Nilai Ekonomis Limbah Kelapa

Ekonomi Limbah Kelapa

Apa yang Anda lihat sebelum mendarat di Bandara Sam Ratulangie, Mapanget, Manado? Pohon kelapa dan lagi-lagi pohon kelapa. Ada yang pendek, tinggi, muda, tua, yang melambai-lambai atau diam saja. Itulah Bumi Nyiur Melambai, Sulawesi Utara. Ibukotanya juga disebut kota Nyiur Melambai. Logonya pun nyiur. Dengar saja lagu kesukaan rakyatnya, “Rayuan Pulau Kelapa” karya Ismail Marzuki dan “Nyiur Hijau” karya Maladi.

Konon sebelum burung garuda terpilih, pohon kelapa alternatif pertama lambang negara ini. Ironisnya sekarang, kecuali yang masih aktif sebagai pramuka, kebanyakan sudah hampir lupa pada kelapa. Di pasar internasional, kelapa digolongkan dalam kategori sunset industry. Industri senja yang hampir tamat. Untungnya kecil atau cenderung merugi. Oleh karena itu seluruh upaya perlu dikerahkan.

Di Aceh Besar, saya mengenal seorang ibu kepala sekolah. Zulfiaty, namanya. Diam-diam beliau menulis buku resep memanfaatkan kelapa. Ada selusin alat dapur bisa dibuat dari tempurung. Mulai dari aweuk atau irus sampai gayung yang disebut cinu. Daunnya dapat dibuat ketupat maupun reungkan atau alas kuali. Di Nanggroe Aceh Darussalam, masyarakat perlu banyak reungkan dari lidi. Bukan cuma untuk tatakan periuk tapi juga tempat buah, hiasan dinding, dan tudung saji.

Di Jawa, Bali, Toraja, Kawanua, dan tempat lain yang ada pohon kelapa, di situ muncul kreativitas manusia. Ada tali, keset pembersih kaki, dan kanvas jok mobil sedan Mercy. Berbagai mesin dirancang dan diperjualbelikan untuk membuat coconut fiber. Di Medan ada dokter Sofyan Tan yang juga eksportir sabut. Kulit kelapa yang dulu dibuang dan jadi sampah sampai menggunung, kini diserut, dijadikan kanvas lantas dijual ke luar negeri. Tempurung untuk arang juga diekspor. Atau dipres, diolah jadi perkakas dapur termasuk nampan dan tatakan nasi.

Di Filipina bermunculan perusahaan limbah kelapa seperti Cocotech dan Juboken. Ekspor sabutnya bisa lebih dari US$l-juta setahun ditambah US$70.000 dari debunya. Debu kulit kelapa dipakai untuk media tanam dan campuran beton penahan erosi. Semua menjadi dolar, sekaligus produk yang ramah lingkungan. Pasaran coconut peat (serbuk sabut) diperkirakan mencapai US$90-juta per tahun di seluruh dunia. Sedangkan coconut coir (olahan serat sabut) mencapai US$400-juta. Sebagian besar dipenuhi oleh Srilanka.

Dari Limbah Kelapa Semua jadi uang

Mengapa semua itu dilakukan? Pertama karena perkembangan teknologi pengolah limbah. Sekarang semua sampah bisa dijadikan uang kalau tahu mengolahnya. Dari sabut kelapa muncul coconut husk (serat), coconut dusk (serbuk), dan coconut coir yang diolah dengan getah karet. Kedua, harga minyak kelapa anjlok jauh dibanding kelapa sawit. Di pasar dalam negeri minyak goreng kopra paling banter Rp2.300 per kilo. Sedangkan minyak kelapa sawit masih di atas Rp3.000. Maka produk andalan kelapa bukan lagi minyaknya, tapi limbahnya.

Sepuluh tahun terakhir harga kelapa memang turun drastis. Di Filipina harga sebutir kelapa turun dari 30 peso menjadi 2 peso, alias seperlimabelas kali. Zaman keemasan di akhir 1960-an telah hilang. Ketika itu para petani kelapa bisa mendirikan bank sendiri, United Coconut Planters Bank, bank swasta komersial paling bergengsi. Kini dengan anjloknya harga kelapa, berbagai resep untuk memperpanjang umur harus ditemukan. Makanya pabrik sabut lebih menguntungkan ketimbang pabrik minyak kelapa.

Semoga saja di negeri Rayuan Pulau Kelapa ini tidak sampai begitu. Sebutir kelapa muda masih laku Rp3.000 menjelang Lebaran di jalan-jalan ibukota Jakarta. Anehnya di Manado lebih mudah memesan ikan baronang dan kerapu bakar daripada minta sebutir kelapa segar, meskipun restorannya di bawah kebun kelapa. Mungkin rakyat lebih suka menjual nyiur setelah tua. Lebih-lebih setelah teij adi krisis moneter. Di Amurang, Sulawesi Utara, misalnya, sebelum krisis satu kuintal kopra hanya Rp80.000. Pascakrisis naik lima kali menjadi Rp400.000.

Mekipun begitu harga kerajinan dari batang kelapa tua bisa lebih tinggi. Sebuah meja dari batang nyiur tidak kurang dari Rp2-juta. Jadi apa yang hendak dijual? Buahnya atau batangnya? Tentu dua-duanya. Di Malaysia pohon kelapa disebut pokok seribu guna.

