Standar Harga Rumah Walet

Sebuah rumah walet berukuran 5 m xl6 m ditawarkan pemiliknya Rp500-juta. Rumah bertingkat 3 di lahan seluas 400 m2 itu sudah menghasilkan 4 sarang putih alias walet dan sekitar 60 sarang sriti. Beberapa calon pembeli mengatakan Harga Rumah Walet terlalu mahal, sebagian lagi menganggap wajar. Perbedaan pendapat itu lantaran tidak ada standar harga yang pasti.

Informasi mengenai penjualan rumah walet bisa dengan mudah didapat karena banyak diiklankan di media cetak maupun internet. Ketika Budidaya Tani mengunjungi sentra walet, nama-nama pemilik yang berniat menjual rumah tercatat di beberapa pengusaha. Rumah tersebut umumnya sudah dihuni dan berproduksi, entah sekadar sarang sriti maupun walet.

“Rumah walet berproduksi dijual karena banyak yang mencari, terutama para pemula,” ungkap Rosich Amsyari, praktisi di Gresik, Jawa Timur.

Menurutnya, pemula membeli rumah produktif sebagai jalan pintas menghasilkan sarang walet. Membangun rumah baru hingga siap berproduksi perlu menunggu 5 sampai 10 tahun. Ini dianggap terlalu lama. Risiko gagal dimasuki walet tetap mengancam. “Apalagi untuk membangun rumah baru butuh biaya tidak sedikit,” lanjutnya.

Contents

Berbeda tiap daerah

Harga rumah produktif bervariasi tergantung luas areal, bangunan, dan tingkat produksi. Namun, itu pun berbeda di setiap daerah karena tidak ada standar harga. “Orang-orang Jawa Timur lebih berani ketimbang Jawa Tengah atau Jawa Barat. Otomatis harga rumah walet di sana bisa lebih mahal,” ungkap Boedi Mranata, pengusaha walet di Jakarta.

Di Haurgeulis, Indramayu, bangunan 3 lantai seluas 700 m2 di lahan 5.000 m2 dihargai Rp 1,2-miliar. Rumah walet yang lokasinya tergolong strategis itu (di pinggir jalan raya) baru berproduksi 1 kg. “Tanah di sini sudah mahal, Rp150-ribu sampai Rp200-ribu/m2. Di pusat kota malah mencapai Rp800-ribu sampai Rp1-juta/m2,” jelas H. Djazuli Thoha, sesepuh perwaletan di Haurgeulis.

Keberanian orang Jawa Timur membeli rumah walet harga tinggi dibenarkan Leonardo Handaya, di bilangan Lebak Timur, Jawa Timur. Faktor suka dan tidak suka banyak mempengaruhi nilai transaksi. Temannya beberapa bulan lalu membeli sebuah gudang yang dihuni walet senilai Rp 1,7-miliar.

Areal rumah itu tidak terlalu luas, kurang dari 1.000 m2, tapi memproduksi sarang 3 sampai 4 kg setiap panen. “Dia ngawur saja beli hanya karena melihat prospek lokasi dan kebetulan uang ada,” tutur pemilik rumah walet di daerah Pasuruan itu.

Setahun lalu Rosich Amsyari membeli rumah walet satu lantai berukuran 8 m x 15 m dengan jumlah sarang sriti 50 sampai 100 buah senilai Rp200-juta. Lahannya hanya 200 m2. Sedangkan yang sudah menghasilkan sarang putih 10 buah, Rp400-juta. Padahal rumah itu masih perlu pengembangan. Artinya, belum menjadi rumah walet permanen.

“Sulit saya omongkan soal standar harga. Yang jelas harganya cukup tinggi,” tuturnya. Sekjen Asosiasi Pengusaha Sarang Burung Walet Indonesia (APSBWI) itu mencontohkan. Di Gresik rumah 3 lantai berukuran 5 m x 10 m yang menghasilkan 100 sampai 200 sarang sriti dijual Rp250-juta.

