Selamat Datang Lei Teranyar…!

“Tak ada tanaman hias yang lebih spetakuler selain plumeria,” puji Chandra Gunawan, kolektor tanaman hias di Sawangan, Depok. Maklum kerabat adenium itu berbunga sepanjang tahun, harum, dan tahan banting. Kamboja hawaii sebutan popular plumeria makin marak dengan kedatangan anggota baru sejak setahun silam.

Jika Anda melewati perumahan elite di kawasan Cinere Mas, Tangerang, dan Pondok Indah, Jakarta Selatan, tampak 2 sampai 3 plumeria berbunga merah menyemarakkan halaman rumah. Anggota famili Apocynaceae itu juga menghias tepi jalan di dekat pintu keluar tol Jagorawi menuju Jakarta. Ia tampil sebagai elemen utama taman bernuansa tropis. “Bunganya yang beraneka warna jadi daya tarik,” ujar Chandra Gunawan.

Itu baru plumeria alba dan merah kecapi. Penampilan 30 jenis plumeria yang didatangkan Chandra lebih eksotis. Sosok mini, warna cerah dengan bentuk beragam. Serta merta mitos seram yang melekat pada kamboja itu luntur. “Hobiis tanaman hias dulu enggan mengoleksi plumeria karena angker, tapi kini banyak yang tergila-gila,” ujar Heri Syaefudin pemilik Nggon Kulo Nurseri. Mereka tidak hanya berburu di nurseri dalam negeri, tapi juga mancanegara.

Lebih glamour

Chandra mendatangkannya dari Honolulu, Hawaii, dan Florida. Ke-30 pendatang baru itu memiliki keistimewaan sendiri-sendiri. Namun, secara keseluruhan penampilan mereka lebih ngejreng dibanding alba dan merah kecapi. Kebanyakan berwarna merah muda, kuning muda, oranye, putih, atau kombinasi.

Bahkan beberapa jenis memiliki mahkota lebih dari 1 warna. Misalnya jenis rainbow. Ada warna merah muda, kuning, dan putih dalam 1 bunga. Plumeria 3 warna ini langka. Sedangkan yang 2 warna meski tak mudah ditemukan tetapi cukup banyak. Yang juga langka plumeria ber-splash putih di atas petal berwarna merah muda. Lantaran penuh warna penduduk Hawaii merangkainya untuk kalung bunga lei tanda ucapan selamat datang.

Sebetulnya jenis lokal pun tak kalah cantik. Hasil perburuan Heri di Jawa dan Jabotabek menemukan kamboja berwarna merah muda dengan petal berukuran besar. Ia tampak anggun menghiasi taman gaya bali rancangannya di Sawangan, Depok.

Di sampingnya berdiri tegak kamboja berwarna kuning. Yang istimewa dari kamboja ini menebar aroma mirip kayu cendana. Oleh karena itu Heri menyebutnya kamboja cendana. Petal cendana tidak mengembang, tapi menjulang menantang matahari. “Cendana rajin berbunga dan banyak jumlahnya,” ujar alumnus Arsitektur Pertamanan Universitas Trisakti itu. Plumeria yang ditemukan di daerah Jawa itu dipotkan agar tidak terkesan angker.

Tahan banting

Bunga lei sebutan lain plumeria tak cuma indah dilihat dari warna. Bentuk bunga pun beragam. Jika dulu hanya dikenal 5 petal berbentuk lancip, kini lebih bervariasi. Ada yang lancip-panjang bak bintang, lonjong mirip pagoda hingga bertumpuk. Bentuk-bentuk nan unik itu yang membuat Chandra jatuh hati pada plumeria. Petite pink jadi favorit pemilik Godongijo Nurseri itu. Sosoknya kerdil hanya 50 cm dan berselimut bunga putih.

Koleksi Heri juga tak kalah unik. Sebut saja plumeria berpetal 10 buah dan tersusun rapi mirip mawar. “Jenis langka itu hasil perburuan di sekitar Jawa,” ujarnya. Ia lebih cantik ketimbang bali whirl plumeria berpetal 10 pertama di dunia. Ukuran bunga lebih kecil berwarna putih dengan tengah kuning.

Tidak salah jika hobiis tertarik memilikinya. Apalagi plumeria tanaman tahan banting, tak perlu perawatan intensif. Disiram seminggu sekali pun tak masalah. Yang penting tanah poros. Ia meski rajin dipangkas agar tidak terus membesar. Jika ingin menampilkan kesan bonsai, sambung dengan bonggol bawah kamboja lokal.

Halaman terakhir diperbaharui pada 15 Oktober 2021

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.