Tri Kusharjanto Diantara Burung dan Bulu Tangkis

Sepulang dari Inggris, Trikus demikian ia biasa disapa langsung menemani 35 burung di lantai 2 rumahnya di Bekasi, Jawa Barat. Di situlah ia menghabiskan waktu luang. Sekadar duduk di serambi rumah sambil mendengarkan suara merdu sang klangenan sudah menjadi kegiatan rutin pria asal Yogyakarta itu.

Saking senangnya pada burung, jangan heran bila atlit yang bertanding di Olimpiade XXVIII, Athena, Yunani, itu kadang-kadang pulang terlebih dulu dari pusat latihan bulu tangkis nasional di cipayung Jakarta Timur. Bahkan, ketika dikarantinakan menjelang piala Thomas pada April , ia jarang berada di antara rekan-rekannya yang tengah sibuk berlatih.

Ia malah asyik memantau burung-burung yang bakal diikutkan ke kontes. “Itu ngga sering kok. Paling kalau punya burung baru. Mereka sudah maklum dengan kegemaran saya,” kata atlit yang mengawali karir bulu tangkis sejak 1994.

Mencari Tri Kusharjanto pada Minggu di rumahnya pasti kecele. Mantan atlit andalan klub Puspa Jawa Pos di Jember, Jawa Timur, itu sibuk menenteng sangkar di sebuah kontes seputaran Jakarta. Kontes di Cikampek, Jawa Barat sudah menjadi agenda rutin setiap 2 minggu sekali. Bahkan, kontes di Bandung acap disambangi untuk menjajal kehebatan jagoannya. “Kalau jenuh berlatih, mendingan ke kontes. Bisa teriak-teriak di sana. Kalau stres jadi plong,” ujar peraih juara I Indonesia Open 7 kali bersama Minarti itu.

Awal Kecanduan Burung Kicauan

Bukan tanpa alasan Tri Kusharjanto menggemari burung dan rajin datang ke kontes. “Rasanya beda menang di kontes burung dan bertanding bulu tangkis. Kalau burung menang, senangnya bukan main,” kata kelahiran 18 Januari 1974 itu. Burung pertama yang dibeli Tri Kusharjanto bernama Baret seharga Rp750.000. Setelah dirawat seminggu, anis merah itu menyabet juara I kontes di Bogor, Jawa Barat. Prestasi sama juga direbut burung itu ketika berlomba di GOR Bekasi.

Sejak itulah Tri Kusharjanto mulai getol mengoleksi burung. Saat ini 35 burung jagoan menghuni sebuah ruangan di lantai 2. Di antaranya Sabila berjenis kenari, New Jersey (blackthroat), Ronggolawe (pentet), dan Nano-Nano (murai). Mereka rata-rata telah juara di kontes. Buktinya, deretan puluhan piala besar bersanding dengan medali bulu tangkis di lemari kaca di ruang tamu. “Saya senang burung tipe fighter, seperti pentet dan murai batu. Bisa ngadu dan bagus tonjol-tonjolannya,” kata ayah Rehan Noval Kusharjanto dan Raka Atawa Kusharjanto itu.

Tri Kusharjanto jarang membeli burung berharga mahal. “Saya lebih senang tukar tambah. Itu pun kalau burung kurang bagus, ya dijual saja. Kalau ngga nanti kebanyakan burung,” ujarnya. Misalnya, murai batu yang seharusnya ia beli Rp3-juta. Tri Kusharjanto memperoleh burung itu cukup dengan menukar 2 anis merahnya.

Meski Tri Kusharjanto membeli burung juara di lomba, bukan berarti ia tidak pernah salah menilai kualitasnya. Suatu ketika ia membeli anis merah seharga Rp2,5-juta. Burung itu ternyata kurang ngoceh saat di kontes, meski sudah dirawat intensif. Kekecewan juga dialaminya ketika gagal membeli sang jagoan lantaran keduluan orang lain. Padahal, ia sudah lama mengincarnya di beberapa kontes.

Kesedihan pun dialami Tri Kusharjanto ketika Mercuri, kenari kesayangan mati diterkam tikus. Demikian pentet yang sudah disiapkan ke kontes lepas dari kandang. Padahal, ia yakin kalau jagoannya bakal menang.

Pantau sendiri

Trikus, antara burung dan bulu tangkis

Tri Kusharjanto punya trik khusus menyiapkan sang jagoan. Murai batu, misalnya, sehari sebelum lomba harus dikerodong. Untuk menambah tenaga diberi 10—20 jangkrik. Pagi hari sebelum ke lomba, tambahkan 3 jangkrik dan sesendok teh kroto.

Perawatan anis merah agak mudah lantaran cukup meneruskan teknik pemilik lama. “Kalau biasanya diberi jangkrik satu, lalu diberi dua, burung mogok berbunyi. Begitu pula menjemur harus mengikuti aturan pemilik lama,” kata pria berzodiak Capricom itu.

Menurut Tri Kusharjanto perawatan masing-masing burung berbeda. “Lihat karakter burung. Kadang burung dimandikan siang, lalu diubah malam, biasanya tidak mau bunyi. Kalau burung ogah bunyi harus dicari slahnya,” kata Tri Kusharjanto pada Trubus.

Perawatan sehari-hari dipercayakan pada 2 pegawai. Kadang-kadang ia terlibat di kandang, terutama mengontrol kesehatan dan memantau burung ke lomba. “Lomba biasanya Minggu. Sabtu biasanya saya manfaatkan untuk acara keluarga. Harus bagi-bagi waktu, kalau ngga diprotes istri dan anak-anak,” ujar suami Sri Untari itu.

Tidak semua burung koleksi Tri Kusharjanto dipelihara di rumah. Burung mabung atau sakit dikarantina di sebuah kios di pasar Narogong, Bekasi. Di sanalah beberapa burung dirawat intensif oleh seorang pegawai. Hanya sesekali saja ia mendatangi kios itu untuk sekadar mengecek perkembangan burung. Kalau kondisinya sehat, barulah sang jagoan dibawa kembali ke rumah.

Awal Ketertertarikan

Ketertarikan Tri Kusharjanto pada burung berkicau diawali dari ajakan Heri Imam Pemgadi, pelatihnya untuk ikut ke kontes di Bogor 2 tahun silam. “Semula saya ngga mau. Lama-kelamaan penasaran juga ingin melihat suasana kontes, ” kata pemilik toko sport dan produsen shuttlekock merek TK itu.

Sembari duduk di sebuah warung tenda di samping lapangan, Tri Kusharjanto hanya memandangi hobiis mondar-mandir membawa burung. Apa enaknya kontes itu. Begitulah kata hati Tri Kusharjanto. Tawaran untuk membeli burung bagus pun ditolaknya. Bahkan, seekor kenari yang diberikan oleh salah satu rekan seusai kontes hanya digantung di teras rumah. Burung dibiarkan apa adanya.

Namun, lama-kelaman burung bersuara nyaring itu memikat hatinya. “Kok, enak juga mendengarkan suaranya,” kata Tri Kusharjanto mengenang. Sejak itulah ia rajin mendengarkan burung. Ajakan kontes pun disanggupi dengan suka cita.

Bagi Tri Kusharjanto burung hanya untuk mencari kepuasan dan kesenangan. Apalagi jika jagoan yang dibeli dan dirawatnya menang di kontes. Kicauan sang klangenan pun mampu meredam stres dan menghilangkan kejenuhan seusai berlatih bulu tangkis.