Jika sudah memproduksi sarang putih 0,5 sampai 1 kg laku Rp 450-juta. Bahkan di Bali orang berani menawar sekitar Rp2-miliar sampai Rp3-miliar untuk rumah yang menghasilkan 3 sampai 4 kg per panen.

Sesuai produksi

Jumlah sarang memang sering menjadi patokan harga. Boedi Mranata mencontohkan di Jawa Barat setiap 1 kg sarang putih atau 250 sriti dinilai Rp200-juta sampai Rp250-juta; Jawa Timur Rp300-juta sampai Rp350-juta.

Harga Rumah Walet itu belum termasuk nilai bangunan, luas tanah, dan lokasi. “Luas tanah dinilai sesuai harga pasaran di tempat bersangkutan. Sementara untuk nilai bangunan sekitar Rp400-ribu/m2,” katanya.

Kondisi bangunan ikut menentukan nilainya. “Jatuhnya setiap meter bangunan rumah walet di tempat saya Rp600-ribu. Itu lantaran dinding dibeton tebal, lantai dicor, lagur dari kayu sengon merah yang dioven, dan dilengkapi berbagai fasilitas,” papar Mulyadi pemilik real estate walet di Tangerang. Fasilitas yang dimaksud seperti kolam di setiap lantai, gerujukan air, serta pagar permanen mengelilingi bangunan.

Lingkungan tempat bangunan berada menjadi pertimbangan khusus. Jika berada di lingkungan yang mendukung, baik segi keamanan maupun usaha pengembangan maka ada tambahan nilai. Misalnya, rumah itu berada di lingkungan pesantren, dekat mesjid, pinggir jalan raya, dan di lingkungan masyarakat berstatus sosial tinggi. Sebaliknya jalan masuk sempit, kumuh, dan kultur masyarakat tidak bersahabat, nilai jual rumah berkurang.

Kelebihan dan kekurangan itu diwujudkan dalam bentuk penambahan atau pengurangan harga penawaran. “Nilainya, plus-minus Rp50-juta sampai Rp 100-juta. Rumah yang keamanannya disangsikan atau parah, sebaiknya tidak dibeli,” saran Boedi. Praktisi yang juga ahli walet itu menempatkan unsur keamanan sebagai syarat mutlak memilih lokasi.

Hati-hati

Ini karena keamanan sangat menentukan kelangsungan budidaya walet. Oleh karena itu para pengusaha di Jawa Timur punya sistem tersendiri dalam melakukan pembelian rumah walet. Mereka beli rumah secara putus, tapi si pemilik awal tetap disuruh mengelola.

Konsekuensinya ia mendapat insentif 20% dari hasil panen. “Dengan cara seperti itu si pengelola mati-matian menjaga rumah dari segala bentuk gangguan keamanan. Sebab jika tidak, pembeli mengancam akan menjualnya kembali,” ujar Leonardo.

“Cara itu banyak diterapkan di Jawa Timur, tapi terbatas pada rumah walet bekas rumah tinggal. Rumah yang dari awal diperuntukkan walet, pemiliknya rata-rata berdomisili di luar daerah sehingga sulit dimintai bantuan,” papar Rosich. Soal keamanan menurut Rosich bisa diatasi dengan cara melakukan pendekatan pada masyarakat setempat.

Rosich justru mengkhawatirkan calon pembeli rumah tertipu. Pasalnya, berbagai trik untuk melambungkan Harga Rumah Walet banyak dijalani.

Misalnya pada setiap lagur dipasang sarang asli tapi palsu, sehingga terlihat banyak. “Makanya hati-hati, pada waktu menawar sebuah rumah pastikan kebenaran produksi yang disebutkan pemilik.

Tanya kapan panen, lalu langsung cek satu per satu sarang yang menempel,” anjurnya. Atau “Lihat di bawah sarang, jika ada kotoran berarti sarang asli. Kotoran walet ini mengkilap sehingga mudah dibedakan dengan tanah atau pupuk kandang,” ucap H. Djazuli Thoha.

Halaman terakhir diperbaharui pada 25 Oktober 2021

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.