Usaha Untuk Menciptakan Akses Pasar untuk Petani

  • Whatsapp
Pasar tradisional
Suasana perdagangan di salah satu pasar tradisional

Menurut data BPS, diketahui pendapatan per kapita penduduk Indonesia sebesar Rp5,37 juta/tahun. Dari angka tersebut yang merupakan nilai rata-rata dari seluruh pendapatan penduduk penghasilan sebenarnya seorang petani hanya 12,5 sampai 13% saja.

Itu berarti seorang petani hanya mendapat Rp662.500 sampai Rp742.000 per tahun. Atau Rp55.000 sampai Rp62.000 per bulan. Potret menyedihkan dari kehidupan petani yang justru berada jauh di bawah garis kemiskinan Suasana itu berbeda dengan kehidupan karyawan pabrik yang terkesan diperjuangkan. Mulai dari upah, kesejahteraan, sampai kemampuan mereka untuk membeli sembako.

Wajar saja bila harga beras demikian ditekan untuk mendukung biaya operasional yang serendah-rendahnya. Padahal jika dipikir lebih jauh lagi, bukankah penduduk Indonesia kebanyakan petani?. Lalu dengan apa mereka harus membeli televisi, radio, tape, kulkas, motor, sampai mobil?

Kondisi mengenaskan yang dialami petani bermula dari rendahnya harga jual produksi di tingkat itu. Dari pengalaman saya selama 15 tahun bergelut di hortikultura, marjin di tingkat petani paling rendah dan paling tak masuk akal.

Ambil contoh kasus petani wortel. Berapa sebenarnya harga yang diterima petani wortel? Mari ditelusuri dari hulu sampai hilir.

Hubungan Petani Dan Tengkulak

Petani bercocok tanam
Para petani sedang menanam bibit sayuran

Di petani, tengkulak membeli wortel langsung di kebun dengan harga Rp50/kg. Harga itu makin naik kala petani mengantar sendiri ke pengepul, sekitar Rp250/kg. Dan harga tertinggi diperoleh petani ketika ia bermitra dengan suatu perusahaan inti, Rp400 sampai Rp500/kg.

Namun, kondisi “sedikit” baik di petani plasma tentu dengan sejumlah persyaratan. Baik menyangkut mutu, sumber daya manusia, maupun sarana dan prasarana yang dimiliki.

Di tingkat tengkulak, harga wortel di-mark up menjadi Rp1.000/kg. Harga itu makin menjulang ketika sampai di tangan pedagang di Pasar Induk Kramat Jati,Jakarta. Mereka yang bertindak sebagai wholesaler kemudian mendistribusikan ke supplier dan retailer.

Sampai di sini harga meningkat lagi menjadi Rp1.500 sampai Rp2.000 per kg. Setelah didistribusikan ke konsumen akhir, harga pun “disulap” menjadi Rp2.000 sampai Rp2.500 per kg.

Jika dibandingkan dengan harga di konsumen akhir, maka petani hanya mendapat 2,5%. Atau 12,5% untuk petani yang mengantar langsung ke tengkulak, dan 16% sampai 20% untuk petani mitra.

Lalu berapa yang diterima tengkulak dan para pedagang Kramat Jati? Mencengangkan! 50% sampai 80% dari harga jual di konsumen akhir. Yang lebih fantastis lagi margin yang diperoleh para pedagang itu, 50% sampai 300% ! Padahal mereka tak pernah bersusah payah menanam atau menernakkan suatu komoditas.

Berapa margin yang diterima petani sebagai produsen? Sangat- sangat rendah. Angka wajar dari yang pernah saya peroleh sekitar 15% 30%. Itu pun dengan kualitas produksi yang baik dan bisa menembus pasar ekspor. Oleh karena itu, bila ada penawaran investasi pertanian dengan pengembalian modal 50% 100% per tahun benar-benar di luar logika.

Berapa margin yang diterima petani sebagai produsen? Sangat-sangat rendah. Angka wajar dari yang pernah saya peroleh sekitar 15% sampai 30%. Itu pun dengan kualitas produksi yang baik dan bisa menembus pasar ekspor. Oleh karena itu, bila ada penawaran investasi pertanian dengan pengembalian modal 50% sampai 100% per tahun benar-benar di luar logika.

Petani Selalu Berada dalam Posisi Yang Dirugikan

Perdagangan komoditas pertanian
Sayuran dan komoditas pertanian diperdagangkan di pasar tradisional

Posisi lemah petani dalam tata niaga pertanian lantaran mereka tak memiliki akses pasar. Mereka tak bisa asal nyelonong ke Pasar Induk dan melakukan transaksi dengan pedagang.

Bisa-bisa bukan untung yang didapat malah buntung karena dipermainkan para “penghuni” yang telah bercokol lama di sana. Mengapa? Para pedagang itu telah membangun network yang kuat dengan kaki tangan sampai ke daerah penghasil. Oleh karena itu sulit bagi petani untuk menembus jaringan dan melewati para tengkulak.

Nasib tak menentu juga dirasakan eksportir. Seluruh produk petani itu habis dijual ke konsumen akhir. Eksportir sayuran yang ada di luar lingkaran wholesaler terpaksa menelan pil pahit. Mereka sulit membeli langsung ke wholesaler karena barang sudah habis.

Andai kata nasib lagi bagus, mereka bisa memperoleh cipratan sayuran berlebih. Namun, jangan harap kondisi itu rutin terjadi. Padahal bagi eksportir, kontinuitas dan kualitas produk sangat menentukan. Bagaimana mereka bisa ekspor bila pasokan barang dari produsen tak menentu? Satu-satunya jalan ialah dengan membangun kemitraan.

Peranan Pemerintah Dan Kemitraan

Mentimun dan sayur mayur

Seharusnya pemerintah menciptakan instansi atau lembaga yang bertindak sebagai wholesaler market sejati. Di dalam wadah organisasi itu seluruh pemain yang masuk sebagai anggota bisa bertemu dan bertransaksi bebas.

Sebagai produsen, yang termasuk di dalamnya yaitu koperasi petani, pekebun individu, asosiasi produsen dan sebagainya. Sedangkan para pembeli ialah wholesaler dan eksportir. Di sana, kedua pelaku pasar itu memiliki posisi tawar yang jelas dan pasti.

Mereka bertemu dalam suatu area transaksi tempat penjual dan pembeli memiliki posisi psikologis yang jelas. Tak ada yang saling menekan karena seluruhnya masuk sebagai member of wholesalers. Di sana akan terbentuk pasar berkeadilan dan terjadi proses supply dan demand yang sebenarnya, bebas tanpa tekanan.

Bentuk-bentuk wholesaler market seperti itu banyak ditemukan di sejumlah negara. Sebut saja, Belanda dengan pasar bunga potong dunianya. Atau jika tak ingin jauh, negara tetangga, Thailand.

Di sana pasar induk hortikultura dibangun dengan megah dan dijalankan sesuai fungsinya. Pasar yang terletak di Talad Thai, Bangkok menempati luasan 30 ha. Segala jenis buah dan sayuran dengan mutu dan standar baik masuk di sana. Pembeli dan penjual dapat dengan mudah memilih produk yang diinginkan.

Seandainya wadah ini bisa hadir di sini, saya yakin 7 sampai 10 tahun lagi, perekonomian Indonesia akan membaik. Mengapa? Petani memiliki akses pasar dan posisi tawar yang jelas. Kegiatan pertanian akan bergairah dan petani terpacu meningkatkan kualitas. ***