Tampilkan postingan dengan label walet. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label walet. Tampilkan semua postingan

Senin, 22 Juli 2019

no image

Cara Walet cepat bersarang Menggunakan Menara Air

Pemilik rumah walet di pantai utara Jawa waswas. Tambang emas itu terancam akibat produksi melorot tajam hingga 60%. “Iklim rusak akibat hutan terus dijarah,” ujar Ir Rosich Amsyari, peternak di Surabaya yang juga mengalami nasib serupa. Dengan mendirikan “menara” air yang sederhana, kecemasan itu tak berkepanjangan.

Penurunan produksi mencapai 60% jelas sangat mengkhawatirkan. Jika sebuah sarang walet biasa menghasilkan 5 kg sarang, pemilik hanya dapat memetik 2 kg setelah terjadinya penurunan itu. Artinya, Rp45-juta yang mestinya dituai, sirna. Rosich menganalisis biang keladi anjloknya produksi karena banyak hutan rusak.

“Otomatis siklus iklim berubah, sehingga tingkat pengembunan berkurang. Jadi panas terus,” ujar alumnus Institut Teknologi Sepuluh Nopember itu. Kondisi itu dirasakan sejak Maret tahun silam. Pengamatan Rosich menunjukkan, beberapa area hijau di Gresik, salah satu sentra di Jawa Timur, mengalami kerusakan. Apalagi hingga akhir 2018 hujan tak tercurah sama sekali.

sarang walet

Tiga tiang

Untuk mengatasi masalah itu Rosich mendirikan 3 menara air di rumah walet di Sidayu, Kabupaten Gresik. Rumah itu berlantai satu berukuran 15 m x 20 m. Sedangkan halaman belakang berukuran 15 m x 10 m. Di belakang rumah walet itulah ia mendirikan 3 tiang besi berdiameter 1,5 cm dengan ketinggian beragam, 3 m, 4 m, dan 7 m. Tinggi tiang beragam lantaran, “Burung terbang kan berbeda-beda, ada yang tinggi dan juga yang rendah,” kata 2 anak itu.( Baca : Cara Memancing Burung Walet Agar Mau Bersarang Menggunakan Lampu 5 Watt )

Di setiap ujung tiang dilekati sprinkel statis yang terdiri atas 4 saluran air untuk memancing walet cepat bersarang. Sebuah pompa menarik air tanah, lalu disemburkan sprinkel. Setiap menara air dilengkapi sebuah pompa. Air dialirkan 3 kali sehari pada tiang 7 m. Masing-masing pada pukul 05.00—06.00, 00.10—12.00, 16.00—18.00. Tiang lain setinggi 4 m, dialirkan selama 12 jam sehari sejak pukul 06.00—18.00.

Menara lain, dialirkan hanya pada pukul 16.00—18.00. Dengan pengaturan otomatis—mirip pompa pada teknologi aeroponik sayuran—air mengalir dengan interval tertentu. Ide pembuatan menara air itu sederhana saja. “Burung kan perlu minum setelah terbang jauh. Ternyata betul, setiap sore burung berputar-putar di sekitar tiang itu sebelum masuk ke rumah,” ujar sarjana Teknik Elektro itu.

Lantai disiram Agar Tetap lembab

Dampak menara air rumput yang semula kering kecokelatan, sejak hadirnya sprinkel itu berubah hijau royo-royo. Itu berkat tetesan air yang membasahi rerumputan. Akhirnya seluruh halaman disiram setiap hari pada pukul 15.00. Setelah rumput hijau, populasi serangga pakan walet pun meningkat. ( Baca : Teknik Memancing Walet Menggunakan CD Rekaman Suara Walet Birahi )

Menurut Rosich populasi walet yang relatif tinggi meningkatkan temperatur ruang, sekaligus menurunkan kelembapan. Pada kondisi itu walet merasa tidak nyaman yang berdampak menurunnya produksi. Untuk mengatasi, anak ke-2 dari 6 bersaudara itu menggelontor lantai rumah yang dilapisi kotoran walet setebal 50 cm.

Lantai rumah disemprot air bersih hingga, “Kalau diinjak terdengar ces..ces… Becek merata. Telur yang jatuh saja tidak pecah,” kata mantan dosen Universitas Darul Ulum Jombang itu dengan logat Suroboyoan yang kental. Penyiraman itu menekan melonjaknya suhu ruang dan ini adalah salah satu cara agar walet cepat bersarang. Meskipun di dalam ruang Rosich juga menyediakan 10 tempayan berkapasitas masing-masing 30 liter.

Tak hanya itu, penyemprotan lantai tanah juga mengurangi kadar amonia sehingga kualitas sarang meningkat. Ruang berkadar amonia tinggi biasanya menghasilkan sarang berwarna kuning. Membuang kotoran untuk mengurangi amonia sangat riskan. Dengan adanya kotoran, walet sebetulnya lebih kerasan.

