ketersediaan induk. Kisah sukses baru terjadi pada 1996. Sukses di Jakarta, lalu diikuti hobiis di kota lain seperti Bogor, Yogyakarta, dan Malang. Tiga spesies Lobster yang dibudidayakan mereka adalah sebagai berikut.

Lobster Air Tawar
Lobster Air Tawar

1. Cherax quadricarinatus

Saat budidayatani berkunjung ke ruang pamer milik Hondo Wiyanto di bilangan Prawirotaman, Yogyakarta, tampak deretan akuarium berisi yabby. Akuarium itu ditempatkan di belakang rumah tepat di samping ruang kerja Hondo. Yabby yang diternak adalah jenis Cherax quandricarinatus. Red claw hummer sebutan di Australia itu terlihat didominasi oleh wama biru langit. Bintik-bintik putih menyelimuti sekujur tubuh. Sepintas sosoknya mirip udang galah, tapi karapas kepala agak besar.

jenis lobster air tawar Red claw dari Queensland, Australia, itu menempati akuarium berukuran 100 cm x 40 cm x 40 cm. Setiap akuarium dilengkapi selang aerator, potongan pipa T, dan batu bata berlubang untuk persembunyian tatkala udang berganti kulit. Pembesaran calon induk menempati kolam seluas 2,5 m x 2,5 m. Tepi kolam dilapisi kaca untuk menghindari yabby kabur.

Menurut ayah dari 3 putra itu, bibit Cherax diperoleh dari seorang penangkar di J1 Gajah Mada, Yogyakarta. Ia membeli 5 ekor yabby (1 jantan dan 4 betina) berumur setahun pada 2001. Ujung capit jantan merah, itu tidak ditemui pada betina. “Saat ini total ada sekitar 500 ekor dari beragam ukuran mulai burayak hingga panjang 5—8 cm,” ucap pemilik galeri barang antik HM Antiques itu.

Setiap betina rata-rata menghasilkan 75—80 telur sekali pijah. Jumlah itu meningkat sejalan pertambahan umur. Pada umur 2 tahun produksi meningkat 300—400 telur. Bahkan di Negeri Kanguru dapat diperoleh 1.400 telur. Di habitat aslinya lobster yang dijumpai di Papua itu mencapai panjang 35 cm dan berbobot 1,5 kg. Rekor di akuarium yang tercatat di Jerman mencapai panjang 20 cm.

Di alam, masa kawin hewan berjuluk crayfish itu terjadi 2 kali setahun yakni September dan April. Crayfish menyukai lingkungan bersuhu 20—24°C, pH 7—8, dan kesadahan 10—20°. Akuarium agak gelap pun digemari oleh anggota keluarga Crustaceae yang bersifat omnivora. Meki demikian di tempat Hondo, yabby diberi pelet udang windu.

Cherax quandricarinatus
Cherax quandricarinatus yang jantan bergurat merah diujung capit

2. Cherax destructor

Iskandar di Jakarta Timur, memelihara yabby dari jenis Cherax destructor. Dibanding saudara sepupunya, C. quandricarinatus, jenis C. destructor bersosok garang. Ia bercap it besar, mirip perkakas mobil, tang. Senjata itu untuk berkelahi saat menggaet betina bila musim berpijah tiba.

Yabby ditempatkan di akuarium 80 cm x 40 cm x 40 cm disusun 3 tingkat. Puluhan akuarium berjejer rapi memenuhi beranda di belakang rumah seluas kira-kira 5 m x 3 m. Sebagian yabby lain dipelihara di belasan bak-bak semen sedalam 50 cm berukuran 1,5 m x 1,5 m. Setiap akuarium dan bak dilengkapi selang aerator dan pipa T aneka diameter sesuai ukuran yabby.

Akuarium rata-rata diisi 4—6 ekor berukuran panjang 5—8 cm. Beberapa akuarium terisi oleh 1 induk yang menggendong telur. Yang lain, 2—3 akuarium tampak kosong. Namun, sebenarnya di situ tersimpan burayak baru menetas. Di bak rata-rata dipelihara jenis lobster air tawar berukuran di atas 5 cm.

Warna udang yang dagingnya juga digemari oleh burung kookaburras di Australia itu kebiruan. Dengan karapas di punggung merah kecokelatan. Di alam dijumpai pula yang berwarna hijau— kuning, abu-abu—hitam, merah solid, dan biru. Namun, semua warna itu kepucatan lantaran yabby ini senang berkubang di lumpur, terutama saat musim kering tiba.

