Surga Tanaman Hias Di Negri Siam

Dalam hitungan menit, beragam tanaman itu berpindah kepemilikan. Namun, itu belum cukup. Kaki-kaki para hobiis tanaman hias kawakan dari Indonesia itu kemudian melangkah memasuki anjungan lain di lokasi pameran seluas lapangan bola. Lagi-lagi beragam jenis teranyar jatuh dalam genggaman. Ekshibisi akbar setiap akhir November dalam rangka memperingati ulang tahun Raja Bhumibol Adulyadej itu memang kesohor sebagai surga untuk mendapat jenis-jenis paling gres.

Tak puas dengan hasil perburuan di Suang Luang, Chandra Gunawan melanjutkan perjalanan menyambangi nurseri milik Thanachai Charusom. Kali ini bukan adenium yang ia cari, tapi aglaonema. Dari Thanachai, Chandra mendapatkan aglaonema anggun berdaun berbentuk hati dengan corak putih berhias totol tua. Memburu langsung ke nurseri-nurseri ternama juga jadi agenda Ny Jali dan Greg Hambali.

Rajin jalan-jalan

Bukan tanpa alasan para hobiis itu rela berlelah-lelah berkunjung ke negara yang terkenal dengan suteranya itu. “Untuk urusan tanaman hias tropis, Thailand nomor satu di Asia,” tutur Heri Syaefudin. Bak Paris, dialah kiblat mode tanaman hias tropis. Kala memburu tanaman hias baru, negeri yang tak pernah dijajah itu yang pertama terlintas di benak para hobiis dari berbagai negara.

Wajar saja karena negeri Gajah Putih itu kaya beragam jenis dan varietas tanaman hias. Boleh dibilang, jenis apa saja yang dicari hampir pasti ada di sana.

Musababnya, “Orang Thailand gemar tanaman dan mereka rajin jalan-jalan ke luar negeri mencari koleksi terbaru,” kata pi (kakak, dalam bahasa Thailand, red) Daeng, sapaan akrab Thanachai. Setelah mendapatkan, mereka tak sekadar mengoleksi, tapi rajin menyilang atau memperbanyak. Muncullah jenis-jenis baru yang berbeda.

Lagipula persaingan antarnurseri sangat ketat sehingga masing-masing berlomba menghasilkan jenis berbeda. Pengembangan dan perbanyakan jenis-jenis baru kian progresif karena mendapat dukungan dana dan riset dari pemerintah.

Tak heran hampir setiap 2 bulan Leman, kolektor aglaonema di Jakarta Utara, bertandang ke negeri Siam untuk melengkapi koleksi. Chandra rutin menyambangi nurseri dan penangkar tanaman hias di seputaran Bangkok hingga ke pelosok-pelosok demi mendapat jenis-jenis terbaru. Itu juga yang dilakukan Joseph Ishak di Tajur, Bogor; Gunawan Wijaya di Sentul, Bogor, dan Suhandono, di Ragunan, Jakarta Selatan.

Tambang emas

Perjalanan ulang-alik Indonesia— Thailand itu sudah berlangsung sejak 15 tahun silam. Kalau semula sekadar koleksi, tanaman asal negeri Ratu Sirikit itu kini diincar sebagai bisnis. Sudah banyak terbukti ia menjadi tambang emas bagi para pemilik nurseri. Selain anggrek, yang spektakuler tentu saja adenium.

Sejak diperkenalkan pada 1999 oleh Chandra, kamboja jepang asal Thailand langsung memikat banyak penggemar tanaman hias tanah air. Maklum bentuk, warna, dan corak bunga berbeda dengan adenium yang ada di Indonesia. Kini si mawar gurun itu membanjiri pasar lokal hingga ke kios-kios pedagang kakilima. Itu setali 3 uang dengan euphorbia yang diperkenalkan belakangan.

Kisah serupa dialami Heri dengan sambang darah variegata. Dengan modal 1 pot seharga Rp 1-juta yang diboyong 5 tahun silam, ayah 3 anak itu kini menikmati keuntungan dari penjualan minimal 10.000 pot. Harga jual saat ini Rp 10.000—Rp 150.000 per pot. Jadi bisa dibayangkan gemerincing rupiah yang masuk ke kantong Heri.

Keputusan mendatangkan anthurium hookeri variegata 3 tahun silam pun membuahkan keuntungan buat Ansori Y. Dari 6 tanaman variegata, pemilik Zikita Nurseri itu memperbanyak hingga ribuan tanaman. Modal membeli masing-masing tanaman Rp 1,5-juta—Rp3,5-juta tertutup dalam hitungan bulan.

