Budidaya Tani

Silver Dollar: Laba Besar dari Urutan Buncit

Di antara ikan hias ekspor, silver dollar menempati urutan buncit yang diminta eksportir. Namun, di sanalah laba besar itu terbuka.

Heru D. Sipayung di Bogor sudah mencecapnya. Dari pengiriman rutin ikan pipih berukuran 2 inci ke eksportir, ia memperoleh pendapatan Rp45-juta/bulan.

Heru memasok sekitar 50.000 silver dollar ke eksportir per bulan. Setoran itu didapat dari 200 pasang induk yang dipelihara di 100 akuarium dan 20 kolam beragam ukuran: 7 m x 12 m, 4 m x 2 m, dan 2 m x 1 m. “Permintaan sampai 70.000 ekor/ bulan, tapi sulit untuk dipenuhi,” ujar suami Evi yang memulai investasi dengan modal Rp42-juta itu.

Menurut alumnus Universitas Indonesia itu, ia menerima harga beli dari eksportir Rp900/ekor. “Untungnya besar karena ongkos pembesaran dari pemijahan sampai 2 inci tidak sampai Rp100.000/bulan,” ujar ayah 2 putra itu. Biaya murah itu lantaran Heru mengerjakan sendiri perawatan ikan itu. Pakan alami seperti kutu air dan jentik nyamuk tersedia melimpah di sekitar tempat tinggalnya.

Suhartono di Ciapus, Bogor, pun setali tiga uang. Ia kelimpungan memenuhi permintaan hingga 45.000 ekor/bulan. Bermodal 25 pasang induk yang dipelihara dalam 60 akuarium, Suhartono bisa rutin menyetor 20.000 ekor/bulan ukuran 2 inci ke eksportir di Jakarta. “Produksi saya setengahnya. Sisanya dikirim dari 3 plasma lain,” ujarnya.

Sebab itu untuk menggenjot produksi, Suhartono membuat kolam pembesaran sistem jaring terapung di lahan seluas 60 m2. Yang disasarnya sama, silver dollar ukuran 2 inci. “Ukuran itu meski agak lama diperoleh, sekitar sebulan, tapi harga jualnya lumayan,” ujar karyawan PT Indocement itu.

Ukuran Kecil Makin diminati

Tak hanya pembesar yang menuai untung, peternak yang mencetak ukuran gabah sekitar 1 cm pun ikut terciprat. Bukan langsung dijual ke eksportir, tapi mereka biasanya melepas lagi ke peternak pembesar. Harga jual sekitar Rp90 sampai Rp 100/ekor.

Itu pula yang mendorong Ir H Pere Sumbada di Bekasi memilih mencetak ikan ukuran gabah. Mengandalkan 40 akuarium berukuran 100 cm x 40 cm x 60 cm itu, managing director PT Gugus Media Terpadu di Jakarta itu mampu mengirim 60.000 ekor ke pembesar di Bogor, Tangerang, Depok, dan Bekasi. “Saya pilih ini karena perputaran uangnya cepat,” ujar alumnus Institut Pertanian Bogor itu.

Muhaimin mungkin menjadi sedikit peternak yang bisa menjual langsung ke eksportir. “Ada yang mau terima untuk ukuran 1 inci,” ujarnya. Ukuran itu dibeli eksportir Rp475/ekor. Pantas bila suami Elin Mulyatri itu gembira. Setiap bulan dari pengiriman 20.000 ekor ia menerima omzet Rp9,5-juta. “Pendapatan bisa lebih dari itu, tapi modalnya belum mencukupi untuk menambah akuarium,” ujar Muhaimin yang mengelola 60 akuarium berukuran 100 cm x 40 cm x 60 cm itu.

Lain lagi dengan Mutih, SE di Pondokbambu, Jakarta Timur. Tak hanya menyetor ke eksportir, alumnus Jurusan Manajemen Perusahaan Universitas Krisnadwipayana, Jakarta itu juga melayani peternak pembesar. Sekitar 20.000 ekor/ bulan rutin dijual dari 200 akuarium berukuran 100 cm x 50 cm x 35 cm dan 20 kolam plasma binaan berukuran 2 m x 3 m di Bekasi. “Mana yang duluan itu yang dilayani dulu,” ujarnya. Dari eksportir Mutih menerima harga Rp475/ekor. Sedangkan dari pembesar Rp150/ekor.

Karena kekurangan pasokan, lantaran permintaan sejak Januari 2006 melonjak hingga 60.000 ekor/bulan, pria 37 tahun itu membuka kerja sama dengan para peternak di Bogor dan Bekasi. Selain membeli 30 akuarium baru, Mutih juga menyebar 200.000 burayak setiap bulan agar panen bisa berlangsung kontinu. Dengan volume sebesar itu, anak pertama dari 8 bersaudara itu memperkirakan bakal menuai untung Rp50-juta/bulan.

Perbanyak akuarium

Seukuran koin Rp500, sudah diminta pasar

Menurut Anton Saksono silver dollar cukup diminati di pasar ekspor karena enak dilihat. “Ikannya terlihat gepeng sehingga disukai,” ujar pemilik Lovina Laras itu. Namun, permintaan besar hanya datang saat negara-negara pembeli memasuki musim dingin. “Saat itu permintaan bisa naik 75% dari biasanya,” tutur Ahmad Faisal, peternak di Bogor.

Toh peternak silver dollar tidak surut, malah bertambah. Contoh Riki Pahlevi di Parung, Kabupaten Bogor. Meski belum pernah beternak ikan sebelumnya, sarjana muda Bisnis Internasional dari Universitas Padjadjaran, Bandung itu 5 bulan silam berani membeli 32.000 burayak ukuran 1 cm seharga Rp4,8-juta dari penangkar di Bogor. “Saya berani karena tidak repot memeliharanya,” ujarnya.

Terbukti selang 1,5 bulan dari kolam pemeliharan berukuran 9 m x 14 m ia bisa memanen 28.800 ekor. Ia pun tak sulit menjual karena ada eksportir yang bersedia menampung. Dengan harga Rp900/ekor, Riki meraih pendapatan Rp18,8-juta. “Uangnya bisa lebih besar lagi kalau saya bisa menekan kematian burayak,” ujar Riki yang getol menambah pengetahuan budidaya silver dollar itu.

Lokasi Yang Spesifik

Di bak semen burayak lebih cepat besar ketimbang di akuarium

Di balik untung yang besar, bisnis silver dollar tidak mulus seperti jalan tol. Beberapa kendala siap menghadang. Ahmad Faisal misalnya Desember 2005 lalu merugi Rp1-juta akibat 30.000 burayak mati saat hujan turun terus-menerus. “Suhu di kolam jadi tidak stabil,” ujar anggota penangkar ikan hias Mina Tangkar itu. Maklum burayak menginginkan suhu air antara 24 sampai 26°C.

Menurut Peni Sriyati dari Rancamaya Holding Ground di Bogor, tidak semua lokasi bisa dipakai budidaya silver dollar. “Untuk pembesaran pilih Bekasi dan Jakarta, misalnya, karena airnya hangat. Pertumbuhan pun cepat,” ujarnya. Sebaliknya untuk pemijahan, Bogor bisa menjadi pilihan. “Suhu air dingin membuat ikan nyaman berbiak,” ujar Peni.

Membesarkan ukuran 1 cm atau 2 inci sama-sama menjadi pilihan menarik bagi peternak. Apalagi ceruk pasar ikan gepeng itu sangat besar. Siapa tak suka memiliki pendapatan seperti Heru D. Sipayung?

Pandu Dwilaksono