Surga Stroberi Di Kawasan Lembang

Gambar Gravatar
  • Whatsapp
kebun strawberry di lembang
Membuat kagum pekebun stroberi mancanegara

“Selamat, kebun Anda benar-benar luar biasa,” ujar Supriatin Budiman menirukan kekaguman seorang pria asing yang berkunjung ke kebun. Tak dinyana sang tamu rupanya pekebun besar stroberi dari Australia. Ia jauh-jauh datang untuk membuktikan kabar burung tentang surga stroberi di Lembang, Bandung.

Pujian senada meluncur dari mulut pekebun asal Korea yang berkunjung di tahun sama. Buah nyaris seukuran bola pingpong, berwarna merah menyala, dan mulus memang menjadi daya tarik kebun bernama Vin Strawberry Orchad itu. Siapa pun yang melihat pasti tergelitik memetik Fragaria vesca itu yang bergelayut manja di sela-sela media hidroponik substrat.

Bacaan Lainnya

Ketika Trubus berkunjung, tampak kesibukan di sebuah ruangan berukuran 4 m x 5 m. Di sana, stroberi kualitas super yang baru dipetik dibuang tangkainya. Mereka lalu ditata satu per satu membujur dalam kotak gabus berukuran 20 cm x 20 cm. Setiap kotak mampu menampung 80 stroberi. Setelah penuh kotak ditutup rapat dengan plastik bening. Biasanya hari itu juga stroberi segera dikirim ke pelanggan.

Belajar 8 tahun

Buah kerja keras selama 8 tahun

Menurut Supriatin Budiman pengelola kebun butuh waktu panjang untuk menghasilkan buah-buah berpenampilan bagus itu. “Delapan tahun lamanya dihabiskan untuk belajar. Mulai dari bertukar pikiran dengan peneliti sampai studi banding ke kebun stroberi di luar negeri,” ujar kelahiran Jakarta 54 tahun silam itu. Bekal pengetahuan itu yang kemudian dipakai untuk merintis kebun stroberi pada Maret 2000.

Lokasi di Lembang dipilih karena memenuhi syarat budidaya. Stroberi menyukai suhu udara relatif dingin dengan sinar matahari tidak terlalu kuat. Dengan ketinggian di atas 1.000 dpi, Lembang dinilai layak. Tak tanggung-tanggung 2 greenhouse masing-masing seluas 5.000 m2 di Cisarua dan 8.000 m2 di Parongpong dibangun.

Rumah tanam itu terbuat dari bambu beratapkan plastik. Mirip sekali dengan greenhouse pekebun-pekebun paprika. Sekeliling rumah kaca itu diselimuti plastik setinggi 30 cm dari bawah. Sisanya ditutup kain kasa putih. Di dalamnya berjejer rak bambu seragam bertingkat 3. Lebar 1,5 m dan panjang 15 m. Jarak antarrak 1 m supaya orang mudah lalu-lalang merawat.

Semua stroberi ditanam memakai polibag berisi media hidroponik substrat arang sekam. Setiap polibag berukuran panjang 90 cm itu dilengkapi 2 polibag kecil berdiameter 15 cm. Masing-masing polibag kecil ditanami 2 stolon. Satu baris rak sanggup menampung sekitar 80 polibag besar. Di luar greenhouse, tampak penanaman stroberi menggunakan pot bunga.

Kebun yang tertata rapi itu tampak sederhana. Padahal investasi yang dicemplungkan cukup besar. Lulusan magister manajemen PPM di Jakarta itu menghitung biaya sarana dan prasarana per 1000 m2 saja mencapai Rp160-juta.

Ganti Bibit baru

strawberry dikemas
Disortir, lalu dikemas untuk pelanggan

Saat pertama kali menanam, bibit stoberi lokal yang dipakai. Hasilnya memang tidak memuaskan. Buah kecil-kecil dan tak seragam. Setelah satu siklus, seluruh tanaman diganti dengan bibit impor asal California, Amerika Serikat. Impornya bertahap hingga Maret 2001 total populasi mencapai 40.000 stolon dari berbagai jenis yakni earlibrite, festival, dan sweet charlie. Ketiga varietas itu dipilih mengikuti saran pemasok benih. “Setelah berkorespondensi, mereka menganggap cocok jenis itu ditanam di Lembang,” tutur Supriatin.

Asupan nutrisi seluruh tanaman disuplai dari 4 buah tangki besar berukuran 1000 1. Nutrisi yang dipakai kristalon produksi Norwegia. Nutrisi didistribusikan ke seluruh tanaman dengan sistem drip irigation. Pemberian 3 kali sehari pada pukul 08.00, 13.00, dan 15.30. Masing-masing polibag kecil menerima 100 ml nutrisi per pemberian. Volome itu ditingkatkan saat kondisi udara panas berkepanjangan.

Kualitas buah terjaga karena Vin Strawberry Orchad selalu mengganti seluruh tanaman setelah rampung panen. Jenis festival misalnya, diganti setelah habis masa produksi selama 4 bulan. “Itu cara untuk mempertahankan kualitas buah sekaligus memutus siklus hama,” paparnya. Media dan pipa-pipa lama dan rusak juga tidak digunakan lagi.

Karena semua diatur secara terencana, perawatan tanaman semakin mudah. Nyaris tak ada hama penyakit seperti penyakit bintik daun dan cendawan botrytis yang mampir. Meski demikian tindakan preventif tetap dilakukan. Caranya sederhana cukup dengan menyemprot air sesaat ke sekujur tanaman di kala matahari terik. Hama akan segera jatuh ke bawah. Tindakan lain, membuang pelepah daun tua. Setiap tanaman hanya dipertahankan 4 sampai 5 pelepah daun saja. Batang-batang penyangga rak cukup diolesi residu agar tak ada serangga naik.

Jadi rujukan

Menurut Supriatin, produksi kedua kebun itu mencapai 1 kuintal per hari. Stroberi hasil panen masuk ke dalam 3 kelas: small, medium, dan super. Seluruh produksi dilepas ke konsumen perorangan, restoran, dan pasar swalayan di Bandung dan Jakarta. Olahraga golf penggemar itu, mematok harga jual lebih tinggi karena kualitas buah lebih bagus. Sekilo stroberi kelas super mencapai Rp60.000 sampai Rp70.000, dipasaran Rp35.OOO sampai Rp40.000. Dengan panen stabil diperkirakan titik impas diperoleh pada tahun ke sampai 3.

Kebun di Cisarua kini dibuka untuk umum. Biasanya pada akhir pekan kebun itu ramai dikunjungi wisatawan dan peneliti lokal maupun mancanegara untuk melihat-lihat dan dijadikan rujukan. “Ada seorang anak sekolah dasar dari Palembang sengaja datang hanya untuk minta penjelasan tentang kebun stroberi untuk karangannya,” papar Supriatin. Diakhir kunjungan, wisatawan dapat membawa buah tangan berupa jus, sirup, dan selai. (Dian Adijaya S),

Pos terkait