--> Archive for padi Budidaya tani: padi - All Post
Tampilkan postingan dengan label padi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label padi. Tampilkan semua postingan

Senin, 29 Juli 2019

Padi Transgenik Rojolele Tahan Hama Penggerek batang

Padi Transgenik Rojolele Tahan Hama Penggerek batang

Perut Tryporyza intertulas mendadak berlubang dan ia pun langsung terkapar. Sepuluh menit lalu penggerek batang itu mengisap pakan kegemarannya, padi. 

Sayang ia salah sasaran. Yang disantapnya padi rojolele yang mengandung Bacillus thuringiensis. Itulah tanaman transgenik keluaran Pusat Penelitian Bioteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia.

padi transgenik
padi transgenik tahan hama

Di tengah-tengah suara pro-kontra kehadiran teknologi transgenik, Inez Hortense Slamet-Loedin justru tekun meneliti padi rekayasa genetika. Ia bersama timnya mengembangkan tanaman padi tahan hama penggerek batang. April 2013 bekerjasama dengan Balai Penelitian Tanaman Padi, Sukamandi akan dilakukan uji lapangan. Perjuangan Kepala Divisi Biologi Molekuler Puslit Bioteknologi LIPI itu, agar gagasan padi transgenik diterima tidaklah mudah.

Banyak peneliti memperdebatkan keamanan pangan dan pengaruhnya terhadap lingkungan. Misal ketakutan berkembangnya gulma super dan bakteri baru yang kebal antibiotik. 

Padahal, “Kemungkinan itu hanya 10’16. Peluang kebal antibiotik lebih besar pada pengkonsumsi obat-obatan antibiotik,” ujar ibu sepasang putri kembar itu. Bahkan ada pendapat, rekayasa genetika itu menyalahi aturan Tuhan.

Semua perdebatan itu tidak membuat Inez gentar. Ia yakin produk transgenik akan diterima. Contohnya Amerika Serikat, hampir 70% produksi kedelainya hasil rekaya genetika. 

Benih transgenik di negara Paman Sam yang terkenal ketat terhadap keamanan pangan itu lolos uji Food and Drugs Association (FDA). Produksinya kini menyebar ke seluruh dunia. Berarti tidak tertutup kemungkinan padi transgenik diterima konsumen.

Gen Bt

Inez menekuni padi sejak ia belajar di University of Nottingham. Setelah menyelesaikan program doktor ia melakukan riset post-doctoral selama 2 tahun di Universitas Leiden, Belanda. Subjek penelitiannya padi rojolele transgenik.

“Merekayasa gen menjadi bagian hidup. Fenomena itu rumit tapi mengasyikkan,” ujarnya. Tidak heran begitu kembali di tanah air, akhir 1994 Inez langsung merintis penelitian bioteknologi. Ia harus berjuang untuk membangun laboratorium biotek hingga menemukan kultur jaringan yang responsif. Lebih dari 40 varietas padi diseleksi.

Ternyata hanya varietas padi rojolele yang paling pas tumbuh di media kultur jaringan. Penelitian pun memasuki tahap isolasi gen. Mula-mula gen cryl AB alias gen Bt diisolasi dari bakteri Bacillus thuringiensis. Agar terekspresi di padi, gen Bt harus diberi mesin atau promotor. Mesin itu menentukan bagian tanaman dan jumlah ekspresinya. Setelah diperoleh vektor DNA lalu diperbanyak dalam bakteri dan diisolasi.

Benih rojolele dibiakkan dalam media kultur jaringan. Dua minggu kemudian embrio padi membentuk jaringan sel yang belum terprogram. Kalus padi itulah yang kemudian disisipi gen Bt dari bakteri.

Tanaman transgenik Aman dikonsumsi

Ada 2 cara memasukkan gen Bt, ditembak atau memanfaatkan agrobacterium tumefaciens. Cara penembakan, partikel emas dilapisi DNA kemudian ditembakkan ke jaringan. Setiap vektor DNA membawa gen target dan gen penyeleksi. 

Jika berintergrasi maka sel akan membelah dan membawa DNA baru. Dikatakan berhasil jika gen penyeleksi bekerja menunjukkan perubahan warna. Alat tembak tidak dapat membaca kromosom target sehingga penembakannya random. Akibatnya copy gen menyebar di semua kromosom.