Yabby-yabby itu didatangkan oleh Iskandar dari Australia pada 1991. Setelah beberapa generasi beranak-pinak kini jumlahnya ribuan. Rata-rata panjang der zerstorer, sebutan mania ikan hias di Jerman, berukuran 5—8 cm. Beberapa ekor lagi mencapai panjang lebih dari 10 cm. Itulah yang dipakai sebagai mesin produksi telur.

Soal produktivitas, lobster dikenal cinta damai itu serupa C. quandricarinatus. Begitu pula syarat hidup yang diperlukan. Bedanya, hanya sifat hidup. Jangan coba-coba mengusiknya saat sedang menggendong telur. Jika dilanggar, capit segera menyambar dan bisa menyebabkan luka.

Di Australia, musuh ikan platypus itu dikenal berumur pendek sekitar 3 tahun di akuarium. Namun jika pemeliharaan pas mampu memperpanjang usia. Seperti yabby lain, ia pun bersifat omnivora. Yang paling suka disantap cacing tanah dan serangga air. Namun seperti Hondo, Iskandar pun hanya memberi pakan pelet udang windu.

3. Procambarus sp

Jenis terakhir yang mulai diternak adalah Procambarus sp. Ia hidup di rawa-rawa payau di Lousiana, Amerika Serikat. Iskandar mendatangkan red crayfish itu pada pertengahan 1990. Jumlahnya memang tidak banyak hanya belasan ekor. Jenis ini agak rewel diternak karena sifatnya yang kelewat agresif dan ingin menguasai daerah sendiri.

jenis lobster air tawar yang mempunyai karapas kemerahan dengan semburat biru itu menyukai lingkungan bersuhu 18—20°C. Warna merahnya merupakan daya tarik utama sehingga selain dikonsumsi ia pun dimanfaatkan sebagai penghias akuarium. Dibandingkan yabby, produktivitas jenis ini relatif rendah. Umur 2 tahun hanya sekitar 60—100 telur.

Selain itu menjelang dewasa, pertumbuhan yang semula cepat perlahan melambat. Ia pun jarang moulting. Dampaknya, pertumbuhannya mandek ketika menginjak umur 6 bulan.

no image

Budidaya Lobster Dengan Akuarium Modal Cepat Balik

Delapan belas akuarium masing-masing berukuran 80 cm x 50 cm x 40 cm menghiasi sebuah rumah di Cileduk, Tangerang. Empat akuarium berisi indukan, dan selebihnya anakan yang tengah dibesarkan. Pemiliknya, Ir Triwi Santoso, MM, menaburkan pelet sebelum bertolak menuju kantor di Departemen Perindustrian dan Perdagangan. Setiap bulan kelahiran Yogyakarta 49 tahun silam itu menangguk Rp2-juta dari penjualan lobster air tawar itu.

Pendapatan tambahan yang lumayan besar itu diraup alumnus Fakultas Peternakan Universitas Gadjahmada itu sejak Februari 2001. “Lobster tak membutuhkan perawatan intensif sehingga saya bisa melakukannya. Mengganti air dan membersihkan akuarium cukup seminggu sekali,” kata Triwi. Oleh karena itu lelaki yang pensiun 6 tahun mendatang berniat mengembangkan besar-besaran.

Prospek bisnis lobster air tawar bagus lantaran harga tinggi dan pasar terbuka. Permintaan pasar ekspor dan domestik terus meningkat, sementara produksi terbatas. “Di sebuah restoran di Bukit Merah, Singapura, baby lobster menjadi menu favorit pengunjung dan berharga mahal. Seporsi isi 5 ekor lengkap dengan bumbu dijual Rp75.000.

Di Amerika Serikat perdagangan dan budidaya lobster meningkat pesat karena dagingnya lebih sehat dibanding makanan laut lain. Ia rendah lemak, kolesterol, dan garam. Tekstur dan rasa tidak berbeda dengan lobster air laut. Tes organoleptik di Auburn, Alabama, menunjukkan lobster air tawar mempunyai rasa dan tekstur yang mirip dengan lobster laut. Sedangkan di Florida lobster air tawar bertengger di peringkat ke-3 dalam soal rasa, tekstur, dan kemudahan dimasak.