Rosich, misalnya, selama 7 tahun terakhir tak pernah mengurangi kotoran walet hingga menumpuk setebal 50 cm. Penyiraman pada bulan tertentu ketika kemarau panjang seperti dilakukannya, efektif menekan amonia. Kalau ada yang minta kotoran, paling ia hanya mengambil 10 karung masing-masing berbobot 25 kg. Setahun hanya sekali pengurangan.

sarang walet

Logis

Frekuensi penyemprotan 10 hari sekali hal ini dilakukan agar walet cepat bersarang. Waktu ideal penyiraman pukul 09.00—10.00 saat walet keluar ruangan. Dengan 2 perlakuan itu 3 bulan berselang produksi sarang kembali meningkat 20%. Produksi kembali stabil beberapa bulan kemudian. Keruan saja kiat yang diterapkan dosen Akedemi Perawatan RSI Surabaya itu ditiru banyak peternak lain. Mereka juga ingin melorotnya produksi tak berkepanjangan. ( Baca : Skema Pemasangan Tweeter Walet Secara Optimal )

Menurut Dr Boedi Mranata, pengamat walet, langkah yang ditempuh Rosich Amsyari masuk akal. Kelembapan tinggi mendorong kelenjar saliva yang memproduksi liur mampu bekerja maksimal. Sebaliknya, pada kondisi kelembapan rendah dan temperatur tinggi.

Kamis, 18 Juli 2019

no image

Pancingan Walet Dengan Lampu 5 Watt

Selama 3 tahun—dari 1999 sampai 2002— hanya lantai paling atas resting room yang ditinggali walet. Kondisi lantai teratas memang berbeda daripada lantai lain. Di sana cahaya matahari yang masuk melalui lubang keluar-masuk burung—berukuran 1 m x 1 m—cukup membuat ruangan lebih terang. Karena terang, walet mudah menyusuri ruangan itu. Lantai lain gelap gulita. “Sebenarnya antarlantai diberi void berdiameter 30 cm yang dibuat lurus dari lantai 4 sampai lantai dasar, cukup menerangi ruangan di masing-masing lantai,” ujar Halim, pemilik rumah walet.

Ketika Halim berkonsultasi dengan ahli walet di Jakarta Barat. “Konsultan itu menganjurkan untuk menggunakan Pancingan Walet dengan cra memasang lampu di tiap void sebagai sumber cahaya tambahan,” ujar mantan pengusaha baju anak-anak itu. Walhasil, setelah dicoba dalam waktu 2—3 hari walet mulai tertarik masuk sampai ke lantai dasar. Populasi pun bertambah lantaran walet lain kebandrang jejak walet lama yang sudah mendiami lantai atas.

sarang walet
Ruang temaram disukai walet untuk bersarang

Rumah baru

Sejatinya Collocalia fuciphaga menyukai tempat gelap. Namun, cahaya dibutuhkan untuk menuntunnya ke setiap lantai guna mencari lokasi nyaman. “Penggunaan lampu efektif terutama pada rumah baru yang cahayanya tidak tembus sampai ke lantai dasar,” ucap Ir Lazuardi Normansah, perancang teknik pencahayaan di Jakarta Barat.

Menurut Lazuardi banyak kasus rumah walet yang populasinya tidak merata dan memerlukan metode Pancingan Walet agar mau bersarang. Walet hanya menempati sudut atau ruangan tertentu, sementara ruangan lain kosong. Itu pula yang terjadi pada rumah waletnya di Jasinga, Bogor. Pada 1999 rumah walet berukuran 6 m x 12 m setinggi 3,5 lantai itu dihuni sekitar 125 ekor atau sebanyak 50 sarang. Namun, meraka hanya berkumpul di sudut bagian kanan/kiri lantai teratas. “Setelah 3 bulan dipasang lampu, sarang ditemukan di setiap lantai. Totalnya ada sekitar 100 sarang,” papar Lazuardi.

Kehadiran lampu bukan berarti kondisi ruangan menjadi terang-benderang. Dengan lampu berkekuatan 5 watt, hanya sekadar membuat ruangan temaram. Apalagi bohlam dimasukkan ke dalam kotak tripleks 10 cm x 10 cm x 15 cm yang hanya dilubangi bagian bawah sebesar koin Rp500. “Selain cahaya tidak menyebar, juga tidak menyilaukan walet,” kata Lazuardi.

Suasana sarang walet yang Temaram

Banyaknya lampu yang dipasang bergantung pada ukuran rumah dan bentuk void. Lazuardi mencontohkan, untuk rumah ukuran 6 m x 12 m dan void selang-seling cukup dipasang sebuah lampu 5 watt di setiap lantai. Lampu dipasang pada sisi dalam void di salah satu pojok. Berbeda dengan rumah besar berukuran 8 m x 20 m. Lampu dipasang di kanan dan kiri tembok pada setiap lantai. “Bila ruangan masih gelap bisa saja ditambah sebuah lampu di salah satu void,” ujar kelahiran Selat Panjang, Riau, itu.

Rumah bervoid lurus hanya memakai sebuah lampu di lantai dasar. Posisinya menghadap ke dinding sehingga cahaya dapat memantul ke tiap lantai. Namun, agar sampai ke lantai atas kekuatan lampu perlu ditambah 2—4 kali lipat, sekitar 10— 20 watt.

Lampu hanya dinyalakan pukul 14.00—20.00 WIB. Saat itu walet keluar-masuk rumah. Di atas pukul 20.00 lampu dimatikan karena walet menyukai kondisi gelap saat bersarang dan kawin. “Lampu tak dipakai lagi setelah jumlah sarang mencapai ratusan dan menyebar rata di setiap ruangan,” kata Lazuardi. Misalnya rumah berukuran 6 m x 12 m penggunaan lampu hingga jumlah sarang 100 keping; rumah yang lebih besar sesuai kelipatannya.

