Budidaya Tani

Surabaya Adenium Show Partai Neraka di Kota Pahlawan

Malam beranjak tua di Kota Surabaya. Ruas jalanan berangsur senyap. Namun, suasana pelataran parkir AJBS Swalayan, Surabaya, malah tegang. Empat ratus pasang mata pengunjung Surabaya Adenium Show 2006 menatap tak berkedip bendera plastik di genggaman Gesang Singgih P, ketua panitia. Begitu Ainur Rofiq, pembawa acara menyebutkan, “Pemenangnya ialah arabicum ra chinne pan dok milik Christian!” bendera di tangan Gesang tertancap. Keheningan pun pecah oleh tepuk tangan membahana. Kamboja jepang setinggi 1 m itu mengempaskan Adenium arabicum yaman berbonggol raksasa milik Santa Pet.

Pantas Adenium arabicum koleksi Christian menjadi yang terbaik di kategori arabicum besar. Alur tanaman dari bonggol, batang,dan percabangan terlihat mengalir. Unsur pembentuk keindahan umbi, batang, cabang, dan ranting—pun lengkap. “Penampilannya utuh dan matang. Dimensi seimbang dan karakter alami,” kata Andy Solviano Fajar, salah satu juri, mengomentari adenium bernomor pot 133 itu.

Karena sosok utuh itulah ra chinne pan dok mengalahkan saingan terberatnya, arabicum yaman yang mesti puas di posisi kedua. Unsur pembentuk keindahan pada adenium di pot 122 itu belum lengkap. “Perantingan belum muncul,” kata Kabul panggilan akrab Andy. Memang secara genetik arabicum asal Yaman baru memunculkan umbi, batang, cabang, dan ranting secara utuh pada saat sosoknya sudah meraksasa.

Di posisi ketiga lagi-lagi bertengger A. arabicum jagoan Christian. Pada saat penilaian, tanaman di pot bernomor 94 itu benar-benar prima. “Dia satu-satunya arabicum yang berbunga di jajaran jawara,” kata Kabul. Sayang, alur tanaman belum jelas. Arabicum dataran tinggi Yaman itu mesti mengalah pada 2 saingannya yang tak berbunga.

Contents

Persaingan Super Ketat

Juara 1 utama nonbunga B

Perebutan gelar jawara di kategori arabicum memang ketat. Perbedaan kualitas 15 peserta yang tampil sangat tipis. “Ini benar-benar partai neraka,” ujar Kabul. Pengamatan Trubus, dari total peserta arabicum yang beradu cantik, terdapat 7 kamboja jepang yang potensial menjadi jawara. Mereka luput menjadi yang terbaik karena persoalan teknis belaka. Misal, penentuan muka tanaman yang tidak pas atau proses training yang belum tuntas.

Menurut Aries Budiman, hobiis adenium asal Yogyakarta, kontes yang digelar oleh Perhimpunan Pecinta Adenium Indonesia (PPADI) Jawa Timur itu luar biasa. “Seumur-umur baru saya melihat kontes dengan peserta yang semuanya berkualitas. Dari segi kualitas, ini kontes terbaik sepanjang adenium dilombakan. Makanya saya pikir hampir semuanya partai neraka,” ujar pemilik nurseri Watuputih itu.

Dari segi kuantitas, kontes itu pun tak kalah seru. Menurut Atex Wiyono, dari PPADI, sebanyak 165 peserta yang mengikuti lomba berasal dari berbagai daerah di luar Kota Pahlawan. Sebut saja Bali, Palu, Jakarta, Solo, Yogyakarta, bahkan Thailand. Belum lagi peserta dari Jawa Timur, seperti Kediri, Jombang, Situbondo, Jember, dan Sumenep. “Bisa disebut ini kontes nasional pertama,” katanya. Pengamatan Trubus, inilah kontes pertama kali yang diramaikan lebih dari 40 adenium berukuran extra large.

Obesum mutasi

Jawara partai neraka

Persaingan menarik juga ditunjukkan di kelas utama nonbunga kecil, berukuran kurang dari 60 cm. Tiga jawara di kelas mini jauh lebih berkualitas ketimbang para seniornya, kelas utama nonbunga besar. “Ini fenomena baru. Dua juara utama nonbunga kecil berbonggol arabicum,tapi berdaun obesum mini mutasi,” tutur Tjandra Ronywidjaja, pengamat adenium, yang mendampingi Trubus. Akibatnya, penampilan mereka mirip bonsai: mungil dan cantik.

Tengok saja penampilan sang jawara, adenium di pot 116 milik Dede Trimuladio asal Solo, Jawa Tengah. Meski mini, sosoknya betul-betul lengkap. Dari bonggol sampai cucu ranting sudah ada. Diperkirakan mawar gurun itu kini berumur lebih dari 20 tahun. Ia istimewa karena sosok utuh terlihat, meski dipandang dari 1 muka. Penampilan sempurna itu diperoleh setelah melewati masa training sekitar 5 tahun.

Di posisi kedua bertengger adenium dari jenis sama milik Kevin, hobiis yang masih bocah kelas 2 SMP. Mawar gurun yang tak kalah cantik itu gagal meraih posisi terbaik karena dimensi tanaman tertutup daun yang terlalu rimbun. Ia pun memiliki kelemahan: ada bekas luka yang belum tertutup sempurna. Toh, kedua tanaman itu bagaikan 2 bonsai yang muncul di arena kontes adenium.

Pandu Dwilaksono