Tampilkan postingan dengan label merpati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label merpati. Tampilkan semua postingan

Jumat, 28 Juni 2019

no image

Manfaat Burung Merpati , Sebagai Alat Pembantu Manusia Dan Komoditi Bisnis

Burung merpati Columba livia sangat penting bagi setiap mahasiswa yang mengalami perploncoan pada awal 1970-an. Dengan susah payah saya mendapatkan yang betul-betul putih untuk dilepaskan di halaman kampus Universitas Indonesia. Mahasiswa baru Fakultas Sastra memang diharuskan membawa merpati putih. Mahasiswa Fakultas Hukum membawa yang merah atau gambir. Sedangkan Fakultas Teknik biru atau kelabu. Lainnya bebas. Boleh blorok, blirik, atau belang-belang. Harapannya, dalam satu atau dua generasi mendatang, taman-taman di Jakarta penuh merpati seperti lazimnya taman-taman kota di negeri maju.

Columba livia
Burung Merpati Karang

Setelah 30 tahun berlalu, burung merpati tak kunjung memenuhi taman-taman kota di Indonesia. Padahal ribuan teman mereka berhamburan di Central Park, New York; Trafalgar Square, London; maupun Dam Square, dekat stasiun sentral Amsterdam.

Meskipun begitu, berbagai jenis merpati hias, merpati balap, merpati tinggi, merpati pos, dan merpati goreng, dapat dilihat dan dinikmati di desa dan kota Indonesia. Di Yogyakarta, saya mengenal pengusaha restoran burung dara goreng yang paling sedikit menyajikan 200 ekor dalam seminggu, atau 30 porsi setiap malam.

Belum lagi penyalur daging merpati beku di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Mereka bukan saja mengirim ke luar negeri (khususnya Singapura dan Hongkong), tapi juga ke kota-kota kecil di Kalimantan dan Pekanbaru, Riau.

Mengenai merpati goreng mentega ini, saya punya kenangan pilu. Seorang mahasiswi sefakultas yang kemudian menjadi ibu anak-anak saya, mengajak makan di restoran untuk merayakan lulusnya sebagai saijana. Saya memesan burung dara goreng, sebagai isyarat untuk mengajaknya terbang ke langit.

Waduh! Ternyata dia hanya makan irisan mentimun dan tomat. Burung dara goreng itu sama sekali tidak dilirik, apalagi disentuhnya. Ya, Tuhan… maafkan saya. Ternyata tidak semua orang Indonesia pemangsa unggas. Apalagi pelahap burung dara!

Masih banyak yang suka merpati tapi tidak mengkonsumsi telur apalagi dagingnya. Di Jakarta Timur saya mengenal kolektor merpati hias, Sayogo, namanya; yang rela keluar berjuta rupiah untuk memiliki merpati impor. Ternyata bentuk, warna, dan perangai merpati ada banyak macam. Dewan Omitologi—badan dunia yang mengurusi perburungan— memamerkan profil lebih dari seratus jenis merpati hias dari 318 spesies burung dara yang hidup di bumi.

Merpati Sebagai Kurir Surat Pada Periode perang

Pada mulanya, burung dara hidup di gua-gua karang di tebing pantai. Mulai sekitar 4.500 tahun sebelum Masehi mereka dipelihara oleh ibu-ibu sebagai cadangan daging, sementara para suami pergi berburu. Karenanya jangan heran, kalau monumen dan kandang-kandang merpati paling legendaris merupakan warisan wanita terkenal. Misalnya kandang merpati dari batu, peninggalan Elizabeth Arden, ibunda sastrawan terkemuka,    William Shakespeare di desa Stradford Upon Avon, Inggris. Selanjutnya peran merpati meningkat sebagai pengantar pesan. Masih ingat Cleopatra? Ratu Mesir di zaman purba itu juga mempekerjakan merpati untuk menghubungi Markus Antonius, kekasihnya. Dinas pos paling tua dalam sejarah manusia memang ditunaikan oleh merpati.

