Budidaya Tani

Taruhan Nyawa Datangkan Arabicum Yaman

Adenium memang seperti mawar. Untuk memetiknya, harus berhadapan dengan duri yang sangat tajam. Begitu juga dengan mawar gurun asal Yaman. Untuk dapat memilikinya, Nelly harus melalui banyak tantangan.

Kendala yang dihadapi tak hanya berhadapan dengan senjata, tapi juga dengan izin pencabutan tanaman. “Meski arabicum itu tumbuh liar di bukit, tapi tak sembarang orang bisa mengambilnya,” ujar Nelly. Apalagi diboyong ke luar dari negara yang terkenal sebagai sumber adenium itu.

Untuk memperoleh izin tak semudah yang dibayangkan. “Saya harus mendapat rekomendasi dari 3 orang bintang 4: panglima ABRI, wakil panglima ABRI, dan kepala Persatuan Timur Tengah di Yaman,” kata ibu 2 anak itu. Setelah bergelut selama 4 bulan, akhirnya surat izin resmi pencabutan adenium yang berlaku mulai Februari 2007 hingga Februari 2008 ada di genggaman

Kendala

Arabicum di Yaman tak boleh dicabut sembarangan

Selama satu tahun itu Nelly bebas mengambil adenium yang diminati dalam jumlah tak terbatas. Namun, itu tak langsung membuat wanita kelahiran Batusangkar itu bersorak gembira. Lagi-lagi kendala menghadang di depan mata. “Tak bisa ambil banyak karena di sana kalau musim panas suhu siang mencapai 54°C,” ujarnya. Walhasil setiap hari pekerja hanya bisa mencabut maksimal 3 tanaman.

Adenium yang dicabut merupakan hasil pilihan Nelly. Sebelumnya wanita kelahiran 50 tahun silam itu pergi ke Yaman memotret adenium yang diminati satu per satu. Hasilnya dicetak dobel. Satu foto dipegang olehnya dan satu lagi oleh pekerja pencabut di negara sumber adenium itu.

Meski sudah susah payah memberi tanda, tapi arabicum yang diterima tidak sesuai pesanan. Itu karena Aden seperti lautan adenium, dengan lebih dari 20.000 arabicum. Untuk menemukan adenium sesuai yang difoto sulit. Ditambah dengan suhu yang sangat tinggi, pekerja gampang menyerah untuk mencarinya.

Kendala lain, pengangkutan. Nelly tak mau mengambil risiko menggunakan pengangkutan lewat laut. “Dari Yaman ke Jakarta butuh waktu 3 minggu, untuk mengurus administrasi sekitar 1 minggu. Total 1 bulan arabicum di dalam kontainer dengan suhu mencapai 70°C. Apa tanaman bisa tahan?” tanya pemilik Socotra Garden itu. Pengiriman pun dipilih via udara melalui kargo. Meski sampai lebih cepat, 1 sampai 2 hari, tapi jumlah tanaman yang dapat dibawa terbatas.

4 pengiriman

Kini jerih payah Nelly berbuah manis. Arabicum impian bisa masuk ke Indonesia. Pengiriman pertama pada Februari 2007 sebanyak 18 adenium dengan diameter bonggol 20 sampai 60 cm. Sayang, sesampainya di tanahair tanaman banyak yang rusak lantaran salah pengepakan. Adenium ditumpuk jadi satu dalam sebuah karung dengan posisi bonggol di atas. Akibatnya setelah ditanam hanya 6 yang selamat.

Pengiriman kedua dan ketiga masing-masing sebanyak 60 tanaman dengan bobot total 1.609 kg dan 20 tanaman, 1.300 kg. Pengiriman keempat datang pada 19 Agustus sebanyak 40 tanaman berumur puluhan hingga ratusan tahun. Bonggol berdiameter 40 sampai 100 cm.

Adenium yang datang pada tiga pengiriman terakhir hidup semua. Itu lantaran pengepakan benar. Adenium dibungkus spon lalu dikemas satu per satu dalam kardus dan posisi bonggol di bawah.

Semua adenium asal Yaman itu berada di kebun seluas 3.700 m2. Pot adenium di bagian depan nurseri kondisinya hampir pulih. Sementara di bagian belakang terdapat anggota famili Apocynaceae yang baru datang. Tampak dari kondisi tanaman yang masih stres, tak berdaun.

