Budidaya Tani
Kacang Edamame

Yang Membonceng Pertanian Organik

Bukan hanya Adi begitu Nurman biasa dipanggil yang merasakan manfaat pupuk organik. Doyo Mulyo Iskandar, pekebun di Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung, juga menikmati manisnya berkebun sayuran dengan pupuk organik. Sejak menggunakan pupuk organik pada 2006, produktivitas sayuran meningkat. “Minimal 15 %,” tutur ketua Kelompok Tani Mekartani, Cibodas, Lembang, itu. Untuk edamame, misalnya, dari luasan 1.000 m2, ia menuai 470 kg, sebelumnya 400 kg.

Yang menggembirakan, penggunaan pupuk organik juga diimbangi dengan penurunan pemakaian pupuk kimia. Untuk 1 hektar pertanaman kubis, jagung manis, edamame, dan sawi putih, Doyo biasa menghabiskan 500 kg pupuk NPK setara Rp 1.950.000. Setelah beralih ke pupuk organik, penggunaan NPK cuma 125 kg atau Rp487.500.

Memang pekebun mesti menambah pupuk kandang. Untuk penanaman sayuran daun, Doyo meningkatkan penggunaan pupuk kandang dari 15 ton menjadi 20 ton per hektar. Bila harga pupuk kandang Rp200 per kg, maka terjadi penambahan biaya Rp 1.000.000.

Kebutuhan pupuk organiknya 15 kg dalam bentuk tepung senilai Rp750.000 dan 15 liter dalam bentuk cair senilai Rp750.000 per hektar untuk 3 musim tanam. Pestisida yang dipakai Doyo juga berupa pestisida nabati yang ramah lingkungan.

Meski ada penambahan biaya, dengan menggunakan pupuk organik, Doyo mendapat keuntungan lebih. “Nilai jual sayuran organik lebih tinggi dan stabil,” tutur pekebun yang memasarkan sayurannya ke supermarket di Jakarta, Bandung, dan ekspor keSingapura itu.

Contohnya, kubis organik dijual Rp4.000 per kg, sedangkan harga sayuran konvensional mengikuti pasar. “Bisa anjlok hingga Rp600 per kg,” ujarnya. Setelah dihitung, Doyo bisa meraup keuntungan 2 sampai 3 kali lebih besar.

Berdasarkan pengalaman Doyo, pupuk organik juga meningkatkan kualitas hasil. Misalnya kentang, umbi relatif besar dan seragam. Yang biasanya hanya mendapat kualitas A kurang dari 50%, kini mencapai 65%,” ujarnya. Harga kentang grade A Rp2.750 sampai Rp3.000; B Rp2.000 sampai Rp2.750 per kg. Dengan tambahan 15% grade A dari total panen 15 sampai 18 ton per hektar, Doyo memperoleh tambahan pendapatan Rp562.500 sampai Rp2.025.000.

Imbas pertanian organik

beragam produk pupuk organik
Kini beragam produk pupuk organik dapat diperoleh dengan mudah di pasaran

Wajar bila pupuk organik dipertimbangkan untuk peningkatan produksi tanaman pangan dan hortikultura. Pupuk organik diharapkan dapat memulihkan kondisi lahan yang rusak akibat penggunaan pupuk kimia berlebihar. Hal itu juga disampaikan oleh Dr Ir Tualar Simarmata, MS, peneliti pupuk organik dari Universitas Padjadjaran Bandung.

lahan yang miskin hara kandungan bahan organik perlu ditingkatkan untuli mendongkrak produktivitas tanaman. “Bahan organi-merupakan kunci penentu kualitas tanah,” ujar dokter lulusan Justus Liebig University Jerman itu. Dengan penambahan pupuk organik kebutuhan bahan organik lahan terpenuhi.

Merebaknya tren pupuk organik itu juga dipicu tren pertanian organik. “Selama pertanian organik masih terdengar, Kebutuhan pupuk organik masih terus berkembang,” ujar Singamurti Hanurakin, manajer operasional PT Gateway Internusa, produsen pupuk organik di Jakarta. Dampaknya, penjualan pupuk organik pun membubung.

Peningkatan penjualan juga dialami PT Biotech Inti Organik. Produksi pupuk di pabrik yang berkapasitas terpasang 5-juta liter per tahun itu pun ditingkatkan lantaran meluapnya permintaan. Dari 2-juta liter per tahun atau 40% dari kapasitas terpasang pada 2006, menjadi 3-juta liter per tahun pada 2007 setara 60% dari kapasitas total. ‘Ada kenaikan 20% dalam kurun waktu setahun,” tutur Jarot Seno Puguh, direktur PT Biotech Inti Organik.