Lobster air tawar yang diternak adalah Cherax quadricarinatus, Cherax destructor, dan Procambarus clorkii. Dua yang disebut pertama asli Australia; yang terakhir, dari perairan payau di Lousiana, Amerika Serikat. Indonesia punya lobster air tawar dari Irianjaya. “Di sana ada 12 jenis, antara lain Cherax monticola dan C. lorentzi. Tapi semuanya belum bisa dibudidayakan,” kata Wong Whida, mahasiswi Pascasarjana IPB yang meneliti lobster.

Lacakan budidayatani menunjukan hotel dan restoran terkemuka di kota-kota besar kini mulai menyediakan lobster air tawar. Sebut saja Restoran Raja Laut, Palm Beach, keduanya di Jakarta Pusat, Hotel Majapahit di Surabaya, serta Melia Purosani di Yogyakarta.

Lobster disajikan dalam bentuk salad atau dimakan mentah setelah disiram mentega keju. Harga yang dipatok juga tidak tanggung-tanggung. Di restoran Raja Laut seporsi berbobot 5 ons Rp229.000, sedangkan di Palem Beach Rp250.000 untuk porsi medium dan Rp350.000 porsi besar.

Kian marak

Yang menangkap peluang usaha lobster air tawar tak hanya Triwi. Lima rekannya di kantor mengikuti jejaknya. “Para tetangga juga banyak yang minta indukan,” tutur pria paruh baya itu. Sayangnya, induk terbatas sehingga sampai sekarang Triwi baru mempunyai 2 plasma.

Di Taman Modern Cakung, Jakarta Timur, Ir Rudiono Suyono juga mengusahakan lobster air tawar di akuarium sejak 3 tahun silam. “Di sini ada 6 peternak, 2 di antaranya plasma saya,” tutur Rudiono. Mereka umumnya para eksekutif yang mencari kesibukan sekaligus untuk menambah penghasilan.

Euis S. Djohan, pengelola Taufan’s Fish Farm di Kedunghalang, Bogor, malah lebih dulu melirik lobster air tawar. Pada 1989 ia memesan indukan lobster lewat importir. “Saya dapat belasan ekor, tapi hanya beberapa yang hidup dan berkembangbiak,” ungkapnya. Sedikit demi sedikit anakan dibuat induk. Empat tahun kemudian perusahaan yang berdiri pada 1986 itu berhasil memasarkan produksi ke luar negeri melalui eksportir ikan hias.

Usai mengikuti Olympiade di Sidney pada 2000 Ir Iswanda Susanto mendatangkan 5 induk. Pelatih judo asal Yogyakarta itu tergiur beternak. Ternak lobster air tawar juga merambah Malang. Hari Susanto, misalnya, memesan 100 set induk dari peternak di Jakarta—1 set terdiri dari 5 betina dan 3 jantan. “Saya hanya kebagian 60 set. Induk-induk itu sebagian diternak di Blitar,” ujar pengusaha ayam potong itu.

Lobster Berdawai

Modal Yang Cepat balik

Wajar kalau mereka kepincut beternak lobster. “Tidak sampai setahun modal kembali kok,” ujar Triwi. Modal yang dibutuhkan Rp2,5-juta—Rp3-juta untuk setiap set induk termasuk akuarium dan perlengkapan. Empat bulan kemudian peternak menikmati hasil. Sementara biaya operasional sangat kecil. Pakan, misalnya, dalam sebulan hanya 1 kg senilai Rp 10.000 untuk 100 induk.

Pengalaman Triwi dari 1 induk menghasilkan 200 burayak. Sejalan bertambahnya ukuran tubuh induk, produksi pun meningkat mencapai 800 ekor. Burayak dibesarkan selama 3 bulan untuk mencapai ukuran konsumsi, 5 cm. Harga lobster seukuran itu di tingkat pengepul Rp3.000/ekor. Jika tingkat kematian dari burayak sampai siap jual 60%, peternak menangguk omzet Rp 1.200.000. Dalam setahun lobster berproduksi 4 kali.

Omzet sebesar itu belum memperhitungkan kemungkinan menjual induk. Harga indukan Rp300.000— Rp400.000 per ekor untuk betina, jantan hanya Rp50.000. Hanya saja untuk membesarkannya butuh waktu 7—8 bulan dan persentase yang layak jadi indukan tidak lebih dari 2%. “Peternak bisa meningkatkan omzet dengan cara menekan kematian hingga 50%.

