Thailand, Fruit Fair, dan Durian

Gambar Gravatar
  • Whatsapp
Fruit Fair
Naga terbuat dari buah-buahan

Mau cari monthong atau channee di Thailand? Paling gampang kunjungi saja pasar Chatuchak di Bangkok. Khusus kradum thong dan kan yao, para mania sebaiknya pergi ke Uttaradit di utara Thailand pada Februari sampai April. Bagi yang hobi berburu durian ke kebunnya, Rayong dan Chanthaburi di Thailand tenggara bisa jadi pilihan. Apalagi kalau datangnya pada Mei. Setiap tahun di dua tempat itu ada World Durian Festival namanya kini diganti jadi Fruit Fair.

Chatuchak hanya bisa dikunjungi Sabtu dan Minggu lantaran itu hanyalah weekend market. Pasar kaget mingguan itu layak disinggahi. Buah lokal dari berbagai penjuru Thailand tersedia di sana.

Bacaan Lainnya

Sayangnya, beberapa kali Budidayatani berkunjung ke sana, tak pernah sekalipun menjumpai kan yao dan kradum thong. Yang dijajakan per kilo seharga 45 sampai 65 baht hanya channee dan monthong. Pongge-pongge durian yang dikemas dalam plastik polietilen pun cuma berisi monthong atau channee.

Pusat buah

Mobil hias
Durian salah satu asesorinya

Pekebun kan yao dan kradum thong memang lebih sedikit daripada monthong dan channee. Ini terjadi karena dua kultivar pertama lebih cocok tumbuh di tempat yang agak lembap, seperti Thailand utara.

Padahal sentra durian terbanyak justru ada di Thailand tengah-Nonthaburi dan Nakhomphaton dan Thailand Tenggara-Chonburi, Rayong, Chanthaburi, dan Trat.

Produksi durian di sana 10 sampai 18 ton per hektar. Setiap pohon rata-rata memunculkan 50 butir buah dengan bobot setiap buah 1,5 sampai 4 kg. Menurut Montri Wongrakpanich dari DOAE (Department of Agriculture Extention) Thailand, hanya 5% durian yang diekspor. Sisanya habis dikonsumsi di dalam negeri.

Walaupun jumlahnya kecil, durian mereka merajai pasar dunia. Bahkan pasar Jepang dan Australia sudah ditembus. Bentuknya bukan beku seperti yang selama ini dilakukan. Namun, buah segar dalam bentuk pongge yang dikemas plastik polietilen.

Chanthaburi barangkali bisa dinobatkan sebagai lokasi kebun durian komersial terluas di dunia. Di sana ada 48.000 hektar kebun dengan produksi 900.000 ton per tahun. Angka itu setengah dari hasil panen total durian di Negara Gajah Putih itu. Wajar sebab sejak 1960 Chanthaburi diarahkan sebagai sentra buah.

Pesta Buah

Chanthaburi setiap tahun menyelenggarakan World Durian Festival. Namun, karena pada kenyataannya dipamerkan juga buah-buahan lain, muncullah istilah Fruit Fair pada 2020.

Pesta buah selama 10 hari pada awal Mei ini sungguh semarak. Pada hari pertama kota Chanthaburi bagaikan lautan buah.

Truk-truk yang disulap menjadi pasar terapung, naga, kelinci, ritual keagamaan dan beragam bentuk lain memenuhi jalan raya. Seluruh bentuk itu dibungkus aneka jenis buah: durian, rambutan, manggis, langsat, semangka, nangka, dan sejumlah kecil sayuran. Khusus durian, 4 varietas terkenal keluar, yakni monthong, channee, kan yao, dan kradum thong.

Lomba makan durian salah satu acara unik yang digelar. Ada 10 kontestan yang duduk berjajar di depan meja panjang. Ketika bel berbunyi, dengan cepat mereka mengunyah durian. Pemenangnya ialah pelahap paling banyak dalam waktu yang sudah ditentukan.

Bersamaan dengan itu diselenggarakan pula acara kontes durian. Setiap pekebun mengirimkan buah terbaiknya untuk dinilai oleh dewan juri. Tumpukan durian yang dilombakan kalau ditumpuk bagaikan onggokan “sampah” durian.

Fruit fair model Tournament of the Roses di Pasadena itu memang masih jadi monopoli Thailand. Di Indonesia yang ada paling hanya lomba durian, sementara di Filipina lomba makan durian mulai digelar. Malaysia yang menduduki peringkat dua produksi durian untuk pasar dunia, tak pernah membuat acara seperti itu. Sebuah bukti keseriusan masyarakat Thailand mengembangkan buah-buahan mereka. (Onny Untung)

Pos terkait