Di nurseri yang berlokasi di Ciledug itu Kami melihat arabicum yaman yang didatangkan dari Aden sampai dataran rendah dengan ketinggian 100 m dpl dan Damar dataran tinggi, 2.000 m dpl. Kedua sosok adenium itu sangat berbeda.

Arabicum dari Aden jarak antarruas cabang panjang dan pertumbuhan kaudeks ke arah horizontal dan vertikal berjalan seimbang. Sementara dari Damar, cabang pendek dan rapat. “Pertumbuhan kaudeks lebih cenderung ke arah horizontal atau melebar,” kata Aris Budiman, pakar adenium asal Yogyakarta.

Pertumbuhan arabicum asal dataran rendah 2 sampai 3 kali lebih cepat dibandingkan dataran tinggi. Maklum, di Damar pada musim panas suhu siang hanya 21°C dan pada musim dingin, 8 sampai 10°C. Bandingkan dengan di Aden. Suhu siang pada musim panas mencapai 54°C dan musim dingin, 21°C. Selain arabicum Kami iuga melihat Adenium somalense. Maklum, Somalia, negara asal somalense, cukup ditempuh selama 10 menit dengan pesawat udara dari Yaman

Kualitas adenium Luar biasa

Tak salah Nelly memilih Yaman, karena negara itu memang sumber adenium. “Sepengetahuan saya belum ada yang mendatangkan adenium langsung dari Yaman. Selama ini importir banyak mendatangkan dari Thailand dan Taiwan,” ujar Hartono, importir di Kediri. Hal itu juga diamini Aris Budiman.

Namun, hibrida arabicum yaman sudah banyak di Indonesia. Jadi tanaman yang langsung didatangkan dari Yaman tidak serta-merta diminati pasar. “Kalau karakter dan bentuknya bagus, bisa punya nilai jual.

Namun, jika kalah dengan hibrida asal Thailand tentu diabaikan konsumen,” imbuh Hartono. Menurut Aris Budiman arabicum spesies dari Yaman bentuknya belum terlalu bagus. “Bentuknya mulai kompak ketika tanaman besar,” tambahnya.

Namun, nilai jual juga bisa datang dari kelangkaan. Buktinya socotranum yang bentuknya tak bagus berharga mahal lantaran jumlahnya terbatas. Itu karena socotranum dilarang keluar dari Pulau Socotra, Yaman, daerah asalnya.

Menurut Choochart Suntrapornchai, pekebun di Bangkok, penampilan arabicum yaman sangat berbeda dengan hibrida arabicum di Thailand. Meski, arabicum di Thailand asalnya dari Yaman.

Hibrida arabicum Silangan

Usnelly Usman, datangkan arabicum dari Yaman secara resmi

Hibrida arabicum yaman di negeri Gajah Putih sudah mengalami perkembangan bentuk selama bertahun-tahun. “Arabicum dari yaman lebih baik pada bentuk bunga, tapi kaudeks dan bentuk cabang tak bisa dibandingkan dengan arabicum kami (Thailand, red),” ujar Choochart.

Selain itu, menurut pemilik nurseri Siam Adenium itu, arabicum yaman tak bisa menampilkan seedling dengan karakter yang bagus. “Arabicum dari yaman susah menampilkan bentuk dwarf dan kualitas kontes,” tambah ayah satu anak itu. Sedangkan menurut Aris Budiman,

Hibrida arabicum hasil persilangan sudah bisa mencapai keseimbangan bentuk dalam ukuran yang lebih kecil “Saat ini hobiis adenium di Thailand menyukai arabicum yang bentuknya gemuk dan banyak cabang, seperti petch na wang, petch meung kong, dan ra chi ne pan dok,” kata Choochart.

Sementara tipe arabicum yaman umumnya tinggi, lebih susah dirawat untuk menjadi bentuk seperti dwarf. Namun, bunga arabicum yaman sangat potensial untuk pengembangan hibrida baru. Bunga yak saudi sampai sebutan arabicum yaman di Thailand punya banyak garis di corongnya. Daun lebih bulat dan kedua sisinya mengkilap dan berambut. Itulah arabicum dari Yaman.

Pandu Dwilaksono