Lampu diletakkan pada setiap void

Suhu naik

Teknik Pancingan Walet dengan pencahayaan dalam rumah walet memang bukan sesuatu yang baru. Sejak 1995 cara itu sudah dipakai para pengusaha walet di Pulau Sumatera. Rumah-rumah walet di sana berukuran besar dengan ketinggian lebih dari 2 lantai sehingga butuh cahaya banyak untuk menerangi setiap ruangan. Bedanya, lampu dipasang hanya di lantai dasar dengan posisi menghadap ke atas. Hal itu tak jarang membuat walet silau. Dampaknya, lantai dasar nyaris tak berisi sarang.

“Selama walet bisa tinggal nyaman tak ada pantangan menyalakan lampu di rumah walet,” katanya. budidayatani menyaksikan di sebuah klenteng di Bangkok, Thailand, walet hidup, bersarang, kawin, dan mengerami telur di atas puluhan cahaya lilin dan lampu berkekuatan lebih dari 40 watt. Kedua sumber cahaya itu hidup selama 24 jam. Cahaya terang di setiap sudut tempat sembahyang itu seakan tak mengganggu aktivitas walet. Bahkan kualitas sarang tetap prima, berbentuk mangkok dan berwarna putih.

Kondisi itu memang dapat terjadi. “Pasti walet itu sudah beradaptasi selama puluhan tahun,” ucap Lazuardi. Namun, menurut Viany Cin Hong—konsultan walet Boss di Jakarta—adanya tambahan cahaya akan membuat suhu ruangan naik dan kelembapan turun. “Kenaikan suhu bisa mencapai 4°C. Padahal, yang ditolerir sekitar 1—2°C, “tambahnya. Idealnya suhu berkisar 27—29°C dan kelembapan 70—90%. Perubahan iklim mikro itu mengakibatkan sarang menjadi kering dan mudah lepas dari sirip. Cara mengantisipasinya dengan pengabutan atau menempatkan bak-bak berisi air di dalam rumah walet.

Mirip Habitat Aslinya

Untuk mengurangi kenaikan suhu yang berlebih maka sebaiknya gunakan lampu kuning yang memancarkan cahaya 30 foot candle, setara 5 watt. “Lampunya kuning, cahayanya mirip sinar matahari. Itu mirip suasana habitat asli di gua,” katanya. Dengan begitu adanya lampu hanya mengubah kondisi gelap gulita menjadi remang-remang. “Walet tidak suka di tempat yang gelap pekat, tapi remang-remang,” kata Mulyadi, pemilik realestate walet di Cisauk, Serpong, Tangerang. Digambarkan Mulyadi remang-remang adalah jika seseorang yang berdiri pada jarak 5 m hanya terlihat sosoknya, tapi tidak diketahui detail mukanya.

Di sisi lain penambahan lampu selain berguna sebagai Pancingan Walet agar mau bersarang namun juga berguna juga untuk mengusir tikus. Itulah perlakuan Viany di sebuah rumah walet berukuran 8 m x 20 m di pinggiran kota Pontianak, Kalimantan Barat. Untuk mengusir tikus Viany memasang 10—11 lampu 5 watt berjarak 0,5 m dari dasar lantai. Dengan posisi lampu menghadap lantai, tikus ketakutan tak mau ngendon di rumah walet.

Sabtu, 13 Juli 2019

no image

Tweeter Walet Terbaik Untuk Rumah Walet

Tweeter menjadi benda berharga di rumah walet Kemampuannya memanggil dan memikat si liur emas menjadi kunci sukses budidaya walet. Tak heran, bila peternak walet memasang puluhan hingga ratusan tweeter.

Sekilas ia seperti speaker biasa. Kelebihannya ia bisa menghasilkan bunyi sesuai frekuensi suara walet. Ini penting lantaran indera pendengaran walet sangat peka terhadap frekuensi tinggi. “Frekuensi suara yang keluar dari tweeter mendekati cericit walet,” kata Rudy Hamitoh, praktikus walet di Sunter,Jakarta ‘Jtara.

Pemilhan Tweeter Walet

Di pasaran tersedia beragam merek tweeter seperti Audax, Motorola, dan Piezo dengan harga bervariasi. Berdasarkan bahan perangkatnya dibedakan 2 jenis,yaitu magnet dan keramik.

Tweeter keramik mudah dipasang; magnet perlu orang ahli untuk memasangnya. Bila menggunakan tweeter magnet berhambatan 8 oh m jumlah yang bisa dipasang terbatas karena harus disesuaikan dengan kekuatan amplifier.

“Pasang tweeter secara paralel supaya berapapun jumlahnya tidak akan membebani dan merusak amplifier,” kata Bobo Wijaya, pemilik Golden Walet. Untuk luasan 10 m x 20 m, pasang 40—50 buah. Bila dipasang seri, kualitas suara berbeda-beda.

Bobo menyarankan kabel telepon berisi 4 serat, hitam, putih, merah, dan biru untuk sambungan ke CPU. Dengan demikian, output tweeter bisa 2 suara sekaligus bahkan lebih. “Suara anakan, dewasa, dan indukan sekaligus,” kata alumnus jurusan Master of Information System, Brisbane, Australia itu.