Menggunakan agrobacterium lebih mudah, murah, dan copy gen sedikit. Lantaran ia dapat membaca kromosom target. Bakteri itu secara alami menginfeksi tanaman dan memindahkan DNA-nya ke dalam tanaman. 

Namun, setelah 3 hari bakteri itu harus dimusnahkan dengan antibiotik khusus, dosis 100-400 mg/ml. Jika bakteri dibiarkan hidup, pertumbuhannya lebih cepat dibanding selnya. Agar bakteri bekerja optimal harus diciptakan suasana asam pH 5,5.

Penyisipan gen Bt tidak membuat tanaman berubah karena hanya 1 gen saja yang dirubah. “Rasa tetap pulen dan putih,” ujar Inez. Lagipula padi transgenik aman dikosnumsi manusia. 

Gen Bt di padi bersifat protoksin yang berubah menjadi toksin dalam suasana alkali. Pencernaan manusia bersifat asam sehingga ia tidak lebih hanya protein yang tidak berbahaya. Toh, ketika dimasak kurang dari 1 menit protein itu rusak.

Tahan Hama Penggerek batang

Tanaman transgenik Dari Los Banos ke Sukamandi

Padi rojolele transgenik bisa dibilang padi sakti yang tahan serangan hama penggerek. Jika ingin Oryza sativa berproduktivitas tinggi, padi transgenik bukan pilihan. Pekebun biasanya menyandarkan harapan pada maro dan rokan. Mereka padi hibrida pertama di Indonesia hasil penelitian Dr Suwarno. Pemulia di Balai Penelitian Tanaman Padi Sukamandi itu meriset padi hibrida sejak 1998.

Penghujung 2002 pekebun sudah dapat menjajal keistimewaan mereka.Rokan menjanjikan produksi 9,24 ton per ha. Sedangkan maro 8,85, ton. Artinya, pekebun memetik hampir 2 kali lipat jika menanam varietas lain. Varietas IR 64, misalnya, hanya mampu berproduksi 5—6 ton per ha.

Pekebun cukup menancapkan sebatang bibit di setiap lubang 5 tanam. Oleh karena itu kebutuhan benih padi rojolele separuh lebih kecil ketimbang benih padi lokal atau 10 j kg per ha

Untuk padi lokal pekebun f biasanya membenamkan 2 bibit per lubang tanam. Seperti jamaknya, harga benih hibrida tentu lebih mahal, yakni Rp20.000 per kilo. Soalnya, untuk mendapatkan benih hibrida peneliti mesti menempuh jalan panjang lagi berliku. Menentukan sepasang indukan dari 2 galur berbeda yang mampu menyerbuki bukan perkara gampang (baca: Meningkatkan Kualitas Dan Produksi Padi Dengan System of Rice Intensification).

Rentan wereng

Doktor alumnus IPB itu menggunakan padi introduksi dari IRRI (International Pice Research institute) yang berpusat di Los Banos, Filipina. Galur Mandul Jantan (GMJ) IR58025A akhirnya dipasangkan dengan Galur Pemulih Kesuburan (GPK) BR827-35. Kedua induk itulah yang akhirnya “melahirkan” rokan. Maro diturunkan dari pejantan sama, GMJ IR 58025A dan GPK IR53942. Nama sungai di Riau itu diabadikan untuk menyebut 2 varietas baru.

Sosok mereka tegak dengan tinggi 98-107 cm. Per tanaman mampu menghasilkan 20 anakan. Sebuah malai menghasilkan 150-200 bulir gabah. Biaya benih yang relatif mahal, tertutupi dengan produktivitas yang tinggi. Dengan harga gabah Rp1.000 per kg, pekebun padi hibrida menangguk Rp3,2-juta (per ha) lebih banyak ketimbang pekebun padi nonhibrida.

Di balik keistimewaan itu, padi rojolele hibrida menyimpan kelemahan. Mereka rentan wereng cokelat dan hawar daun. Oleh karena itu sebaiknya mereka ditanam di lahan sawah irigasi dan bukan daerah endemis wereng.

