Varietas Jahe Cimanggu Dongkrak Hasil Panen Hingga 35 Ton/ha

Gambar Gravatar
  • Whatsapp

Angin sejuk itu berembus dari Cimanggu, Bogor. Telah lahir satu varietas jahe gajah baru berdaya hasil tinggi. Sebanyak 17 sampai 35 ton/ha panen mampu dihasilkannya. Terobosan lewat varietas baru itu mendongkrak produksi yang biasanya cuma 8 ton/ha.

Dari balik dinding laboratorium Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (Balittro), Bogor, tangan-tangan terampil para peneliti itu berbicara. Mereka melakukan sederetan pengujian pada berbagai varietas Zingiber officinale 1 . Setelah melalui proses pengumpulan, evaluasi, dan seleksi, pertengahan 2000 lahirlah varietas jahe putih besar unggul .

Bacaan Lainnya

Itulah cimanggu I. Kelahirannya dibidani oleh para peneliti Balittro, Bogor: Dr Ir Nurlianie Bernawie, Drs M Hadad EA, Hobir BA dan rekan. Produktivitas tinggi cimanggu I stabil pada beberapa kondisi agroekologi. Keistimewaannya sudah teruji di 13 lokasi di Indonesia, di antaranya Sukabumi Selatan, Boyolali, Salatiga, Majalengka, Garut, dan Sumedang.

Produksi tinggi

Jahe kapur tinggi kadar asirinya

Menurut Dr Ir Nurliani Bermawie, banyak faktor yang menentukan tinggi rendahnya produksi jahe. Salah satunya penggunaan bibit unggul berkualitas. “Bibit yang baik adalah modal awal untuk membangun produksi tinggi,” ujar ketua program peneliti tanaman obat Balittro itu.

Cimanggu I merupakan varietas yang tergolong berproduksi tinggi. “Dalam satu hektar minimal 17 ton rimpang segar dipanen. Bahkan produksi maksimal bisa menembus angka 35 ton per hektar diSukamulya, Sukabumi,” papar ibu 2 putra itu. Sementara varietas lain maksimal hanya 8 ton per hektar.

Itu lantaran, satu rumpun bisa menghasilkan rimpang 400 sampai 1.200 g, lebih berat 300 sampai 400 g dibandingkan jahe putih besar lainnya. Sayang kandungan asirinya tergolong rendah, sekitar 2 sampai 3%, lebih rendah 1 sampai 1,5% daripada kerabatnya, jahe emprit dan jahe merah.

Sosok cimanggu I sepintas sama dengan jahe bes*r putih lainnya. Tinggi tanaman 80 sampai 100 cm. Cuma daun lebih besar, panjang 17 sampai 22 cm, lebar 5 sampai 7 cm. dan posisi antardaun saling berselang seling secara teratur. Dalam satu rumpun terdapat 6 sampai 8 batang.

Optimalisasi Dalam budidaya

Cimanggu 1 produksi berlipat ganda

Pendatang unggul baru lainnya dari Ampel, sebuah kecamatan di Jawa Tengah. Masyarakat di sana mengenalnya sebagai jahe kapur. Jika dibelah, daging rimpang berwarna putih kekuning-kuningan mirip kapur. Potensi hasil yang dimiliki jahe kapur bisa mencapai 7 sampai 12 ton per hektar. Kandungan minyak asirinya juga cukup tinggi, 2,5 sampai 4%.

Namun, kedua varietas unggul itu bisa menunjukkan hasil maksimal jika teknik budidaya dilakukan secara optimal. Pengolahan tanah harus baik dengan pencangkulan sedalam 5 sampai 7 cm. Berilah pupuk dasar berupa pupuk kandang sebanyak 20 sampai 40 ton/ha. Selang 7 hari setelah penanaman, taburkan 400 kg/ha Urea, KC1 sebanyak 200 kg/ha, dan 200 kg/ha SP36. Jangan lupa gunakan bibit yang baik. Benih ditanam dengan jarak 40 cm x 60 cm, dibutuhkan bibit 1,5 sampai 3 ton untuk setiap hektarnya. Kedua varietas jahe asal Indonesia bisa dipanen dalam waktu 180 sampai 360 hari.

  1. admin. “JAHE GAJAH VAR. CIMANGGU 1.” Balittro, 5 July 2017, http://balittro.litbang.pertanian.go.id/?p=2029.

Pos terkait