Pilih tweeter kecil untuk di dalam ruangan agar walet betah dan bersarang. Pemasangan sebaiknya mengarah lubang masuk. Untuk memikat walet di luar gedung, pasang tweeter besar di depan lubang masuk dengan frekuensi tinggi dan volume besar. Pengaturan volume dipertimbangkan. Kondisi lingkungan, seperti kecepatan angin dan cuaca sangat mempengaruhi sistem kerja tweeter. Volume terlalu besar, akan mengejutkan walet saat mendekat sehingga enggan masuk. Bila pemakaian dan pemasangan tweeter tepat, maka walet akan segera terpikat masuk ke rumah.

Jumat, 12 Juli 2019

no image

Teknik Memancing Walet Menggunakan CD Rekaman Suara Walet Birahi

Teknik memanggil walet dengan suara sebuah keniscayaan. Berbagai suara rekaman, mulai dari walet kawin, birahi atau bercumbu diperdengarkan. “Suara harus dibunyikan setiap hari. Apabila listrik mati, maka segera diganti genset atau accu. Bila tidak ada suara, walet tidak mau datang,” kata Daniel Chandra, peternak di Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

Di ketapang, Kalimantan Barat, suara rekaman itu diaktifkan sejak pukul 06.00—19.00. Volume suara ada yang keras dan sedang. Bahkan ada rumah yang memasang tweeter hingga 4 buah dengan volume sangat keras. Perang suara terjadi setiap hari, sepanjang waktu, di sentra-sentra walet.

Tidak semua muncul sebagai pemenang perang. Ada rumah walet yang tetap kosong atau dimasuki sedikit walet. Makanya, pengusaha di Prapat, Sumatera Barat, dan Metro, Lampung, atau Singkawang, Kalimantan Barat, dan Tempilang, Bangka, pusing karena rumah belum dihuni walet. Jika putus asa mencapai batas, rumah pun dijual dengan harga murah.

Sumber suara

Genderang perang suara muncul sejak 1984. Saat itu peternak memakai pita kaset dengan tape. Alat itu dipilih karena bisa mengulang kembali secara otomatis bila pita habis. “Pemasangan tweeter pun asal-asalan saja, tapi berhasil,” kata Waskito, peternak di PurwodadI, Jawa Tengah.

Saat itu memancing walet dengan suara sangat mudah karena bangunan belum banyak. “Dengan memasang tape di lumbung, sriti masuk,” kata Yesaya Suarma. Pengalaman Andi, peternak di Pringsewu, Lampung, hanya dengan memasangpita kaset selama 3 bulan, walet telah menghuni gedung baru.

Kini teknik panggil walet semakin maju. Pemakaian kaset ditinggalkan karena mudah aus, mudah melintir, dan cepat rusak. Sebagai gantinya dipakai compact disk (CD). Alat yang digunakan beragam, seperti VCD atau CD ROM. Bahkan ada pula yang memakai amplifier tanpa CD.

Kunci sukses memenangkan perang suara adalah pemilihan CD. CD hasil rekaman harus bersih agar suara yang dikeluarkan mirip dengan suara aslinya. Pilihlah suara walet yang sedag memasuki musim birahi. Suara itu mudah memancing walet muda yang memasuki masa puber. Induk sulit terpancing karena sudah mapan. ( Baca : Budidaya Walet Dengan Pancingan Sarang Kertas Karton )

Pengalaman menunjukkan, minimal perlu 2 CD: CD panggil dan CD inap. CD panggil berisi suara walet birahi, berkejaran, dan kawin sehingga dipasang di lubang masuk dan hanya sebagian ruangan di dalam gedung. Itu disebut juga CD luar yang diputar setiap pukul 06.00—18.30. Pemasangan CD inap dimaksudkan agar walet yang sudah terpanggil tetap berada di gedung dan tidak keluar lagi. Rekamannya berisi walet sedang bercumbu, induk membuat sarang, dan memberi makan. CD inap diputar sejak pukul 18.00—21.00.

Variasi

Ada baiknya bila memiliki CD lebih dari satu. Itu sangat penting untuk mengantisipasi bila walet menunjukkan perilaku bosan atau jenuh mendengar suara itu-itu saja. Tandanya, ia mulai enggan mendekat dan tidak merespon sumber suara.

Menurut pengalaman, gedung baru yang memutar CD suara yang jarang atau belum pernah diputar di lokasi tersebut akan didatangi koloni walet. Itu bukti walet selalu merespon suara baru yang belum pernah didengarnya. Sebaliknya, suara monoton menyebabkan walet jenuh.

Bila walet menunjukkan perilaku bosan, maka segera ganti CD lain. Biasanya 2 bulan CD suara harus diganti. Selain CD tidak mudah aus, koloni walet tetap rutin berkerumun dan masuk gedung.

Cara atur

Selain CD suara, pengaturan tweeter harus tepat karena alat itu yang memancarkan gelombang suara. Speaker hitam itu dipasang menghadap keluar agar gelombang yang dipancarkan mudah direspon. Teknik pemasangan yang asal-asalan membuat burung bingung mencari sumber suara.

Pengaturan speaker di ruangan pun sebaiknya searah agar gelombang suara beraturan. Begitu burung masuk ke gedung, ia akan segera menemukan sumber suara. Banyak kasus dialami pemula, burung sebenarnya sudah masuk, tapi karena tidak menemukan sumber suara maka ia keluar lagi. Itu diamati pada tingkah laku burung yang hanya mau keluar-masuk di lubang atau rumah monyet saja, tanpa mau menginap. Idealnya, 4 tweeter untuk luasan 4 m x 4 m. ( Baca : Skema Pemasangan Tweeter Walet Secara Optimal )

Bila tweeter sudah dipasang dengan benar, maka volume perlu diatur sesuai kondisi gedung. Volume terlalu keras belum tentu memancing walet mendekati sumber suara, justru mereka akan pergi menjauh. Sebaliknya, volume terlalu rendah mengurangi kemampuan walet merespon sumber suara.