Kekurangan tanaman transgenik itu sedang diperbaiki oleh peneliti Balitpa sehingga kelak muncul padi hibrida tahan hama dan penyakit Karena benih hibrida, pekebun hanya dapat sekali tanam. Pada penanaman berikut, pekebun harus membeli benih lagi, jika tidak ingin produksi melorot.

Padi hibrida memang bukan barang baru. Beberapa negara seperti Vietnam, India, Filipina, dan Cina lama menanamnya. Namun jenis padi hibrida mancanegara kurang cocok ditanam di Indonesia. “Semakin dekat khatulistiwa padi hibrida itu tidak menunjukkan keistimewaannya,” papar Suwarno.

Kamis, 27 Juni 2019

no image

Padi Fatmawati, Varietas Padi Tahan Penyakit Dan Hama

Ibunda Presiden Megawati Soekarnoputri, Fatmawati, diabadikan namanya untuk padi baru. Malainya panjang terdiri atas 300 butir. Salah satu keistimewaan padi fatmawati adalah tingginya produktivitas, mencapai 9 —10 ton per hektar. Artinya 2 kali lipat dari rata-rata produktivitas padi nasional.

Di kalangan pekebun, padi fatmawati menjadi harapan baru. Mudjiono, pekebun asal Bantul, Yogyakarta, misalnya, menuai 9 ton dari lahan 1 hektar yang tersebar di 3 lokasi. Di Singosari, Malang, pekebun binaan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Timur memanen 9,2 ton/ha gabah kering giling. Dengan pengolahan lahan yang sama, hasil itu dua kali lebih tinggi dibandingkan varietas IR64 dan memberamo yang hanya 4 ton/ha.

Selain itu fatmawati juga ditanam di Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, Lampung, Jawa Barat, dan Nusa Tenggara Barat. Padi dengan kadar amilosa 23% itu telah lulus uji melalui Program Peningkatan Produktivitas Padi Terpadu (P3T) di 8 provinsi dengan 28 lokasi. Hasilnya produktivitas luar biasa. Dengan pendekatan Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT), produktivitas padi dengan anakan 8—12 batang itu mencapai 7,9—10,6 ton/ ha dengan rata-rata 8,9 ton/ha atau 41,1%. Itu lebih tinggi dibandingkan varietas unggul baru yang hasilnya rata-rata 7,8 ton/ha.

padi fatmawati

 

Panen perdana

Fatmawati merupakan varietas unggul tipe baru (VUTB) pertama. Ia dilepas pada Hari Pangan Sedunia (HPS), 24 Oktober 2003 di Ambarawa, Jawa Tengah, oleh Presiden Republik Indonesia, Megawati Soekarnoputri. Pelepasan fatmawati sebagai jawaban meyakinkan memecahkan rendahnya produktivitas dan produksi padi nasional.

VUTB fatmawati tercipta lewat penelitian panjang Balai Penelitian Tanaman Padi (Balitpa) Sukamandi, Subang. Ia hasil persilangan padi gogo dan jenis padi maros. Keduanya dikenal sebagai padi unggul. Batang tak mudah rebah warisan padi gogo.

Varietas baru itu memiliki sifat genetik lebih unggul dibandingkan varietas lain. Fatmawati cocok di tanam di sawah dataran rendah sampai ketinggian 600 m dpi. Padi dengan tinggi 100 cm itu tahan terhadap wereng cokelat biotipe 2 dan bakteri hawar daun strain 2—3. Persentase gabah hampa mencapai 20% dan agak susah dirontokkan. Itu bisa diatasi dengan pemupukan intensif.

padi fatmawati

Panen perdana fatmawati dihadiri Menteri Pertanian Bungaran Saragih bersama Mohammad Jafar Hafsah. Dirjen Tanaman Pangan dan pejabat pemerintah Jawa Barat. “Semoga fatmawati dapat berkembang cepat sehingga pada 2005 kita tanam 1 juta ha,” kata Bungaran Saragih setelah memanen fatmawati

Minggu, 16 Juni 2019

no image

Meningkatkan Kualitas Dan Produksi Padi Dengan System of Rice Intensification

Cara Aep Saepudin bertanam padi memang tak lazim. Petani di Sukapada, Kecamatan Pagerageung, Tasikmalaya, itu menggunakan bibit umur 7 hari. Padahal, biasanya petani lain menanam bibit umur 25 hari. Jarak tanamnya pun longgar, 40 cm x 30 cm; lazimnya,20 cm x 20 cm. Sudah begitu ia tak menggenangi sawahnya.

