Trio Sayuran Penawar Rindu

Gambar Gravatar
  • Whatsapp
Piman, manis dan mudah dikerok bijinya

Kerinduan keluarga Ogawa ke kampung halaman sedikit terobati. Itu semua sejak di mangkuk lauk terhidang olahan piman, shironegi, dan comatsuna. Setidaknya, kini keluarga eskpatriat Jepang yang tinggal di Bandung itu dapat lebih sering menikmati sayuran khas negeri Sakura itu.

Sayuran warisan nenek moyang itu bukan berasal dari kiriman kerabat di Jepang. Di seputar Bandung dan Jakarta ada gerai-gerai khusus yang menjual sayuran eksklusif itu. Kamome, Papaya, Ranch, dan Cosmo adalah beberapa pasar swalayan yang khusus menyediakannya. Harga masih terjangkau kantung, karena meskipun kualitas impor tapi produksi lokal.

Bacaan Lainnya

“Rasanya juga pas di lidah kami,” tutur Ny. Miyazaki. Apalagi setelah diolah sebagai acar atau dipanggang saat pesta barbeque. Semua sayuran itu diproduksi oleh pekebun lokal. Di dataran tinggi Cilimus, Cimahi Utara, 32 petak greenhouse dalam 1 ha lahan rutin memasok sayuran eksklusif itu.

Campuran salad

Shironegi, berbatang panjang dan padat

Sayuran kerabat paprika itu bernama piman, meski sosok jauh beda. “Disebut cabai kurang pas, sebab rasa tidak pedas tapi justru manis,” ujar Shirley Gunawan, pekebun. Kulitnya halus mengkilap, aromanya juga tidak se-”langu” paprika. Biji relatif sedikit dan mudah dikerok keluar. Makanya oleh koki-koki Jepang sayuran eksklusif ini sering diolah sebagai campuran salad atau di tumis isi daging.

Lain halnya dengan comatsuna. Sosoknya mirip pakcoi, tapi berukuran lebih besar. Lazimnya kelompok sawi-sawian, warna daun dan batang hijau muda cerah. Lalu agak putih ke arah bonggol.

Menurut Acep Gunawan, suami Shirley, kelebihan comatsuna ialah helai daun memanjang sampai ke bonggol. Seratnya lebih lembut dibanding kerabat sawi lain. Tinggi tanaman mencapai 30 sampai 40 cm.

Trio terakhir primadona komunitas Jepang di Indonesia itu adalah shironegi. Dibudidayakan oleh Valda Nakagawa Farm, sosok dan tampilan mirip bawang daun, begitu juga aroma. Hanya saja ukuran lebih besar, batang lebih panjang, dan padat.

1.150 m dpi

Syarat tumbuh ketiga sayuran itu sama

Trio sayuran Jepang itu dikembangkan dari benih asal Takii International Corp, perusahaan benih asal Jepang. Di bawah tangan dingin pasangan pekebun muda Acep dan Shirley Gunawan komoditas itu tumbuh subur di kebun hidroponik di kaki Gunung Burangrang pada ketinggian 1.150 m dpi.

Dari sini pula setiap hari mobil boks berpendingin menghantar comatsuna, shironegi, dan piman ke pusat belanja ekspatriat Jepang. Sogo, Kamome, Ranch, dan, Papaya di Jakarta, sedangkan Setiabudhi Supermarket di Bandung.

Di kebun sayuran itu, piman ditanam dalam 3 petak greenhouse model piggy back. Luas rata-rata mencapai 190 m2/ greenhouse. Ditanam pada media arang sekam berjarak tanam 50 cm x 50 cm Acep menggunakan irigasi tetes untuk memasok nutrisi organik campuran. Sejak semai, 5 sampai 6 bulan berikut piman dapat mulai dipanen 3 sampai 4 kg/tanaman selama 2 bulan.

Berbeda dengan piman, 2 komoditas lain ditanam di luar greenhouse. Shironegi dibudidayakan dengan jarak tanam 10 cm x 10 cm di lahan 1.000 m* 1 2 3 4. Panen perdana dilakukan 4 bulan sejak disemai. Tinggi tanaman 40 sampai 50 cm, batang berwarna putih.

Bersama 33 karyawan Acep berhemat menggunakan arang sekam sisa greenhouse untuk pupuk. Ia banyak diminati walaupun dijual Rpl0.000/kg.

Comatsuna ditanam di lahan seluas 1.000 m2 bergabung dengan jagung manis dan brokoli. Ada juga ditanam di bawah rak aggrek koleksi pribadi sang istri.

Dari luas keseluruhan, pekebun yang mulai terjun sejak 2001 itu mampu memanen 20 kg comatsuna per bulan. Panen dilakukan 1 sampai 1,5 bulan sejak semai. Meskipun diakui sebagai komoditas sampingan, tapi harga jual cukup tinggi Rpl0.000/kg.

Pos terkait