Jangan Salah pilih

“Dari awal saya yakin anthurium hookeri variegata itu bakal profitable karena variegatanya berbeda. Kuning keemasan, bukan putih, yang kuning ini jarang,” kata Ansori. Kini dari ratusan pot yang masih tersisa di nurseri di kawasan Pondoklabu, Jakarta Selatan, ia tinggal menuai untung.

Heri tertarik mendatangkan Exocaria bicolor variegata karena penampilannya eksklusif. Sambang darah lokal berwarna “normal”: bagian atas daun, hijau; bawah,merah. Kelebihan lain, sambang darah variegata bersosok lebih kompak. Heri yakin si daun cantik dengan belang putih akan mudah memikat para hobiis lantaran sambang darah sebelumnya sudah banyak dikenal.

Kejelian dalam melihat perbedaan jenis, warna, bentuk tanaman, dan bunga dengan yang ada di Indonesia memang kunci sukses bisnis tanaman hias Thailand. Faktor lain yang perlu dipertimbangkan, kemudahan memperbanyak dan kesesuaian dengan iklim di Indonesia.

Entah berapa lama dan jumlah rupiah akhirnya terbuang percuma lantaran tanaman ternyata tumbuh merana di Indonesia. Heri pernah membeli sesosok tanaman berbentuk kompak dan mini. Setiba di Indonesia tanaman justru tumbuh bongsor karena kekerdilannya dihasilkan dengan memberikan paklobutrazol. Begitu efek bahan kimia itu habis, tanaman kembali normal.

Euphorbia
Euphorbia, ngetren di Thailand, baru hijrah ke Indonesia

Selera sama

Kunci sukses lain yang dianggap “aman”, mengekor tren di Thailand. Pengalaman dan pengamatan para pemilik nurseri menunjukkan, selera orang Indonesia dalam hal tanaman hias mirip-mirip dengan penduduk negeri Siam. Terbukti adenium dan euphorbia yang populer di Thailand pun ngetren kala didatangkan ke Indonesia.

Pasar lokal Thailand yang mulai lesu karena hampir semua penggemar tanaman hias mengoleksi adenium dan euphorbia bergairah kembali. Para pemilik nurseri berbondong-bondong mengekspor tanaman gurun itu. Tak hanya ke Indonesia, tapi juga Malaysia,India, Amerika Serikat, dan negara-negara di Eropa. Mengirim tanaman yang mulai “lesu darah” di pasar lokal memang salah satu strategi pasar yang kerap digunakan para pemain tanaman hias di Thailand.

Itu juga yang membuat para pemain tanaman hias tanah air rajin “mengintip” perkembangan di Thailand. “Tanaman hias yang diminati sekarang adalah tipe flowering plant,” kata pi Daeng “membocorkan rahasia dapurnya”. Ia mencontohkan bromelia yang mulai populer sejak 3 tahun terakhir. Banyak nurseri kewalahan karena permintaan tinggi dari para hobiis.

Chandra memprediksi nanas hias itu pun bakal populer di Indonesia. “Ia tanaman daun tapi indah seperti bunga. Lagipula cocok sebagai tanaman indoor dan outdoor. Bagus juga untuk taman, potplant, dan dekorasi ruangan,” tutur pemilik Godongijo Nursery itu panjang lebar. Dengan semakin banyak fungsi tanaman, pasar kian luas. Keuntungan lain, perawatan mudah, tahan lama di dalam ruangan, serta mudah dan murah untuk diangkut jarak jauh.

Baru tapi lama

Yang juga mulai digandrungi hobiis di Thailand ialah tanaman variegata, plumeria, dan ixora. Beberapa bulan terakhir, kolektor di negeri Siam sedang ramai memburu tanaman belang itu. Mengambil pengalaman adenium dan euphorbia, pemain lokal yang mau “mengekor” mesti menunggu tren itu turun dulu di Thailand. Kalau mengimpor saat puncak tren harga tanaman terlalu tinggi karena masih berupa collector item. Akibatnya harga di pasar Indonesia tidak kompetitif. Pi Daeng menghitung masa kejayaan satu jenis tanaman di Thailand biasanya berlangsung selama 5 tahunan.

Membaca kecenderungan di Thailand, Heri pun rajin mengumpulkan beraneka jenis plumeria dan soka beragam warna dan bentuk bunga. Pilihan atas kedua jenis tanaman hias itu tak semata-mata hanya mengekor tren di Thailand, tapi juga karena melihat selera pasar di dalam negeri. “Tren taman di Indonesia sekarang mengarah ke gaya bali atau taman tropis. Gaya seperti itu banyak menggunakan plumeria,” katanya.

