Telur Puyuh Rasa Buah-buahan Dari Thailand

“Ini telur apa ya, rasanya kok cokelat,” ucap salah satu pengunjung asal Indonesia ketika mencicipi telur yang dibeli di Bangkok, Thailand. Negara Gajah Putih itu mengirim telur aneka rasa ke mancanegara. Citra telur yang amis diubah-ubah oleh Anek Sikhiaosod, pemilik Anek Farm menjadi rasa stroberi, nanas, dan bumbu semur.

Penampilan telur organik 4 rasa nama mereknya benar-benar bagus. Anek demikian ia biasa disapa mengemas dalam plastik hampa udara dan kaleng. Masing-masing rasa dengan warna kemasan berbeda. Misal, label cokelat berisi telur rasa cokelat atau semur; kuning, nanas; merah jambu, stroberi; putih, tawar atau asin. Ukuran kemasan bervariasi; 250 g dan 500 g.

Telur-telur puyuh itu kini diorder khusus oleh Departemen Kesehatan dan Departemen Pendidikan di sana untuk dijual di sekolah-sekolah dasar. Dikemasan kantong plastik, berisi 3 butir, produk itu dijajakan senilai 5 baht atau sekitar Rp 1.000.

Anek cukup jeli melihat peluang temak puyuh. Selain mengolah telur aneka rasa, ia juga menyediakan induk puyuh petelur dan pedaging. Permintaan tak hanya datang dari mitranya, tapi juga peternak lain di provinsi Angthong dan Khorat. Kedua daerah itu memang cocok untuk pengembangan puyuh.

Lantaran mengacu pada organik, wajar bila produk Anek sangat diminati konsumen mulai dari pakan hingga obat-obatan organik. Pakan berlabel organik hasil racikannya dijual 25,50 baht atau sekitar Rp5.100/kg. Kotorannya berharga 2,50 baht atau sekitar Rp500/kg.

Tak Mampu Memernuhi Permintaan Pasar

Peternakan puyuh
Peternakan puyuh organik

Telur beraneka rasa itu banyak dijumpai di pasar swalayan ternama di seluruh Thailand, seperti Pizza Hut, Sizzler, dan MK Suki. Sistem penjualan dengan franchise. Bahkan, telur aneka rasa itu pun mampu menembus Amerika Serikat, Eropa, Timur Tengah, Jepang, Cina, Vietnam, dan Australia. Aneka Farm sudah mengirim 5 kontainer ukuran 40 feet ke Amerika Serikat dalam setahun belakangan ini.

Perusahaan yang berlokasi di Pangiw, Angthong itu mengolah 200.000 butir/ hari, bahkan pernah mencapai 10-juta butir/bulan. Saat ini produksinya dijual ke pasar lokal 80%, sisanya diekspor. Menurut Anek jumlah itu belum cukup untuk memenuhi permintaan.

Masih ada 5 pabrik industri lokal dan 6 perusahaan mitra lain yang meminta pasokan. “Pasokan dari peternak plasma binaan hanya mampu memenuhi 40% permintaan pasar,” tutur Anek. Banyaknya permintaan ekspor lantaran produknyamemenuhi standar produk organik ISO dan GMP (Good Manufacture Practice).

Proses pembuatan Cukup Sederhana

Anek membuat telur puyuh aneka rasa melalui beberapa tahap. Telur puyuh yang datang dari farm dicuci hingga bersih, lalu direbus menggunakan panci antikarat berbentuk silinder ukuran 120cm x 60cm. Alat pemanas memakai kompor gas.

Begitu matang, telur ditiriskan ke tabung kawat berongga, dan digoyang ke kanan-kiri sambil diputar pada sumbu di poros naik-turun. Maksudnya agar telur cepat dingin dan kerabang retak-retak. Tabung ini dilengkapi pintu untuk pengambilan telur.

Tahap selanjutnya cangkang dikupas ekstra hati-hati agar putih telur tidak tergores. Maklum, kerabang telur puyuh sangat tipis. Yang tergores langsung diapkir. Oleh karena itu Anek mempekerjakan wanita-wanita yang dianggap lebih terampil dan cekatan dibanding pria.

Setelah dikupas, telur dicuci lagi untuk menghilangkan sisa cangkang yang masih menempel. Berikutnya telur dimasukkan ke loyang berisi kuah panas yang sudah dibumbui sesuai rasa: stroberi, nanas, cokelat, dan semur. Setelah 10 menit, telur diangkat dan ditiriskan.

Tahap akhir telur dikemas dengan plastik atau kaleng di ruangan hampa udara agar tidak terkontaminasi bibit penyakit. Semua proses dari perebusan dan pengemasan selalu dikontrol baik sanitasi maupun sterilisasinya. Proses berstandar GAP benar-benar diterapkan Anek. Makanya, meski berskala rumah tangga, ia mewajibkan karyawan untuk memakai seragam beijubah plastik. Sepatu bot karet setinggi lutut, tutup kepala, masker, dan mengenakan sarung tangan.

Hasil Dari Kerja keras Bertahun Tahun

Anek Sikhia
Anek Sikhia pionir puyuh aneka rasaa

Di Thailand Anek Farm sangat terkenal. Bukan karena inovasinya, tapi lantaran farm seluas 10 rai atau sekitar 6,5 ha itu tertata rapi. Begitu memasuki lokasi tampak deretan kandang berjejer di kanan-kiri. Unit pemrosesan berada di belakang kandang. Kandang puyuh dibuat dari rangka kayu ukuran 60 cm x 180 cm x 135 cm untuk setiap blok. Setiap blok dibuat 5 tingkat, masing-masing menampung 300 ekor.

Puyuh-puyuh itu diberi pakan organik berupa campuran biji kacang-kacangan, rempah, dedak, dan pecahan jagung. Setiap puyuh mendapatkan jatah 25 g/hari dengan rasio daya serap 20%, kotoran 80%. Dengan pakan itu puyuh tumbuh pesat, sehingga pada umur 108 hari sudah bertelur. Masa produksi 3 tahun dengan produktivitas telur 270 butir/tahun.

Keberhasilan Anek melambungkan farm ternyata butuh waktu lama. Pria berusia 40 tahun itu merintis usaha sejak 18 tahun silam. Jatuh bangun acap dialaminya. Namun, ia tetap tegar menghadapi segala tantangan. Berkat keuletannya itulah pantas bila Anek mendapat anugerah peternak andalan dan teladan tingkat nasional 2003 di Thailand. (Ir Nancy Martasuta, ahli informasi pertanian Thailand – Indonesia)