Coba kita kenang etimologi kelapa dalam konteks masyarakat agraris seperti di Jawa. Sebutir kelapa punya tujuh nama berdasarkan umurnya. Mula-mula sebagai putik pada manggar atau bunga kelapa. Setelah itu muncul kelapa kecil yang disebut bluluk. Ini masih bisa rontok sebelum jadi cengkir yang sepenuhnya berisi air. Kalau sudah enak diminum disebut degan, sebelum tua menjadi krambil. Setelah dipetik berminyak dipanggil klentik, dan sudah kelewat tua, gendos. Akhirnya, setelah bertunas karena siap tumbuh, butir kelapa yang sama disebut kitri.

Tanda kemelaratan

Sayangnya, kekayaan nama pada sebutir buah itu belum laku dijual di pasar internasional. Kelapa lebih menjadi inspirasi untuk hidup. Namanya dipinjam sebagai pembawa keberuntungan buat pusat pertokoan, perusahaan maupun organisasi. Juga sebagai simbol keunggulan produk kosmetik senandung nyiur kreasi ibu Martha Tilaar.

Itulah kearifan agribisnis dalam menghadapi senja. Bagaimana mungkin Anda menjual buah kelapa yang hanya dihargai 30 sen dolar (Rp3.000) per butir kalau tahu sebuah tempurung bisa laku US$15 atau Rpl50.000?

Moralnya sangat jelas. Kita tidak boleh mengabaikan kelapa. Pada masa silam, pengantin dibekali bibit kelapa saat pergi meninggalkan orangtuanya. Juga tidak disarankan sebuah rumah berdiri tanpa kelapa. Pohon itu berbunga setiap 45 hari. Buahnya selalu tersedia sepanjang tahun. Barangsiapa punya pohon kelapa, tidak mungkin kelaparan. Langkanya pohon kelapa menandakan suburnya kemelaratan, seperti di dusun Awis Krambil dalam novel sejarah Pramoedya Ananta Toer. Awis artinya mahal atau langka.

Sekarang, tengoklah di sekeliling Anda. Di mana pohon kelapa terdekat? Adakah buahnya? Siapkah diminum airnya? Bagaimana dengan janur atau daun mudanya? Dapatkah disumbangkan sebatang untuk pesta pengantin? Wahai para hobiis tanaman Indonesia, lengkapilah kebun dan taman Anda sekurang-kurangnya dengan sebatang pohon kelapa. Ia tidak lebih makan tempat ketimbang palem botol, apalagi palem raja.

Ada kelapa gading yang kecil langsing berbuah lebat, merah atau kuning. Ada kelapa hibrida yang pendek-pendek. Cepat dan lebat buahnya, bertandan-tandan. Ada kelapa puan, kelapa pandan, kelapa hijau, dan kelapa kopyor. Dalam kerindangan pohon kelapa itulah tersembunyi masa depan Indonesia. Jangan heran kalau ada bank besar mengidentifikasikan pelayanannya dengan sebatang kelapa tersubur di antara ratusan lainnya.

Dalam kenyataannya, setiap hektar cukup untuk menanam 250—300 batang. Paling cepat panen setelah 5 tahun. Kelapa pandan sangat produktif dan ekonomis sampai umur 15 tahun. Sesudah itu lebatnya berkurang dan susah dituai. Masih untung kalau bisa piara banyak beruk sebagai tukang panjat. Kalau tidak, tersungkurlah nasibnya. Ini yang bikin kelapa sawit beijaya. Padahal kelapa punya nilai lebih, yaitu dibikin nira atau gula.

Sekarang, pemanfaatan kelapa tidak hanya terbatas pada nira, daun, umbut dan buahnya. Airnya dijadikan kecap dan agar-agar nata de coco. Di Hawaii berkembang cocogram, atau seni menulis di atas kelapa yang dapat dipesan dan dikirim ke mana saja seharga US$ 10 sebutir. Jadi, buah kelapa yang tak dapat dimakan pun bisa dijual sebagai hiasan, bertulis, dan bernilai kenangan. Belum lagi 360 macam piring dan mangkuk dari tempurung yang dipasarkan ke seluruh dunia masing-masing US$ 15.

Inspirasi kelapa

Persoalan inilah yang harus ditanggapi Jaringan Pengembangan Genetik Kelapa atau COGENT (International Coconut Genetic Resources Network) yang bermarkas di Thailand. Sayang, Indonesia tidak bisa mengklaim sebagai negeri asal kelapa. Menurut legenda, pohon kelapa tumbuh dari makam Puteri Chammoro, di Guam.

Ibu Zulfiaty di Aceh besar telah memilih langkah tepat dengan memperkenalkan 12 produk dari lidi dan tempurung. Begitu juga riset Badan Pengembangan dan Penerapan Teknologi yang memasyarakatkan resep kecap dari air kelapa. Nira sebagai minuman bebas alkohol, substrat sebagai asam organik bahan farmasi juga pemah dikampanyekan. Begitu juga asam cuka sebagai pengawet makanan.

Di luar sana sudah berkembang coconut software, coconut kids, coconut graphics, dan ratusan produk lain yang terinspirasi oleh kelapa. Mulai dari coconet (jaring tali kelapa) sampai cocoglobe (bola dunia dari tempurung). Tidak semua manusia rela, gayung dan mangkuk plastik jelek serta merusak lingkungan mengalahkan batok kelapa, anugerah terindah dari alam. *** *) *