Keruan saja petani-petani lain di daerahnya menganggap aneh.Meski berkali-kali menyampaikan bahwa cara baru itu mendongkrak produksi, tak satu pun rekan-rekannya percaya. Mereka baru percaya setelah 100 hari kemudian Aep menuai padi. Hasilnya? Ia membawa pulang 7 ton dari lahan sehektar ke rumahnya. Produksi itu menjulang ketimbang hasil pekebun lain yang rata-rata cuma 4 ton per hektar.

Sejak itu penghujung 2003 petani-petani di Tasikmalaya mencontoh budidaya ala Aep Saepudin yang sohor dengan sebutan SRI (System of Rice Intensification). Hal paling mendasar dalam budidaya sistem intensifikasi padi adalah menerapkan irigasi intermitten. Artinya, siklus basah—kering bergantung pada kondisi lahan, tipe tanah, dan ketersediaan air. Selama kurun waktu penanaman, lahan tidak tergenang, tapi macak-macak—basah tapi tidak tergenang. Cara itu bisa menghemat penggunaan air sampai 46%.

Selain itu, sedikitnya air juga mencegah kerusakan akar tanaman. Menurut Dr Tualar Simarmata, dosen sekaligus peneliti di Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran, penggenangan menyebabkan kerusakan jaringan perakaran akibat terbatasnya pasokan oksigen. Semakin tinggi air, semakin kecil oksigen terlarut. Dampaknya akar tanaman tak mampu “mengikat” oksigen sehingga jaringan perakaran rusak.

Sistem intensifikasi, 7 ton/ha

Jarak tanam harus lebar

Selain menghemat air, budidaya intensif itu juga menghemat penggunaan bibit. Sebab, “Satu lubang tanam hanya ditanami satu bibit,” kata Enceng, petani di Ciamis, Jawa Barat, yang juga menerapkan sistem serupa di sawahnya. Untuk luasan 1 ha, pekebun hanya memerlukan 10 kg benih. Bandingkan dengan sistem konvensional yang menghabiskan 30 kg benih. Itu lantaran petani menanam 9 bibit di satu lubang tanam.

Jika harga benih Rp4.000/kg, petani yang menerapkan sistem intensifikasi menghemat Rp80.000 per hektar. Menurut Dr Sarlan Abdulrachman, ahli budidaya padi di Balai Penelitian Tanaman Padi (Balitpa), Sukamandi, Subang, dengan menanam satu bibit per lubang berarti menghindari perebutan hara sehingga pertumbuhan tanaman lebih baik. Sebaliknya, jika penanaman terdiri atas 9 bibit/lubang, kompetisi hara tak terelakkan.

Dalam intensifikasi, digunakan bibit muda. Umurnya 7 hari pascasemai dan terdiri atas 2 daun. Penggunaan bibit muda justru berdampak positif. Menurut Sarlan bibit muda lebih mudah beradaptasi dan tidak gampang stres. Karena perakaran belum panjang, maka penanaman pun tidak perlu terlalu dalam, cukup 1—2 cm dari permukaan tanah. Dalam budidaya konvensional, petani menggunakan bibit berumur 25 hari. Akar memanjang sehingga ketika dipindahtanamkan acap putus. Akibatnya, Oryza sativa itu pun stres sehingga mengganggu pertumbuhan.

Untuk menghasilkan bibit muda yang berkualitas, petani mempersiapkan sejak penyemaian. Populasi di persemaian 50 g/m2 agar bibit cepat besar, karena tidak terjadi persaingan unsur hara. Dengan cara itu bibit sudah siap tanam pada umur 5—14 hari.Pekebun intensif menanam bibit muda dengan jarak tanam 40 cm x 30 cm. Total populasi di lahan 1 ha mencapai 83-ribu tanaman. Sementara pada sistem konvensional, berjarak tanam 20 cm x 20 cm atau total terdiri atas 250-ribu tanaman. Dengan jarak tanam longgar, 40 cm x 30 cm, sinar matahari menembus sela-sela tanaman. Tanaman memerlukan sinar matahari untuk proses fotosintesis sehingga pasokan makanan tercukupi. Pantas dalam umur 30 hari, dari 1 bibit sudah menghasilkan 65 anakan. Itu jauh lebih banyak ketimbang sistem konvensional yang hanya menghasilkan 29 anakan.