Kematian lobster terjadi saat moulting atau ganti kulit. Saat itu kondisi lemah sehingga teman-teman dengan mudah menyerangnya. Itu karena lobster kanibal, terutama ketika berumur 2 bulan. Oleh karena itu peternak harus memindahkan lobster ke tempat aman. Selebihnya tak ada gangguan yang berarti. Kalaupun ada, “Induk gampang kaget, bila mendengar petir produktivitas turun drastis,” papar Rudiono.

Bak semen untuk pembesaran burayak

Khawatir

Peternak menjual lobster siap konsumsi ke penampung, yang biasanya merangkap penjual indukan. Mereka menerima berapa pun pasokan. “Makin banyak yang disetor, penampung kian senang. Makanya saya tak perlu memikirkan harus dijual ke mana setelah lobster-lobster ini berproduksi nanti,” kata Hari Susanto. Hal senada diungkapkan Triwi dan Rudiono. “Pasar tidak ada masalah. Pembeli malahan berebut,” tutur Triwi. Ia rutin menuai 100—200 ekor per 2 minggu yang dipasarkan ke penampung dan toko-toko ikan hias. Maklum selain disantap lobster itu juga layak menghiasi akuarium. Pedagang ikan hias membeli Rp5.000— Rp8.000 per ekor berukuran 5—7,5 cm. Syaratnya capit harus lengkap, warna tegas, tidak boleh cacat.

Hondo juga lebih senang menjual eceran sebagai ikan hias. “Karena kebetulan saya punya galeri barang antik banyak turis asing berdatangan. Mereka setelah puas melihat-lihat, lalu makan lobster yang dimasaknya sendiri di sini,” ujar suami Naning No vita itu. Ia belum menjajakan ke hotel atau restoran karena produksi sedikit.

“Setahu saya udang lobster air tawar ini banyak digunakan untuk ikan hias. Serapan pasarnya tidak besar,” ungkap Euis. Kebutuhan eksportir ikan hias relatif kecil. Ia menyebut, Unik Aquatics, eksportir di Serpong, Tangerang, setiap bulan hanya mengorder 100—200 ekor. Oleh karena itu Euis khawatir jika masyarakat ramai-ramai beternak lobster terjadi kelebihan pasokan.

Euis mengungkapkan, permintaan udang lobster air tawar untuk ikan hias dari tahun ke tahun stabil. Permintaan meningkat 200—300% ketika booming lou han pertengahan tahun lalu.

Serapan pasar ekspor menurut Yap Khiat Bun juga relatif kecil. Eksportir papan atas itu hanya memasarkan 500 ekor/ bulan untuk Jepang dan negara-negara di Eropa. “Kita kalah bersaing dengan Cina dan Australia dari segi harga dan kualitas,” ungkapnya. Beberapa eksportir lain seperti CV Vivajaya International atau PT Tropical Fish Indonesia volume ekspornya tak lebih dari ratusan ekor.

Meskipun begitu, peluang untuk mengembangkan lobster air tawar tetap terbuka. Pasalnya, Australia produsen utama dengan produksi 400 ton sekitar 65% diserap lokal. Sisanya diekspor ke Singapura dan Hongkong.

Khasiat Dan keutamaan Daging lobster

Daging lobster mampu mendongkrak “greng” kaum adam, itu bukan sekadar mitos. Kandungan seng tinggi pemicu melonjaknya libido. Di kalangan masyarakat timur jauh itu menjadi rahasia umum. Pekan terakhir Februari silam, misalnya, pasangan suami istri asal Taiwan memborong 50 lobster Cherax quandricarinatus melalui seorang penangkar di Jakarta Timur.

Mereka memilih lobster yang tengah moulting. Renyah dan lunak tekstur daging lobster itu. Lobster ukuran 5 cm itu dijual Rp200.000. Relatif mahal memang. Namun, konsumen rela merogoh kocek lebih dalam demi “kepuasan”. Menurut pakar gizi Dr Ali Khomsan, tingginya kadar seng pada lobster, meningkatkan mortilitas atau pergerakan sperma.

la juga andil besar dalam mengatrol produksi hormon testosteron. Hanya itu? Menyantap yabby—nama populer lobster—/’Dapat mengganti dan memperbaiki sel tubuh yang rusak sehingga kebugaran tubuh terjaga,” tutur doktor alumnus lowa State University itu.