Satu hal yang perlu diperhatikan adalah menjaga suhu dan kelembapan ruangan. Caranya, dengan memperbanyak ventilasi atau membuat bak kolam. Ciptakan suasana sesuai habitatnya, idealnya suhu 26—28°C, kelembapan 90%. Cahaya matahari berlebihan dapat dikurangi dengan menyekat ruangan agar lebih redup.

Namun, bila terlalu gelap, justru cahaya harus ditambah dengan memasang lampu dop 5 watt sehingga tampak remang-remang. Tidak semua walet bersarang dan menyukai tempat gelap.

Jumat, 21 Juni 2019

no image

Analisis Untung Rugi Alih Fungsi Ruko Sebagai Sarang Walet

Pukul 15.00 di kawasan Hok Tong, Jambi. Di langit nan biru tiba-tiba berkelebat ribuan walet. Mereka beterbangan di atas sebuah bangunan tua. Di situlah burung penghasil sarang mahal itu beranak-pinak hingga berkembang ke penjuru kota yang terkenal dengan Sungai Batangharinya. Potensi yang patut dilirik untuk pengembangan sentra baru.

Bangunan 2 tingkat itu berbentuk rumah adat khas Jambi. Dinding terbuat dari bilah kayu yang tersusun rapi secara vertikal. Ukiran kayu “melekat” di dinding sebagai penghias rumah. Atap berbahan genteng tampak menghitam tanda usang. Wajar, rumah itu sudah lama ditinggalkan penghuninya. “Lantaran tidak terurus, orang yang melewatinya menyebut rumah hantu,” kata salah satu warga di sekitar Jl. dr Sutomo, Jambi, itu.

Menurut Sukirman, salah satu warga di Jambi, rumah itu sudah 20 tahun tidak dihuni oleh pemiliknya. Dengan begitu walet leluasa keluar-masuk. Ia menduga kondisi ruangan gelap dan lembap membuat burung itu betah tinggal. “Dulu, rumah itu termasuk paling tinggi di antara yang lain,” ujarnya.

Budidaya Walet
Harga Sarang Walet Yang mahal pantas bila banyak berinvestasi

 

Migrasi Walet Dari gua

Belum ada yang bisa menjelaskan sejarah kehadiran walet di sana. Masyarakat sekitar hanya melihat burung itu keluar-masuk bangunan itu. Sukirman yang sudah 50 tahun tinggal di Jambi menduga walet muncul di sana lantaran banyak hutan terbakar.

Menurut ceritanya walet menghuni gua-gua sekitar Desa Bukit Bulan, Kecamatan Limun, Kabupaten Sarolangun, sekitar 150 km dari Jambi. “Pada 1985-an banyak orang memburu sarang ke sana.

Mereka harus berjalan kaki sehari semalam untuk mencapai daerah itu,” ujar pensiunan staf Bina Usaha Dinas Perikanan dan Kelautan Jambi, itu.

Dugaan lain, walet berasal dari Tanjung Barat, Kuala tungkai, sekitar 125 km dari Jambi. Lokasi di sana memang berdekatan dengan laut. “Sejak dulu, daerah itu terkenal dengan waletnya. Kemungkinan ada yang nyasar ke mari,” kata Ali Kusno, salah satu warga di Tanjungpinang, Jambi.

Saat itu populasi walet sangat banyak. “Tanpa dipancing pun bisa masuk sendiri ke rumah. Namun, saat itu warga belum banyak yang tahu dan tidak mencari informasi mengenai pemanfaatannya. Walet dibiarkan berkembang dan hidup alami,” katanya.

Penginapan Pinang milik Aghuan, misalnya, juga dihuni walet lantaran berdekatan dengan rumah tua itu. Begitu dimasuki burung, si pemilik merombak bangunan menjadi 3 lantai. Hotel pun beralih fungsi menjadi hunian walet. Bagi mereka burung berbulu hitam keabu-abuan itu telah membawa berkah. Kedatangan walet ke rumah dianggap rezeki. ( Baca : Budidaya Walet Dengan Pancingan Sarang Kertas Karton )

Populasi Walet yang terus Meningkat

Berawal dari rumah itu populasi walet kian meningkat. Namun, indikasi pembangunan rumah walet semakin marak pada 1998. Itu terjadi sejak kehadiran pendatang dari Medan dan Jakarta. “Waktu terjadi kerusuhan sekitar 1997—1998. Jambi termasuk aman sehingga mengundang orang untuk datang dan berinvestasi di sini, termasuk walet,” kata istri Ali Kusno yang menemani budidayatani.

Saking maraknya bangunan walet, harga tanah dan bangunan pun melonjak. Sebagai gambaran, rumah seharga Rp70-juta pada saat itu termasuk mahal. Kini, bisa mencapai ratusan juta rupiah. Di Pasarbaru, Jambi, ada salah satu ruko 3 lantai seluas 10 m x 15 m dijual Rp2,3-miliar.