Padi SRI umur 87 hari

Dongkrak produktivitas

Selain efisiensi air dan bibit, intensifikasi padi juga meningkatkan produktivitas. Peningkatan produktivitas karena pertumbuhan famili Gramineae itu lebih baik dibandingkan dengan yang ditanam secara konvensional.Pertumbuhan optimal menyebabkan produksi padi meningkat. Aep, misalnya, bisa memperoleh 300 butir padi dari 1 malai. “Bahkan ada juga yang sampai 700 butir,” katanya. Hal itu wajar saja. Menurut Sarlan kunci sukses sistem intensifikasi adalah perkembangan sistem perakaran dan lahan yang tidak tergenang. Hasilnya, perakaran kekar dan jumlah lebih banyak, sehingga bisa menyerap nutrisi dengan baik.

Hal senada diungkapkan Joeli Barrison, peneliti dari Department of Crop and Soil Sciences, Cornell University, New York. Hasil penelitian Joeli yang dilakukan pada 2002 menunjukkan perakaran padi yang ditanam dengan sistem intensifikasi jauh lebih banyak daripada yang ditanam dengan metode konvensional. Sistem perakaran yang baik meningkatkan penyerapan nitrogen dan kalium sampai 91% serta unsur fosfor sampai 66%.

Meningkatnya produktivitas berarti juga mendongkrak pendapatan petani. Enceng contohnya, pendapatan sebelum menggunakan intensifikasi RplO-juta dari hasil penjualan gabah kering giling 4 ton. Harga 1 kg gabah hanya Rp2.300/kg. Kini, pendapatannya beberapa kali lipat karena terjadi peningkatan produksi.

Apalagi pria kelahiran Ciamis itu menjualnya dalam bentuk beras dengan label organik. Beras dibagi ke dalam dua kelas: kelas pertama dengan bulir utuh Rp8.000/kg dan beras kelas II Rp4.500/kg. Dengan total penjualan 5 ton beras kelas I dan 1,4 ton kelas II diperoleh pendapatan Rp51.240.000. Setelah dikurangi biaya produksi Rp5-juta dan biaya giling Rp2,l-juta, ia mengantongi pendapatan bersih sebesar Rp 45.140.000.

System of Rice Intensification
“Mari kembangkan padi SRI seluas-luasnya,” ujar Presiden

Beras Madagaskar

SRI sebetulnya bukan barang baru. Sistem itu pertama kali ditemukan oleh Henri de Laulanie, pastur jesuit asal Perancis yang tinggal di Madagaskar. Pada 1961 Henry berimigrasi ke negara di seberang timur Benua Afrika itu. Di negeri rempah itu beras sebagai makanan pokok. Sayang, produktivitas padi di sana rendah. Itu berdampak pada kehidupan petaninya yang kurang sejahtera.

Makanya pada 1981, pria kelahiran 22 Februari 1920 itu mendirikan sekolah pertanian di Antsirabe. Sekolah itu ditujukan untuk kaum muda yang ingin memajukan pertanian di negara seluas 226,597 hektar itu. Di sekolah itu pula ia menemukan metode SRI pada 1983. Melalui metode itu, cara penanaman padi berubah total. Hasilnya mengejutkan, mencapai 20 ton/hektar.

Metode temuan Henry diperkenalkan ke dunia luar pada pertengahan 1990-an. Sejak itulah SRI dicoba di berbagai negara seperti China, India, Kamboja, Thailand, dan Bangladesh. Indonesia menerapkannya mulai 1999, dengan hasil sangat memuaskan. Pantas jika Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat meresmikan penanaman padi SRI, milik Medco Foundation menyatakan, “Mari kembangkan padi SRI seluas-luasnya,” ujar Presiden