Namun, jangan terburu-buru melahap anggota famili Crustaceae itu jika Anda berkolesterol tinggi. Soalnya, udang itu juga mengandung kolesterol tinggi. Jika demikian Ali menyarankan untuk mengkonsumsi beragam sayuran. Kandungan mangan yang tinggi pada sayuran pun berpotensi sama: menggenjot vitalitas.

Kamis, 06 Juni 2019

no image

Budidaya Lobster Di Lahan Sempit Dengan Botol Air Mineral Bekas

“Ya ampun… kok bisa ya?” ujar para peserta pertemuan rutin Hipelobsi (Himpunan Peternak Lobster Air Tawar Seluruh Indonesia). Mereka terpana ketika Gurhadi mengeluarkan serangkaian botol plastik minuman terpaku pada sebilah kayu tipis. Setiap botol dihuni seekor lobster berukuran 2—6 cm. Mereka bagai memiliki kamar pribadi.

Wajar bila mereka terheran-heran. Lobster air tawar umumnya dibesarkan di akuarium atau bak semen. Namun tidak di tempat Gurhadi mereka di masukan ke botol plastik kemasan air minum. Itu hasil eksperimen Aguy—sapaan    akrab Gurhadi—sejak 2 tahun silam. Ia menyebutnya EDU (extreme density unit) yang diadopsi dari sistem beternak lobster di Australia.

Ada 2 jenis lobster dicoba Aguy yaitu, Cherax quadricarinatus dan C. destructor. “C. destructor cocok diternak dengan sistem itu. Ia tidak beradu capit dengan sesamanya,” ujarnya. Jenis itu memang dikenal dengan capit yang ekstra besar.

Budidaya Lobster

Populasi tinggi

Keuntungan sistem EDU, populasi dalam luasan tertentu bertambah. Bak berukuran 2 m x 1 m menampung 2.000; cara konvensional 500 ekor. Rangkaian EDU ditempatkan secara vertikal di bak pembesaran. Setiap rangkaian terdiri dari 20 botol. Jadi, di bak itu terdapat 100 rangkaian. Aguy memasukkan lobster berukuran 2—3 cm ke botol itu. “Kalau terlalu kecil khawatir terpencet saat memindahkan ke botol,” ungkapnya. Setiap botol berisi seekor lobster.Lobster di botol perlu waktu 1,5—2 bulan hingga siap panen. Artinya sama dengan yang dipelihara di akuarium. Saat itu ukurannya mencapai 7 cm. EDU memungkinkan peternak memanen lobster dengan ukuran seragam.

Pemeliharaan di bak atau akuarium menyebabkan ukuran lobster beragam karena saling berebut pakan. Berbeda jika dipelihara soliter, pakan langsung dimasukkan ke
botol. Dengan begitu lobster tenang menyantap pakan, sehingga tumbuh normal. EDU juga menekan tingkat perkelahian antarlobster yang menyebabkan kematian. “Paling banter yang mati 1—2 ekor dari 500 ekor. Sebelumnya ketika dipelihara di bak mencapai 10%,” papar pria lulusan Oklahoma City University itu.
Murah

Membuat rangkaian EDU relatif mudah dan murah. Peternak hanya membutuhkan botol air kemasan bekas 330 ml, bilahan papan, dan paku stainless.Botol-botol itu dirangkai menjadi satu pada bilah kayu dengan menggunakan paku. Biaya membuat satu rangkaian Rp20.000. Botol dapat dipakai untuk 3 periode.

Meski terlihat sederhana, bukan berarti tanpa kendala. Pada awal percobaan Aguy menemui kegagalan. Sebanyak 100 dari 180 lobster yang dibesarkan tidak bisa moulting alias ganti kulit dan akhirnya meregang nyawa. “Air kotor biang keladinya,” kata Aguy. Makanya, peternak sejak 2002 itu kini menggunakan filter dan melubangi botol agar sirkulasi lancar. Pengurasan bak juga diperlukan untuk menjaga kualitas air, minimal sebulan sekali.

Kendala lain, saat pemberian pakan. Botol plastik dicopot satu per satu. “Ini butuh waktu lama, minimal 2—3 jam untuk memberi pakan 2.000 lobster,” tuturnya. Namun, Aguy dapat mengatasinya dengan cara melubangi botol. Pakan dimasukkan ke lubang itu. Pakan berupa campuran pelet ikan dan pelet udang dengan komposisi 1:1. Sesekali tambahkan irisan wortel untuk ekstra fooding.