Itu sebabnya mereka bisa menjadi pahlawan. Contoh lain yang terkenal adalah Cher Ami, dara jantan hitam yang banyak mendapat bintang penghargaan.

Dalam satu kisah, merpati Cher Ami menyelamatkan 194 pasukan yang terjebak. Pada tahun 1919 Cher Ami gugur karena luka-luka perang yang diderita. Jasadnya diawetkan dan dipamerkan di museum nasional AS di Behring Center. Pada 1931, ia mendapatkan medali emas dan masuk dalam Hall of Fame merpati balap, dengan jasa-jasa yang luar biasa.

Sebagai simbol Burung cinta

Satu reputasi burung dara yang paling klasik adalah sebagai simbol cinta. Mengapa? Mitos mengatakan merpati adalah pendukung monogami. Kalau pasangannya mati, yang tinggal akan terus menduda atau menjanda sampai mati. Betulkah begitu?

Pemerintah negara bagian Connecticut, kawasan yang merpatinya paling banyak di Amerika Serikat, mengakui hal itu. Memang uniknya, di alam bebas, tiap kerumunan burung dara terdiri dari jantan dan betina dengan jumlah seimbang, bahkan cenderung sama.

Di Jawa kesetiaan merpati dimanfaatkan untuk lomba. Merpati betina ditinggalkan di rumah, jantannya dibawa pergi. Nah, dalam kerinduan yang menggebu-gebu, terbanglah si jantan mencari tambatan hatinya.

Budidaya Merpati Ladang bisnis

Bisnis apakah yang tercipta oleh hubungan manusia dan merpati? Cukup banyak, meski Pigeon Watch belum pernah memperhitungkannya. Pigeon Watch adalah badan pemerhati merpati yang didirikan oleh Pusat Omitologi Universitas Cornell di New York, Amerika Serikat.

Jangan lupa, bagi masyarakat Jawa, burung (kukila) termasuk satu di antara lima pelengkap hidup seorang pria. Empat lainnya adalah rumah (wisma), istri (wanita), kendaraan (turangga = kuda), dan senjata (curiga = keris).

Makanya di banyak kota dan desa kita sering melihat pasar burung. Bukan hanya perkutut dan burung direkayasa demikian rupa, sehingga membuat burung terbang lebih cepat. ( Baca : Usaha Pembiakan Merpati Balap Modal Kecil )

Datangkan devisa

Di berbagai negeri maju, burung dibebaskan hidup di alam luas. Memiliki burung, tidak harus berarti membuatkan sangkar. Namun di banyak pulau di Nusantara, mencintai burung bisa berarti membuatkan sangkar semahal-mahalnya. Untuk memanjakan sepasang merpati aduan, ada kalanya diperlukan sangkar dengan harga beijuta-juta rupiah.

Industri wisata berburu merpati, secara tradisional berjalan paling bagus di Uruguay, Amerika Selatan. Populasi merpati liar disana sangat besar dan stabil. Dengan uang 2.000 dolar Anda bisa mengikuti paket berburu merpati selama empat atau lima hari. Sayangnya tarif ini bukan dari Jakarta, melainkan dari New York, Los Angeles, atau Austin, Texas, dan kota-kota lain di AS.

Populasi merpati di Uruguay paling stabil sepanjang tahun. Ini menciptakan pekerjaan untuk warga desa. Mereka bisa menjadi “bird boy”, semacam cady, kalau kita main golf; bayarannya 30 dolar sehari.

Di kota-kota besar yang kewalahan dengan populasi merpati, bisnis jebakan dan racun juga berjalan. Maklumlah, betapapun indahnya, kalau berlebih-lebihan ia bisa menjadi wabah.

Ada banyak cara untuk memberantas merpati sebagai hama. Ada rumah yang memasang balon berisi helium, semacam bebegik (orang-orangan sawah) yang berfungsi untuk menakut-nakuti mereka di langit. Banyak lagi yang memasang alat elektronik dengan rekaman suara burung hantu. Merpati paling takut pada suara burung hantu, karena itulah predatornya. Di Jawa bukan hanya burung hantu, alap-alap dan elang pun memburu merpati.

