Serindit Mahkota Biru Kini Dapat Ditangkarkan

Gambar Gravatar
  • Whatsapp

Betapa nestapanya srindit. Burung hias itu terus diburu lantaran keelokan bulunya. Sudah begitu hutan tempat ia melestarikan keturunannya pun dieksploitasi. Sang mahkota biru sampai demikian julukannya sampai terancam. Tangan dingin Wahyu Widodo sukses menangkarkan si paruh bengkok.

Srindit digemari lantaran bulu nan elok dan sosok mungil. Perilakunya unik ketika nangkring di ranting. Posisinya menggantung layaknya kelelawar. Oleh karena itu ia pun disebut hanging parrot. Suaranya kalem dan enak didengar. Provinsi Riau menjadikannya sebagai maskot.

Di Indonesia dikenal beberapa jenis induk. srindit. Dari Jawa ada Loriculus fucilus, Sumatera dan Kalimantan L. galgulus, dan srindit Maluku L. amabilis. Sementara di Sulawesi ada 2 jenis, yang berukuran besar L. katamane dan kecil L exilis. Namun, hanya srindit asal Jawa dan Sumatera yang mudah diperoleh di pasar burung.

Ternak Serindit Menuntut Kondisi Kandang Jauh Dari Kebisingan

“Pada prinsipnya semua jenis srindit bisa diternakkan. Tapi yang sudah berhasil baru srindit asal Sumatera dan Jawa. Itu pun karena induknya mudah didapat,” ucap Wahyu, peneliti di Balai Penelitian Zoologi, Bogor. Kalau sekadar membedakan jenis kelamin mudah. Jantan ditandai bulu merah di dada; betina, hijau. Masalahnya, sulit mendapatkan pasangan srindit produktif.

Wahyu hanya melihat warna paruh dan kaki untuk memprediksi umur srindit. Kendati tidak 100% berhasil, cara itu dianggap efektif. Paruh putih kehitaman pertanda burung masih muda, umur sekitar 6 bulan. Warna itu berangsur-angsur hitam ketika berumur setahun.

Pada saat itulah burung layak dijadikan “Umur 6 bulan pun sebenarnya sudah bisa dipasangkan,” ucap ayah 2 anak itu. Yang penting lokasi penangkaran tenang. Sebab ia sangat sensitif. Suara tikus atau bayangan orang lewat menyebabkan stres.

Itu terbukti ketika salah satu sudut Kebun Raya Bogor menjadi lokasi penangkaran. Ujicoba pada 1994 dengan 100 induk gagal ditangkarkan. Beberapa burung malah mati, yang tersisa hanya 8 pasang. Begitu dipindah ke gedung Widyasatwaloka, di Cibinong setahun silam populasi meningkat menjadi 20 ekor.

Kandang Dibuat Sesuai habitat aslinya

kandang serindit
Lengkapi kandang dengan pepohonan

Soal kandang, semakin luas burung kian leluasa bergerak. Ukuran kandang yang dipakai Wahyu 3mx3mx4m. Kandang terbuat dari kawat ram agar pertukaran udara dan cahaya matahari memadai. Pada kawat-kawat inilah srindit biasa bergelantungan. Di dalam kandang ditanam pohon beringin. Daunnya biasa digunakjyi untuk membuat sarang.

Lengkapi dengan kotak sarang terbuat dari tripleks atau batang kelapa yang dilubangi.

Kendati sudah diketahui kelaminnya, bukan berarti srindit bisa langsung dipasangkan. Perjodohan tetap dilakukan dengan cara memasukkan beberapa induk ke kandang. Biarkan mereka memilih pasangan sendiri. “Begitu cocok ia tidak akan berganti-ganti. Ibaratnya sehidup semati,” ujar pria asal Madiun, Jawa Timur itu.

Burung siap kawin ditandai bulu berdiri atau mengkorok. Perkawinan dimulai dengan sang jantan mengejar betina dan bercumbu. Tingkahnya mirip ayam. Seminggu setelah kopulasi, induk bertelur 3 sampai 4 butir. Telur dierami selama 3 minggu dan rata-rata hanya 2 butir yang menetas. “Itu tergantung umur induk, cuaca, dan pakan,” kata Wahyu.

Induk butuh pakan berkadar protein sekitar 22 %. Pakan berupa campuran 2 sendok makan voer, sepotong roti tawar, 1 sendok makan kecambah, 100 g atau 4 sampai 5 buah pisang ambon. Kalau tidak ada pisang, jambu biji pun mau.

Semua bahan diaduk hingga rata dengan air secukupnya. Pakan itu untuk 6 sampai 8 ekor srindit dewasa. Tambahkan sebuah apel yang dipotong-potong menjadi 8 bagian. Pakan disajikan di nampan plastik berukuran kecil. Kalau ingin meningkatkan kesuburan induk, beri protein hewani, seperti rebusan hati ayam.

Hingga umur 5 minggu piyik masih diloloh sang induk. Dua minggu berikutnya ia bisa terbang dan mencari pakan sendiri. Begitu piyik mandiri, induk bertelur kembali. Dalam setahun srindit berbiak sampai 5 kali.