Budidaya Tani

Trik Menjaga Rumah Walet Tetap Dingin di Musim Panas

Setiap kali masuk rumah walet keringat membasahi seluruh tubuh Rahardjo Basir. Ia pun hanya tahan beberapa menit lantaran udara di dalam terasa pengap. Itu setengah tahun lalu, sekarang ces…, dingin dan sejuk, sehingga walet kerasan tinggal.

Kondisi itu dicapai setelah di atas langit-langit ruangan dihamparkan polyethilen. “Dulu kelembapan tertinggi hanya 75%, tapi kini rata-rata 85% bahkan sering mencapai 90%,” ungkap Basir.

Kendati peningkatan produksi belum signifikan, tapi Basir yakin 1 sampai 2 tahun mendatang bisa terwujud. Maklum, temuan yang diadopsi dari teknologi Australia itu baru diterapkan 6 bulan lalu.

Populasi walet bertambah banyak, tapi belum membuat sarang. Kami menyaksikan, ketika masuk rumah walet berukuran 11 m x 16 m setinggi 1 lantai itu walet berseliweran. Padahal, jarum jam baru menunjukkan pukul 14.30. Artinya sebagian besar walet belum pulang, masih berburu pakan.

Matahari condong ke barat, gerombolan walet mulai berdatangan dari berbagai penjuru. Jumlahnya sangat banyak keluar-masuk 2 lubang berukuran masing-masing 20 cm x 40 cm.

Sebagian besar walet muda dengan sosok lebih kecil. Menurut Basir peningkatan populasi itu baru terlihat beberapa bulan lalu. Sebelumnya malah banyak yang lari ke rumah walet tetangga.

Panen Jadi lebih mudah

Difungsikan sebagai plafon tidak masalah

Penambahan populasi diakui pula oleh anak angkatnya yang setiap hari merawat dan menjaga rumah walet. Kepada Kami ia menunjukkan tahi walet yang teronggok di sana-sini. Kotoran yang tersebar merata di bawah lagur-lagur kayu bangkirai itu relatif baru. Memang tidak semua feses walet, tapi ada pula kotoran seriti di dekat pintu keluar-masuk burung.

“Saya perhatikan banyak walet baru yang masuk dan menginap, tapi belum membuat sarang,” paparnya. Walet-walet itu diduga berasal dari rumah tetangga. Di Randudongkal, Pemalang, terdapat 4 rumah walet yang berdekatan dalam radius 1 km.

Fakta itu mengindikasikan lingkungan mikro rumah walet Basir membaik. Bahkan mungkin lebih baik bila kini walet tetangga yang berbalik kebandang.

Padahal, rumah walet milik mantan produsen pensil di Pasarminggu, Jakarta Selatan, itu sekolahan yang beralih fungsi. Sementara rumah-rumah walet tetangga dibangun khusus peruntukan walet.

Sebagaimana bangunan kuno, jarak dari lantai ke langit-langit cukup tinggi, 6 m, dan banyak sekat ruangan. Bangunan itu sudah lebih dari 10 tahun dikelola dengan produksi 3 kg sarang setiap panen.

“Yang pasti, karena kelembapan tinggi panen menjadi mudah. Kalau sebelumnya 10% sarang rusak, sekarang 0%,” tuturnya. Basir biasa menyemprot sarang yang akan dipanen dengan air. Namun, kerusakan sarang tak bisa dihindari terutama pada panen musim kemarau. Masalah itu hampir dialami semua pemilik rumah walet. Sarang rusak dihargai rendah, hanya 50% dari harga normal sehingga merugikan.

Konvensional

Dilengkapi bantalan udara sebagai peredam panas

Teknik yang dikembangkan lelaki paruh baya itu sebetulnya biasa-biasa saja. Ide muncul saat membaca iklan di sebuah surat kabar. Rumah-rumah di Australia menggunakan lembaran polyethilen untuk mengatasi sengatan panas matahari di musim panas.

Bahan berwarna perak itu diletakkan di bawah reng dan atap. Dengan dilandasi pengetahuan bahwa walet senang di lingkungan berkelembapan tinggi, Basir lantas memesannya ke distributor di Jakarta.

Polyethilen terdiri dari 2 lapis dengan bantalan-bantalan hampa udara di bagian tengah. Permukaan luar berperan memantulkan sinar, lalu bantalan udara meredam panas. Lembaran setebal 8 mm, lebar l,35m, dan panjang 22 m itu dipasang mendatar di ketinggian 50 cm di atas lagur. “Sebaiknya menempel ke reng di bawah atap. Tapi itu sulit dilakukan karena rumah sudah jadi,” tutur kelahiran Pemalang 6 Agustus 1929 itu.

Namun, di mana pun dipasang pengaruhnya tidak berbeda jauh. Buktinya, kelembapan tetap tinggi dan merata di seluruh ruangan. “Saya pikir, polyethilen cocok untuk rumah-rumah walet konvensional. Maksudnya, rumah walet berasal dari rumah tinggal yang dihuni walet dan tidak direnovasi,” ujar Basri. Sebab, rumah-rumah walet yang dibangun khusus bercor beton. Kalaupun mau dipakai paling hanya untuk pelapis atap lantai teratas.

Dengan menggunakan polyethilen, Basir praktis tak perlu bergantung pada gentong berair dan pipa PVC untuk meningkatkan kelembapan. “Tidak mahal kok, hanya Rp 100.000/m2. Toh, massa pakai bisa puluhan tahun,” ujar Basir. Dengan teratasinya kerusakan sarang saat panen saja biaya pemasangan tertutupi. Apalagi jika populasi meningkat, pasti layak dipakai.

Yudi Anto

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.

Most popular

Most discussed