Merpati, bagaimana pun telah mempunyai tempat tersendiri di hati kita. Boleh kenangan masa kecil, kenangan semasa menjadi mahasiswa, tamasya ke luar negen: maupun hobi setelah memasuki usia senja. Merpati bahkan bisa menjadi identifikasi seorang pribadi. Bukan hanya seorang manusia, tapi juga seluruh dunia. Ketika bumi bersayap, semua terbang merdeka dalam perdamaian.

Jumat, 21 Juni 2019

no image

Usaha Pembiakan Merpati Balap Modal Kecil

Maraknya lomba merpati balap pinggiran membawa berkah bagi Jonny, hobiis di Bekasi. Hanya dengan 6 pasang induk, ia mampu melepas 5 — 10 piyik sebulan. Dengan harga Rp 500.000 – Rp 1 juta/ekor, omzet peternakannya di bilangan Harapan Jaya Bekasi itu mencapai Rp 5-juta/bulan.

Yang dimaksud merpati pinggiran adalah merpati kelas menengah ke bawah. Sejak 2 tahun lomba-lomba semacam itu kian sering digelar. Dampaknya permintaan burung pun meningkat. Oleh karena itu banyak penangkar yang menuai laba.

Contohnya Jonny Ia tak mengeluarkan banyak biaya saat memulai bisnis penangkaran merpati balap pada 2 tahun lalu. “Modal waktu itu tak lebih dari Rp 10-juta,” paparnya. Sebab, harga induk paling mahal Rp l-juta/ekor. Malahan diakuinya, ada yang dibeli berupa telur untuk menekan harga. Yang penting telur dari burung bagus agar anakan berkualitas baik.

Sebelum dilempar ke pasar, Jonny melatih burung-burung ternakannya selama 2 – 3 bulan. Maksudnya, agar dapat dijual mahal. “Meskipun hanya di kelas ringan, burung harus rajin turun gelanggang untuk mengukur kemampuannya,” tuturnya.

merpati balap

 

Permintaan Pasar Akan Merpati Balap Cukup Tinggi

Hal serupa dialami Iwan Makita hobiis di Jakarta. “Tak sedikit pemain pinggiran datang ke sini untuk mencari burung,” papar Iwan. Bagi pemain kelas atas, burung trah juara menjadi incaran. Namun, bagi pendatang baru di pinggiran, yang dicari burung-burung kelas dua berharga Rp 500.000 – Rp 1 -juta/ekor. Toh, “Burung bagus tak harus mahal,” tuturnya.

Meski burung hasil ternakannya lebih banyak dipakai sendiri, Iwan tak menolak jika ada permintaan. “Masih berupa telur pun sudah banyak dipesan,” paparnya. Burung tangkaran Iwan terkenal memiliki trah burung juara. Tak heran jika burung-burung Makita banyak berbicara di arena lomba. Jetset dan Kuda Jingkrak, hanyalah salah satu legenda. Begitu pula Ekor Putih, peringkat 6 nasional 2003, banyak dilirik hobiis.

Fenomena banyaknya hobiis yang mencari burung itulah yang mendorong Erick Yonathan, hobiis di Jakarta Barat, membuka penangkaran pada 1999. “Peluang bisnisnya sangat baik,” kata mantan pemain merpati tinggian itu.

Bermodalkan indukan berdarah juara seperti Dinamit dan Kayana, ia pun memulai penangkaran dengan 40 kandang. Hasilnya, beberapa andalannya menunjukkan prestasi baik. Sebut saja Anak Dinamit, Anak Kayana, Bon Jovi, dan Ekstrim.

Semula pengusaha industri aki di kawasan Cikupa, Tangerang, itu tidak berminat menjual hasil ternakannya. Namun, karena kualitas burungnya dinilai bagus, banyak hobiis memaksa ingin membeli anakannya. Kini dari farm di kawasan Bumi Serpong Damai, belasan merpati balap berkualitas bagus terjual setiap bulan. Padahal, seekor piyik saja berharga Rp2-juta—Rp3-juta. Apalagi anakan siap lomba, harganya bisa melejit hingga Rp 15-juta/ekor.

