Budidaya Tani
Nutrient Film Technique

Substrate Nutrient Film Technique: Sebuah Sinergi Dua Teknologi Hidroponik

Banyak jalan menuju Roma, banyak cara mendongkrak hasil. Untuk menggenjot produktivitas, Grace Farm memadukan 2 teknologi hidroponik: substrat dan nutrient film technique (NFT). Hasilnya, produsen sayuran di Bandung itu menuai 3,6 kg tomat per tanaman alias meningkat 20%. Yang menggembirakan, biaya produksi malah turun.

Empat lajur bak semen sepanjang 24 m dan lebar 70 cm berjajar rapi di sebuah greenhouse. Seluruh permukaan bak dilapisi plastik poliethilen, sehingga tampak bersih. Di tengah-tengah bedengan ditanam pipa PVC berdiameter 2,5 inci untuk distribusi nutrisi. Di bedeng itulah Grace Farm nama baru PT Omnitech Indonesia membudidayakan tomat varietas momotaro.

Bibit ditanam di polibag bermedia sekam. Posisi polibag zigzag, sehingga populasi per lajur 92 tanaman. Setiap polibag hanya ditanami sebuah bibit. Trubus menyaksikan tanaman tumbuh subur, tampak daun hijau segar.

Dalam budidaya sistem substrat lazimnya pemberian unsur hara dengan memanfaatkan spagheti chub yang ditancapkan di media sekam. Namun, GF mengadopsi sistem hidroponik NFT. Dari kedua ujung pipa yang ditanam itu mengalir nutrisi selama 24 jam. Nutrisi mengalir berketinggian 2 cm sampai ke seluruh bak yang dibuat dengan kemiringan 2°.

Aplikasi Yang Hemat Biaya

Bagian bawah polibag berdiameter 15 cm itu terdapat 5 sampai 6 lubang. Dari situlah media sekam mencengkeram dan menyimpan nutrisi. Tinggi dinding bak 5 cm, lebih rendah ketimbang polibag yang mencapai 20 cm. Oleh karena itu GF menutup permukaan bak dengaan mulsa plastik sebagai pengganti styrofoam. Menurut Wilarto, Site Manager GF, mulsa plastik jauh lebih murah daripada papan gabus.

Sebagai gambaran, biaya mulsa per tanaman cuma Rp 104. Bandingkan jika menggunakan styrofoam yang mencapai Rp526 per tanaman. Mulsa dapat dimanfaatkan hingga 5 kali penanaman. Kelebihan lain, usai tanam tak harus dibersihkan seperti jika menggunakan styrofoam. Wilarto menyebut paduan 2 teknologi hidroponik itu sebagai sebagai semi NFT.

Teknologi itu diuji coba pertama kali pada Desember 2002. Hingga saat ini setidaknya 20 dari total 25 greenhouse mengadopsi sistem gado-gado itu. Secara bertahap GF bakal menerapkan teknologi itu untuk seluruh greenhouse. Wajar saja jika GF menerapkan teknik itu untuk seluruh greenhouse. Sebab, banyak kelebihan telah dirasakan.

Peningkatan produktivitas

Pipa untuk mendistribusikan nutrisi

Keistimewaan sistem itu antara lain meningkatkan produktivitas hingga 20%. Menurut Wilarto peningkatan itu terjadi karena pasokan nutrisi lebih terjamin. Rata-rata produksi tomat NFT 3 kg per tanaman. Dengan sinergi 2 teknologi itu GF memetik rata-rata 3,6 kg per tanaman. Penampilan buah juga mulus dan prima. “Kondisi buah pun lebih mulus. Retak-retak yang menggangu penampilan tak lagi tampak,” tutur pria Solo itu.

Yang istimewa, peningkatan produksi justri berbanding terbalik dengana biaya yang mesti dikeluarkan. Menurut Wilarto dengan kombinasi teknologi itu biaya produksi hanya Rp 1.658 per tanaman. Sekitar 21% atau Rp354 di antaranya untuk mulsa plastik.

Bandingkan, pekebun NFT mesti merogoh kocek Rp2.237 per tanaman. Dari ongkos itu Rp93 3 atau 41 % di antaranya merupakan biaya pengadaan styrofoam dan sterilisasi. Hanya itu kenikmatan yang dirasakan? “Pengawasan juga lebih mudah,” ungkap Wilarto.

Permasalahan Yang Sering Muncul

Masalah yang sering muncul dalam berhidroponik ialah soal nutrisi dan aliran listrik. Kedua hal itu ternyata dapat diatasi oleh semi NFT. Sebab, sekam bakar bersifat menyimpan cairan atau nutrisi. Dengan begitu kesempatan akar tanaman memperoleh nutrisi atau air lebih terjamin.

Itu sebabnya, jika listrik mati, sistem itu mampu mempertahankan kesegaran tanaman selama 2 jam. “Tanpa substrat, tanaman segera layu dalam setengah jam,” kata Wilarto. Makanya GF tak terlalau mengkhawatirkan bila terjadi pemadaman listrik atau kekurangan air.

Sistem itu juga menguntungkan produksi. Cadangan air dan nutrisi menjamin kebutuhan tanaman untuk pertumbuhan dan berproduksi. Nutrisi yang digunakan teknologi gado-gado itu sama dengan untuk NFT pada umumnya. Yang penting, jumlah bahan pupuk dan EC(Electro Conductivity) harus akurat. Tiap jenis dan umur tanaman membutuhkan jumlah nutrisi dan EC berlainan.

Supaya ukurannya tepat, setiap farm biasanya meramu sendiri pupuk yang akan digunakan. Pada NFT substrat, komposisi pupuk makro yang digunakan Grace Farm terdiri atas Ca, NO, H2O, KNO,, KH2PO4 dan MGSO4. Untuk elemen mikro digunakan MGSO4, NaEDTA, Cu, MnSO4, dan Natrium molibdat.

Angka EC diatur dari 1,8-2,4 tergantung umur tanaman. Tomat umur 60 hari perlu EC 1,8. Selanjutnya EC dinaikkan 2,0-2,4 sampai panen. Namun, angka ini masih perlu mempertimbangkan cuaca. Ketika musim hujan EC rendah; kemarau, tinggi.

Saat ini GF memanen 5,3 ton per bulan. Buah dikelompokkan atas 2 kelas. Yakni kelas A mencapai 5 ton atau 95%, B 3 kuintal (5%). Kelas pertama dikhususkan untuk memasok pasar swalayan. Di sana produsen itu menerima harga Rp 10.000 per kg. Sedangkan kelas B dijual ke restoran dengan harga Rp 5.000 per kilo. Dengan menggabungkan 2 teknologi GF memang merasakan sebuah kemajuan yang signifikaan.

Yudi Anto

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.

Most popular

Most discussed