Ketertarikan Ali Kusno mengembangkan walet 3 tahun silam sebenarnya tanpa disengaja. Kebetulan ia membangun ruko 3 lantai seluas 12 m x 20 m untuk farm ikan hias. Rencananya, lantai dasar untuk penampungan ikan, sementara yang lain dipakai untuk tempat tinggal. Meski belum rampung, sudah banyak burung yang keluar-masuk bangunan. Ia pun memutuskan untuk menjadikan sebagai rumah walet. budidayatani menghitung sekitar 100 sarang menempel di lagur lantai ke-3. “Sebagian sudah saya panen. Ini hanya ingin tahu saja,” katanya sambil menunjukkan puluhan sarang di stoples plastik.

Belum ada angka pasti jumlah rumah walet di Jambi. Namun, Ali Kusno memperkirakan baru ratusan buah saja. Di samping rumahnya juga ada 3 bangunan lain dengan ukuran sama. Bangunan walet tersebar di kelurahan Tanjungpinang, Rajawali, Kumpay, dan Selincang. Selain penginapan, toko juga banyak yang ditutup gara-gara dihuni walet. Bahkan ada pula yang merombak toko menjadi rumah walet 3 tingkat.

Budidaya Walet
Ruko Berubah Menjadi Sarang Walet

Rumah Walet Strategis

Pengembangan rumah walet terus menjamur dari hari ke hari. “Hal itu karena prospek bisnis sarangnya semakin jelas. Sekilo sarang burung dihargai Rpl4-juta. Siapa yang tak tergiur uang sebesar itu,” ucap Budi Aji Salim, salah satu konsultan walet di Jambi. Apalagi pemilik tidak perlu menjual sarang burung ke Jakarta. Penampung lokal bersedia membeli jumlah satuan hingga kiloan.

Di Jambi memang masih memungkinkan untuk pengembangan walet. Hal itu karena didukung kondisi lingkungan sekitar. Pakan tersedia sepanj ang tahun yang diperoleh dari hutan dan kebun karet. Air pun melimpah dari Sungai Batanghari. “Soal pakan, tak bakal kekurangan,” ujar pengusaha alat-alat pemancing walet itu.

Inovasi untuk budidaya walet pun mulai banyak diterapkan. Pemakaian alat pemancing walet, seperti tape, CD player, atau amplifier umum digunakan di rumah walet. ( Baca : Skema Pemasangan Tweeter Walet Secara Optimal )

Cericit walet tiruan dari lubang walet terdengar di sana—sini begitu menjelang sore. Bagi masyarakat setempat, suara itu sudah lumrah terdengar. Mereka berharap walet hidup nyaman dan beranak-pinak. Dengan begitu liur berharga mahal itu segera dipanen dan dijual.

Sabtu, 15 Juni 2019

no image

Cara Pemasangan Tweeter Walet Secara Optimal

Sudah 3 tahun rumah walet Afong di Kecamatan Siantan, Kabupatan Pontianak, Kalimantan Barat, kosong dari cericit walet. Jangankan untuk bersarang, singgah pun Collocalia fuciphaga itu tidak mau. Namun sejak rumah walet itu dipasang tweeter sistem oper bola selama 8 bulan, ada 200 sarang walet di sana.

Sulitnya si liur emas untuk bersarang di bangunan walet milik pengusaha emas itu kontras dengan lingkungan sekitarnya. Lokasi tempat bangunan itu berada kondang sebagai kompleks walet. “Di sini ada sekitar 100 rumah walet,” ujar Afong. Mayoritas rumah-rumah itu sudah banyak dihuni walet. Namun, “Di tempat saya walet-walet itu hanya keluar masuk,” tambahnya. Padahal perangkat pendukung untuk memancing walet antara lain cd walet dan tweeter sudah dipasang. (Budidaya Walet Dengan Pancingan Sarang Kertas Karton)

Nasib baik mulai berpihak setelah bangunan itu dikunjungi seorang konsultan walet dari Jakarta Barat. Konsultan itu menduga sulitnya walet bersarang karena penempatan tweeter yang salah. “Rupanya posisi tweeter yang berhadapan membuat suara antartweeter bertabrakan. Akibatnya walet sulit menentukan sumber suara,” ujar Afong yang kemudian mencoba sistem tweeter oper bola. Terbukti setelah posisi dan jarak antartweeter diubah, muncul suara jernih yang membuat walet mau menetap.

tweeter walet
Walet di tweeter bisa membuat sarang

Atur jarak pemasangan tweeter walet

Sistem tweeter oper bola yang didesain oleh Ir Lazuardi Normansah pada 1997 bertujuan untuk mengundang walet tertarik masuk, terutama burung baru. “Diusahakan burung yang datang itu langsung menginap dan dapat ditolerir sampai hari ketiga,” ujar konsultan walet di Jakarta Barat. Langkah awal untuk mengundang walet adalah dengan memasang 2—4 tweeter luar di pintu masuk walet yang terletak di lantai teratas. “Tweeter harus menghadap keluar supaya suaranya jelas terdengar oleh walet,” kata kelahiran Riau, 40 tahun lalu.