Tak melulu asal negeri Siam, ia mengoleksi kamboja asal Hawaii dan jenis-jenis yang disilangkan sendiri. Soka variegata dipilih dengan alasan cantik untuk aksen taman. Kehadiran si belang itu membuat taman “berwarna” meski tanpa bunga.

Varietas teranyar dari tanaman “lama” seperti aglaonema, philodendron, dan anthurium pun tetap diburu. “Kehadiran jenis baru perlu sebagai “penyegar” untuk para hobiis,” kata Ansori. Makanya pria asal Bogor itu mendatangkan philodendron variegata asal Thailand 2 bulan silam. Ia bakal menjadi tambang emas berikutnya.

“Dengan warna eksklusif harga bisa mencapai jutaan,” ujar Ansori sambil menunjuk philodendron terdiri atas 7 helai daun dalam pot berdiameter 20 cm. Jenis serupa berwarna hijau saat ini cuma laku Rpl0.000-an.

tanaman hias lokal

Meski menangguk untung dari tanaman hias negeri jiran, para penangkar tetap terobsesi untuk mempopulerkan tanaman lokal. “Jangan hanya menunggu sesuatu populer dulu di Bangkok, baru kita mengikuti. Seharusnya kita mengangkat tanaman sendiri yang kalau bisa sampai diekspor. Kalau tidak begitu kapan barang Indonesia jadi tuan rumah di negeri sendiri?” ujar Gunawan Wijaya. Pemilik Wijaya Orchids itu menyebutkan hibiscus alias bunga sepatu yang berpotensi dikembangkan. Heri melirik puring dengan beragam bentuk dan wama daun.

Dari segi kekayaan plasma nutfah, Indonesia memang tak kalah dengan Thailand. “Tanaman Indonesia juga bagus-bagus,” ujar pi Daeng waktu Budidaya Tani temui saat sedang berburu tanaman hias variegata di beberapa nurseri di kawasan Depok, Jawa Barat. Ia tak sekadar basa-basi. Pensiunan karyawan sebuah perusahaan minyak itu mengoleksi cempedak Arthocarpus chempedens variegata milik seorang penangkar di Sawangan, Depok. Pun anthurium berdaun lebar dan bergelombang hasil silangan penangkar lokal dari kebun Ansori.

Ia bahkan rela merogoh kocek senilai US$ 1.000 setara Rp9-juta rupiah demi mendapatkan sepot terung-terungan variegata dari Ukay, pedagang tanaman hias di Bogor. Dari tempat sama, Pramote Rojruangsang, mendapatkan pisang-pisangan berdaun merah seharga US$ 1.300.

Di mata hobiis mancanegara, Indonesia memang dianggap surga tanaman hias setelah Thailand. Terbukti Ricard Burton, kolektor asal Miami, Florida, asyik menyambangi nurseri di seputaran Bogor dan Depok untuk mencari tanaman-tanaman baru.

Tiru Thailand

Sayang, “kekayaan” itu belum diusahakan secara komersial. Padahal Indonesia memiliki keuntungan berupa iklim yang cocok untuk pertumbuhan tanaman. Sentra-sentra tanaman hias rata-rata memiliki suhu malam lebih rendah ketimbang Thailand yang dibarengi dengan kelembapan tinggi. “Makanya kalau tanaman Thailand dibawa ke Indonesia pasti tumbuh lebih baik,” lanjut pi Daeng.

Thailand berhasil menguasai pasar ekspor tanaman hias karena berani memproduksi dalam jumlah massal. Dengan produksi massal biaya produksi menjadi lebih ringan. Akibatnya produk-produk asal negara kerajaan itu kompetitif dalam hal harga. Yang menjadi andalan tak melulu tanaman hias lokal. Kerap terjadi tanaman asal impor, diekspor kembali ke negara asal setelah kualitas diperbaiki dan diproduksi massal.

Pemain di Indonesia sangat mungkin meniru jejak Thailand. Wijaya Orchids yang sempat membuat hobiis di negeri Gajah Putih terpana kala mengirim anggrek tanah Spatoglotis sp berwarna kuning 5 tahun silam. Sekitar 1.000 anggrek tanah hasil perbanyakan secara meriklon ludes dibeli hobiis Thailand. Para penggemar tanaman hias negara itu pun kepincut oleh kecantikan aglaonema pride of sumatera hasil silangan Greg Hambali. Jadi, boleh saja memburu tanaman hias hingga ke negeri seberang. Namun, kekayaan sendiri jangan sampai dilupakan.