Budidaya Tani
caladium

Teknik Perbanyakan Caladium Dari Umbi

Bagi dunia kriminal, istilah mutilasi tentu sangat menyeramkan. Tindakan memotong-motong tubuh manusia atau hewan itu untuk menghilangkan bukti. Namun, sebutlah kata itu pada Ulih Sunardi, pemilik nurseri
di Ciapus. “Wah, itu sih cara saya memperbanyak keladi,” katanya. Dengan pisau tajam Ulih mencacah keladi berdaun 7 hingga tak berdaya. Sebulan berselang, dari potongan itu muncul 12 anakan yang tak kalah cantik dengan induknya.

Teknik perbanyakan caladium yang dilakukan Ulih memang luar biasa. Ia tak perlu menunggu keladi memasuki masa dorman atau istirahat panjang yang berlangsung 4 sampai 5 bulan. Pada masa itu daun caladium mulai menguning, mengering, dan mati. Yang tersisa hanya umbi dan tunas yang masih tersembunyi.

Lazimnya, perbanyakan keladi menunggu tunas tersembunyi tumbuh membentuk umbi baru atau anakan. “Secara alami umbi-umbi muda mudah terpisah dengan umbi utama. Ada semacam alur di antara umbi-umbi itu,” kata Benny Tjia, penangkar tanaman hias di Bogor.

Bagi Ulih menunggu umbi-umbi baru memakan waktu lama. “Sebetulnya bakal tunas sudah ada. Maka saya pangkas masa itu dengan pencacahan,” ujar Ulih. Menurutnya, keladi yang siap diperbanyak mudah dikenali. Cirinya terdapat 1 daun yang mulai layu. Tanaman dengan kondisi seperti itu biasanya telah mempunyai ukuran umbi yang memadai untuk diperbanyak. Diameternya sekitar 4 sampai 5 cm.

Bila caladium masih berdaun segar biasanya pertumbuhan daun dominan. Ukuran umbi masih kecil. Karena itu lakukan manipulasi pembesaran umbi dengan menghentikan pemberian pupuk selama 1,5 bulan sebelum perbanyakan. Dengan demikan, caladium akan mempertahankan diri dari kekurangan hara. Ia mengumpulkan cadangan makanan di umbi untuk masa berikutnya.

Umbi dan anakan

caladium dewasa

Menurut Benny Tjia, pencacahan umbi yang dilakukan Ulih sangat mungkin dilakukan. “Umbi keladi itu kaya tunas dan bakal tunas. Mereka tersebar hampir di seluruh bagian umbi,” ujar dosen tamu di Institut Pertanian Bogor itu. Karena itu, meski dengan mata telanjang tunas di umbi tidak kelihatan, tapi sebetulnya terdapat bakal tunas. Perbedaan baru terlihat saat cacahan ditanam. Umbi yang mata tunasnya telah keluar, pertumbuhannya lebih cepat ketimbang umbi yang mata tunasnya belum muncul.

Teknik pemotongan yang dilakukan Ulih dapat dibedakan menjadi 2 jenis: pencacahan umbi dan pemisahan anakan. Itu lantaran dalam 1 tanaman yang mulai dorman, selain terdapat umbi, juga anakan

Pemilihan Bakal indukan/umbi

  1. Pilih tanaman yang siap diperbanyak.
  2. Cabut tanaman yang siap diperbanyak dari potnya.
  3. Cuci bersih umbi dan akar dengan air mengalir atau air kolam agar sosoknya terlihat jelas.
  4. Gunakan pisau tajam untuk memisahkan anakan dengan umbi utama.
  5. Taburkan kapur sirih pada bekas irisan anakan untuk mencegah busuk.
    Sesegera mungkin, tanam kembali anakan pada media tanam sekam dan tanah dengan komposisi 2:1. Letakkan tanaman di tempat ternaungi dan jangan disiram selama 2 hari.Setelah itu siram 2 hari sekali. Aplikasi pemupukan mulai dilakukan setelah tanaman berumur 15 hari.

Cacah umbi

  1. Potong pangkal umbi, lalu cacah setiap sisi umbi.
  2. Sisi umbi yang telah terpotong dibagi lagi menjadi 2. Total jenderal terdapat 9 potongan umbi.
  3. Simpan 9 potongan umbi di baskom kecil yang bagian bawahnya berlubang. Taburkan kapur sirih secukupnya untuk menutup luka umbi. Agar merata, goyangkan baskom sehingga semua permukaan umbi tertutup kapur sirih. Biarkan potongan umbi di baskom selama 1 malam agar luka mengering sempurna. Luka yang belum kering menyebabkan umbi mudah membusuk.
  4. Siapkan pot berukuran 17 cm. Masukkan media sekam dan tanah dengan komposisi 2:1 setinggi 2/3 pot.
  5. Letakkan potongan umbi bagian atas di tengah pot. Lalu letakkan potongan umbi lain di sekelilingnya. Timbun potongan umbi dengan media setebal 1 sampai 2 cm.
  6. Letakkan tanaman di tempat ternaungi dan biarkan 2 hari tak disiram. Setelah itu siram 2 hari sekali.
  7. Lima belas hari setelah tanam, pupuk dengan kandungan N tinggi setiap 7 hari. Bisa juga digunakan pupuk kandang cair 10 hari sekali. Tanaman siap dipindah ke pot tunggal setelah berumur 1 bulan.

Pandu Dwilaksono