Yang Unik dari Rumput Ajaib

Pernahkan terbayang bahwa trubus bambu sebetulnya sudah seumur tanaman induk? Atau batang-batang bambu mendadak kering lalu mati setelah keluar bunga? Itulah sifat bambu betung dan bambu andong. Gara-gara hal sepele itu, pada 1980-an, ribuan hektar kebun bambu betung di Thailand luluh lantak.

Ketika itu negeri gajah putih memang tak main-main mengebunkan bambu betung secara komersial untuk industri. Bibit-bibit unggul diambil dari perbanyakan tunas tanaman induk berumur 80 tahun. Sayang, kemarau panjang memancing bunga bambu keluar.

“Begitu tanaman induk berbunga dan mati, tiba-tiba seluruh bibit yang sudah berumur 2 tahun ikut-ikutan berbunga lalu mati,” tutur Ir Sutiyono, peneliti bambu di Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan. Alhasil mimpi itu hancur berantakan. Sialnya Indonesia sempat pula mendatangkan bibit itu untuk ditanam di beberapa daerah di Jawa. Setali tiga uang, nasib sama pun menerpa.

Menjalar

Bambu buta tanpa lubang di tengah

Cerita unik lain ada di bambu buta Schizostachyum caudatum tampil sebaliknya. Tumbuhan asli Bengkulu itu bambu tapi tanpa lubang, mirip rotan. Lantaran padat berisi ia memiliki daya elastis cukup besar sehingga cocok dipakai untuk joran. Penduduk di Lampung dan Bengkulu, malah berkeyakinan buluh bambu buta itu asal-muasal orang-orang di sana.

Sosok bambu selama ini dikenal tegak menjulang belasan meter. Namun, itu tidak berlaku untuk bambu embong Fimbribambusa horsfieldii. Tumbuhan yang hanya didapati di Jawa Timur itu cuma berdiri tegak 1 m. Batang sisanya menjalar serabutan ke pohon di sekeliling. Kalau ditarik, panjangnya bisa sampai 30 m. Karena karakteristik itu, si rumput ajaib itu dimanfaatkan sebagai tali.

Bambu dikenal sebagai tumbuhan kosmopolitan. Padahal, sebetulnya tidak demikian. Bambu yang hidup di dataran rendah bisa tumbuh baik sampai ketinggian 700 m dpi. Sebaliknya, tidak pernah berhasil. Itu pula yang dialami oleh Nastus elegantissimus yang tumbuh di ketinggian 1.200 m dpi di Jawa Barat. “Sebab itu ia termasuk endemik,” tutur Dr Elizabeth A. Wijaya, ahli bambu dari LIPI.

Menurut Elizabeth, bambu endemik di tanah Jawa paling banyak jumlahnya. Total 9 jenis, di antaranya pring manggong Bambusa jacobsii, cangkoreh Dinochloa scandens, pring-pringan D. matmat, manggong Gigantchloa manggong, wuluh andeng Schizostachyum aequiramosum, dan suling S. silicatum.

Beberapa jenis bambu, introduksi pun didapati tumbuh di Nusantara. Dari 26 jenis yang diketahui, 14 jenis di antaranya cuma didapati di Kebun Raya Bogor dan Kebun Raya Cibodas, Cianjur, seperti Pleioblastus chino, P amabilis, dan Bambusa balcoa.

Mongso tuwo

Bunga keluar pada bambu andong dan betung alamat mati

Ruas bambu tak selamanya mulus. Bambu ampel Bambusa vulgaris varietas hijau memiliki biku-biku menonjol di ruas buluh. Tonjolan cembung itu memberi kesan gemuk pada haur, begitu sebutan masyarakat Sunda. Jenis ini istimewa lantaran sanggup bertahan hidup di genangan air selama beberapa bulan. Padahal, daerah kering dan kekurangan air merupakan habitat aslinya.

Di balik segala keunikan, ternyata budaya masyarakat Jawa pun cukup unik memperlakukan bambu. Panen bambu tak boleh asal-asalan, melainkan harus memenuhi aturan primbon. Mongso tuwo dalam kalender jawa, pranoto mongso, diyakini memberi hasil tebangan terbaik.

Dalam setahun kalender masehi, mongso tuwo itu terjadi 2 kali yakni kapitu dari Desember sampai Febuari dan sodo dari Mei sampai Juni. Di kedua masa itu kandungan pati setiap jenis bambu turun sehingga batang bambu menjadi sangat keras. Kondisi seperti itu dibenci oleh hama bubuk yang senang menggerus buluh lunak.