Peningkatan penjualan juga dirasakan banyak produsen lain. Beberapa di antaranya PT Natural Nusantara di Yogyakarta yang memasarkan pupuk organik cair Nasa, PT Greenland Agrotech Industries (Superfarm), PT Pupuk Sriwijaya (Pusri Organik), PT Suba Indah Tbk (Nutri-Agro Plus), PT Saputra Internasional (Nutrisi Saputra), dan Indoraya Mitra Persada 168 Group (Puja 168).

Produk organik yang Disempurnakan

Beragam produk pupuk organik yang beredar di pasaran memberikan banyak pilihan untuk para pekebun. Salah satunya ABG (Amazing Bio Grouth) yang dibuat melalui fermentasi dan ekstraksi setara biologis. Pupuk yang dirilis pada 2006 itu antara lain berbahan baku ikan laut, rumput laut, dan tanaman yang difermentasi. Ada pula Puja 168 yang terbuat dari daun-daunan dan buah-buahan segar yang diolah secara enzimatik.

Sebelum melahirkan pupuk organik berkualitas, para produsen menghabiskan waktu untuk mendapatkan formula tepat dan penyempurnaan produk. Produk ABG yang sekarang beredar di pasaran merupakan pupuk generasi ke-5, hasil penyempurnaan produk yang diteliti sejak 1993. Penyempurnaan dilakukan terutama dalam bentuk fisik dari cair menjadi gel peningkatan daya larut, dan peningkatan kandungan senyawa bioaktif serta mikroorganisme.

Lain lagi PT Biotech Inti Organik yang meriset pupuk RI 1 sejak 1996. Pupuk organik cair itu awalnya diproduksi hanya untuk memenuhi kebutuhan intern perusahaan memproduksi beras organik. Persyaratan ketat memasuki pasar beras organik mendorong perusahaan membuat pupuk organik sendiri. Itu lantaran produk yang dihasilkan dengan menggunakan pupuk organik yang beredar di pasaran tidak lolos uji.

“Setelah beras diuji ternyata masih mengandung kadar N (nitrogen red) tinggi,” ungkap Jarot Seno Puguh, direktur BIO. Restoran siap saji yang sejatinya menjadi pasar beras organik PT Biotech Inti Organik pun menolak. Serangkaian riset akhirnya ditempuh untuk mencari formula pupuk organik yang tepat. Termasuk bekerja sama dengan peneliti dari Balai Penelitian Tanah dan Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Aromatik, Bogor. Pada 2004, lahirlah RI 1 yang rencananya akan dipasarkan secara bebas di toko saprotan pada Agustus 2007.

Bimbingan kepada petani

Meski permintaan melesat, bukan berarti bisnis pupuk tanpa kendala. Menurut Dominikus, bagian pemasaran PT Gateway Internusa, masalah persediaan di tingkat agen menjadi kendala pemasaran. “Agen terkadang lupa menjaga stok,” kata pria kelahiran Jakarta 25 tahun silam itu. Masalahnya, pengiriman ke wilayah itu diperlukan waktu 1 sampai 3 minggu. Petani yang membutuhkan pupuk tidak bisa memperolehnya tapat waktu.

Terhambatnya distribusi berimbas pada penundaan atau penghentian pemakaian pupuk di tengah masa penanaman. “Itu mempengaruhi hasil akhir produktivitas tanaman,” ujar Singamurti.

Di sisi lain petani umumnya belum mengetahui kelebihan pupuk organik secara menyeluruh. Padahal, pupuk organik yang juga berfungsi sebagai pembenah tanah tak hanya memberikan manfaat dalam jangka pendek, tetapi juga untuk kelestarian lahan pada masa depan.

Menghadapi pesaing yang terus menjamur, Dany tetap optimis dengan penjualan ABG. “Selama produk berkualitas, kita tidak ragu hadapi pesaing. Biar petani sendiri memilih yang terbaik,” ujar pria lulusan Universitas Bina Nusantara Jakarta itu. Strategi promosi yang ditempuhnya antara lain melakukan banyak percobaan di lapang. Hasil aplikasi di lapangan yang menggembirakan merupakan ajang promosi bagi produk ABG di kalangan petani.

“Itu promosi terampuh untuk pemasaran pupuk,” ungkapnya. Namun, sikap kritis petani juga mengingatkannya untuk selalu memberikan bukti, bukan sekadar janji. Selama pertanian organik tetap bersuara menyadarkan petani akan pentingnya menjaga keseimbangan tanah, selama itu pula pasar pupuk organik tetap terbuka.

Yudi Anto

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.

Most popular

Most discussed