Lomba Merpati Balap marak digelar di berbagai tempat

 

Permintaan Sampai Ke Daerah Pelosok

Iwan Santoso, hobiis di Jakarta, melihat hobi merpati balap kini bukan lagi monopoli pemain besar. “Merpati balap telah merambah sampai ke pelosok,” paparnya. Malah, ketimbang kelas atas pemain kelas bawah jumlahnya semakin banyak.

Tak heran jika kelompok-kelompok pemain kelas menengah ke bawah kini terbentuk di berbagai sudut kota. Kelompok Marunda, Kebayoran, Cakung, Bedeng, Cibubur—semua di Jakarta, Harapan Indah (Bekasi), dan Gading Serpong (Tangerang) hanya beberapa di antaranya.

Maraknya pemain-pemain tingkat lokal tak hanya di kawasan Jabotabek. Menurut Ching Sen, hobiis kawakan di Bandung, sejak 2003 di Jawa Timur telah berkembang 28 pengurus lokal (penglok) dari semula hanya 4—5 penglok.

Menurut Ching Sen, meningkatnya pemain merpati balap tak lepas dari adanya peralihan besar-besaran merpati tinggian ke merpati balap. “Sekitar 85% pemain merpati tinggian di Purworejo, Kebumen, dan Magelang beralih ke merpati balap,” papar pemilik Leonard itu.

Bermain merpati balap “pinggiran” tak perlu modal besar. “Kalau tak sanggup beli jutaan rupiah, burung berharga Rp500.000 pun dapat dipakai,” ujar Iwan Santoso. Malah, kalau bisa menjalin hubungan baik dengan pemain besar, burung-burung “apkir” mereka diberikan gratis kepada pemain pinggiran. “Hitung-hitung sebagai subsidi untuk meramaikan kontes merpati balap,” lanjutnya.

Tak Perlu Lahan Luas Untuk Penangkaran

Biaya Perawatan terjangkau

Menurut Ipay, sapaan akrab Iwan Santoso, hobi merpati balap diminati karena lomba berlangsung “bersih”, tak bisa dimanipulasi. Artinya, selain juri, peserta bisa ikut menilai burung yang layak juara. Apalagi di setiap lomba dilengkapi kamera untuk merekam pergerakan merpati.

Menjamurnya pengurus-pengurus lokal merpati balap itu pun membuat frekuensi lomba kian sering. Hampir setiap minggu para mania pinggiran menggelar “jagungan” (semacam latihan bersama, red) dengan pendaftaran Rp20.000—Rp30.000 per ekor. “Selain untuk membiasakan burung tampil di arena, lomba-lomba kecil itu juga dijadikan ajang untuk menilai kemampuan burung,” papar Handoyo, hobiis di Jakarta.

Minat peserta di daerah untuk mengikuti lomba sangat besar karena biaya pendaftaran terjangkau. Wajar peserta membeludak sampai 1.000 ekor, meski hadiahnya hanya berupa kambing, sepeda, dan VCD. Sebab, selain hadiah, “Merpati yang menang bisa naik pamor,” tuturnya. Di Jawa Tengah, seperti Magelang dan Purworejo, harga juara desa pernah mencapai Rp30-juta.

Memang kualitas burung tergantung dari latihan dan perawatan. “Kalau dirawat baik, burung berharga Rp500.000 pun bisa juara,” kata Handoyo. Lihat saja buktinya, banyak burung murah menyodok sampai ke tingkat atas. Putra Madura, peraih peringkat ke-5 nasional tahun 2003 sekadar contoh. Ia dibeli seharga Rp 1-juta dari tangan hobiis Madura saat bakalan.

Di tangan pemilik baru, hobiis asal Lumajang, ia dipoles dan dilatih. Hasilnya, burung murah itu mampu menunjukkan prestasi, bahkan melejit ke tingkat nasional. Karena prestasi itulah, burung yang kini dipegang hobiis Pemalang itu dihargai Rpl25-juta.