Tweeter lain, void, dipasang lebih dalam berjarak 1—2 m dari tweeter luar.Tujuannya supaya suara tweeter luar samar-samar terdengar dalam ruangan. “Kalau tweeter void tidak ada, walet-walet itu akan mengikuti arah suara tweeter luar dan walet akan keluar rumah lagi,” ujar Lazuardi. Nah,agar burung masuk sampai ke lantai bawah, pada void di tiap lantai juga dipasang sebuah tweeter. Posisi tweeter antarlantai—tweeter dalam—berselang-seling. Jarak pemasangan setengah dari lebar sirip tembok.Tweeter dalam yang terpasang pada sirip-sirip perlu diatur letaknya. Idealnya setiap 1 m2 dipasang sebuah tweeter dengan jarak 10—20 cm dari bibir sirip. “Biasanya walet suka menempel pada tweeter. Bila posisi tweeter dekat bibir sirip, walet jadi takut dan malas bersarang,” ujar Lazuardi. Selain itu posisi tweeter diupayakan tegak lurus agar suara yang keluar terdengar jelas.

Ragam suara

Selain posisi dan jarak, jenis suara menjadi bagian penting memancing walet masuk dan bersarang. Untuk itu menurut Lazuardi perlu dipasang cd suara kawin, bermesraan, saling memanggil, dan piyik. Yang lain suara walet remaja bermain di tweeter luar. Yang disebut pertama lebih dominan terdengar, sekitar 60—70%. Hal itu untuk merangsang walet segera mencari pasangan dan kawin. Suara piyik dan remaja bermain digunakan 10—20%. Begitu pula suara panggil digunakan sebesar 10—20%. “Walet itu hidup berkoloni. Saat mendengar suara-suara itu mereka tidak akan merasa sendiri,” jelas Lazuardi.

Pada tweeter dalam dan void suara walet mengasuh piyik, piyik, dan remaja yang sedang bermain lebih dominan. Masing-masing porsinya mencapai 20—30%. Sisanya, suara walet saat birahi dan bermesraan. Pada tweeter luar, dalam, dan voidragam suara itu dipasang dengan durasi 20 menit yang direkam dalam cd.

Lamanya tweeter menyala mempengaruhi kehadiran walet. Tweeter luar dan void hanya dihidupkan setiap hari pukul 05.00—19.00 WIB. Tweeter dalam pada rumah yang telah berproduksi dipasang mulai pukul 04.00—21.00 WIB. Pemasangan pagi huta untuk tanda waktu agar burung keluar mencari pakan,’ tutur Lazuardi. Sedangkan tweeter dalam di rumah dibiarkan menyala selama 24 jam.

tweeter walet
denah Lokasi pemasangan tweeter walet

Mikroklimat

Tweeter yang mampu bekerja maksimal dapat membuat walet masuk dan bersarang. “Bila dianggap nyaman walet akan menyusuri ruangan sampai ke lantai bawah,” kata Lazuardi. Pada rumah baru, walet biasanya akan berhati-hati masuk lantaran takut. “Dalam waktu 1—2 detik terbesit keraguan walet untuk tinggal. Namun jika tweeter terpasang benar, keraguan burung akan hilang,” tambahnya.

Tweeter memang bukan satu-satunya faktor penentu walet bersarang. Menurut Hary K Nugroho, konsultan walet di Jakarta Utara, tweeter dipakai sebagai langkah awal menarik walet masuk ke dalam rumah. “Setelah masuk, selanjutnya mikroklimat dan aroma dalam rumah memegang peran penting,” ujarnya. Idealnya suhu diatur 28—30° C, sehingga tweeter bakal bekerja lebih ringan untuk memikat walet bersarang

Sabtu, 08 Juni 2019

no image

Budidaya Walet Dengan Pancingan Sarang Kertas Karton

Setiap pukul 08.00 dengan penuh harap Ade H Yamani memasuki rumah walet. Matanya menyapu ke setiap sudut ruangan berlantai tegel abu-abu 20 cm x 20 cm. Onggokan kotoran yang didambakan belum juga terlihat—tanda walet belum mau menginap. Berbagai usaha sudah dijalani, antara lain melengkapi rumah waletnya dengan pengabut agar suhu dan kelembapan ideal tercapai, serta diputarkan cakram padat (CD) pemanggil walet.

Semula Abeng—sapaan Ade H Yamani—begitu yakin dalam tempo 1 atau 2 bulan rumah berukuran 9 m x 12 m itu dihuni walet. Sebab, sepanjang hari burung berbulu dada cokelat dari rumah tetangga yang hanya berjarak 100 m acap kali keluar-masuk rumah. Namun, hingga 2 tahun rumah yang dibangun pada 1996 itu hanya dijadikan arena bermain. Sang penghasil liur mahal itu enggan tinggal dan membuat sarang.

“Lingkungan mikro seperti suhu, kelembapan, dan tingkat gelap oke. Lagur pun kering, tidak ada yang bercendawan. Tapi saya heran kok walet tidak mau menginap,” ungkap Abeng. Sejak itulah pria kelahiran Karawang 34 tahun silam mencoba berbagai pemikat. Pertama kali ia menggunakan sarang tiruan terbuat dari plastik, tapi walet tetap menolak bermalam. Kemudian dicoba lagi dengan bilahan bambu yang dibentuk berupa sarang. Usaha ini pun gagal total.

Kertas dibentuk mirip sarang walet

Cairan Semprot Sebagai perangsang

Pilihan Abeng kemudian jatuh pada kertas karton. Ia melihat kertas karton putih setebal 0,2 mm yang biasa digunakan untuk kotak nasi atau makanan ringan memiliki banyak kelebihan. Selain mudah dibentuk, harga murah, juga empuk sehingga memudahkan walet mencengkeramkan kuku-kukunya. Kertas karton berukuran 100 cm x 80 cm seharga Rp2.000/1embar dibagi menjadi 35—40 sarang. Cara membuatnya, potongan karton berukuran 12,5 cm x 14,5 cm dilipat sudut-sudutnya membentuk kantong.

Sebelum ditempel, sarang palsu itu disemprot cairan beraroma sedikit anyir sebagai perangsang. Abeng membuat sendiri larutan itu dengan mencampur air rendaman sarang walet dan bahan-bahan nabati. Agar tidak bercendawan sarang dikeringanginkan. “Meski kering, aroma larutan tetap melekat hingga berbulan-bulan,” kata Abeng. Selanjutnya sarang dipasang di lagur menggunakan paku payung di kedua sisi, kanan dan kiri, supaya kuat.

Abeng memasang 400 sarang pada Agustus 1998. Jarak antarsarang 25—50 cm. “Kalau rumah bertingkat, sarang dipasang di setiap tingkat. Boleh di seluruh lagur atau hanya sebagian. Yang penting minimal 100 sarang per lantai,” lanjut ayah 2 putra itu. Hindari sarang terkontaminasi solar atau minyak tanah. Jika itu teijadi walet ogah bersarang. Oleh karena itu tangan harus bersih saat membuat dan memasang sarang.

Progres Mulai Terlihat Pada Bulan ke 4

Abeng memasang sarang tiruan itu pada musim kemarau sekitar Agustus— September. Maksudnya agar walet beradaptasi terlebih dahulu sebelum membuat sarang. Sebab, walet bertelur pada Desember—Januari saat banyak turun hujan. Strategi itu ternyata berhasil. Empat bulan setelah pemasangan beberapa pasang walet menginap, terlihat dari kotorannya yang menumpuk di lantai.

“Pada Januari 1999 sudah ada 7 sarang berisi masing-masing 2 telur,” ucap pria yang menimba ilmu perwaletan dari mertuanya itu. Telur-telur itu dibiarkan menetas menjadi piyik. Sementara sarang tersisa satu per satu mulai diisi walet-walet lain hingga jumlahnya mencapai 25% atau sekitar 100 sarang. Menurut Abeng semakin dekat dengan sentra semakin tinggi keberhasilan memancing walet. Apalagi jika di tempat itu—radius 500 m—lebih dari 1 rumah, masuk dan menginapnya walet lebih cepat.

Berdasarkan pengalaman Abeng menggeluti walet sejak 1992, sebanyak 5 rumah di Jati wangi, Majalengka, yang ditangani dengan cara serupa—dipancing dengan sarang kertas karton— semuanya berhasil. “Rata-rata 4 bulan walet masuk, meski ada yang mencapai 6 bulan karena agak jauh dari sentra,” tuturnya. Sebaliknya 2 rumah yang belakangan dikelola, hanya dalam waktu 2 bulan sudah diinapi masing-masing 2 pasang walet.

Abeng terus bereksperimen memancing Produktifitas walet

Media Dapat Digunakan Sebanyak 2 kali

Sarang kertas tahan hingga 2 periode penetasan. Selama itu pula sarang jangan dipanen. Artinya setelah piyik lepas terbang, biarkan sekali lagi induk bertelur. Barulah setelah anakan kedua terbang, sarang dipetik berikut kertas kartonnya. Induk akan segera membuat pondasi sarang baru di dekat sarang asal.

“Saya anjurkan 2 periode untuk jaga-jaga walet kabur. Toh, kalau pun kabur sudah ada 2 pasang penggantinya,” kata Abeng berargumen. Keuntungan lain, induk merasa terikat untuk tetap tinggal karena sudah terbentuk koloni lebih besar. Sarang kertas hanya sekali pakai karena biasanya rusak. Sarang liurnya? Masih laku dijual dengan harga separuh harga kualitas sarang balkon. Maklum, sarang yang dibuat di kertas karton itu bentuknya tidak utuh sehingga pembeli menghargainya sama dengan sarang remukan. “Sebulan yang lalu saya menjualnya Rp8-juta/kg, saat sarang berkualitas baik Rpl5-juta—Rp 16-juta,” tutur Abeng.

Itulah kelemahan kertas karton, harga sarang lebih murah ketimbang menggunakan sarang imitasi berbahan baku nilon misalnya. Sarang imitasi yang banyak beredar di pasaran menghasilkan sarang relatif baik sehingga harga pun tidak berbeda jauh dengan sarang utuh. Selain itu, lipatan kertas menjadi tempat favorit kecoak—hama di rumah walet karena menggerogoti sarang.

“Kecoak memang sering saya temukan menyelinap di lipatan kertas. Makanya secara berkala, 1—2 bulan sekali dikendalikan,” ucap Abeng. Ia mengatasi dengan cara mekanis untuk mengendalikannya. Insektisida sebetulnya bisa dipakai, asal kecoak diusir terlebih dahulu dari sarang. Bau insektisida sulit hilang jika meresap di kertas.

Meskipun begitu, kertas karton layak dilirik untuk memancing walet. Biayanya murah, hanya dengan Rp20.000 sebanyak 400 sarang tiruan bisa terpasang. Sarang imitasi yang beredar di pasaran lebih mahal, untuk 1 lusin saja Rp60-ribu—Rp90.000. Toh, yang utama efektivitasnya. Berkat kertas karton itu, rumah walet memproduksi sekitar 320 sarang.